[FANFICT/FREELANCE] I Don’t Care Again ….! – Chapter 03

Title 
: I Don’t Care, Again…! – Chapter 03
Author : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ No Minwoo

  ~ Jung Yeong In

-ooo-

Before…

Minwoo hanya mengeratkan dekapannya pada Yeong In. Ia menepuk-nepuk dengan pelan punggung kekasihnya itu.

 

‘Yeong In-a, aku akan mencoba mencintaimu,’ Minwoo berkata dalam hati dengan ketulusannya.

 

“Yeongie-a ! Ibumu !!! “

-ooo-

Minwoo terduduk lesu di sebelah ranjang rumah sakit yang kini di tempati Yeong In. Kedua matanya menatap lekat wajah gadis yang sedang tidur dengan nyaman. Wajah itu lembab, basah. Masih ada bekas air mata tersisa di sana. Ia sebenarnya tidak tahu, bagaimana persis sifat dan sikap Yeong In dalam menyembunyikan semua darinya. Ia merasa sebagai kekasih yang tak berguna untuk Yeong In. Dan kini ia sadar, memang tak ada yang dapat ia lakukan terhadap gadis itu.

“Bisakah kali ini aku berguna untukmu, Yeong In ?” ungkapan Minwoo dalam hatinya. Ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun melalui mulutnya. Semua terasa kaku untuknya.

Beberapa menit yang lalu, Yeong In terbangun setelah pingsan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Fisik Yeong In kian melemah saat ia mendengar dokter mengatakan jika ibunya harus segera dioperasi. Ia tak mampu menahan sedihnya kala itu. Itulah sebabnya ia mengalami kondisi buruk beberapa waktu lalu.

GREEEEKK ! Seseorang membuka pintu kamar Yeong In.

“Minwoo, aku rasa sebaiknya kau lekas kembali ke rumah. Malam kian larut,” ucap Ayah Yeong In. Lelaki tua itu menyentuh bahu Minwoo dan membuat Minwoo tersadar dari aktivitasnya.

Minwoo menoleh lalu tersenyum. “Bolehkah aku menunggunya sampai besok pagi ?”

“Aku hanya tidak mau merepotkanmu, Minwoo,”

“Aku ingin menemaninya,”

“Baiklah,”

-ooo-

Yeong In’s POV

 

Yaaa, inilah udara pagi yang selalu aku rindukan. Bukan hanya pagi saja, tapi aku selalu merindukan setiap waktu di keseharianku. Jika rumah sakit ini memiliki pantai yang membentang di bagian belakangnya, aku akan selalu betah di tempat ini. Ingin sekali mendengarkan suara ombak terbentur yang menggemuruh.

Aku berkhayal.

Yah, aku lupa jika aku meninggalkan Minwoo yang sedang tertidur di ranjangku. Uhm, bagaimana bisa dia ada di sini semalaman. Apa dia menungguiku ? Ah, rasanya mustahil jika ia akan melakukan itu. Seorang Minwoo yang tak pernah peduli denganku menemani gadis payah sepertiku ? Apa dia salah makan kemarin ? Aish…

“Bagaimana keadaan ibu, ya ?”

Sekarangpun tak tahu perasaan apa yang ada padaku. Semalam aku menangis dan pingsan, tapi kini aku biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. Atau mungkin aku bersembunyi ? Ck, kenapa aku bertanya pada diriku sendiri ?

“Ternyata anak Ayah sudah bangun lebih dulu,”

“Ayah !” Ayahpun sekarang tersenyum lepas padaku. Tak akan aku biarkan melewatkan pelukan hangat darinya.

“Yaahhh, sudah lama kau tidak memeluk Ayah, hahaha,” dia bahkan tertawa. Ayah tertawa dan aku hanya bisa diam mendengarkan. Kemana senyumanku ?

“Ayah, Ibu dimana ?”

“Kau mau melihatnya ? Ibu ada di kamar, sedang sarapan,”

“Ayah duluan saja. Aku akan menyusul. Ada suatu hal yang harus aku bereskan,” aku tersenyum. Kau tahu ? Aku tersenyum pada Ayah dan Minwoo. Hah ! Lelaki itu belum bangun juga ternyata.

Ayah melirik ke arahku. Kenapa ? Hahaha, aku rasa Ayah tahu apa yang akan aku kerjakan.

“Ganggulah pria angkuh itu, ya. Ayah pergi,”

“Uhm, akan aku lakukan,”

“Ya ! No Minwoo ternyata kau pemalas sekali,”

Baiklah. Setidaknya hari ini aku harus menjadi lebih kuat dari biasanya. Menyemangati Ibu dan Ayah serta tidak merepotkan orang lain, apalagi Minwoo.

Yeong In’s POV end

Yeong In berjalan kembali menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 07.13 pagi. Ternyata sudah 1 jam lebih ia meninggalkan Minwoo di kamarnya. Jika suster tahu, apa jadinya mereka ?

Yeong In mengintip sejenak keadaan di dalam kamarnya. Ia melihat Minwoo masih dalam keadaan tertidur dengan posisi duduk di kursinya. Yeong In tersenyum. Lalu, ia membuka pintu dengan sangat hati-hati. Ia tak mau membuat suara yang dapat membangunkan Minwoo.

Yeong In tersenyum senang saat ia melihat wajah Minwoo dalam lelap. Sejak dulu, ia selalu berharap dapat menatap wajah diam Minwoo. Tapi ia tak pernah bisa untuk melakukannya. Alasannya tentu saja ada pada Minwoo. “Tidak salah ya banyak yang menyukainya,” umpat Yeong In masih dengan tatapannya.

Minwoo masih saja luwes tertidur. Tirai kamar yang telah terbuka dan menebarkan cahaya matahari pun tak jua membuat Minwoo untuk bangun. Yeong In sudah siap dengan dirinya. Ia sudah rapi dan jauh lebih baik saat ini. Dirasa sudah cantik, ia pun kembali pada Minwoo.

“Sebenarnya dia melakukan apa tadi malam, hah ?”

“Minwoo-a,” panggilnya. Ia mencoba menyentuh bahu Minwoo dengan pelan. Namun, tetap saja Minwoo tidak merespon. Yeong In menepuk bahu Minwoo berulang-ulang, tapi hasilnya masih sama. Nihil.

Yeong In mulai kesal. Kali ini ia akan mencoba untuk membuat suara agak keras. “Ya ! Minwoo ! Apa kau sudah mati, hah ?” teriaknya tepat di telinga Minwoo. Minwoo sedikit terganggu. Ia menggeliat sebentar dan melihat Yeong In untuk beberapa detik, lalu kembali melanjutkan tidurnya.

“Ya ! Kau tidak mau bangun ? Ini bukan kamarmu, Minwoo ! Cepat bangun dan pulang !” teriak Yeong In lagi. Ia mulai frustasi dengan Minwoo. Hari ini nampaknya akan kembali seperti semula. Menghadapi Minwoo dengan sikap dan sifatnya yang lalu.

Minwoo membuka sebelah matanya. Mata kirinya itu melirik pada Yeong In. Dilihatnya wajah kesal dan sebal gadis itu. Ia sedikit tersenyum melihatnya.

‘Minwoo tersenyum ?’ tanya Yeong In pada dirinya sendiri. Ia sempat terkejut saat melihat senyum Minwoo. Walau hanya sedikit. “Apa ?” tanyanya, membuat Minwoo bangun untuk duduk dengan sempurna.

“Buatkan aku kopi,” perintah Minwoo pada Yeong In. Yeong In tertegun.

“Kopi ? Haaah, kau kira aku ini siapa, hah ? Pembantumu ?” terdengar nada marah dari suara Yeong In. Minwoo membuka kedua kelopak matanya. Ia merasa salah berkata.

“Bukan—“

“Cukup kau membuatku peduli dengan semua kebodohanku sendiri. Memperhatikan seorang Minwoo yang tak pernah peduli denganku. Kau tidak tahu ? Berapa banyak aku mendapatkan hina dari teman-temanmu di sekolah. Yang kau tahu hanyalah aku kekasih yang tak tahu harus menempatkan posisinya dimana. Dan… Sekarang aku tahu posisiku di matamu sebagai apa, No Minwoo,” Yeong In memotong ucapan Minwoo dengan serentetan keluhannya selama ini. Ia benar-benar sudah lelah dengan keadaannya di kehidupan Minwoo. Minwoo hanya mendengarkan dengan pikiran yang berkeliaran kemana-mana. Tampaknya ia benar-benar melakukan kesalahan. Dan ia tak habis pikir akan seperti ini.

Minwoo tertunduk dalam diam. Ia mencerna kalimat Yeong In barusan. Tak ada yang salah dengan kalimat itu. Semuanya terlihat benar.

“Tolong jangan membuatku marah, Minwoo-a,”

Yeong In berjalan meninggalkan Minwoo yang masih berkutat dengan pikirannya. Mungkin untuk saat ini, ia tak harus menemui Minwoo dulu. Sudah saatnya perkataan Min Ah ia dengar. Membiarkan Minwoo dengan keluhannya selama ini. Mencoba membuat Minwoo berpikir.

Mianhae, Yeong In,” sesal Minwoo.

-ooo-

Teng tong…

Jam istirahat akhirnya datang. Semua siswa siswi mulai berhamburan ke luar dari kelasnya. Namun berbeda dengan Yeong In dan Min Ah yang masih setia pada soal akhir yang tak kunjung mereka dapatkan jawabannya.

“Aish… Menjengkelkan !” teriak Min Ah frustasi. Ia mulai lelah untuk mencari kembali hasil dari soal yang diberikan Goo songsaenim sebelum pelajaran usai.

“Aku tidak mendapatkannya, Mina-a,” ucap Yeong In lesu. Ia mengambil kotak pensilnya dan meraih sesuatu di dalamnya.

“Yeongie-a, kau mau ke kantin ? Aku dengar Ji Hoon sunbae menjual sesuatu di sana,” Min Ah membereskan peralatan tulisnya dan menggantungkan tasnya di bagian samping mejanya.

Yeong In menatap Min Ah, “Aku harus bertemu seseorang,” ucapnya. “Minwoo ?” tanya Min Ah.

Yeong In menggelengkan kepalanya pelan. Tanpa pikir panjang, ia memberikan Min Ah secarik kertas yang ia lipat, yang baru saja ia ambil dari kotak pensilnya. “Apa ini ?”

“Kau lihat saja,”

Min Ah membuka kertas itu dengan ragu sambil melirik pada Yeong In. Ada yang tidak enak ia rasakan saat ini. Ketika kertas itu terbuka, Min Ah membacanya.

Min Ah terkejut ketika mendapati nama seseorang yang ia kenal tertulis di bagian bawah kalimat. “Hyorin….eonnie ?” tanyanya kikuk.

Yeong In mengangguk pasti menanggapi pertanyaan Min Ah. Ia tahu apa yang ada dipikiran sahabatnya itu sekarang. “Aku tidak tahu apa yang ingin ia katakan padaku, Mina-a,”

“Kauu pasti kuat, Yeongie-a. Apa aku harus menemanimu ?”

“Aku rasa, lebih baik jika aku sendiri. Mina-a, tolong katakan pada Ji Hoon sunbae aku tidak akan ikut rapat hari ini,”

“Ya, Yeongie-a, kau akan bolos ?”

Nde…,”

“Tap—“

“Yeong In-a !!!!!”

“Aish… Karena hal itu dia harus meninggalkan pelajaran ? Bodoh !” umpat Min Ah. Ia merasa kesal karena Yeong In meninggalkannya begitu saja.

“Min Ah,” panggil seseorang dari ambang pintu kelas. Karena merasa terpanggil, Min Ah hanya menoleh tanpa menjawab panggilan barusan.

“O ! Minwoo,” kejutnya. “Masuk…lah,” ucap Min Ah sedikit panik. Yang ia pikirkan kini adalah alasan apa yang akan ia berikan pada Minwoo jika lelaki itu bertanya tentang Yeong In. Ia sedikit depresi karena itu.

Minwoo berjalan mendekati meja Min Ah. Ia sempat melihat ke arah tempat duduk Yeong In yang berada di depan meja Min Ah. ‘Dia pergi ?’ gumamnya.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” Minwoo terlihat seriuus mengatakannya. Min Ah hanya pasrah kini dengan apa yang harus ia jawab untuk Minwoo.

“Tentang ?”

Minwoo menghela napas beratnya, “Hae Na,” kedua mata Min Ah membola. Ia terkejut. Mungkin lebih baik baginya mengatakan tentang Yeong In daripada mengenai Hae Na. Buntu. Otaknya buntuk sekarang.

-ooo-

Yeong In berlari sekuat tenaganya menuju halte bis yang terletak tidak terlalu jauh fari sekolah. Ia terlihat tergesa-gesa. Kadang, ia melihat jam tangannya. Ia pun sama sekali tidak memperdulikan seragamnya yang tak lengkap itu. Padahal, aturan sekolah sangatlah harus dipatuhi.

Drrt.. drrt… ponselnya bergetar.

Yeobosseyo,”

“…”

“Iya, aku sedang menunggu bis , eonnie,”

“…”

“Apa terjadi sesuatu ?”

“…”

“MWO ???”

“…”

“Aku akan secepatnya,”

Tut !

Yeong In menutup teleponnya dengan perasaan tak tentu. Percakapannya barusan tidak membuatnya senang. Ia merasa ada yang membuat sakit di bagian hatinya. Sangat sakit hingga ia tak mampu untuk menahan bendungan air matanya. Ia menangis. Menangis untuk sesuatu yang seharusnya telah berlalu dan bukan hal yang harus ia pedulikan lagi. Tapi ia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Meski adalah masa lalu, tapi masih sangat berharga untuknya.

“Seharusnya aku tidak meninggalkannya dulu,”

Drrt drrrt..

Klik.

From : Hyorin eonnie

Cepat, Yeongie…

 

Mwoya ?”

-ooo-

Hembusan angin malam bertiup datang dan pergi. Suara hiruk piruk pengunjung menggema pada berbagai penjuru. Acara sosial yang diketuai oleh Ji Hoon itu berjalan lancar. Sampai jam 8 malam pun, pengunjung stand masih sangat banyak, terutama para siswa sekolah yang juga ikut berpartisipasi. Festival pelajar yang digelar hari ini, membuat Ji Hoon harus rela meninggalkan pelajarannya hari ini. Keinginannya mengisi stand datang tiba-tiba sesaat ia tahu bahwa festival ini hanya diadakan dalam hari ini saja. Ini semua membuat anggota organisasi sekolah mendadak menghentikan rencana mereka untuk melakukan hal lain.

“Ah, Min Ah… Dimana Yeong In ?” tanya Ji Hoon yang kala itu tidak melihat adik tingkatnya membantu acaranya.

“Dia harus pergi menemui seseorang,”

“Apa dia bertengkar dengan Minwoo ?”

“Eh ?” Min Ah tampak bingung.

“Oh, lupakan. Lakukan pekerjaanmu lagi,” Ji Hoon melangkah meninggalkan Min Ah yang sibuk menyalin daftar pengunjung yang datang.

“Minwoo, kau datang!” terdengar teriakan Ji Hoon memanggil Minwoo yang baru saja datang. Min Ah menoleh dan memperhatikan dua lelaki itu. Sedikit timbul pertanyaan dengan keakraban mereka.

“Dimana Yeong In ?”

“Yeong In ?”

“Ya ! Bagaimana kau bisa tidak tahu kemana perginya kekasihmu, eoh ?

Sunbae… Apa seharusnya aku bertanya padamu kemana dia pergi ?”

Mwo ?”

“Kau tahu aku, kan ? Kau tak akan bisa menyembunyikannya dariku?”

“Ya ! Kau ini berkata apa ? Aku tidak tahu, untuk itu aku bertanya pada—,“

DDUAK ! BUAK !

Minwoo menarik kerah bahu Ji Hoon dengan kuat. Ditatapnya mata kakak tingkatnya itu dengan lekat. Bola matanya penuh amarah yang membara. Ada perasaan marah, kesal dan benci yang ia rasakan saat ini. Semakin ia melihat wajah Ji Hoon, semakin ia kian kuat mencengkram kerah baju Ji Hoon.

Semua pengunjung yang ada di stand itu kini tengah berkumpul mengerumuni Minwoo dan Ji Hoon. Mereka hanya melihat dan takut untuk memberhentikannya. Karena mereka tahu siapa Minwoo.

“Kenapa kau mengganggu hidupnya ?”

“No Minwoo… Jangan melakukannya di sini,” pinta Ji Hoon sedikit memohon. Ia terlihat seperti takut saat ini.

“Jawablah, Ji Hoon !”

“Jangan membuat kekacauan di sini, Minwoo,” ucap Min Ah yang merasa tak enak pada pengunjung lain. Ia segera menarik Minwoo untuk keluar dari situasi itu.

-ooo-

“YA ! MINWOO !” teriak Min Ah sambil menatap Minwoo penuh amarah. Sedangkan yang ditatap hanya berusaha menjadi biasa.

“Kenapa kau memukulnya ?”

“…”

“MINWOO !”

“WAE ???!!!” teriak Minwoo lebih lantang dari Min Ah. Membuat Min Ah sedikit menghindar dan takut. Minwoo terlihat tidak baik-baik saja saat ini. Sikapnya sedang tak terkontrol rupanya. Min Ah melihat itu. Sama seperti sikap lelaki itu ketika ia melihat Minwoo kehilangan Hae Na.

“Aku hanya bertanya, alasan apa kau memukulnya ? Dia tidak pernah mengganggu Yeong In,” Min Ah berusaha berkata dengan lembut. Ia tak mau meneruskan amarahnya. Ia merasa takut pada Minwoo.

Minwoo melihat ke arah Min Ah. Dari bola matanya, terlihat jelas oleh Min Ah jika Minwoo sedang kalut.

“Kau mengetahuinya kan ?” pertanyaan Minwoo terdengar menyindir Min Ah. Namun Min Ah masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan Minwoo.

“Ka— Kau… Apa maksudmu ?”

“Youngmin. Jo Youngmin,” seketika mata Min Ah membola dengan cepatnya. Ia sama sekali tak menyangka Minwoo mengetahui nama itu. Nama yang sangat berarti untuk Yeong In.

Minwoo tertawa hambar. Ia mencoba mengalihkan perasaannya yang sedang kacau saat ini. Tak ada yang pernah membuatnya seperti manusia biasa. Manusia yang bisa dijadikan tempat berbagi maupun menjadi orang yang berguna. Semua tak berguna untuk orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Apa aku manusia yang tak akan pernah menerima kebaikan ?”

JLEB ! Hati Min Ah terasa sakit seketika. Perasaan bersalah pada Minwoo kini ada pada dirinya. Ia tahu, Minwoo bukanlah orang yang berarti baginya. Tapi bagaimanapun juga, ia sadar. Seharusnya Minwoo mengetahui semuanya. Walau tidak dekat, tapi ia adalah teman Minwoo saat sekolah dasar.

Ia merasa bersalah.

“Maafkan aku Minwoo. Tapi aku merasa tidak adil dengan Yeong In jika hanya memberitahunya padamu saja sedangkan ia tidak tahu tentang kau dan Hae Na,”

“Tidak apa-apa. Aku telah membuat keputusan,”

Min Ah menatap tajam ke arah Minwoo. Ia bisa melihat betapa seriusnya Minwoo kali ini. Tak ada sikap dingin maupun angkuh tergambar di wajahnya. Ia rasa, Minwoo akan melakukan hal yang tak pernah ia inginkan terjadi.

“Keputusan ?”

“Aku tidak akan peduli lagi,”

“Minwoo….,”

“Aku tidak akan peduli dengan hidupku lagi. Tidak akan peduli dengan hidupnya lagi. Aku akan membiarkan ia bebas. Min Ah, berikan ini padanya,”

Minwoo menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna hitam kepada Min Ah. Min Ah yang tak paham dengan kelakuan Minwoo hanya berusaha untuk menurut saja. Sebenarnya ada yang ingin ia tanyakan, tapi mendengar keputusan Minwoo, baginya sudah cukup jelas. Namun, bukanlah ini yang ia mau. Karena ia tahu, kali ini Minwoo bisa berubah. Meskipun kemarin ia mengatakan untuk tidak menjadikan Yeong In sebagai korban, tetap saja bukan ini penyelesaiannya.

“Sampaikan maaf dan terimakasihku padanya,” Minwoo lantas melangkah meninggalkan Min Ah yang masih membatu pada posisinya. Namun, tiba-tiba saja gadis itu mengejar Minwoo.

“Untuk apa kau melakukan ini, Minwoo?” langkah Minwoo terhenti. “Aku hanya ingin kembali pada tubuhku yang dulu. Aku pergi,”

Min Ah membiarkan Minwoo meninggalkannya. Memang ada rasa senang saat Minwoo mengatakan untuk kembali, tapi ada rasa sesal yang menggerogoti pikirannya. Walau begitu, ia harus berusaha mengembalikan keadaan seperti semua, meski nukan kesalahannya sepenuhnya.

-ooo-

Yeong In menatap haru seseorang yang sedang melahap makanannya dengan malas. Seperti tak ada harapan hidup yang mengikuti seseorang itu saat ini. Berada di kursi roda dan harus menerima bantuan orang lain setiap waktu. Bukanlah keinginannya.

“Masuklah ke dalam,”

Eonnie,”

“Tak apa Yeongie-a. Dia akan senang melihatmu,”

Yeong In sedikit ragu untuk menerima kebaikan itu. Ia menatap kepastian yang terpancar di mata Hyorin. Seseorang yang sudah ia kenal beberapa tahun ini. “Bagaimana eonnie meletakkan pesan di kotakku ?”

“Aku menyuruh seseorang meletakkannya,”

“Siap—,” drrt drrrt

Eonnie, aku harus menjawab teleponku dulu,” Hyorin hanya mengangguk. Kemudian ia beralih untuk masuk ke kamar seseorang yang tadi diperhatikan oleh Yeong In.

“Minwoo ?” gumamnya saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.

“Minwoo,”

Nde…,”

“Maaf tidak mengabarimu,”

Gwencahana, tidak masalah. Yeong In-a,”

“Uhm…,”

Lebih baik kita hentikan hubungan kita,”

-ooo-

TBC…

Gomawo yang udah baca ya.. maaf gaje🙂 RCL yah..

This entry was posted by boyfriendindo.

6 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Don’t Care Again ….! – Chapter 03

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: