[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 03

Picture1

Title 
I Love You – Chapter 3
Author : ariesthha_1602
Genre : Friendship & Romance
Rating : PG
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Yua

Support Casts 
: Semua member Boyfriend 

Maaf,, maafkan aku yang harus mengambil terlalu lama untuk memperbarui cerita ini. Aku benar-benar minta maaf, tolong jangan marah. Oke…??. (^__^) Terima kasih untuk kalian yang masih setia menungguku untuk memperbarui cerita ini, aku benar-benar berterima kasih.. Jadi selamat membaca…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi ini Yua berjalan ke sekolahnya dengan diam. Atau lebih tepatnya, dia sedang memikirkan sebuah alasan kalau-kalau saja pagi ini dia bertemu Kwangmin. Baru beberapa menit yang lalu dia membayangkan Kwangmin, dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan bahwa sosok yang ada dipikirannya sedang berjalan ke arahnya. “Mati aku…!!”, desis Yua dengan sikap sempurna dan berusaha menyembunyikan wajahnya menggunakan tas.

Seperti yang dia harapkan, Kwangmin sama sekali tak melihatnya. Tapi itu juga membawa perasaan aneh dihati Yua. Bagaimana bisa Kwangmin sama sekali tak mengenalinya…??. Tanpa sadar Yua mengikuti langkah Kwangmin, karena dia merasa ada sesuatu yang tak beres.

“Ini kan…??”, Yua melihat pemandangan di sekelilingnya. Dia merasa tak asing dengan jalan ini. Yua berpikir, apa Kwangmin memang selalu kesini setiap pagi. Tapi, kenapa dia tak pernah mengajaknya??. “Kwangmin….”, teriak Yua setelah melihat Kwangmin melangkahkan kakinya ke dalam rumah kaca. “YA! Jo Kw..ang…”.

Yua tak sempat menyelesaikan kata-katanya setelah dia melihat sosok lain yang bersama Kwangmin di dalam sana. Suaranya seperti tercekat ditenggorokan dan sangat menyakitkan menahan dirinya untuk tak berteriak dengan kencang. “Kenapa..??”, gumam Yua pelan dengan airmata yang perlahan mulai jatuh dipipinya. Sebenarnya dia sudah berusaha untuk kabur. Tapi kakinya sama sekali tak bisa diajak kerja sama, dan dia juga sudah berusaha beberapa kali menutup erat matanya. Namun kejadian itu terekam sangat jelas diingatannya. Saat Kwangmin memeluk pinggang cewek itu dengan lembut dan menariknya ke dalam ciuman yang tak bisa dijelaskan artinya oleh Yua.

“Tolong..!!!. Aku tak ingin melihat ini”, isak Yua sambil memukul-mukul pahanya kesal dan berusaha membuat kakinya mengerti keinginannya. Karena sekarang dadanya sudah mulai terasa sakit, sehingga membuatnya kesulitan bernafas.

Tiba-tiba seseorang memutar badan Yua ke belakang dan membawanya ke dalam pelukan hangat. “Kenapa kau masih terus melihatnya. Dasar bodoh…!!”.

“Youngmin…??”.

“Kau pikir siapa lagi yang akan menolongmu?. Sudah ayo kita pergi”, gumam Youngmin dan melepaskan tangannya dari pundak Yua. Tapi, sebelum Youngmin benar-benar melepaskan dirinya. Yua buru-buru mencengkram erat blazer Youngmin dengan tangannya yang bergetar.

“Kumohon, biarkan aku seperti ini, sebentar saja. Aku…aku….”, air mata yang sempat mengering beberapa saat yang lalu, mulai kembali membasahi pipi Yua.

Youngmin mendecakkan lidahnya kesal. “Haishhh,, hanya sebentar..!!. Setelah itu kita bersihkan wajahmu”. Jujur sebenarnya, Youngmin benar-benar bingung harus bersikap seperti apa disaat Yua masih terus terisak dengan memeluknya erat. Beberapa kali tangannya terangkat ke atas, seperti ingin membalas pelukannya, tapi di satu sisi dia juga khawatir jangan-jangan niat baiknya nanti disalahartikan oleh Yua. “Semua akan baik-baik saja Yua. Aku janji”, ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung Yua.

“Maaf….”, kata Yua pelan setelah mencuci wajahnya di air keran. “Karena sudah menyita waktumu”, lanjutnya dan melihat Youngmin dengan sedikit membungkukkan badannya.

“Kau itu, ternyata memang bodoh…!!”.

“YA! Jo Young…..”.

“Husssss….”, sahut Youngmin tanpa memperbolehkan Yua untuk menyelesaikan ucapannya dan meletakkan jari telunjuknya kedepan bibir Yua. “Dalam suatu pertandingan, meskipun kau kalah. Setidaknya kau tau kalau kau sudah berusaha yang terbaik dan semampumu. Tapi sekarang…..”, Youngmin menatap wajah Yua dengan lekat. “Kau bahkan sudah menyerah sebelum berjuang. Kalau terus seperti ini. Kau tak mungkin bisa menang, takkan pernah…!!!”.

Yua memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia hanya tak bisa berpikir jernih sekarang ini. Menurutnya ucapan Youngmin memang ada benarnya, tapi tak mungkin kan cewek duluan yang mengungkapkan perasaan. Iya kalau diterima, kalau enggak..?!!. “Ayo ke kelas. Sebentar lagi kita masuk”, ajak Youngmin sambil menyerahkan tas Yua di depannya.

“Hmmmm…”.

“Yua…???. Hyung…??”. Tiba-tiba suara dari belakang mereka, membuat hati Yua kembali tersayat. Sampai-sampai dia tak berani menolehkan kepalanya. Karena Yua tak memiliki jaminan, apakah dia masih bisa memiliki kekuatan untuk mengontrol air matanya untuk tak kembali jatuh. “Woah,.. Apa yang kalian lakukan disini??”, tanya Kwangmin yang melompat diantara Yua dan Youngmin sambil merangkul pundak mereka erat.

“Aku tak menyangka kalau kalian memiliki hubungan seperti ini??”. Kwangmin terus menggoda Youngmin sambil mencubit perutnya dengan tangan kirinya beberapa kali. “Aisssshhhh, kau ini….”, Youngmin menghempaskan lengan kanan Kwangmin dari pundaknya. Dia hanya tak suka kalau disangkut-pautkan atas hal yang tak diketahuinya.

“Kami hanya disuruh mengembalikan barang-barang ke lab ipa”. Akhirnya Yua berbicara, setelah sebelumnya dia memilih diam dan tak berkutik saat dia tau Kwangmin yang memanggil mereka. Dua orang yang saat itu tepat disamping Yua, hanya bisa melihatnya dengan kaget. “Jadi Kwangmin-ah, selamat pagi”, ucap Yua sambil mengoyangkan tangannya dan berusaha untuk tak memperlihatkan kesedihannya pada Kwangmin. “Kwangmin, kita duluan. Ayo..”, Yua menarik tangan Youngmin dengan kasar. Dia hanya tak ingin lama-lama ada di suasana seperti ini dengan Kwangmin. Yua butuh waktu untuk menetralkan kembali hatinya, dan jelas itu bukan hari ini.

“Tunggu…!!!”, Kwangmin menahan tangan Yua dan dengan sigap membuat mereka kembali berhadapan. “Kau menangis??”. Hampir saja Yua luluh dan ingin memeluk pria idaman yang ada di hadapannya saat ini. Tapi sosok yang berdiri tak jauh dibelakang Kwangmin membuat Yua mengurungkan niatnya. Cewek itu melihat Yua dengan sedikit guratan bingung.

“Yua….??”.

“Aku tak apa-apa”, gumam Yua pelan atau bisa dibilang berbisik pada dirinya sendiri. “Hah…??. Apa katamu??”, Kwangmin mendekatkan telingannya ke arah Yua, agar bisa mendengar ucapan Yua dengan lebih baik.

Youngmin yang melihat situasi mulai terasa aneh, berusaha mencari-cari cara agar dapat menarik Yua menjauh dari Kwangmin. “Yua, kita belum melapor pada Mrs. Shin. Ayo kita harus buru-buru, sebentar lagi jam pelajaran dimulai. Jadi… maaf Kwangmin-ah kita duluan”, cerocos Youngmin sebelum buru-buru menarik tangan Yua dan menjauh dari dua sosok yang ada dibelakang mereka.

“Oppa, ada masalah??”, tanya Jihoo dengan kebingungan yang jelas terpampang diwajahnya.

Kwangmin melirik Jihoo dengan seksama. “Yua tak mungkin melihatnya kan??. Tak mungkin…”, batin Kwangmin dengan terus mengamati bunga mawar yang ada dipelukan Jihoo. Kwangmin takut, kalau Yua sudah melihatnya dan dirinya yang jadi alasannya kenapa Yua menangis.

“Oppa…??”. Suara kecil Jihoo membuat Kwangmin keluar dari lamunannya.

“Aaahhh, tak ada apa-apa Jihoo. Semuanya baik-baik saja”, gumam Kwangmin dengan sedikit keraguan dari nadanya. Karena dia juga tak bisa yakin, apakah keadaan sekarang ini memang baik-baik saja..!!.

“Yua…!!!”.

Yua yang merasa dipanggil, menolehkan kepalanya ke belakang dengan enggan. Yua menghela nafas ringan sebelum menutup matanya erat setelah melihat sosok yang memanggilnya.

“Pagi….”, sapa Yua pelan sambil menundukkan kepalanya tanpa tenaga.

“YA! Kenapa wajahmu seperti itu?. Tak suka melihatku??”, tanya Kwangmin dengan nada menggoda saat merangkul pundak Yua.

“Hanya sedang tak enak badan”.

Kwangmin spontan meletakkan sebelah tangannya ke dahi Yua. “Tak panas kok”, gumamnya dengan terus membandingkan dahi Yua dengan suhu tubuhnya sendiri. Yua mulai merasa risih saat Kwangmin mulai bertindak seakan-akan peduli tentangnya.

“Haishhh,, siapa bilang aku demam”, sahut Yua geram sambil menghempaskan tangan Kwangmin turun dari dahinya. Yua tak suka Kwangmin bersikap seperti ini, karena Yua takut dia semakin tak bisa melepaskan Kwangmin dari hatinya.

“Yua…”.

Yua kembali melihat Kwangmin dengan sedikit keanehan, karena tiba-tiba saja terjadi perubahan dari suaranya. “Apa kemarin….. kau melihat semuanya….??”.

Entah kenapa tiba-tiba saja awan hitam pekat mulai masuk ke dalam hati dan pikiran Yua. Walaupun Yua berusaha menepisnya, tapi awan-awan itu seperti kembali memutarkan film pendek di kepalanya. Apa Yua harus bilang iya? Jadi dia bisa mendapatkan kepastian dengan perasaan Kwangmin terhadapnya, tapi masalahya, Apa setelah itu semuanya akan sama seperti biasanya??. Atau…. Dia harus berbohong dan menganggapnya tak pernah ada??. dengan konsekuensi akan terus merasakan sakit… Apakah Yua masih memiliki harapan dihatinya??. Karena Yua berdoa semoga secercah harapan akan muncul segera.

This entry was posted by boyfriendindo.

14 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 03

  1. duh kah.. lagi lagi kimenan masih sama.kayak yang di chap 1..
    jalan ceritanya bagus cuma pas sampek disini agak bingung.. hmmmmm~~~ mungkin baru baca kali ya makanya bingung..
    btw, kwangmin iti gimana sih ah.. jadi pengen geplok kwangmin sumpah… dan Youngmin.. udah ungakapin aja.. haha *soyoy baget kalau Youngmin suka sama Yua..
    dan di awal aku pikir Jihoo itu anak cowok.. eh ternyata pacarnya Kwangmin to.. wehehehe salah ngegender-in(?) nama.. haha
    semangat terus kak nulisnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: