[FANFICT] Terjebak dalam Kata ! – Chapter 05

rodie-treeINSLEE1

Title 
Terjebak dalam Kata ! – Chapter 05
Author : Diah~
Genre : Friendship dan Romance
Rating : G
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Shim Hyunseong 

  ~ Whee In (Mamamoo)

Support Casts 
: ~ Gong Miok

  ~ Yoon Saenghyon

  ~ Lee Jeongmin

  ~ Im Nera

 

Chapter 04

Author POV

“Apa tidak cukup kau terus-menerus berpura-pura bahwa kita memang masih berteman seperti dulu ?” Suara Whee In terdengar parau.

“Aku tidak berpura-pura.”

“Sepertinya kau memang tidak mengerti.” Agar tidak terlihat sedang menahan tangis, Whee In mengatur suaranya dengan baik.

“Kau yang salah paham.” Hyunseong menimpali dengan sangat cepat.

Baru kali Whee In mendengar Hyunseong yang seperti ingin berdebat. Tapi sayang Whee In pergi begitu saja tanpa diikuti lagi.

“Bisa tidak kita selesaikan semuanya, aku tidak mau ini semakin rumit.” Hari ini kesalahpahaman harus diselesaikan. Begitulah tujuan Hyunseong dari awal.

Whee In berbalik dan mendekati Hyunseong yang masih di posisi awalnya.

“Maksudmu aku yang membuat ini rumit ?! Sudahlah kali ini aku mohon mulai sekarang anggap saja kita tidak saling mengenal.”

Hyunseong tidak mengerti kenapa Whee In selalu cepat berkesimpulan dan suka memutuskan sesuatunya sendiri. Satu-satunya cara agar Whee In menjadi Whee In yang dulu, yang tidak menolak untuk diajak berkumpul, tidak menolak untuk diajak bercanda dengan mereka dan Whee In yang tidak keras kepala adalah dengan berkata jujur bahwa dari awal ini adalah kebohongan konyol mereka, Kim Saenghyon, Lee Jeongmin dan Shim Hyunseong.

“Kau ingin bilang kepada Whee In kalau kita yang menyebarkan kebohongan itu ?” Jeongmin terkejut dengan berlebihannya setelah Hyunseong bercerita kepada dia dan Saenghyon di saat sedang menunggu waktu latihan dimulai.

“Kau gila ? Dia akan semakin sakit hati dan marah kalau tahu dulu kita lah yang membohonginya tentang kepindahanmu ke Seoul.”

“Tapi kan saat itu kita sama sekali tidak tahu kalau Whee In menyukaiku”

Memang benar. Di antara mereka bertiga sedikit pun tidak ada yang tahu kalau Whee In menyukai Hyunseong. Kalau saja mereka tahu dari awal, mereka pasti tidak ingin merusak suasana pertemanan ini.

“Ini kan idemu Kim Saenghyon.” Jeongmin menunjuk ke Saenghyon.

“Mwo!? I..Iya tapi kan ….”

“Kau yang bertanggung jawab menceritakan semuanya ke Whee In.”

“Menceritakan apa ?” Nera masuk ke ruangan klub dan mendengar percakapan ketiga lelaki yang sekarang terlihat ketakutan.

“Ani… Nothing…” Mereka langsung keluar membawa pakaian basket masing-masing dan bermaksud untuk berganti di toilet.

Di waktu yang sama tapi tempat berbeda. Tidak perlu lagi salah satu dari Hyunseong, Jeongmin, dan Saenghyon mengatakan kepada Whee In. Gong Miok dengan senang hati membantu mereka. Selama ini dia merahasikan kepada yang lain kalau dia juga tahu cerita yang sebenarnya. Dia memiliki kuping yang sedikit sensitive kalau mendengar hal-hal mengenai Whee In. Rasanya seru sekali membuat Whee In semakin terpuruk.

“Kau kaget Whee In ?”

Whee In dan Miok berada di dalam toilet sekolah dan kebetulan saja bertemu.

“Aku tidak mengerti maksudmu Miok.” Whee In mencoba mengingat setiap helai kata yang tadi keluar dari mulut yeoja yang sedang menguraikan banyak senyum bermakna kepadanya..

“Perlu ku ulang ? Mereka bertiga, Shim Hyunseong, Lee Jeongmin dan Kim Saenghyon lah yang mengatur rencana agar kau menyatakan perasaan ke Hyunseong.” Kata-katanya diulang kembali.

“Hem.” Ditarik napas dengan dalam dan berusaha untuk sangat tenang. Miok kesal karena tidak ada reaksi yang mengejutkan dari Whee In.

“Lalu kenapa kalau mereka seperti itu ? Kau juga sudah berpacaran dengan Hyunseong kan, jadi aku tidak peduli lagi.”

Miok tidak tahu kalau Whee In berpikir sejauh ini. Keadaan yang menguntungkan untuknya. Aku jadi bisa mendekati Hyunseong lebih jauh dan membuatnya semakin terpuruk. Pikir Gong Miok.

Whee In keluar dari toilet sebelum tangannya bergerak untuk menjambak rambut Miok yang ikal itu dan membuatnya berakhir di ruang guru karena pertengkaran. Di luar dia melihat Hyunseong serta Saenghyon dan Jeongmin berjalan ke arah toilet pria yang berada di sampingnya saat ini.

“Seongie.” Lambai Miok begitu ia juga melihat Hyunseong.

“Kau belum pulang ?” Jeongmin bertanya kepada sepupunya. Jam segini biasanya Miok sudah pulang atau bermain dengan genk nya itu.

“Aku ingin bertemu dengan pacarku.” Di rangkulnya lengan Hyunseong. Jeongmin dan Saenghyon menatap tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.

Whee In meninggalkan pemandangan tidak mengenakkan tersebut. Dia berjalan cepat setelah menyenggol pundak Gong Miok dengan sengaja.

“Cih kalau cemburu bilang saja.” Perkataan yang ditujukan untuk Whee In dan tentu saja perempuan itu mendengarnya.

“Kau terlalu Miok ckckckck” Saenghyon mendecak heran dengan perbuatan yeoja aneh ini yang selalu tidak habisnya.

“Kalian berpacaran ?”

“Apa yang kalian bicarakan ? Kenapa Whee In terlihat sangat kesal begitu.” Hyunseong melemparkan pertanyaan ke Miok dengan mengabaikan pertanyaan Jeongmin. Saat ini penjelasan untuk pertanyaan itu tidaklah penting.

“Sudah jelas dia sangat kesal begitu tahu kalau kalian yang menjebaknya.” Dengan ringan jawaban itu mengalir dari Miok.

Tanpa kata-kata, Hyunseong pun berlari mencari Whee in. Saenghyon dan Jeongmin rasanya ingin sekali mengurung Miok di dalam kamar mandi dan membiarkan dia mati disana.

 

Hyunseong POV

Kemana dia pergi ? Jalannya cepat sekali. Aku tidak mengerti kenapa aku harus mengejarnya. Yang jelas aku tidak mau berpura-pura tidak mengenalnya. Saat itu ingin sekali aku memberontak mendengar Whee In berargumen.

Aku memeriksa ruang klub majalah sekolah dan benar dia berada disana sedang membereskan meja yang penuh dengan alat tulis serta kertas-kertas. Dia berhenti sejenak dari pekerjaannya begitu melihatku masuk. Yang benar saja, dia sama sekali mengacuhkanku.

“Jangan tinggalkan pacarmu begitu saja disana.” Kali ini dia berbicara dan aku tahu dia mengatakan tentang Miok.

“Kau saja kemarin meninggalkan pacarmu begitu saja.” Ada nada kesal di setiap kataku. Aku membicarakan Sunbaenim yang menunggu dia kemarin di taman. Setelah aku menarik tangan Whee In saat itu, Whee In tidak kembali melihat pacarnya.

Apa aku cemburu ?

Aku berkeliling melihat isi ruangan klub nya dan melihat sebuah foto. Lagi-lagi lelaki ini. Dia meletakkan tangannya merangkul pundak Whee In dan terlihat senyum merekah di wajah yeoja ini. Cih. Sesenang itukah dia mendapat rangkulan ?!

“Sudah cukup melihat-lihatnya. Kau sudah bisa keluar.” Foto yang ku pegang diambilnya dan diletakkan kembali pada tempatnya semula.

“Kau lebih percaya perkataanku atau Miok ?” Dia hanya melihat dan tidak menjawab pertanyaanku.

“Kalau begitu kau pasti tidak percaya kalau ku katakan apa yang Gong Miok ceritakan itu tidak semuanya benar.”

Masih tidak ada tanggapan dari dirinya. Dia kembali dengan pekerjaannya. Apa dia memang selalu sibuk di dalam ruangan ini ?

“Itu idenya Kim Saenghyon.”

“Berani sekali kau kemari dan menyalahkan orang lain.” Ternyata beginikah Whee In ketika ia marah.

“Kalau saja kami tahu lebih awal pasti ide itu tidak muncul dan tidak ada kejadian konyol akhir-akhir ini.”

“Jadi maksudmu pernyataan dan perasaan aku itu adalah hal yang konyol ?”

Dia menjadi semakin marah mendengar perkataanku. Tumpukan kertas yang semula dipegangnya dibanting begitu saja ke atas meja.

“Sekarang aku ingin bertanya. Apa kau berpacaran dengan Sunbaenim itu ?”

“Untuk apa kau tahu ?”

Betul juga untuk apa aku tahu. Itu bukanlah urusanku. Tapi aku penasaran dan sebagian otakku berkata kalau hal itu adalah urusanku.

“Oh karena kau adalah temanku. Seperti itu kan !?” Dia menjawab hal yang sama seperti aku jawab kemarin.

“Karena aku tidak suka melihatmu bersama dengannya.” Ada sedikit kelegaan di hatiku.

Whee In POV

Atas dasar apa dia tidak suka melihat Sunbaenim dekat denganku. Aku meninggalkannya sendiri di ruangan klub sebelum lagi-lagi ada rasa bahagia muncul. Rasa bahagia yang pasti setelah itu menjadi sakit yang semakin dalam. Jeongmin dan Saenghyon mengirimkan pesan bahwa mereka merasa bersalah atas kebohongan yang mereka buat. Baguslah kalau memang mereka merasa bersalah tapi tidak ada yang berubah setelah itu. Semua sudah terlanjur, kan !? Ini juga kebodohanku.

Ku pastikan kali ini aku benar-benar menjauhi Hyunseong. Pekerjaan ku untuk meliput tim basket lagi ku serahkan kepada seorang junior di klub. Aku pun menolak permintaan Nera untuk menonton pertandingan basket dengan alasan sakit. Hanya di kelas aku bertemu dengan Hyunseong. Karena kami memang sekelas. Kalau ada pengumuman dan perizinan kalau saja siswa boleh pindah kelas yang mereka inginkan maka aku lah orang pertama yang menghampiri ruang guru dan segera mendaftar. Sayangnya itu tidak mungkin.

Sesekali ada keinginan untuk melihat sebentar dia latihan seperti biasanya yang ku lakukan kalau tidak ada yang harus dikerjakan di ruang klub. Tapi lalu jauh-jauh keinginan itu harus ditepis. Tidak ada hubungan yang terjalin antara aku dan sunbaenim yang dimaksudkan oleh Hyunseong. Dia memang menyatakan perasaannya tapi aku menolak dan hanya menganggapnya seorang senior yang baik hati. Tidak lebih. Aku tahu jelas apa isi hati ku.

“Haaa kenapa masa SMA ku harus rumit seperti ini.”

Seperti jam yang berputar sangat cepat. Sekarang aku adalah siswa yang sebentar lagi menghadapi masa ujian kenaikan kelas tingkat akhir. Dan sunbaenim akan menghadapi ujian masuk universitasnya. Bersisa dua bulan lagi sebelum itu berlangsung.

“Seminggu saja. Seminggu saja biarkan aku merasa bahagia memiliki Whee In.” Itulah yang Sunbaenim katakan setelah berdiskusi lama denganku. Lama karena aku menceritakan semua kepadanya bahwa aku menyukai Hyunseong. Itulah alasan kenapa aku tidak menerimanya.

“Setelah masa itu habis maka biarkan aku tidak mengenalmu. Biarkan aku meninggalkan dan lulus dari sekolah ini tanpa beban di pundakku.” Siapa yang tidak merasa bersalah mendengar itu dari orang yang telah baik kepada dirimu.

Sunbae …

“Begitu beratkah ?” kali ini dia menyunggingkan senyumnya yang tidak ku mengerti.

Keure.” Jawaban singkat yang membuat wajahnya berubah menjadi sumringah. Sangat sumringah. Aku mengerti perasaannya karena kita berada di posisi yang sama Sunbaenim. Posisi menyukai tanpa dibalas.

Hari pertama membuat ku sangat gugup. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sunbaenim menjalani peran sebagai pacar seminggu begitu santai. Begitu pagi hari bertemu di gerbang sekolah, menggenggam tanganku adalah hal pertama yang dia lakukan. Tentu saja aku takut ketahuan oleh guru dan menarik tanganku cepat.

“Euy.. Tidak ada guru di sekeliling kita. Kamu lihat ?” Tidak ada terlukis tanda kekecewaan di wajahnya ketika ku menarik tanganku.

“Mari ku antarkan My Princess ke kelasnya.”  Bisa ku pastikan siapa yang tidak melambung tinggi jika diperlakukan sangat lembut seperti ini. Sayangnya aku tidak. Maaf kan aku Sunbae.

Author POV

“Whee In begitu cepat berlalu.” Jeongmin memperhatikan gerakan dua orang di hadapannya dengan jelas. Kalau sudah berpegangan tangan seperti itu sudah pasti memiliki hubungan. Perasaan Whee In telah berlalu ke orang lain ternyata. Begitulah yang ada di pikiran Jeongmin.

“Aku tidak percaya.” Balas Nera setelah mendengarkan cerita Jeongmin mengenai apa yang dilihatnya tadi pagi di dekat gerbang sekolah. Nera orang terdekat dari Whee In tidak mungkin tidak tahu tentang ini semua. Tapi memang itu kenyataannya. Whee In akhir-akhir ini tidak pernah lagi berbagi cerita kepada Nera. Sedikit terganggu kalau pertemanan berjalan dengan banyak yang ditutupi.

“Kalian tidak tertarik dengan cerita ini ?” Kali ini Jeongmin beralih ke Hyunseong dan Saenghyun yang terlihat sedang berpikir keras tapi tidak Hyunseong.

“Aku juga melihat mereka di cafetaria pada jam istirahat.…” ada nada keraguan di setiap perkataan Saenghyun.

“Nah nah. Kita semua tahu kalau Whee In jarang sekali pergi ke tempat itu. Tapi kalau menemani pacarnya, pasti dia melakukannya.” Jeongmin sang biang gosip ingin sekali membuat para pendengarnya juga memikirkan hal yang sama sepertinya.

“Tapi Whee In itu orang yang keras kepala. Aku tidak yakin kalau dia mau menuruti permintaan pacarnya sekalipun.” Hyunseong berkata seolah dia mengetahui hal banyak mengenai Whee In. Semua terkejut.

Tidak ada yang tahu kalau Hyunseong sudah menghadapi ke-keras-an kepala Whee In. Dia tidak suka mendengarkan orang lain, keras kepala dan pembuat kesimpulan salah. Begitulah Whee In di mata Hyunseong.

“Benarkah Whee In seperti itu ?”

“Hyunseong-a, setahuku Whee In tidak pernah menunjukkan sikap yang seperti itu di depan kalian.” Siapa yang sangka kalau pernyataan singkat Nera membuat Hyunseong gugup.

“Oh ya ? Berarti aku salah.” Agar aman Hyunseong memilih untuk keluar dari ruangan klub nya secepat mungkin. Jam latihan masih lama akan berlangsung. Tidak ada yang ingin dia lakukan selain tidur sebenarnya saat ini. Tapi mau gimana lagi. Ruangan yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat malah menjadi ruang gosip dengan Whee In sebagai topik hangat.

Hyunseong berakhir dengan mengistirahatkan tubuhnya sejenak di bawah kerindangan pohon di belakang sekolah. Tempat ini menjadi pilihan terakhir ketika melihat perpustakaan ditutup. Padahal Hyunseong memiliki tempat favoritnya untuk tidur disana. Setelah mengatur alarm di telpon genggamnya agar tidak terlambat mengikuti latihan basket, Hyunseong pun menutup matanya perlahan.

“Tettot salah !”

Tidak jauh dari Hyunseong berbaring.

Sunbae… aaa payah sekali. Hanya 4 soal yang bisa kau selesaikan dari 10 soal ku berikan.” Whee In membolak-balikkan buku sang pacar seminggu nya itu bersiap memberikan soal lain.

“Ya! Kalau kau berada di posisi ku sekarang yang stress terlalu banyak belajar, kau pasti tahu kenapa banyak hal yang terlupakan.” Bentakan kecil yang sama sekali tidak bermaksud memarahi.

Ara..Ara.. Aku mau es krim ku setelah ini.”

“Tidak karena kau sudah mengejek ku tadi.”

Sunbae … Kau sudah berjanji.”

Dua orang ini tidak menyadari kalau obrolan mereka yang bisa dikatakan sangat ribut mengganggu orang yang di dekat mereka. Bahkan dia merasa risih melihat pemandangan di depannya.

“Sepertinya menyenangkan.” Hyunseong menyandarkan badannya di batang pohon yang melindungi Whee In dan pacarnya, begitulah kata Jeongmin.

Whee In ingin sekali menyebut nama Hyunseong begitu dia melihat sosok itu muncul tanpa terduga di sekitar mereka. Tapi itu tidak jadi setelah mengingat kalau dia berpura-pura tidak mengenalnya.

“Ada yang bisa dibantu ?” Whee In tidak menyangka kalau Sunbaenim bersikap begitu sopan. Tentu saja dia tahu kalau yang di depannya sekarang adalah Shim Hyunseong, namja yang begitu disukai oleh Whee In, kekasihnya.

“Tidak. Hanya saja kalian mengganggu istirahatku.” Jelas Hyunseong sambil menunjuk tempat yang tadi digunakannya untuk berbaring.

Bel sekolah berbunyi. Kelas tambahan untuk siswa kelas tiga dimulai.

“Kalau begitu kami minta maaf.” Dia pun berdiri. “Kau tidak ke ruang klub ?” Dengan nada yang berbeda dia bertanya kepada Whee In.

“Aku ingin menyelesaikan artikel majalah disini terlebih dahulu.” Jawaban Whee In entah kenapa menjadi suatu jackpot untuk Hyunseong. Itu berarti hanya akan ada dia dan Whee In berdua disini.

Setelah sosok dan jejak Sunbaenim nya Whee In pergi, Hyunseong lalu merebahkan tubuhnya di samping Whee In. Hanya tanggapan kaget sejenak lalu tidak ada yang terjadi. Whee In sibuk menulis di Notes merahnya dan seperti menganggap tidak ada orang di sebelahnya.

“Gesekan pena mu menganggu istirahatku.” Kalimat ini sekedar untuk mendapatkan perhatian dari Whee In yang tidak memperdulikannya.

“Kau bisa pindah ke tempat lain.” Masih terpaku dengan kegiatannya semula.

“Tapi pohon ini paling rindang dibandingkan pohon lain.” Pernyataan yang konyol tentu saja. Kepala sekolah mereka membuat taman belakang dan menanam pohon-pohon disini di waktu yang sama. Jadi semua pohon tidak berbeda. Kerindangannya hampir sama.

“Seharusnya lelaki itu tidak meninggalkan kekasihnya sendirian disini.”

“Dia adalah senior kita. Kurasa memanggilnya dengan lelaki itu sangat tidak sopan.”

“Wooo!” Hyunseong memasangkan raut wajah berpura-pura kagum atas pembelaan Whee In. Dia duduk dan menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Tidak lama dia memperhatikan yeoja yang masih sibuk dengan notes nya, alarm yang diatur olehnya beberapa waktu lalu berbunyi. Saatnya latihan. Tapi entah kenapa ada rasa berat untuk beranjak dan ingin berlama-lama lagi memperhatikan seseorang yang akhir-akhir ini jarang sekali dia lihat. Hyunseong dengan jelas sangat tahu kalau Whee In menghindarinya bahkan lebih dari menghindari, melainkan menghilang kecuali ketika belajar di kelas.

Dibiarkannya alarm itu berbunyi dan berhenti dengan sendirinya.

“Sepertinya itu panggilan penting.” Whee In sekedar mengingatkan kalau saja Hyunseong lupa dengan janji nya mungkin.

“Kau harus menatap lawan bicara mu ketika berbicara.” Hyunseong sedikit kesal karena daritadi Whee In hanya terpaku dengan notes  sambil menulis ketika berbicara dengannya. Seolah-olah Whee In berbicara dengan kertas daripada dengan Hyunseong.

Whee In tidak ingin menatap Hyunseong. Karena dia sangat yakin pasti saat ini wajahnya memerah karena sudah lama sekali Hyunseong tidak berada sedekat ini dengannya. Duduk berdua dengan pikiran masing-masing.

“Ya! Captain-nim terhormat!” Jeongmin datang ke arah mereka dengan berlari cepat.

Merusak suasana saja! Pikir Hyunseong.

“Ini bukan saatnya bersantai.” Sambil melemparkan seragam latihan Hyunseong tepat ke wajahnya.

“Oh Whee In-na!” Jeongmin baru menyadari bahwa Whee In sedang berdua saja bersama Hyunseong.

“Kalian … ”  Whee In dan Hyunseong tahu pasti apa yang akan ditanyakan Jeongmin.

“Aku akan menyusul setelah berganti pakaian. Kau balik saja ke lapangan.”

“Kalian …” Jeongmin masih tetap ingin bertanya sesuatu.

“Ku pastikan kau berada di kursi cadangan untuk pertandingan selanjutnya kalau kau tidak segera kembali ke lapangan.” Berhasil ! Gertakan itu berhasil membuat Jeongmin bergegas cepat sebelum yang aneh-aneh muncul dari mulutnya.

“Menganggu kesenanganku saja.” Keluh Hyunseong pelan setelah dilihat Jeongmin benar-benar lenyap dari pandangannya sekarang.

Tidak disangka Whee In mendengar keluh itu. Kesenangan ? Dia merasa senang disini bersama ku ? Pertanyaan yang mengusik sisa hari Whee In.

-TBC-

==Apa kau merasakan hati ku yang mulai sejuk ?==

Note : sambungan cerita ini sepertinya akan lama. Mian ;____;

This entry was posted by boyfriendindo.

5 thoughts on “[FANFICT] Terjebak dalam Kata ! – Chapter 05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: