[FANFICT/FREELANCE] Escape From My Brothers – Chapter 01

Title
: Escape From My Brothers – Chapter 01
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : T
Type : Chapter
Main Casts
: ~ Jo Hyunmin

  ~ Kumiko

Support Casts
: ~ Jo Youngmin  ~ Jo Kwangmin

  ~ Ryuu, Taro, Yoshi ( teman-teman Kumiko )

CHAPTER 1

Kedatangan keluarga dan orang-orang terdekat di hari kelulusan, tentunya sangat diharapkan setiap orang. Ada kebahagiaan tersendiri ketika kau tahu mereka memandangmu dengan bangga. Tetapi tidak bagi Jo Hyunmin. Dia bukan anak tunggal, tapi dari seluruh anggota keluarganya, dia hanya membutuhkan kehadiran kedua orangtuanya ke acara penting itu.

Alasannya?

Memiliki satu saja anggota keluarga yang terkenal, mungkin terasa menyenangkan bagi sebagian orang. Bisa mengenal orang-orang terkenal dan datang ke banyak acara penting yang tidak semua orang bisa masuk. Atau jika beruntung, kau pun bisa ikut menjadi seorang bintang. Hyunmin memiliki dua kakak laki-laki yang saat ini menjadi member boyband terkenal bernama Boyfriend. Bagi Hyunmin, hal itu justru menyusahkan hidupnya.

Jo Youngmin dan Jo Kwangmin, dua kakak kembarnya itu masuk ke dalam daftar orang-orang yang tidak Hyunmin harapkan kedatangannya.

Jauh-jauh hari sebelum hari kelulusannya, Hyunmin sudah mencari tahu jadwal kegiatan kedua kakaknya. Setengah mati dia berharap mereka berdua tidak dapat datang di hari kelulusannya. Dia senang ketika keinginannya terwujud. Dari manajer Boyfriend, Hyunmin tahu bahwa hari itu kedua kakaknya mempunyai jadwal show.

Tapi pagi ini, Youngmin memberitahu bahwa dia dan Kwangmin akan datang walaupun terlambat. Kesenangan Hyunmin menghilang seketika. Rasanya seperti dijatuhkan dari lantai seratus.

Dia bukan membenci kedua kakaknya itu. Mereka bertiga memiliki hubungan yang baik. Saking baiknya sampai-sampai Youngmin dan Kwangmin sering sekali mencampuri kehidupannya. Terutama masalah percintaan.

Tidak ada yang tahu Hyunmin adalah adik Youngmin dan Kwangmin, kecuali teman-teman dekat yang dia percayai. Dia tidak pernah mengundang teman sekolah ke rumahnya. Walaupun kedua kakaknya tinggal di dorm, tapi foto mereka ada di setiap sudut rumah.

Acara kelulusan baru saja selesai. Diam-diam Hyunmin merasa lega karena tidak ada tanda-tanda kemunculan Youngmin dan Kwangmin. Dia belum menemui orangtuanya lagi. Sejak tadi dia masih sibuk berfoto bersama teman-temannya.

“Hyunmin Oppa!”

Seorang adik kelas yang dua bulan ini dikenal Hyunmin, melambai dari kejauhan. Hyunmin keluar dari keramaian teman-teman sekelasnya, lalu menemui Chaerim.

“Selamat Oppa,” Chaerim memberikan satu buket bunga pada Hyunmin.

Dia dan Chaerim tidak bisa dikatakan dekat. Mereka saling mengenal di kelas musik yang Hyunmin ikuti. Memang beberapa kali Chaerim menunjukkan perhatiannya pada Hyunmin. Tetapi Hyunmin bersikap biasa saja dan tidak membalasnya. Dia memang hanya menganggap Chaerim sebagai seorang adik kelas.

“Ada yang mau kau katakan lagi?” Hyunmin bertanya karena Chaerim terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Aku… hmmm… aku suka—“

“Jo Hyunmin!”

Suara seseorang yang sudah Hyunmin hafal terdengar dari arah belakangnya. Suara teriakan para gadis menyusul suara itu. Mulai lagi. Hyunmin sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Dia menoleh ke belakang dan mendapati kedua kakaknya berdiri di samping kedua orangtuanya. Dikelilingi oleh para gadis yang mengarahkan kameranya kepada mereka berdua.

“Chaerim, maaf aku harus menemui orangtuaku.”

“Oppa, kau… mereka…”’

“Ya, mereka kakakku,” aku Hyunmin tidak senang.

“Wow! Kenapa kau tidak pernah menceritakannya Oppa? Wah, kau beruntung sekali. Oppa, maaf, aku harus mengambil foto mereka.” Chaerim meninggalkan Hyunmin dan ikut bergabung di dalam kerumunan yang mengelilingi keluarganya.

Bisakah kakaknya tidak mengundang keramaian? Apa mereka tidak tahu fungsi topeng? Hyunmin tahu kedua kakaknya hanya ingin ada di acara pentingnya hari ini. Tapi, gara-gara kedatangan mereka, usahanya menyembunyikan siapa kedua kakaknya selama ini menjadi sia-sia. Bahkan Chaerim pun lebih memilih mengabadikan Youngmin dan Kwangmin.

Sedikit pun Hyunmin tidak pernah iri pada ketenaran Youngmin dan Kwangmin. Karena sejak mereka belum terkenal pun, mereka sudah sering membuat Hyunmin kesal. Gadis yang dia suka, atau pun gadis yang menyukainya seringnya berakhir memilih kedua kakaknya. Apa setelah ini dia harus masuk ke universitas khusus laki-laki? Agar dia jauh dari jeritan para gadis yang histeris setiap kali melihat kakaknya.

Setelah susah payah membelah keramaian, Hyunmin berhasil menemui keluarganya.

“Ayo pergi dari sini!” Hyunmin harus berteriak agar suaranya dapat terdengar.

“Kenapa?” tanya Youngmin.

“Aku lapar!” jawab Hyunmin asal.

Melihat Hyunmin berjalan pergi, mau tidak mau keluarganya pun mengikutinya.

Aku butuh menjauh dari mereka berdua! Ya, aku harus pergi ke suatu tempat!

***

Usai makan malam, Hyunmin masuk ke kamarnya. Duduk di depan leptop, mencari-cari tempat liburan. Lebih tepatnya tempat liburan rahasia. Dia mengecek buku tabungannya sore tadi. Uang tabungannya lebih dari cukup untuk berlibur selama seminggu. Masalahnya, orangtuanya tidak akan mengizinkannya pergi. Kecuali Youngmin dan Kwangmin menemaninya. Yang benar saja. Justru dia pergi untuk menjauh dari mereka berdua.

“Apa yang kau lakukan?” Youngmin masuk tanpa mengetuk pintu. Di belakangnya menyusul Kwangmin yang membawa dua buah kotak.

Hyunmin langsung menutup leptop di depannya dan beralih meyibukkan diri dengan ponselnya.

“Hyung, tidak bisakah kau membawanya sendiri?”

Ya, mereka berdua bermalam di rumah untuk makan malam bersama. Sesuai tradisi keluarganya setiap kali merayakan sesuatu.

Kwangmin meletakkan kotak yang dibawanya di atas meja, kemudian bergabung bersama Youngmin duduk di atas tempat tidur adiknya.

“Apa ini?”

“Hadiah kelulusan. Sesuatu yang kau inginkan. Lihatlah sendiri,” jawab Youngmin.

Hyunmin tidak ingat pernah meminta sesuatu pada kakaknya. Dia pun tidak berekspetasi tinggi pada isi kotak itu. Begitu melihat isinya, Hyunmin langsung ingin memeluk kedua kakaknya. Kotak pertama berisi sebuah kamera, dan kotak kedua berisi sebuah ponsel. Kamera Hyunmin memang rusak, dan dia juga sedang menginginkan ponsel baru. Padahal Hyunmin tidak pernah mengeluh, tetapi kedua kakaknya ternyata mengetahuinya.

“Haruskah sekarang aku memeluk kalian, Hyung?”

“Lihatlah wajah gembiranya,” kata Youngmin.

“Dia mudah disuap.”

Menerima hadiah tentu saja tidak membuat Hyunmin melupakan niatnya pergi berlibur. Justru dia lebih bersemangat.

“Ah ya, siapa gadis tadi?”

“Gadis?” Hyunmin tidak tahu siapa yang dimaksud Youngmin.

“Gadis yang bicara padamu sebelum kami datang,” jelas Kwangmin.

“Chaerim? Ada apa kalian menanyakannya?”

“Pacarmu?”

“Kenapa tidak kau undang makan malam hari ini?”

Hyunmin paling malas meladeni keingintahuan kakaknya. Jika sekadar bertanya masih bisa dia terima. Mereka berdua biasanya akan mulai mencampuri urusan Hyunmin. Seperti tidak ada kerjaan saja. Mereka mengomentari gadis yang Hyunmin suka dan yang menyukainya berdasarkan penilaian mereka sendiri. Ujung-ujungnya, tidak ada satupun yang mereka setujui.

Konyol sekali bukan? Itu semua pasti hanya karena Youngmin dan Kwangmin tidak bisa berpacaran sesuka mereka. Dan Hyunmin harus ikut menanggungnya. Benar, pasti begitu.

“Youngmin Hyung, Kwangmin Hyung, terima kasih untuk hadiahnya. Sekarang aku mau tidur.” Hyunmin mengusir kedua kakaknya dari tempat tidurnya. Lalu mendorong mereka berdua keluar.

“Ya! Hyunmin, buka pintunya!” seru Kwangmin. Hyunmin pura-pura tidak mendengarnya.

Setelah ketukan di pintu kamarnya berhenti, Hyunmin memulai lagi pencariannya. Seolah mendapat dukungan dari semesta, dia menemukan sebuah info mengenai program homestay di Jepang. Dia pun membuka info itu, lalu membacanya.

Senyum Hyunmin mengembang. Sepertinya homestay bukan ide yang buruk. Mengikuti homestay justru bisa mempertemukannya dengan banyak orang. Sekarang, yang harus dia pikirkan adalah cara mengikuti program homestay itu tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Terutama kedua kakaknya.

“Ini akan menyenangkan,” gumam Hyunmin.

Suara kakaknya sudah tidak terdengar saat Hyunmin bangun keesokan harinya. Sampai pagi ini dia belum mendapatkan cara untuk bisa mengikuti homestay itu. Ya, isi kepalanya sekarang dipenuhi oleh program homestay itu. Walaupun hanya ke Jepang, itu cukup sebagai tempat pelarian.

Semalam dia juga berpikir, bahwa di Jepang nanti dia harus menemukan seorang pacar. Dia tidak masalah dengan perempuan Jepang. Bahasa Jepangnya cukup bagus. Dia akan mencari perempuan Jepang yang bukan salah satu fans Boyfriend. Yang tidak akan menjerit ketika melihat Youngmin dan Kwangmin.

Ponsel Hyunmin berdering. Masih separuh mengantuk, dia mengangkat telepon itu.

“Oh, Dongjoon, ada apa kau meneleponku pagi-pagi begini?”

“Benar dugaanku, kau pasti tidak ingat. Hari ini acara makan siang bersama satu kelas kita Bodoh!” keluh Dongjoon di seberang telepon.

“Ah ya, benar. Terima kasih sudah mengingatkanku.”

Pikirannya tersita oleh rencana ke Jepang, jadi dia sama sekali tidak mengingat acara yang dibicarakan Dongjoon. Wali kelas Hyunmin mengadakan acara makan bersama di rumahnya. Masih dalam rangka merayakan hari kelulusan.

Sebenarnya Hyunmin tidak terlalu berminat datang. Awalnya dia bersemangat, mengingat itu adalah acara makan terakhir bersama seluruh teman sekelasnya. Tetapi, setelah apa yang terjadi kemarin, Hyunmin mendadak malas. Sudah bisa ditebak akan banyak pertanyaan yang ditujukan padanya. Belum lagi tingkah para gadis yang akan meminta ini-itu pada Hyunmin. Meminta foto kedua kakaknya, tanda tangan, ingin datang ke rumahnya, dan hal-hal serupa yang hanya akan mengganggu hidupnya. Kenapa juga dia harus mengulangi semua itu lagi sekarang?

Mau tidak mau Hyunmin harus pergi. Wali kelasnya sudah berkali-kali mengingatkan, bahwa tidak ada yang boleh absen tanpa alasan yang jelas.

“Eomma, aku pergi ke rumah guru Jang,” pamit Hyunmin pada ibunya yang sedang memasak.

“Kau tidak makan dulu?”

“Aku ke sana untuk makan Eomma.”

“Lalu siapa yang akan menghabiskan semua ini? Kakakmu juga pergi tanpa makan,” keluh ibunya.

“Eomma, aku bukan pergi selama satu bulan. Baiklah, aku berangkat!”

***

Rumah Guru Jang terdiri dari dua lantai. Cat warna abu-abu mendominasi dinding bagian luar. Bagian dalamnya sendiri didesain dengan bagus oleh sang istri. Acara perayaan kelulusan kelas Hyunmin diadakan di halaman belakang rumahnya. Sebuah halaman cukup luas, yang dipenuhi oleh berbagai macam bunga. Ada sebuah pohon besar di halaman itu, yang di bawahnya terdapat kolam ikan dari bebatuan.

Sesuai perkiraan Hyunmin, acara makan bersama berubah menjadi ajang tanya-jawab. Teman-temannya—yang terutama para gadis—benar-benar mengganggunya. Seandainya dia bisa berubah menjadi orang lain sementara waktu. Tidak ada satupun pertanyaan dari temannya yang dia jawab. Dia membungkam mulutnya rapat-rapat. Mereka semua akhirnya diam setelah bosan bertanya dan tidak mendapat jawaban apa-apa.

Hyunmin tidak ikut bergabung bersama teman-temannya yang lagi-lagi sedang berfoto. Dia malah duduk menyendiri di dekat kolam. Tangannya sibuk mencatat hal-hal yang harus dia lakukan agar bisa mengikuti program homestay di Jepang.

“Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Chaerim?” Dongjoon menepuk pundak Hyunmin. Tangannya membawa dua cupcakes. Doongjoon menyerahkan salah satunya pada Hyunmin.

“Memang kami punya hubungan apa?”

“Kupikir kemarin dia menyatakan cinta padamu.”

“Aku tidak mau membicarakannya.”

Mengingat kejadian kemarin hanya membuatnya kesal. Tidak ada lagi kelanjutan hubungannya dengan Chaerim. Hyunmin tidak berminat menjalin hubungan dengan gadis yang mengabaikannya demi mengambil foto kedua kakaknya.

“Apa yang kau lakukan Kau mau pergi berlibur?” tanya Dongjoon setelah mengintip apa yang Hyunmin lihat di ponselnya.

“Begitulah.”

“Tadinya aku mau mengajakmu ke Jeju. Kau tahu kan, ke rumah nenekku. Aku diminta ke sana, tapi aku malas pergi sendirian.”

“Adikmu?”

“Tentu saja dia ikut. Justru di situlah masalahnya. Karena orangtuaku tidak bisa ikut, aku harus menjaganya.”

Dongjoon memiliki seorang adik perempuan berumur dua belas tahun, yang sangat manja. Selain itu dia juga cengeng. Mereka bertiga pernah pergi bersama. Dan Hyunmin tidak akan mau lagi mengulangi hal itu.

Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala Hyunmin. Dia akhirnya menemukan sebuah cara yang bisa dia gunakan agar rencananya pergi ke Jepang berjalan lancar.

“Aku membutuhkan bantuanmu!”

“Apa? Kau tidak sedang memikirkan sebuah kejahatan kan?”

Hyunmin pun menjelaskan pada Dongjoon apa yang baru saja melintas di kepalanya. Dia meminta Dongjoon membantunya berbohong. Anggap saja berbohong demi kebaikan.

Ibu Hyunmin mengenal Dongjoon dengan baik, karena dia teman Hyunmin yang paling dekat. Jadi, rasanya tidak sulit membuat ibunya percaya. Dia ingin temannya itu mengatakan pada ibunya, bahwa Hyunmin akan pergi ke Jeju bersamanya selama sepuluh hari. Sementara ibunya berpikir Hyunmin berada di Jeju, dia bisa bebas pergi ke Jepang.

“Bagaimana kalau ibumu menelepon?”

“Tenang saja, dia tidak akan meneleponmu.”

“Dan imbalan untukku?”

“Kita bicarakan lagi nanti. Sepakat?” Hyunmin mengulurkan tangan, mengajak Dongjoon bersalaman.

“Sepakat!” Dongjoon pun membalas jabatan tangan Hyunmin.

Tidak disangka jalan Hyunmin untuk berlibur seorang diri terbuka satu per satu. Semua berjalan lancar tanpa hambatan. Di dalam kepalanya, dia sudah membayangkan kesenangan-kesenangan yang akan dia alami selama di Jepang. Dia tidak bisa berhenti tersenyum karena terlalu gembira.

Jepang, aku datang!

Sepulangnya dari rumah Guru Jang, Hyunmin menyeret Dongjoon ke rumahnya saat itu juga. Dia tidak sabar menunggu. Tanpa terlihat gugup sedikitpun, Dongjoon menjelaskan semuanya sesuai perintah Hyunmin. Semua pertanyaan ibu Hyunmin, mampu dia jawab dengan baik. Tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Jangan-jangan Dongjoon sudah terbiasa berbohong seperti ini.

Saat ibunya menganggukan kepala tanda setuju, Hyunmin bersorak dalam hati.

“Jangan lupa imbalan untukku!” kata Dongjoon sebelum meninggalkan rumah Hyunmin.

“Aku tidak akan pura-pura lupa. Terima kasih.”

Mereka belum membicarakan masalah imbalan Dongjoon. Karena dia sendiri belum tahu apa yang akan dia minta pada Hyunmin. Terserahlah. Yang terpenting, Hyunmin akhirnya bisa melakukan perjalanan seorang diri.

Tidak ingin membuang-buang waktu, malamnya Hyunmin melengkapi semua persyaratan untuk mendaftar program homestay itu. Usai mendaftar, dia pun mulai mengepak barang-barang yang dia butuhkan. Karena lusa adalah jadwal Dongjoon pergi ke Jeju.

Biasanya dia paling malas melakukan hal itu. Setiap kali liburan keluarga dia hanya membawa sedikit barang. Dia tidak takut kekurangan sesuatu karena ada kedua kakaknya.

Kali ini, dia mengecek semuanya berulang kali. Agar tidak ada barang yang dia lupakan. Perjalanannya ke Jepang harus menjadi pelarian yang menyenangkan.

***

Hujan turun sejak pagi. Hawa dingin menyebar cepat, membuat enggan meninggalkan kamar. Sambil menghangatkan diri di dalam selimut, Hyunmin berusaha mengingat-ingat lagi apa yang belum dia bawa. Hyunmin pun teringat untuk memasukkan payung ke dalam kopernya.

Kemarin dia sudah mengambil uang dari tabungannya. Yang menyenangkan, ibunya memberi Hyunmin sejumlah uang untuk keperluannya selama sepuluh hari di Jeju. Pagi tadi ayahnya juga memberi tambahan uang saku. Dia sempat merasa bersalah menerima uang itu. Tetapi dia cepat-cepat mengabaikannya. Saat pulang dari Jepang nanti, dia akan ingat untuk meminta maaf.

Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Hyunmin. Pasti Dongjoon. Dia terlambat setengah jam dari waktu seharusnya mereka bertemu.

“Yah, Hyunmin, kau membawa seluruh isi lemarimu?” tanya Dongjoon ketika melihat koper Hyunmin yang besar.

“Aku tidak mau kekurangan pakaian, hingga aku harus meminjam pakaianmu,” jawab Hyunmin sekenanya.

“Ingat, jangan melakukan hal yang aneh-aneh!” pesan ibu Hyunmin untuk kesekian kalinya.

Hyunmin dan Dongjoon memberi hormat sambil berkata siap seperti seorang prajurit ketika menerima perintah. Mereka berdua pun berangkat setelah berpamitan.

Mobil Dongjoon melaju cepat menuju Incheon Airport. Jalanan tidak macet, sehingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di bandara. Hyunmin tidak banyak bicara saat turun dari mobil. Dia hanya berpesan agar Dongjoon menutup mulut. Untungnya Dongjoon memilih mengantar Hyunmin lebih dahulu. Jika tadi adiknya ikut, dia bisa mengacaukan segalanya.

Tidak lama setelah Hyunmin sampai, pesawat menuju Jepang siap terbang. Hyunmin berjalan memasuki pesawat dengan senyum memenuhi wajahnya.

Sampai di Haneda Airport, hujan masih menyambut Hyunmin. Tidak masalah. Dia berdiri di luar, memandangi pemandangan di sekelilingnya penuh kebanggaan.

“Selamat datang di Jepang, Hyunmin!” ujarnya.

Hyunmin segera mencari taksi, karena dia tidak sabar menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Saat akan memasuki taksi, tiba-tiba dari belakang seorang perempuan berlari, kemudian masuk ke dalam taksi Hyunmin melalui pintu yang lain. Hyunmin bengong memandang perempuan itu. Apa dia tidak melihat Hyunmin berdiri di samping taksi?

“Kau tidak mau pergi? Cepat masuk!” kata perempuan itu menggunakan bahasa Jepang.

Bukannya segera masuk ke dalam taksi, Hyunmin tetap berdiri kebingungan memandangi perempuan itu. Dia tahu perempuan itu memintanya cepat masuk. Dia diam saja karena masih terkejut oleh situasi tak terduga ini.

Tidak sabar menunggu, perempuan itu menarik tangan Hyunmin. Setelah Hyunmin duduk di dalam, perempuan itu buru-buru menutup pintu.

“Sial! Kenapa mereka mengejarku?” kata perempuan itu pada dirinya sendiri.

Sekarang Hyunmin tahu bahwa perempuan itu sedang dikejar seseorang. Tidak bisakah perempuan itu menjelaskan sesuatu pada Hyunmin agar dia bisa berhenti merasa bingung?

“Apa aku boleh meminjam ponselmu?”

Hyunmin yang belum mengatakan apa-apa, memberikan ponselnya tanpa banyak bertanya.

Kebetulan apa ini?

Hyunmin pikir kejadian yang baru saja dia alami hanya terjadi di dalam drama. Dia tidak menyangka mengalami semua ini sendiri terasa begitu menyenangkan. Membingungkan, tapi menyenangkan.

Diam-diam, Hyunmin memperhatikan perempuan yang duduk di sampingnya. Perempuan yang manis, komentarnya dalam hati.

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Escape From My Brothers – Chapter 01

  1. wuaaa.. pertama kali liat ff adik’a jo twins. wlwkwkwk.. keren thor, aku suka, ga mainstream, ditunggu kelanjutan’a ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: