[FANFICT/FREELANCE] Rainbow for You – Chapter 01

Title 
: Rainbow for You – Chapter 0
Author : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Kwangmin

~ Gongchan (B1A4)

  ~ Jung Yeong In

Lenght : Treeshoot🙂
Warning ! banyak mengandung typo dimana-mana, harap maklum ya. Maaf yang kena tag sembarangan, heheh

-888-

Myujin’s POV

Aku berjalan menyusuri daerah yang sangat ramai. Di sini, semua orang pasti akan merasa tidak nyaman sama sekali. Pasar ! Itulah yang ternama tempat ini. Setiap hari aku hanya akan melihat pemandangan yang amat kusut di mataku. Bau-bau tajam yang selalu menusuk penciuman. Sangat tidak betah sebenarnya aku harus tinggal di sini.

Aku berhenti dengan rasa yang amat lega. Ku rebahkan tubuhku di atas tikar tempat tinggalku. Dari pasar yang aku lewati tadi, hanya butuh waktu 5 menit untuk bisa sampai di rumah sederhanaku ini. Rumah yang sudah tak layak pakai lagi sebenarnya. Tapi, bagaimana lagi ? Hanya tempat inilah yang aku punya untuk berteduh.

“Chagi, sudah pulang ya ?” tanya seorang yang sudah hidup menanggung nasib denganku. IBU.

“Ehm, baru saja Bu. Apa Ibu sudah makan?” Aku memposisikan tubuhku duduk bersila menghadap ke arahnya yang saat ini sudah terduduk sambil menyiapkan selimut dan bantal untuk dia beristirahat.

“Sudah. Apa kau sudah makan ? Kalau belum, itu masih ada sisa Ibu tadi. Habiskanlah” Ibu tersenyum. Wajahnya yang mulai keriput itu nampak sangat kelelahan. Kasihan sekali Ibu.

Aku lantas berdiri dan mengambil tasku.

“Ibu, makanannya untuk makan malam Ibu saja. Aku harus ke toko kue” ucapku sambil mencari baju putihku.

“Kau baru pulang, sekarang malah pergi lagi. Pasti lelah” Ibu mendongakkan kepalanya. Sekilas ia menatapku.

“Tenang saja. Aku pasti kuat kok Bu. Aku pergi”

Aku beranjak dari tempat itu. Lalu berjalan keluar. Ha~h. Lagi-lagi aku harus bertaruh dengan teriknya sinar matahari. Tapi, demi Ibu aku tak akan mengenal lelah. Sudah cukup ia mengandungku selama 9 bulan dengan penderitaan yang amat sakit.

-888-

Aku sudah berganti seragam. Sekarang adalah jadwalku bekerja. Sehabis pulang sekolah, aku pasti ke toko ini untuk bekerja. Demi hidupku dan ibu.

“Myujin~ah, tolong antarkan kue ulang tahun ini ke kompleks Sunyeonggi. Tapi, motor toko sedang dibawa Gongchan, jadi kau berjalan saja, ne” perintah bosku yang sudah menyodorkan bingkisan cantik yang isinya kue ulang tahun.

“Ne, sajangnim. Lagi pula tidak terlalu jauh” Aku tersenyum padanya sembari mengambil bingkisan itu.

Aku baru saja keluar dari toko. Kulangkahkan kakiku menuju tempat yang tertera di secarik kertas yang ada di genggamanku saat ini. Blok E Nomor 17 Jo’s family. Itulah alamat yang tertulis di kertas ini.

Tak begitu lama, akupun sudah berada tepat di depan pagar rumah seseorang. Rumah yang cukup besar menurutku. Kuperhatikan keadaan sekitar rumah. Kelihatan sepi. Aku mencoba menekan bel beberapa kali. Tapi, tak ada respon apa-apa.

“Dari toko Wooli, ne ?” seseorang mengejutkanku begitu saja. Sontak aku menoleh dan sedikit memundurkan satu langkah dari tempat ku berdiri. Seorang namja tampan.

“Ne. Apa kau pemilik rumah ini ?” tanyaku yang sebelumnya ku awali dengan senyuman.

“Ne. Aku anak dari pemilik rumah ini. Gomawo, ne. Biar aku saja yang membawanya” dia mengambil bingkisan yang ku pegang dengan lembut. Sebelum meninggalkanku, ia mengulas senyumnya. Aigoooo.. senyumnya manis sekali.

“A~ permisi. Semoga suka dengan kuenya” aku membungkukkan badanku sedikit, ia hanya mengangguk tanda membalikkan salamku. Lalu memasuki pelataran rumahnya. Hem, semoga aku bisa bertemu dengannya lagi. Dia sangat ramah.

Myujin’s POV end

-888-

Myujin terduduk di salah satu kursi toko yang terletak di dekat jendela toko. Ia memandangi triliunan air hujan yang mengguyur kota. Cuaca seperti ini membuatnya terus memikirkan keadaan Ibunya. Bagaimana tidak ? Biasanya jika sudah hujan, air bisa saja membanjiri tempat tinggalnya. Dan ia yakin, saat ini Ibunya sedang kewalahan menanggulanginya.

Huufff… Hela nafas panjang Myujin yang bisa didengar oleh rekan kerjanya –Gongchan-. Ia masih saja betah dengan posisinya. Keadaan kota saat ini, membuat toko menjadi sepi. Sekian detik, ia telah sukses melamuni sesuatu. Entah apa itu. Sampai-sampai ia tak menyadari bahwa sejak tadi ada sepasang mata tengah menatapnya tepat di hadapannya. Duduk manis di depan Myujin.

“Eoh, Gongchan~ssi !” Myujin sedikit terhenyak ketika sadar telah merasuki tubuhnya.

“Kau kaget eoh ?? hahaha, mianhae” kekeh Gongchan sambil mengacak rambut Myujin. Myujin hanya tersenyum simpul.

“Gwenchana. Gongchan~ssi, setelah lulus nanti kau ingin kuliah ?” tanya yeoja berambut panjang yang terlihat manis itu.

“Eum, entahlah. Tapi, ayah selalu menghubungiku dan memintaku untuk berkuliah di tempatnya kini” Gongchan memandang jauh ke depan. Seperti memikirkan sesuatu yang nampak sulit untuk dikerjakan. Wajahnya yang tampan itu, terlihat kebingungan.

“Pergilah. Itu juga demi masa depanmu” ucap Myujin yang kini menampakkan aura sendunya. Terlihat jelas kesedihan itu bercampur dengan kegalauannya. Tentu saja. Sahabat baiknya itu akan pergi jauh meninggalkannya. Tak akan ada lagi yang bisa menjaganya dan ibunya. Walaupun begitu, Myujin tidak bisa melarangnya karena Gongchan hanyalah sahabatnya, bukan kakak kandungnya.

Gongchan tersentak. Ia memandang wajah Myujin. Sedangkan si pemiliknya malah menunduk lesu. Ia tau, Myujin sangat sedih jika ia pergi nantinya. Sudah jelas-jelas hanya ia namja pelindung keluarga Myujin.

“Lalu kau bagaimana, Myujin~ah ?”

“Aku ? Tentu saja, tak akan ada harapan untukku meneruskan semuanya. Aku hanya akan bekerja untuk ibu. Sudah cukup untukku kehilangan ayah”

Gongchan terdiam. Bukan karena mengerti. Tapi karena ia merasa miris dengan pernyataan sahabatnya itu. Ia ingin sekali membantu, tapi ia juga kesulitan tentang urusan ekonomi. Seandainya ia adalah orang kaya, pasti ia akan membantu Myujin. Itulah pemikirannya.

-888-

Kwangmin’s POV

Malam menyelimuti kota Seoul. Aku berjalan-jalan sebentar sebelum ku sudahi kepenatanku. Dengan payung yang meneduhkanku, aku merasakan hawa yang amat dingin. Jelas saja, karena hujan masih mengguyur kota, walaupun tersisa gerimis-gerimis saja. Bagi semua orang lebih baik membawa kendaraan bukan, tapi aku malah berjalan kaki di tengah gerimis yang mengundang ini.

Aku mengedarkan mataku melihat bangunan-bangunan yang cukup tinggi di sebelah kananku. Melihat banyaknya nama-nama toko yang unik. Ah ! Bahkan tempatnya pun unik sekali. Bervariasi.

HATCIM !!!!

Aku mendengar seseorang yang bersin. Rasanya tidak jauh dari tempatku berjalan. Saat aku melihat ke depan, tepatnya di sebuah toko kue yang sudah menjadi langgananku. Seorang yeoja sedang berdiri sambil mengelus-elus kedua lengannya. Dia juga tidak memakai sweater atau jaket. AH , pokoknya sangat kedinginan pastinya yeoja itu, sampai-sampai bersinnya pun berulang-ulang.

“Kenapa belum pulang, noona ?” tanyaku ketika aku tiba tepat di dekatnya. Ia pun menolehkan pandangannya yang sempat tertunduk. Ya ! Diakan yeoja yang tadi sore mengantarkan kue ke rumahku. Kenapa malam-malam masih di sini ? Inikan sudah jam 8. Sangat tidak baik yeoja berkeliaran sendirian.

“Ah, aku menunggu hujan berhenti. Kau yang tadi sore kan ?” ia menebar senyum padaku. Bibirnya terlihat pucat. Pasti dia sangat kedinginan sekali.

“Ne. Kau pucat sekali noona” ucapku sedikit khawatir. Tanpa basa basi, aku langsung melepas jaket yang kupakai. Lalu kuberikan padanya, tapi ia malah terdiam tanpa mengambil jaketku.

“Anio. Tidak usah. Kau saja yang memakainya. Oh iya, jangan panggil aku noona, aku masih sekolah” dia mendorong tanganku yang berisi jaketku. Masih sekolah ? berarti sama denganku.

“Besokkan masih sekolah, nanti kau sakit. Sini biar aku yang memakaikannya” Tanpa meminta jawabannya, aku langsung saja memakaikan jaketku padanya. Akhirnya ia hanya menurut saja. Baguslah.

“Kwangmin imnida. Namamu siapa ?” tanyaku sambil tersenyum sebagai perwakilan perkenalanku dengannya.

“Oh, Kwangmin. Aku Myujin. Terimakasih ne”

“Untuk apa, Myujin ?”

“Jaketmu. Ah, sudah reda, aku pulang duluan ne” Dia hendak meninggalkanku. Tapi, malam seperti ini mana mungkin aku membiarkannya pulang sendiri. Baiklah akan aku antar dia pulang.

“Myujin~ah ! Biar ku antar ya, tidak baik kau pulang sendiri”

Myujin terlihat berpikir. Seketika ia langsung mengangguk tanda setuju. Akupun merasa senang sekali. Entah kenapa bisa seperti ini. Ah, aku kan memang senang menolong orang lain.

-888-

Aku berjalan berdampingan dengan Myujin. Saat ini suasananya malah menjadi sunyi, bukan sunyi karena keadaan sekitar, tapi karena dari awal berjalan tadi kami tak saling bicara sekalipun. Daripada seperti ini terus, lebih baik aku yang memulai duluan. Bukankah lebih bagus kalau seorang namja yang mendahului.

Ku tatap wajahnya. Terlihat letih. Memangnya dia darimana sampai seletih itu.

“Myujin~ah, kau sekolah dimana ?” tanyaku. Dasar pertanyaan basi.

“Aku di Seoul Music High School. Kau dimana Kwangmin~ssi ?” tanyanya balik tanpa melihat ke arahku. Dia terlalu fokus dengan jalanan di depannya.

“Aku di Kirin Art. Aku kelas 3, kau ?” Aishhhh, pertanyaan yang sungguh membosankan.

“Mwo ? Sama. Aku juga kelas 3, dan tinggal menunggu waktu ujian tiba” kali ini dia melihat ke arahku. Kelihatannya ia sudah mulai nyaman denganku.

“Eum, kau pemilik toko kue itu ya ?”

“Hehe, bukan. Aku bekerja di sana”

“Bekerja ???”

“Ne. Aku tak punya banyak waktu sepertimu. Itu semua demi ibuku. Setelah aku lulus nanti, kami harus pergi ke China. Makanya aku mengumpulkan uang dari sekarang. Ah, mianhae aku malah cerita ini”

Tiba-tiba dia menutup mulutnya. Aku semakin ingin tau banyak tentang dia. Untuk apa dia bekerja ? Memangnya ayahnya kemana ? sampai-sampai ia yang harus bertaruh waktu hingga semalam ini.

“Tak apa. Ceritakan saja. Memang ayahmu kemana ? Kenapa kau yang bekerja ?” tanyaku bertubi-tubi. Namun, pertanyaanku dibalasnya dengan sebuah senyuman manis darinya.

“Ayahku sudah ke Surga lebih dulu. Ibuku sudah mulai melemah, jadi tinggal akulah tulang punggungnya. Lagi pula dengan seperti ini, aku menjadi lebih mandiri”

Wah. Ucapannya itu membuatku penasaran. Penasaran untuk lebih mendalami kehidupannya. Baru kali ini, aku menemukan yeoja pekerja keras hanya demi ibunya. Aku akan menjadi temannya. Aku akan selalu menemaninya. Walaupun dari kejauhan, aku harus bisa. Dia membuatku ingin selalu memperhatikannya.

“Aku jadi ingin lebih dekat denganmu” gumamku.

“Eoh, apa yang kau katakan kwangmin~ssi, aku tak dengar”

“Ah, anio. Bukan apa-apa. Hanya kagum saja denganmu”

-888

Aku dan Myujin berhenti di pelataran sebuah rumah sederhana, ah bukan sederhana, melainkan sudah tak layak lagi untuk di tempati. Mungkinkah ini rumahnya ? Kasihan sekali ia harus tinggal di tempat seperti ini. Lihatlah ! Air hujan membanjiri sebagian isi di dalam. Ah, Myujin sangat menderita. Pantas saja ia harus pergi ke China.

“Gomawo, Kwangmin~ssi sudah mengantarkan aku pulang” ucapnya seraya melepaskan jaket yang aku pinjamkan. Namun, aku langsung mendorong tangannya yang memegang jaket ketika hendak mengembalikan padaku.

“Ambil saja. Anggap saja itu tanda persahabatan kita. Kau mau kan menjadi temanku?” kulihat Myujin mendadak kaget atas tawaranku. Seperti itu, membuatnya kelihatan lebih cantik. Hahaha, Kwangmin pabo !

“Jinja ? tap, tapi kau akan kedinginan pulang nanti. Sudahlah tak apa. Inikan punyamu. Bersahabat tidak harus dengan simbol benda kan ? Cukup dengan ketulusan saja itu sudah cukup”

Kata-katanya—- Apapun yang ia ucapkan, kenapa membuatku semakin tertarik padanya. Beruntung sekali jika memiliki kekasih seperti ini. YAK ! Memikirkan apa aku ini ??

“Kwangmin~ssi, kenapa melamun ?” Myujin mengibaskan tangannya di depan wajahku. Akupun akhirnya sadar juga.

“Ah, e.. Tidak apa-apa ambillah. Gomawo ne sudah mau menerimaku menjadi temanmu. Kalau begitu, aku pulang dulu. Salam pada Ibumu, ne. Ppay..”

Kwangmin’s POV end

-888-

Myujin’s POV

“Ah, e.. Tidak apa-apa ambillah. Gomawo ne sudah mau menerimaku menjadi temanmu. Kalau begitu, aku pulang dulu. Salam pada Ibumu, ne. Ppay..”

Aku terdiam menatapnya. Matanya dan sikapnya menunjukkan jika ia sangat ingin menjadi temanku. Mimpi apa aku tadi malam sampai aku harus bertemu namja baik seperti Kwangmin. Aku masih memandanginya di tengah gelapnya malam. Tubuh itu, lama kelamaan lenyap begitu saja. Saat menyadari Kwangmin sudah menjauh pergi, aku langsung masuk ke dalam rumahku.

“Ibu.. Ibu dimana ?” Aku melenggang mencari sosok Ibuku. Ke kamar, tidak ada. Ke kamar mandi, nihil. Lalu dia kemana ?

Aku terkesiap ketika melihat pintu belakang terbuka tiba-tiba. Muncullah sosok ibuku dari ambang pintu. Baguslah…. ibu ada. Aku kira ia sudah pergi entah kemana.

“Ibu kemana saja ?” tanyaku seraya menghampirinya yang tengah mengatupkan payung.

“Ibu membeli buku tulis untukmu. Aku lihat, bukumu tinggal 2 halaman lagi yang masih kosong. Jadi, daripada besok kau sibuk, lebih baik Ibu membelinya saja”

“Ige..” Ibu menyodorkan sebuah kantong plastik yang sudah ku duga pasti itu adalah buku yang ibu maksud.

Aku tak kuasa meneteskan air mataku. Melihat Ibu yang rela hujan-hujanan membelikanku buku, sedangkan aku sama sekali tak membawa apa-apa seusai bekerja. Aku sangat beruntung memiliki ibu seperti dia. Terimakasih Bu.

“Kenapa kau menangis Myujin~ah?” Tiba-tiba suara seorang namja yang sangat familiar di telingaku menyembul di sampingku.

“Gongchan~ssi ?” aku menyeka air mataku. Kulihat namja itu sedang tersenyum melihatku.

“Nah… Gongchan, kajja makan bersama kami” titah Ibu sambil berjalan ke arah meja makan. Ya, meja makan mungil yang dibuat oleh Ibu sendiri.

“Baiklah. Myujin, aku juga membawa gingseng hangat. Kajja, kita menyantapnya bersama”

Kami ( Aku, Ibu dan Gongchan ) duduk dengan santai. Menyantap masakan Ibu dan merasakan hangatnya Gingseng yang dibawa Gongchan. Hari ini sangat membuatku senang. Orang yang aku sayangi berkumpul di sini. Belum lagi, tadi Kwangmin sudah menolongku. Sekarang Gongchan juga membuat Ibu tertawa lepas. Dia baik sekali. Leluconnya sangat handal, hingga membuat Ibu letih tertawa. Gomawo Kwangmin dan Gongchan.

-888-

1 bulan berlalu—-

Taman yang sangat ramai. Jelas saja, karena taman ini menjadi tempat favorite para pengunjung di kota. Hari ini, toko sedang libur. Tadi pagi, aku mengajak Ibu untuk berjalan-jalan. Tapi, ia malah tidak mau. Katanya ia ingin mengambil pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga di sebuah rumah orang kaya. Ya sudah, akhirnya aku mengajak Gongchan saja. Sebenarnya, aku ingin bertemu Kwangmin. Berniat untuk membalas jasanya pada sebulan yang lalu itu. Tapi, semenjak malam itu, keesokan harinya aku tidak menemukannya. Aku selalu menunggunya sepulang kerja. Tapi, batang hidungnya sama sekali tak nampak. Apa mungkin ia sibuk dengan sekolahnya ?

Namun, seharusnya aku sadar. Bahwa aku bukanlah orang yang sederajat dengannya. Walaupun semua orang itu sama di hadapan Tuhan. Tapi aku jadi minder sendiri jika mengingat bagaimana bentuk rumah dan penampilannya. Ah , mungkin dia memiliki kekasih. Ya ! mana mungkin namja tampan, ramah dan baik seperti dia tidak mempunyai kekasih.

“Myujin~ah, jangan diam terus. Ayo, kita menangkap kupu-kupu” Gongchan telah memegang 2 alat untuk menangkap kupu-kupu. Sebenarnya aku tidak tertarik sama sekali, tapi kurasa tak apalah.

“ya, Gongchan~ssi aku kan mau menangkap yang hitam, kenapa kau malah yang mendapatkannya,eoh ?” aku sedikit kesal padanya. Sudah jelas-jelas aku memangsa kupu-kupu itu daritadi, tapi ia malah mendapatkannya duluan.

“hahaha, siapa yang duluan dia yang dapat”

BBUKK !!

 

“Aishh, appeo !!” ringisku sambil memegangi pundakku yang tertabrak seseorang. Sakit sekali. Terlalu kencang rasanya kami bertabrakan. Aku membalikkan badanku.

“KAU !!!” ucapku bersamaan dengan namja di depanku. Kwangmin . itulah dia.

“Myujin~ah, mianhaeyo ?”

“Ah~ tidak apa-apa. Sedang apa kau disini ?” tanyanya lagi sambil mengelus-elus lengannya.

“Aku hanya bermain saja. Kau kemana saja, sudah sebulan kita tidak bertemu”

DEG ! DEG ! Mata kami terbenam bersama. Meluncur lama dalam pandangan. Ya. Kenapa dia menatapku seperti itu eoh ? Memangnya ada yang aneh ? Tapi, kenapa manik matanya berbeda. Berbeda dari tatapannya waktu pertama kali aku mengenalnya. Jantungku !!!!! Kumohon jangan copot di sembarang tempat. Sudah cukup cepat ternyata detakan ini.

“Ah, Myujin~ah, mianhae karena tidak menemuimu. Aku terlalu sibuk dengan sekolah”

Hm. Sudah kuduga semua ini ada hubungannya dengan yang namanya pendidikan. Tak apa, karena aku mulai mengerti.

“Ne, tak apa. Apa kau mau bermain denga…”

Belum sempat aku meneruskan ucapanku, seseorang telah berhasil menarik tanganku menjauhi Kwangmin. Yang ada kini, jarak di antara aku dan Kwangmin mulai semakin jauh. Langkah Gongchan –ya, Gongchan yang menariikku- yang cepat itu semakin membuatku susah untuk berhenti tiba-tiba.

“Myujin !!!!” Teriak Kwangmin. Aku masih bisa mendengarnya, walaupun itu terdengar sangat pelan. Aku menoleh ke arahnya. Aku mencoba berhenti. Tapi ketika sukses berhenti, aku malah ditarik lagi oleh Gongchan. Ya ! Dia itu kenapa eoh ?

“Ya !” aku menepis kasar tangan Gongchan yang menggenggam erat lengan kananku.

Aku berhenti, begitupun dengannya.

“Ayo pulang !” teriak Gongchan padaku. Argh, aku semakin tidak mengerti dengan sikapnya.

“Kenapa kau menarikku. Aku kan sedang berbicara dengannya?”

Aku melihat namja ini dengan intens. Raut wajahnya yang tadi berbinar ketika bermain denganku, berubah menjadi murung dan terlihat sedikit emosi.

“Kau tak perlu tau” Gongchan kembali menarik tanganku. Kali ini ia menariknya dengan sedikit lembut. Sebenarnya dia itu kenapa eoh ? Berbeda dari biasanya.

“Aku tak tau maksudmu apa, tapi aku sangat tidak suka kau menarikku dengan paksa seperti tadi. Apalagi aku sedang berbicara dengan orang lain. Kau tidak sopan sama sekali” celotehku sepanjang dia menarikku. Yang ku celotehi malah tak memperdulikan ucapanku. Dia masih saja menarikku. Sampai pada detik berikutnya, ia malah menepis tanganku dengan kasar. Hingga membuatku hampir terjatuh ke rumput hijau taman ini.

“Aww, sakit sekali” rintihku.

“Sakit bukan ?” Gongchan menunjukkan senyum evilnya. Dia ini. Aku sama sekali dibodohi olehnya atau memang tak mengerti ini semua melebihi ketidakmengertinya aku mengenai pelajaran fisika ?

“KAU INI KENAPA EOH ? DIMANA PERASAANMU KETIKA MENGATAKAN ITU ? SEKASAR ITUKAH KAU PADA SEORANG YEOJA ? APAKAH INI SIKAP ASLIMU, HAH ?”

Aku sudah tidak tau lagi harus marah seperti apa, karena ini semua membuat aku menderita. Menarik lenganku seenaknya saja. Membuat bekas merah di lenganku. Dia pikir ini tidak sakit ?

“KALAU IYA KENAPA ? AKU MEMANG SEPERTI INI ? KAU TIDAK SUKA ?”

Gongchan bercakap pinggang. Aku sama sekali tak tau pikirannya saat ini dirasuki setan apa. Tidak biasanya sikapnya sekasar ini. Dia selalu lembut jika denganku. Tapi ????

PLAK !

Sebuah tamparan mendarat mulus  di wajahnya. Aku sudah kehilangan kesabaran. Seperti inikah sikapnya ? kenapa dia itu ?. aku melihatnya berpaling dari tatapanku. Ia memegangi wajahnya yang terkena pukulan keras tanganku. Diam tak bergeming. Membisu. Itulah sikapnya saat ini.

Sssss..sss…ssss…

Seketika aku mendengar suara lari kecil dari arah belakangku. Aku membiarkan suara itu menghampiriku. Aku yakin Kwangmin masih di taman ini, dan kuharap dia akan mengajakku keluar dari genggaman namja aneh dihadapanku saat ini.

BLAM ! Sebuah tangan seseorang berhasil menepuk pundakku. Sontak aku menoleh. Aku bersyukur karena orang itu adalah Kwangmin. Dia kelihatan cemas. Wajahnya. Matanya memandangku sayu.

“Kau tidak apa-apa ?” Tanyanya kemudian.

Aku menunduk, lalu mengangguk. Kenapa saat ini mataku terasa ingin mengeluarkan muara itu. Aku harus menahannya. Kenapa aku merasa takut saat ini. Takut karena peristiwa barusan. Kenapa aku merasa takut dengan Gongchan saat ini. Tapi, terselip juga penyesalan atas pukulan keras di wajah Gongchan tadi. Aku ini kenapa ? Kenapa ketika Kwangmin datang aku merasa ingin sekali berada dalam lindungannya?

Tiba-tiba Kwangmin memegang kedua pundakku. “Aku melihatnya, jadi biarkan aku membawamu dari sini. Kajja” aku mengangkat kepalaku. Kulihat Kwangmin tersenyum padaku. Tapi kesekian detiknya aku menoleh ke arah Gongchan. Apa yang aku lihat ? Dia sedang mengepalkan tangannya. Jangan-jangan.

“Gongchan~ssi, aku pergi dulu, ne. Mianhae atas kekasaranku tadi” aku masih melihat kepalan tangan itu. Ia sama sekali tak menjawab ucapanku. Ia masih memalingkan wajahnya dari arah kami (aku dan Kwangmin )

Aku melenggang pergi dari tempat itu. Menjauhi kekasaran Gongchan, yang sepertinya akan berlanjut jika aku masih terus di sana.

DDUAKKK !!!!!

“YA ! Gongchan~ssi !!!!

Myujin’s POV end

TBC

 

Nah, eottokhae ? Gajekah ? Herankah ? Gak nyambung ?

Mianhae, aku ngetiknya sambil dengar lagu Return – Lee Seung Gi, jadi gak tau gimana hasilnya. Aku langsung posting aja nih, tanpa dibaca lagi.

RCL ne,,, 🙂

This entry was posted by boyfriendindo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: