[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 03

Title 
: Chance – Chapter 03
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : PG – 13
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Sena

Main Casts
: ~ Ji Hoon (Kakak Sena)

  ~ Rin (Lawan Main YoungKwang di Drama)

CHAPTER 3

Rumah sakit adalah salah satu tempat yang paling tidak ingin kudatangi. Aku tidak suka melihat jas putih itu, mencium aroma obat, apalagi berada di dalam salah satu ruangannya. Karena itulah aku memilih menunggu di luar sementara Sena diperiksa. Youngmin dan Rin menemaninya di dalam.

Sena sadar dari pingsannya di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Karena takut terjadi sesuatu, aku memaksa tetap membawanya menemui dokter.

Duduk di kursi bersama orang-orang berwajah cemas membawa memoriku melayang ke hari itu. Saat aku yang baru saja sadar langsung meninggalkan ruangan demi melihat kondisi Sena. Ekspresi cemas yang menggantung di setiap wajah keluarga Sena, aku masih bisa membayangkannya dengan jelas.

“Kata dokter, Sena tidak apa-apa.” Rin keluar menemuiku.

Aku mengintip ke dalam dan kulihat Youngmin memapah Sena.

“Baguslah.”

“Kau sendiri baik-baik saja?”

“Kau mengkhawatirkan orang yang salah Rin. Kurasa, aku sanggup naik dari lantai satu ke lantai lima menggunakan tangga.”

“Rupanya kau bisa bercanda juga.”

Untung saja ada Rin yang mengajakku bicara. Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana menyembunyikan kekhawatiranku di depan Sena dan Youngmin.

“Terima kasih. Maaf atas kejadian tadi, dan maaf sudah merepotkan kalian,” ucap Sena begitu sampai di luar.

“Aku bisa mengantarmu pulang kalau kau tidak keberatan.” Youngmin menawarkan diri.

“Aku sudah menelepon sopir. Kalian bertiga pulanglah lebih dulu.”

“Kau yakin?”

Sena mengangguk. “Jangan khawatir Oppa. Sampai jumpa di lokasi syuting besok.”

Iri sekali melihat Youngmin bisa dengan mudah menunjukkan kekhawatirannya pada Sena. Aku melirik Sena sekali lagi sebelum pergi. Dia baik-baik saja. Itu sudah cukup bagiku.

Kembali ke kamar, aku lagi-lagi tidak bisa memejamkan mata. Mataku menatap lurus ke fotoku bersama Youngmin yang menggantung di dinding. Foto masa kecil. Aku merubah seluruh suasana apartemen termasuk kamarku dan kamar Youngmin. Aku dan Youngmin menempati apartemen ini lagi, setelah dua bulan sebelumnya tinggal di rumah orangtua kami.

Kuhilangkan semua hasil sentuhan tangan Sena pada apartemen kami. Terutama di dalam kamarku. Tidak ada lagi sofa di bawah jendela yang biasa dia duduki ketika membaca komik. Berbagai action figure yang mengisi mejaku pun kusingkirkan. Kuganti warna dindingku yang semula biru menjadi putih. Foto-foto kami berdua yang menghiasi dinding ikut masuk ke dalam kardus yang kusimpan di gudang.

Kalimat yang Sena katakan ketika dia memelukku, menyita seluruh pikiranku. Apa yang Sena minta tidak kulakukan? Kenapa nada suaranya terdengar putus asa dan begitu sedih? Apa yang akan kulakukan seandainya ingatan Sena kembali lebih dulu?

Aku menyentuh dadaku. Jantungku masih berdebar-debar. Padahal itu bukan pertama kalinya Sena memelukku. Kumiringkan tubuhku ke kanan. Memandangi sisi tempat tidur yang sering ditempati Sena.

Setiap kali Sena datang dan aku belum beranjak dari balik selimut, dia akan berbaring di tempat tidurku. Anehnya dia tidak segera membangunkanku. Dia akan menyanyikan lagu apa saja yang terlintas di pikirannya, sampai aku terbangun sendiri. Aku suka berlama-lama memandangi wajahnya yang berbaring di sampingku. Kadang, aku sengaja tetap menutup mata meski sudah bangun. Saat dia mulai mengeluh sambil mengguncang-guncangkan badanku, aku baru membuka mata.

“Kwangmin, kau sudah tidur?” Youngmin mengetuk pintu kamarku.

Aku tidak menyahut. Youngmin mengetuk pintu kamarku sekali lagi. Setelah tidak mendapatkan jawaban, ketukan di pintu kamarku berhenti. Aku sedang tidak ingin membicarakan apa pun.

***

Tidak banyak adegan yang kulakukan hari ini. Setelah adegan lari bersama Rin dari kejaran anjing tadi, syutingku selesai. Sedangkan Youngmin masih memiliki cukup banyak scene. Aku tidak tega meninggalkannya menjalani syuting seorang diri. Alhasil, aku mencari-cari kegiatan untuk mengisi waktu.

Aku mulai dengan melanjutkan game di ponsel, yang belum berhasil kumenangkan. Jangan salah, itu termasuk mengerjakan sesuatu. Sudah seminggu aku memainkan game itu, tetapi belum juga berhasil memenangkannya.

Lokasi syuting hari ini di daerah perumahan elite, yang memiliki taman besar di tengah-tengahnya. Aku pun bisa menyendiri di bawah salah satu pohon yang cukup jauh dari keramaian syuting. Membawa sebotol jus dan dua bungkus cemilan sebagai bekal. Bermaksud bersembunyi, aku duduk membelakangi orang-orang. Tanpa alas apa-apa, aku duduk begitu saja di atas rumput. Kusandarkan tubuhku ke pohon, lalu mulai bermain game.

Aku tidak tahu sudah berapa lama menyendiri di bawah pohon ini. Tetapi rasanya cukup lama, karena jus dan cemilanku telah habis. Aku juga mulai merasa lapar.

“Ya! Mati kau!!” seruku untuk yang kesekian kalinya.

Tidak sampai sepuluh detik, aku menggerutu lagi.

“Bodoh!” seruku sambil membuang ponselku begitu saja ke atas rumput.

Benda kecil itu menjadi pelampiasan kekesalanku. Aku memarahinya seperti mengomeli benda hidup. Setelah puas mengeluh, kuambil lagi ponsel itu untuk melihat jam. Waktu makan siang masih lama. Tetapi perutku sudah tidak sabar minta diisi.

“Aku menemukanmu!” Wajah Rin tiba-tiba muncul dari sisi kiriku.

Kedua mataku melebar karena kaget. Dari mana dia tahu aku di sini? Rasanya aku sudah bersembunyi dengan baik.

“Kikira kau hantu.”

“Tidak mungkin ada hantu secantik aku.”

Rin duduk di sebelahku tanpa merasa canggung sedikit pun. Sifatnya yang mudah merasa akrab pada orang yang baru dikenalnya, mirip sekali dengan Sena.

“Apa yang kau lakukan sendirian di sini?”

“Menyendiri.”

“Ah, jadi aku mengganggumu?”

“Tidak, kalau kau tidak berisik,” kataku berbisik. Rin tersenyum dan balas mengatakan iya tanpa suara.

“Kau sendiri? Bagaimana bisa menemukanku?”

“Hmmm… ada hantu yang memberitahuku.”

“Lucu sekali,” ucapku datar.

Angin menjatuhkan daun-daun kering dari atas pohon. Dua lembar daun jatuh di atas kepala Rin. Dia sibuk mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawanya, sehingga dia tidak menyadarinya. Aku membantunya menyingkirkan daun-daun itu.

Rin menoleh kaget ketika jariku menyentuh puncak kepalanya. Aku tersenyum, lalu menunjukkan dua daun itu padanya. Dia berdeham sambil merapikan rambutnya yang tidak berantakan.

“Apa itu?” tanyaku menunjuk tas yang dibawa Rin.

Rin memberikan segelas kopi dingin dan sebuah kotak makan padaku.

“Aku mencarimu untuk mengantarkan ini.”

Aku membuka kotak makan pemberian Rin. Di dalamnya terdapat kimbap yang sudah terpotong rapi.

“Aku membuatnya sendiri. Maaf kalau rasanya mungkin kurang enak,” jelas Rin malu-malu.

Kuambil satu potong kimbap buatannya, lalu kucicipi. Aku memakannya sambil menunjukkan ekspresi berpikir. Terlihat jelas Rin menungguku mengomentari kimbap buatannya.

“Kau sudah bisa membuka sebuah restoran kimbap,” pujiku. Rin langsung tersenyum lega.

“Aku membuatnya terlalu banyak. Kupikir kau pasti lapar setelah adegan terakhir kita tadi. Jadi aku memberikannya padamu,” jelas Rin panjang-lebar.

“Hebat, kau bisa membaca pikiranku. Terima kasih.”

Kami pun menikmati kimbap itu bersama. Setidaknya perutku tidak akan protes lagi sementara waktu.

Sebelumnya, tidak pernah ada seorang gadis yang memberikan hasil masakannya padaku. Sena? Memasak bukan salah satu keahliannya. Jangankan kimbap, memasak ramen saja dia tidak bisa. Ada saja kecerobohan yang dia lakukan. Karena itulah aku tidak pernah mengizinkannya memasuki dapur. Jika bukan dia yang celaka, maka dapur yang akan berada dalam keadaan buruk.

“Oh, Sena.”

Ucapan Rin membuatku tersedak. Aku hampir menduga Rin benar-benar bisa membaca pikiranku. Ternyata dia menunjuk ke arah wanita yang baru saja datang. Sepertinya aku memang harus menerima kenyataan bahwa aku bukan hanya sedang memimpikan Sena. Tidak bisakah Tuhan memberiku waktu lebih lama? Tiga bulan terlalu singkat untuk mempertemukanku lagi dengannya.

“Ayo kita ke sana!” ajak Rin.

“Untuk apa?”

“Kau tidak mau menemuinya? Kalian berdua terlihat dekat kemarin.”

“Tidak seperti yang kau pikirkan. Baiklah, ayo kembali ke sana setelah menghabiskan kimbap ini.”

Sena yang sekarang bukan milikku. Aku menegaskan kalimat itu berkali-kali pada diriku sendiri. Agar aku tidak lupa dan menganggapnya sebagai perempuan yang kucintai. Sena tidak mengingat perasaannya padaku, dan aku tidak boleh mengingatkannya.

Usai makan, Rin yang entah tidak melihat atau terlalu tergesa-gesa. Tidak sengaja pergelangan kakinya tergores ujung ranting pohon yang tergeletak di dekat tempat kami duduk. Ranting itu menimbulkan goresan panjang. Darah segar mengalir dari luka itu.

“Rin! Kakimu berdarah!”

“Ah, aku ceroboh sekali. Tidak apa-apa Kwangmin.”

“Kau punya saputangan?”

Rin mengeluarkan saputangan dari kantong jaketnya. Kubalut lukanya menggunakan saputangan itu.

“Naiklah, lukamu harus segera diobati.”

Aku berjongkok dan meminta Rin naik ke punggungku. Aku tidak tega membiarkannya berjalan dengan kaki terluka.

“Aku sungguh tidak apa-apa, Kwangmin.”

“Cepatlah. Atau kita tidak berteman lagi. Saputangan itu tidak bisa bertahan lama, Rin.”

“Hei, cara memaksa apa itu? Aku sungguh masih bisa berjalan sendiri.”

“Satu… dua…”

“Oke, oke.”

Rin naik ke punggungku. Aku berlari menuju mobilnya secepat aku bisa.

Asisten pribadi Rin langsung kelabakan mencari kotak perlengkapan obat, ketika kuceritakan apa yang terjadi pada pergelangan kakinya.

“Apa masih banyak scene yang harus kau lakukan?”

“Kwangmin, sikapmu seperti ibuku saja. Jangan khawatir, aku bisa menjalani syuting dengan normal. Luka kecil ini tidak akan menggangguku sedikit pun.”

“Tapi aku merasa bersalah. Gara-gara mengikutiku, kakimu terluka.”

Rin tidak ingin semua orang mengkhawatirkan lukanya. Jadi dia menutup lukanya dengan cepat dan secara sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang melihatnya. Dia memintaku menutup mulut. Aku tidak boleh bicara apa pun jika ada orang yang bertanya. Aku hanya boleh mengatakan bahwa Rin baik-baik saja.

Usai mengatasi luka di kakinya, Rin bersikap normal seolah tidak ada yang terjadi.

Fokus pada luka Rin, membuatku tidak mengingat kehadiran Sena. Dia duduk di antara para kru, sedang menyaksikan akting Youngmin.

“Apakah… kau pernah bertemu Sena sebelumnya?” tanya Rin hati-hati.

“Tidak. Sudah kukatakan itu tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Baiklah, baiklah. Aku cuma ingin tahu. Fans kan, selalu penasaran mengenai kehidupan idolanya.”

“Apa aku perlu memberikan tanda tangan di kausmu?”

Mata Rin langsung berbinar. “Ide bagus!”

Rin meminta asistennya untuk mengambil kaus di dalam mobil. Dia memberikan kaus itu dan memintaku menandatanganinya di bagian bawah.

“Terima kasih. Aku akan memajangnya di kamar.”

Kami berdua saling melempar candaan. Aku sendiri heran mengapa bisa bersikap sesantai ini. Awalnya aku hanya ingin menebus sikap burukku pada Rin semalam. Tetapi ternyata Rin teman mengobrol yang menyenangkan. Aku tidak perlu repot-repot memaksakan diri menanggapi ucapannya, karena dia membuat lawan bicaranya merasa nyaman. Semalam pasti ada yang salah dengan pikiranku.

Sena keluar dari kerumunan para kru, kemudian memandang sekelilingnya. Saat menemukan keberadaanku, dia berhenti mencari. Seolah sejak awal dia memang berniat mencariku. Dia pun berjalan menuju tempatku duduk.

Rok sepanjang lutut dan sweater yang menempel pas di tubuhnya, membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. Penampilannya sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya di persewaan komik. Seperti biasanya juga, dia memakai sepatu kets. Sena tidak suka memakai high heels. Menyusahkan katanya.

Aku tersadar dari lamunan setelah Sena berdiri di depanku.

“Selamat siang. Aku tidak mengganggu kalian kan?”

“Tentu saja tidak. Kami hanya beristirahat,” jawab Rin. “Kau mau duduk?”

“Aku ingin meminjam Kwangmin. Apa mungkin kau bisa menemaniku membeli makan siang?”

“Aku?”

Bodoh. Kenapa aku terlihat begitu terkejut.

“Sebenarnya aku ingin mengajak Youngmin oppa. Tapi dia belum selesai. Jadi, apa kau keberatan?”

Aku akan menolak, tetapi Rin mendahuluiku.

“Pergilah. Bukannya kau kelaparan?”

Karena Rin sudah berkata seperti itu, aku tidak bisa menolak Sena. “Kau mau kubelikan sesuatu? Anggap saja sebagai pengganti kimbap tadi.”

Rin tertawa. “Gantinya tidak bisa kau beli di mana pun. Sudah, pergilah temani Sena.”

Aku hampir menggandeng tangan Sena. Untungnya aku cepat tersadar. Bisa-bisanya kebiasaan itu teringat sekarang. Dalam hati aku mengutuki sikap bodohku itu.

***

Sena tidak bisa diam sepanjang perjalanan. Dia terus mengoceh, membandingkan satu makanan dengan makanan lain. Ternyata amnesia tidak merubah sifat aslinya. Tidak semua yang dia katakan kutanggapi. Aku lebih suka diam mengamati gerak-geriknya. Ada kesenangan tersendiri memperhatikan Sena yang kebingungan.

“Akan lebih mudah jika kita menggunakan jasa delivery.”

“Aku tidak suka menunggu makanan yang diantar.”

Sena akhirnya memutuskan memilih bento sebagai menu yang akan dia beli.

Sopir Sena menyebut nama sebuah tempat makan yang menurut banyak orang menjual bento yang enak. Dan sepertinya aku tahu tempat yang dimaksud. Tempat makan itu berjarak tiga bangunan dari persewaan komik. Sial.

“Kudengar bento di sana tidak seenak dulu. Bagaimana jika kita membeli menu lain?”

“Ada apa? Kau tadi memintaku cepat memilih. Tidak, pilihanku tidak akan berubah.”

Harusnya aku tahu tidak ada gunanya memaksa Sena jika dia telah mengambil keputusan. Baiklah, yang perlu kulakukan hanya menjauhkan Sena dari tempat persewaan komik.

Keluar dari mobil, aku berjalan di sebelah kiri, mencoba menutupi persewaan komik dari jangkauan mata Sena. Kuminta dia duduk sementara aku buru-buru memesan, agar kami tidak terlalu lama berada di daerah ini.

Sungguh membuatku frustasi. Jari-jariku mengetuk-ngetuk meja karena gugup.

“Aku ingin sekali berkeliling. Banyak toko bagus—”

“Jangan! Maksudku, kita tidak punya banyak waktu sekarang.”

“Aku sudah bertanya pada sutradara, Kwangmin. Makan siang mundur ke pukul dua.”

Aku memandangnya tidak percaya.

“Kita masih mempunyai ekstra waktu satu jam. Yaaaaay!”

“Kita tidak ke mana-mana Sena! Aku… Youngmin hyung pasti mencariku.”

“Kau bercanda? Mungkin maksudmu Rin yang menunggumu kembali?”

Aku mengerutkan kening. Mengapa Sena membawa-bawa Rin ke dalam obrolan kami? Apa mungkin dia sedang cemburu? Memikirkan kesimpulan itu membuatku ingin tersenyum. Menyadari sejak tadi aku menatapnya, Sena melempar pandangan ke seluruh tempat makan ini, seolah-olah sedang menilai desain interiornya. Dia melakukannya ketika merasa salah bicara.

“Rin? Nona Kim Sena, kau tidak berubah sedikit pun.”

“Apa maksudnya?”

“Tidak ada maksud apa-apa, lupakan.”

“Jo Kwangmin, kau ini—“ Sena tiba-tiba berhenti bicara. “A-pa katamu?”

“Apa?”

“Ucapanmu tadi. Seolah kau sudah sangat lama mengenalku.”

Mata Sena menyiratkan kecurigaan. Aku melakukannya lagi tanpa sadar. Mengatakan sesuatu yang tidak boleh kukatakan. Aku harusnya bisa lebih berhati-hati. Jangan sampai Sena bertanya macam-macam padaku.

“Apa yang kukatakan?”

“Itu tadi—“

“Oh, Rin meneleponku. Maaf.” Aku berjalan keluar, dan berpura-pura berbicara di telepon.

Yang benar saja, aku dan Rin belum bertukar nomor ponsel. Aku hanya menghindari pertanyaan Sena.

“Kwangmin, aku akan berkeliling sebentar. Aku sudah mengatakan pada supir untuk menunggu di sini. Terserah kau ingin ikut atau tidak.”

“APA? Ya! Kim Sena, tunggu!”

Ingin rasanya menyeret Sena ke dalam mobil, kemudian menguncinya. Dia tidak boleh melihat persewaan komik itu, apalagi masuk ke sana. Aku pun mengadang Sena dengan cara berdiri di depannya. Tidak terpengaruh pada apa yang kulakukan, dia tetap melangkah maju, sementara aku melangkah mundur.

“Pilih salah satu. Aku menyeretmu, atau kau menurut?”

“Coba lakukan,” tantang Sena.

“Tahu begini tadi aku tidak menemanimu!”

Sena berhenti. “Astaga, kau perhitungan sekali.”

Aku tidak berhenti mengomelinya. Sena membuang muka ke kanan, menolak memandangku. Seperti orang konyol, aku terus berusaha mengarang alasan agar dia mengurungkan niatnya berkeliling.

“Kau mengerti? Dengarkan aku Sena.”

Raut wajah Sena berubah. Aku menoleh ke arah yang sejak tadi dilihat olehnya.

Tanpa sadar, ternyata kami berdua berhenti di depan persewaan komik. Aku melihat Sena dan persewaan komik itu bergantian. Hari ini pasti hari sialku.

Sofa favorit kami tidak kosong. Seorang perempuan dan lelaki berseragam sekolah duduk di sana. Rasanya seperti melihat diriku sendiri bersama Sena di masa lalu. Berlama-lama membaca komik, tanpa mengganti seragam lebih dulu. Begitu sampai di rumah, masing-masing dari kami langsung mendapat omelan.

Aku beralih menatap Sena lagi. Dia terdiam. Ekspresinya tidak terbaca. Aku penasaran, adakah memori yang terputar di otaknya ketika melihat sofa itu? Entah mengapa kubiarkan Sena diam memandanginya.

“Kakak bertopi merah!”

Salah satu pegawai persewaan komik, yang sama dengan lelaki yang menyapaku waktu itu melambai dari depan pintu. Dia berlari menghampiri Sena.

“Nuna, kau ke mana saja? Aku mencarimu untuk membayar hutang. Mentraktirmu makan es krim, karena kau sudah membantu kencanku. Aku berhasil Nuna, waktu itu—“ Lelaki itu menyadari kehadiranku.

“Oh, maaf Nuna. Sepertinya aku salah mengenali orang,” katanya seakan baru saja teringat sesuatu.

Lelaki itu kembali ke dalam. Sena hanya sedikit mengerutkan alis, tetapi dia tidak berkomentar apa-apa. Malah aku sendiri yang gemas ingin bertanya macam-macam. Setelah lelaki itu menghilang dari hadapan kami, Sena berhenti memandangi persewaan komik itu.

“Kwangmin, ayo kita makan burger.”

“Apa?”

Sebenarnya bagaimana perasaanmu saat ini Sena? Sempat terpikir olehku, kemungkinan bahwa ingatan Sena telah kembali dan dia sedang berbohong padaku sekarang. Tetapi kesimpulan itu segera terpatahkan oleh semua sikap yang Sena tunjukkan. Aku percaya dia tidak sedang berakting. Karena dia tidak akan bisa berakting sebaik ini di depanku.

Kuajak Sena ke salah satu tempat makan siap saji dan bukannya ke tempat biasanya kami makan burger dulu. Aku tidak memesan. Segelas cola sudah cukup bagiku.

Siapa lelaki tadi? Benarkah dia salah mengenali orang? Apakah dia pernah datang ke persewaan komik itu sebelumnya? Aku menunggu Sena menanyakannya. Tetapi dia tidak berkata apa-apa.

“Tidak ada yang ingin kau tanyakan?”

“Apa? Soal lelaki tadi?”

“Mungkin kau ingin tahu.”

“Untuk apa? Lagipula dia mengatakan salah mengenaliku. Aku juga tidak mengingatnya, jadi itu tidak masalah.”

Sena mengatakannya tanpa ekspresi. Tetapi aku bisa menangkap kekecewaan dari cara bicaranya.

“Memang kau mengenalnya?”

“Tidak.”

Kami tidak melanjutkan topik pembicaraan itu.

“Kwangmin Oppa!”

“Benar itu Kwangmin Oppa!”

Sekelompok gadis berseragam berseru dari luar. Mereka semua menyerbu masuk dan langsung mengelilingi meja kami. Masing-masing dari mereka mengajukan berbagai pertanyaan secara bersamaan. Beberapa pekerja berusaha mengeluarkan mereka, tetapi tidak berhasil. Mereka saling mendorong hingga membuat Sena terhimpit.

“Diam!” seruku.

Sekelompok gadis itu diam seketika mendengar aku berteriak. Aku mengambil kesempatan ini untuk berjalan ke arah Sena, kemudian menariknya keluar. Gadis-gadis itu segera sadar, kemudian mengejar kami. Aku dan Sena pun mulai berlari lebih cepat.

“Mobil kita ada di sana!”

“Kalau kita berbalik, mereka akan menangkapku!”

Aku berhasil memperpanjang jarak. Tetapi tidak ada tempat yang bisa kugunakan sebagai tempat persembunyian.

“Ke sini!” Sena berbelok ke kiri dan menarikku masuk ke salah satu tempat karaoke.

Sekelompok gadis itu ikut berbelok ke arah kami menghilang. Mereka melihat ke kanan-kiri mencari keberadaan kami. Untungnya mereka semua tidak melihat kami berdua memasuki tempat karaoke. Aku yang takut mereka tiba-tiba menemukan kami di sini, akhirnya terpaksa menyewa sebuah ruangan.

Melihat sofa, aku langsung membanting tubuhku ke atasnya. Kakiku terasa sangat pegal.

“Telepon supirmu dan minta dia kembali lebih dulu. Aku tidak ingin meninggalkan tempat ini selama mereka masih berkeliaran di luar.”

“Kau menyusahkan Kwangmin.”

“Siapa yang mengajakku ke sini?” balasku.

Meski mengeluh, Sena tetap menghubungi supirnya.

Kami sama-sama menatap layar besar di depan kami dengan pandangan kosong. Tidak ada yang membuka percakapan, karena kami sibuk memulihkan tenaga. Aku tidak bermaksud menghindari fans. Hanya saja mereka membuat Sena tidak nyaman. Aku takut mereka akan mengganggu Sena dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan.

Secara sadar atau tidak sadar, aku selalu mengkhawatirkan Sena lebih dulu dibandingkan diriku sendiri. Bagaimana ini? Kenapa justru aku yang terjebak bersama Sena?

Aku menoleh ke kiri. Kulihat Sena menunduk dan napasnya masih belum normal. karena kondisi ruangan yang gelap, dia tidak tahu aku sedang melihatnya. Lalu, Sena menoleh tiba-tiba saat aku belum sempat memalingkan wajah. Aku mengerjap-ngerjapkan mata saking terkejutnya.

“Soal kemarin… maaf tiba-tiba aku memelukmu.”

Sena membahasnya. Kupikir dia sudah melupakannya. Karena tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa, aku hanya diam. Kuambil remot di tas meja dan mulai memilih-milih lagu. Hanya untuk mengisi kesunyian di antara kami.

“Tidak masalah. Aku tidak memikirkannya.”

Bohong sekali. Padahal saat itu aku sangat ingin menumpahkan rinduku pada Sena. Berharap, dia tidak pernah lagi menghilang dari hidupku.

“Tapi aku memikirkannya. Jo Kwangmin… siapa kau?”

Tanpa sadar, jariku memencet tombol enter tanpa tahu lagu apa yang kupilih. Layar besar di depan kami memutar lagu milik Younha yang berjudul Broke Up Today.

Aku tidak mengerti maksud pertanyaan Sena. Caranya menatapku terlihat sedih. Aku berusaha keras tidak terpengaruh. Mempertahankan diri agar tidak menunjukkan perasaanku yang sebenarnya.

“Aku tidak tahu apa yang kukatakan dan kulakukan. Waktu itu aku merasa sangat sedih hingga ingin menangis sekencang-kencangnya. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku ingin menangis. Kau tahu, semua terjadi begitu saja. Seperti aku sudah terbiasa memelukmu.”

Kedua mata Sena mulai berkaca-kaca. Dia membiarkan air matanya jatuh. Tidak berusaha menutupi atau segera menghapusnya. Aku tidak menyadari Sena menangis sampai dia memalingkan wajah dan kulihat dia mengusap pipinya. Mengapa dia menangis? Meski ingin tahu, aku tidak menanyakannya. Meski banyak ‘mengapa’ yang mengganggu pikiranku, aku diam saja.

Maaf. Maaf aku tidak bisa mengatakan maaf padamu.

Younha belum berhenti bernyanyi. Kuabaikan perasaanku yang terluka melihat Sena bersedih. Seperti orang asing yang tidak seharusnya memedulikannya, aku tidak meraih Sena ke dalam pelukanku dan menenangkannya.

Sena memandangku lagi.

“Menurutmu, bagaimana rasanya dilupakan?” tanya Sena.

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 03

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: