[FANFICT] Terjebak dalam Kata ! – Chapter 04

Title 
: Terjebak dalam Kata ! – Chapter 04
Author : Diah~
Genre : Friendship dan Romance
Rating : G
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Shim Hyunseong

  ~ Whee In (Mamamoo)

Support Casts
: ~ Gong Miok

  ~ Yoon Saenghyon

  ~ Lee Jeongmin

  ~ Im Nera

Chapter 03

Hyunseong POV

“Apa tidak apa-apa kalau aku mengawasi teman yang lain latihan ?” Nera mengatakan kalau sebentar lagi Whee In akan datang atas keperluan klub majalah sekolah. Aku baru tahu kalau dia anggota dari klub tersebut, setidaknya kesenangannya membaca majalah tidak terbuang percuma.

“Itu kan memang tugasmu sebagai menejer.” Dia seharusnya tidak menanyakan lagi pekerjaan yang hampir tiap hari dia lakukan.

“Bukan begitu maksudku.” Sepertinya dia mengkhawatirkan kalau nantinya aku akan berdua saja dengan Whee In disini.

“Hyunseong, Whee In adalah teman baikku. Dan kau adalah cinta pertamanya.” Setelah mengatakan hal itu Nera pun pergi menyusul teman-teman yang lain ke Lapangan.

Akhir-akhir ini Saenghyon dan Jeongmin mengatakan kalau aku seperti napeun namja yang tidak peduli perasaan yeoja. Sebenarnya tidak, kalau saja mereka sesekali melihat dari sudut pandangku. Aku berusaha sangat baik menjaga perasaan Whee In agar tidak sakit karena ku, dengan cara tidak terlalu banyak berbicara kepadanya seperti dulu, menganggap dan memperlakukannya benar-benar seperti teman.

Tidak lama setelah aku berganti pakaian basket, Whee In datang dengan membawa beberapa kertas serta alat rekamnya. Dia melihat sekeliling ruangan kami dan mulai terlihat canggung begitu tahu kalau hanya ada aku dan dia disini.

“Nera mana ?” Tanyanya setelah menduduki kursi yang kuberikan. Tepat dugaanku. Dia tidak merasa nyaman.

“Dia sedang mengawasi teman-teman latihan.”

“Ini pertanyaan yang harus kau jawab.” Bukannya dia ingin mewawancarai, tapi kenapa memberikan kertas. Setelah melihat dia menghidupkan alat rekamnya, aku baru mengerti kalau dia ingin aku menjawab tanpa dia yang bertanya langsung. Ku dekatkan alat rekam tersebut dan menjawabnya sebaik mungkin agar artikel tim basket pertama kami menjadi bagus. Tidak sulit dan tidak memakan waktu yang cukup lama. Aku pun menanyakan apa ada yang perlu ditanyakan lagi kepada Whee In.

“Ada.” Jawabnya dan aku menunggu pertanyaan yang dia maksud.

“Tidak jadi.” Dengan sangat tiba-tiba dia bangun dari kursinya bersiap untuk keluar dari ruangan ini. Whee In, aku mohon jangan menyakiti dirimu sendiri. Seharusnya kau buang jauh perasaan itu.

“Lupakan semuanya, Whee In.” Belum sempat ia membuka pintu aku mengatakan apa yang seharusnya aku katakan sebagai teman.

“Kau tidak perlu membuang waktumu.” Aku melihatnya berbalik badan.

Terpaku tanpa suara dan gerak sejenak. Whee In mengeluarkan raut wajah tidak mengerti dengan perkataanku.

Mwo-mworago ?”

“Aku tidak mengatakan apa pun. Hehehehe” Baguslah kalau dia tidak mengerti. Aku mengambil bola basket dan membersihkannya karena suasana sudah menjadi sangat tidak nyaman untuk kami berdua. Sedikit menyibukkan diri.

“Apa aku terlihat seperti orang bodoh di depan mu, Shim Hyunseong. Hehehe aku tidak menyangka kalau kau menjadi sombong.”

Whee In.

Kau.

Dia salah paham. Dia memang tidak mengerti maksudku dan menarik kesimpulan yang salah.

“Terima kasih atas waktunya.”

Yang benar saja. Kepalaku menjadi sakit dan tidak berhenti memikirkan Whee In. Pelatih marah karena aku bolos dari latihan begitu juga Nera. Whee In tidak terlihat bodoh di depan ku sama sekali tidak. Yang ada aku hanya akan diomeli oleh Saenghyun dan Jeongmin kalau aku menceritakan ini kepada mereka.

“Waaah Whee In betul-betul pintar menulis artikel.” Jeongmin mendatangi kelas ku dengan membawa majalah sekolah terbitan minggu kedua di bulan ini. Tepat lima hari setelah dia menemuiku.

“Lihat ini lihat. Dia bahkan tahu kalau kau bisa mendribble bola dengan tangan kiri.” Ku baca dengan seksama bagian yang ditunjuk oleh Jeongmin. Aku sangat jarang melakukan dribble menggunakan tangan kiri, kecuali saat pertandingan. Itu artinya dia memperhatikan ku.

“Ini.” Seseorang datang sambil memberikan dua buah majalah sekolah. Sejak kapan dia ada disini. Whee In tidak seperti dulu lagi yang selalu di kelas jika waktu istirahat.

“Setiap klub yang diwawancarai mendapatkan dua majalah gratis.”

Majalah di sekolah ini dijual dengan harga yang sangat murah dan setiap kelas diwajibkan berlangganan setiap bulannya. Apabila siswa ingin membawa pulang masing-masing ke rumah, mereka bisa membeli di ruang klub majalah sekolah.

“Terimakasih.” Jawabku mengambil majalah dari tangannya.

“Whee In-a. Artikel tentang kami sangat bagus.” Puji Jeongmin dan hanya dibalas senyuman oleh Whee In.

Sepertinya dia baik-baik saja. Senyumannya mengatakan seperti itu. Tidak mungkin aku menanyakan keadaan dia di depan Jeongmin yang tidak tahu kejadian beberapa hari lalu. Semua kesalahpahaman harus diselesaikan.

Selesai dari latihan basket, aku bermaksud untuk menunggu Whee In selesai dari kegiatan klub nya. Nera pernah bercerita kalau mereka suka pulang bersama. Tidak lama aku memainkan bola basketku sambil menunggu Whee In, orang yang dimaksud keluar dari sebuah ruangan dengan seorang anak lelaki. Sepertinya itu sunbaenim kelas tiga karena terlihat dari warna ujung dasi yang dia kenakan. Kaki ku bergerak mengikuti mereka.

Mereka berjalan ke sebuah perumahan yang tidak ku kenali. Apa ini daerah rumah Whee In. Aku tidak mengerti kenapa aku harus mengikuti mereka. Di depan sebuah rumah yang sederhana dengan berpagarkan hitam, mereka berdua berhenti. Aku bersembunyi di balik tiang listrik yang tidak jauh dari rumah tersebut. Anak lelaki itu menahan tangan Whee In begitu Whee In ingin masuk ke rumahnya. Dia mengatakan sesuatu yang tidak ku dengar. Terlihat serius. Apa yang mereka bicarakan ?

“Kalau kau penasaran ayo kita lebih dekat, Seongie.”

Kkamjjag…” Suara yang sangat familiar dan panggilan menjijikkan ini siapa lagi kalau bukan dari Miok. Dia tiba-tiba muncul dan sekarang menatap ke arah yang ku perhatikan daritadi.

“Kau seperti sedang melihat hantu saja.” Dengan mata yang masih melekat ke arah rumah Whee In.

Kau yang seperti hantu, Gong Miok. Lebih baik aku pulang daripada berada di samping yeoja centil ini.

“Seongie.. Seongie lihat itu.” Kata Miok yang masih bisa ku dengar meski aku sudah melangkah untuk pulang. “Dahi Whee In dicium.” Dengan cepat aku berbalik dan melihat Whee In sedang membelakkan mata ke arah lelaki di depannya.

Itukah ekspresi ketika dia mendapat ciuman ? Apa itu ekspresi bahwa dia menyukai itu ? Apa mereka berpacaran ? Tapi Whee In menyukaiku, kenapa dia harus berpacaran dengan yang lain ? Seharusnya ini bagus, itu tandanya dia sudah melupakanku dan kami bisa berteman seperti dulu tanpa canggung. Apa yeoja memang seperti itu !? Suka dengan namja lain lalu setelah disuruh lupakan maka ia benar-benar akan melupakan. Kenapa banyak sekali pertanyaan yang membuat ku bingung.

“Kau meninggalkan momen tersebut. Nah kajja kita pulang.” Miok merangkul lengan ku dan menarik pulang menjauh dari rumah Whee In.

“Whee In.” Tanpa sadar aku memanggil yeoja yang sekarang sedang terkejut melihat keberadaanku disini. Kaki yang awalnya ingin melangkah pulang, sekarang malah berlaku sebaliknya dengan semakin mempersempit jarak dengan Whee In serta lelaki itu.

Whee In POV

Miok mengeratkan rangkulannya begitu mataku melihat ke arah lengan Hyunseong. Jadi ini arti dari membuang waktu itu. Shim Hyunseong sudah mempunyai Miok dan menganggap perasaan ku hanya membuang waktu sendiri.

“Kau mengenalnya ?” Pertanyaan Sunbaenim membuyarkan lamunanku yang sedang mengumpat keberadaan Hyunseong dan Miok.

“Kami teman baiknya.” Hyunseong mendahului ku menjawab. Tampak Miok yang tidak setuju ketika Hyunseong menggunakan kata ‘kami’. Padahal ingin sekali aku menjawab bahwa aku tidak ingin dan tidak mau mengenal mereka.

“Baiklah aku pulang dulu.” Sunbaenim sudah melangkah jauh.

Sekarang tersisa kami bertiga tanpa berbicara sedangkan aku sedang bersitegang dengan perasaan bodoh ku sendiri. Kenapa aku bisa menyukai namja seperti Hyunseong. Belum genap lima hari lalu dia mengecewakan ku sekarang itu terjadi lagi. Ya dia pun tidak peduli sepertinya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Setelah ku putuskan untuk masuk saja ke dalam rumah meninggalkan Hyunseong yang lengannya masih dirangkul oleh Miok. Bisa dipastikan dia meloncat kegirangan berhari-hari karena berhasil memiliki Shim Hyunseong.

Hari ini kalau bukan karena permintaan Nera, aku tidak mau berada di ruangan ini. Nera meminta ku untuk membereskan ruangan klub basket mereka bersamanya. Karena jadwal yang padat akan latihan untuk pertandingan beberapa hari lagi, para siswa klub basket putra kewalahan untuk membagi waktu membereskan ruangan mereka.

“Maaf sudah memaksa mu membantu ku.”

“Pastikan kau mentraktir ku makan hehehe.”

Hanya hitungan menit pasti sebentar lagi aku akan bertemu dengan Hyunseong. Itu yang ku hindari tapi tidak bisa. Pintu klub terbuka dan sebelas lelaki sudah masuk setelah berganti pakaian mereka di toilet.

“Mana Songsaenim ?” Nera menanyakan pelatih mereka yang tidak terlihat di kerumunan.

“Buru-buru pulang rindu dengan istrinya.” Jawab Saenghyon yang disambut tawa oleh lain.

“Sebentar lagi gelap. Kalian pulang saja duluan.” Salah satu pemain mengingatkan kami. Aku melihat jam tanganku dan baru teringat kalau aku ada janji hari ini. Dengan cepat setelah berpamitan dengan Nera, tas segera ku letakkan di punggung.

“Biar ku antar.” Hyunseong berkata dan juga mengambil tas nya.

Akhirnya aku berjalan pulang bersama Hyunseong dalam diam. Dengan tambahan alasan bahwa rumah kami searah, Hyunseong bersikeras ingin mengantarkan ku pulang. Meski berkali-kali ingin membenci namja ini kelihatannya percuma karena sekarang aku merasa bahagia bisa berjalan kaki bersamanya. Sejenak lupa kalau Hyunseong sudah memiliki Miok.

“Itu namjachingu mu sedang menunggu.” katanya di tengah ke-diam-an kami sepanjang jalan.

Aku mengikuti arah pandang Hyunseong. Terlihat sunbaenim duduk di meja taman sambil mengoyang-goyangkan kakinya melawan rasa dingin.

“Whee In-na!” Panggil Sunbaenim begitu melihatku di sekitar taman. Dan berlari kecil ke arah kami.

“Aku ingin memastikan kau sampai ke rumah dengan selamat.” Hyunseong berkata setelah aku memasangkan wajah ‘kenapa kau masih disini’ meski sejujurnya aku tidak ingin dia pergi.

“Akhirnya kau sampai juga.”

“Aku betul-betul minta maaf sunbaenim. Aku lupa dengan janji hari ini. Seharusnya Sunbaenim tidak perlu menungguku.”

“Tidak apa-apa. Aku ingin bertemu denganmu.” Sunbaenim begitu baik kepada ku.

“Ehem.” Hyunseong berdeham.

“Kalau begitu, mari ku antarkan kau pulang.” Sunbaenim menarik tangan ku pelan dan memasukkan ke dalam kantong jaketnya.

“Tidak per-” Tanpa menunggu perkataanku selesai, Hyunseong sudah menarik tanganku yang satunya lagi dan berjalan menuju rumah.

Sepanjang jalan aku tidak bisa mengatur napas dengan benar. Aku mencerna kembali perbuatan yang Hyunseong lakukan dan tanganku masih di dalam genggamannya. Terbesit lagi-lagi kebahagian yang tidak ingin aku lewatkan. Telapak tangannya yang besar dan hangat menghapus dingin malam ini. Kali ini yang terlupakan adalah Sunbaenim yang dari tadi menunggu tapi terpaksa tertinggal sendirian.

“Kalian berpacaran ?”

“Untuk apa kau tahu ?”

“Karena aku temanmu.” Jawaban Hyunseong membuat langkah ku berhenti. Entah kenapa ini terasa sangat sakit. Hobi Hyunseong sepertinya bertambah satu sekarang, yaitu mengobati dan melukai lagi. Tuhan tidak mengizinkan ku mencicipi rasa bahagia lebih lama hari ini.

“Seharusnya tadi aku pulang saja dengan Sunbaenim.” Ku tarik tangan yang masih di dalam genggamannya dan  menjauh.

Aku bisa mendengar langkahnya yang mengikutiku dari belakang. Apa sebenarnya yang ia pikirkan.

“Kau pulang saja. Rumahku sudah dekat.”

Dia tetap mengikutiku. Aku tidak menganggap mu teman lagi semenjak ucapan yang sengaja keluar dari mulut ku dulu itu terdengar di telingamu. Apa dia tidak mengerti ? Selama ini aku menjaga jarak dengannya. Meski ku tahu dia juga bersikap seperti itu. Tapi ….. Aish !  Dia bodoh atau bagaimana sih.

“Apa tidak cukup kau membuat ku terus-terusan sakit ?” Dia berhenti begitu aku berbalik badan secara tiba-tiba dan menatapnya tajam. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin sekali membaca pikirannya.

-TBC-

==Bahagia itu sederhana kalau kau mengerti==

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT] Terjebak dalam Kata ! – Chapter 04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: