[FANFICT/FREELANCE] Rainbow for You – Chapter 02

Title 
: Rainbow for You – Chapter 02
Author : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Kwangmin

  ~ Gongchan (B1A4)

  ~ Jung Yeong In

Lenght : Threeshoot🙂

-####-

Myujin’s POV

 

Tiba-tiba Kwangmin memegang kedua pundakku. “Aku melihatnya, jadi biarkan aku membawamu dari sini. Kajja” aku mengangkat kepalaku. Kulihat Kwangmin tersenyum padaku. Tapi kesekian detiknya aku menoleh ke arah Gongchan. Apa yang aku lihat ? Dia sedang mengepalkan tangannya. Jangan-jangan.

 

“Gongchan~ssi, aku pergi dulu, ne. Mianhae atas kekasaranku tadi” aku masih melihat kepalan tangan itu. Ia sama sekali tak menjawab ucapanku. Ia masih memalingkan wajahnya dari arah kami (aku dan Kwangmin )

 

Aku melenggang pergi dari tempat itu. Menjauhi kekasaran Gongchan, yang sepertinya akan berlanjut jika aku masih terus di sana.

 

DDUAKKK !!!!!

 

“YA ! Gongchan~ssi !!!!

 

Myujin’s POV end

 

-####-

 

Kwangmin’s POV

Mataku menatap lurus ke depan. Melihat pemandangan yang tak ingin kulihat. Tapi bagaimana lagi jika itu semua sudah terjadi dan akulah korbannya. Namun, aku tidak merasa kesal atas semua ini. Memang seharusnya aku yang seperti ini.

Myujin. Yeoja yang sudah kukenal selama sebulan lebih. Kini dia tengah mengobati luka yang ada di wajahku akibat pukulan keras dari Gongchan. Aku sama sekali tidak tahu, kenapa dia melakukan itu. Dia memukulku hingga 3 kali pukulan telak. Aku tak bisa membalasnya karena aku tidak mau mengotori tanganku di depan yeoja yang tidak bersalah seperti Myujin.

Sekarang kami tengah duduk di kursi panjang di depan apotik.Isakan itu menderu di telingaku. Pendengaranku terisi penuh oleh suara tangisan itu. Ya ! Saat ini Myujin tengah menangis sedu sambil mengobati wajahku. Aku yang melihatnya hanya bisa terdiam seraya menerawang jauh ke dalam matanya. Mencari alasan apa yang membuat ia menangis seperti itu. Setelah peristiwa itu, ia langsung membawaku ke apotik di dekat taman. Ah ! Aku tidak mau menceritakan peristiwa itu. Sakit sekali.

“Aiii” ucapku sedikit teriak. Aku merasa sakit, ketika dia membersihkan luka yang berada di dekat pelipisku. Aku memegang tangannya. Tapi, ia malah melanjutkannya lagi, dan tangisan itu malah menjadi-jadi sekarang. Sesenggukan yang terdengar menyiksa tenggorokannya.

“Mi-mianhae, Kwangmin~ssi..hiks hiks”  dia menghentikan aktivitasnya. Sekarang ia malah menunduk tak melihatku. Apa coba yang dilihatnya di bawah kursi ?

“Gwenchana. Kau tidak usah menangis seperti itu, eoh” aku mengajak rambutnya. Aku tidak mau dia merasa takut jika aku marah.

“Ini semua karena aku. Jika tadi kita tidak bertemu, pasti kau tidak akan seperti ini. Kau pasti akan baik saja. Tidak merasakan sakit” dia menangis lagi. Jangan buat aku jadi sedih Myujin. Tapi, sebegitu pedulinyakah dia terhadapku ?

Aku memegang pundaknya. Akhirnya wajah itu dapat kulihat. Matanya sembab. Buliran-buliran air matanya pun masih terlihat jelas di wajahnya yang putih itu.

“Sudahlah. Ini tidak terlalu sakit. Beberapa waktu juga akan sembuh”

“Aku minta maaf atas kesalahannya Kwangmin~ssi. Tapi, aku sama sekali tidak tau kenapa dia seperti itu. Mianhae”

“Ne. Asalkan bukan kau saja yang seperti ini, itu sudah sangat beruntung untukku”

Myujin menatapku. Apa perkataanku salah ? Tapi aku memang benar-benar beruntung karena bukan dia yang terluka. Melihatnya ditarik kasar oleh namja itu saja, aku sudah bisa merasakan keletihan dan sakit di lengannya. Lihat saja, lengannya jadi membiru seperti itu. Dasar namja gila.

“Lenganmu..” ucapku sembari mencoba memegang lengannya yang membiru akibat perbuatan Gongchan tadi sore. Ah, aku lupa jika ini sudah malam.

Myujin hanya tersenyum getir. “Nanti akan aku obati di rumah. Kwangmin~ssi, gomawo ne sudah melindungiku. Aku bahkan belum bisa seperti itu padamu. Kau malah sudah 2 kali”

“Ah, itu bukan apa-apa. Sudah malam, kajja. Kita pulang” aku berdiri dan mengulurkan tanganku padanya. Ia pun membalasnya.

“Ne. Sampai jumpa lagi”

Myujin membalikkan tubuhnya. Ia langsung melangkah pergi tanpa tersenyum padaku lebih dulu. Eoh ? Kenapa aku berharap dia harus tersenyum padaku ? Ah, dia mau pulang sendiri ? Yak, Andwae ! Aku tidak mau di tengah jalan dia kenapa-kenapa. Apalagi tadi Gongchan langsung pergi. Bisa saja kan namja itu masih menunggu Myujin di suatu tempat.

“Myujin~ah, aku antar saja” teriakku ketika langkah itu sudah hampir menjauh. Sontak Myujin membalikkan tubuhnya. Akupun langsung menghampirinya.

“Tapi kau..”

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, aku langsung menghambur membawanya pergi. Tidak peduli jawaban apa, yang penting aku harus mengantarkannya dengan selamat sampai di rumah. Urusanku sendiri aku bisa mengaturnya. Walaupun pada waktu pertama kali mengantarnya itu, aku dimarahi habis-habisan oleh Hyungku. Aku yang ingin, jadi biarkan aku menemaninya sebelum ia akan ke China seusai lulus nanti.

Kwangmin’s POV end

-####-

Myujin’s POV

Aku tengah berdiri di depan sebuah pagar rumah yang besar. Aku membawa kotak yang isinya adalah rainbow chocolate. Kemarin, aku membuatnya sendiri di toko. Sudah 2 hari setelah kejadian di taman itu, aku tidak bertemu Kwangmin. Tapi, kata Sajangnimku kemarin sore Kwangmin datang ke toko dan mencariku. Tapi, sayangnya saat itu aku sedang mengantarkan kue ke sebuah cafe.

Aku tersenyum cerah hari ini. Kurapikan seragam sekolahku. Ya. Sepulang sekolah tadi aku langsung ke sini. Ke rumah Kwangmin. Jam sudah menunjukkan pukul 3. Seharusnya aku sudah harus berangkat kerja. Namja itu kemana ? Aku ingin sekali bertemu dan memberinya ini sebagai ucapan terimakasihku. Aku juga telah menyiapkan surat  di dalam kotak. Semoga surat itu bisa mewakili kalimat yang selalu ingin aku katakan padanya.

SHIIIT !!!

Sebuah motor berhenti tepat di depanku. I-Itukan motor  toko. GONGCHAN !!! Aish, kenapa dia bisa ada di sini. Aku kan bukan mengharapkan dia. Lagipula aku masih marah padanya. Memangnya dia tidak tau, eoh ?

“Sedang apa kau di sini, Myujin~ah ?” tanyanya sambil melepas helm yang dipakainya. Wajahnya terlihat pucat. Kenapa dia ?

“A~aku sedang menunggu Kwangmin” jawabku. Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Perasaanku tidak enak.

“Namja kemarin itu ya ? Ah, sudahlah. Dia tidak akan menemuimu”

“Aku akan menunggunya sampai dia pulang. Kau kenapa di sini ?”

“Jelas saja mencarimu” tiba-tiba ia turun dari motor dan menghampiriku. Akupun refleks langsung menjauh darinya. Kenapa ketakutanku bertambah besar?

“Kenapa kau menghindar ? Kajja, kita harus ke toko” perintahnya sambil menggenggam tanganku lalu menariknya. Lagi lagi. Dengan kasar.

Aku menepis tangan itu. Tapi, kemudian ia menatapku dengan tajam. Matanya yang membulat. Takut. Itulah rasa yang aku terima dalam benakku.

“Kau duluan saja. Aku tidak mau pergi denganmu” ucapku dengan cuek.

Aku masih memegang erat kotak yang kubawa. Tanpa sadarku, Gongchan langsung menghempaskan kotak itu hingga terjatuh. Aku tentu saja terkejut dibuatnya. Bagaimana bisa dia melakukan itu pada chocolate buatanku ? Dia jahat sekali.

“YA ! ITU BUATANKU. KENAPA KAU MEMBUANGNYA ?!!” teriakku dengan sangat lantang. Dia malah tersenyum seperti meremehkan. Sudah jelas-jelas aku marah. Apa dia tidak sadar ? Sebenarnya dia ini kenapa ? Gongchan yang kukenal dulu menghilang tiba-tiba.

“Namja itu tidak pantas menerimanya darimu”

Aku tertarik paksa. Akhirnya, kehendaknya kini tak bisa ku hindari. Sekarang aku hanya pasrah. Aku melihat kotak itu tergeletak iba. Ingin sekali aku mengambilnya, tapi Gongchan malah sudah melajukan motornya. Dan aku hanya bisa bungkam di atas motor.

Myujin’s POV end

-####-

Kwangmin’s POV

Hari ini aku terpaksa naik bis. Mobilku mogok di jalan. Langsung saja aku menelfon hyungku untuk mengurusinya. Lalu, aku melenggang pergi. Hahahahaha.

Seketika, aku melihat sebuah kotak berwarna biru tergeletak di depan pagar rumahku. Dasar tidak bisa menjaga kebersihan, seenaknya saja membuang sampah di  pelataran rumahku. Akupun langsung mengambilnya. Berniat ingin membuangnya ke tempat sampah. Namun, aku terkejut ketika ku lihat sebuah namaku tertulis di sampul kotak. Kotak inipun masih bersih dan rapi. Tanpa pikir panjang, aku langsung membawanya hingga ke dalam kamarku.

-####-

Aku duduk di kursi belajarku. Ku pandangi setiap lekuk kotak biru ini. Apa isinya ? perlahan, aku buka kotak itu. Wah ! Chocolate berbentuk hati dengan warna pelangi. Bagus sekali. Bagaimana bisa orang ini membuatnya. Pasti sangat sulit untuk merapikan warna-warnanya.

“Eh, surat ?” aku melihat sepucuk surat kecil tertempel pada penutup kotak. Langsung saja aku baca.

Untuk Kwangmin

Rainbow chocolate ? Biasanya kau selalu mendengar Rainbow Cake kan ?

Untuk ucapan terimakasihku, chocolate ini khusus kuberikan pada seseorang yang telah menjadi pelindungku. Aku tidak tahu, kenapa aku selalu ingin dilindungi olehmu. Sejak pertemuan awal malam itu, aku sudah merasa nyaman denganmu. Gomawo, ne. Semoga suka.

Myujin ^^

Aku tersenyum. Tentu saja karena aku senang dan tersentuh dengan kalimat yang tertulis di kertas itu. Kenapa aku jadi bahagia sekali ? Jangan-jangan ! Aish, tidak boleh. Diakan sahabatku. Mana boleh seperti ini.

“Eum, Myujin !”

Yak ! Kenapa aku jadi melamuninya. Mengingat wajah dan senyumnya. Kwangmin ! Kau ini kenapa ?. Tuhan, jangan sampai perasaan itu muncul. Aku tidak mau seperti ini. Jika benar-benar terjadi, apa jadinya aku ketika dia pergi ke China. ANDWAE ! Tidak boleh.

-####-

Sore ini aku berencana untuk mengajak Myujin ke pantai. Tapi, kenapa harus hujan hah !!!! Kenapa tidak mendukung sama sekali. Akukan ingin membuat kenangan bersama Myujin. Argh ! hujan ! hujan ! Berhenti.

Aku mengetuk-ngetuk meja makan dengan menopang dagu. Tatapan lurus ke luar jendela memandangi hujan yang semakin deras. Sesekali decakan kecil terlontar dari mulutku. Menyebalkan memang seperti ini.

“Kasihannya seorang Kwangmin tidak jadi berkencan, hihihhi” ejek Hyungku  – Youngmin –  yang entah sampai kapan sudah berada di meja makan di depanku. Ia terkekeh dengan senang. Dasar kakak menyebalkan.

Aku mendengus kesal tanpa menatapnya. “Bantu aku Hyung” sergahku yang kemudian disahuti olehnya.

“Mwo ? Bantu apa ? Kalau untuk menghentikan hujan, jangan minta padaku” jawabnya enteng.

Pletak !

“Aiii, kau ini. Dasar anak kecil” pletak ! Dia membalas jitakanku. Ish, kakak pendendam. “Memang bantu apa ?” tanyanya lagi.

“Sepertinya, aku jatuh cinta pa..”

“MWO ? Kau jatuh cinta pada Yoora ?” tanyanya memotong ucapanku. Dia ini, membuatku kesal saja. Aku menoleh padanya dengan tatapan sinisku. Sudah jelas-jelas belum selesai, malah langsung memvonis yeoja lain. Paboya Hyungie ! Memang di sekolah aku dekat dengan Yoora, teman sejak Sdku. Tapi, bukan berarti aku jatuh cinta padanya. Kenapa dia bisa menyimpulkan seperti itu ? Dasar dia saja yang menyukainya. Lebih baik aku pergi.

“Percuma aku meminta bantuanmu” akupun bergegas pergi dari tempat itu. Bercerita dengannya sama saja bercerita dengan tembok.

-####-

Akhirnya, acaraku akan dimulai. Lagi lagi senyumku mengembang. Senang sekali rasanya bertemu dengan Myujin. Aku melihat yeoja itu baru saja keluar dari toko. Berhasil bukan ! Aku meminta bantuan pemilik toko itu. Tapi, aku tidak menyogoknya. Akupun berdiri tegap menyambut Myujin. Ternyata lelah juga bersandar pada mobilku sendiri. Ah, inikan mobil hyungku.

“Maaf menunggu lama” ucapnya sambil menebar senyum padaku. Wuii, senyumnya manis sekali. Sama dengan sikapnya.

“Anio. Itu biasa untuk seorang namja yang menunggu yeoja. Kajja, aku ingin mengajakmu ke pantai” aku langsung membukakan pintu mobil untuknya. Diapun menurut dan masuk ke dalam mobil.

Begitu masuk ke dalam mobil, aku langsung tancap gas menuju pantai. Beruntung sekali hujan yang berhenti membuat cuaca kembali cerah, bahkan sangat cerah.

“Untuk apa kau mengajakku jalan-jalan, Kwangmin~ssi ?” tanyanya mengalihkan pikiranku. Ehm, aku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan hatiku.

“Aku hanya ingin saja. Oh iya, gomawo ne coklatnya. Aku sangat suka” aku tersenyum padanya.

Detik berikutnya, dia terlihat kaget lalu mengalihkan matanya melihat ke sebelah kiri. Melihat orang-orang berjalan di trotoar. Apa bagusnya itu ?

“Kenapa kau diam ? Coklat itu memang enak” kataku lagi. Akhirnya dia melihatku. Walaupun aku hanya meliriknya saja, karena aku fokus pada setirku.

“Aku tidak enak padamu. Seharusnya, aku memberinya langsung. Tapi, malah terlantar begitu saja. Tapi, sungguh sebenarnya aku yang ingin memberinya padamu. Aku ingin bertemu denganmu kemarin itu. Tapi…karena Gongchan aku ja..”

SREETTT !!! Aku rem mendadak setelah mendengar nama ‘Gongchan’. Dia terlihat terkejut dan langsung menatapku. Nafasnya menjadi tidak teratur. Maaf, aku rasa dia merasa ketakutan atas tindakanku.

“Gongchan ?? Kenapa lagi dia ? Apa dia kasar lagi padamu ? Masalah itu, tidak usah kau pikirkan. Tapi, kenapa namja itu ? Kau tidak diapa-apakannya kan ?” tanyaku bertubi-tubi, dan kurasa Myujin tidak tau harus menjawabnya darimana. Tapi, aku benar-benar sensitif mendengar nama itu setelah kejadian waktu itu.

“Tidak apa-apa, Kwangmin~ssi. Aku baik-baik saja” jawabnya masih dengan nafas yang tersengal-sengal.

“Baguslah. Mianhae, membuat kau terkejut. Tapi, aku benar-benar…ah, tidak tau”

Aku kembali menancapkan gas. Kulajukan mobilku dengan pelan, karena kami sudah berada di sekitar pantai. Hanya tinggal mencari tempat untuk berhenti dengan elit. Myujin terlihat mengatur nafasnya. Ia malah terdiam dan tidak melihatku lagi.

-####-

“Kita duduk di sini saja” aku mengajaknya duduk di hamparan pasir yang sudah sedikit mengering.

“Ternyata pantai ini masih menawan juga ya” lontarnya yang membuatku sontak menoleh ke arahnya. Memangnya dia sudah lama tidak ke sini ?

”Memangnya kau sudah lama tidak ke sini, eoh ?” tanyaku. Ia hanya mengangguk tanda mengiyakan.

Suara ombak terdengar tidak terlalu ramai. Tapi, ketika gulungan itu berulang-ulang aku merasa suasana menjadi aneh. Entah karena apa, tapi aku merasa seperti itu.

Tiba-tiba tak disangka sebuah lengkungan dengan warna yang indah terbentang di atas langit. Indah sekali. Warna yang kulihat pada coklat buatan Myujin kemarin.

“Waaahh, ada pelangi” Myujin menatap pelangi itu dengan tatapan hangat. Dan menunjuk pelangi itu dengan telunjuknya. Sedangkan aku, hanya terkesiap melihatnya. Terpana. Itu yang aku saksikan dari kilauan matanya. Ternyata ekspresi seperti ini yang ingin aku lihat darinya. Wajah yang berbinar. Baguslah, aku bisa membuatnya seperti ini sore ini.

“Kau senang melihatnya, Myujin~ssi ?”

“Tentu saja. Aku selalu berharap bisa melihat pelangi dengan orang yang aku sayangi” jawabnya tanpa sedikitpun menoleh padaku.

DEG ! Orang yang ia sayangi ? Apakah orang itu aku ? Ya Tuhan, aku senang sekali jika memang benar itu aku. Sekarang aku benar-benar merasakan itu. Perasaan yang sebenarnya tidak aku inginkan. Tapi, perasaan itu datang begitu saja dan bersarang di hatiku saat ini. Myujin ! Gomawo.

“Kwangmin~ssi, kau melamun lagi ya ?”

SSYYAPPP !

“Ah, mianhae. Eum, maksudmu tadi apa ?” tanyaku lagi. Aku sangat penasaran dengan penuturannya itu.

“Memangnya aku bicara apa ? Aku sama sekali lupa, karena terlalu senang melihat pelangi” dia hanya memperlihatkan senyumnya yang membuatku melemah seketika.

“A~ tidak. Lupakan saja” jawabku kemudian melihat hamparan air laut di depanku.

“Gomawo Kwangmin~ssi sudah mengajakku ke sini. Aku senang sekali. Kapan-kapan ajak aku lagi ya”

Srrrr. Semilir angin menembus tulangku. Beruntungnya aku hari ini. Menghabiskan soreku dengan Myujin. Kata-katanya membuatku bahagia. Tapi, setelah dia ke China apa aku masih bisa mengajaknya melihat pelangi lagi ? Walaupun pelangi itu timbul dengan sendirinya tanpa kurencanakan.

“Tapi, kapan aku bisa mengajakmu lagi ? Sebentar lagi, kau pergi” sergahku sambil terus menatap lurus ke depan. Mencoba menerawang masa depanku setelah lulus nanti. Nun jauh di sana. Apakah bisa aku mengembalikan bahagianya itu suatu saat nanti.

“Benar juga. Ah, begini saja. Jika aku sudah pergi nanti, aku akan selalu menunggu pelangi di sana. Kau juga menunggunya di sini. Ketika aku melihatnya, aku akan memanggil namamu. Walaupun aku yakin, kau tidak ada di sampingku. Tapi, dengan memanggil namamu saja, aku bisa merasakan kau menemaniku lewat pelangi yang ku lihat. Seperti saat ini”

DEG ! Myujin. Aku tak bisa berkedip sama sekali mendengar penuturannya barusan. Mataku terkunci saat melihatnya. Aku bisa melihat kesungguhannya walaupun dari samping. Dia melihat ke arah pelangi. Ia tersenyum. Harapan yang sangat terkesan untukku. Pelangi. Aku akan memberinya pelangi kapanpun dia mau. Aku akan menjadi pelangi untuknya. Aku juga bisa seperti itu. Aku janji.

“Aku janji, akan selalu menunggu pelangi di sini” ucapku serius. Tapi, dia malah terkekeh melihatku. “Eoh, kenapa kau tertawa?”

“Kau serius sekali Kwangmin~ssi, aku takut melihat wajahmu yang serius itu, hahaha”

Yah, dia malah tertawa. Tapi, tak apa. Melihatnya tertawa membuatku lega. Akhirnya aku bisa membuatnya seperti itu. Aku ingin melihatnya seperti itu. Tidak sedih dan menangis. Hanya itu yang tak ingin kulihat. Untuk yeoja yang aku sayang. MWO ?? Sayang ? Ternyata hatiku berkata seperti itu.

“Kenapa kau senyum-senyum seperti itu ?” tanyanya yang sontak membuatku menghentikan acara senyumku selama memikirkan perkataanku dalam hati tadi.

“Kau ini, selalu memperhatikanku, ne ?”

“Percaya diri sekali kau ini. Aku hanya lebih khawatir padamu, jika kau senyum-senyum sendiri” cibirnya. Tapi cibirannya itu, membuatku mengulas senyum tiba-tiba.

“Aku tersenyum karena pelangi itu” aku menunjuk pelangi yang semakin memudar itu.

“Memangnya kenapa ?”

“Tidak ada. Nanti kau juga tau sendiri”

“Pelit !”

Bwahahaha, wajahnya menjadi sangat kesal denganku. Yayaya, maafkan aku Myujin~ah. Tuhan, terimakasih. Akhirnya hari ini, aku bisa membuatnya bahagia. Entah kapan lagi aku bisa membuatnya seperti ini. Aku hanya ingin selalu melindunginya, menemaninya dan membuatnya tersenyum karenaku. Semoga sore ini menjadi salah satu kenangan manis untuknya. Yeoja yang membuatku menyayanginya.

Kwangmin’s POV end

-####-

2 bulan berlalu~

Ujian kelulusan sudah dilewati. Saat semuanya tertawa lepas. Menyeruak berhamburan kemana-mana. Harapan yang baik segera di junjung tinggi bersama impian. Namun tidak untuk yeoja yang saat ini tengah terduduk sendiri di taman sekolahnya. Ia sudah letih dan menyerah. Bagaimana nasibnya setelah ini berakhir. Harus meninggalkan banyak kenangan indah bersama teman-temannya, termasuk Kwangmin. Namja yang sangat ia harapkan menjadi kekasihnya. Ya. Selama 2 bulan tidak bertemu, dia sadar akan 1 hal. Merasa kehilangan saat periode waktu itu tidak ia jalani bersama namja itu.

-####-

Myujin pulang dengan perasaan gelisah. Beberapa hari lagi, ia akan meninggalkan kota ini. Seoul. Kota yang mempertemukannya dengan Kwangmin. Tapi, tak bisa dipungkiri juga jika Gongchan adalah namja yang sangat ia harapkan pada saat-saat seperti ini. Namun, perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu membuatnya enggan menemui namja itu. Selama 2 bulan ini, Gongchan seakan-akan memasukkannya ke dalam penjara. Terlalu melindungi dan membuat, jujur saja membuat Myujin tertekan.

Myujin masuk ke dalam rumahnya. Ia meletakkan sebuah amplop berisi gajinya beberapa bulan ia bekerja di dalam laci meja belajarnya. Ia berganti seragam. Lalu mendudukkan tubuhnya di depan sebuah foto. Foto ayahnya.

“Ayah, apakah ayah baik-baik saja di sana ? Aku rindu sekali pada ayah. Ayah, aku rasa ayah tau apa yang aku rasakan saat ini. Aku ingin sekali bertemu dengannya sekarang. Sifatnya persisi seperti ayah. Melindungiku dengan hangat. Dia baik sekali, Ayah. Dia selal…”

DDUUAKKK !!!! pintu terpukul dengan keras.

“Eh, Siapa itu ?” Myujin secepat mungkin beranjak dari duduknya. Mencoba melihat siapa orang yang sudah melakukan itu.

“Tidak ada orang” ucap Myujin yang sudah berada di luar rumah. Ia lihat pintunya baik-baik saja. Namun, saat tatapannya mengarah ke tanah, ia menginjak sesuatu. Secarik kertas bertuliskan tulisan berwarna merah. Ia pun mengambilnya dan membaca dengan seksama.

“IBU !!!!!!!!!”

-####-

“KWANGMIN ! KWANGMIN !! hiks..hiks..” Myujin berteriak dengan sangat keras dari balik pagar rumah keluarga Jo. Ia menggerak-gerakkan pagar itu hingga menimbulkan suara berisik. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memanggil Kwangmin.

“KWANGMIN ! AKU MOHON KELUAR ! Kwang…Min…”

Myujin terseret ke bawah tiba-tiba. Sudah cukup letih ia berteriak memanggil nama namja itu. Ia terduduk bersandar pada pagar rumah Kwangmin. Ia tenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya. Isakan tangisan itu memecah malam.

“Myujin~ah !!!”

-####-

TBC

Ha~h, FF yang nambah Gaje nih kayaknya..hehe

RCL please🙂

This entry was posted by boyfriendindo.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] Rainbow for You – Chapter 02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: