[FANFICT/FREELANCE] Hate You, Love You – Chapter 4

Title 
: Hate You, Love You – Chapter 4
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Donghyun 

  ~ Jeongmin

  ~ Mari

Support Casts
: Member Boyfriend Lain

CHAPTER 4

 

“Kelihatannya, kau dan Donghyun hyung, saling menghindari?” tanya Jeongmin.

Kami berdua sedang makan siang di kafe yang berada di dalam kantor majalah tempat Boyfriend melakukan pemotretan. Sekarang waktunya istirahat, yang dilanjutkan sesi pemotretan individu. Jeongmin mendapat giliran terakhir. Dia pun meminta izin untuk makan di kafe bersamaku, karena dia mengatakan ingin membicarakan sesuatu berdua saja.

Suasana kafe sedang tidak ramai. Selain aku dan Jeongmin, hanya ada tiga orang berjas di meja paling belakang, dan dua orang wanita di meja dekat pintu masuk. Aku hanya memesan segelas latte float, sementara Jeongmin memesan banyak makanan untuk mengisi perutnya yang lapar.

Dan pertanyaannya tadi hampir membuatku menyemburkan latte yang kuminum.

“Ini yang ingin kau bicarakan padaku?” Aku menatapnya penuh selidik.

Jeongmin memutar bola matanya. “Ya, dan tidak. Jadi?”

“Menghindar bagaimana? Aku kan, memang tidak akrab dengannya.” Hanya itu alasan yang terpikirkan olehku. Tidak mungkin kukatakan aku memang sedang menghindarinya, karena setiap kali dekat dengan Donghyun aku merasa tidak bisa bernapas dengan baik.

“Tapi kelihatannya tidak begitu. Terjadi sesuatu diantara kalian?” Kali ini giliran Jeongmin yang memandangku penuh selidik.

“Tidak,” jawabku tenang.

“Kuharap kau tidak berbohong.”

“Tentu saja! Ini hanya… karena aku merasa tidak perlu banyak mengobrol dengan Donghyun Oppa.”

“Tapi kau banyak mengobrol dengan Minwoo dan Kwangmin.”

Kenapa aku merasa seperti tersangka yang sedang diinterogasi ya?

“Mereka yang mengajakku mengobrol, Jeong.”

Jeongmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia meminum orange juicenya sebelum bicara lagi.

“Aku ingat, hyung pernah mengatakan, bahwa dia memiliki cinta pertama di sekolah dulu. Apa mungkin kau tahu siapa orangnya?”

“Apa?” kataku terlalu keras. Membuat salah satu wanita di depan kami menoleh padaku. “Bagaimana aku bisa tahu. Bahkan aku tidak ingat dia senior di sekolah.”

Benarkah Donghyun berkata begitu? Siapa? Dia tidak mengatakan siapa gadis itu? Harusnya kau memaksanya!

Tentu saja aku tidak mengatakan apa yang kupikirkan. Meski terus terang aku ingin mengetahuinya juga. 99% dari diriku berharap bahwa gadis yang dimaksud Donghyun adalah aku.

Astaga, aku akan gagal. Bukannya semakin yakin bahwa pikiranku sudah bersih dari Donghyun, aku malah semakin bimbang. Sebenarnya apa hasil akhir yang kuinginkan dari semua ini?

Jeongmin menatapku sebentar, lalu kembali sibuk dengan makanan di piringnya.

“Oke, alasanmu bisa diterima. Hyung mungkin terlihat tidak ramah. Tapi, sebenarnya dia bukan orang yang seperti itu.”

Ya, aku tahu yang kau maksud Jeong. Aku sangat tahu.

“Apa kau selalu makan sebanyak ini?” Kucoba mengalihkan perhatian Jeongmin, agar dia berhenti menanyakan hal-hal aneh padaku.

“Coba ini.” Jeongmin menyodorkan sepotong kecil blueberry cake padaku. Tanpa ragu aku membuka mulut, kemudian Jeongmin menyuapkannya ke dalam mulutku.

“Hmmm… ini enak!”

“Akan kupesankan untukmu.”

“Tidak perlu, Jeong!”

“Kau itu perlu banyak makan, Mari. Jangan sampai kau tiba-tiba pingsan ketika mengurus semua keperluanku.” Jeongmin melipat kedua tangannya di depan dada. Dia berkata padaku dengan cara seorang guru yang sedang menasehati muridnya. Mau tidak mau aku pun tertawa.

Usai memesan, Jeongmin meletakkan dua piring berisi empat jenis cake di hadapanku.

“Blueberry, strawberry, cappuccino, kiwi,” jelas Jeongmin sambil menunjuk masing-masing kue sesuai rasanya.

“Dan bagaimana aku akan menghabiskan semuanya?” keluhku. Mataku membulat lebar menatap Jeongmin.

“Tidak ada protes, Mari. Habiskan semua tanpa tersisa! Sekarang aku harus kembali ke atas. Kau boleh menyusul kalau piringmu sudah kosong.”

“Yang benar saja.”

“Aku pergi. Jangan coba-coba membuangnya!”

Setelah tinggal sendirian bersama empat kue itu, aku bingung bagaimana cara memasukkan semuanya ke dalam perut. Aku belum terlalu lapar untuk bisa menghabiskannya dengan cepat.

“Oke, ayo kita mulai,” ujarku.

Perlahan, potongan demi potongan masuk ke mulutku. Aku mulai dari kue dengan rasa kiwi yang penuh dengan potongan buah kiwi asli sebagai toppingnya.

Sepuluh menit berlalu, dan aku baru berhasil menghabiskan satu kue. Aku mulai berpikir untuk memberikannya pada anak kecil yang baru saja duduk di meja tepat di belakangku.

Belum sempat aku melakukannya, kulihat sosok Donghyun berjalan memasuki kafe. Aku membeku di tempat.

Astaga, pukul aku sekarang juga!

Donghyun terlihat tampan dengan kemeja biru tua dan topi yang dikenakannya. Belum lagi warna rambutnya berubah hitam untuk pemotretan hari ini. Dia tersenyum menyapa seorang model pria yang berpapasan dengannya.

Seseorang, tolong berikan aku tabung oksigen sekarang juga!

Kutampar pipiku untuk mengembalikan kewarasanku. Tetapi, nampaknya tamparanku belum cukup keras, karena aku masih berpendapat Donghyun terlihat sangat tampan. Oh, bahkan sekarang aku menambahkan kata sangat.

Aku tahu aku harus pergi. Tetapi yang kulakukan justru tak berkedip, melihatnya berjalan mendekat.

“Ada apa denganmu?” Donghyun sudah berdiri di hadapanku, dan saat ini aku sedang memandanginya.

Tiga detik setelah mendengar suaranya, aku baru tersadar dari lamunanku. Kualihkan lagi pandanganku pada tiga kue yang tersisa di atas piring.

Menjauhlah, kumohon.

Donghyun menarik kursi di depanku, kemudian duduk.

Bodoh. Padahal aku sudah tahu kalau aku memohon sesuatu, yang terjadi justru sebaliknya.

“Hentikan. Member lain akan berpikir kita benar-benar memiliki masalah.”

“Masalah apa? Aku baik-baik saja! Pergilah,” kataku tidak memandangnya. “Lagipula untuk apa kau ke sini?”

“Apa kafe ini milikmu?”

Aku tidak mau menjawab. Meladeni Donghyun sama saja sengaja terjun ke jurang. Donghyun menarik salah satu piringku. Tanpa bertanya padaku, dia memakan blueberry cake milikku. Aku ingin protes, tapi dia sudah membuka mulut lagi.

“Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku hanya bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.”

“Ya sudah, tidak perlu kau jawab.”

“Kau tahu sendiri kelakuan mereka. Diam tidak akan membuat mereka berhenti menggangguku.”

“Itu masalahmu.” Mataku memandangi blueberry cake yang kini tinggal setengah. “Stop!” Kurampas kembali piringku dari hadapan Donghyun. Dia pun menarik piringku yang lain.

“Karena itu berhentilah memperlakukanku seperti orang yang terjangkit penyakit menular.”

“Aku tidak melakukannya! Kau ini suka sekali menyimpulkan semuanya sendiri.”

“Mengapa kau tidak memberikan balasan surat yang kau tulis padaku, Oppa? Apa sulit menanyakan hal itu padaku?”

“Kau—tunggu, siapa bilang aku ingin menanyakan hal itu?”

“Aku melihatnya tertulis di seluruh wajahmu. Terlihat sangat jelas di mataku,” kata Donghyun dengan memberikan penekanan pada kata sangat.

Entah perasaanku saja atau ada yang salah dengan perutku. Aku merasa kue-kue yang sebelumnya kutolak terlihat menggiurkan setelah Donghyun memakannya. Karena sisa blueberry cake telah kuhabiskan, aku pun memotong setengah strawberry cake yang dimakan Donghyun, lalu memindahkannya ke piringku.

“Kau yakin tidak ingin mengetahui alasannya?”

“Sama sekali tidak.”

Tentu saja aku ingin tahu, bodoh. Tapi aku ingin kau yang mengatakannya sendiri tanpa kuminta. Kenapa kau tidak menyadarinya? Kecuali kau memang sengaja ingin menyiksaku dengan rasa penasaran.

“Baiklah. Tidak akan kukatakan meski kau merengek padaku.”

“Aku tidak tahu mengapa aku menerima pekerjaan ini, padahal aku seharusnya sudah tahu, akan sering menghadapi sikapmu yang menyebalkan. Saat itu aku pasti sedang tidak waras.”

Piring Donghyun telah kosong. Dia berjalan ke kasir untuk memesan sesuatu. Tidak sampai lima menit, dia kembali dengan segelas kopi.

“Jadi kau menyusulku ke sini untuk mengatakan semua itu?”

“Kau kegeeran sekali. Kopi, aku ke sini untuk membeli kopi,” kata Donghyun sambil mengangkat gelas kopinya.

Baru saja kemarin aku berjanji akan menjauhi Donghyun, dan hari ini aku sudah membatalkannya sendiri. Bagaimana aku bisa menjaga jarak kalau Donghyun terus saja berkeliaran di sekitarku begini? Apa yang ada di pikirannya? Satu detik melambungkanku, detik berikutnya menjatuhkanku lagi.

“Aku akan kembali ke atas,” kataku setelah piring dan gelasku kosong. Beruntung juga Donghyun muncul. Sehingga aku tidak perlu menghabiskan kue-kue itu sendirian.

Donghyun ikut meninggalkan kursinya dan berjalan mengikutiku.

Entah semesta sedang mengerjaiku atau bagaimana. Keluar dari lift, selain kami berdua, tidak ada orang lain yang berjalan di sepanjang koridor lantai enam ini. Apa semua orang sedang bekerja di ruangannya? Yang benar saja, kebetulan macam apa ini?!

Aku teringat saat kami berdua berjalan di sepanjang koridor sekolah dulu. Waktu itu aku tidak terlalu suka berjalan di sebelahnya, karena akan ada banyak mata yang melihat ke arahku. Mata-mata para gadis yang memandang dengan tidak suka.

Aku lebih memilih berjalan di belakangnya meski Donghyun melarangku. Sampai akhirnya, suatu hari dia justru sengaja berjalan di sampingku sambil menggandeng tanganku. Rasanya seperti ada di dalam drama. Orang-orang memandang kami dengan ekspresi terkejut.

Aku suka, saat jari-jari tangannya yang besar mengisi sela-sela jari tanganku.

“Berjalan yang benar. Jangan sibuk memikirkanku,” kata Donghyun ketika akhirnya berjalan mendahuluiku.

“Ya! Aku… siapa… k-kau… tunggu!” Aaarrrgggghhhh!!

***

 

 

*Donghyun POV*

 

Jeongmin mendadak demam usai pemotretan. Beruntung, jadwal kegiatan kami hari ini sudah selesai. Dia menolak pergi ke rumah sakit. Hanya butuh tidur, katanya. Gara-gara hal itu, Mari terpaksa menginap di dorm untuk merawat Jeongmin. Mari yang memaksa. Aku tidak tahu harus merasa senang atau tidak.

Sejak tadi, Mari sibuk mengurus Jeongmin. Sekarang pun dia sedang menyuapi bubur yang dia masak sendiri, pada Jeongmin. Rasanya aku langsung ingin pura-pura sakit.

Sejak kapan Jeongmin bersikap semanja itu pada asisten pribadinya?

“Wah, Nuna, kau lebih mirip pacar Jeongmin Hyung daripada asisten pribadinya,” kata Minwoo, ikut duduk di ranjang Jeongmin sambil makan ice cream.

“Benarkah? Aku memang terlalu istimewa untuk seorang asisten pribadi,” canda Mari.

“Jangan terlalu sering memuji Mari. Bisa-bisa dia memintaku menaikkan gajinya.”

“Oh, apa kau baru saja membaca pikiranku?”

“Dasar.” Jeongmin menjitak pelan kepala Mari.

“Cuaca dingin begini, kenapa kau membeli ice cream? Kau mau ikut sakit?” kataku yang baru saja ikut masuk ke dalam kamar. Sebenarnya aku ingin tetap bertahan di luar.

“Ya. Agar aku bisa dirawat oleh Mari Nuna.” Minwoo tersenyum lebar.

“Dia milikku Minwoo,” kata Jeongmin.

Entah mengapa ucapan Jeongmin tidak terasa sebagai candaan bagiku. Aku mengalihkan pandanganku pada Mari untuk melihat reaksinya. Gadis itu hanya tersenyum. Seandainya aku tahu apa yang dia pikirkan.

“Ada yang mau ikut makan di luar? Kami bertiga ingin makan sushi.” Kwangmin melongokkan kepala dari balik pintu.

“Aku ikut!” jawab Minwoo semangat.

“Aku tidak ikut.” Bukan karena aku tidak ingin. Aku hanya merasa harus tinggal di dorm untuk mengawasi Mari dan Jeongmin.

Gadis itu lagi-lagi membuatku terpaksa bertingkah kekanakkan. Dulu, aku pernah melakukannya sekali. Saat itu aku berpura-pura terkilir agar Mari tidak pergi bersama teman lelakinya. Padahal teman sekelasnya itu hanya sedang meminta bantuan Mari untuk kencan bersama salah satu sahabatnya.

Hanya Mari yang sanggup membuatku bertingkah seperti itu.

Aku meninggalkan Mari dan Jeongmin dengan tidak rela. Kucoba menyibukkan diri dengan berbagai game di ponsel.

Lima belas menit kemudian, Mari keluar.

“Jeongmin sudah tidur?”

“Ya.” Mari berjalan ke bak cuci untuk mencuci mangkuk bubur dan peralatan yang dia gunakan tadi. “Ah, aku lupa membawa baju hangat,” ujarnya.

“Kurasa aku punya yang pas untukmu.”

Aku menangkap perubahan sikap Mari. Dia berubah tegang dan terdiam seketika. Entah apa yang dia bayangkan hingga membuatnya merasa terganggu. Menyenangkan sekali menggodanya seperti ini. Aku tahu Mari akan menolak, jadi aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.

“Aku bercanda. Kalau kau mau, akan kuantar kau mengambilnya di rumah.”

“Oke.”

Tumben Mari menyetujuinya dengan cepat. Mungkin dia berpikir tawaran keduaku jauh lebih baik daripada tawaran pertamaku. Dalam hati aku tertawa, menebak-nebak apa yang sempat terlintas di pikiran Mari tadi.

Setelah menulis pesan untuk member lain, kami pun meninggalkan dorm.

“Coba tebak, saat pintu lift terbuka, ada berapa orang di dalamnya.”

“Oppa, kau salah makan?”

“Tebak saja. Atau kau takut kalah?”

“Apa untungnya kalau tebakanku benar?”

“Kau akan tahu nanti.”

“Oke. Umm… tiga orang.”

“Aku menebak tidak ada orang di dalam lift.”

Biarkan aku menang. Kumohon!

Pintu lift terbuka perlahan. Baik aku ataupun Mari melihat pintu lift penasaran. Bagaikan sedang menanti hasil ujian. Ketika pintu lift terbuka sepenuhnya, senyumku mengembang.

“Aku menang.” Aku memasuki lift dengan senyum mengejek pada Mari.

“Aaaaaah, benar-benar mengganggu!”

Baru menuruni satu lantai, tiba-tiba lampu di dalam lift mati. Lift berhenti bergerak.

Belum sempat aku merespon, aku mendengar Mari berteriak.

“Aaaaaaaaa!”

Mari mencengkram kausku. Dia merapatkan tubuhnya padaku. Atau bisa kukatakan dia sedang memelukku. Semua berlangsung dengan cepat. Aku terlalu terkejut hingga aku lupa bahwa kami berada di dalam lift yang berhenti bergerak.

Sejak dulu aku tahu Mari tidak suka berada di tempat yang gelap. Seandainya aku juga tahu bahwa responnya akan seperti ini.

“Kita terjebak! Cepat lakukan sesuatu! Kita akan celaka, Oppa! Kita akan celaka!” Mari benar-benar panik.

“Aku tidak masalah bertahan dalam posisi ini,” ucapku terkekeh. Setelah aku mengatakannya, Mari menjauhkan dahinya yang sebelumnya menempel di bahuku. Tetapi kedua tangannya tetap memegangi kausku.

“Ya!! Seriuslah, Oppa! Aku tidak mau terjebak di sini.” Suara Mari terdengar bergetar. Aku menebak dia hampir menangis.

“Hei, hei, Mari. Jangan katakan kau akan menangis?”

Aku mulai mendengar Mari terisak. Bersamaan dengan itu, lampu menyala dan lift bergerak lagi. Mari belum melepaskan tangannya dari kausku.

“Lihatlah, liftnya sudah berjalan lagi. Berhentilah ketakutan.” Aku menepuk-nepuk pundak Mari.

Mari mengangkat kepalanya, memandangku dengan matanya yang berkaca-kaca, kemudian tangisannya pecah. Tangan kirinya mencengkram kausku semakin kuat, sementara tangan kanannya mulai memukuliku.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?!”

“Mari… oke, aku bersalah. Berhenti menangis. Ayolah, kau bukan gadis yang cengeng.”

“Aku membencimu. Aku membencimu!”

Kuraih tangannya yang memukuliku serta tangannya dari kausku, kemudian aku menggenggamnya. Dia memandang ke bawah, menolak bertatapan denganku.

Lift terbuka. Aku menggandengnya keluar.

Sudah berapa lama sejak aku merasakan kehangatan tangannya di dalam genggamanku? Aku tidak tahu dengan Mari, tetapi aku selalu suka menggandeng tangannya. Seolah-olah berkata pada semua orang ‘aku ada di samping Mari jadi jangan coba-coba mengganggunya’.

“Kalau kau kembali ke dorm sekarang, Jeongmin pasti akan curiga. Terlihat jelas kau baru saja menangis. Lagipula aku tidak mau disalahkan. Jadi, kupikir lebih baik kita tetap ke rumahmu. Atau kita bisa duduk di kafe sambil menunggu wajahmu terlihat lebih normal.”

“Maksudmu sekarang aku terlihat tidak normal?” kata Mari, lalu menginjak kakiku.

“Ya! Ini balasanmu untuk orang yang sudah menolongmu?”

“Ayo, antar aku pulang.”

“Baiklah. Sekarang kau sudah boleh berhenti menangis, Mari,” kataku sambil mengelus puncak kepalanya.

Menahan diri untuk tidak memeluknya rasanya berat sekali. Bahkan sejak hari pertama aku melihatnya lagi, aku ingin menariknya ke dalam pelukanku. Gadis ini benar-benar menguji kesabaranku.

Masih bergandengan tangan, kami berjalan memasuki mobil.

Saat ini, aku merasa kami berdua kembali menjadi kami yang sama di masa sekolah dulu.

“Kau ingin mampir membeli ice cream?”

“Aku bukan anak-anak, Oppa. Atau kau ingin melihatku terserang flu?”

“Oke, kita mampir membeli kopi saja.”

This entry was posted by boyfriendindo.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] Hate You, Love You – Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: