[FANFICT/FREELANCE] Saranghae, My First Love

Title 
: Saranghae, My First Love
Author : ::♥::LyWoo::♥:: | FB: Felicia Octine Dina Sayudi | Twitter: Felicia_ODS |
Genre : Family, Romance, Sad Romance
Rating : G
Type : One Shoot
Main Casts 
: ~Jung Eun Ri a.k.a IU  ~ No Minwoo   ~ Jo Youngmin
  ~ Jo Kwangmin
Support Casts
: Others
Warning!
Typo, membuat mata sakit, kosakata kacau, penggunaan kata banyak yang salah! Maklum, Author amatiran… Author tidak bertanggung jawab! xD
Gomawo udah mau menyempatkan untuk membaca fanfiction yang super duper aneh ini. Ini ff pertama yang minye post di blog ini. Jadi, harap RCL.. :D

NB: FF ini pernah di post di sebuah FP, FB, dan blog minye. Ini blognya -> http://lywooboyfriendfanfiction.wordpress.com/author/feliciaoctinedinasayudi/

===============Happy Reading===============

EunRi Pov

2 minggu lagi, namjachingu-ku akan berulang tahun. Rencananya, aku ingin membuat kue tart dengan hiasan mickey mouse kesukaannya dan cincin pasangan. Kami sudah berhubungan lumayan lama, dan akan genap satu tahun 2hari setelah hari ulangtahunnya. Ah, benar-benar kebetulan.

Plok

Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku, reflek kutolehkan kepalaku kebelakang. Ternyata namjachingu-ku…

“Ah, ternyata Oppa… Kupikir siapa,” ucapku sambil tersenyum manis padanya. “Kenapa Oppa kemari? Bukankah kelasmu sedang mengadakan ulangan, eoh?” tanyaku.

“Aku sudah selesai ulangan, chagi. Kajja, kita makan es krim di kantin. Kudengar, ada menu baru, lho…” jawabnya yang langsung menatik tanganku lembut tanpa menunggu jawabanku.

-Kantin-

“Silahkan, ini es krim Banana Fruit dan yang ini Strawberry Mint,” ucap pelayan yang mengantarkan pesanan kami.

Gomawo, ahjumma,” ucap Minwoo, namjachingu-ku.

“Oppa, apa hari ini kau harus ikut latihan bisbol?” tanyaku memulai pembicaraan.

Ne, waeyo?” MinWoo balik bertanya sambil memasukkan sesuap es krim kedalam mulutnya.

“Ah, hari ini aku ada urusan. Jadi, tak bisa menemanimu berlatih. Gwaenchanna?”

“Kau mau kemana? Apa itu lebih penting dariku, eoh?” tanyanya -lagi- dengan nada curiga. Aish! Dia selalu berpikiran negatif dan mudah cemburu!!!

Aniyo… hanya saja, sepupuku yang dari Jepang mau kemari…” jawabku. “Dan aku harus menjemputnya sore ini.”

“Haha, aku hanya bercanda chagi-yaArra, arra. Pergilah, nanti malam biar aku ke rumahmu. Aku ingin lihat sepupumu, apa dia lebih tampan dan kyeopta dariku?”

“Oppa… hanya kau dan appa-ku yang paling tampan sedunia…”

“Kau benar… Kajja makan es krim-mu sebelum meleleh,” ucapnya. Kamipun menghabiskan es krim, lalu pergi ke kelas masing-masing.

…Skip…

-Bandara-

“Youngmin Oppa…” panggilku ketika melihatnya.

“Ahh, ini kau Eunri-ya?” tanya Youngmin ketika sudah berada didepanku.

“Tentu saja… Waeyo?” tanyaku heran. Apa ada yang salah denganku?

“Ahh… kau makin yeppeo...” pujinya, lalu diam.

“Youngmin Oppa, kenapa diam saja?” tanyaku.

A… aniyo. Sudah, kajja kita pulang.” jawab Youngmin lalu menarik-ku. Aku hanya menurut saja, mungkin dia lelah.

….Skip…

*Paginya*

Tok tok tok

Ketukan pintu itu membangunkanku. Mau tak mau, akupun turun dari tempat tidur dan berjalan membuka pintu.

Annyeong… Eunri-ya, ada yang mau kubicarakan denganmu. Tapi, kau sarapan dulu. Ini, sudah kubawakan untukmu,” ucap Youngmin yang langsung masuk, meletakkan nampan berisi sarapanku lalu duduk di tepi tempat tidurku. Aku ikut duduk disampingnya.

“Ada apa? Pagi-pagi sekali… Hoam, aku masih mengantuk…” tanyaku malas sambil beberapa kali menguap.

“Eum, kau yakin ingin membuat kue lagi? Aku takut trauma-mu kambuh.” jawabnya sambil menatapku sendu.

“Aku yakin… Kau juga tau Oppa, aku memiliki penyakit aneh. Dan sebelum pergi, aku ingin membahagiakan namjachingu-ku… Aku tidak mau nasibnya sama dengan namjachinguku atau lebih tepatnya ‘My First Love’…” terangku panjang lebar.

#FLASHBACK#

Hari yang cerah ini, aku dan namjachinguku -My First Love- sedang sibuk membuat kue untuk eomma-ku.

Kajja, kajja… Kue ini harus cepat selesai…” ucapku yang tengah sibuk membuat krim untuk menghias kue.

“Bersabarlah, chagi… Jangan terburu-buru.” sahut namjachinguku.

Ting!

Bunyi oven terdengar, tandanya kue telah matang. Dengan cepat, kupakai sarung tangan tebal untuk mengeluarkan loyang berisi kue yang baru matang dan pastinya panas.

“Ya, ya, ya… Chagi! Hati-hati…” ucap namjachinguku –Jo KwangMin– disela aktivitasnya mengiris buah ketika melihatku berlari kecil.

“Harus cepat… Ini pertama kali eomma merayakan ulang tahun! Jadi, kita harus membuatnya dengan cepat dan istimewa,” sahutku dengan semangat ber-api-api. Loyang sudah ku-keluarkan, lalu aku segera berlari menuju meja tempat yang akan kujadikan tempat menghias kue.

Chagi, chagi… Jangan berlari…” seru KwangMin.

“Hehe, gwaenchanna…” sahutku. “Yak!” pekikku ketika terpeleset.

Loyang kue panas itu melayang dan jatuh membentur kepala Kwangmin. Kwangmin terjatuh, dan dikepalanya ada sedikit luka karena loyang itu panas dan membentur keras kepalanya.

“Auww,” ringis KwangMin kesakitan. Mataku terbelalak ketika melihat sebuah pisau menancap di urat nadi yang berada dipergelangan tangannya.

“K… Kwangmin?” panggilku tak percaya. Dia -Jo KwangMin- meringis kesakitan. Darah mengalir deras dari pergelangan tangannya. Aku hanya diam menatapnya seperti orang bodoh. Bodoh dekali, kenapa? Ya, karena aku tidak menolongnya.

Padahal, dia masih bisa selamat.

“Cha… ChagiMianhaeyo, akh… Aku sudah tak bisa bertahan… Selamat tinggal, Jung EunRi, My First Love, Nae chagi-ya…” kata-kata itu menjadi kata-kata terakhirnya. Sampai dia menutup matanya, untuk selamanya. Pergi dari sisiku untuk selamanya!

#FLASHBACK END#

Air mataku mengalir mengingat peristiwa menyakitkan itu. Namjachinguku -Jo KwangMin- mati karena-ku! Aku ini yeoja macam apa?! Hatiku perih… sangat perih! Seperti ada ribuan sayatan pisau, dan puluhan ribu paku yang menancap di hatiku!

“Tenanglah, Eunri-yaUljima…” pinta Youngmin sambil menghapus air mataku dengan kedua jempolnya.

“Hiks… Oppa, aku membunuhnya, ‘kan? Iya bukan? Dia namjachinguku… Jo Kwa….” belum sempat kukatakan nama namjachingu-ku, sudah dipotong olehnya.

“Sudah, itu demua bukan salahmu. Itu kecelakaan, arra? Namjachingu-mu akan sedih melihatmu menangis…” potongnya.

“Um… Tapi, tetap saja aku merasa bersalah.”

“Kalau begitu, aku akan mengajarimu cara membuat kue, bagimana?” tawar Youngmin untuk menghentikan tangisku.

“Hehe, baiklah… Aku takkan menangis lagi. Gomawo Oppa…” ucapku sambil menghapus sisa air mata dan memeluknya.

“Kau ini, hanya ada maunya saja bersikap manis. Sebagai balasan, temani aku tamasya hari ini, bagaimana?” pintanya.

Dia tersenyum-senyum sendiri. Ahh, pasti dia mau ke taman bermain.

“Baiklah,” aku menerima ajakannya.

Drrt…

Ponselku tiba-tiba bergetar di atas meja. Dengan cepat, kuraih ponsel itu.

Nuguya?” tanya Youngmin.

“Ahh, kebetulan… MinWoo oppa mengajakku tamasya. Kita ke taman bermain pasti seru…” jawabku.

“Ne. Cepat mandi, kau bau sekali…” perintah YoungMin. Aku hanya membalas dengan tatapan kesal, lalu dia keluar dari kamarku.

…Skip…

Kami naik banyak wahana di taman bermain. Tapi, ini wahana terakhir yang mau kami kunjungi. Yaitu, rumah hantu. Kekeke~ aku tau kalau mereka berdua sama-sama takut hantu. Sepertinya aku akan menjadi pelindung mereka.

“Hyaa!!!” pekik YoungMin saat kami memasuki rumah hantu. Ya, baru masuk sudah ada hantu tanpa bibir. Dia segera memelukku ketakutan. Sedangkan MinWoo, wajahnya pucat karena takut, tapi berubah seperti orang cemburu ketika melihat YoungMin memelukku.

“Yak! Oppa!! Kau pengecut!!” teriakku tepat di telingannya. Diapun langsung menjauh dan merasa bersalah setelah melihat wajah kesal MinWoo.

“Ahh, mianhae. Aku hanya kaget…” ucap YoungMin meminta maaf. MinWoo hanya tersenyum kecut, yah, sedari tadi aku memang banyak mengobrol dengan YoungMin. Sampai mengacuhkannya.

“Oppa… Kajja kita lihat kesana!” ajakku yang langsung menggandeng lengan MinWoo. YoungMin yang masih takut mengikuti kami dari belakang. MinWoo juga terkadang menyembunyikan kepalanya saat takut di belakang bahuku. Huh!

Mereka ini…

…Skip…

12 hari belakangan ini, aku selalu belajar membuat kue. Walau disertai ketakutan… Tiap pulang sekolah, YoungMin langsung menjemputku dan kami pulang. Tentu saja, saat pulang aku langsung belajar membuat kue. Huh… sungguh sulit. Mengingat traumaku itu, apalagi saat membuka oven.

*Sore*

“Eunri-ya, pergilah makan malam dengan MinWoo… Dia pasti cemburu karena kau selalu menghabiskan waktumu denganku…” ujar YoungMin menghampiriku yang sedang menonton TV. Aku menoleh padanya sebentar.

“Dia orang yang pengertian… Jangan khawatir.” sahutku kembali menonton TV.

“Tapi, namja itu membutuhkan perhatian! Sana pergi!” perintah YoungMin sambil mendorong bahuku agar turun dari sofa.

“Huh!” dengusku lalu pergi kekamar untuk ber-siap-siap pergi. Sebelumnya aku sudah menghubungi MinWoo.

…Skip…

“Oppa… Mianhae, selama ini aku selalu mengacuhkanmu.” ucapku membuka pembicaraan.

“Gwaecnhanna… Aku tau, kau merindukan sepupumu itu… Sampai-sampai tak memerdulikanku. Aku sudah biasa!” sahutnya, terselip kekesalan dalam ucapan itu.

“Oppa? Kenapa kau begitu?” tanyaku merasa aneh dengan ucapannya.

“Ya! Kau pulang sekolah dengannya! Apa kau pikir aku tak cemburu?! Hanya menelepon malam hari, itu juga hanya berbasa-basi! Kau ini sebenarnya masih yeojachinguku atau tidak, huh?!” bentak MinWoo yang membuatku tersentak. Kenapa dia seperti itu? Kasar sekali…

“O… Oppa,,,” panggilku lirih. Menahan semua air mata yang akan mengalir dari pelupuk mataku.

“Waeyo?! Apa aku salah, hah?! Sudahlah, percuma berbicara denganmu. Yang ada di pikiran dan hatimu hanya sepupumu itu!” bentak MinWoo lagi seraya pergi meninggalkanku.

Semua orang memandangku aneh, kasihan, atau menghina. Aku tak peduli dengan itu! Air mata kubiarkan mengalir deras dari mataku.

“Hiks… Kau kenapa, oppa?” gumamku lirih.

…Skip…

Aku sudah berpikir matang, segera kukeluarkan bahan untuk membuat kue. Dan segera membuat kue tart berhias mickey mouse. Lalu, naik ke kamar dan membungkus sepasang cincin dengan kotak kecil.

…Skip…

*Hari Ulang Tahun MinWoo*

Ting Nong!

Kutekan bel rumah MinWoo. Tak lama kemudian, keluarlah namja yang kucari -MinWoo-

“Ahh, oppa! Saengil chukkaehamnida, ne!” seruku.

Dia menatapku dingin. Mungkin masih marah.

“Eum, mianhae atas yang kemarin. Ini, ada kue untukmu. Aku membuatnya sendiri… Err, sebenarnya YoungMin yang mengajari… Dan kotak kecil ini, kau bisa melihat isinya sendiri.” ucapku seraya menyerahkan 2 kotak yang bertumpukkan. Dia diam saja. Tak merespon ucapanku.

“Untuk sepupumu saja… Lagipula kau membuat itu bersamanya, aku tak butuh!” tolaknya. Tak menatapku sama sekali. Apa dia semarah itu padaku?!

“Oppa… Dia mengajari, bukan membuat… Aku bersusah paya membuat ini….”

“Bersusah payah? Kau ini yeoja! Malah tak bisa membuat kue! Rupanya aku telah salah memilih yeoja!” ujarnya dengan suara lantang. Hatiku, hancur sekali! Perih! Perkataannya… kenapa sekejam itu?

“Oppa… Ini! Setidaknya, jebal… terima ini!” pintaku lirih. Menahan air mata.

Brukk

Dia menepis 2 kotak bertumpukkan dari tanganku. Kue itu hancur, dan kotak yang satu lagi penyok. Air mataku, mengalir saat itu juga. Mataku sangat merah.

“A… Aku… Chagi… Aku…” ucapnya terbata seakan tak menyangka atas tindakan yang ia lakukan sendiri. Aku berusaha tersenyum, senyum yang dipaksakan.

“Gwaenchana… Ini, ambil saja yang ini… Buka saat hari seperti saat kita jadian. Annyeong oppa, dan mianhae.” ucapku memungut kotak kecil yang penyok, menyerahkannya pada MinWoo lalu berlari sambil menangis.

‘Aku sudah tak tahan! Mereka sudah tak membutuhkanku… YoungMin akan pulang ke Jepang, Eomma akan meninkah lagi dengan presdir Jang, dan MinWoo… Dia pasti bahagia bila aku tak menyakitinya lagi… Yah, mati. Aku harus mati!’ batinku sambil terus berlari.

…Skip…

@Kamar

Rumah sedang sepi, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Dan sebentar lagi, hari ini, aku akan menemui KwangMin dan appa!

Kutulis 3 buah surat. Untuk MinWoo, YoungMin, dan Eomma. Menulisnya saja, air mataku tak berhenti mengalir.

“Hiks… Mungkin ini yang terbaik.”gumamku. Perlahan, kuambil pisau dapur yang sudah tergeletak manis diatas tempat tidurku. Menggenggamnya dengan tangan gemetar.

“Hiks… Jeongmal mianhae, MinWoo oppa… Aku akan melukai hatimu lagi… Tapi, inilah cara yang kupilih. Kalian sudah bahagia dengan hidup masing-masing. Kupikir, aku bisa pergi sekarang. Annyeong, mianhae, dan gomawo MinWoo oppa…” gumamku, lalu perlahan mengarahkan pisau itu pada urat nadi di pergelangan tanganku. Dan,

Sreet

Darah mengalir cepat, menodai pakaian dan lantai kamarku. Perlahan, tubuhku ambruk. Sebelum semua gelap, yang kulihat hanya sesosok namja berwajah tampan. Namja yang kutunggu-tunggu… Tersenyum manis padaku. Disampingnya ada sesosok namja paruh baya dan tampan.

“KwangMin… Appa… Aku datang…” itulah kata-kata terakhir yang ku-ucapkan. Sampai semua gelap.

…Skip…

Author Pov

2 namja tampan sedang berdiri di hadapan 2 pusaran yang berhias banyak bunga. Mereka -No MinWoo dan Jo YoungMin-

“Eunri chagi… Mianhae, aku menyakitimu… Kau kenapa meninggalkanku?! Besok harusnya kita merayakan hari jadi kita… Tapi… kau malah pergi… Hiks… Aku membunuhmu… Mianhae…” tangis seorang namja kyeopta -No MinWoo-

“MinWoo-ya, baca ini. Dia tak menyalahkanmu…” ucap YoungMin menepuk bahu MinWoo dan menunjukkan sepucuk surat manis.

“Ini?” tanya MinWoo heran.

“Dari Eunri… Bacalah, dia menyuruhmu melakukan sesuatu…” jawab YoungMin seraya berjalan ke arah pusaran yang satu lagi. Milik -Jo KwangMin- dongsaeng kembarnya sekaligus namjachingu Eunri.

MinWoopun membaca surat itu. Matanya kembali mengeluarkan cairan bening.

“Kau benar, hiks… Dia pergi karena sudah bahagia, dia menyuruhku meletakkan ini rupanya.” gumam MinWoo lalu meronggoh kantung celananya.

Dia mendekati pusaran dihadapannya, meletakkan sebuah cincin manis diatas pusaran itu. Di atas pusaran milik -Jung EunRi-

“Chagi… Kau terus pakain cincin itu, ne?” ucapnya. Lalu dia juga memasangkan cincin yang serupa pada jari manisnya. Senyum merekah menghiasi wajah kyeopta-nya.

“MinWoo-ya, kajja kita pulang. Mereka sudah bahagia…” ajak YoungMin yang langsung merangkul MinWoo. MinWoo mengangguk dan berjalan pergi bersama YoungMin. Sebelumnya, MinWoo sempat mengucapkan sesuatu kearah 2 pusaran itu. Yaitu, ‘KwangMin, jaga chagiku Eunri. Dia milikmu, Eunri chagi, saranghae…’ itu yang dikatakannya.

Lalu perlahan, muncul seorang yeoja yang tengah berdiri ditengah kedua pusaran itu. Rambutnya yang lurus dan sedikit bergelombang dibiarkan ter-urai menghiasi gaun putihnya. Juga disampingnya ada seorang namja yang terus tersenyum manis. Tengah menggandeng tangan yeoja itu.

“Oppa… Gomawo atas semuanya… YoungMin oppa, aku menyayangimu… Kau sepupu terbaikku… MinWoo oppa… Saranghae.” ucap yeoja itu dengan senyum manis menghiasi paras cantiknya. “KwangMin-ah, nan jeongmal saranghaeyo…”

“Aku akan menjaganya, MinWoo-ya… Hyung, sampai jumpa lagi. Nado chagi. Nado saranghae… Kajja, chagi.” ucap namja itu seraya menarik tangan yeoja itu. Mereka berlari kecil meninggalkan 2 pusaran itu, sammbil tersenyum bahagia. Lalu perlahan menghilang dibalik pohon sakura yang tak jauh dari pusaran itu.

END

***

Huahh… Gaje sangat😄

Ini ff aku yang lama… Berasa aneh sendiri bacanya -,-

Oh, ya. Kalo respon readers lumayan banyak sama ff ini, rencana nya aku mau post lagi ff yang lain ^^

Gomawo udah baca~❤

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Saranghae, My First Love

  1. good job thor (y) keren kok! keep writing thor! ^o^ tapi kalo dipikir-pikir,, KwangMin itu sepupu EunRi,, trus KwangMin kembar sama youngmin.. tapi eunri pacaran sama youngmin,, jadi eunri pacaran sama sepupunya sendiri dong thor? kekekkkekee~ tp good job kok thor!

  2. Gomawo udah mau baca+review… Iya deh, nanti kalo ada ff aku share lagi ^^ Haha iya… Tapi kan mereka saudara jauh, jadi boleh dong xD *maksa*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: