[FANFICT/FREELANCE] Hate You Love You – Chapter 05

1387940968

Title 
: Hate You, Love You – Chapter 5
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Donghyun

  ~ Jeongmin

  ~ Mari

Support Casts
: Member Boyfriend Lain

CHAPTER 5

Sebelumnya aku tidak pernah mau melihat Boyfriend berlatih dance. Aku lebih suka menunggu di luar. Meski sebelum menjadi asisten Jeongmin, aku pernah penasaran ingin melihat langsung Donghyun berlatih. Tidak, kali ini aku tidak kerasukan. Aku memang pernah memikirkan hal itu.

Sebisa mungkin aku tidak menonton mereka di televisi, atau membaca majalah yang memuat berita tentang mereka. Alasannya jelas. Aku tidak mau mengetahui hal apa pun mengenai Donghyun. Tetapi, bukan berarti aku sama sekali tidak pernah menonton perform mereka di televisi.

Kemudian aku jadi tidak ingin melihatnya langsung, karena aku takut pada sisi diriku yang lain. Sisi diriku yang tidak mau menuruti pikiranku. Anehnya hari ini, aku duduk melihat mereka.

Semalam, ketika Donghyun mengantarku ke rumah, dia meminta satu hal padaku. Dia memintaku tidak menghindarinya lagi. Tidak berusaha keras bersikap tidak suka padanya. Kukatakan padanya, bahwa aku akan mencoba melakukannya. Maka, di sinilah aku.

Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak membencinya sekarang. Donghyun masih berhutang penjelasan padaku. Berapa lama lagi dia ingin membuatku menunggu? Jika dia memang tidak berniat menjelaskan apa pun, seharusnya dia jangan bersikap manis padaku seperti dulu. Hal itu membuat perasaanku bimbang.

Beberapa sahabatku mengirim pesan padaku kemarin. Mereka sangat ingin tahu bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Donghyun. Aku tahu, mereka sebenarnya sedang menungguku mengaku, bahwa sejak hari kelulusan perasaanku pada Donghyun tidak pernah berubah.

Mataku ini juga susah diatur. Sejak duduk di dalam ruang latihan, kedua mataku selalu memandang ke arah Donghyun. Dia terlihat berbeda dari pria yang biasanya membuatku kesal.

Aku menggunakan jaket untuk menutupi wajahku sampai di bawah mata. Aku sungguh tidak bisa mengontrol bibirku agar tidak tersenyum sendiri. Oh, tingkahku seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Memalukan.

Musik berhenti. Mereka semua menuju ke tempat aku duduk.

“Lelah sekali,” keluh Minwoo.

Kuambil plastik berisi botol air mineral yang kubeli sebelum aku datang. Lalu kuberikan pada mereka satu per satu.

“Terima kasih, Nuna. Apa kau tidak membawa makanan?” ucap Minwoo terengah-engah.

“Ah, maaf Minwoo. Aku berencana membuat kimbap, tetapi aku bangun terlambat tadi pagi.”

“Mari bukan koki pribadimu Minwoo,” ucap Jeongmin.

“Ish… sekarang kau banyak protes, Hyung.”

“Bagaimana kalau kita makan galbi?” tanya Hyunseong dan langsung mendapat persetujuan dari member lain.

Aku akan menawarkan diri untuk membelinya, tetapi Jeongmin mendahuluiku.

Akhirnya Jeongmin dan Hyunseonglah yang pergi keluar membeli makan siang.

Kami duduk melingkar. Lebih tepatnya, hanya Donghyun yang berada dalam posisi duduk, sedangkan Minwoo, Kwangmin, dan Youngmin membaringkan tubuhnya di atas lantai. Karena mereka hanya diam, dan aku tidak berniat membuka obrolan, aku pun menyibukkan diri dengan botol air mineral di tanganku. Memukul-mukulkannya ke lantai, atau mengocok-ngocok setengah air di dalamnya.

“Hentikan itu. Apa kau ini masih anak-anak?” Donghyun merebut botol air mineral yang kupegang.

“Dasar perusak kesenangan orang lain,” ujarku.

Minwoo menegakkan tubuhnya.

“Nuna, apa kau punya pacar?” Akhirnya, seperti biasa, Minwoo mulai banyak bertanya.

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Kenapa kelihatannya kau tidak menyukai pertanyaanku, Hyung?”

Donghyun melempar Minwoo menggunakan salah satu sepatunya, dan tepat mengenai lengannya. “Jangan suka mengatakan hal yang tidak-tidak.”

“Kalau kau begini, kau justru terlihat semakin aneh, Hyung.” Youngmin menimpali.

“Mari Nuna, seperti apa Donghyun hyung dulu di sekolah?” Giliran Kwangmin yang bertanya.

Semua mata sedang tertuju padaku sekarang.

Mereka ini kenapa? Tiba-tiba bertanya ini-itu. Aku sudah biasa menerima pertanyaan-pertanyaan aneh Minwoo. Apa yang kulakukan ketika aku tidak bisa tidur? Apa aku takut hantu? Bagaimana aku menghadapi guru yang menyebalkan? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Tetapi, ini kali pertama Minwoo menanyakan masalah pribadi padaku.

“Kau lupa, aku dan Mari tidak saling mengenal di sekolah.” Donghyun mendahuluiku menjawab.

Aku melirik Donghyun. Apa baru saja dia menyindirku? Lihat kan, dalam waktu sekejap dia bisa merubah moodku.

“Eiii… jangan membohongi kami lagi Hyung. Di mataku, kalian terlihat seperti dua orang yang sudah saling mengenal seumur hidup.”

“Aku setuju dengan Minwoo. Aku pernah menangkap basah Donghyun hyung menatap Mari Nuna—“

“Kapan aku melakukannya?” potong Donghyun. Dia melempar sebelah sepatunya lagi pada Youngmin. Sayangnya Youngmin berhasil menghindar, sehingga kini sepatunya mendarat di tengah studio.

“Jangan bersikap kekanakkan!” Aku melotot pada Donghyun. Dia balas menatap galak padaku, lalu berkata ‘apa’ tanpa suara.

“Ooooooooh… sikap kalian berdua rasanya….” Minwoo sengaja menggantung kalimatnya.

“Apa lagi sekarang?”

“Oppa, kenapa kau terus mendahuluiku? Setahuku, sejak tadi pertanyaan ditujukan padaku!”

“Kenapa kau ikut menyerangku, Bodoh.” Telapak tangan Donghyun mendarat di kepalaku.

“Ooooooooh,” seru Kwangmin, Minwoo, dan Youngmin bersamaan. Membuatku menelan lagi kalimat yang telah kusiapkan.

Sekarang mereka bertiga menggodaku lebih parah. Tidak bisa berbuat apa-apa, aku dan Donghyun memilih diam.

Bahkan sampai Hyunseong dan Jeongmin kembali ke studio, mereka belum juga berhenti.

“Apa yang kalian ributkan?” tanya Hyunseong.

“Ah, Jeongmin Hyung, cepat duduk,” pinta Minwoo.

“Sepertinya kalian membicarakan sesuatu yang seru.”

“Aku akan mengganti pertanyaanku, Nuna. Antara Jeongmin hyung dan Donghyun hyung, siapa yang lebih kau pilih?”

“Aku juga ingin tahu!” Kwangmin menambahi sambil mengangkat tangan.

“Ada apa denganmu Minwoo? Kau membuat Mari merasa tidak nyaman,” ucap Jeongmin.

“Tentu saja Mari memilihku. Aku lebih tampan dan lebih baik daripada Jeongmin.” Donghyun menyeringai padaku.

“Orang yang mengatakan hal itu pasti sudah tidak waras. Kau itu menyebalkan, Oppa.”

“Oh ya? Lalu kenapa dulu ada—“

Aku menutup mulut Donghyun dengan telapak tanganku agar dia tidak meneruskan ucapannya. Apa-apaan dia? Ingin mengatakan bahwa aku pernah memberinya sebuah surat cinta? Langkahi dulu mayatku!

Sayangnya apa yang kulakukan justru menimbulkan kegaduhan lain. Minwoo bertepuk tangan kegirangan. Youngmin dan Kwangmin mengulum senyum. Bahkan sekarang Hyunseong pun ikut bergabung bersama Minwoo.

Mungkin setelah hari ini aku akan berpikir-pikir lagi untuk melihat mereka berlatih dance.

***

“Soal pertanyaan Minwoo tadi, apa jawabanmu? Aku tertarik ingin mendengarnya.”

Pertanyaan Jeongmin membuatku berhenti bekerja. Aku sedang merapikan lemari pakaiannya. Kupikir sejak tadi dia sibuk mengarang lagu. Saat aku menoleh padanya, ternyata dia hanya duduk memandangiku, sementara kertas-kertas yang berserakan di atas tempat tidur telah berpindah ke atas meja.

Ekspresi Jeongmin terlihat serius. Aku memang tidak menjawabnya tadi. Kenapa juga harus kujawab? Aku akan ingat untuk memukul Minwoo nanti. Semua ini gara-gara dia.

“Walaupun sepertinya aku tahu apa jawabanmu, aku tetap ingin mendengarnya langsung,” ucap Jeongmin lagi ketika melihatku mematung.

“Hei, ada apa? Minwoo kan, hanya bercanda.” Aku mulai gugup.

Jeongmin kelewat serius. Padahal menurutku tidak ada yang perlu dipikirkan dari pertanyaan Minwoo tadi.

“Karena itu jawablah.”

“Tidak, aku tidak mau menjawabnya. Itu konyol, Jeong.” Kualihkan lagi perhatianku pada isi lemari Jeongmin.

“Donghyun hyung, kan?”

“Aku tidak mau membahas masalah ini.”

“Tidak bisakah kau menjawabnya saja?”

Jeongmin menunggu respon dariku.

Dia berharap apa? Aku mengangguk tanpa protes? Aku mengakui bagaimana hubunganku dengan Donghyun sebenarnya? Atau kujelaskan alasanku bekerja sebagai asistennya?

“Bukan itu masalahnya. Aku cuma tidak mau membesar-besarkan pertanyaan Minwoo.”

Jeongmin beranjak dari tempat tidur, kemudian berdiri di depanku. Aku mengedip-ngedipkan mata, lalu memalingkan wajah karena dia berdiri terlalu dekat.

“Kalau kukatakan aku mulai menyukaimu, apa kau percaya?”

Aku membelalakkan mata. Kupikir dia hanya bercanda denganku, tetapi ekspresi seriusnya tidak hilang. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung jika dia terus-menerus mengejutkanku seperti ini.

Butuh waktu lama bagiku memahami ucapan Jeongmin.

Oke, apa dia baru saja mengungkapkan cinta padaku? Atau suka yang dia maksud hanyalah rasa suka seperti aku menyukainya sebagai seorang teman?

“Aku menyukaimu seperti kau menyukai Donghyun hyung. Aneh ya, baru kali ini aku menyukai asisten pribadiku,” kata Jeongmin seolah menjawab pertanyaan di kepalaku.

Dan aku terkejut untuk yang ketiga kalinya.

Seingatku aku tidak pernah menunjukkan tanda-tanda menyukai Donghyun. Aku justru banyak menjauhinya. Tunggu dulu! Apa aku baru saja mengaku bahwa aku menyukai Donghyun? Itu tidak benar!

“Kau salah Jeong. Aku tidak menyukai Donghyun oppa!”

“Ya, kau menyukainya, Mari.”

“Kenapa kau pikir begitu?”

“Baiklah, kalau kau memang tidak menyukainya. Mulai sekarang aku akan mendekatimu secara terang-terangan.” Jeongmin mendekatkan wajahnya padaku. Otomatis aku mundur untuk menjaga jarak dengannya.

“Kau… tidak serius kan?”

Jeongmin diam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.

“Ekspresimu lucu sekali,” ucap Jeongmin sambil mengacak rambutku. “Aku bukan sedang melamarmu, Mari. Jangan terlalu memikirkan kalimat terakhirku tadi. Ayo, sudah waktunya makan malam.”

Bagaimana aku bisa makan setelah mendengar apa yang Jeongmin katakan? Aku tidak pernah berharap semua akan menjadi seperti ini. Aku tahu, seharusnya aku senang karena ada seseorang yang menyukaiku. Tetapi sekarang aku justru merasa… entahlah perasaan apa ini. Bingung, terkejut, tidak suka, takut, semua bercampur menjadi satu.

Kami semua menikmati makan malam yang dimasak Hyunseong. Saat tak sengaja menoleh ke kiri, mataku bertemu dengan mata Donghyun. Dan aku tidak buru-buru  berpaling seperti yang biasa kulakukan.

***

Aku izin tidak bekerja hari ini. Kukatakan pada Jeongmin bahwa ada urusan penting yang harus segera kuselesaikan. Tanpa bertanya macam-macam, Jeongmin memberi izin padaku.

Ya, aku berbohong.

Tidak ada urusan mendesak yang menungguku. Aku mengunci diri di kamar sejak tadi pagi. Berbaring tanpa mengerjakan sesuatu. Hanya sibuk dengan pikiranku sendiri. Kecuali untuk makan dan pergi ke kamar mandi, aku tidak meninggalkan kamar.

Kuambil buku tahunan sekolah yang kuminta paksa dari salah satu senior, yang dekat denganku. Tentu saja karena ada foto Donghyun di dalamnya. Aku tidak tahu mengapa aku memintanya. Padahal sudah jelas aku tidak ingin melihatnya lagi.

“Hei, bodoh, ini semua gara-gara kau! Sekarang apa yang harus kulakukan? Atau kuterima saja Jeongmin? Itu hal yang bagus kan? Aaaaarrgghh… kenapa kau membuatku begini?” Aku mengajak bicara foto Donghyun, seolah-olah foto itu bisa menjawabku.

“Katakan, sebenarnya kau menganggapku apa? Melihatku muncul lagi di hadapanmu, kau tidak ingin tahu alasannya? Harusnya kau tetap menjaga jarak denganku. Dengan begitu aku akan yakin bahwa aku memang membencimu. Aku akan cepat keluar dari pekerjaan ini, dan aku tidak perlu merasa bersalah pada Jeongmin. Tapi lihat yang sudah kau lakukan?!”

Kuraih pulpen di atas meja untuk mencoret-coret foto Donghyun. Tetapi tanganku berhenti di udara.  Ada perasaan bersalah yang melintas. Rasanya seperti Donghyun akan benar-benar terluka jika aku melakukannya.

“Aaaaaaarrrggghh!! Ini sangat mengganggu!!!” Aku membanting tubuh ke tempat tidur sambil menendang-nendang dinding.

“Mari! Kau sudah gila? Kau ingin menghancurkan rumah?” Terdengar kakakku mengetuk pintu dengan keras. “Cepat keluar, sebelum aku memanggil polisi!”

Semalam kakak perempuanku datang. Katanya, ibu menyuruhnya mengunjungiku.

Aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya. Dia yang sudah menjadi tempatku bercerita sejak dulu, mendukungku untuk menerima Jeongmin setelah mendengar ceritaku. Dia juga memintaku kembali ke pekerjaan lamaku, agar pikiranku bersih dari Donghyun.

“Apa? Sudah kubilang jangan menggangguku,” kataku dari depan pintu kamar sementara Sica eonni sedang sibuk mengatur isi kulkasku.

“Apa saja yang kau lakukan di rumah? Kau yakin ini kulkas, bukannya tempat sampah?” Sica mengangkat plastik—yang tidak kuingat apa isinya—sambil menutup hidungnya.

“Aku lebih sibuk dari yang kau bayangkan, Eonni.”

Sama sekali tidak berniat membantunya, aku berjalan menuju sofa untuk menonton televisi.

“Aku tidak memintamu keluar untuk menonton drama!” Sica melemparku dengan bantal.

“Ya! Pulanglah Eonni, aku baik-baik saja di sini!”

“Kau sendiri yang memulai semuanya. Karena itu rundingkan dulu denganku sebelum kau menerima pekerjaan itu! Sudahlah, telepon Jeongmin dan katakan kau akan keluar!”

“Aku baru sebulan bekerja Eonni.”

“Kalau begitu jangan bersikap seperti ini! Terimalah kenyataan bahwa Donghyun tidak menyukaimu dan terimalah Jeongmin. Masalah selesai!”

“Ya!!” Aku dan Sica saling menatap galak. “Aku tidak mau berdebat denganmu.”

“Kau menyedihkan. Cepat belikan ddukbokkie untukku!”

Aku sudah akan membuka mulut untuk menolak.

“Atau kuberitahu ibu apa yang kau lakukan sekarang,” ancam Sica. Membuatku diam dan terpaksa menuruti perintahnya.

Ibu belum tahu aku meninggalkan pekerjaanku di salah satu restoran milik teman untuk menjadi seorang asisten pribadi. Awalnya aku juga tidak ingin memberitahu Sica. Dia tidak sengaja mengetahuinya. Saat meneleponku di restoran, temanku mengatakan padanya bahwa aku telah keluar. Dia langsung menuntut penjelasan dariku. Terpaksa kujelaskan padanya apa yang kukerjakan, lengkap dengan alasannya.

Setiap kali ingin makan ddukbokkie, maka kedai yang kupilih selalu kedai ddukbokkie di dekat sekolah dulu. Tidak ada alasan khusus selain karena rasanya enak. Sungguh.

Seperti biasa, kedai ini tidak pernah sepi. Aku pun harus sabar mengantre.

Karena tidak ada yang kukerjakan, pikiranku melayang ke mana-mana. Memori otakku memutar kenangan-kenangan yang pernah terjadi di kedai ini.

“Pastikan kau membawa dompetmu sebelum memesan.”

Suara seorang pria dari sisi kananku mengembalikan kesadaranku.

“Kau!” Semua orang di kedai menoleh mendengarku berteriak.

“Sssst… kau tidak perlu sesenang itu karena melihatku di sini.”

Meski memakai kaca mata, topi, dan kerah jaket yang menutupi separuh wajahnya, aku tahu pria di sebelahku ini Donghyun. Kebetulan apa lagi sekarang? Dari sekian banyak orang di Korea, mengapa harus Donghyun yang tiba-tiba kutemui?

“Membeli ddukbokkie karena kebetulan aku menyukai ddukbokkie di kedai ini. Kau ingin bertanya kenapa aku berada di sini kan?”

“Ya, apa pun yang kau pikirkan.”

Karena kedai ini kecil dan banyak orang di dalamnya, aku tidak ingin mulai berdebat dengan Donghyun. Sampai kami mendapat giliran memesan, kami sama sekali tidak saling bicara.

“Sampai jumpa besok pagi,” pamitku setelah keluar dari kedai.

“Begini sikapmu pada orang yang lebih tua? Setidaknya kau harus menawarkan teh padaku. Ayo!” Donghyun berjalan menuju arah rumahku dan bukannya menuju mobilnya.

“Oppa, mobilmu ada di sana!” Aku mengingatkan Donghyun.

Donghyun mengabaikanku dan terus berjalan. Aku pun berhenti di depannya sambil merentangkan tangan. Kucoba mengarang berbagai alasan, mencoba membatalkan niatnya berkunjung ke rumahku. Tidak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi jika Sica melihat Donghyun datang bersamaku.

“Kau tidak menyembunyikan penjahat di rumahmu kan?”

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu berhentilah bicara.” Donghyun menurunkan kedua tanganku yang masih terlentang, kemudian menggandengku agar mengikutinya.

Tamat riwayatku. Bagiku, Sica lebih dari seorang penjahat.

***

 Makan malam sudah tertata rapi di atas meja ketika aku sampai di rumah. Sepanjang jalan, aku menebak-nebak apa yang akan dikatakan Sica. Aku takut dia mengajak ribut Donghyun. Atau lebih parahnya, dia menggunakan sapu untuk mengusir Donghyun pergi. Sica pernah melakukannya dulu pada teman lelaki yang terus mengganggunya. Tidak salah jika sekarang aku merasa khawatir.

Dan yang terjadi tidak seburuk apa yang kubayangkan.

Sica memang sempat terkejut melihat Donghyun berdiri di depannya. Tetapi selama makan malam, Sica dan Donghyun mengobrol seolah-olah mereka adalah teman lama.

Kakakku tidak waras.

Setiap kali aku bercerita mengenai Donghyun padanya, dia akan ikut kesal dan berkata akan memarahi Donghyun habis-habisan seandainya mereka bertemu. Lihatlah sekarang. Sica memperlakukan Donghyun lebih baik dari dia memperlakukanku. Dia mungkin bahkan tidak ingat siapa yang menjadi adiknya.

Usai makan malam, kupikir Donghyun akan langsung meninggalkan rumahku. Nyatanya, sekarang dia sedang duduk di bangku panjang, yang sengaja kuletakkan di tengah taman kecil yang kubuat. Sementara aku membantu Sica mencuci piring.

“Kalian pacaran?”

“Itu tidak mungkin terjadi, Eonni.”

“Belum terjadi. Kalau tidak, kenapa tadi kalian bergandengan tangan?”

“Memang kenapa? Kami—“

Jika kukatakan itu bukan pertama kalinya, eonni pasti menginterogasiku nanti.

“Tidak seperti yang kau pikirkan. Donghyun oppa melakukannya untuk menyeretku ke rumah.”

“Hei, buatlah alasan yang lebih bisa kupercaya.”

“Aku tidak mengarang, Eonni!”

“Keluar sajalah. Aku memotong buah untuk kalian. Jangan khawatir, aku tidak berniat mengganggu atau sekadar mengintip.”

“Tapi aku tidak—“

“Keluarlah!” Sica mendorongku ke meja makan.

Aku tidak akan bisa menang darinya. Kubawa buah yang dipotong Sica dan dua kaleng cola keluar.

Donghyun nampak memejamkan mata. Aku pun berdiri di depannya untuk memastikan apakah dia tertidur. Kucondongkan tubuhku agar bisa melihatnya lebih jelas.

“Aku tidak keberatan kalau kau ingin menciumku diam-diam.”

Mendengar suara Donghyun, aku yakin dia tidak tertidur. Cepat-cepat kutegakkan lagi tubuhku. Donghyun tersenyum, lalu memintaku duduk di sebelahnya.

“Urusan pentingmu sudah selesai?”

“Apa?” Aku pun teringat alasan yang kubuat untuk bisa bolos bekerja hari ini. “Ah, ya.”

“Mari!”

Karena mendengar namaku disebut, aku pun menoleh padanya.

Wajah kami hanya berjarak dua puluh sentimeter. Aku langsung tidak bisa bernapas dengan baik karena Donghyun sedang memandangiku sekarang. Astaga, kuharap dia tidak mendengar suara detak jantungku.

“Jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu pusing,” kata Donghyun sambil mengetuk-ngetuk dahiku dengan jari telunjuknya.

“Ish… singkirkan jarimu!”

Saat hanya ada kami berdua, aku merasa tidak ada yang salah. Kami hanyalah dua orang yang baru saja bertemu dan baru saja mulai berteman. Dan aku adalah gadis yang perlahan mulai merasa menyukainya.

Aku tersentak.

Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. Bahwa yang ingin kupastikan, ternyata bukan perasaanku pada Donghyun. Melainkan perasaan Donghyun padaku.

“Apa kau tidak ingin tahu mengapa aku muncul lagi di hadapanmu?” tanyaku, memecah keheningan diantara kami.

“Tidak juga.”

“Setelah kupikir lagi, sepertinya aku melakukan kesalahan.”

“Apa maksudmu?”

“Harusnya, kita tidak perlu bertemu lagi. Aku tetap melanjutkan kehidupanku seperti lima tahun ini, dan kau tetap dengan kehidupanmu.”

“Mari…”

“Apa… sebaiknya aku keluar dari pekerjaan ini? Agar kita bisa kembali ke kehidupan kita masing-masing?”

Hening.

Kami hanya saling memandang. Saling menyembunyikan apa yang sebenarnya ingin dikatakan.

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Menahan diri untuk tidak menangis di depan Donghyun. Perlahan, aku menyunggingkan senyum.

Aku menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu, Donghyun oppa.

This entry was posted by boyfriendindo.

6 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Hate You Love You – Chapter 05

  1. samasama thor😀
    versi komik nya di publish juga ga thor ? pengen liat hehe..
    yaudah thor lanjut teruus yah ..
    iya thor nanti aku baca ff yg lainnya
    thor nanti bikin lagi yah ff yg cast utamanya donghyun hehe :DD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: