[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 01

Chance-1

Title 
: Chance – Chapter 01
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : PG – 13
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Sena

Main Casts
: ~ Ji Hoon (Kakak Sena)

 ~ Rin (Lawan Main YoungKwang di Drama)

CHAPTER 1

Tiga bulan lebih telah berlalu sejak kecelakaan itu. Tetapi aku masih bisa mengingatnya dengan baik. Kecelakaan itu menghantui mimpiku. Dan hampir semua mimpi burukku, ada ‘dia’ di dalamnya.

Aku merindukannya.

Merindukannya hingga rasanya aku ingin berlari ke tempat dia berada. Tetapi kakiku tidak dapat bergerak. Karena itulah aku semakin merindukannya. Sampai pada satu titik, aku merasa aku akan gila.

Setelah lebih dulu sadar, dan mengetahui apa yang terjadi, aku membuat perjanjian dengan orang-orang di sekelilingku. Bahwa tidak ada yang boleh mengungkit tentang ‘dia’. Tentang kami berdua. Tidak di depan siapa pun. Terutama di depan Youngmin.

Seperti aku yang akan berpura-pura melupakannya, aku juga meminta mereka semua melakukan hal yang sama.

Pagiku hampir selalu menyesakkan. Mimpi buruk itu datang lagi semalam. Aku bangun dengan ketakutan yang terasa jelas. Aku menegakkan tubuh, kemudian menepuk-nepuk dadaku cukup keras. Berharap, sedikit rasa sakit itu bisa menggantikan rasa takutku.

“Kwangmin, syuting kita hari ini mundur satu jam,” kata Youngmin, saudara kembarku.

Aku yang memang baru saja bangun, menjatuhkan tubuhku lagi ke atas tempat tidur. Youngmin pun menghampiriku.

“Bangunlah! Karena kita punya waktu satu jam, ayo kita ke tempat itu!”

“Aku malas, Hyung. Kau ke sana sendiri saja.” Kutarik selimut hingga melewati kepalaku.

“Apa gunanya aku ke sana sendirian? Siapa yang akan bercerita padaku? Cepat bangun!”

Youngmin selalu seperti ini. Jika aku menolak menemaninya ke tempat itu, dia akan mulai memaksa. Terkadang, aku merasa Youngmin berubah menjadi orang lain.

Karena kecelakaan tiga bulan lalu, Youngmin mengalami amnesia. Bahkan ketika dia sadar dan melihatku, Youngmin terkejut. Seolah sedang melihat dirinya yang menjadi hantu. Dan sejak saat itu, aku seperti kehilangan tiga orang sekaligus. Youngmin, ‘dia’, dan diriku sendiri.

Sebulan terakhir, Youngmin memintaku membawanya ke tempat-tempat yang bisa membantunya mengembalikan ingatan. Dari semua tempat yang telah kutunjukkan, Youngmin paling sering mengajakku ke tempat itu. Sebuah persewaan komik di dekat sekolah kami dulu. Walaupun sejujurnya aku tidak terlalu suka berada di sana. Walaupun sejujurnya aku tidak terlalu ingin ingatan Youngmin kembali.

Mungkin tempat itu meninggalkan perasaan yang berbeda bagi Youngmin. Karena memang di tempat itulah, kami banyak menghabiskan waktu luang kami. Selain itu, di sana juga tempat pertama kali kami bertemu dengan ‘dia’.

Youngmin memang sudah tidak membenci dirinya yang tidak dapat mengingat apa pun. Tetapi aku tahu, dia sangat ingin ingatannya segera kembali. Aku tidak tega menolak permintaan Youngmin. Maka aku pun bangun, lalu mempersiapkan diri.

***

Setiap kali berada di tempat ini, kami selalu duduk di sofa yang sama. Sofa berwarna merah yang merapat ke jendela. Sofa-sofa yang lain merapat pada dinding, berada di tengah-tengah ruangan, atau tersembunyi di balik rak-rak. Kami menyukai sofa di dekat jendela ini. Sejak dulu selalu begitu, dan tidak pernah berubah. Jika ada orang yang telah lebih dulu menempatinya, maka ‘dia’ akan merengek sampai orang yang menempati sofa itu merasa tidak tega menolaknya.

“Ternyata benar kalian berdua.” Salah satu lelaki yang mengenakan seragam pegawai tempat ini mendekati kami. Aku tidak mengingat wajahnya, tetapi sepertinya dia sering melihat kami berada di sini.

“Ke mana kakak bertopi merah itu? Bukankah kalian selalu datang bertiga? Aku belum membayar hutangku padanya,” katanya lagi.

Youngmin langsung memandangku kebingungan. Menungguku memberi jawaban.

Terus terang aku tidak tahu harus memberikan jawaban apa. Karena jawaban yang mungkin ingin Youngmin dengar, tidak dapat kukatakan. Jauh-jauh hari, aku sudah memberitahu pemilik persewaan ini agar berpura-pura tidak mengenal kami dan meminta semua pegawainya—yang kebetulan juga mengenal kami—melakukan hal yang sama. Nampaknya lelaki di depan kami sekarang belum diberitahu olehnya.

“Siapa yang kau bicarakan?” tanya Youngmin karena aku belum juga memberi jawaban.

Kulihat pemilik persewaan memandang ke arah kami, kemudian bergegas berjalan ke tempat kami duduk.

“Kenapa kau di sini? Cepat kembalikan komik-komik itu ke raknya,” katanya sambil menunjuk komik-komik yang tergeletak di salah satu sofa. “Silakan lanjutkan. Maaf sudah menganggu.” Pemilik persewaan melirikku.

Aku mengangguk dan tersenyum. Dia tahu aku sedang berterima kasih.

“Siapa kakak bertopi merah yang dia maksud? Bukankah kita selalu ke tempat ini berdua?”

“Mungkin dia salah mengenali orang, Hyung. Banyak sekali yang datang ke tempat ini kan?”

“Kau pernah mengatakan, bahwa aku dapat merasakannya, ketika kau berbohong. Dan entah kenapa, sekarang aku merasa kau sedang berbohong padaku, Kwang.”

“Aku tidak berbohong, Hyung.”

Youngmin menatap langsung ke dalam mataku. Mencari-cari kebohongan yang mungkin bisa dia lihat dari kedua mataku.

“Baiklah, aku percaya padamu.”

Maafkan aku, Hyung. Biarkan kita tetap seperti ini. Seperti sebelum kita mengenalnya. Seperti sebelum kita bertiga saling menyakiti.

“Apa saja yang sering kita bicarakan saat berada di sini?”

Butuh waktu lebih dari sepuluh detik bagiku untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Youngmin.

“Eiii… Hyung, kita tidak boleh banyak mengobrol. Orang-orang akan memarahi kita kalau kita berisik,” aku mencoba bercanda karena aku mulai gelisah. Takut Youngmin tahu aku sedang mengarang kebohongan.

“Tapi tidak mungkin tidak ada yang kita bicarakan.”

“Yaaa… kita memang tidak selalu diam membaca komik. Terkadang kita membicarakan syuting, teman-teman kita, atau anjing tetangga yang menyebalkan itu.” Sebagian dari yang kukatakan ini benar.

‘Dia’ yang banyak bicara diantara kami bertiga. Sementara kami berdua akan mendengarkan dan menimpali ceritanya. ‘Dia’ suka membahas setiap tokoh dari komik yang sedang dibacanya. Aku paling suka ketika ‘dia’ bercerita dengan kesal, karena salah satu tokoh yang menurutnya menyebalkan. ‘Dia’ akan membanting topi merah yang sering dipakainya ke atas meja, kemudian meremas dan menarik rambutnya sendiri karena gemas. Jika aku tidak setuju pada pendapatnya mengenai tokoh yang ‘dia’ bicarakan itu, ‘dia’ akan berkata ‘aku membencimu Kwang, jangan mengajakku bicara’.

Hyung, bisakah kau tidak membuatku terus mengingatnya?

“Aku tidak tahu perasaan apa ini. Tapi setiap kali berada di tempat ini, aku merasa sedang melupakan sesuatu yang penting,” kata Youngmin dengan ekspresi sedih. “Kwangmin, apa yang kita lakukan sebelum mengalami kecelakaan?”

Aku menghela napas. “Kita pulang dari syuting, lampu mobil kita tiba-tiba mati, dan kau tidak melihat mobil yang melaju di depan kita.”

Aku sudah menyiapkan jawaban itu kalau saja suatu saat Youngmin bertanya. Baru hari ini dia menanyakannya. Pasti itu hanya satu dari banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Aku tidak tahu apakah Youngmin tidak menanyakannya karena takut membuatku merasa terganggu. Karena terus terang, kejadian sebelum kami kecelakaan juga ingin kuhapus dari otakku.

“Menurutmu, mengapa aku amnesia? Kenapa aku dan bukannya kau, atau bukannya kita berdua?”

Aku tersentak. Ternyata Youngmin memikirkan hal yang sama denganku.

Aku juga bertanya-tanya, Hyung. Mengapa bukan kita berdua yang amnesia?Mengapa bukan aku saja? Akan lebih baik jika aku mengalami hal yang sama. Agar aku tidak perlu merasa bersalah sendirian.

“Kenapa kau bertanya begitu, Hyung? Tenanglah, aku yakin ingatanmu akan segera kembali.”

Dan seandainya kau marah karena aku sudah banyak berbohong saat ini, aku akan menerima hal itu.

“Atau, akankah jauh lebih baik jika ingatanku tidak kembali?”

Waktu satu jam kami sudah habis. Aku tidak menjawab pertanyaan terakhir Youngmin. Kami pun meninggalkan persewaan komik, kemudian menuju lokasi syuting.

Hari ini kami mulai syuting drama lagi. Di mana ini pertama kalinya kami berdua berada dalam satu judul drama. Meski amnesia, Youngmin tidak ingin merasa terganggu dan tetap ingin melakukan kegiatan seperti sebelumnya.

***

Kami baru saja menyelesaikan dua scene. Aku meninggalkan Youngmin yang sedang mendengarkan pengarahan dari sutradara, untuk mengambil ponselku yang tertinggal di mobil.

Saat aku kembali ke dalam, aku dibuat terkejut oleh kehadiran seseorang.

Dari jauh, kulihat Youngmin sedang bicara pada seorang wanita. Aku tidak akan terkejut seandainya wanita itu hanyalah salah satu kru atau aktris. Tetapi gadis itu adalah ‘dia’. Itu benar-benar ‘dia’.

Sena.

Seseorang yang sedang berusaha kulupakan.

Sena berdiri di sana. Nampak baik-baik saja. Seperti Sena yang selama ini kukenal. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Tidak lagi tertutup oleh topi merahnya. Tanpa sadar, ada air mata yang keluar dari sudut mataku. Aku pun menghapusnya.

Bagaimana Sena bisa berada di sini?

Sekarang, aku hanya berjarak beberapa langkah darinya. Tetapi aku tetap tidak dapat berlari, lalu mendekapnya ke dalam pelukanku. Menyedihkan bukan? Saat kita tidak bisa meraih orang yang jelas-jelas ada di hadapan kita.

“Kwangmin!” Youngmin melambai padaku. Memintaku menghampirinya.

Dengan langkah berat aku berjalan mendekat. Aku bersusah payah menenangkan diri, dan mengatur ekspresiku. Aku tidak ingin Youngmin menangkap ekspresi terkejut di wajahku.

Setelah akhirnya berada diantara Youngmin dan Sena, aku tersenyum bergantian kepada mereka berdua.

“Dia penulis skenario drama ini. Seumuran denganmu, keren kan? Namanya Sena. Sena, dia adikku, Kwangmin.” Youngmin memperkenalkan kami berdua.

Sena mengulurkan tangan. Dia tersenyum padaku. Senyum yang ditunjukkan pada orang yang baru dikenal. Aku pun menjabat tangannya.

“Baru pertama kali aku melihat dua orang kembar dalam jarak sedekat ini. Kalian benar-benar mirip. Rasanya aku akan bingung membedakan kalian.” Sena tersenyum lagi. Matanya tidak beralih dariku.

“Eee… Hyung, aku akan ke lantai lima sebentar. Maaf tidak bisa ikut mengobrol.”

“Kwang—“

“Senang bertemu denganmu.” Aku tersenyum kaku pada Sena. “Aku akan segera kembali, Hyung!”

Aku tidak tahu kisah macam apa yang Tuhan rencanakan untuk kami bertiga. Yang aku tahu, Sena tidak seharusnya muncul lagi diantara kami. Setidaknya, bukan sekarang.

Aku ingat Sena pernah berkata bahwa suatu hari nanti, dia akan menulis skenario drama untukku. Tidak kusangka, kesempatan itu datang hari ini. Saat Sena bahkan tidak bisa mengingat namaku.

Ya, Sena berada di dalam mobil bersama kami ketika kecelakaan terjadi. Sama seperti Youngmin, dia juga mengalami amnesia.

Pertama kali mengetahui hal itu, aku merasa sangat marah. Mengapa hanya aku yang dibiarkan menanggung semua ini sendirian? Menanggung perasaan takut, bersalah, dan terluka. Aku marah karena ini semua tidak adil. Tetapi bukan itu alasanku berbohong pada Youngmin. Dan pada Sena.

Itu semua cerita yang panjang.

Apa Ji Hoon hyung yang mengatur semua ini? Tapi kenapa?

Kakak laki-laki Sena adalah seorang sutradara iklan. Baik aku atau pun Youngmin belum pernah bekerja sama langsung dengannya. Karena Ji Hoon tidak bekerja di Korea. Sena sering meminta kakaknya itu untuk membuat drama yang pemeran utamanya adalah aku dan Youngmin. Ji Hoon berkata, bahwa dia akan menuruti keinginan Sena jika dia sudah berhasil menulis skenario drama dengan benar.

Pertemuan terakhirku dengannya adalah di rumah sakit. Aku meminta sesuatu pada Ji Hoon waktu itu. Dan dia menyetujuinya. Lalu, apa alasan Ji Hoon hingga membiarkan Sena bertemu kami berdua?

Meski pertanyaan itu menggangguku, diam-diam aku tetap merasa senang, karena bisa melihat Sena. Karena Sena terlihat bahagia dan tidak terluka.

“Dia kembali, hyung. Sena kembali. Apa yang harus kulakukan?” ujarku pelan.

Kesempatan.

Kata itu tiba-tiba terlintas di kepalaku.

Aku sudah mengatakannya, kan, hyung. Seandainya kita bertemu dengannya lagi, maka kali ini aku yang akan mengalah. Akan kuberikan kesempatan kedua padamu. Aku berjanji.

This entry was posted by boyfriendindo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: