[FANFICT/FREELANCE] Finally

Title 
: Finally
Author : Song Rae hwa
Genre : friendship, Romance & Sad Romance
Rating : PG-17
Type : One Shoot
Main Casts 
: ~ No Minwoo

  ~ Song Cha Hi

Other Casts
: ~ Song Chan Ho

  ~ Nara

~ Jo Youngmin

Hai Readers Author balik lagi sambil bawa FF yang lumayan gaje ini, tapi ini karangan author sendiri murni dari imajinasi author. Tapi maaf kalau tulisannya tidak sesuai dengan kaedah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena Author masih belajar. ^^

***

“Oppa apa kau tidak memikirkan perasaanku ini ah?”

“Ahaha setiap detik aku selalu memikirkan perasaanmu chagi.”

“Terus kenapa kau tega meninggalkanku oppa?”

“Aku hanya ingin menuruti keinginan umma dan appa chagi.”

“Aku pasti akan selalu merindukanmu. Hem menyebalkan.”

“Aku juga pasti akan selalu merindukan yeojaku yang manis dan cantik ini.”

“Oppa ini pintaku untukmu. Aku hanya ingin melihatmu kembali kesini dan kau masih menjadi kekasihku seperti saat kau pergi.”

“Ne chagi, aku akan mengingat permintaanmu. Kau percayalah padaku, karena mata ini hanya untuk melihatmu, tubuh ini hanya untuk memelukmu, tangan ini hanya untuk menggenggam tanganmu, bibir ini hanya untuk menciummu. Dan hati ini hanya untuk menyimpan namamu.”

“Oppa, saranghae..”

“Nado saranghae nae Hi. Aku pergi dulu ne. aku akan merindukanmu chagi..”

***

Kata-kata itu masih terngiang di pikiran yeoja berambut panjang yang kini tengah duduk di sebuah kursi café dekat jendela. Ia tersenyum setiap mengingat kata-kata manis dari kekasihnya empat tahun yang lalu sebelum kekasihnya pergi ke Amerika untuk meneruskan sekolahnya.

“Aku merindukanmu oppa” ucap yeoja itu sambil mengetik di ipadnya dan mengirimkannya ke alamat email yang ia tuju. Walaupun email yang ia kirim itu tidak pernah mendapat balasan sejak tiga tahun yang lalu. Namun dengan rutin ia selalu mengirim email kepada kekasihnya.

“Song Cha Hi??” panggil seorang seorang yeoja yang kini berjalan menghampiri yeoja yang bernama Song Cha Hi itu.

“Hey Nora-ya..” sapa Chahi kepada yeoja yang bernama Nora itu.

“Lama kau menungguku? Mian tadi Youngmin mampir ke toko kaset dulu.” Sesal yeoja yang bernama Nora itu.

“Gwanchana, kau ingin pesan apa? Cappuccino or Café latte?”

“Terserah kau saja.” Chahi meninggalkan tempat duduknya dan melangkah menuju tempat pemesanan.

“Ini untukmu.” Chahi menyerahkan secangkir Cappuccino kepada Nora.

“Apa tugas akhir semestermu itu sudah selesai Hi?”

“Tentu, kau ingin melihat karya ilmiahku? Ini.” Kata Chahi seraya menyodorkan buku tebal karya ilmiah hasil karangannya.

“Ya cepat sekali kau menyelesaikannya.”

“Aku ingin segera lulus kuliah, kemudian aku bekerja. Aku ingin sekali mengajar anak-anak lucu itu.” setelah lama Chahi dan Nora mengobrol di café langganan Chahi, merekapun pergi meninggalkan café itu. mereka berjalan beriringan menyusuri jalan di taman yang ramai karena banyaknya para pengunjung saat musim gugur tiba, mereka beramai-ramai datang ke taman hanya untuk melihat ratusan pohon sakura menggugurkan bunganya. Setiap meliahat proses bunga sakura jatuh dari pohonnya Chahi selalu tersenyum manis menyaksikannya. Chahi memang sangat menyukai bunga sakura saat jatuh dari pohonya.

“Indah sekali…” ucapnya hampir tidak terdengar oleh telinga temannya.

***

Aku sangat lelah setelah seharian penuh aku mengelilingi taman bersama Nora temanku, setiap musim gugur tiba aku memang tidak pernah absen untuk menyaksikan ratusan bunga sakura jatuh berguguran. Aku sangat suka melihatnya, entah mengapa setiap aku melihat bunga-bunga itu berguguran hatiku merasa tenang, dan rasa rinduku padanya sedikit terobati. Ya mungkin karena kekasihku itu sangat menyukai bunga sakura, atau entahlah. Tapi tunggu kekasihku ? apa dia masih menganggapku ini kekasihnya ? setelah 3 tahun dia meninggalkanku dan tanpa memberiku kabar. Tapi rasa cintaku padanya sama sekali tidak pernah memudar sedikitpun, walau kenyataannya dia mungkin sudah melupakanku.

“Hi-ya~” ada apa di bawah sana kenapa oppa berteriak sekeras ini.

“Ne oppa..” akupun ikut berteriak dari dalam kamarku dan beranjak keluar dari kamarku, aku melihat oppa tengah menyiapkan makan malam untuk aku dengannya. Memang di sini aku hanya tinggal berdua dengan oppaku. Umma dan appa mereka tinggal di jepang, walaupun aku hanya tinggal berdua dengan Song Chan Ho oppa tapi aku sungguh tidak pernah merasa kesepian, karena Chanho oppa selalu ada untukku dan aku pun sungguh sangat menyayangi oppaku satu-satunya itu.

“Mian oppa aku tidak membantumu menyiapkan makan malam.” Ucapku menyesal pada diriku sendiri.

“Gwanchana chagi, makanlah yang banyak kau terlihat kurus?.” Tanyanya khawatir melihat tubuhku yang semakin hari, semakin kurus mungkin. Aku hanya tersenyum mendengarnya dan aku hanya bisa mengiyakan apa yang ia katakan.

“Kau masih memikirkannya ah? Sampai kau kurus seperti itu?” pertanyaan oppa sukses membuatku menghentikan aktivitas makanku dan membuatku tidak berselara makan. Aku menggeleng cepat mencoba menepis kebenaran yang diucapkannya.

“Kau tidak usah berbohong. Aku ini Oppamu, aku tau apa yang kau pikirkan.” Natah mengapa oppaku ini selalu tau apa yang sedang aku rasakan dan pikirkan. Aku menghela nafasku pelan dan meletakan sendok dan garpu yang aku pegang tadi di atas meja.

“Ne, kau benar oppa.” Jawabku sekenanya, ia hanya tersenyum manis khasnya membuat semua yeoja yang melihat senyumnya meleleh seketika. Tapi menurutku lebih manis senyuman kekasihku yang jauh disana, ani mantan kekasih lebih tepatnya.

“Kapan acara wisudamu?” aku tau dia tidak ingin mengubah moodku yang sudah buruk menjadi tambah buruk dengan mengalihkan topic pembicaraan.

“Lusa.” Jawabku singkat, oppa hanya menganggukan kepalanya. Aku sudah sangat lelah, aku meninggalkan oppa yang masih sibuk dengan makananya.

“Aku ingin tidur oppa, aku sangat lelah hari ini.” Kataku sambil berjalan menaiki anak tangga itu satu persatu. Aku mulai memejamkan mataku, dan menutupi tubuhku dengan selimut tebalku.

Ku paksakan mataku untuk membuka, aku menyipitka mataku saat aku terkena pantulan cahaya sinar mata hari dari balik korden putih tipisku itu.

“Huhh..” aku mendengus kesal, aku masih malas mengangkat tubuhku dari atas kasur empukku ini. Kulirik jam di atas dinding tembok kamarku, aku melihat waktu sudah menunjukan pukul 08:12 AM KST. Aku mencoba menarik selimutku lagi dan mulai bergelut dengan guling kesayanganku. Belum sempat aku memejamkan mataku lagi seseorang menarik selimutku dan menyambutku dengan senyumannya.

“Irona Hi, ini sudah siang.” Aku menatapnya kesal, apakah oppa tidak merasakan aku masih sangat mengantuk. Aku mengubah posisiku, oppa duduk di samping ranjangku, ia membelai rambutku dan kemudian memeluku erat.

“Wae oppa?” tanyaku bingung, aku sungguh tidak mengerti apa yang ia lakukan. Oppa mulai melepaskan pelukannya, kemudian ia memandangku dengan tatapan iba. Aku bertambah bingung dengan sikapnya. Kemudian oppa menyodorkan sebuah undangan, kulihat sampul undangan itu. sebelum aku membukanya oppa sempat memelukku lagi. Dan akupun mulai membuka undangan itu tertera sebuah nama ‘No MinWoo dan Kim Hwang Seok’ aku sungguh tidak percaya membacanya, kulihat foto yang tertera di dalam undangan itu. mataku mulai perih melihatnya, apa yang sebenarnya terjadi ? aku harap semua ini hanya mimpi. Aku.. aku mulai menitikan air mataku, aku sungguh tidak terima dengan semua takdir ini. Kenapa-kenapa orang yang sangat aku rindukan dan aku cintai selama ini, mengingkari semua janjinya.

“Apa ini benar-benar MinWoo ? oppa katakan padaku kalau ini semua tidak benar.” Aku menangis, aku yakin aku menangis. Chanho oppa mencoba menenangkanku semampunya, ia memelukku ia mengusap air mataku yang terus mengalir. Tapi aku hanya bisa menangis dan menangis.

***

Terlihat semua mahasiswa-siswi bahagia hari ini, hari dimana kita lulus, setelah empat tahun aku dan teman-temanku menuntut ilmu di Universitas ini. Aku tersenyum getir saat aku mengingat undangan yang aku terima kemaren. Bahkan di hari yang berbahagia ini, aku sama sekali tak merasakan kebahagian sedikitpun walau umma dan appa datang ke acara wisudaku. Ntah mengapa perasaan kecewa terus menghampiriku.

Aku berjalan menyusuri jalan raya yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Aku berjalan gontai menghampiri sebuah toko pernak-pernik berniat membeli kado untuk No MinWoo yang ternyata memang mantan kekasihku, hanya aku saja yang bodoh dan masih menganggapnya sebagai kekasihku. Aku memilih gantungan hp yang berbentuk Micky Mouse, karena aku tau dia sangat menyukai ainimasi itu. setelah aku menemukan gantungan hp yang menurutku Mickynya lucu dan imut aku membelinya dan langsung dibungkus dengan warna kertas kado merah bermorif hati yang retak, kertas itu sengaja aku pilih untuk mewakili perasaanku. Setelah dari toko itu aku terus melanjutkan langkahku ke rumah MinWoo dimana acara pernikahan itu di lakasanakan.

Aku mulai memasuki rumah dengan halaman yang cukup luas itu, melihat sekitar berharap menemukan seseorang yang aku kenal, namun sungguh aku tidak mengenal satu orang pun dari puluhan tamu undangan yang hadir. Aku mulai berpikir hanya aku orang yang ia undang dari negeri ini. Aku melangkahkan kakiku, menemui sosok namja yang sukses membuat perasaanku hancur dan membuatku hampir gila karena perbuatannya. Kulihat ia tersenyum melihatku melangkah mendekatinya, ternyata dia masih mengingatku tapi bukan sebagai kekasih seperti 4 tahun yang lalu, melainkan seagai teman, teman yang tersakiti dan disakiti, dikhianati dan menghianati.

“Aku kira kau tidak akan dantang Chahi..” ucapnya tanpa melepaskan senyum manis yang membuatku bergetar. Aku hanya diam, aku sungguh tidak bisa bicara dihadapan orang yang sangat aku rindukan ini. Dia mulai mendekatiku dan memeluk tubuhku, aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa menitikan air mataku yang sedari tadi aku tahan.

“Aku sangat merindukanmu Hi..” ucapnya lagi seraya menyilak poniku yang menutupi wajahku. Aku masih tidak bisa berkata dihadapannya, dia menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya. Aku tau dia bertambah tampan dan dewasa dengan menegnakan jas berwana putih itu.

“Mianhe Hi, aku tau kau kecewa padaku tapi aku sungguh tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku. Tapi kau percayalah kalau aku ini masih sangat mencintaimu, aku bodoh hi.. aku bodohh…” ucapnya lagi dibarengi air mata yang mengalir membasahi pipinya yang putih itu, aku tau yang dia ucapkan itu sama sekali tidak mengandung kebohongan aku tau dia melebihi siapapun. Akhirnya aku dan dia menangis ditengah keramaian tamu undangan, bahkan kami berdua menarik perhatian semua tamu undangan yang datang dan tentunya calon pengantin wanita. Bagaimana tidak MinWoo orang yang paling aku rindukan memeluku dan menciumku cukup lama di depan para tamu dan calon istrinya. Namu ntah aku dirsuki oleh setan apa tanpa ada rasa malu aku dan MinWoo meneruskan ciuman kerinduan kami tanpa memikirkan orang yang sedang menangis di tengah lapangan dengan memakai gaun pengantinnya. Setelah cukup lama kami melakukan ciuman itu, akhirnya aku melepaskan ciumannya. Terlihat raut kecewa di wajahnya, aku tersenyum melihatnya ternyata dia masih sama seperti dulu, sungguh tidak berubah. Kudengar langkah kaki menghampiri kami berdua, dan dia berhenti di depan kami aku dan MinWoo. Ia menitikan air matanya, aku tau aku salah tapi salahkah jika aku melakukan semua itu bersamanya, dia merinduku aku juga merindunya. Yeoja itu menggenggam tanganku erat sesekali dia tersenyum melihatku dan MinWoo.

“Apakah kau ini Song Cha Hi?” tanyanya memulai percakapan, aku hanya mengangguk pelan.

“Ternyata kau sangat cantik, pantas saja MinWoo oppa selalu merindukanmu. Dan dia selalu memimpikanmu di setiap tidurnya.” Ucapnya lagi, aku sungguh masih belum mengerti, aku menatap MinWoo bingung, MinWoo hanya mengangkat bahunya. Aku mulai menundukkan kepalaku, aku sadar aku salah sudah merusak suasana yang seharusnya menyenangkan itu.

“Mianhe, aku sungguh tidak berniat merusak acara pernikan kalian. Aku.. aku hanya ingin menyerahkan ini untuknya.” Kataku sambil menyodorkan kotak kecil pada yeoja yang masih menggenggam tanganku erat. Ia tersenyum, senyum yang sedikit dipaksakan. Aku merasa malu telah membuat kacau acara ini, aku melepaskan tangannya dengan lembut dan aku berlari dari halaman rumah itu dan air mataku mulai berlomba kembali menetes ke pipiku yang tirus ini. Ternyata yang aku lakukan tadi salah, aku baru menyadarinya setelah aku meliahat seseorang menangis karena perbuatanku padanya. Di sepanjang jalan air mataku tak berhenti menetes, aku berhenti berjalan aku duduk di halte, aku terus menundukan kepalaku. Aku malu, aku sungguh bodoh kerinduan ini membuatku seperti orang bodoh.

“Hi~” aku mendengar suara yang tidak asing bagiku, aku mendongak melihat orang yang memanggilku dengan suara bassnya. Aku sungguh tidak percaya melihatnya di hadapanku.

“Apa yang kau lakukan disini oppa? Bukankah seharusnya kau meng..” belum selasai aku meneruskan ucapanku, bibirku tertahan oleh bibir mungil dan tipis itu, ia mulai ciuman itu lagi. Aku hanya pasrah dengan perlakuannya.

“Aku sangat mencintaimu Hi, aku sudah mengabulkan pintamu chagi..” aku masih belum mengerti apa yang dia katakan, air mataku masih mengalir dengan derasnya.

“Aku kembali, aku kembali masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Aku adalah No MinWoo yang masih mencintai Song Cha Hi, sama seperti dulu.” Ucapnya berusaha mengingatkanku dan menyakinkanku. Air mataku mengalir begitu derasnya, apa yang baru saja dia ucapkan aku sungguh tidak percaya.

“Kau sudahlah jagan menangis lagi, aku tidak jadi menikah karena aku ingin melihatmu tersenyum bukan menangis seperti ini.” Dia mulai menggodaku aku mulai tersenyum dan membenamkan wajahku ke dada bidangnya. Aku sungguh bahagia akhirnya aku mendapatkan cinta yang hilangku, cinta yang membuatku belajar bersabar, cinta yang membuatku mengerti akan ketulusan dan kerinduan yang sesungguhnya.

Finally akhirnya kini aku bisa hidup dengan seseorang yang sangat aku cintai, setelah sekian lama aku menunggu, menunggu tanpa kepastian dan akhirnya kini aku mendapatkannya kembali. Aku sungguh bahagia bisa melihat kembali senyumnya dan mendengar kata ‘SARANGHAE’ dari bibir mungilnya setiap hari, aku sungguh benar-benar menikmati hidup ini. Aku bahagia melihat Song Chan Ho oppa menikah dengan kekasihnya yang sangat ia cintai walaupun harus penuh perjuangan untuk mendapatkan restu dari umma dan appa, kini mereka telah dikaruniai satu orang putri yang sangat cantik seperti ibunya, gadis kecil itu sangat lucu saat ia berlari-lari mengejarku dan MinWoo di halaman ini. Ternyata kesabaran dan kegigihan bisa membuat akhir yang bahagia, meski dengan penantian yang panjang.

“Saranghae Song Cha Hi..” ucapnya sambil mengecup pipiku, aku hanya tersenyum padanya.

***END***

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Finally

  1. Setuju dengan pesan terakhirnya kalau kesabaran pasti bisa membuahkan hasil yang indah :’)

    Oh ya Song Chan Ho itu Oppa nya Cha Hi kan ya? As i know kalau saudara kandung mengutarakan sayang biasanya pakai kata “uri”, uri dongsaeng, uri oppa atau nae dongsaeng dan lainnya. Sedangkan “chagi” itu panggilan sayang untuk kekasih. Ada juga lain seperti “Yeobo”, panggilan sayang bagi yang sudah berumah tangga🙂 #CMIIW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: