[FANFICT/FREELANCE] I Don’t Care, Again…! – Chapter 02

Title 
: I Don’t Care, Again…! – Chapter 02
Author : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ No Minwoo

  ~ Jung Yeong In

-ooo-

Before…

BRUUMMM…

 

Kalimat Minwoo terpotong setelah mengetahui mobil guru Uhm melaju keluar dari gerbang sekolah diikuti beberapa anak lain yang mengayuh sepedanya. Namun, yang membuat ia terdiam menatap mereka semua adalah sepeda Yeong In. Kwangmin mendorong sepedanya sendiri dan sepeda Yeong In. Dibelakangnya ada Min Ah dan Jung Ho, teman sekelasnya.

 

Mereka tanpa Yeong In.

 

“Apa yang terjadi dengannya ?” gumamnya lirih.

 

-ooo-

“Apa yang terjadi dengannya ?” gumamnya lirih.

Minwoo yang merasa penasaran dan heran langsung saja berlari ke arah Kwangmin dan kawan-kawannya. Larian kecil dengan suara agak keras itu membuat Kwangmin, Min Ah dan Jung Ho menatap sang si empunya kaki. Aksi berjalan mereka terhenti karena Minwoo menghalangi mereka.

“Minwoo-a, apa yang kau lakukan disini ?” tanya Min Ah merasa terkejut dengan kehadiran Minwoo yang tak diundang itu. Kwangmin dan Jung Ho hanya menatap Minwoo tak mengerti.

Mata Minwoo teralihkan pada sepeda gunung milik Yeong In. Kwangmin yang menyadarinya langsung membuka suara, “Kau tidak tahu, Minwoo ?” tanya Kwangmin. Ia bahkan bingung pada teman satu sekolahnya itu. ‘Minwoo tidak tahu, ‘kah ?’ batinnya.

Minwoo mendongak. Ia menatap mata Kwangmin seakan meminta penjelasan. “Tahu apa ? Apa yang terjadi dengannya ?” Minwoo panik.

Jung Ho yang hanya diam, akhirnya bersuara, “Penyakit Ibunya kambuh, Minwoo-a,”

Minwoo terbelalak, “I… Ibu ?”

Min Ah dan Kwangmin mengangguk pasti. Aura wajah mereka terlihat sedih setelah Jung Ho memberitahunya. Mereka seperti itu karena ikut prihatin pada Yeong In. Semenjak Ibu Yeong In sakit, fisik gadis itu juga ikut melemah. Betapa sayangnya ia pada sang Ibu hingga terlalu memikirkan kesehatan Ibunya tanpa berpikir kesehatannya sendiri. Yeong In memang tak pernah memberitahu teman-temannya, namun semua teman satu organisasinya mencari tahu sendiri mengingat Yeong In sering pingsan saat di sekolah. Itupun tanpa Minwoo tahu. Dan, semua yang mengetahuinya, menyembunyikannya dari Minwoo.

“Temuilah dia Minwoo-a. Kau harus membuatnya tenang,” saran Min Ah sembari menepuk pelan bahu Minwoo. Minwoo hanya terdiam. Mulutnya bungkam.

“Jung Ho-a, temani aku mengantarkan sepeda Yeongie ya,” ucap Kwangmin pada Jung Ho. Lelaki itupun mengiyakannya, “Nde,”

“Mina-a, Minwoo-a, sampai jumpa besok. Kalau begitu, kami duluan ya,” Jung Ho melambaikan tangannya pada dua insan di sampingnya. Ia menyusul Kwangmin yang sudah berjalan lebih dulu.

Kwangmin dan Jung Ho lantas meninggalkan Minwoo bersama Min Ah berdua. Min Ah sedang mananti keputusan Minwoo untuk ikut dengannya atau tidak.

Min Ah kembali menepuk bahu Minwoo. Membuat Minwoo sadar dari pikirannya. “Kau mau ikut, atau tidak ?”

“Kau mau ke rumah sakit ?”

“Iya. Kalau begitu mari berjalan bersama, Minwoo-a,” Min Ah mulai berjalan mendahului Minwoo, sedangkan lelaki itu masih tertinggal di belakangnya. Ada sesuatu yang dipikirkannya.

-ooo-

Udara malam kian menyengat tubuh. Kedua remaja yang sedang berjalan itu, kian mengeratkan jaket bajunya. Min Ah masih terus mendorong sepedanya dengan lamban. Tak ada suara manusia yang menyelimuti mereka, hanya ada hembusan angin yang bersorak gembira. Malam itu.

Min Ah memperhatikan wajah dingin Minwoo. Wajah itu kini kelihatan suram. Sebenarnya ia selalu melihat lelaki itu setiap hari dengan wajah yang sama, angkuh dan dingin. Namun, sesuatu telah menarik perhatian Min Ah. Ada yang mengganjal otaknya untuk bertanya sesuatu pada lelaki itu.

“Minwoo-a,” panggilnya. Membuat sosok di sampingnya menoleh dengan menampakkan wajah tanpa ekspresi.

Mwoya ?”

Min Ah menghela nafas sebal. Ia sangat membenci sifat Minwoo itu.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu,”

“Tanyakanlah,” ucap Minwoo mengalihkan pandangannya dari Min Ah.

“Apa kau mencintai Yeong In ?” Min Ah kembali menatap Minwoo. Sambil menunggu jawaban dari lelaki itu, ia mencoba menelusuri mata Minwoo yang kelam di matanya.

Minwoo tertunduk. Pertanyaan Min Ah membuatnya enggan untuk menjawabnya.

Karena hal itu, melihat reaksi Minwoo, Min Ah hanya tersenyum simpul. Setelah menelaah kedua mata Minwoo, ia tahu bagaimana pandangan sosok Minwoo terhadap sahabat setianya itu.

Min Ah membuka suara lagi. Sepertinya, ia akan menceritakan sesuatu.

“Yeong In bukanlah gadis yang polos seperti yang kau kira, Minwoo-a. Semua yang ada padanya penuh kasih sayang. Hatinya, perasaannya bahkan sifat dan sikapnya. Selama aku mengenalnya, belum ada yang bisa membuat hatinya terisi kecuali denganmu. Walaupun dulu ia benci denganmu–,” Min Ah memutuskan ceritanya. Ia menoleh pada Minwoo.

Mendengar Min Ah berhenti berbicara, Minwoo menoleh pada Min Ah. ‘Akhirnya ia menoleh’ batin Min Ah. “Baguslah, jika kau mendengarkanku,” Min Ah tersenyum.

“Aku akan mendengarkan hingga selesai,” tutur Minwoo bersikap biasa.

“Ia memang pernah membencimu, tapi itu dulu. Saat ia melihat dari segi kebaikanmu, ia tahu jika kau adalah orang yang baik. Mungkin kau tidak pernah sadar jika ia peduli dengan kekuranganmu, Minwoo-a. Ia bahkan rela mengumpulkan uang dengan bekerja paruh waktu hanya untuk membelikanmu kado ulangtahunmu tahun lalu. Ia sempat menyesal karena kado itu bukanlah hal yang kau suka. Saat ia tidak melihatmu memakai jam tangan pemberiannya. Namun, kala itu juga aku berusaha menghiburnya, hingga ia lupa akan jam itu,”

Min Ah menghentikan langkahnya diikuti Minwoo. “Jadi…?” tanya Minwoo sambil mengambil alih sepeda Min Ah.

“Jadilah Minwoo yang dulu, saat kau belum mengenal Hae Na,” Minwoo terkejut. Matanya membola.

“Darimana kau tahu tentang Hae Na ?” tanya Minwoo setengah berteriak. Sebelumnya ia tak pernah mengenal Min Ah dari mantan kekasihnya itu.

Min Ah memasang wajah lebih serius dari beberapa waktu lalu. Ia menatap mata kelam Minwoo dengan lekat. “Berhenti memikirkan Hae Na. Ia tak akan kembali lagi padamu,”

Emosi Minwoo meluap. Ia mencoba sedikit tenang dan sabar. “Darimana kau tahu, Min Ah ?” tatapnya menjurus pada Min Ah.

“Itu semua bukan kesalahanmu, Minwoo-a. HAE NA MENINGGAL KARENA PENYAKITNYA !” teriak Min Ah keras. Ia tak mau bersabar lagi untuk menghadapi Minwoo kali ini. Ia tidak mau melihat Yeong In menjadi gadis yang Minwoo telantarkan seperti Hae Na.

“HENTIKAN OMONG KOSONGMU ! SEBENARNYA SIAPA KAU ? DARIMANA KAU TAHU INI SEMUA ?” teriak Minwoo lantang. Emosinya sudah mencapai persentase seratus persen, atau mungkin lebih.

Min Ah mengatur nafasnya. Mencoba untuk menjawab dengan tenang, “Aku… Saudara tiri Hae Na. Dia adalah keluargaku. Sekarang kau mengerti ?”

Minwoo terbelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Min Ah padanya. Memang Hae Na tak pernah menceritakan tentang Min Ah padanya. Benar saja ia terkejut mendengar penuturan itu. Jika memang benar, ternyata selama ini ia salah memilih kekasih. Tapi, bagaimanapun juga Min Ah bukanlah hal penting untuknya, bagi Minwoo. Walaupun gadis itu adalah saudara tiri Hae Na sekalipun, toh Hae Na sudah tak ada lagi di dunia ini maupun dalam kesehariannya.

“Jangan kau jadikan Yeong In korbanmu lagi. Cukup Hae Na saja, Minwoo-a. Jebal..,”

Minwoo tertunduk dalam. Perkataan Min Ah barusan membuat tulangnya lelah untuk berdiri. Ia mencoba bertahan dengan sekuat hatinya. Berharap ada keajaiban datang menyinari hatinya yang gelap. Walau telah terisi oleh Yeong In, namun hati itu tetap saja gelap dan suram. Sunyi dan tak berwarna. Ia sadar, ia telah memperlakukan Yeong In seperti Hae Na, mantan kekasihnya dulu. Mungkin kini saatnya ia harus kembali pada raga dan batinnya yang dulu. Kembali ke dalam sebuah ruang hidup yang nyata dan bukan hidup yang maya. Yang seperti ia jalani saat ini.

-ooo-

Yeong In’s POV

 

Ibu… Setiap kali seperti ini, kenapa tubuhku selalu lemah ? Aku memang ingin sekali menjaga Ibu, tapi kenapa fisikku seperti ini ? Apa Ayah menurunkannya padaku ? Apa Ayah juga akan selalu seperti ini jika merasa sedih ataupun menderita bahkan sakit ? Sakit di dalam hatinya.

Ingin sekali rasanya aku merawat Ibu. Menemani tidur Ibu yang tak nyenyak itu. Aku ingin menjadi bidadari cantik Ibu saat Ibu sakit ataupun sehat. Aku ingin, Bu. Sampai sekarangpun, aku belum pernah memeluk Ibu. Bangunlah,Bu…

“Ibu…,”

Yeong In’s POV end

 

“Yeongie-a,”

Terdengar sebuah panggilan bersuara kecil memasuki gendang telinga Yeong In. Saat ini ia sedang terduduk lemah di kursi tunggu yang ada di depan kamar Ibunya. Wajahnya terlihat basah penuh dengan air mata yang kian banyak melumuri parasnya. Matanya yang sembab menambah kesan amat menderita dan tak berdaya. Tubuh kurus itu kian rapuh melihat sang Ibu terbaring luwes di atas ranjang kamar.

“Mina-a,” ucapnya parau. Ia melihat seseorang di belakang Min Ah yang sedang tertunduk tak melihatnya. Itu Minwoo.

Yeong In segera bangkit menyambut kedatangan sahabatnya dan Minwoo. Setelah tepat di hadapan Yeong In, gadis bernama Min Ah itu langsung memeluknya erat.

“Jangan menangis lagi, Yeongie-a. Bersabarlah, Ibumu pasti sembuh,” Min Ah mengusap-usapkan punggung lelah Yeong In. Yeong In hanya mengangguk tanda mengerti.

Yeong In melihat Minwoo yang ada di hadapannya dalam jarak yang tidak begitu jauh. Dipandanginya kekasihnya itu dari atas kepala hingga telapak kaki yang dibalut oleh sepatu kets putihnya. Segera saja, mereka melepaskan pelukan mereka.

“Aku mengajak Minwoo ke sini. Tadi dia menyusulmu ke sekolah. Jadi, temuilah dia sekarang. Aku yang akan menemani Ayahmu di sana,” Min Ah mengacak rambut hitam Yeong In. Sedikit membuatnya nyaman.

Yeong In segera menghampiri Minwoo yang saat ini sedang bersandar pada dinding rumah sakit sambil berdiri. Kepalanya tertunduk dengan kedua tangan yang berada dalam saku celana jeansnya.

“Minwoo-a,” panggilnya pelan. Ia ikut bersandar seperti Minwoo. Lelaki itu masih dalam keadaannya yang diam dan tertunduk.

“Apa kau sudah makan ?” tanya Yeong In sambil menatap rambut Minwoo yang tenang tertidur. Ia pasti akan bertanya seperti itu setiap kali berjumpa dengan kekasihnya.

Minwoo menoleh pada Yeong In. Yang ditatap pun mencoba tersenyum seindah mungkin. Dilihatnya kedua mata indah gadis di sampingnya yang nampak sembab dan sedikit membengkak merah. Ada semburat rasa bersalah yang besar mengerumuni hatinya saat itu. ‘Inikah Yeong In-ku ?’ ia bertanya pada hatinya.

“Aku ti-dak naf-su makan,” jawab Minwoo agak ragu. Ia bahkan tak tahu ragu atau takutkah ia menjawabnya.

Yeong In hanya mengangguk menanggapinya. Kemudian matanya melihat sang Ayah yang sedang berbicara dengan Min Ah di kursi yang ia duduki tadi. Ia langsung memalingkan wajah ketika sang Ayah melihat ke arahnya. Ia tak tega melihat kesenduan di wajah Ayahnya.

Minwoo yang menyadarinya, lalu menggenggam telapak tangan kiri Yeong In. Membuat Yeong In terkejut dan memperhatikan genggaman itu. Minwoo langsung menariknya dan mengajak Yeong In untuk pergi dari sana.

“Kita mau kemana ?” tanya Yeong In bingung. “Menghirup udara segar di luar,”

-ooo-

Minwoo dan Yeong In sudah berada di suatu tempat masih dalam lingkungan rumah sakit. Tempat ini adalah taman rumah sakit. Terletak di lantai dasar di sebelah ruang kerja para pegawai rumah sakit di sini. Suasananya tidak terlalu sepi. Ada beberapa orang yang juga duduk di sana. Saat ini, mereka sedang berbaring di rumputan hijau taman. Keduanya menatap langit hitam bertabur bintang tanpa bulan.

“Yeong In-a,” Minwoo menoleh ke arah Yeong In yang sedang memejamkan kedua matanya.

Yeong In langsung membuka matanya, iapun menoleh melihat Minwoo. “Nde,”

Minwoo terdiam sejenak. Ingin sekali ia mengucapkan kalimat maaf pada Yeong In, tapi ia merasa belum tepat. Ia masih merasa tak enak jika keadaannya seperti ini. Karena tak mau terjadi hal yang tak diinginkan, ia pun bertanya hal lain, “Apa… Kau baik-baik saja ?” Minwoo merasa kikuk.

Yeong In tersenyum, lalu menolehkan pandangannya pada langit di atas. “Aku sedang tidak baik-baik saja, No Minwoo,” ia tersenyum lagi.

Minwoo jadi merasa lebih tak enak lagi karena sudah bertanya seperti itu. Tahu jadi seperti ini, lebih baik ia menyatakan perihal semula. Tapi, keduanya terasa tak pantas diucapkan saat ini. Yaah, apa boleh buat. Nasi telah menjadi bubur.

Mianhae..,” sesal Minwoo. Yeong In kembali menoleh. Dilihatnya raut wajah Minwoo penuh rasa salah.

“Jangan mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja. Lihatkan ? Aku masih bisa tersenyum,”

“Tapi senyummu seperti bukan dari hatimu,” komentar Minwoo. Ia lalu bangkit untuk duduk.

Yeong In mengikutinya. Ia duduk bersila.

“Kau berbeda kali ini. Apa terjadi sesuatu ?” tanya Yeong In. Namun, Minwoo tak segera menjawabnya. Ia malah statis pada tatapannya yang tertuju pada langit kelam di atasnya. “Maaf jika aku melakukan kesalahan padamu, Minwoo-a,” suara Yeong In terdengar sendu. Kepalanya tertunduk.

“Jangan pernah meminta maaf lagi padaku, Yeong In-a,”

MWO ?” Yeong In sedikit terkejut. Kepalanya mendongak melihat Minwoo yang sama sekali tak melihatnya.

“Yeong In-a,” Minwoo menoleh dan menatap Yeong In. Ia menyapu bola mata gadis di sampingnya. Mencoba mencari sebuah ketulusan di sana. Dan ternyata…

Yeong In memilikinya.

“Jagalah dirimu baik-baik,” ucap Minwoo terdengar jelas. Sangat jelas. Namun perkataan itu membuat Yeong In merasa terkejut. Gerangan apa Minwoo seperti itu.

“Apa maksudmu, Minwoo-a ?” Yeong In nampak cemas. Bukan cemas karena perasaannya, namun cemas karena sikap Minwoo. Ia sama sekali tak berharap sesuatu yang buruk terjadi padanya dan Minwoo. Ia tidak mau sebuah perpisahan dengan Minwoo dialaminya. Cukup sudah ia dengan kekasihnya yang dulu. Ia tak mau mengulangnya untuk yang kedua kalinya.

Minwoo kembali menatap Yeong In. Dibenaknya saat ini bukanlah gadis itu, melainkan Hae Na. Entah apa yang ia pikirkanpun tak jelas baginya. Kenapa ia memikirkan gadis itu ia juga tak tahu. Namun, satu yang ia rasakan yaitu… ia merindukan Hae Na saat ini. Walaupun perkataan Min Ah masih bersarang di ingatannya, tapi tetap saja ia tak bisa melawan ingatannya tentang Hae Na.

“Kenapa kau diam ?” Yeong In jadi gusar sendiri. Setitik demi setitik tetes air mata turun dari muaranya. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Jujur saja, ia memang tidak mau kehilangan Minwoo. Ia tak pernah berharap. Meski Minwoo tidak peduli dengannya, tapi ia merasa aman dan nyaman bersama lelaki itu.

Minwoo terkesiap saat melihat air mata Yeong In telah jatuh hingga kini telah berada di dagu gadis itu. Gadis itu kini sedang menatap mata Minwoo. Membuat Minwoo bertanya-tanya.

‘Apa yang membuatnya menangis ?’

‘Apa aku salah berbicara ?’

Minwoo segera menghapus air mata itu dengan jari tangannya. Ditepisnya sejenak kerinduannya dengan Hae Na dan mulai memperhatikan kekasihnya. Ada rasa bersalah kembali memenuhi hatinya. Membuat Yeong In menangis bukanlah impiannya, sebenarnya.

“Kenapa kau menangis ?” kali ini Minwoo mencoba bersikap lembut. “Apa aku membuatmu sakit ?”

Air mata Yeong In makin deras membasahi wajahnya. Ia luapkan semua egonya untuk menangis hingga ia sesenggukanpun ia tak peduli. “Uljima..,” ucap Minwoo. Yeong In menengok pada Minwoo. Ia tertegun sementara waktu. Dilihatnya manik mata Minwoo yang juga melihatnya. Ingin sekali ia mengucapkan kalimat itu, tapi entah mengapa tertahan di tenggorokannya.

“Aku bersalah ?” tanya Minwoo lagi. Ia masih menanti apa yang ingin diucapkan Yeong In.

Tiba-tiba isakan tangis Yeong In membuyarkan ketenangan Minwoo. Sampai detik ini ia masih belum mengerti dengan tangisan itu. Melihat Yeong In semakin bersedih, akhirnya dengan segera Minwoo mendekap tubuh kurus itu. Memeluknya dengan tulus.

“Min—Minwoo-a,” ucap Yeong In sesenggukan. “Nde. Katakanlah, Yeongie-a”

Isakan Yeong In mereda dengan lamban, “Jangan pernah meninggalkanku, Minwoo-a,” Minwoo terkesiap. Ia terbungkam.

“Aku tidak mau kau meninggalkanku sendiri. Jebal…,” lanjutnya. Minwoo kian terdiam. Hatinya merasakan sakit. Sakit seperti ia kehilangan Hae Na.

‘Apakah aku begitu berarti untukmu, Yeong In ?’ tanyanya dalam hati.

Minwoo hanya mengeratkan dekapannya pada Yeong In. Ia menepuk-nepuk dengan pelan punggung kekasihnya itu.

‘Yeong In-a, aku akan mencoba mencintaimu,’ Minwoo berkata dalam hati dengan ketulusannya.

“Yeongie-a ! Ibumu !!! “

To Be Continue…

This entry was posted by boyfriendindo.

5 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Don’t Care, Again…! – Chapter 02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: