[FANFICT/FREELANCE] This is Love ? or What ? – Chapter 1

Title 
: This is Love ? or What ? – Chapter 1
Author : Felicia Octine Dina Sayudi
Genre : Romance
Rating : G
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Kim Yu Jin

  ~ No Minwoo

  ~ Jo Kwangmin

^^^::::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^:::^^^

Warning!

Typo (s), gaje, mata pusing, EYD ancurr, dll… xD

Mian kalo ff-nya gaje, keluar dari genre, dll. Cuma minta RCL-nya aja…🙂 Kalo ada yang aneh, gaje, atau apa, mohon beritahu. No Plagiat!! No Copas!! Free Bash!!😉 Gomawo sebelumnya buat yang mau baca ff ter-gaje ini…

NB: FF ini pernah dipost di FB aku dan FP tempat aku jadi admin… :3

###############Happy Reading###############

Author Pov

Seorang yeoja tengah berdiri sendirian dibawah sebuah pohon yang cukup lebat. Berkali-kali ia melihat jam tangannya.

“Yujin-ah!!” panggil seorang namja yang tengah berebut nafas karena lelah berlari. Namja itu kini berada dihadapan yeoja bernama Yujin itu, dengan masih mencoba mengambil nafas banyak-banyak.

“Kwangmin-ah… Kenapa lama sekali, eoh? Aku lelah menunggumu… Sudah 1 jam aku disini…” ucap Yujin kesal sambil berkacak pinggang.

“Hosh… Aku juga lelah habis berlari. Tadi itu, aku di suruh seonsaengnim Kim untuk mengajari beberapa murid. Lumayan, aku dapat imbalan, kekeke~ Kita bisa makan dicafe. Kajja!” jelas namja bernama Kwangmin itu. Ia menarik tangan Yujin lembut, namun segara ditepisnya tangan Kwangmin oleh Yujin dengan sedikit kasar.

“Ya! Jangan menghamburkan uang! Kau mau nanti kita tidak bisa makan, huh? Eomma-mu mana mau memberikan uang terus… Dan, keluargaku juga sedang susah. Lebih baik simpan saja uangmu itu” tolak Yujin.

“Ya, aku hanya mau mengajakmu makan dicafe. Ayolah… Bukankah makan di cafe tak semahal itu? Bagaimana?” bujuk Kwangmin.

“Baiklah. Tapi, jangan pulang malam-malam. Nanti halmeoni marah…” ucap Yujin.

“Memangnya makan mewah jadi pulang malam? Kau ini! Aku bosan memakan masakanmu yang tak bergizi itu…” cibir Kwangmin.

“Ya!” Yujin memukul lengan Kwangmin pelan, merekapun berjalan sambil bergandengan tangan layaknya anak kecil.

***

 

Yujin Pov

Aku dan Kwangmin, chinguku sejak kecil, tengah makan disebuah cafe. Memang hanya makan kue saja, tapi, bagi kami ini sudah cukup. Kami orang susah, karena sekolah, orangtua kami menyuruh kami menyewa sebuah rumah bersama halmeoni Kwangmin di kota ini. Uang yang kami punya-pun pas-pas-an. Jadi, kami membiasakan hidup hemat.

“Eum, makanan disini enak sekali” ucap Kwangmin dengan mulut penuh.

“Habiskan dulu baru bicara, pabbo. Kau ini, makan sampai belepotan seperti anak kecil” ucapku, lalu menyeka krim yang berada disudut bibirnya dengan saputangan.

“Ne, eomma… Kwang-ie akan perhatikan” candanya, yang mendapat kekehan dariku.

“Kekeke… Ne, anak eomma harus menurut” kekehku.

“Nah… Kenyang sudah. Enak sekali, ne?” ucapnya setelah makanan yang kami pesan habis.

“Umm, enak. Biar aku yang bayar…” ucapku beranjak berdiri, tapi ia tahan.

“Ya, ‘kan aku yang traktir” diapun menuju kasir. Aku hanya diam saja menunggunya di bangku.

 

Kwangmin Pov

“Agasshi, meja no. 2” ucapku pada kasir.

“Ne, sebentar” diapun mengecek pesanan kami dan menghitungnya.

Aku memandangi sekeliling sambil menunggu bill-nya, dan mataku menangkap sebuah kertas di atas meja kasir. Bukan kertas biasa, tapi, sebuah iklan pencarian pelayan di cafe ini!

“Agasshi, apa kalian butuh orang?” tanyaku.

“Ne, kau berminat? Gajinya 2 juta won perbulan *ngasal* Kau bisa mengajak seorang lagi” jelasnya menjawab pertanyaanku.

“Ne, mana? Aku minta formulirnya. 2 lembar, ne?” ucapku.

Agasshi itupun mengangguk dan menyerahkan 2 formulir lamaran pekerjaan menjadi pelayan cafe itu.

Lalu, aku membayar pesanan kami. Dan segera kuhampiri Yujin.

“Yujin-ah!” panggilku, lalu langsung duduk di bangku-ku yang tadi.

“Ne? Wae?” tanyanya menatap wajah ceriaku dengan wajah bingung.

“Kita bekerja disini, ne? Gajinya 2 juta won perbulan!!” jawabku dengan mata berbinar-binar menunjukkan formulir yang kupegang.

“Uwaa! Ne! Mau! Kajja, kita isi formulir itu dirumah!” ucapnya, aku mengangguk setuju. Kamipun kembali ke rumah.

 

Yujin Pov

Kami sudah sampai dirumah, dengan cepat, kukeluarkan pulpen dari tasku. Dan mengisi formulir tersebut bersama Kwangmin di ruang tamu.

“Ya… Kenapa kalian pulang tak memberi salam?” tegur halmeoni Kwangmin sambil membawa nampan berisi sepiring buah dan teh. Aku berdiri dan membantunya membawa nampan tersebut.

“Mianhae, halmeoni. Kami terlalu bersemangat mengisi formulir ini” ucapku.

“Formulir apa?” tanya halmeoni Kwangmin bingung.

“Lamaran pekerjaan… Di sebuah cafe, menjadi pelayang setengah hari dengan gaji 2 juta won perbulan.” jawab Kwangmin setelah selesai mengisi formulir itu.

“Kalian mau bekerja? Bukankah kalian sering menjadi asisten guru saat istirahat sekolah? Kalian ‘kan juga lelah mengajar murid yang tertinggal pelajaran, untuk apa mencari pekerjaan banyak-banyak? Nanti kalian tak ada waktu makan…” ucap halmeoni Kwangmin panjang lebar yang notabene mengkhawatirkan kesehatan kami.

“Gwaenchanna, halmeoni… Aku akan bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal agar kami bisa makan di jam istirahat cafe.” ucapku.

“Ne, halmeoni tak perlu cemas. Eommaku ini akan menjagaku…” ucap Kwangmin manja dan merangkulku layaknya eommanya.

“Ya! Lepaskan, pabbo!” dengusku, iapun hanya menyengir dan kembali duduk dengan baik.

“Terserah kalian saja, aku lelah, mau tidur” ucap halmeoni Kwangmin diikuti senyum pertanda ia setuju.

Diapun naik ke kamar atas, yang berada ditengah kamar Kwangmin dan kamarku. Kamar dirumah ini memang ada 3 ruang, jadi, sangat cocok untuk kami.

“Kwangmin-ah, kau masih mau menjadi asisten seonsaengnim Kim saat istirahat? Aku takut kau terlalu lelah…” ucapnya sambil memakan buah.

“Gwaenchanna… Aku akan sempatkan makan” ucapnya.

“Begini saja, tiap hari saat istirahat, aku akan membawakan bekal ke kelasmu. Kau bisa makan sambil mengajar. Bagaimana?” usulku.

“Tidak usah… Nanti kau akan repot sendiri” tolaknya.

“Ani! Pokoknya, mulai besok, aku akan membawakanmu bekal! Turuti kata eomma!” tegasku dengan sikap lucu. Diapun gemas dan mencubit pipiku.

“Yaaa!!! Kyeopta!” ungkapnya sambil terus mencubit kedua pipiku, alhasil, pipiku merah dan tidak chubby lagi…

“Yah… Gara-gara kau, pipiku tidak chubby lagi, ‘kan?! Huh…” dengusku.

“Hehe, jaljayo!”

Cup

Dia mencium pipiku cepat dan langsung berlari ke kamarnya.

“Yaa! Jo Kwangmin!!” teriakku kesal mengusap pipiku yang diciumnya. Nappeun! Berani-beraninya dia… Namjaku bukan! Huh!

***

 

Kriiingg!!!

“Huaa!!” teriakku kaget ketika mendengar alarm-ku sudah berdering dengan nyaringnya. “Alarm pabbo! Jam segini sudah bunyi… Huft…” dengusku, lalu tidur kembali.

“Ya!! Pabbo!! Aku ‘kan harus bangun awal!!” teriakku tiba-tiba dan langsung bangun dari tidur, bergegas mandi, dan memakai seragam sekolah serapi mungkin.

***

 

“Yujin-ah…” panggil Kwangmin ketika aku sedang memasak sarapan dan membuat bekal di dapur.

“Mwoya?” tanggapku ketus.

Tap

Tap

Tap

Dia menghampiriku, berdiri disampingku dengan keadaan yang sudah rapi siap berangkat sekolah. Begitupula denganku.

“Apa kau sedang marah, eoh?” tanyanya.

“Ne. Lalu kau mau apa? Kalau tidak ada urusan lain, pergi sana! Tunggu aku selesai memasak” jawabku ketus.

“Ish… Galak sekali. Apa karena aku mencium pipimu semalam, huh?” tanyanya lagi.

Seketika, pipiku merah merona. “Jangan diungkit lagi! Sana!” ucapku yang langsung mendorongnya menuju keluar dapur.

“Yahaha… Jadi itu, first kiss-mu?” godanya.

“Ya! Mana ada first kiss di pipi!” dengusku, mencubit lengannya pelan.

“Auww. Hihi, aku tau… Ya sudah, aku kebawah dulu” diapun turun kebawah menemani neneknya yang juga sedang menunggu sarapan.

“Huft.. Menyebalkan!” dengusku, lalu melanjutkan kegiatan memasakku.

***

Teng… Teng… Teng… Teng…

Bel istirahat sudah berbunyi, semua siswa-siswi sekolah langsung berhamburan keluar kelas untuk menyantap aneka makanan yang ada di kantin sekolah. Tidak denganku, menurutku, itu boros. Lebih baik, membawa bekal yang lebih sehat.

“Annyeong, Yujin-ah…” sapa sunbae-ku ketika aku melewati lorong menuju kelas Kwangmin.

“Annyeong, oppa” balasku dengan membalas senyumnya.

“Mau kemana?” tanyanya berbasa-basi.

“Aku mau ke kelas 3-B… Mengantarkan bekal” jawabku sambil menunjukkan dua kotak bekal milikku dan Kwangmin.

“Oh… Namja-mu?” tanyanya penuh selidik. Entah perasaan atau bukan, ia bertanya dengan sedikit nada tidak suka?

“A… Aniyo. Hanya ‘chingu’ …” jawabku malu.

“Baguslah” ucapnya, “annyeong” diapun menepuk pundakku lalu pergi.

Aku memang sedikit terkenal di kalangan namja-namja, karena aku mengikuti ekskul basket yang rata-rata diikuti namja. Bahkan, ada beberapa yang mengakui dirinya menyukaiku. Tapi, itu semua selalu kutolak. Entahlah, aku hanya merasa, Kwangmin sudah seperti chingu dan namjachinguku. Dia baik, hangat, dan… Sebenarnya, aku tak menyukainya. Hanya suka ‘chingu’ mungkin.

“Kwangmin-ah!!” panggilku ketika sampai di kelasnya.

“Yujin-ah, mencari Kwangmin?” tanya salah seorang chingu namja Kwangmin.

“Ne, apa dia ada?”

“Ada. Disana! Sedang membuat catatan”

Akupun menghampirinya.

“Kwangmin-ah… Ini, bekalmu” ucapku yang langsung duduk disebelah bangkunya.

“Gomawo, tapi, aku sedang sibuk. Seonsaengnim meminta catatan ini harus selesai sore nanti” ucapnya tanpa melihatku, hanya fokus menyalin hal penting dari buku yang super tebal itu.

“Harus makan! Aku suapi, bagaimana?” tawarku, dia menengok sebentar melihatku, lalu mengangguk.

“Aaa…” aku mengambil sepotong sushi dengan sumpit, dan mengarahkannya ke mulut Kwangmin.

Diapun membuka mulutnya, dan memakannya. Aku sendiri memakan bekalku.

“Ciee… Sepasang kekasih yang sangat romantis” goda chingunya yang ada di dalam kelas.

“Dia eomma baruku” ucap Kwangmin dengan mulut penuh, merangkulku hingga membuat pipiku panas. Kenapa dia selalu seperti itu, sih?! >///<

“Ya!” tukasku yang langsung mendorongnya.

“Ada apa?” tanyanya polos.

Dengan cepat, aku meninggalkan kelas Kwangmin, membawa bekalku tentunya. Namja itu! Selalu mempermalukanku, huh!

Aku berniat kembali ke kelas, tapi… Kwangmin belum makan… Haruskah aku kembali?

Brukk

“Aish…” dengusku, memegangi kepalaku yang terbentur dinding karena menabrak seseorang.

“Mianhae… Neo gwaenchanna?” tanya seorang namja. Dia pasti yang menabrak-ku.

“Gwaenchannayo…” ucapku, lalu bangkit dibantu olehnya.

“Apa, kepalamu sakit?” tanyanya yang memperhatikanku yang tengah memegangi kepalaku sendiri.

“Akh! Gwa.. Gwaenchannayo” jawabku, dia hanya ber-oh ria.

“Mau kuantar ke UKS?” tawarnya, masih tetap peduli denganku.

“Ne” jawabku sambil mengangguk, iapun memapahku ke UKS yang kebetulan tak jauh dari tempat tadi.

“Tunggu, ne? Aku ambil kotak obat dulu.” ucapnya, aku mengangguk dan menunggunya sambil duduk diatas ranjang pasien.

“Nah, ini. Biar aku bantu kau mengobatinya” ucap namja itu setelah membawa kotak obat di tangannya, lalu duduk disampingku.

“Ah, aniyo. Biar aku sendiri saja…” tolakku lembut.

“Gwaenchanna…” diapun menempelkan kapas yang sudah diberi obat di kepalaku. “Nah, sudah”

“Go… Gomawo” ucapku. Dia tersenyum, manis sekali…

“Aniyo, ini salahku. Oh, ne, nanneun No Minwoo imnida…” ucap namja bernama No Minwoo itu.

“Nanneun Kim Yujin imnida. Kau kelas berapa?” tanyaku.

“Kelas 3-B, neo?”

“Ahh… Aku kelas 3-A. Apa kau kenal Kwangmin?” tanyaku lagi.

“Ne, tentu. Kau tadi habis menemuinya?”

“Hehe, ne, hanya mengantar bekal”

“Namjachingu-mu?”

“Aniyo, hanya ‘chingu’ kok”

“Haha, kupikir iya. Habis, kau akan terlihat cocok dengannya”

“Je… Jeongmal?”

“Lihatlah, wajahmu memerah… Gyahahaha… Kau memang menyukainya, ‘kan?”

“Ya!”

Kamipun mengobrol banyak di UKS, sampai istirahat berakhir. Diapun masih mengantarku ke kelas. Ahh, dia sangat baik, tampan, dan kyeopta! Dan, dia bahkan mengajakku main ke taman malam ini.

***

 

Teng, teng, teng, teng

Bel pulang berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas untuk segera pulang. Mengistirahatkan otak masing-masing setelah sekian lama mencerna pelajaran-pelajaran yang sulit.

“Yujin-ah!” panggil seseorang. Aku menoleh, ternyata Kwangmin.

“Kwangmin-ah, kajja, kita pulang” ucapku semangat. Dia menatapku heran.

“Ada apa denganmu?” tanyanya.

“Eh? Apanya?” tanyaku balik.

“Ini!” dia menyentuh kapas yang menempel di kepalaku, tepatnya di kening sebelah kiriku.

“Ah… Itu, gwaenchanna. Sudah tidak sakit” akupun melepaskan kapas tersebut. “Hihi, berkat ini, aku malah bisa berkenalan dengan namja itu”

“Eh?” Kwangmin terheran-heran menatapku yang sedang senyum-senyum sendiri. “Sepertinya, karena itu kau jadi gila seperti ini” ledeknya.

“Ya! Justru aku sedang bahagia!! Dengar, kau kenal No Minwoo?” tanyaku.

“Ne, kau kenal dia darimana?”

“Ya! Kwangmin-ah, dia itu sangat baik dan tampan!! Bahkan, dia meminta nomorku dan mau mengajakku ke taman malam ini…” ucapku senang dengan mata berbinar-binar.

“Tidak boleh! Kita ‘kan mau bekerja di cafe malam ini” ucap Kwangmin yang tiba-tiba kesal.

“Ya!! Nanti aku mau ijin saja, lagipula, kau tidak berhak menghalangi acaraku” ucapku kesal.

“Ya! Kubilang tidak ya tidak! Kalian ‘kan baru kenal, untuk apa malam-malam berpergian?! Tidak boleh! Kalau kau dirampok saat pulang bagaimana?”

“Dia akan mengantarku”

“Kalau dia tidak datang?”

“Mana mungkin”

“Ish! Pokoknya tidak boleh!!” tegasnya lagi.

“Hey, kenapa kau melarangku? Aku bilang aku akan pergi ya pergi!” ucapku lantang lantas meninggalkannya yang berdiri di depan pintu gerbang.

Kwangmin Pov

“Apa dia kurang jelas dengan perasaanku? Enak saja main pergi dengan namja lain… Memang, dia bukan yeojachinguku dan aku bukan namjachingunya… Tapi… Dia bahkan menolak banyak namja yang menyatakan perasaan padanya. Apa dia hanya bermain-main?! Dasar, yeoja itu…” gumamku kesal sambil berjongkok (?) di depan pintu gerbang sekolah yang kini sudah sepi.

Drrttt…

“Yeoboseyo?”

“….”

“Mianhae, aku dan Yujin tidak bisa hadir hari ini. Kami sedang ada urusan, mianhae…”

“….”

“Gomawo, besok kami pasti hadir”

Tut… Tut… Tut…

Sambungan terputus, ternyata yang menelponku adalah pemilik cafe itu. Sial! Karena namja itu, aku dan Yujin bisa dikurangi gajinya!! Aish!!

 

Yujin Pov

“Nananana…” aku bersenandung ria di kamar sambil memilih-milih mana baju yang cocok ku-kenakan untuk pergi menemui Minwoo. “Apa yang warna biru saja, ne?” tanyaku pada diriku sendiri sambil terus mencoba baju yang sekira-nya cocok didepan cermin.

“Yujin-ah…” panggil halmeoni. Akupun menaruh sebentar baju tadi, dan keluar kamar menemui halmeoni yang memanggilku.

Kuturuni tangga, dan kulihat halmeoni sedang mengupas buah diruang tamu. Akupun menghampirinya.

“Ada apa, halmeoni?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.

“Apa kau tau kenapa Kwangmin belum pulang? Biasanya kalian pulang bersama…” tanya halmeoni, masih tetap mengupas buah ditangannya.

“Ah, itu… Mollayo, halmeoni. Aku ada janji, dan… Kwangmin malah melarangku pergi” jawabku.

“Janji? Dengan siapa?” tanya halmeoni lagi.

“Dengan chingu-ku. Entahlah, pasti dia marah karena aku membolos di hari pertama kerja…” jawabku.

“Ya sudah, mungkin dia sebentar lagi akan pulang. Sana, lebih baik kau siap-siap” ucap halmeoni lembut. Aku hanya mengangguk dan beranjak berdiri,

Clek

Pintu rumah tiba-tiba terbuka, kalau bukan Kwangmin siapa lagi?

“Annyeonghaseyo…” ucap Kwangmin seperti biasa ketika baru masuk rumah. Dia menatapku dingin sebentar, lalu naik ke kamarnya.

“Kwangmin? Dia kenapa?” tanya halmeoni Kwangmin bingung melihat Kwangmin yang biasanya duduk dulu di ruang tamu sehabis pulang sekolah, tapi, hari ini dia malah langsung ke kamar. Ahh… Apa karena ada aku?

“Halmeoni, biar aku saja yang tanyakan nanti. Sepertinya dia sedang lelah, aku mau bersiap-siap untuk pergi dulu, ne?” ucapku, lalu naik ke kamarku.

“Ne” balas halmeoni Kwangmin ketika aku sudah mau masuk kamar.

***

 

Tok Tok Tok

Kuketuk pintu kamar Kwangmin berkali-kali, tak lama, pintunyapun terbuka.

“Kwangmin?” panggilku, kulihat dia sedang berbaring di tempat tidurnya dengan selimu tebal menutupi tubuhnya. Akupun mendekatinya.

“Kau kenapa? Kau sakit?” tanyaku sambil menempelkan telapak tanganku ke keningnya. “Tapi, tidak panas”

“Yujin-ah… Dingin…” ucap Kwangmin dengan wajah pucat.

“Hah? Dingin? Kau sakit? Tapi… tidak demam. Kau sakit apa?” tanyaku mencoba menghangatkan tubuhnya dengan menambah selimut tebal lagi.

“Dingin… Bisakah… Kau tidak pergi? Jebal… Dingin… Aku butuh bantuanmu… Nanti siapa yang merawatku?” pintanya.

“Andwe! Aku sudah berjanji, nanti kalau ia membenciku bagaimana? Aku akan minta bantuan halmeoni…” ucapku, lalu langsung keluar dari kamarnya dan meminta halmeoni agar menjaga Kwangmin.

Lalu langsung pergi menuju taman tanpa berpamitan pada Kwangmin.

“Dia benar-benar sakit? Kenapa tidak panas? Dan… Saat kusentuh tangannya-pun, tidak dingin. Aneh…” gumamku di tengah perjalanan.

***

Kini aku sudah berada di taman, begitu juga dengan Minwoo. Kamipun mengobrol sambil meminum kopi hangat dan memandangi bunga-bunga di taman yang disinari lampu taman.

“Minwoo-ah” panggilku, dia menoleh dengan senyum manis yang selalu melekat pada wajahnya. Kyeopta~

“Ne? Waeyo?”

“Umm… Apa Kwangmin punya yeojachingu?” tanyaku ragu.

“Wae? Kau menyukainya?” dia malah balik bertanya, kini senyumnya berubah menjadi senyum miris.

“Aniyo… Maksudku, kalau dia punya yeojachingu, aku berpikir akan lebih baik kalau kujauhi Kwangmin. Aku takut yeoja-nya cemburu” jawabku.

“Sepertinya tidak punya. Tapi, aku sering dengar yeojadeul membicarakan Kwangmin” ucap Minwoo, “mungkin alangkah baiknya jika kau lebih sering bersamaku”

“M… Mwo?” tanyaku kaget mendengar ucapan terakhirnya.

“A… Ani! Maksudku… Emm… Kalau Kwangmin memang punya yeojachingu, kau tidak terlalu sulit mencari chingu yang sering pulang pergi sekolah bersamamu. Aku mau ‘kok menemanimu…” ucap Minwoo terbata.

Suasana jadi canggung seketika.

‘Ucapannya tidak masuk akal’ pikirku.

“Ouh, begitu. Umm, sudah malam… Sebaiknya kita pulang” ucapku mencoba mencairkan suasana kembali.

***

Tok Tok Tok

Clek

“Kwa… Kwangmin?!” pekikku ketika membuka pintu kamarnya. Kupikir dia sakit… Tapi?

“Sudah pulang? Apa kencan-mu menyenangkan?” tanya Kwangmin dingin. Matanya masih terus memperhatikan film pikachu-nya, dan mulutnya terus di-isi dengan cemilan.

“Katanya kau sakit?! Kenapa malah…”

“Apa pedulimu?! Sana keluar dari kamarku!” potong Kwangmin cepat, menatapku tajam.

“M… Mwo? Neo…”

Drrt…

“Yeoboseyo?” ucapku setelah mengangkat teleponku. “Oh, kau Minwoo-ah. Umm… Nanti kuhubungi lagi, ne? Annyeong”

Bipp

Kumatikan lagi teleponku, dan beralih lagi pada Kwangmin yang masih menatapku tajam. Dia kenapa?!

“Kau kenapa, huh?!” tanyaku kesal. Aku menendang kakinya.

“Yakk! Pergi sana!! Urusi saja namjachingu-mu itu!!” pekik Kwangmin kesal yang langsung berdiri dan mendorongku untuk keluar dari kamarnya.

BLAMM

“Kwangmin!! Hey!!!” aku terus memukul-mukul pintu-nya, berharap dia membuka pintu-nya lagi. Tapi nihil. Bahkan suara tv-nya pun tak terdengar.

Aku tak menyerah begitu saja, kini aku duduk bersandar di depan pintu kamarnya. Mengotak-atik teleponku, dan berkirim pesan dengan Minwoo. Kalau menelpon sekarang, keadaannya tak memungkinkan bagiku.

“Hiks… Hiks…” kudengar suara tangisan, apa itu Kwangmin? Aku mempertajam pendengaranku, dan ternyata benar. Kwangmin menangis? Andwe! Ada apa dengannya?!

.

.

.

#TBC# *bukan maksud TBC penyakit yak? X9*

Mohon review nya nde, Bestfriendeul~ Kalo banyak yang minat buat baca kelanjutannya, nanti aku post chap selanjutnya ^^

Gomawo~❤

This entry was posted by boyfriendindo.

5 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] This is Love ? or What ? – Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: