[FANFICT/FREELANCE] Hate You, Love You – Chapter 06

1387940968

Title 
: Hate You, Love You – Chapter 6
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Donghyun

  ~ Jeongmin

  ~ Mari

Support Casts
: Member Boyfriend Lain

CHAPTER 6

~FLASHBACK~

 

*Donghyun POV*

Jeongmin memintaku menemuinya. Kutebak, pasti ada hubungannya dengan Mari, karena dia melarangku mengajak member lain. Atau ini juga berhubungan dengan tidak masuknya Mari hari ini?

Aku sempat merasa curiga semalam, tetapi aku tidak berani menanyakannya. Cara Mari memandangku ketika mata kami tidak sengaja bertemu, terasa janggal.

“Kau sudah lama menunggu?” tanyaku sambil menarik kursi di depan Jeongmin.

Tidak menjawabku, Jeongmin hanya tersenyum singkat.

“Ada masalah apa?” Kurasa kami berdua tidak perlu berbasa-basi.

“Mari…”

Benar dugaanku.

“Apa cinta pertama yang pernah kau bicarakan adalah dia, Hyung?”

Pelayan meletakkan secangkir kopi yang kupesan. Aku mengaduk-ngaduk kopi itu, kemudian meminumnya. Mencoba mengulur waktu. Memikirkan jawaban apa yang sebaiknya kuberikan pada Jeongmin. Akhirnya kuputuskan untuk tidak berbohong padanya.

Aku tersenyum. “Apa terlihat jelas?”

“Sudah kuduga. Sikap kalian terlalu tidak wajar untuk dua orang yang baru saja bertemu.”

Ada jeda cukup lama sebelum Jeongmin bicara lagi.

“Aku menyukainya. Kemarin, aku mengungkapkan perasaanku padanya.”

Jadi itu masalahnya. Kenapa Jeongmin ingin aku mengetahui hal itu?

Tiba-tiba aku merasa menjadi orang paling pengecut di dunia. Jeongmin bisa mengungkapkan perasaannya pada Mari. Sedangkan aku, bahkan setelah bertemu Mari lagi, aku masih tidak bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padanya.

“Benarkah? Sejujurnya, waktu pertama kali melihat Mari di dorm, aku benar-benar terkejut. Terkejut karena bisa bertemu dengannya lagi, dan terkejut karena perasaanku padanya ternyata masih sama.”

“Jadi, kau mengaku bahwa kau masih menyukainya, Hyung?”

“Kuharap aku bisa berkata tidak.”

“Mari belum memberikan jawabannya. Yang kulihat, dia masih bingung dengan perasaannya padamu, Hyung.”

“Kau mengira dia masih memiliki perasaan padaku?”

“Kuharap tidak. Yang ingin kukatakan adalah, tidak bolehkah aku memilikinya Hyung?”

Aku tidak menjawabnya.

***

Sudah lebih dari satu jam mobilku berada di ujung jalan menuju rumah Mari. Aku ingin menemuinya, tapi yang kulakukan malah diam di dalam mobil.

Karena kelaparan, aku memutuskan membeli ddukbokkie. Aku sudah melirik kedai itu sejak tadi. Kedai yang sering kudatangi bersama Mari saat sekolah dulu. Selama lima tahun, ini pertama kalinya aku kembali ke kedai itu.

Baru separuh perjalanan, kulihat seorang gadis dari arah berlawanan memasuki kedai. Gadis yang bahkan dari jarak sejauh ini bisa kukenali. Aku menghentikan langkah, kemudian tersenyum karena kebetulan ini.

Mari menundukkan kepala sambil berjalan. Kebiasaan buruk. Tidak sengaja, dia pun menabrak salah satu lelaki yang ingin meninggalkan kedai.

“Bodoh,” ujarku. Kulanjutkan langkahku.

Di dalam kedai ternyata begitu ramai. Mari hampir tidak terlihat diantara pria-pria bertubuh besar.

Gadis itu berdiri di sisi kiri kedai, maka aku pun memutar keluar untuk mengejutkannya. Dia sedang melamun hingga tidak menyadari keberadaanku.

“Pastikan kau membawa dompetmu sebelum memesan.”

“Kau!” teriak Mari, membuat semua orang di kedai memandangnya.

“Sssst… kau tidak perlu sesenang itu karena melihatku di sini.”

Sebenarnya aku yang sangat senang bertemu denganmu di sini.

Kami tidak saling bicara sampai kami mendapat giliran memesan. Mengingat banyak orang yang akan memarahi kami jika kami ribut di dalam kedai.

“Sampai jumpa besok pagi,” pamit Mari setelah keluar dari kedai.

Aku yang masih ingin membicarakan banyak hal, memaksa Mari mengajakku ke rumahnya. Dia bersikeras mencegahku. Akhirnya kugenggam erat tangannya, lalu kutarik Sena menuju rumahnya.

Seorang perempuan membukakan pintu untuk kami. Mari memperkenalkan perempuan itu sebagai kakaknya. Aku sempat khawatir kakaknya akan mengusirku. Siapa tahu Mari sudah menceritakan hal-hal tidak baik tentangku pada kakaknya. Tetapi Sica ternyata menyambutku dengan hangat. Kami mengobrol mengenai apa saja. Karena seumuran denganku, dia terasa seperti salah satu teman sekolah yang lama tidak kutemui.

Usai makan malam, aku duduk di bangku panjang yang diletakkan Mari di tengah taman kecil yang dia buat. Sambil menunggu dia keluar, aku memejamkan mata.

Bohong jika aku tidak memikirkan pembicaraanku dengan Jeongmin. Dan aku benar-benar ingin tahu apa yang Mari pikirkan sekarang. Apakah dia akan menerima Jeongmin?

Aku bisa saja tertidur seandainya tidak kurasakan ada hembusan napas di dekat wajahku.

“Aku tidak keberatan kalau kau ingin menciumku diam-diam.” Aku membuka mata. Mari langsung menjauhkan wajahnya dariku.

Aku bingung harus mulai bertanya dari mana. Sejujurnya aku takut mendengar jawaban Mari, jika aku menanyakan jawaban apa yang akan dia berikan pada Jeongmin.

“Mari!”

Dia menoleh. Alih-alih bertanya, aku malah berkata padanya agar tidak memikirkan hal-hal yang membuatnya pusing. Setelah itu, baik aku ataupun Mari tidak ada yang bicara lagi.

Aku menikmati keheningan diantara kami.

“Apa kau tidak ingin tahu mengapa aku muncul lagi di hadapanmu?” Mari yang pertama kali membuka suara lagi.

“Tidak juga.”

“Setelah kupikir lagi, sepertinya aku melakukan kesalahan.”

“Apa maksudmu?”

“Harusnya, kita tidak perlu bertemu lagi. Aku tetap melanjutkan kehidupanku seperti lima tahun ini, dan kau tetap dengan kehidupanmu.”

“Mari…”

“Apa… sebaiknya aku keluar dari pekerjaan ini? Agar kita bisa kembali ke kehidupan kita masing-masing?”

Dan aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi. Begitu maksudmu?

Apa yang ingin kukatakan tertahan di tenggorokan. Kami saling memandang lama. Sampai akhirnya aku memutuskan, bahwa Mari tidak perlu berbuat seperti itu hanya karena aku. Aku tidak ingin tidak dapat melihat wajahnya lagi.

“Kau tidak perlu melakukannya,” jawabku. “Cepat tidur. Sampai jumpa besok pagi.”

Mari tidak mengatakan apa-apa.

Kusimpan semua pertanyaanku, dan segala hal yang ingin kusampaikan pada Mari. Sama seperti dulu, aku akan memendam semuanya. Mari tidak harus tahu.

~END OF FLASHBACK~

***

Semua energiku seakan lenyap. Bukan karena pekerjaan. Melainkan karena hal-hal yang kupikirkan dan hal-hal yang mengusik perasaanku. Aku sama sekali tidak bisa konsentrasi bekerja. Ada saja kesalahan yang kubuat. Salah membawa sepatu untuk Jeongmin, salah membeli jus yang diinginkan Jeongmin, sampai tidak sengaja tersandung hingga menumpahkan kopi yang kubeli ke celana orang lain.

“Apa? Apa maksudnya aku tidak perlu melakukannya?!” Aku menendang dinding toilet. Sudah lebih dari lima belas menit aku berada di dalam.

“Lalu, apa maksudnya seharian ini tidak mengajakku bicara? Aaaaarrrggghh… pria itu selalu menguji kesabaranku!”

Pagi ini aku belum mengatakan pada Jeongmin bahwa aku ingin keluar. Alasannya? Sica memperumit perasaanku. Setelah bertemu Donghyun, dia beralih menjadi pendukungnya. Dia seakan lupa pernah berkata ingin membantuku memukuli Donghyun.

Sica, yang selalu merasa senior masalah percintaan, menasehatiku untuk tidak menyerah. Menurutnya, Donghyun memilik perasaan yang sama denganku. Karena itulah Sica melarangku keluar. Katanya, aku hanya harus membuktikannya. Menurutnya yang kulakukan selama ini apa?

Di samping itu, aku tidak bisa begitu saja mengabaikan pernyataan suka Jeongmin. Aku sendiri tidak tahu apakah Jeongmin masih menunggu jawabanku.

Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Semua yang terjadi adalah akibat ulahku sendiri.

Show Boyfriend hampir selesai. Aku menghela napas panjang sekali lagi sebelum kembali menemui mereka.

Aku menunggu di dalam ruangan dengan nama Boyfriend menempel di pintu. Melihat beberapa perlengkapan make-up masih berserakan di meja, serta pakaian ganti Jeongmin yang memang belum sempat kurapikan, aku pun membereskan semuanya.

“Keluar atau tidak? Kalau iya, hidupku akan damai. Kalau tidak… aaaaarrrgghhh, aku tidak tahu!” Aku menggerutu lagi.

Aku melipat kedua tanganku di atas meja, lalu menyembunyikan wajahku. Hanya mendengar suara detik jam membuatku mengantuk. Kupejamkan mata untuk menenangkan diri.

Belum sampai tertidur, aku mendengar suara Jeongmin di sampingku. Aku pun mengangkat kepala.

“Nuna, apa aku terlihat menggemaskan?” canda Jeongmin, sambil menangkupkan kedua tangannya ke pipi.

Entah kapan dia masuk. Aku tidak mendengar suara pintu dibuka.

“Ya, sampai-sampai aku ingin memakanmu.”

“Baguslah kau bisa tertawa. Aku akan merasa bersalah kalau kau murung terus.”

“Jangan begitu.”

“Mari Nuna!” seru Minwoo yang baru saja masuk. Member lain menyusul di belakangnya.

“Nuna, maukah kau menemaniku nonton film?” tanya Minwoo.

“Aku?”

“Tidak ada yang mau menemaniku.”

“Dan kenapa kau harus mengajak Mari, Minwoo?”

“Ayolah Jeongmin Hyung, pinjamkan nuna padaku malam ini.”

“Ya! Kau mengatakannya seolah-olah aku ini barang Minwoo.”

“Ah, maaf. Kumohon Nuna, kumohon, kumohon.”

“Baiklah, aku akan menemanimu,” ucap Youngmin.

Minwoo dan Youngmin lagi-lagi ribut. Minwoo tidak mau pergi bersama Youngmin karena tadi Youngmin sudah menolaknya. Dia tetap memaksaku ikut. Sementara sekarang Youngmin yang memaksa menemani Minwoo. Berdebat dengan mereka berdua lebih memusingkan dibandingkan berdebat dengan Donghyun.

Teringat Donghyun, aku mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaannya. Duduk jauh dari kami, Donghyun nampak sibuk dengan ponselnya. Earphone terpasang di telinga, dan matanya tidak beranjak dari layar ponselnya. Dia sama sekali tidak bergabung dalam keributan kami.

Aneh. Padahal dia paling tidak tahan jika Minwoo sudah memulai keributan.

Dia berubah lagi. Sikapnya hari ini menghapus bayangan Donghyun yang menemuiku semalam.

Akhirnya, Minwoo tidak hanya mendapat satu orang untuk menemaninya, melainkan dua. Aku dan Youngmin.

***

“Nuna, kenapa kau susah mengerti?” protes Youngmin setelah kami berada di dalam mobil.

“Mengerti apa?”

“Jangan katakan kau tidak tahu hari ini ulang tahun Donghyun hyung.”

“Hari ini?”

“Iya, Nuna, hari ini! Aku berusaha mengajakmu keluar karena Donghyun hyung tidak akan mencurigaimu,” kata Minwoo gemas.

Kuambil ponselku untuk mengecek tanggal.

“Ah ya, hari ini tanggal dua belas Februari.”

“Kami menyiapkan kejutan untuk hyung. Sekarang kita akan pergi membeli kue tart dan mengambil hadiah,” ucap Youngmin.

“Tapi akting nuna tadi justru terlihat natural. Donghyun hyung pasti sama sekali tidak curiga,” tambah Minwoo.

Hari beranjak sore. Pantas saja jadwal Boyfriend hari ini selesai lebih cepat. Ternyata mereka sengaja mempersiapkan pesta kejutan untuk Donghyun. Aku merasa bodoh, tidak mengingat ulang tahunnya. Padahal, selama lima tahun, meski aku ingin lupa, anehnya aku justru selalu mengingatnya.

Hadiah apa yang harus kubeli?

Pemberhentian pertama kami adalah sebuah butik yang sangat lengkap. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Tidak hanya menjual pakaian, di butik itu juga ada tas, sepatu, aksesoris, bahkan barang-barang unik untuk menghias rumah.

“Kau banyak diam, Nuna. Hari ini kau dan Donghyun juga tidak berdebat seperti biasanya.”

“Dia yang tidak mengajakku bicara, Young.”

“Oooooh… jadi sebenarnya kau ingin mengajaknya bicara?” Minwoo mulai lagi.

“Tidak! Maksudku bukan itu yang kupikirkan,” jawabku berbohong. Jelas-jelas nama Donghyun memenuhi otakku.

“Jeongmin… ada masalah yang belum kuselesaikan dengannya.”

Aku tidak tahu apakah sebaiknya kuceritakan pengakuan Jeongmin pada mereka atau tidak. Mulut Minwoo tidak dapat dipercaya.

“Aaaaah… masalah itu. Jeongmin hyung hanya—“

Minwoo tidak menyelesaikan kalimatnya karena Youngmin tiba-tiba memotongnya.

“Kau belum membeli hadiah kan, Nuna? Mengapa kau tidak memilih apa yang ingin kau berikan pada Donghyun hyung?”

Karena Youngmin mengingatkanku mengenai hadiah, aku pun tidak menaruh kecurigaan pada sikap mereka berdua.

Hadiah? Aku tidak tahu banyak tentang Donghyun. Warna favoritnya saja aku tidak tahu. Kami berdua hanya sekali merayakan ulang tahunnya saat sekolah dulu. Waktu itu aku memberi sebuah topi bertuliskan ‘Si Menyebalkan Donghyun’ padanya. Aku sengaja memesannya jauh-jauh hari.

Sebagai balasan, di hari ulang tahunku dia memberikan jaket yang di bagian belakangnya tertulis ‘Si Bodoh Mari’. Jaket itu tersimpan rapi di dalam lemariku.

“Mana yang lebih bagus Nuna, warna hitam atau biru?” tanya Minwoo sambil menunjukkan dua pasang sepatu padaku.

“Untukmu?”

“Tentu saja untuk Donghyun hyung.”

“Bukankah tadi kalian mengatakan, bahwa kalian sudah membeli hadiahnya?”

“Yaaaa… memang. Tapi kami kurang yakin. Kurasa kami perlu pendapat seorang wanita,” jawab Youngmin sok diplomatis.

Aku yang tidak merasa pada sikap mereka, selanjutnya membantu memilih barang-barang yang akan dibeli sebagai hadiah ulang tahun Donghyun.

Mereka berdua membeli total enam buah barang. Kaus, sepatu, celana jins, jam tangan, jaket, dan sebuah jam beker berbentuk hati. Yang ketika alarmnya berbunyi, maka akan terdengar suara detak jantung.

“Jadi, kau sudah memutuskan akan membeli apa, Mari Nuna?”

Aku sudah melihat ke semua sudut butik ini. Entah mengapa tidak ada barang yang ingin kubeli untuk Donghyun. Kemudian, aku teringat sesuatu. Hal yang tidak perlu uang untuk mendapatkannya. Yang kuperlukan hanya pulpen dan kertas.

“Hadiahku tidak ada di sini. Ayo kita ke toko kue.”

Hadiah-hadiah untuk Donghyun telah dibungkus rapi ke dalam kotak-kotak. Kami pun segera menuju toko kue yang letaknya tidak jauh dari butik itu.

Di toko kue, Minwoo lagi-lagi menanyakan kue tart mana yang sebaiknya kami beli. Kalau kupikir-pikir, semua yang kami beli hari ini berdasarkan pilihanku. Mereka akan langsung setuju pada apa yang kupilihkan tanpa repot-repot mengutarakan pendapat mereka.

Pukul tujuh lebih sepuluh menit. Mobil kami sampai di depan sebuah kafe yang nampaknya sengaja mereka sewa untuk acara malam ini. Suasana kafe telah ramai. Tetapi belum nampak kedatangan Donghyun dan tiga member lainnya.

Aku berpamitan ke toilet agar bisa mempersiapkan kadoku.

Kupikir, hari ini Donghyun pasti mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi, aku ingin egois, dan melakukan apa yang kuinginkan. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya melihat kadoku ini. Kuharap, aku tidak sedang mengulangi kesalahan yang sama.

***

Pernahkah kau merasa berada di tempat yang salah hingga rasanya lebih baik kau menyembunyikan diri? Aku dalam posisi itu sekarang.

Pesta ulang tahun Donghyun belum dimulai karena sulit sekali mengajaknya meninggalkan dorm. Ada sepuluh orang teman-teman Donghyun yang ikut meramaikan pesta ini. Meski aku duduk diantara Youngmin dan Minwoo, aku tetap merasa keberadaanku di pesta ini salah.

“Donghyun hyung hampir sampai! Ayo kita bersiap-siap!” kata Minwoo setelah membaca pesan dari Kwangmin.

“Nuna, kau yang membawa kuenya.” Youngmin memberikan kue ulang tahun Donghyun padaku.

“Hei, kenapa aku yang membawanya? Aku tidak mau.” Aku berusaha menolak, tetapi Youngmin memaksaku memeganginya.

“Bawa saja, Nuna!”

Karena takut kue itu terjatuh, aku pun terpaksa menerimanya.

Lampu kafe dimatikan, kemudian Youngmin menyalakan lilin di atas kue tart.

Terdengar suara mobil berhenti di depan kafe. Donghyun, Jeongmin, Kwangmin, dan Hyunseong keluar dari mobil. Begitu pintu kafe terbuka, kami semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Minwoo mendorongku maju mendekati Donghyun. Dari cahaya lilin, aku bisa melihat Donghyun enggan meniup lilin begitu mengetahui aku yang membawa kue tartnya. Aku tidak tahu kenapa aku merasa seperti itu. Caranya memandangku terasa asing.

Karena banyak orang yang menunggunya, Donghyun pun meniup lilin ulang tahunnya. Setelah itu, dia langsung berpaling dariku. Sibuk berterima kasih pada teman-temannya yang datang, tetapi sama sekali tidak berniat menyapaku.

Seperti orang bodoh, aku berdiri di tempat. Memandanginya yang mengabaikan kehadiranku. Apa aku sudah melakukan kesalahan?

“Berikan padaku, Mari.” Suara Jeongmin menyadarkanku. Dia mengambil kue dari tanganku, lalu meletakannya di atas meja.

“Maaf tidak memberitahumu tentang pesta kejutan ini.”

“Tidak masalah. Aku senang bisa membantu.”

“Ayo kita makan.”

Jeongmin mengambil makanan untukku, sementara aku duduk menunggunya. Padahal sudah kukatakan aku tidak ingin makan.

“Mari Nuna, kau mau kue?” tanya Minwoo yang sejak tadi mendapat tugas memotongi kue untuk orang-orang.

Aku menggeleng.

“Kau terlihat tidak bersenang-senang di pesta ini,” kata Hyunseong.

“Aku hanya mulai mengantuk.”

“Kau sudah memberikan hadiahmu?”

Ah ya, hadiahku. Aku hampir melupakannya. Bagaimana bisa aku memberikannya jika Donghyun bahkan tidak mau melihat wajahku. Member Boyfriend lain bergantian menemaniku. Hanya Donghyun yang seolah tidak menyadari keberadaanku di pesta ini.

Maka, kuputuskan untuk menitipkan kadoku pada Jeongmin.

“Mari, habiskan semuanya.” Jeongmin meletakkan tiga piring makanan di depanku. Mulutku menganga melihat ketiga makanan itu bergantian.

“Apa aku perlu menyuapimu?”

“Aaaaah… sepertinya aku terusir,” keluh Hyunseong, lalu bergabung bersama Donghyun.

Hanya tinggal aku berdua bersama Jeongmin. Saat mengatakan akan menyuapiku, dia benar-benar berniat menyuapiku. Jeongmin menyodorkan sendok sampai di depan mulutku. Tanpa ragu, aku pun membuka mulut.

“Berikan, aku bisa makan sendiri.”

“Ada apa dengan Donghyun hyung? Sejak tadi tidak meninggalkan kerumunan gadis-gadis itu.”

Aku tidak mau menoleh ke tempat Donghyun duduk. Semua sudah cukup.

Tentu saja daritadi aku memperhatikannya. Aku tahu mereka teman-temannya. Lalu, apakah aku bukan termasuk di dalamnya? Seandainya hanya ada kami berdua saja, sepertinya aku akan berlari ke arahnya sekarang juga. Karena aku benar-benar sudah tidak tahan menerima sikapnya.

“Bisakah kau mengantarku pulang? Sekarang.”

“Pulang? Kau merasa tidak nyaman ya?”

“Aku merindukan kamarku Jeong.”

“Baiklah. Kita berpamitan dulu pada Donghyun hyung dan yang lain.”

“Tidak perlu!”

Jeongmin tidak mendengarkanku. Dia malah memanggil Donghyun agar menghampirinya. Donghyun pun meninggalkan teman-temannya untuk menemui Jeongmin.

“Ada apa?”

“Bisakah kau mengantar Mari pulang, Hyung?”

Aku terkejut. Mengapa Jeongmin mengatakan hal itu?

“Aku tidak bisa. Kau lupa, ini pesta ulang tahunku?”

“Mengantar Mari pulang tidak membutuhkan waktu yang lama.”

“Lalu kenapa bukan kau yang mengantarnya?”

“Aku bisa pulang sendiri!” kataku dan membuat mereka berdua diam.

Saat akan melangkah pergi, Jeongmin menghentikanku.

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.” Donghyun berbalik, dan Jeongmin juga menghentikannya.

“Bukan kita yang harus bicara Hyung. Tapi kau dan Mari.”

“Jeong!”

“Berhenti!”

Aku melepaskan pergelangan tanganku dari genggaman tangan Jeongmin. Kuarahkan kedua mataku pada Donghyun.

“Apa aku berbuat salah? Apa aku sudah mengganggu hidupmu? Katakan!!” Aku yang sudah tidak tahan lagi, menumpahkan amarahku pada Donghyun.

“Aku tidak ingin berdebat sekarang. Lebih baik kau segera pulang.”

“Apa kau sedang berusaha melakukan hal yang sama seperti lima tahun yang lalu? Kalau iya, harusnya kau melakukannya sejak awal kita bertemu lagi. Jadi aku tidak akan terlalu kecewa.”

Aku menghapus air mataku yang hampir jatuh.

“Aku akan naik taksi. Aku tidak ingin merepotkan siapa pun.”

Karena air mata menggenang di mataku, pandanganku menjadi kabur. Aku tersandung kaki salah satu kursi, dan terjatuh.

“Mari!” seru Donghyun.

Semua orang kini memandangku. Dalam posisi terduduk, perlahan aku mulai terisak. Bukan karena merasa malu, melainkan karena rasa marah yang menumpuk di dalam hatiku.

Donghyun mencoba membantuku berdiri, tetapi aku menghempaskan tangannya.

“Aku tidak ingin melihatmu. Aku tidak ingin bicara denganmu.” Aku sudah menangis. Aku tidak peduli pada semua mata di dalam ruangan ini yang sekarang tertuju padaku.

“Kuantar kau pulang.”

“Menjauh dariku. Aku membencimu!” Aku berusaha berdiri, tetapi kakiku terasa lemas.

Sebelum terjatuh untuk kedua kalinya, Donghyun menangkapku.

“Lepaskan!”

Aku memberontak. Tetapi Donghyun mendekapku erat. Aku terus mencoba melepaskan diri sampai akhirnya aku merasa lelah, dan terdiam dalam dekapannya.

***

*Donghyun POV*

Semua member mendiamkanku gara-gara kejadian tadi. Aku hanya mencoba membuat Mari berhenti memikirkanku. Membuatnya membenciku seperti lima tahun yang lalu. Aku tidak tahu, bahwa yang kulakukan justru lebih menyakitinya.

Menjauhi Mari seperti itu, sebenarnya juga menyakitkan bagiku. Bertahan untuk mengabaikannya rasanya lebih melelahkan dari masa trainee yang kujalani.

“Kau mengulangi kesalahan yang sama bodoh.”

Aku tidak menyalahkan semua member yang sekarang tidak ingin mengajakku bicara. Bahkan aku ingin memusuhi diriku sendiri.

“Hyung, bisa kita bicara ?” tanya Jeongmin tanpa membuka pintu kamar.

Aku pun keluar. Di depan pintu, aku disambut oleh tumpukan kotak hadiah.

“Ini semua pilihan Mari. Terserah kau mau menyimpannya atau membuangnya.”

“Jeong—“

“Kau mengecewakannya Hyung. Apa yang kukatakan padamu waktu itu bukan untuk melihatmu melakukan ini semua.”

“Apa maksudmu?”

Jeongmin menghela napas. “Ini hadiah yang Mari titipkan padaku.” Jeongmin menyerahkan kotak kecil berwarna biru padaku.

Hadiah dari Mari terasa ringan sekali. Kotak ini hanya sedikit lebih besar dari ukuran amplop normal. Amplop? Apa mungkin…

“Hyung, hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan kedua.” Jeongmin masuk ke kamar. Meninggalkanku seorang diri bersama pikiranku yang kacau.

Kubuka kotak hadiah dari Mari.

Aku terkejut ketika benar-benar melihat sebuah amplop di dalamnya. Di dalam amplop itu, ada surat dengan tulisan tangan Mari.

Apa yang dia tulis, sama persis dengan surat yang dia berikan sebelum hari kelulusanku. Detik ini, aku merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.

“Kau benar-benar bodoh Donghyun. Kau pantas menerima semua ini,” ujarku.

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Hate You, Love You – Chapter 06

  1. oh bias ku baik sekali disini hahahaha

    aku suka suka suka dengan HYLY (cingkatan suka-suka) lol
    Tulisanmu ringan dan mudah dimengerti ><
    aku banyak belajar dari sini

    Keep writing ^0^)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: