[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 02

Title 
: Chance – Chapter 02
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : PG – 13
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Sena

Main Casts
: ~ Ji Hoon (Kakak Sena)

  ~ Rin (Lawan Main YoungKwang di Drama)

CHAPTER 2

~FLASHBACK~

*Sena POV*

“Tapi aku harus segera membacanya!” Aku sedang berdebat dengan pemilik persewaan komik.

“Bagaimana aku bisa memberikan komik yang sedang dipinjam oleh orang lain? Aaah… kau selalu seperti ini setiap minggu.”

“Karena itu beri aku nomor telepon orang itu, dan akan kuminta sendiri!”

“Aku tidak bisa melakukannya, Sena! Datanglah lagi besok.” Si pemilik persewaan komik hampir frustasi.

“Tapi aku ingin membacanya sekarang!” kataku tidak mau mengalah.

“Kau ini— Nah! Itu dia datang. Penyewa komik yang ingin kau temui.” Si pemilik persewaan menunjuk seorang lelaki yang baru saja masuk.

Aku menoleh ke arah pintu. Lelaki itu mengerutkan alis karena tiba-tiba ditunjuk oleh pemilik persewaan. Tanpa menunggu dia sampai ke meja pengembalian komik, aku lebih dulu menghampirinya.

“Cepatlah!” Aku menarik tangannya agar dia berjalan lebih cepat. “Kenapa lama sekali kau mengembalikannya? Kau tidak tahu ada orang lain yang menunggu? Saat sudah selesai membaca, seharusnya kau langsung mengembalikannya!” Aku memarahinya.

Lelaki itu memandangku aneh. Dia pasti berpikir aku gadis gila.

“Hei, Sena, jangan bersikap begitu pada pelangganku.”

“Kenapa? Aku hanya mengatakan yang ingin kukatakan.”

“Justru itulah masalahnya.” Pemilik persewaan memelototiku. “Maaf atas sikapnya.”

“Tidak masalah.” Lelaki itu tersenyum.

“Youngmin Hyung, kau meninggalkan komik ini di mobil.”

Seorang lelaki datang lagi. Lelaki yang berwajah sangat mirip dengan lelaki di hadapanku sekarang. Aku pun memandang mereka berdua bergantian.

“Ah, ternyata kalian berbeda,” kataku saat mereka berdua berdiri berdampingan.

“Siapa dia?” tanya lelaki yang baru saja datang.

“Apa maksudmu dengan kami berdua berbeda?”

“Ya… aku tahu kalian kembar. Tapi aku tahu kalian berbeda. Entahlah. Tidak tahu bagaimana menjelaskannya.” Aku mengalihkan perhatianku pada pemilik persewaan lagi. “Jadi, komik ini sudah bisa kupinjam, kan?”

“Iya. Jadi jangan membuat keributan lagi.”

Aku tersenyum lebar karena berhasil membawa komik yang ingin segera kubaca. Setelah menyelesaikan urusan dengan pemilik persewaan, aku pun berjalan keluar tanpa bicara lagi pada kedua lelaki itu.

***

*Kwangmin POV*

Akhir minggu, aku menghabiskan waktuku membaca komik di sebuah tempat persewaan. Dua minggu yang lalu, aku mengetahui tempat itu dari salah seorang teman. Aku yang memang suka membaca komik langsung jatuh cinta pada tempat itu.

Aku memilih sofa di dekat jendela. Kira-kira, ada lebih dari sepuluh komik yang kuambil dari rak. Tidak beberapa lama kemudian, ada seseorang yang menghampiri tempatku duduk. Aku beralih dari komik di tanganku untuk melihat siapa orang itu.

“Kau tidak bersama kakakmu?”

Aku terkejut melihat perempuan di depanku. Dia perempuan yang mengotot memintaku dan Youngmin segera mengembalikan komik. Padahal kami tidak saling bicara saat itu, tetapi dia menyapaku seolah-olah kami sudah saling mengenal sejak lama.

“Bagaimana kau tahu? Kau baru sekali bertemu denganku, dan kita belum pernah mengobrol,” komentarku heran.

“Apa? Kalian berdua? Aku tahu saja. Namaku Sena.” Dia mengulurkan tangan dan aku pun menjabat tangannya.

“Kwangmin.”

“Dan nama kakakmu?”

“Youngmin.”

Hanya sebatas itu obrolan pertama kami. Baik aku maupun Sena selanjutnya tenggelam dalam komik di tangan kami masing-masing.

Jam di tangan kiriku menunjukkan pukul lima sore. Itu berarti sudah tiga jam lebih kami membaca komik.

“Kau belum selesai membaca?” Sena mengajakku bicara lagi.

Aku menurunkan komik yang menutupi wajahku. “Beberapa halaman lagi. Ada apa?”

“Baiklah, kutunggu. Ayo kita makan bersama. Kau tidak sibuk kan?”

“Kau mengajakku makan?” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Ya. Tenang saja, aku bukan sedang memintamu mentraktirku.”

“Aku tidak berpikir begitu,” aku tersenyum, “tunggu lima menit lagi.”

Sena perempuan yang aneh. Begitulah kesan pertamaku padanya.

Sejak dia duduk di depanku, diam-diam aku terus mencuri pandang padanya. Dia sama sekali tidak tahu, karena terlalu fokus membaca komik.

Rambutnya ikal sepanjang bahu, poninya dijepit ke atas, matanya tidak selebar mataku, dan aku suka caranya tersenyum.

Semua yang dilakukannya sebenarnya menarik perhatianku. Aku tidak tahan untuk tidak memperhatikannya. Sena beberapa kali menyuarakan percakapan komik yang dibacanya. Dari yang kulihat, dia hanya menyuarakan dialog yang dia suka. Jika itu salah satu dialog romantis, dia akan tersenyum sendiri. Jika sebaliknya, dia akan menghela napas.

Saat dia berhenti membaca, kupikir dia akan mengajakku bicara. Tapi yang dia lakukan adalah memandang keluar jendela sambil bergumam pelan. Lalu kembali meneruskan bacaannya.

Sekarang kami sedang duduk bersebelahan di salah satu tempat makan yang khusus menjual menu western. Dan Sena sudah menceritakan banyak hal lagi padaku selama kami menunggu makanan yang kami pesan datang.

“Apa kau selalu bersikap seakrab ini pada setiap orang yang baru kau kenal?”

Sena menggeleng. Dia meminum air sodanya sebelum menjawab pertanyaanku.

“Apa kau pikir aku orang gila?”

“Tapi kau bersikap begitu padaku, Sena.”

“Ah ya, benar juga. Kwangmin, bisakah kau berhenti bertanya? Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu kalau perutku kosong,” protes Sena.

Kau tahu rasanya, ketika melihat seorang balita yang sangat menggemaskan, kau pasti ingin menciumnya atau sekadar mencubit pipinya. Itulah yang kurasakan sekarang. Perempuan bermata besar di depanku ini terlihat menggemaskan meski mulutnya penuh makanan.

Aku mengulurkan tangan. Bukan untuk mencubit pipinya—meski aku sangat ingin melakukannya. Melainkan untuk membantu mengembalikan rambutnya yang terlepas dari ikatan ke belakang telinga. Sejak tadi Sena merasa terganggu, tetapi dia tidak mau melepaskan burger di tangannya.

“Terima kasih,” ucap Sena.

Aku tahu, sejak hari ini, Sena akan menjadi bagian penting dari hidupku.

~END OF FLASHBACK~

***

Aku tidak dapat memejamkan mata sejak berbaring di atas tempat tidur empat jam yang lalu. Setiap kali mencoba tidur, wajah Sena yang kutemui tadi siang langsung muncul. Dia tidak mau pergi dari pikiranku.

Hampir pukul dua dini hari.

Kusingkirkan selimut yang menutupi tubuhku, kemudian aku meninggalkan kamar. Aku menyalakan televisi, lalu memilih koleksi dvd film yang kumiliki. Salah satu kebiasaan yang kulakukan jika aku tidak bisa tidur adalah menonton film.

“Dasar bodoh. Ini semua film yang sering ditonton Sena.”

Ternyata masih ada hal yang belum kusingkirkan.

Banyak barang-barang Sena di apartemen kami. Buku, dvd, sandal, kaus, bahkan sikat gigi. Ketika dia membutuhkan sesuatu dan tidak menemukannya di apartemen kami, maka dia akan membelinya. Kemudian sengaja meninggalkannya agar dapat dia gunakan lagi sewaktu-waktu. Lama-kelamaan, setiap kali membeli sesuatu, aku terbiasa membelinya tiga buah.

Sejujurnya, aku tidak benar-benar menyingkirkan barang-barang Sena. Aku mengepaknya ke dalam kardus, dan kusimpan di gudang, di rumah orangtuaku. Aku takut suatu saat Sena akan menanyakan di mana barang-barang itu.

Aku tahu itu kekhawatiran yang bodoh. Karena, saat ingatannya kembali nanti, dia pasti membenciku. Jadi dia tidak mungkin mau menemuiku apalagi mengingat untuk meminta kembali barang-barangnya.

Meski gagal menonton film, aku tidak kembali ke kamar. Kubaringkan tubuh di atas sofa, lalu mencoba tidur sekali lagi.

Esoknya, suara Youngmin membangunkanku.

“Jam berapa sekarang?”

“Delapan. Kenapa kau tidur di sofa?”

“Ah, aku menonton film semalam dan tertidur di sini,” jawabku asal.

Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, maka aku segera pergi ke kamar mandi. Jadwal kami berdua pagi ini, pemotretan dan interview sebuah majalah. Sedangkan syuting baru dimulai pukul satu siang.

Kuharap Sena tidak muncul lagi hari ini.

Aku dan Youngmin berangkat setelah aku selesai bersiap-siap. Sarapan yang disiapkan Youngmin kumakan di dalam mobil. Tiga potong sandwich. Seperti biasanya jika kami sudah terburu-buru.

Konsep pemotretan kami kali ini adalah musim dingin. Ada total lima coat yang harus kami kenakan nanti. Selain itu ada satu set yang sengaja dihias dengan pohon-pohon natal kecil yang berwarna putih. Rasanya seperti benar-benar berada di tengah-tengah hutan yang penuh dengan salju.

Melihat Youngmin menjalani pekerjaannya dengan baik, aku merasa lega. Sejak kecil, Youngmin yang selalu menjagaku. Di kehidupan kedua Youngmin ini, mungkin aku sedang mendapat giliran untuk bisa menjaganya.

Usai pemotretan, kami melakukan interview. Ini interview pertama yang kuterima. Aku takut akan muncul pertanyaan yang mengganggu Youngmin, karena harus mengingat masa lalu. Hari ini tentu saja aku sudah berpesan, agar mereka tidak memberikan pertanyaan yang aneh-aneh padanya.

“Apa kalian memiliki kebiasaan khusus yang kalian lakukan ketika salju pertama turun?” Ini pertanyaan terakhir.

Di sebelahku, Youngmin ikut menunggu jawaban apa yang akan kuberikan.

Apa sehari saja aku tidak boleh tidak mengingat Sena?

Aku dan Youngmin tidak memiliki kebiasaan apa-apa. Tetapi sejak Sena hadir diantara kami, dia selalu mengajak kami berdua duduk di dekat jendela. Memandang keluar selama berjam-jam sambil menikmati segelas coklat panas, dan membicarakan harapan-harapan kami di tahun itu.

Daripada memberikan jawaban itu, jauh lebih baik jika aku mengatakan apa yang sering kami lakukan sebelum Sena datang di kehidupan kami.

“Kami tidak melakukan apa-apa. Aku dan Youngmin hyung akan mengambil selimut agar kami tidak kedinginan.” Aku tertawa.

Youngmin ikut tertawa. Tetapi matanya seolah berkata ‘benarkah’ padaku.

***

Youngmin memaksaku menghabiskan makan siang sebelum syuting dimulai. Tetapi hanya separuh yang berhasil masuk ke perutku. Aku sungguh tidak bernapsu.

“Apa aku mengganggu?” tanya Rin, pemeran utama wanita yang menjadi lawan main kami.

“Tentu saja tidak,” jawab Youngmin, kemudian mempersilakan Rin duduk.

“Aku ingin mengajak kalian mengobrol kemarin, tapi kalian langsung menghilang usai syuting.”

“Oh, maaf, aku merasa lelah sekali kemarin,” kataku.

“Kalian mungkin tidak tahu, tapi aku sungguh senang bisa bermain drama bersama kalian. Aku sama sekali tidak menyangka, kesempatan ini akhirnya datang padaku.”

“Aaaaah… atau lebih tepatnya kau senang karena menjadi lawan main Kwangmin.” Youngmin menyeringai. “Kudengar Kwangmin adalah tipe idealmu?”

“Ah, itu. Ya, aku pernah mengatakannya dalam sebuah interview. Maaf tidak memilihmu Oppa,” canda Rin.

Aku tidak menyimak obrolan mereka berdua. Pikiranku tidak berada di tempatnya. Sibuk memikirkan, kapan Sena akan muncul lagi. Aku mencari-cari keberadaannya, tapi tidak kutemukan di mana pun. Apa yang kulihat kemarin hanya mimpi?

“Bagaimana Kwang?” tanya Youngmin tiba-tiba.

“Apa?” Aku tersadar dari lamunanku.

“Kau melamun? Ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Tidak. Ada apa?”

“Rin mengajak kita makan malam nanti.”

Sebenarnya aku ingin menolak, tetapi Rin terlihat berharap aku menerima ajakannya. Aku pun setuju untuk ikut.

Pukul sepuluh malam, kami meninggalkan lokasi syuting. Rin ikut di dalam mobil kami.

Sesuai keinginanku, kami makan di sebuah rumah makan yang menjual aneka ramen. Bukan rumah makan yang besar, tetapi terkenal karena rasanya yang memang enak. Rin mulanya menawarkan untuk pergi ke restoran cina milik temannya. Karena aku menolak, mau tidak mau dia mengikuti pilihanku.

Tidak ada yang istimewa dari interior rumah makan ini. Mirip kedai ramen pada umumnya. Di dalamnya juga tidak tersedia banyak meja. Sepertinya tidak lebih dari lima belas buah. Kami beruntung karena masih ada beberapa kursi yang kosong.

Mungkin sudah menjadi kebiasaan, aku memilih meja di dekat jendela.

“Oh, sepertinya aku hanya menjadi pengganggu diantara kalian,” kata Youngmin memecah keheningan diantara kami bertiga.

“Hyung.” Aku memperingatkannya.

“Ah, tidak, aku memang ingin berteman dengan kalian berdua.” Rin mengoreksi.

Rin wanita yang cantik. Hampir semua lelaki di dalam rumah makan ini mencuri-curi pandang ke arahnya. Meski dia hanya mengenakan celana jins dan kaus lengan panjang, serta rambutnya yang digulung asal. Rin tetap terlihat menarik.

Sementara semua orang berusaha mencuri pandang padanya, aku yang duduk di depannya malah enggan memperhatikannya. Setelah ramen yang kami pesan diantar, aku menyibukkan diri menikmatinya. Aku akan menjawab jika ditanya, tetapi tidak berniat balas bertanya pada Rin.

“Apa aku sudah membuatmu tidak nyaman?” tanya Rin.

“Sama sekali tidak.” Aku tersenyum kaku. “Aku hanya benar-benar kelaparan.”

“Dia tidak mau makan tadi siang,” tambah Youngmin.

Dulu, aku yang lebih banyak bicara, sedangkan Youngmin dikenal tidak mudah akrab dengan orang yang baru saja dia kenal. Entah bagaimana kami seolah sedang bertukar karakter.

Akhirnya, sebisa mungkin aku mencoba menunjukkan ketertarikanku dan bergabung dalam obrolan. Bertanya pada Rin tentang karirnya, saling melempar gurauan, dan saling melempar pertanyaan mengenai diri kami masing-masing.

“Apakah kalian pernah menyukai gadis yang sama?”

“Aku ini masih suci, Rin,” jawabku, mencoba bercanda.

Masalah itu adalah hal paling pribadi yang tidak ingin kubahas.

“Oh, bukankah itu Sena?” Youngmin menunjuk ke arah pintu masuk.

Aku pun menoleh ke belakang.

Youngmin benar. Gadis yang baru saja membuka pintu dan berjalan keluar memang Sena. Anehnya, dia tidak segera pergi, tetapi dia justru berhenti di depan pintu. Kedua tangannya memegangi kepala.

“Penulis skenario drama kita?”

“Ya. Ada apa dengannya? Dia terlihat tidak baik,” komentar Youngmin khawatir.

Seorang pria keluar dengan tergesa-gesa, hingga tanpa sengaja menabrak Sena yang belum beranjak dari tempatnya. Sena pun jatuh terduduk. Bukannya menolong, pria itu malah memarahi Sena. Tetapi Sena bahkan tidak mengangkat kepalanya.

Tanpa berpikir dua kali, aku berlari keluar menghampirinya.

“Kau tidak apa-apa? Kau terluka? Kalau kau tidak sehat, kenapa keluar sendirian?” Aku mengatakannya dengan nada marah.

Aku membantu Sena berdiri lagi. Youngmin dan Rin pun ikut keluar. Kami bertiga kebingungan, karena Sena belum juga bersuara.

“Kau merasa tidak sehat? Jawab aku, Sena!”

Tiba-tiba, Sena memelukku.

Aku bisa merasakan tangannya gemetaran.

“Jangan lakukan itu. Kumohon jangan lakukan itu,” gumam Sena tidak jelas.

Apa yang terjadi? Apa Sena mengingatku?

Sena memelukku erat sekali. Seolah aku akan menghilang jika dia melepaskan tangannya yang melingkari tubuhku.

“Sena…”

Aku mengangkat tanganku perlahan, untuk membalas pelukannya. Detik ini aku tidak ingin peduli apa yang akan Youngmin pikirkan nantinya. Namun, belum sempat kulakukan, Sena mendadak tidak sadarkan diri.

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: