[FANFICT] Terjebak Dalam Kata ! – Chapter 07

Tittle 
Terjebak dalam Kata ! – Chapter 07
Author : Diah~
Genre : Friendship dan Romance
Rating : G
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Shim Hyunseong

  ~ Whee In (Mamamoo)

Support Casts 
: ~ Gong Miok

  ~ Yoon Saenghyon

  ~ Lee Jeongmin

  ~ Im Nera

Chapter 06

 

Hyunseong POV

Shim Hyunseong, kau hanya merasa dikecewakan oleh teman. Teman. Dia cuma teman ! Tidak lebih ! Jadi ….

Aish!

“Hyunseong-a ?!” Saenghyon memanggil dan sekarang pandangan yang lain menatapku dengan serius.

“Kau tidak perlu kesal seperti itu.” Lanjut Saenghyon yang aku tak mengerti.

“Kesal ?”

“Aku tahu rasanya bagaimana tidak bisa menyelesaikan soal dengan baik. Kesal dan sangat bodoh.” Dan juga Nera yang semakin membuatku tidak mengerti. Menyelesaikan soal ?

Aish! Aku baru ingat! Kami berempat sedang mengerjakan soal aljabar tapi konsentrasi ku buyar karena lain hal.

“Haa~ Whee In. Cuma dia yang mengerti aljabar di antara kita. Kenapa dia harus tidak datang lagi.” Jeongmin melempar asal kertas soalnya dan bertelentang.

Nama itu yang membuat konsentrasi ku kacau. Whee In. Sudah dua hari ini dia tidak ikut kelompok belajar dengan alasan yang tidak bisa ku terima.

“Apa dia sakit ?”

Ani.” Nera menjawab pertanyaan Saenghyon dengan terus mencari-cari jawaban dari soal yang sedang dikerjakannya.

“Pasti sedang berkencan.” Jeongmin bangun dari tidur-an nya.

Ani. Masih dengan tangan yang sibuk bergerak di atas kertas, Nera menjawab pertanyaan Jeongmin.

Keunde wae ?

“Dia hanya alergi ada di dekatmu.”

Kenapa Nera berbohong ? Tidak mungkin Nera tidak tahu kenapa Whee In berhalangan hadir selama dua hari ini. Kalau pun dia tidak tahu, seharusnya daritadi dia sudah menelpon Whee In menanyakan keberadaannya.

*Buuuk*

“Im Nera! YA!” Jeongmin tidak terima dengan jawaban tersebut sehingga sebuah pukulan yang lumayan keras pun jatuh dengan mulus di kepala Nera.

“Lee Jeongmin! Bisa kau diam dan hanya mengerjakan soal-soal ini !?”

Tentu saja aku tahu dimana Whee In sekarang dan apa yang dia lakukan. Di ruang klub majalah belajar bersama anak lelaki itu. Atau mungkin saja sedang bermain. Tertawa. Ah ! Aku hanya kecewa ternyata Whee In seperti ini. Kemarin juga begitu. Jadi ya anak laki tersebut si Sunbaenim lebih penting dari ujian kenaikan kelas yang sebentar lagi akan kami hadapi. Buktinya saja dia tidak belajar bersama kami.

Waktu belajar yang biasanya dua jam jadi berhenti lebih cepat karena menyerah dengan pelajaran aljabar.

“Hyunseong-a. Aku tak bisa menonton pertandingan besok. Jadi ku kembalikan saja tiketnya padamu.” Jeongmin mengembalikan tiket Champion Series yang seharusnya kami juga ikut pertandingan tersebut kalau saja Seongsaenim tidak meliburkan jadwal kegiatan klub.

“Hmm !? Kenapa kau tidak bisa datang ?”

“Bagaimana kalau kita menga-”

“Seongie!! Seongie!!” Suara dari kejauhan memotong kata-kata Saenghyon.

“Kalian mau pulang ?” Miok bertanya setelah dikira jantungnya sudah berdetak normal setelah berlari.

“Kalau kau bertanya karena hanya ingin minta pulang bersama, seharusnya kau bertanya dengan sepupu mu ini daripada orang lain.” Jeongmin menyela Miok. Aku heran dengan kedua sepupu-an ini yang tidak pernah akur sama sekali.

“Jeongmin-na kau ada disini ternyata? Eoh! Apa itu ?” Miok merebut tiket Jeongmin yang ku pegang tadi. “Basket Champion Series!? Kalian akan pergi bertiga ?”

“Awalnya …” Saenghyon menjawab.

“Tumben sekali cuma bertiga. Biasanya ada Im Nera. Juga siapa itu. Whee In!? Tapi aku tahu dia pasti tidak bisa ikut jika kalian ajak.”

“Aku baru saja tadi mau mengajak Whee In.”

Maaf aku tidak setuju Yoon Saenghyon. Kalau saja kalian tahu alasan dua hari ini dia tidak belajar bersama kita, pasti kau tidak mau mengajaknya menonton pertandingan basket bersama kita.

“Terus kenapa kau bisa tahu dia pasti tidak ikut besok ?”

Dating dengan seorang pria. Tadi aku mendengar mereka berdua mengobrol di ruang klubnya tentang rencana kencan jam 2 besok. ”

Mereka pergi berkencan ?! Kencan kemana ? Buatku frustasi saja.

“Saenghyon-na. Mana tiketmu ?” Aku bertanya secara tiba-tiba.

“Di … dalam tas.” Saenghyon membuka tas dan memperlihatkan tiket miliknya.

“Kita tidak perlu pergi besok. Tiket-tiket ini biar ku jual kepada teman-teman yang ingin menonton.” Aku mengambil paksa tiket Saenghyon dan tiket yang dipegang Miok.

“Seongie kita pergi berdua saja.”

Ani. Aku pergi dulu ya!”

Sebenarnya bukanlah masalah kalau aku dan Saenghyon saja yang menonton pertandingan tanpa Jeongmin. Bahkan sendirian pun tidak apa-apa menurutku. Aku tidak mengerti kenapa sekarang aku berlari menuju kelas berpura-pura menjual kedua tiket ini kepada siswa yang masih tersisa di sekolah. Dari kejauhan Jeongmin, Saenghyon dan Miok sudah keluar dari gerbang dan aman.

Aman ? Sebenarnya apa yang kupikirkan ?

Whee In berkencan.. Kencan.. Sekarang sudah 10 menit aku berdiri di depan rumah Whee In menunggunya pulang. Aku tidak percaya kalau besok Whee In akan berkencan. Ku buat posisi berdiri senyaman mungkin ketika melihat sosoknya yang hampir mendekat menuju rumahnya.

“Ckckckck. Jadi karena alasan sedikit tidak waras makanya kau tidak datang dua hari ini ?” Dia menatapku terkejut dan berhenti.

“Shim Hyunseong-ssi !?”

Wae ?

“Apa… Apa yang kau lakukan disini ?” Eh!? Benar juga. Apa yang ku lakukan disini?

“Mau mengantarkan ini. Tiketnya berlebih karena Jeongmin dan Saenghyon tidak bisa ikut.” Tiba-tiba aku teringat tiket yang daritadi masih ku pegang.

“Pertandingannya besok jam 2 siang.” Dengan ini mungkin bisa membuktikan kalau besok dia pergi bersama anak lelaki itu atau tidak. Dilihatnya tiket itu sejenak lalu aku pergi.

“Besok aku tunggu di luar dekat pergantian tiket.” Kataku berteriak tanpa berbalik melihatnya.

Besok kita lihat saja, kau pergi berkencan seperti yang Miok katakan, atau kau akan pergi bersama ku menonton pertandingan basket. Cuma ingin memastikan. Itu saja.

02.10

Dia mungkin sedang di jalan.

02.58

Apa di jalan sedang macet ?

03.27

“Kau ternyata berkencan Whee In. Bodoh sekali aku!”

04.16

Penonton beramai-ramai keluar dari lapangan indoor tempat berlangsungnya pertandingan. Sudah selesai.

05.09

“Shim Hyunseong!” Ada yang menepuk pundak ku dari belakang.

Whee In. Dia datang. Meskipun telat dia tetap datang.

“Kau terlam-”

Aigoo Shim Hyunseong sudah lama tidak bertemu.”

Ternyata teman Sekolah Menengah Pertama ku dulu. Sepertinya dia staff dari pertandingan ini, terlihat dari badge yang digantungkan di leher nya.

Kenapa aku harus menunggu nya terlalu lama. Mungkin pun sekarang dia sedang di rumahnya. Atau tidak. Dia masih berkencan. Lebih baik aku menunggunya di rumah saja kah !? Tapi kalau aku di depan rumahnya lalu bertemu dengan Sunbaenim itu bagaimana ?

“Kenapa aku harus menunggunya lagi ?” Aku bertanya ke diri sendiri. Sudah gelap. Whee In sama sekali belum terlihat melintasi taman yang ada di dekat rumahnya ini. Ku putuskan untuk menunggu Whee In di taman daripada di rumahnya dan menjadi masalah. Kenapa harus bermasalah ? Betul-betul frustasi.

“Tolong!” Aku mendengarkan suara seorang yeoja dari kejauhan. Terdengar tidak jelas.

“KAU RAMPOK !” Suara itu semakin membesar dan aku mengenalinya.

WHEE IN !! Whee In mengejar seseorang yang disebutnya rampok. Dia melintasi taman dimana aku sedang menunggunya. Oh Tuhan. Yeoja itu nekat sekali.  Aku menyusul Whee In untuk mengejar rampok itu. Sial ! Ternyata dia niat sekali mencuri. Tidak henti-henti nya dia kabur.  Aku mencari benda apapun yang bisa menolong Whee In. Batu bata yang tergeletak asal di pinggi jalan ku ambil dan lemparkan ke arah perampok tersebut.

 

*Bruk*

 

Yak! Pas sasaran! Rampok terjatuh dan tas Whee In pun terlempar tak jauh.

Segera ku ambil handphone untuk menghubungi polisi. Berpura-pura tepatnya.

“Kantor polisi! Ada perampokan di perumahan chongdo dekat centre park.”  Suara sedikit ku keraskan agar si perampok itu mendengar dan takut. Tidak harus menunggu lama, dia pun langsung pergi.

 

Author POV

“Apa kau tersesat ?” Hyunseong memecah keheningan di antara mereka.

Setelah setengah jam bertaruh malam atas kenekatan Whee In mengejar rampok, Hyunseong mengantarkan Whee In pulang. Lebih dari untung ternyata si rampok langsung kabur karena mendengar Hyunseong menghubungi polisi terdekat. Sedikit menggertak padahal itu panggilan palsu.

“Eh !?” Whee In menghentikan langkahnya.

“Iya. Apa kau tersesat hingga tidak terlihat di tempat pertandingan ? Aku menunggumu.”

Whee In tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Bagaimana mungkin Hyunseong menunggu dia. Whee In sangat malu. Dia melanjutkan lagi jalannya. Hyunseong tidak mengerti kenapa Whee In tidak menjawab dan hanya menunduk.

“Kau mempunyai masalah ?”

“Eh !?”

“Kau sakit ?”

Tangan Hyunseong diletakkan di jidat Whee In dan berhasil membuat Whee In berhenti bernapas sejenak.

“Apa yang dilakukan lelaki itu sampai kau seperti ini ?”

Pasti dia akan menegurku karena berkata tidak sopan untuk sunbaenim. Pikir Hyunseong.

“Kau…. Dari mana kau tahu aku bertemu dengannya ?”

Hyunseong mencari jawaban tapi tidak ketemu. Dia hanya diam.

“Shim Hyunseong! Jangan katakan kau sengaja memberikanku tiket itu. Iya kan ?!”

“Bu…bukan. Aku hanya menebaknya tadi.”

“Shim Hyunseong!”

Tidak pernah ada waktu yang tepat untuk mereka berdua berbicara. Ada saja yang akan membuat pertengkaran. Sekarang Whee In betul-betul seperti dipermainkan.

Iya, dia pasti sengaja mengajakku ke pertandingan karena tahu hari ini Sunbaenim pergi bersamaku. Kau mau melihat aku memilih siapa kan Shim Hyunseong. Pikir Whee In.

“Maaf kan aku.” Hyunseong mencegat jalan Whee In.

Whee In melewati Hyunseong.

“Aku tidak suka. Kan sudah pernah aku katakan kalau aku tidak suka kau dekat dengannya.”

“Dan juga itu. Aku sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan Miok.” Hal ini sudah lama Whee In ketahui sebenarnya. Mendengar langsung dari Hyunseong, ada kebahagian lain yang terasa. Seperti pengakuan yang ingin sekali Whee In dengarkan. Seperti air dingin yang menyejukkan amarah karena selalu dipermainkan.

“Aku juga tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Sunbaenim.” Sama halnya Hyunseong. Dia merasakan kebahagiaan yang sama saat ini.

Dari kedua orang ini sebenarnya hanya diperlukan kejujuran dan saling membuka perasaan. Meskipun selalu saja ada yang bodoh atau tidak peka dengan perasaan masing-masing. Sederhana kan. Pengakuan sudah membuat malam ini berakhir dengan senyuman di tidur mereka.

Kalau dianggap sudah selesai, sebenarnya belum.

Hari-hari menjadi lebih bersahabat, tentu saja. Whee In sudah tidak merasa canggung lagi ada di dekat Hyunseong. Ini sangat menyenangkan untuk Whee In, dia dan Hyunseong memiliki rahasia berdua yang tiga teman mereka tidak tahu. Whee In yang pernah marah dengan Hyunseong. Whee In yang tangannya pernah digenggam oleh Hyunseong. Tidak ada yang tahu kecuali mereka.

 

Whee In POV

“Aku mencium hal mencurigakan.”

“Mencurigakan ?”

“Ya. Kau dan Hyunseong. Apa yang terjadi di antara kalian ?”

Im Nera. Kau pintar sekali dalam bertanya. Kau memang cepat merasa curiga.

“Tidak ada. Kita seperti biasa. Berteman.”

“Berteman ? Setelah dulu kau menjauhi dia !? Ckckckck”

“Whee In. Mau kau bertemu denganku ? Aku ingin memberikan sesuatu ^-^” Sunbaenim mengirimkanku pesan. Bukannya sekarang dia sedang ada acara kelulusan.

“Nera. Aku harus pergi sekarang.”

“YA! Kau berutang cerita kepada ku Whee In-na.” Kata-kata yang sempat ku dengar sebelum cepat-cepat pergi dari Nera.

Aku juga ingin bertemu dengan Sunbaenim, meminta maaf karena waktu itu meninggalkannya sendirian. Dulu aku tidak berani mendekati Sunbaenim karena aku tahu dia pasti marah karena kejadian itu. Tapi ini kesempatan meminta maaf sebelum akhirnya Sunbaenim lulus dan tidak bersekolah disini lagi.

“Whee In.” Hyunseong jalan dari arah tempat acara kelulusan berlangsung. “Kau terburu-buru sekali ?”

“Eh!? Hyunseong. Aku mau ke-”

“Kau datang ?” Sunbaenim muncul tepat di belakang Hyunseong dengan memegang piagam kelulusannya.

Sunbae. Aku minta maaf mengenai kejadian waktu itu.”

“Kejadian ? Aku sudah melupakannya.” Lihatkan. Dia memang begitu baik.

“Berikan tanganmu.” Dia mendekatiku. Ku berikan tangan sesuai permintaannya dan dia meletakkan sebuah kancing yang tadi dicopotkan dari jas sekolahnya. Seperti di komik-komik Jepang saja.

“Simpanlah. Terimakasih karena sudah menjadi yang terbaik untukku.” Sunbaenim mengacak rambut atas dan poniku. Tentu saja Hunseong masih ada disini.

“Jaga kekasihmu baik-baik oh!” Sunbaenim lalu berbisik sambil melirik Hyunseong. Kekasih ?

Apa dia kekasih ku ? Bukan. Dia hanya teman. Teman dekat mungkin ? Aku saja tidak tahu. Yang ku tahu aku menyukainya tapi dia ….. Hyunseong tidak pernah mengatakan seperti itu. Yasudahlah. Aku tidak mau berpikir rumit seperti dulu. Berada dekat dengannya setiap hari saja sudah cukup.

“Sedih ya ditinggalkan Sunbaenim yang sudah lulus sampai kepikiran begitu.”

Sudah seperti kebiasaan, kami pulang sekolah bersama. Mungkin karena ini juga Nera melihat kecurigaan di antara kami.

“Kepikiran !?”

Dia tidak menjawab tapi hanya menunjuk kancing yang ku pegang.

“Dia begitu baik.” Alasanku. Aku hanya terpikir tentang bisikan Sunbaenim sebelum dia pergi. Kekasih.

“Ya begitu baik. Sampai-sampai mengacak rambut seperti ini.” Hyunseong mencontohkan balik apa yang Sunbaenim lakukan tadi. “Lalu seperti ini.” kali ini poniku. “Dan seperti ini.”

“Owh! Dia tidak menjewer telinga ku.” Hyunseong menarik telingaku ke atas seperti mainan.

”Aku lupa. Hahahaha.”

Apa kutanyakan saja mengenai kekasih itu ?

“Hyunseong-a.”

Dia berhenti dari jalannya dan melihat ku terkejut.

“Kau tidak pernah memanggilku seperti itu.”

“Tapi Jeongmin dan Saenghyon memanggilmu begitu kan. Jadi kau tidak perlu terkejut. Bahkan Nera terkadang juga memanggil begitu.”

“Tapi kau beda.” Dia lalu berkata pelan tapi dapat ku dengar dengan jelas.

Aku hanya tersenyum. Sepertinya tidak ada yang perlu ditanyakan mengenai kekasih atau bukan. Aku memang sudah bahagia hanya dengan begini.

 

-END-

.

.

.

-TBC saja ya

.

.

.

Author terombang ambing

 

Note : Terimakasih untuk readers BFI. Keep support this page by reading and also giving your comments. Komentar pembaca membangkitkan semangat menulis para Author. Seperti tulisan ini yang timbul karena semangat! ^o^)/

This entry was posted by boyfriendindo.

6 thoughts on “[FANFICT] Terjebak Dalam Kata ! – Chapter 07

  1. Daebak buat author… aku maunya tbc… ya ya ya… please…#permohonanreaderssetia
    Keren banget ceritanya…chukae….🙂

  2. Daebak. tbc aja, lbh gereget. thor, boleh tanya” juga kan? gimana sih caranya biar bisa bikin ff romance yang greget gitu? mohon dijawab yaaa. aku author baru nih. tapi genrenya brothership

    • Syukurlah kalau kamu menikmatinya ^^ Terima kasih🙂
      Bayangkan saja kalau kamu pelaku utama dari tulisanmu dan pahami feeling sekitar ceritanya.
      Ayo kita sama2 belajar menulis lebih giat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: