[FANFICT/FREELANCE] Something Special

I’m different, I have something.
Something beyond reason and makes me different from others.
Make me weird, abnormal, and some even thought I was crazy.
I could not avoid the fate.
I could just sacrifice myself for others.

1558506_649855298408073_2054701700_n

Title 
: Something Special
Author : Ai Siti Mulyani
Genre : Mystery
Rating : G
Type : One Shoot
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

ff oneshot datang! ga yakin tapi T.T

ff ini pernah dipublish di blog pribadi aku à http://aiyumijo.wordpress.com/

enjoy this! ^^

~Something Special~

Andwae!!”

Seorang anak laki-laki tengah meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ayahnya dan seorang laki-laki berjas putih yang sedang memegangi tubuhnya di atas tempat tidur. Beberapa menit yang lalu anak itu sempat mimisan dan tiba-tiba pingsan yang sontak saja mengagetkan semua anggota keluarga termasuk adiknya yang langsung menjerit-jerit. Dan ketika ia sadar ia langsung melihat kedua laki-laki ini yang salah satunya sedang menempelkan sesuatu yang sangat dingin ke dadanya. Ia yang kaget langsung menjerit-jerit ketakutan.

Tadinya ia, adik dan kedua orangtuanya berencana untuk pergi ke kebun binatang mumpung hari ini sekolah mereka libur. Tapi jika kejadiannya seperti ini, sepertinya jalan-jalannya harus mereka ditunda dulu.

“Hei, hei …, tidak apa-apa anak manis,” ucap dokter itu menenangkan.

Setelahnya anak laki-laki itu sedikit tenang dan tidak berontak lagi. Dokter yang memeriksanya tadi berdiri dan menghampiri kedua orangtuanya yang sedang memandang khawatir. Tidak lama kemudian dokter itu kembali menghampirinya dan berkata bahwa dia tidak apa-apa. Dokter itu kemudian berpamitan dan keluar dari kamar.

“Appa …,” panggilnya ketika ia melihat Ayahnya juga mengikuti si dokter. “Appa mau kemana?”

Ayahnya itu tersenyum dan menghampirinya. “Appa akan mengantar dokter itu.”

“Jangan! Appa di sini saja. Biar dia pulang sendiri saja.” Rengeknya dan sebentar lagi ia pasti akan menangis.

Laki-laki yang dipanggilnya Appa itu mengusap-usap rambutnya dengan lembut. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan anaknya.

Anak laki-laki itu tidak bisa mencegah Ayahnya untuk pergi. Ia hanya menangis melihat Ayahnya yang pergi degan si dokter. Ibunya lalu mendekatinya dan berkata jika Ayahnya akan segera pulang. Anak berumur 6 tahun itu lantas sedikit mempercayai perkataan itu, tapi tetap saja dia seakan tidak rela Ayahnya pergi dengan si dokter. Karena lelah menangis akhirnya ia pun tertidur dengan air mata yang masih menempel di bulu matanya yang panjang.

***

Seorang laki-laki dengan rambut coklatnya terbangun dari mimpinya. Lagi-lagi mimpi itu. Entah sudah keberapa kalinya ia memimpikan Ayahnya di masa lalu, seakan mimpi itu tengah menghantuinya.

Ia kemudian melirik kearah sampingnya. Adiknya masih tertidur dengan posisinya menghadap kearahnya sedangkan selimutnya sudah berada di kakinya. Ia menggeleng, heran dengan kebiasaan tidur adiknya. Meskipun cuaca sedang dingin pun ia tidak akan pernah mau memakai selimut.

Ketika ia berdiri seketika itu juga bayangan-bayangan yang begitu samar berputar-putar di kepalanya membuatnya pusing dan sedikit terhuyung. Ia berpegangan pada nakas yang ada di samping tempat tidurnya namun tangannya tak sengaja menyenggol gelas dan menjatuhkannya. Laki-laki itu berjongkok dan melihat pecahan gelas itu dengan tatapan kosong.

Bunyi pecahnya gelas itu begitu nyaring dan mampu membangunkan laki-laki yang masih tertidur tadi. Rasa kantuknya hilang dengan segera melihat kakaknya tengah berjongkok sambil memandangi gelas yang sudah pecah di lantai.

“Young Min-ah, kau kenapa?”

Laki-laki yang dipanggil dengan Young Min itu menoleh ke asal suara dan langsung menggeleng. Ia dengan segera membersihkan pecahan-pecahan gelas yang berserakan di lantai.

Ani. Tadi tanganku tidak sengaja menyenggol gelas.” Jawabnya masih sibuk dengan kegiatannya. “Kwang Min-ah …,” Young Min menatap adiknya itu lekat-lekat membuat yang ditatap menelan ludahnya. “Kau tidak mau telat, ‘kan?”

Kwang Min langsung sweat drop. Dia kira kakaknya itu mau mengatakan apa, ternyata hanya mengingatkannya tentang sekolah. Ia menyesal kenapa sudah tegang duluan.

“Hati-hati tanganmu terkena pecahan beling,” nasehatnya sebelum ia pergi masuk ke kamar mandi.

***

“Kwang Min, kau mau kemana?” Tanya Young Min yang melihat adiknya itu beranjak dari kursinya.

“Ke toilet. Kenapa? Mau ikut?”

“Ne!

Kwang Min langsung mengerutkan dahinya. Kakaknya hari ini terlihat sangat aneh. Padahal pertanyaan tadi hanya gurauan saja, tapi dengan tak disangka-sangka kakaknya itu langsung mengiyakan ajakannya yang terdengar sangat konyol dengan semangat. Kwang Min menatap kakaknya lekat-lekat yang sudah berjalan mendahuluinya.

“Kenapa diam saja? Tadi kau bilang ingin ke toilet?”

Kwang Min mengangguk dan menyusul langkah kakaknnya. Mereka berjalan di sepanjang koridor sekolah tanpa berkata apa pun. Suasana canggung berhasil menyelimuti keduanya, dan suasana seperti ini sudah tidak aneh bagi mereka jika hanya sedang berdua seperti ini.

Tiba-tiba Kwang Min merasakan tangannya disentuh. Ia berhenti berjalan dan memandang Young Min dengan heran kemudian yang melihat tangan kirinya yang sedang digenggam oleh Young Min. kelakuan kakaknya hari ini benar-benar aneh.

“Kau … kenapa tidak memberitahuku?”

Kwang Min semakin mengerutkan dahinya ketika mendengar pertanyaan Young Min. ia sama sekali tidak mengerti.

“Memberitahu apa?”

“Hubunganmu dengan Yoon Hee.” Ucap Young Min dengan cengiran lebar yang terpasang di wajahnya.

Sementara Kwang Min melongo parah. Kenapa Young Min bisa tahu, pikirnya. Padahal dia tidak mengatakan rahasian ini pada siapapun termasuk pada Young Min.

“Dari mana kau tahu?” Tanya Kwang Min ragu-ragu.

“Bimilya!” ucap Young Min membuat Kwang Min kesal. Ia berjalan dengan cepat mendahului kakaknya. Ia kesal sekaligus heran sendiri. Dia kan malu jika harus mengakui yang sejujurnya. Pasalnya dia dan Yoon Hee itu dua orang yang tidak bisa akur dari dulu, dari sejak pertama mereka bertemu ketika kelas satu SMP. Dan tiba-tiba saja mereka pacaran, itu akan membuat seisi dunia gempar dan Young Min pasti akan mengejeknya habis-habisan.

“Hei! Bukannya arah toilet itu kesini?” Young Min sedikit berteriak karena Kwang Min sudah terlampau jauh berada di depannya. Seharusnya mereka berbelok ke koridor sebelah kiri tapi Kwang Min malah terus berjalan lurus.

“Panggilan alamku sudah hilang. Kau kesana saja sendiri!”

Young Min menghela napas. Mungkin tidak baik mengungkit rahasia orang lain dengan cara seperti ini, tapi, ‘kan, dia juga tadi tidak sengaja. Ia kemudian berlari menyusul kembarannya yang sama sekali tidak berhenti berjalan.

Ya! Mian,” ucap Young Min sambil menepuk bahu adiknya pelan.

“Tidak!” Kwang Min sedikit membentak kearah kakaknya. Tangan Young Min yang bertengger di bahu Kwang Min tiba-tiba saja terasa lemas dan jatuh dengan perlahan. “Tapi, jika kau memberitahuku bagaimana kau tahu aku berpacaran dengan Yoon Hee, aku akan memaafkanmu.”

Young Min yang mendengar itu ragu seketika. Perlahan ia menyentuh tangan Kwang Min, tapi adiknya itu langsung menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Mereka tengah berdiri di pinggir lapangan serbaguna dan sekarang sedang dipakai bermain futsal oleh beberapa murid laki-laki. Kwang Min tidak mau jika dituduh sebagai gay karena berpegangan tangan dengan kakaknya sendiri di tempat umum seperti ini.

Young Min menarik paksa tangan Kwang Min yang tadi disembunyikan. Belum sempat ia menyentuh telapak tangan adiknya tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam kepala bagian belakangnya membuat ia tersungkur dan berlutut di tanah sambil mengerang. Sebelah tangannya memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Beberapa orang yang melihat itu–yang didominasi oleh perempuan–menjerit tertahan, ada juga yang membekap mulut mereka. Ternyata sebuah bola sepak yang mengenai kepalanya itu. Mungkin tendangannya begitu kuat sampai-sampai tubunya sendiri tersungkur. Bayangkan saja pusingnya seperti apa.

Kwang Min masih berdiri tak berbuat apa-apa bahkan hanya sekedar untuk membantu Young Min berdiri pun tidak. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi barusan. Kejadiannya terlalu cepat.

“Akh … kepalaku …,” Young Min mengusap-usap belakang kepalanya sambil meringis. Baru ketika itu Kwang Min sadar dengan apa yang terjadi.

Dengan cepat ia membantu Young Min berdiri. Tapi mungkin karena pusing Young Min kembali terhuyung dan kembali terjatuh. Namun kali ini bukan hanya dia saja, tapi Kwang Min juga ikut terjatuh karena tadi dia memegangi tangan Young Min dan ia tak mampu menahan tubuh kakaknya.

Seseorang dari tengah lapangan berlari kearah mereka berdua. Beberapa kali ia membungkukkan badannya dalam sambil meminta maaf. Tampaknya orang itu begitu menyesal akan apa yang sudah ia lakukan.

Young Min sepertinya baru ingat tentang tadi pagi. Bola, keramaian, jeritan. Tampaknya itu sudah jelas. Dan ia lega itu semua tidak menimpa adiknya. Tapi akibatnya sekarang ia sendiri yang harus menanggung rasa pusing itu.

Kwang Min buru-buru membawa Young Min ke UKS. Ia takut jika nanti tiba-tiba kakaknya itu akan pingsan. Lebih baik memapahnya berjalan seperti ini dari pada nanti jika Young Min pingsan ia harus menggendongnya. Ia sama sekali tidak mau melakukan itu. Badan Young Min itu kurus tapi kalian tidak bisa membayangkan betapa beratnya orang sekurus dia. Kwang Min saja dulu pernah sekali menggendong kakaknya dari taman ke rumahnya karena tiba-tiba saja Young Min pingsan, dan ia rasa kakinya akan patah. Tapi untungnya semua itu tidak terjadi.

Ya! Dia kenapa?” Tanya seseorang panik ketika mereka tiba di UKS setelah melihat Young Min yang berjalan seperti orang mabuk. Laki-laki yang bernama Dong Hyun itu lantas dengan segera membantu Kwang Min memapah kakaknya menuju tempat tidur yang ada di sana.

“Tadi kepalanya tidak sengaja tertembak bola. Kukira orang itu bermain terlalu semangat sampai-sampai hyung-ku ini tersungkur”. Jawabnya membuat Dong Hyun meringis seketika.

Mereka membaringkan Young Min di atas kasur. Tapi baru saja ia berbaring sebuah erangan kembali terdengar dari mulutnya. Ia mencoba untuk bangun tapi dengan cepat Kwang Min mendorongnya agar tetap berbaring. Namun erangan yang lebih keras lagi yang malah keluar.

“Kepalaku sakit pabo! Aku tidak mau tiduran.”

Kwang Min yang merasa bersalah lantas langsung mendudukkan kakaknya dan meringis sambil meminta maaf. Ia kemudian memperhatikan Dong Hyun yang sedang menempel-nempelkan sebuah kain yang isinya kalau ia tidak salah tebak adalah es. Young Min meringis sesekali ketika kain dingin itu menyentuh kepalanya yang berdenyut, Kwang Min yang melihatnya malah ikut meringis.

Dong Hyun lalu membaringkan Young Min dengan posisi menyamping. Ringisan kecil masih saja keluar dari mulutnya. Tak lama Dong Hyung menyuntikan obat tidur dimaksudkan agar Young Min tidur tanpa terganggu dengan rasa sakit di kepalanya seandainya ia berubah posisi tidurnya menjadi terlentang.

Dong Hyun kemudian keluar dan menyisakan kedua anak kembar itu. Sebelum Young Min benar-benar terlelap ia memegang telapak tangan Kwang Min, sementara Kwang Min hanya memebiarkannya saja.

“Aku mengetahuinya dengan seperti ini,” ucapnya sebelum ia benar-benar tertidur.

***

“Apa masih sakit?” tanya Kwang Min ketika ia melihat Young Min masih memegangi bagian belakang kepalanya. Sementara Young Min menggeleng pelan.

“O ya, tadi sebelum kau tidur di UKS kau mengatakan jika kau mengetahuinya dengan cara seperti ini. Waktu itu kau memegang tanganku. Maksudmu kau mengetahui rahasiaku dengan menyentuh tanganku?” lanjut Kwang Min.

Young Min yang sedang duduk bersila di atas ranjangnya menatap lekat adik bungsunya itu. Mungkin tidak baik jika harus terus menerus merahasiakannya dari orang terdekatnya, toh mereka pun nantinya akan tahu juga.

“Kau ingat ketika Ayah kecelakaan dulu?” tanya Young Min yang berhasil membuat Kwang Min mengangguk. “Kau ingat waktu itu aku merengek supaya Ayah tidak pergi dengan dokter itu?” lagi, Kwang Min hanya mengangguk. “Kau tahu, sebelum aku pingsan aku mendengar Ayah menjerit kesakitan. Sekilas aku melihat Ayah juga menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya seperti ini,” Young Min lalu mempraktikkannya. Kwang Min yang mendengarnya menggeleng. “Karena aku sudah tidak kuat lagi akhirnya aku pingsan. Dan kau tahu, ‘kan, apa yang terjadi pada Ayah?”

“Jadi?” tanya Kwang Min yang penasaran sekaligus bingung.

“Aku seorang Precognition.” Young Min mengela napas.

Kwang Min menatap kakaknya dengan lekat. “Preg …, Preg apa tadi? Maksudnya?” tanya Kwang Min yang tidak tahu dengan istilah yang dikeluarkan kakaknya.

“Kemampuan melihat masa depan. Sayangnya aku tidak mempunyai kemampuan untuk mencegahnya.” Jawab Young Min yang langsung membuat Kwang Min melotot. “Tadi pagi aku sempat menjatuhkan gelas, kau ingat?” Kwang Min mengangguk. “Tadi pagi tiba-tiba saja aku mendengar jeritan tertahan. Aku juga melihat lapangan dan segerombolan orang yang tidak aku ketahui rupa mereka. Kepalaku sedikit sakit dan aku berpegangan pada nakas itu tapi tanganku tak sengaja menyenggol gelas yang ada di atasnya.” jelas Young Min panjang lebar. “Kukira akan ada sesuatu yang terjadi padamu jadi hari ini jangan aneh jika aku terus menempelimu. Dan itu terbukti. Ketika di lapangan tadi ada seseorang yang menendang bolanya dan malah mengenai kepalaku. Sudah kukatakan, ‘kan, jika aku tidak punya kemampuan untuk mencegah sesuatu terjadi? Yang aku bisa hanyalah melindungi orang itu tapi aku yang harus menanggung segalanya.”

Kwang Min sekali lagi dibuat tercengang dengan penjelasan Young Min. Sebenarnya ia      sedikit tidak percaya, tapi melihat Young Min yang bercerita dengan sungguh-sungguh itu ia tak berani menyimpulkan jika kakaknya itu sedang berbohong.

“Tapi, kau tahu hubunganku dan Yoon Hee. Padahal itu bukan masa depan.” ucap Kwang Min.

Young Min menghela napas. Ia Lalu menambahkan, “Itu bukan Precognition, itu Psikometri.” Kwang Min yang mendengarnya sekali lagi dibuat bingung. “Kemampuan melihat sejarah,” lantas Young Min menengadahkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Ia tahu saudaranya itu kebingungan, jadi tanpa ditanya pun ia akhirnya menjelaskan semuanya.

Kwang Min sendiri antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Young Min. Ia tidak pernah menyangka jika kakaknya mempunyai kemampuan seperti itu, kemampuan yang membuatnya lebih istimewa. bahkan dia mempunyai dua keistimewaan sekaligus.

“Aku … aku ini orang aneh,” ucap Young Min pelan sambil menunduk. “Jelas aku melihat Ayah akan pergi waktu itu tapi aku sama sekali tidak bisa mencegahnya.”

Kwang Min melihat bahu Young Min sedikit bergerak naik turun. Tak lama ia mendengar suara isakan. Kwang Min yang khawatir lalu menghampiri Young Min dan menepuk-nepuk bahunya pelan. Ia mengerti perasaan Young Min.

“Memangnya siapa yang bisa melawan takdir? Mungkin kau diberi kemampuan seperti itu agar kau lebih berhati-hati.”

Young Min mendongak melihat saudaranya yang terlihat sedang menahan tangis.

“Terimakasih.” ujarnya.

Suatu kemampuan yang sulit diterima akal sehat memang membuatmu menjadi orang yang aneh. Young Min sama sekali tidak menginginkan keistimewaan yang kini dimilikinya, tapi ia juga bersyukur karena dia bisa melindungi orang-orang terdekatnya meskipun harus ia yang menanggung semua. Karena tadi ia sudah mengatakan, ia tidak bisa mencegah takdir itu.

THE END

This entry was posted by boyfriendindo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: