[FANFICT/FREELANCE] My Ex

Title 
: My Ex
Author : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Romance
Rating : T
Type : One Shoot
Main Casts 
: ~ No Minwoo

  ~ Kang Ina

Gomawo udah mau baca😀

-ooo-

Hanya di sini. Lapangan basket sekolah. Tak ada yang istimewa di tempat ini. Namun, satu kenangan yang aku punya ada di tempat ini. Ya . Semuanya berawal ketika pertama kali memasuki klub basket pada kelas satu.

Aku tak tau, kisah apa yang direncanakan Tuhan pada waktu itu. Aku benar-benar pasrah dengan yang aku alami. Perasaan jatuh cinta pada seorang namja yang baru kukenal. Seharusnya aku mengalah, karena aku bukanlah yeoja yang sebanding dengan para yeojadeul lain di sekolah ini. Mereka anak kaya dan sangat cantik. Sangat berbeda denganku. Opiniku. Namun, kenyataannya yang aku dengar berbeda dari opiniku.

Aku memang terlahir dari keluarga sederhana. Bersekolah di sini karena beasiswa. Hayoung High School. Jika bukan karena beasiswa, aku tidak mungkin bisa memakai seragam mahal seperti saat ini. Tapi, benarkah semua penilaian mereka tentang wajahku ? CANTIK . Apakah itu ada padaku ? Entahlah.

-ooo-

Aku sedang berjalan lamban di pinggir lapangan. Mataku tertuju pada seorang namja yang beberapa bulan lalu menjadi kekasihku. Aku jelaskan saja, ne. Namja itu sekarang bukanlah kekasihku lagi. Sudah sebulan kami memutuskan hubungan untuk berpisah. Alasannya ? Aku sama sekali tidak tahu. Namun, aku selalu berpikir ini semua karena keadaan keluargaku. Tapi, namja itu bukanlah sosok yang seperti itu. Ia adalah namja yang tulus. Tulus mencintai bahkan berteman dengan siapapun, walaupun dia menyandang gelar seorang anak konglomerat.

Mungkin aku salah. Dulu. Pertengahan Februari, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Dia menyatakannya padaku. Memang, perasaanku saat itu sama dengannya. Hingga sebuah insiden menimpa hari-hari kami. Terpaksa aku mengundurkan diri dan menyerah. Melepaskan dia pergi dari keseharianku. Hampir 5 bulan. Waktu yang cukup lama bagiku. Saat senang itu pula harus berakhir.

“Ina ! Kang Ina !”

Seseorang memanggil namaku. Aku mendengar teriakan namaku itu sangat jelas. Di seberang sana, sahabatku berdiri sambil melambaikan tangannya. Hyomin. Dia adalah saksi dan pendengar setia ceritaku selama ini. Aku berlari kecil ke arahnya. Tatapanku masih fokus pada mantan kekasihku itu. Ya~ namja tadi adalah mantan kekasihku. No Minwoo. Sampai sekarangpun, aku masih mencintainya.

“aaa~~~ BRUKKKKK “

“Aish, appeo~yo!”

“Ina ! Apa kau tidak apa-apa ?”

Aku menengadahkan kepalaku. Dia Hyomin. Mencoba membantuku berdiri, namun PERIH !

Aku merasa perih. Perih dilututku. Aish~ kenapa lututku harus terluka. Dan… darah ini, kau ! Kenapa harus mengeluarkan darah yang banyak. Darah ini tak berhenti mengalir. Sepertinya kecerobohanku amatlah kuat. Karena terlalu fokus pada Minwoo, aku sampai terjatuh begini. Payah !

Aku meringis kesakitan. Aku mengibaskan tangan kananku pada Hyomin. Mengisyaratkannya untuk tidak membantuku berdiri lagi. Karena percuma, sakit sekali rasanya untuk meluruskan kakiku. Lukanya terlalu perih.

“Benturanmu kuat sekali Ina~ya, aku gendong saja, ne ?” tanya Hyomin yang kurasa dia sangat khawatir padaku. Air wajahnya yang tak tenang itu, membuatku ingin tertawa.

“Anio. Tidak perlu merepotkan diri. Bisakah aku meminta tolong padamu ?” pintaku pada Hyomin. Aku tersenyum semanis mungkin padanya.

“Ne, kau tunggu di sini. Tapi, sebaiknya aku membawamu ke sana dulu ya” ucap Hyomin sambil menunjuk sebuah pohon di pinggir lapangan. Pohon mapple. Akupun mengangguk tanda mengiyakan. Kulihat keadaan sekitar hanya menatapku tanpa membantu sedikitpun.

“Kang Ina, berhati-hatilah” teriak Kwangmin yang sedang berada di tengah lapangan sambil memegang bolanya. Ya, aku akui mereka sangat baik padaku. Tak hanya Kwangmin, tapi teman-temanku yang lain.

“Gomawo” teriakku membalas nasehatnya barusan. Tapi… kemana Minwoo. Tadi aku melihatnya di seberang. Entahlah.

“Kajja, biar aku yang menggendongmu ke ruang kesehatan”

Aku menoleh ke belakang. JINJJA ?? Apa aku tak salah lihat ?

“Eo, kau yang akan membawanya Minwoo~ah. Baguslah” ucap Hyomin senang. Dia melihat ke arahku yang masih tampak kebingungan. Untuk apa Minwoo melakukan ini ?

“Ina~ya, kajja” tanpa menunggu aba-aba dariku yang masih terheran-heran ini, Minwoo langsung menggendongku. Kalian tau, saat ini aku sangat senang. Akhirnya aku bisa berada dipunggungnya. Tapi, bukanlah kebahagiaan seperti saat dia menjadi namjachinguku. Dia hanyalah temanku. Teman.

Aku melihat Hyomin yang mengikutiku dan Minwoo dari belakang. Dia terkekeh. Ya ! Sepertinya dia mengejekku.

-ooo-

“Hyomin~ah, bisakah kau ambilkan air untuk membersihkan lukanya. Aku akan mengambil kotak P3K ke dalam”

Minwoo menurunkanku secara perlahan. Mendudukkanku di kursi. Aku mencoba menahan perih lututku. Aku berusaha menahan sakit dengan tak bersuara. Mana mungkin aku merengek kesakitan di depan mantanku sendiri. Malu.

“Ne, Minwoo~ah” Hyomin berlalu meninggalkanku dan Minwoo. Saat ini suasana menjadi canggung. Tak ada kalimat yang keluar dari mulutku. Aku hanya membisu sambil memperhatikan gerak gerik Minwoo yang sedang mencari kotak P3K di dalam (mereka lagi di teras ruang kesehatan sekolah).

Tak lama Hyominpun kembali dengan membawa baskom berisi air dan sebuah handuk kecil berwarna biru. Dia langsung menyelupkan handuk itu ke air dan memerah airnya. Dengan pelan, ia membersihkan darah yang mengalir di lututku. Perih.

“Aii !” spontanku berteriak kecil menahan sakit atas perlakuan Hyomin. Ia juga ikut meringis melihatku menahan perih. Sesekali kakiku terkejut sakit.

“Tahanlah Ina, sebentar lagi” ucap Hyomin seraya tetap mengelap lututku.

“Ne. Apakah lukanya separah itu, Hyomin~a?” tanyaku dengan wajah polosku yang aneh.

“Sepertinya. Mungkin batunya runcing”

Minwoo. Kemana dia ? Kenapa lama sekali hanya mengambil kotak itu ?

“Kemana Minwoo ?” tanya Hyomin menyentakkan lamunanku.

“Tadi dia ke dalam mengambil kotak P3K” jawabku seadanya.

Tak lama setelah itu, namja itupun keluar dengan menenteng sebuah tas kecil. Dan kurasa isinya adalah kotak kesehatan. HAH ! Kenapa hari ini aku harus mengalami kecelakaan memalukan ini.? Merepotkan orang saja. Aih, tapi kenapa Minwoo menolongku ? Biasanya dia tak peduli denganku. Semenjak kami putus, dia sama sekali tak pernah mau menemuiku.

“Selesai” tutur Hyomin lega. Dia tersenyum padaku. Akupun membalasnya.

“Gomawo, Hyomin~a”

“Eum, Ina~ya. Aku tadi disuruh menemui kepala kesiswaan. Tak apakan, aku meninggalkanmu. Sebenarnya aku sudah terlambat” ucap Hyomin dengan menampakkan aura bersalahnya.

“A~ ne. Gwenchana Hyomin~a. Gomawo sudah membantuku. Untuk membalut lukanya, aku bisa lakukan sendiri”

“Nde. Baiklah. Kau memang harus seperti itu. Jika luka, tidak boleh cengeng, hahaha”

Hyomin tertawa mengejekku. Aish~kenapa dia mengatakan itu di depan Minwoo. Membuatku malu saja. Sana, pergilah.

Hyomin pun pergi meninggalkanku dan Minwoo. Masih kudengar tawanya yang menggelegar itu terdengar lenyap seketika.

“Eung… Aku bisa melakukannya sendiri Minwoo~ssi”

Aku memandangi Minwoo yang masih tersenyum melihatku dan Hyomin tadi. Ya, kukira dia pasti ikut mengejekku saat dibelakangku tadi. Mereka sama-sama menyebalkan.

Minwoo lalu berjongkok di depanku. Tepatnya, matanya itu menjurus pada lututku yang terluka. Dia kelihatan tersenyum melihat lututku. Ah, sebenarnya apa yang ada dipikirannya, eoh ?

“Kenapa kau tersenyum ? Apakah lututku terlihat seperti Doraemon ?”

“Hahaha, kau ini”

Neo ? dia tertawa. Yaaaa~~ sudah lama aku tak melihatnya tertawa di depanku. Aish, Minwoo, jangan buat aku senang seperti ini. Tak sadarkah kau, aku sangat pilu memendam kisah kita.

“Sini, aku obati lukamu. Jangan bergerak, ne. Jika kau banyak bergerak, akan terasa lebih sakit”

Minwoo menatapku. Ish ! menyebalkan ! Lebih baik aku mengobatinya sendiri saja, daripada harus menanggung beban untuk merasakan degupan jantungku nanti.

“Aku bisa mengobatinya sendiri. Kemarikan kotak itu” aku mengulurkan tangan kananku ke arahnya. Namun, dia malah tak menggubrisnya. Ia malah menepis pelan tanganku.

“Wae ? Aku bukan anak kecil” ucapku kesal.

“Sudahlah. Jika kau sendiri, aku jamin tak akan sembuh lukamu itu”

Aku tersentak. Percaya diri sekali dia. Dia pikir jika dia yang mengobatinya, lukaku akan sembuh dengan sempurna tanpa membekaskan luka apapun ?

Minwoo lalu membuka kotak P3K yang sedari tadi dibawanya. Ia mengambil bethadine dan pembalut luka serta plester. Seperti para penolong kecelakaan kecil, ia mulai menuangkan setetes demi setetes obat luka itu pada lukaku.

“Aiiiii, perih sekali” erangku sambil mengipas lututku dengan tanganku. Kalian tahu, pediiiiiihhh sekali. Aku tak sanggup menahannya.

“Benarkan dugaanku. Untung saja kau diobati olehku. No Minwoo”

AH~ dia benar-benar percaya diri sekali. Tapi…. sikapnya itulah yangs selalu aku rindukan. Mana mungkin tidak, selama hampir 5 bulan bersamanya aku harus menghadapi sifatnya itu. Aigooo, itu membutuhkan kekuatan bathin yang luar biasa, ditambah lagi dengan ketenarannya di sekolah.

“YA ! Kalau saja kau yang merasakan ini, pasti kau juga akan kesakitan”

“Jangan membuat ribut. Ini di sekolah, Kang Ina “ ucapnya enteng dengan penekanan pada sebutan namaku.

“Ne, ne..”

Sesaat kemudian, suasana hening. Tak ada respon apapun yang keluar dari mulutku walaupun sebenarnya aku merasa sakit yang luar biasa.

“Minwoo~ah, sebenarnya itu obat apa, eoh ? Kenapa pedihnya tidak juga hilang?” tanyaku padanya yang saat ini sudah duduk di sampingku dengan masih membawa kotak obat itu.

Minwoo menoleh ke arahku. Melihat lututku yang sudah terbalut karena kebaikannya.

“Obat China. Tahanlah sedikit. Memang obat China itu lebih memiliki kemampuan handal dibanding obat luka biasa” jelasnya padaku. Sedetik kemudian, ia meninggalkanku masuk ke dalam. Dia mengembalikan peralatan kesehatan yang dibawanya tadi.

“Jika kau masih menjadi namjaku, sakit ini tak akan terasa begitu menyiksaku” gumamku lirih.

Aku mencoba berdiri. Tapi, AH ! masih sakit. Ya Tuhan, kenapa lukanya separah ini. Aku malah terduduk lagi.

“Ya ! Sampai kapan aku tak bisa berjalan, eoh !!!” teriakku pada lututku sendiri.

“Kau mau ke kelas, Ina ?”

Minwoo mengagetkanku.

“Ne. Tapi…” aku melihat lututku.

“Biar aku yang membantumu ke kelas”

“Tapi, aku sudah merepotkanmu Minwoo~ssi” sergahku seraya menatapnya.

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Panggil aku seperti biasa”

Minwoo mengacak rambutku pelan diselingi senyumannya yang khas yang sudah sekian bulan tidak aku lihat. Ne, walau aku melihatnya dari jauh.

“Baiklah,…Oppa” ucapku ragu.

“Kang Ina, apa kau masih mencintaiku?”

MWO ????? APA ???? Apa yang baru saja aku dengar ?? Tuhan, jika lututku sudah luka, jangan buat telingaku rusak juga, eoh ? Cukup sudah penderitaanku selama ini.

“Ka—kau mengatakan apa ?” tanyaku memastikan. Dia melihat ekspresi kagetku. Jelas saja, bagaimana tidak mataku membulat hebat mendengarnya menanyakan…ah, aku bermimpi sepertinya.

“Apa kau masih mencintaiku, Kang Ina ?”

BLUSSS~~ Minwoo menatap dalam manik mataku. Kali ini telingaku benar-benar tidak tuli. Pertanyaan itu memang diucapkannya. Lalu, aku harus menjawab apa ? Tapi, aku memang masih mencintainya. Masih. Sangat besar.

“Untuk apa Oppa menanyakan itu?”

Aku tidak peduli lagi dengan lukaku. Saat ini, sakit perih itu tak kurasakan sama sekali.aku terlalu fokus pada Minwoo. Mantan kekasihku.

“Tidak bolehkah?”

“Ani. Bukan itu maksudku. Tapiii…” aku menggantungkan kalimatku. Sejujurnya aku tak tau untuk melanjutkan kalimat ini kemana lagi.

“Aku tau, waktu itu kau terpaksa melakukannya. Aku juga tahu, jika kau disuruh oleh Appa. Kenapa kau mau melakukan itu semua, eoh?”

Minwoo menatapku penuh sendu. Aku tak tahu harus mengartikan tatapannya itu seperti apa. Tapi, dari manik mataku, dari kornea mataku, aku menangkap sesuatu. SEDIH dan KASIHAN padaku.

“Aku melakukannya karena Oppa. Aku tahu, Oppa tak pernah mau untuk meneruskan sekolah ke London. Maka dari itu, aku memutuskan hubungan kita dan mengikuti kemauan beliau. Setidaknya, walaupun kita berpisah, aku masih bisa melihat Oppa bahagia, tertawa, tersenyum. Meskipun bukan di dekatku”

“Bahagia ? Heh~ kau pikir aku bahagia dengan ini semua? Kau salah”

Minwoo memalingkan wajahnya dari pandanganku. Benarkah ? benarkah dia merasa jika dia tidak bahagia ? Lalu apa ? Apa ? Apa keputusanku salah ? Padahal, aku melakukan itu hanya untuk dia. Kau, Minwoo.

“Mianhae, aku pikir ka~~”

“Aku menderita !” elaknya memotong ucapanku.

Aku terkejut. Menderita ?

“Maksud Oppa ?”

“Ya ! Kang Ina, semenjak itu. Aku tak tahu harus bagaimana. Menyerah. Bukan bahagia yang aku dapatkan, tapi sakit, sepi, menderita karenamu” jelas Minwoo sendu.

Minwoo~ya. Oppa. Apakah itu benar ? Sebegitu berartikah aku untukmu ? aku kira, kau tak akan menganggapku special di hidupmu. Aku hanyalah yeoja sederhana tanpa kekayaan apapun. Seharusnya kau tidak seperti itu.

“Mianhae, Oppa. Aku tidak bermaksud seperti itu. Justru aku ingin kau lebih bebas dan bahagia tanpaku. Maaf, jika keputusanku salah”

Aku tertunduk. Kali ini rasa bersalah bersarang di benakku. Keputusan yang aku kira benar, ternyata benar-benar salah. Aku telah membuat seseorang yang aku sayang menderita karena ulahku sendiri. Pabo !

“Ne, tak apa. Kita jalani saja semua ini. Aku tidak mau kau disakiti lagi oleh Appa. Semoga saja, suatu saat nanti kita bisa seperti dulu. Saranghae, Ina~ya”

“Nado Saranghae, Oppa”

“Kajja, kita ke kelas. Jangan sampai songsaenim memarahimu karena masuk terlambat”

Minwoo berdiri dan tersenyum padaku. Akupun membalas senyumnya. Tak ada yang berbeda darinya yang dulu dengan yang kini. Walau yang dulu itu hanya waktu beberapa bulan lalu. Tapi, periode waktu itu sudah berhasil membuatku merasa tersiksa sendiri. Mianhae, Oppa.

“Ne. Bolehkan, sekali saja, Oppa menggendongku lagi” pintaku memelas padanya. Mataku mengerjap dengan cepat.

“Ne, kemari. Naik ke punggungku”

“Gomawo, Oppa. Kau baik sekali”

“Oppa memang baik, hehehe” Minwoo terkekeh. Kemudian akupun ikut tergelak dibuatnya.

Tuhan.. kecelakaan ini. Terimakasih. Jika kau tidak membuatku seperti ini, mungkin aku tidak akan tahu bagaimana aku dan Minwoo meneruskan kehidupan kami. Terimakasih Tuhan, kau pernah memberiku seseorang yang sangat aku cintai hingga kini, dan kuharap selamanya. Aku mohon, satukan kami suatu saat nanti. Saat dimana, kami berhenti melabuhkan hati kami pada orang yang memang tepat. Saranghae, Minwoo Oppa. Kang Ina.

THE END –ooo

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] My Ex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: