[FANFICT/FREELANCE] Hate You, Love You – Chapter 07 (END)

Title 
: Hate You, Love You – Chapter 7 (END)
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Donghyun  ~ Jeongmin

  ~ Mari

Support Casts
: Member Boyfriend Lain

Author Note    : Maaf telat update. Akhirnya memutuskan untuk selesai di chapter 7. Terima kasih buat kalian semua yang udah baca HYLY ini. Semoga endingnya nggak mengecewakan. Karena lagi sibuk ngurusin kuliah. Hehehe…

Saya akan menulis lebih baik lagi. Sampai ketemu di fanfiction berikutnya!🙂

CHAPTER 7

~FLASHBACK~

 

“Aku mengatakannya, aku tidak mengatakannya, aku mengatakannya…” Aku mengucapkan kalimat ini berulang-ulang.

Sekolah sudah sepi. Aku masih tinggal di sekolah karena Donghyun memintaku menemaninya. Dia ingin berada di sekolah sedikit lebih lama, karena besok adalah hari kelulusannya.

Sebenarnya aku sudah memutuskan untuk memilih mengatakannya sejak seminggu yang lalu. Tetapi, siang ini aku ragu lagi.

“Mari, tangkap!” seru Donghyun yang baru kembali dari membeli es krim.

Donghyun yang berdiri tiga langkah di belakangku, melemparkan salah satu es krim yang dibelinya. Spontan aku mengangkat kedua tanganku untuk menangkapnya. Untung aku memiliki reflek yang bagus.

“Apa es krim ini terlihat seperti bola? Kenapa tidak sekalian kau lempar dari jarak sepuluh meter saja?” sindirku.

“Aku tahu batas kemampuanmu Mari.”

Kami sedang duduk bersama di pinggir lapangan sambil menikmati es krim.

Hubungan kami selama ini… dekat. Donghyun memperlakukanku dengan sangat baik. Aku sadar aku jatuh cinta padanya sejak kami membersihkan ruang olahraga bersama. Tetapi aku tidak tahu dia memiliki perasaan lebih padaku atau tidak. Awalnya aku merasa tidak harus mengungkapkan perasaanku. Tetapi aku ingin Donghyun mengetahuinya meski mungkin nantinya dia menolakku.

“Hmmm… Oppa!”

“Jangan katakan kau akan memintaku membeli es krim lagi?”

“Kalau aku ingin tambah, aku akan merebut es krim milikmu, daripada lama menunggumu kembali dari kantin.”

“Dasar tukang merebut makanan orang!” Donghyun menjitak kepalaku.

Aku meliriknya sambil memegangi kepalaku yang sakit. “Berikan! Cepat berikan padaku!”

Aku berusaha merebut es krim dari tangan Donghyun.

Donghyun berdiri, sambil mengangkat tangan kanannya. Membuatku kesusahan karena dia lebih tinggi dariku. Aku tidak bisa meraihnya meski sudah melompat. Dia tertawa puas melihatku.

Aku berhenti, lalu berpura-pura menunjukkan ekspresi sedih. Cara itu berhasil membuat Donghyun menyerahkan es krim miliknya padaku.

“Aku serius Oppa.”

“Baiklah, ada apa?”

“Apakah… ada gadis yang kau suka? Kenapa kau lebih sering menghabiskan waktu bersamaku?”

“Kau tahu, kau terlihat kasihan Mari. Aku tidak tega, jadi aku merelakan diri untuk menemanimu.”

“Oppa, kau lebih suka kupukul menggunakan tangan atau kaki?” kataku sambil mengepalkan tangan.

Donghyun tertawa. “Kau ingin mendengar jawaban apa?”

“Hmmm… ya, tidak ada gadis yang kusuka. Aku sering bersamamu karena kau manis dan menyenangkan?”

“Lupakan. Aku tidak akan mengatakannya.”

“Jahat sekali!” Aku merengut.

“Pertanyaan pertama jawabannya rahasia. Pertanyaan kedua, aku sering bersamamu karena dibanding bersama yang lainnya, aku lebih suka menghabiskan waktu denganmu. Kau senang?”

“Meskipun setiap kali bertemu kita sering berdebat tidak jelas?”

“Sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaan.”

Aku tersenyum. Padahal aku ingin sekali melompat-lompat sambil berteriak. Aku senang sekali mendengar kalimat terakhir Donghyun. Mengenai apakah ada gadis yang disukai Donghyun, aku tidak terlalu peduli. Karena itu aku tidak memaksanya menjawab.

Aku berdiri, sementara Donghyun masih duduk. Kukeluarkan amplop dari kantong baju seragamku. Sebuah amplop berwarna coklat yang terlihat lusuh karena kulipat-lipat, agar muat di dalam kantong.

“Oppa, untukmu.” Kuserahkan amplop itu padanya. Hatiku berdebar-debar dan rasanya aku tidak dapat berdiri tegak.

“Apa ini?”

“Jangan dibuka sekarang! Besok, adalah hari kelulusanmu. Setelah membacanya nanti, berikan balasan suratmu padaku besok. Oke?”

Donghyun mengerutkan kening.

“Aku akan menunggunya. Aku pulang Oppa! Sampai jumpa besok.”

Aku bergegas pergi sebelum kakiku bertambah lemas.

Hari terasa cepat berganti ketika kita menunggu sesuatu. Hari ini menjadi bertambah penting bagiku, karena aku menunggu balasan surat yang kuberikan pada Donghyun kemarin. Aku memutuskan menyatakan perasaanku padanya lewat surat. Terlalu sulit rasanya berhadapan langsung dengannya. Aku takut ditertawakan. Dan dia selalu memiliki berjuta-juta cara untuk membuatku kesal. Yang lebih buruk, aku tidak ingin mendengar, jika ternyata Donghyun tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

Aku tidak berani mencari keberadaan Donghyun atau pun menghubunginya. Aku melilih duduk di pinggir lapangan seperti biasa. Menunggu kedatangannya.

***

 

 

 

 

*Donghyun POV*

Usai membaca surat dari Mari, aku tidak berhenti tersenyum. Anak itu mendahuluiku. Membuatku terlihat pengecut karena seharusnya aku dulu yang mengatakan perasaanku padanya.

Manis sekali. Menyatakan perasaannya padaku lewat surat. Tetapi aku menyukainya. Dengan begini aku bisa menyimpan surat itu sebagai bukti.

Aku sudah menulis surat balasan untuk Mari. Pasti menyenangkan melihat ekspresinya langsung hari ini. Membayangkannya saja sudah terasa lucu bagiku.

Mari tak nampak di mana pun sejak pagi. Aku tahu dia ada diantara semua orang yang datang di acara kelulusan hari ini. Mungkin dia merasa malu menunjukkan wajahnya di hadapanku.

“Apa-apaan ini, tidak mengucapkan selamat padaku.”

Aku meninggalkan keramaian untuk mencari Mari. Kutebak, dia berada di lapangan seperti kemarin. Aku tidak sabar segera menemuinya.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada email masuk.

Tidak seperti ketika aku membaca surat dari Mari, membaca email itu membuatku membeku. Semua kesenangan yang kurasakan sebelumnya hilang begitu saja. Isi email itu adalah jadwal kegiatanku selama menjalani trainee.

Aku terdiam lama setelah membacanya. Aku sadar, aku tidak akan bisa menemani Mari seperti dulu. Akulah yang nantinya akan menjadi beban baginya. Dan aku tidak suka membiarkannya menunggu. Menungguku dalam ketidak pastian. Seketika, segalanya berubah di dalam pikiranku.

“Aku pasti hanya akan membuatnya sedih lebih banyak.”

Kulihat dari kejauhan, Mari duduk sendiri di pinggir lapangan. Aku ingin memanggilnya, tetapi tidak kulakukan. Aku ingin memintanya menungguku, tetapi tidak kulakukan. Aku masih membeku di tempat. Memandang punggung mari sambil tersenyum getir.

Mungkin sekarang aku harus mulai belajar memandangnya dari jauh.

Akhirnya, kuputuskan untuk tidak menemuinya. Untuk tidak memberikan surat balasan yang kusiapkan untuknya.

“Lebih baik kau marah dan membenciku Mari. Kalau suatu saat kita bertemu lagi, dan belum ada seseorang di sisimu, aku pasti mengejarmu sekali lagi.”

Aku berbalik, kemudian berjalan pergi meninggalkan sekolah. Tanpa berpamitan padanya.

Surat dari Mari akan kusimpan baik-baik. Agar aku tidak lupa, bahwa aku pernah mengecewakan seseorang dan belum meminta maaf padanya.

~END OF FLASHBACK~

***

Aku tidak mengangkat telepon dari siapapun selama dua hari. Tidak bertemu siapapun, dan tidak melakukan apa pun. Hanya bernapas, makan jika aku merasa hampir pingsan, dan melamun di atas kasur.

Alhasil, Sica datang lagi ke rumahku hari ini. Aku tidak menghubunginya dan memintanya datang.

Sica tidak dapat menghubungiku karena kubiarkan baterai ponselku habis. Katanya, ibu bermimpi buruk tentangku. Jadi Sica datang untuk memastikan keadaanku. Ada-ada saja.

“Sampai kapan kau berniat mengganggu pernapasanku?” tanya Sica sambil membereskan kamarku.

“Jangan berlebihan. Baru dua hari aku tidak mandi.”

“Coba saja berjalan di luar. Bunga-bungamu akan langsung mati. Pantas tidak ada pria yang mendekatimu.”

“Ya! Eonni, kehadiranmu membuatku tambah stress. Pulanglah!”

“Hei, hei, hei… aku ini memikirkan nasib adikku. Berterima kasihlah!”

“Terima kasih. Kau sudah boleh pulang sekarang.” Kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.

Sica duduk di pinggir ranjang, kemudian menyibakkan selimut itu sampai sebatas leherku.

“Donghyun tidak akan datang meski kau melakukan hal seperti ini.”

“Eonni, jangan mulai menceramahiku dan berhenti sok tahu. Memangnya siapa yang mengharapkan kedatangan pria itu?!” Aku tidak ingin menyebut nama Donghyun.

“Tertulis jelas di wajahmu. Anjing tetangga pun bisa membacanya.”

“Eonni! Aku tidak… bukan… tapi—“

“Lihat kan? Kau tidak bisa menyangkalnya. Sekarang, cepat mandi dan cuci pakaian kotormu!” Sica menyentil keras dahiku. Aku pun berteriak kesakitan.

Benar-benar tidak ada gunanya melawan kakak perempuanku itu. Aku tidak protes lagi. Kecuali aku ingin Sica menyiram seember air dingin ke atas tempat tidurku.

Aku bangkit, lalu berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku di kaca. Penampilanku benar-benar tidak keruan. Rambut acak-acakan, kaos kumal bergambar pororo, dan celana olahraga sekolahku dulu.

“Kau memang butuh mandi, Mari,” kataku pada diri sendiri.

***

*Donghyun POV*

Situasi ini membuatku sakit kepala.

Saat berada di atas panggung, semua member bersikap biasa saja padaku. Tetapi, begitu hanya ada kami berenam, mereka akan mulai mendiamkanku lagi. Apa pun yang kukatakan tidak mendapat jawaban. Mereka tidak melibatkanku dalam segala hal yang mereka lakukan dan bicarakan.

Sampai hari ini aku belum menemui Mari. Tidak juga mengirim pesan atau meneleponnya. Bukan karena aku tidak berani. Lebih mudah bicara dengannya saat dia sudah tenang.

Mari sebenarnya orang yang mudah sekali memaafkan kesalahan orang lain. Setelah lewat satu hari, dia tidak lagi mengungkit kesalahanmu. Rasa marahnya mudah teralihkan. Ah, tapi sepertinya dia memperlakukanku berbeda. Buktinya, dia mengingat kesalahanku meski lima tahun berlalu.

“Kalian, berhenti menganggapku tidak ada.” Aku masuk ke kamar di mana semua member sedang berkumpul.

Begitu aku masuk, mereka langsung berpura-pura sibuk. Tidak ada satupun dari mereka yang menjawabku. Bahkan memandangku pun tidak.

“Ya!!”

“Kami belum memaafkanmu, Hyung,” ucap Minwoo tanpa mengalihkan matanya dari layar ponsel.

“Baiklah, baiklah, aku akan menemui Mari sekarang.”

Mereka semua baru mengangkat kepala setelah aku mengucapkan hal itu.

“Keputusan yang bagus Hyung. Kau tidak boleh pulang sebelum Mari memaafkanmu,” kata Jeongmin memberi penekanan pada kata jangan.

“Kirim bukti foto kalian berdua bersama!”

“Aku setuju dengan Minwoo,” tambah Hyunseong. Yang lain ikut mengangguk.

“Oke! Aku pergi.”

Kami hanya ada satu jadwal perform pukul empat nanti. Jadi pagi ini aku bebas. Sudah waktunya mengajak Mari bicara dan menjelaskan semuanya.

Sampai di depan rumah Mari, aku berjalan mondar-mandir sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk meminta maaf. Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu rumahnya.

Baru tiga ketukan, pintu rumah Mari sudah terbuka.

“Cepat sekali kau pulang—“ Mari menatapku dari atas ke bawah, seolah tidak percaya aku yang berdiri di hadapannya sekarang nyata.

Khusus hari ini, aku mengenakan lagi topi pemberian Mari padaku. Seakan menegaskan bahwa aku memang menyebalkan. Aku tahu Mari berusaha keras menahan senyumnya.

“Siapa yang kau tunggu? Sica?”

“Bukan urusanmu! Apa yang kau lakukan di sini?”

“Entahlah. Aku hanya merasa, aku harus datang kemari. Karena seseorang sepertinya akan senang melihat kehadiranku.”

“Kau pikir ini tempat umum yang bisa seenaknya kau kunjungi! Dan siapa seseorang yang kau maksud?”

“Hei, Nona, aku kedinginan di sini. Bisakah kita bicara di dalam?”

“Tidak! Aku tidak mengenalmu.”

Mari berniat menutup pintu, tetapi aku berhasil menghalanginya dengan kakiku.

“Kau yakin tidak ingin menemuiku? Ayo kita bicara.”

“Sama sekali tidak! Aku tidak ingin melihatmu sekarang, besok, dan seterusnya!”

Mari harus dipaksa. Aku pun menariknya keluar. Tidak peduli pada teriakannya. Belum jauh dari rumah, kami bertemu Sica yang terlihat membawa satu plastik besar belanjaan.

“Sica, aku pinjam dulu adikmu!” seruku, hanya berhenti sebentar, kemudian berjalan lagi.

“Hati-hati di jalan.” Sica melambaikan tangan.

“Ya! Kakak macam apa kau! Lepaskan aku, dasar pria aneh!”

Kami tidak pergi jauh. Aku ingat ada sebuah taman bermain di daerah rumah Mari. Aku membawanya ke sana.

Tidak banyak anak yang sedang bermain. Hanya ada dua anak, perempuan dan laki-laki yang sedang saling mengejar.

“Aku akan melaporkanmu karena sudah menculikku!”

“Orang-orang tidak akan memercayaimu, Mari. Bisa-bisa kau yang dituduh menculikku.”

Mari membuang napas kuat-kuat. “Aku membencimu. Aku sangat membencimu. Aku membencimu setengah mati!”

“Apa ini sudah menjadi kebiasaanmu?”

“Apa?” tanyanya galak.

“Mengatakan hal yang tidak sesuai dengan perasaanmu.”

“Pria aneh ini mulai lagi. Astaga, kenapa dulu aku menulis surat cinta padamu? Aku pasti tidak waras.”

“Aku merindukanmu oppa, ayo kita baikan. Katakan saja Mari, aku tidak keberatan mendengarnya.”

“Wow, kau sungguh… aaaaaah, rasanya ingin sekali memukulmu!”

Mari mengangkat tangan, tetapi aku menangkap pergelangan tangannya, kemudian menarik Mari ke dalam pelukanku. Mari tidak memberontak.

“Op-pa, anak-anak itu melihat kita.”

“Aku suka Mari yang seperti ini. Mari yang bisa kuajak bertengkar. Aku lebih memilih kita berdebat terus setiap kali bertemu, daripada tidak bisa bertemu denganmu.”

Aku menyadarinya ketika Mari mengatakan bahwa dia ingin mengundurkan diri sebagai asisten Jeongmin. Aku sadar, Mari membenciku tapi berada di sisiku jauh lebih baik dibandingkan tidak dapat bertemu dia lagi seperti lima tahun ini.

Melihat ada dua orang wanita yang berjalan melewati kami, aku pun melepaskan Mari dari pelukanku.

“Tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Tentang apa?”

“Mungkin berhubungan dengan sebuah surat cinta.”

Mari memutar bola matanya. Pasrah karena tidak dapat berbuat apa-apa agar aku bersedia menjelaskan apa alasanku, kecuali dia yang bertanya lebih dulu.

“Iya, aku memang ingin tahu. Jadi apa alasannya?”

Aku mencubit kedua pipi Mari karena gemas melihat raut kesal di wajahnya.

“Aku tidak memberikannya, bukan karena aku tidak menyukaimu. Kupikir lebih baik begitu. Lebih baik kau marah padaku, karena saat itu aku tahu aku akan sangat sibuk dan tidak memiliki banyak waktu seperti biasanya.”

“Maksudmu mempersiapkan debutmu?”

“Ya… begitulah. Aku ingin kau mendapatkan seseorang yang tidak akan pernah membuatmu sendirian dan membuatmu menunggu.”

Aku merogoh jaket, lalu menyerahkan suratku yang kusimpan selama lima lima tahun kepada Mari.

“Ini, surat yang kutulis untukmu.”

Tidak banyak yang kutulis di dalam selembar kertas itu. Hanya tiga kalimat.

 

Kalau kau bisa menebak isi kotak yang akan kuberikan padamu, maka aku akan menerimamu. Kalau kau gagal, aku akan memikirkan lagi jawaban apa yang harus kuberikan. Jadi, pikirkanlah baik-baik sebelum menebak.

–          D –

“Dasar bodoh. Balasan macam apa ini.”

“Karena aku ingin kau mendengar langsung jawabanku daripada lewat surat.”

“Jadi?”

“Untukmu.” Aku memberikan kotak kecil dengan pita warna hijau.

Di dalamnya terdapat marshmallow, dua batang coklat, dan satu lolipop berukuran sedang. Sama seperti yang kusiapkan dulu.

“Kau ingat permintaan iseng yang kutulis di surat.”

“Aku juga menyukaimu Mari. Bukan Kim Tae Hee, Lee Min Jung, ataupun Ha Ji Won. Tapi kau. Aku benar-benar menyukaimu setengah mati.”

Mari menyunggingkan senyum.

“Terima kasih sudah datang dan menjelaskan semuanya Oppa.”

“Aku tahu ini terlambat. Jadi aku tidak memaksamu untuk menerimaku.”

“Benarkah? Haruskah aku tidak menerimamu Oppa?”

“Sebenarnya, aku sempat berpikir, bahwa akan lebih baik kau bersama Jeongmin.”

“Menyebalkan. Sejak dulu belum berubah. Ayo gendong aku pulang.”

“Apa?”

“Kau menyeretku kemari, ingat? Sebelum aku sempat memakai sandal. Kaki membeku gara-gara kau Oppa”

Aku pun menggendong Mari di belakang. Ternyata dia lebih berat dari yang terlihat.

“Lalu, apa jawabanmu?”

“Kujawab lima tahun lagi.”

“Kau bercanda? Buatkan sarapan untukku sesampainya di rumahmu nanti. Karena harus kemari pagi-pagi, aku belum sempat sarapan.”

“Tidak ada beras. Aku tidak ingin menyambutmu di rumah. Lagipula siapa yang menyuruhmu datang?!”

“Ah ya, Sica akan memasakkannya untukku.”

“Kau pikir itu rumahmu? Turunkan aku sekarang!”

“Jangan banyak bergerak! Kau ini berat Mari!”

Kurasa, kami berdua akan selalu seperti ini. Berdebat lagi, kemudian berbaikan lagi.

Aku teringat untuk mengirimkan foto pada Jeongmin. Kuambil ponsel untuk memotret kami berdua. Karena Mari terus bergerak, foto yang terambil pun malah terlihat seperti kami berdua belum berbaikan. Mari dengan raut wajah kesal bersiap memukulku, sedangkan aku menoleh padanya sambil memelotot.

Ada hubungan yang bisa dimulai lagi meski telah terpisah sekian tahun. Takdir yang menghubungkannya. Sekalipun kita menolak, entah bagaimana caranya, hubungan itu akan bisa terjalin lagi. Seperti hubunganku dengan Mari.

Aku hanya harus menyadari ketika kesempatan kedua itu datang, dan tidak menyia-nyiakannya.

***

*Jeongmin POV*

Dorm ramai oleh suara tawa kami berlima. Sulit sekali berpura-pura memusuhi Donghyun. Setiap kali melihat ekspresinya, kami tidak tahan untuk tertawa. Dia mengira kami semua marah padanya.

Donghyun perlu disadarkan.

Dia pikir kami semua tidak mengetahui perasaannya pada Mari.

Sejak melihat keterkejutan Donghyun saat pertama kali bertemu Mari, aku sudah merasa curiga. Belum lagi melihat sikap mereka satu sama lain. Aku tidak tahan menyaksikan tarik-ulur hubungan mereka berdua. Akhirnya kuputuskan untuk ‘memaksa’ Donghyun dan Mari mengakui perasaan mereka masing-masing.

Member lain tidak tahu bahwa aku akan berpura-pura mendekati Mari. Aku tidak ingin mulut ceroboh Minwoo dan Kwangmin mengacaukan segalanya. Aku baru memberitahu mereka setelah aku menyatakan rasa sukaku pada Mari.

Sebenarnya kami ingin menyatukan mereka berdua di pesta ulang tahun Donghyun. Tetapi Donghyun malah merusak rencana kami.

“Lama sekali. Aku tidak sabar menerima kiriman foto mereka,” kata Minwoo.

“Kau yakin tidak memiliki perasaan apa-apa pada Mari nuna kan, Hyung?” tanya Kwangmin.

“Kau tidak boleh mengganggu hubungan mereka Hyung.” Youngmin ikut mencurigaiku.

“Jangan sampai kau menyesal dan merebut Mari dari Donghyun hyung.” Hyunseong menambahi.

“Apa aku terlihat akan merebut Mari? Kalian semua terlalu banyak menonton drama.”

Mendengar ponselku berbunyi, kami semua langsung beralih melihatnya. Benar saja, itu pesan dari Donghyun yang sudah kami tunggu. Donghyun mengirimkan fotonya bersama Mari, di mana dia sedang menggendong Mari di punggungnya. Spontan kami berlima bersorak setelah melihat pemandangan itu.

“Tugasku selesai. Aaaah, dasar Donghyun hyung. Apa aku harus berbuat begini dulu baru mereka mau mengakui perasaan masing-masing? Untung mereka memercayai aktingku.”

“Ayo kita makan di luar untuk merayakannya!” seru Minwoo.

***

 

EPILOG

“Jeongmin, ayo kita jalan-jalan!”

“Hei, Mari, aku tidak ingin Donghyun hyung mengusirku keluar dari kamar.”

“Maksudku, kita semua ikut pergi. Kalau Donghyun oppa tidak mau, kita tinggalkan saja dia.”

“Apa yang aku tidak mau?”

“Ish, jangan suka muncul tiba-tiba!”

Empat member lain sedang tidak berada di dorm. Mereka tidak mengatakan ke mana mereka pergi. Jeongmin mengirim pesan pada mereka semua.

“Mereka akan menyusul dan menemui kita di sana.”

“Oke! Bagaimana, kau ikut atau tidak Oppa?”

“Ke mana?”

“Jawab saja kau ingin pergi atau tidak?”

“Tidak. Aku mengantuk dan ingin tidur.”

“Baiklah. Kita tidak bisa memaksanya. Tunggu sebentar Mari, aku ambil jaket dulu,” kata Jeongmin.

“Tunggu, kalian hanya pergi berdua?”

“Tidak juga. Mungkin hanya untuk satu jam. Yang lain akan menyusul nanti,” jawab Jeongmin.

“Baik, baik, aku ikut. Tunggu aku ganti pakaian.”

Setelah Donghyun menghilang ke kamar, aku dan Jeongmin tidak tahan untuk mengomentari tingkahnya. Kami berdiri berdampingan, lalu saling melirik.

“Dia menyebalkan, kan?”

“Kau benar. Kapan Donghyun hyung akan berubah?”

Kami berkeliling terlebih dahulu sebelum masuk ke bioskop. Aku membeli bandana bertelinga tikus, lalu memakaikannya di kepala Donghyun. Sungguh, dia terlihat lebih cantik dariku.

“Kenapa aku harus memakai ini?”

“Karena terlihat lucu Oppa. Awas kalau kau melepaskannya!”

Donghyun memang protes, tetapi dia tidak melepaskan bandana itu dari kepalanya. Manis sekali. Dia sangat menyenangkan jika dia tidak mulai mengajakku berdebat.

“Oh, aku meninggalkan dompetku di mobil. Mari, bisa tolong ambilkan untukku?”

“Ah, ya. Di dalam tas?”

“Jangan memerintah Mari seenaknya Jeong.”

“Hyung, Mari masih asisten pribadiku.”

“Itu benar. Tunggu di sini!”

“Sudahlah. Akan kubelikan untukmu.”

“Wah, kau memang yang terbaik Hyung!” Jeongmin memeluk Donghyun.

Film yang ingin kami tonton diputar satu jam lagi. Maka kami segera masuk ke bioskop. Jeongmin yang mengantre tiket, sementara aku dan Donghyun membeli cemilan.

“Aku ingin sandwich dan popcorn ukuran besar. Ah ya, juga cola dengan gelas besar.”

“Perutmu sebesar tong?”

Aku tidak menggubris Donghyun. Menanggapinya sekarang hanya akan menyusahkanku.

Donghyun menengok pesan yang masuk ke ponselnya.

“Jeongmin melakukannya lagi.”

“Ada apa?”

“Kita batal nonton. Jeongmin dalam perjalanan pulang ke dorm sekarang.”

“APA? Anak itu, awas saja nanti!”

“Kenapa kau kesal karena Jeongmin pergi?”

“Bukan gara-gara Jeongmin pergi. Ah, sudahlah!” Aku membatalkan niat untuk marah pada Donghyun karena dua orang di depan kami menoleh ke belakang.

“Ayo pulang.”

“Astaga, kau harus selalu menyebalkan begini? Aku masih ingin nonton film, Oppa.” Kucoba untuk terdengar sedih.

“Kenapa aku harus mengikuti kemauanmu?” tanya Donghyun sambil melipat tangan di depan dada.

“Karena aku menggemaskan?”

Donghyun menggelengkan kepala.

“Ya sudah. Aku bisa nonton sendiri.”

“Aku akan menemanimu kalau kau mengatakan kau menyukaiku.”

“Kenapa aku harus mengikuti kemauanmu?”

“Katakan saja.”

“Tidak akan. Pulanglah!”

“Ayo cepat katakan!”

Mulai lagi. Kami berdua ribut lagi. Tetapi aku menyukai saat-saat seperti ini. Aku lebih suka berdebat setiap hari, daripada tidak bertemu dengan Donghyun.

This entry was posted by boyfriendindo.

17 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Hate You, Love You – Chapter 07 (END)

  1. ahhh, keren.. jdi pengen bnran terjadi deh. sayang’a cuma ff. T.T author pengen bikin ff lain kan?? ditunggu ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: