[FANFICT] Terjebak dalam Kata ! – Chapter 01

TDK

Title 
: Terjebak dalam Kata ! – Chapter 01
Author : Diah~
Genre : Friendship dan Romance
Rating : G
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Shim Hyunseong

  ~ Whee In (Mamamoo)

Main Casts
: ~ Gong Miok

  ~ Yoon Saenghyon

  ~ Lee Jeongmin

  ~ Im Nera

-Chapter 01-

“Minggu depan dia akan pindah ke Seoul.”

Aku tidak tahu siapa yang pertama kali menyebarkan berita ini hingga terdengar di telinga ku dan membuat fokus ku menjadi buyar. Ku angkat kepala melihat siswa perempuan bercerita dengan suara kecil nya di depan ku. Dengan jelas aku tahu siapa yang mereka maksud. Sekarang ku alihkan pandangan ke sebelah kanan. Dia  yang mereka bicarakan ada disana sedang berkutat dengan buku tulis serta alat tulisnya.

“Kau lihat. Mereka mulai membicarakan itu.” Kali ini Saenghyon yang bersuara. Saenghyon duduk dengan dia, Shim Hyunseong. Meja ku hanya berjarak lebih kurang 90cm dari meja mereka. Seonsaengnim sedang duduk di depan kelas membaca sesuatu dan menunggu siswa nya mengerjakan soal yang dia berikan. Hyunseong tidak memperdulikan perkataan Saenghyon. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga ini begitu tiba-tiba.

“Geser sedikit tanganmu.” Nera membuyarkan lamunan dan pikiranku mengenai berita kepindahan Hyunseong ke Seoul.

“Oh.” aku menjawab seadanya dan memberikan sepenuhnya bukuku kepada Nera.

“Jangan balik halamannya.” Aku melihat ke asal suara. Hyunseong ternyata juga ikut membaca majalah yang sedang ku baca di jam istirahat ini. Sejak kapan dia ada di samping ku. “Jangan menatap ku seperti itu. Apa ada yang salah jika anak lelaki juga membaca cerita pendek ?”

Menatap ? Memangnya bagaimana aku menatapnya ? Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku ke majalah yang ku pegang. Dia masih membaca halaman yang belum dia selesaikan. Hitungan hari kedua sejak berita itu tersebar. Seoul memang tidak jauh dari sini tapi bukan itu permasalahannya, yang menghantui pikiran ku sejak kemarin adalah aku dan dia akan tidak satu sekolah lagi, akan tidak satu kelas lagi. Yang ku tahu di Seoul ada kedua Noona nya yang sedang berkuliah. Berarti dia akan tinggal bersama Noona nya disana.

“Sudah.” Dia berbicara lagi.

“Eh?”

“Aku sudah selesai membaca cerita itu. Sekarang kau bisa membaliknya.” Jawabnya dari pertanyaan heran singkat ku.

“Hyunseong.” Saenghyon datang bersama Jeongmin. Sepertinya dia dari cafetaria sekolah karena saat ini dia memegang minuman kaleng. “In. Ngapain kamu duduk disitu?” Saenghyon menunjukku.

Aku baru teringat kalau aku sedang duduk di kursi Hyunseong di samping jendela. Pantas tadi dia ada di sampingku. “Angin. Aku ingin merasakan angin sejuk.” Tentu saja aku berbohong. Aku ingin merasakan bagaimana kursi Hyunseong. Semua kursi memang sama. Tapi kursi Hyunseong berbeda menurutku.

Hyunseong, Jeongmin dan Saenghyon. Mereka memang sering berkumpul bersama di kelas dan bercerita. Karena aku paling tidak suka ke cafetaria sekolah, jadi aku selalu di kelas membaca majalah yang Nera bawa. Jeongmin akan mengajakku mengobrol dengan mereka sesekali kalau saat itu Nera tidak membawa majalahnya dan aku tidak tahu harus melakukan apa saat istirahat. Aku bukan sedang dikucilkan oleh siswa perempuan. Aku juga berteman dengan yang lain. Tapi jika jam istirahat, maka yang lain akan memilih keluar dari kelas. Saat ini, Hyunseong, Jeongmin dan Saenghyon mengobrol berbagai hal. Yang ku tahu, mereka paling sering membahas otomotif dan basket. Hyunseong suka sekali dengan jenis olahraga itu. Dia berharap kalau sekolah kami membuka klub basket segera.

“In. Pinjamkan aku catatan aljabarmu.” Jeongmin berkata kepada ku yang masih berada di kursi Hyunseong dan masih membaca majalah. Sebenarnya aku tidak membaca lagi majalah ini tapi aku hanya membolak-baliknya tidak jelas. Aku menjadi tidak fokus semenjak tahu Hyunseong tadi duduk sangat dekat di samping ku.

“Biar ku ambilkan.” Aku bangun.

“Kasih tahu saja ada dimana buku mu. Kau jangan pergi.” Ucapan Hyunseong terdengar aneh di telinga ku. Aku tidak berani menatapnya.

“Di…laci.” apa bicara ku terdengar terbata-bata ? Entahlah. Yang jelas aku sulit mengeluarkan suaraku sendiri sekarang.

“Buka lagi halaman yang tadi. Apa sebenarnya yang sedang kau baca.” Ternyata Hyunseong menyuruh ku jangan pergi karena majalah ini.

“Buka saja sendiri.” Kata ku sambil memberikan majalah Nera kepada nya. Dia kesulitan mencari-cari dan sesekali mengeluh. “Apa kau benar akan pindah?” Pertanyaan ku tidak membuat dia berhenti dari kegiatannya.

“Apa kau takut?” Dia bertanya balik.

“Tunggu saja harinya.” Sahut Saenghyon. Kenapa mereka begitu mengesalkan. Mendengar jawaban Saenghyon, aku menjadi yakin kalau mereka sedang merencanakan sesuatu.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Beberapa hari lalu Miok, dengan candanya berkata kalau ada banyak siswa perempuan yang menyukai Hyunseong di kelas ini. Saenghyon menganggap itu serius menurutku, sehingga setelah itu dia berbisik kepada Jeongmin dan Hyunseong. Kali ini benar-benar berbisik karena aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan dari mejaku.
Pembicaraan rahasia beberapa hari silam itu pasti ada hubungannya dengan kabar kepindahan Hyunseong yang tiba-tiba ini. Istirahat berakhir dengan dibunyikannya bel. Seonsaengnim Bahasa masuk dengan tidak membawa apa pun. Sama sekali. Tangannya kosong.

“Kita tidak belajar ?” Miok yang duduk di meja urutan kedua dari depan bertanya kepada Seonsaengnim setelah kami selesai memberi salam.

“Siapa bilang ? Berdiskusi juga termasuk belajar kan ?” Seonsaengnim memberikan smirk nya yang mengerikan. Suasana kelas menjadi riuh karena penasaran dengan raut wajah Seonsaengnim aneh ini.

“Apa yang kalian ketahui mengenai norma menjadi seorang siswa ?” Pertanyaan pertama Seonsaengnim membuat keriuhan berakhir. Norma Siswa ? Aturan menjadi Siswa ? Otakku tidak pernah sampai dengan pertanyaan aneh darinya. Kalau yang dia maksud adalah aturan, berarti jawabannya adalah belajar. Seorang siswa memang harus belajar kan.

“Mengikuti perkataan semua Seonsaengnim.” Jeongmin menjawab dengan polosnya. Seonsaengnim meminta penjelasan dari jawaban Jeongmin. “Ketika belajar maka belajar ketika istirahat maka isitirahat.” Gelak tawa memenuhi kelas. Jeongmin ikut tertawa setelah teman lainnya tertawa.

“Maka kalau saya katakan kamu harus keluar sekarang, kamu akan keluar ?” Seonsaengnim bertanya kepada Jeongmin. Lagi-lagi pertanyaan Seonsaengnim memberhentikan riuh di kelas. Jeongmin terlihat terkejut. Begitu juga yang lain. Jeongmin hanya mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan tadi.

“Kamu tidak perlu terkejut begitu. Saya hanya bercanda.” Dari posisinya yang duduk tegak karena terkejut, Jeongmin menjadi lega dan duduk santai mendengar perkataan itu.

“Siswa mempunyai aturan untuk mengejar apa mimpinya. Dengan cara …. belajar!”

Sepertinya kelas ini bukan berdiskusi tapi ceramah panjang. Kalau sudah seperti ini aku lebih baik memilih untuk menatap ke luar. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang sedang Seonsaengnim bicarakan setelah ku letakkan headset di telinga dan kututup dengan rambut panjangku. Aku selalu beruntung duduk paling belakang karena kalau sedang merasa bosan, maka bisa kapan saja aku mencari dunia lain seperti membaca komik, majalah dan mendengar musik seperti sekarang ini.

“Maksudnya berbeda dengan zaman dulu ?” Nera yang di sampingku bertanya sambil mengangkat tangan. Sangat jarang Nera mau bertanya apabila Seonsaengnim ini yang mengajar. Aku penasaran apa yang membuat Nera begitu bersemangat.

“Zaman sekarang, remaja perempuan begitu agresif terhadap perasaan.” ku matikan musik dari mp3 dan headset pun ku lepaskan.

“Lebih banyak perempuan yang menyatakan cinta nya di zaman sekarang ini.” Siswa lelaki bersiul-siul dan tertawa. Seonsaengnim lanjut dengan beberapa teorema yang ku yakin hanya karangan dia sendiri. Teorema kalau perempuan seharusnya memiliki sifat pemalu, lebih pendiam, dan tidak agresif untuk hal cinta.

Teorema konyol itu membuat pikiran ku berputar-putar mencari sesuatu dan akhirnya mengeluarkan kata, Shim Hyunseong. Otakku menyuruhku untuk melihat ke arah Hyunseong. Dia sesekali tertawa kecil melihat Seonsaengnim. Sepertinya dia setuju dengan diskusi tidak masuk akal ini. Entah kenapa aku merasa panas. Shim Hyunseong. Emosi ku panas. Perasaan ku kepada Shim Hyunseong. Kenapa dia harus tertawa. Apa yang lucu dari sebuah perasaan seorang perempuan.

“Memangnya salah kalau perempuan juga memiliki perasaan cinta ?” Semua terjadi begitu cepat. Aku berdiri. Berkata dengan lantang. Dan semua tatapan sekarang beralih kepada ku. Tidak ada tanggapan dari Seonsaengnim. Nera menarik rokku pelan untuk menyuruhku duduk. “Menurutku, kalau selamanya perempuan diam akan perasaanya, maka akan selamanya mereka hidup dalam penyesalan dan kesengsaraan.” Lagi. Otakku menyuruhku melihat Hyunseong tajam. Dia melihat balik dengan tatapan yang aku tidak mengerti.

 

TBC

==Simpan saja perasaan jika ingin hidup dalam penyesalan dan kesengsaraan==
This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT] Terjebak dalam Kata ! – Chapter 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: