[FANFICT/FREELANCE] Math vs Physics – Chapter 02

Title 
: Math vs Physics – Chapter 02
Author : AKIKO
Genre : Comedy, Friendship, Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Lisa

  ~ Lee Jeongmin (Lisa’s Brother)

  ~ Jo Kwangmin (Jo Youngmin’s sibling)

 

 

Author PoV

Bel pulang pun berdering, menandakan jika pelajaran hari ini telah usai namun dari kejauhan terlihat dua orang siswa yang masih disibukkan dengan kertas-kertas yang berserakan di meja mereka masing-masing.

“YA!! Semua ini adalah salahmu, jika kau tetap tenang selama pelajaran sejarah berlangsung maka kita tidak akan terjebak di dalam kelas, dan aku tidak harus menghabiskan waktuku bersamamu seperti ini.” Ujar YoungMin kesal.

“Kau pikir aku senang bersama denganmu saat ini, huh? Lebih baik aku pergi mengajak cho-cho jalan-jalan daripada harus mengerjakan tugas tambahan yang sangat konyol ini.” Balas Lisa tak kalah kesal.

Karena mereka telah membuat guru sejarah marah, maka mereka berdua harus menerima hukuman untuk membuat resume dari seluruh materi yang pernah diajarkan. Lalu setelahnya mereka masih harus menjalani ujian yang berbeda dari teman-teman mereka yang lain.

“Cho-cho??” tanya YoungMin bingung.

“Kucing peliharanku, mengapa kau menyebut namanya?”

“Mwo… Kau membandingkanku dengan seekor kucing? Dan parahnya kau lebih membela kucing tak tau diri itu, bahkan ia pernah menyerangku hingga aku terluka.” Jawab YoungMin yang kembali mengingat memori lamanya ketika kucing peliharaan Lisa menyerangnya ketika YoungMin berkunjung ke rumah Lisa karena orang tua mereka adalah teman dekat.

“Ya, setidaknya cho-cho tidak akan menyerang seseorang yang tidak bersalah, mungkin cho-cho mengerti jika kau adalah musuhku sehingga cho-cho menganggap kau adalah musuhnya juga.”

“Ckck, apakah kau bodoh? Bagaimana seekor kucing dapat berfikir demikian, sudahlah lebih baik segera selesaikan ini karena aku tak tahan lama-lama bersamamu.” Kata YoungMin malas.

“Kau yang seharusnya khawatir pada dirimu sendiri, karena aku telah menyelesaikan tugasku. Selamat mengerjakan Tuan.” Jawab Lisa dengan nada mengejek.

YoungMin hanya dapat menjawab ucapan Lisa dengan tatapan yang kesal. Ia benar-benar tak dapat mengerti yeoja satu ini, YoungMin merasa jika bersamanya seakan-akan seluruh sifat buruknya keluar dengan mudahnya, jadi YoungMin sedikit khawatir jika ia berada di dekat Lisa terlalu lama maka imagenya akan hancur seketika.

Tanpa disengaja, guru sejarah mereka mendengar pertengkaran mereka dan jelas saja guru itu menjadi semakin menjadi-jadi menghukum mereka.

“Kalian berdua kapan akan menyelesaikan pertengkaran kalian, huh!!!” bentak Sang Guru marah.

“Aku memberikan kalian hukuman ini agar kalian dapat mengakui kesalahan satu sama lain, namun kelakuan kalian semakin parah. Baiklah karena hari sudah mulai gelap, kalian segera pulang… Namun besok kalian harus menulis surat yang berisi jika kalian menyesal telah bermain-main selama pelajaran saya dan kalian tidak boleh menulis milik kalian sendiri.”

“Ma..maksud bapak? “ tanya Lisa ragu-ragu.

“Ya.. Jadi yang menulis surat milikmu adalah YoungMin begitu pula sebaliknya, jadi kalian harus mempercayai satu sama lain. Kalian mengerti?? “ Ujar guru tersebut semakin tak sabar melihat kelakuan mereka.

Ne..” Jawab YoungMin singkat namun ekspresinya tampak sangat tak menyukai hukuman yang harus ia terima.

 

Saat perjalanan pulang……

 

“Apa yang akan kau tulis dalam surat itu?” tanya Lisa penasaran.

“Jika kau penasaran maka kau tulis sendiri surat milikmu.” Jawab YoungMin kesal.

“Aku akan melakukannya sendiri jika aku bisa, namun guru itu sudah mengenali tulisan tangan kita, jadi kita tak bisa membohonginya.”

“Lalu..?”

“Lalu?? Mengapa otakmu berjalan begitu lamban?” Ujar Lisa kesal dan ia dengan sengaja menendang tulang kering di kaki YoungMin.

“YA!!! Mengapa kau selalu saja melakukan kekerasan padaku!?! Aish…sepertinya kau memang tak ditakdirkan untuk menjadi seorang wanita.” Kata YoungMin yang merasa kesakitan

“Jadi selama ini kau tak pernah melihatku sebagai seorang wanita?”

“Sekarang coba kau pikir baik-baik, adakah perempuan normal memiliki kekuatan sebesar ini? Sedikit lagi kau menendangku maka kau akan membuatku lumpuh seumur hidup.” Jawab YoungMin yang masih kesal.

“Bukankah itu hal yang baik? Setidaknya aku bisa kemanapun seorang diri tanpa perlu khawatir.” Jawab Lisa bangga.

“Karena alasan itulah, menurutku kau tak membutuhkan namja dalam hidupmu.” Ujar YoungMin mengakhiri pembicaraan mereka karena arah rumah mereka berlawanan.

“Ckck…ckck bagaimana ia akan mendapatkan kekasih jika mulutnya setajam itu.” Kata Lisa seorang diri dan ia segera bergegas pulang.

Malam harinya Lisa hanya dapat berguling-guling tak jelas di atas tempat tidurnya karena memikirkan nasib surat hukumannya yang ditulis oleh YoungMin sedangkan Lisa sendiri telah menyelesaikan surat hukuman milik YoungMin, karena Lisa penasaran dengan apa yang akan diulis oleh YoungMin maka Lisa segera mengambil HandPhonenya.

“Hei…bagaimana dengan suratnya?” Lisa mengetikkan beberapa kata, namun ia merasa jika kalimatnya terlalu mengiba pada YoungMin sehingga ia hapus lagi dan lembar pesannya menjadi kososng kembali.

“Apakah semuanya baik-baik saja?” Ia kembali mengetik kalimat yang baru, namun Lisa merasa jika tak seharusnya ia berkata seperti itu, bahkan ia saja tak pernah berbaikan dengan YoungMin.

Hingga beberapa kali Lisa mengetikkan beberapa kalimat namun hasilnya ia terus saja menghapusnya sehingga kini ia hanya melihat lembar pesannya kosong kembali.

Aish… Mengapa sulit sekali.. Bahkan ini lebih sulit dari soal olimpiade matematika yang terakhir kali ku ikuti, apa yang harus kulakukan jika YoungMin sengaja mencelakakan surat milikku? Aish,, dasar. Aku benar-benar tak ingin berurusan dengan namja satu itu.” Kata Lisa seorang diri di dalam kamar. Pikirannya kini sungguh kacau hanya karena memikirkan wajah guru mereka yang akan marah lagi padanya jika YoungMin membuat suratnya dengan bahasa yang buruk.

Ketika Lisa sedang sibuk dengan pikiran dan imajinasinya sendiri tiba-tiba HandPhonenya berdering, otomatis membuat Lisa kaget setengah mati dan ternyata yang meneleponnya adalah YoungMin.

“Kau tetap menyebalkan bahkan ketika kau menelepon.” Omel Lisa sebelum mengangkat telponya.

Yoboseyo..” jawab Lisa malas. Padahal di dalam hatinya ia merasa lega karena ia tak perlu mengirim pesannya pada YoungMin.

“YA!!! Awas jika kau membuat kalimat di dalam suratku menjadi lebih buruk bahkan membuatku akan terjebak dalam hukuman lagi.” Kata YoungMin keras.

Lisa yang merasa tersinggung, segera saja membalas ucapan YoungMin.

Wae? Apakah kau khawatir dengan suratmu? Jika kau penasaran maka kau tulis sendiri surat milikmu.” Jawab Lisa yang menirukan perkataan YoungMin saat perjalanan pulang.

“ KAU!!”

“Jika kau menulis suratku dengan baik, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk sedikit membantumu, jadi sekarang bacakan surat milikku sehingga aku dapat memutuskan untuk membantumu atau tidak.” Ujar Lisa cuek padahal ia hanya penasaran dengan surat miliknya yang kini sedang ditulis oleh YoungMin.

“Apa?? Kau menyuruhku membaca semuanya? Apa kau gila? Ini benar-benar banyak.” Kata YoungMin kaget.

“Terserah, namun aku tak dapat menjaminmu jika esok kau akan dihukum kembali.”

“Baiklah, jika itu maumu. Mari kita pergi ke neraka bersama-sama!!” jawab YoungMin marah dan ia segera menutup telponnya.

Di sisi lain, KwangMin yang sedari tadi berada di samping Hyung-nya hanya dapat berdecak kagum.

Daebak Hyung, bagaimana bisa kau mengatakan perkataan seperti itu pada seorang yeoja. Lisa pasti akan sangat terpukul dengan perkataanmu.”

“Mengapa kau yang tampak menyesal?” Tanya YoungMin yang masih kesal pada adiknya.

“Kau benar-benar hebat bahkan kau tak menyesal sedikitpun, kau meneleponnya hanya untuk bertengkar dengannya atau kau hanya merindukan suaranya?” Ujar KwangMin yang kini sedang mengusili hyung-nya.

Mwo?? Merindukannya??, lebih baik kau jaga perkataanmu baik-baik, aku hanya tak ingin terjebak dengan hukuman konyol ini bersamanya. Baiklah jika ini memang kemauannya, mari kita buat suratnya menjadi lebih baik.” Ujar YoungMin yang segera menulis lembar baru surat milik Lisa.

“Sebelum kau lakukan itu, pikirkan baik-baik akibat yang akan terjadi Hyung. Kau harus segera berbaikan dengan Lisa sebelum image kalian benar-benar buruk dan akan mempengaruhi olimpiade yang akan kalian ikuti beberapa minggu lagi. Kau pikir guru-guru akan membiarkan orang yang selalu membuat ulah untuk mengikuti olimpiade? sekalipun otak kalian berdua tak terlalu buruk juga. Pikirkanlah ini semua demi kebaikan masa depanmu juga.” Ujar KwangMin yang mulai menenangkan Hyung-nya

 

Keesokan harinya di ruang guru…

“Apakah kalian ingin mempermainkan hukuman dari saya huh? Aigooo..bahkan dua kali hukuman pun tak membuat kalian jera. Lihatlah surat kalian berdua!! “ Amuk Guru sejarah mereka yang tak tahan dengan sikap mereka berdua yang sama sekali tak dapat didamaikan.

YoungMin dan Lisa hanya dapat diam sambil menundukkan kepala mereka namun sebenarnya mereka sedikit berbisik saling menyalahkan.

“Ini salahmu, kau yang memulai segalanya.” Ucap Lisa dengan bisikan yang sangat halus namun YoungMin masih dapat mengerti apa yang ia katakan.

“Ha? Siapa suruh kau mengacaukan moodku.” Jawab YoungMin sebal.

“Jadi ini yang kau maksud pergi ke neraka bersama-sama? Jangankan di neraka, di dunia pun jika bersamamu. Maka semuanya adalah TRAGEDI!!” Balas Lisa dengan ekspresi yang tak tertahankan lagi bagaimana kesalnya ia sekarang.

Suasana tampak sangat hening dan tanpa mereka sadari guru sejarah mereka memperhatikan pertengkaran dua orang muridnya.

“ YA!!! Jika ingin memamerkan kemesraan hubungan kalian, JANGAN LAKUKAN DI RUANGAN SAYA!!” Tambah sang Guru geram.

a..aniya, ka..kami bukan pasangan “ jelas Lisa yang kini ketakutan melihat ekspersi marah gurunya.

“Pergilah, dan jangan berani-berani pulang ketika kalian belum selesai membersihkan halaman belakang sekolah, DAN jangan coba-coba mempermainkan hukumanku lagi!!! “ Ucap sang guru yang kini telah habis kesabarannya menghadapi mereka berdua.

 

Seusai jam pelajaran usai, …..

“Lisa, ayo pulang.” Ajak Sandra semangat.

Mianhe, aku hari ini tak bisa pulang lagi bersamamu.” Sesal Lisa dengan nada prihatin.

“Apakah guru sejarah itu masih menghukummu?” Selidik Sandra penasaran.

Ne, semuanya karena ulah YoungMin, ia yang memperkeruh semua permasalahan.” Omel Lisa sembari memasukkan buku-bukunya dengan kasar ke dalam tasnya.

“Huh…entahlah. Aku tak ingin berurusan dengan pertengkaran kalian berdua namun ingat ya minggu depan kau harus menemaniku berbelanja.” Ujar Sandra yang telah putus asa mendamaikan sahabatnya itu dengan YoungMin.

ne..ne arraso. ^^. Aku pergi dulu ya..” ucap Lisa mengakhiri pembicaraannya dengan Sandra dan kini langkahnya menjadi lebih malas karena ia harus membersihkan halaman belakang sekolah yang terkenal selalu kotor dengan daun-daun yang berguguran karena memang halaman belakang sekolah terdapat banyak sekali pohon-pohon besar.

Sesampainya di halaman belakang sekolah, Lisa dapat melihat YoungMin yang berjalan menuju halaman belakang sekolah dari arah yang berlainan begitu mereka berpapasan, tatapan mata mereka masih saja tak menampakkan nada perdamaian.

“Segera kita selesaikan hukuman ini dan segera pulang, aku sangat lelah sekarang.” Ujar Lisa bosan.

“Kau pikir aku juga tak lelah, tenagaku terbuang percuma hanya untuk menjalani hukuman bersamamu.” Jawab YoungMin tak kalah sebal.

Ne..ne. Karena kita berdua sama-sama lelah jadi tak perlu diperpanjang lagi.” Tambah Lisa yang segera bergegas pergi mengambil sapu.

Angin sore itu berhembus begitu lembutnya, sehingga dedaunan yang gugur segera berterbangan ke udara mengelilingi dua orang siswa yang sibuk membersihkan dedaunan yang seakan tak ingin jatuh tergeletak di tanah. Matahari yang mulai memerah, menandakan senja akan segera hadir namun kedua remaja itu belum juga beranjak dari tempat mereka. Sesekali mereka saling melempar dedaunan untuk menghilangkan rasa bosan yang kini tengah mendera mereka berdua. Seolah pertengkaran yang baru saja mereka langsungkan hilang diterpa angin yang kini berhembus di antara mereka. Terkadang YoungMin tersenyum geli melihat tingkah laku Lisa yang ingin segera menyelesaikan pekerjaannya namun karena ia terlalu bersemangat, dedauanan yang harusnya ia sapu justru semakin berterbangan dan membuatnya terbatuk-batuk.

Ketika mereka harus membakar dedauan kering yang telah terkumpul, tiba-tiba saja..

“YA!! Apa yang kau lakukan??” Teriak Lisa yang ketakutan melihat api yang muncul dari tempat yang tidak seharusnya.

YoungMin segera menyadari kesalahannya yang tidak memastikan dengan baik jika batang korek api yang baru saja ia buang belum sepenuhnya mati sehingga memicu timbulnya api.

“Waaa….eotokhe?” teriak Lisa makin panik.

“Air…air, segera ambil air.” Jawab YoungMin tak kalah panik.

Mereka berdua segera berlari ke arah yang berlawanan untuk mengambil air, namun sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak pada mereka berdua, khususnya bagi YoungMin. Ketika Lisa hendak menyiram air ke kobaran api, tanpa sengaja YoungMin juga datang dari arah yang berlawanan dan…

BYUR….

YoungMin terkena siraman air yang baru saja dibawa oleh Lisa. YoungMin segera membelalakkan matanya karena ia tak sanggup mempercayai keadaan jika Lisa telah meyiramnya dengan air. Sedangkan Lisa juga tak kalah kaget karena ia tak menyadari kehadiran YoungMin yang begitu tiba-tiba.

“MENGAPA AKU YANG KAU SIRAM!!!” Bentak YoungMin kaget, sekarang ia sedang mengelap wajahnya yang basah kuyub.

Mi…mianhe YoungMin ah, aku tak tahu jika kau datang dari arah yang berlawanan.” Jelas Lisa dengan nada penyesalan namun sebenarnya Lisa tak dapat menyembunyikan tawanya. Karena kini YoungMin tampak seperti kucing yang basah karena air.

“Apakah kau benar-benar menyesal akan perbuatanmu? Aku tak yakin jika kau benar-benar menyesal jika melihat ekspresimu kini.” Selidik YoungMin setengah kesal karena ia dapat menangkap ekspresi Lisa yang kini tengah menahan tawanya.

A..aniya, hanya saja kau kini mirip sekali dengan cho-cho ketika ia baru saja selasai dimandikan.” Ucap Lisa sembari menutupi mulutnya agar ia tak tertawa.

MWO!!! Lagi-lagi aku kau anggap seperti cho-cho? Aku tak akan seperti ini jika bukan karena ulahmu”

“Hahaa…tapi apinya telah padam sekarang.”

“Benar, apinya telah padam tapi kau tak perlu menyiramku hingga basah kuyub seperti ini, aish…”

Mian…”

Beberapa saat kemudian suasana menjadi canggung, lalu YoungMin tiba-tiba bersin karena kedinginan saat angin kembali berhembus dan mengenai kulitnya yang basah.

Lisa yang merasa bersalah atas perbuatannya, dengan cangung ia segera menyuruh YoungMin untuk segera mengambil tasnya dan bergegas pulang sebelum ia terkena flu.

Di tengah-tengah perjalanan pulang, YoungMin kembali bersin-bersin tanpa henti dan wajahnya kini sedikit memucat karena kedinginan.

“Pakailah, aku tak ingin kau sakit karenaku dan aku harus menanggung rasa bersalah jika kau jatuh sakit.” Ucap Lisa kaku sambil memasang syalnya pada leher YoungMin, sedangkan YoungMin hanya dapat menahan wajah kesalnya saat mendengar ucapan Lisa.

Mianhe, mantelku terlalu kecil untukmu jadi aku tak dapat meminjamkannya jadi sementara ini pakailah syalku agar kau tak terlalu kedinginan dan nanti mampirlah ke rumahku, aku akan membuatkanmu sup hangat sebelum kau pulang. Pasti di rumahmu saat ini tak ada makanan apapun karena orang tuamu belum pulang dari bekerja kan?” Kata Lisa yang paham akan suasana rumah YoungMin karena orang tua mereka memang dekat.

“Tak perlu, aku dapat menjaga diriku sendiri.” Tolak YoungMin yang masih kesal.

“Ayolah, aku kan sudah minta maaf padamu. Pokoknya kau harus mampir ke rumahku terlebih dahulu.” Jawab Lisa yang menarik tangan YoungMin dengan kuat untuk menuju ke rumahnya.

Halaman rumah Lisa terlihat lebih besar daripada rumahnya, hal itu dikarenakan ibu Lisa sangat menyukai berkebun sehingga halaman rumah mereka dipenuhi oleh beraneka macam tanaman dan bunga.

Lisa segera menyeret YoungMin untuk masuk ke dalam rumah dan mengajaknya ke meja makan.

“Tunggulah, aku akan membuatkan sesuatu yang hangat untukmu” ujar Lisa sambil melepas mantelnya dan kini ia mengikat rambutnya lebih tinggi daripada biasanya sehingga tulang rahangnya lebih terpampang jelas dan hal tersebut membuat wajah Lisa terlihat lebih cantik. YoungMin yang tak sengaja melihatnya segera cepat-cepat mengalihkan pandangannya.

Lalu tanpa sengaja YoungMin berbisik pelan “Ternyata ia memang seorang yeoja “ bisiknya geli pada dirinya yang tak dapat dipungkiri bahwa kini ia melihat Lisa menjadi jauh lebih cantik daripada biasanya.

Wae? “ Tanya Lisa bingung. Tampaknya ia tak mendengar apa yang baru saja dibisikkan YoungMin.

“Apakah kau ingin air?” Tawar Lisa lagi pada YoungMin.

“Ah..ne.” Jawab YoungMin sedikit gelagapan sebelum ia mengambil gelas air putih yang disodorkan Lisa.

“Dimana JeongMin hyung? Apakah ia belum pulang dari sekolah?” Tanya YoungMin pada Lisa.

“Mungkin sebentar lagi ia pulang, akhir-akhir ini ia memang sibuk mempersiapkan ujian kelulusan.” jelas Lisa sembari mengaduk supnya yang masih berada di atas kompor.

Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu terbuka.

“Aku pulang..^^, wah bau apa ini? Apa kau sedang memasak sesuatu Lisa?” Ucap kakaknya yang baru saja masuk ke dalam rumah.

“oh, oppa..kau sudah pulang. Duduklah! Aku sedang membuat sup.” Jawab Lisa dari dapur.

Ketika JeongMin berjalan menuju dapur, ia dibuat kaget dengan YoungMin yang sedang duduk di meja makan dengan penampilan yang begitu berantakan.

“YoungMin?? “

Annyeonghaseyo, Hyung. Lama tak bertemu.” Sapa YoungMin ramah.

Namun tampaknya JeongMin lebih tertarik dengan hal apa yang kini tengah menimpa YoungMin sehingga ia kini ada di ruang makan keluarganya.

“Hahaa…ada apa dengan penampilanmu,? Apakah ada yang menjahilimu di sekolah?” Tanya JeongMin geli.

“Eum….itu..” YoungMin ragu-ragu menjawab pertanyaan kakak Lisa yang kini semakin penasaran dengan sikap YoungMin dan Lisa yang saling bertukar pandang.

“Ini salahku..” Potong Lisa dengan nada suara yang cukup keras.

Mwo? Salahmu?” JeongMin kembali bingung dengan jawaban adik semata wayangnya itu.

“A..aku menyiramnya dengan air di sekolah tadi..” Jawab Lisa pelan karena kini ia merasa malu sekali jika kelakuannya diketahui oleh kakakknya.

Setelah menceritakan seluruh kronologi kejadian yang terjadi di sekolah, JeongMin hanya dapat meledakkan tawanya tanpa henti.

“Hahaha….kalian ini benar-benar konyol. YA!! Mengapa kalian tak pacaran saja, aku sangat mendukung jika kalian bersama.” Canda JeongMin pada adiknya dan juga pada YeongMin.

Oppa!!” jawab Lisa kesal sambil melemparkan sendok nasi yang tepat mengenai tubuh kakaknya itu.

“Jangan katakan hal aneh seperti itu, jika kau mengatakannya lagi maka aku tak akan segan-segan memukulmu, oppa.” Ancam Lisa pada kakaknya.

“Haha…ne ne, arraso. Tapi aku tak akan merubah pemikiranku, kalian akan jadi pasangan yang menarik jika bersama hahaa.” Jawab JeongMin sebelum sendok kedua kembali melayang mengenai tubuhnya.

YoungMin yang melihat pertengkaran kakak beradik itu hanya dapat menahan tawanya, sesekali ia melihat kearah Lisa yang kini wajahnya kemerahan karena malu.

“Mengapa wajahmu memerah?” Tanya YoungMin pada Lisa.

Aniya, wajahku baik-baik saja.” Jawab Lisa sambil menutupi pipinya.

“Atau jangan-jangan kau berharap kita akan jauh lebih baik jika kita bersama?” goda YoungMin geli.

“Lupakan!! Aku tak sudi bersama dengan makhluk menyebalkan sepertimu. Segera habiskan supmu dan segera pulang!!” Jawab Lisa yang salah tingkah dan ia segera pergi menuju kamarnya setelah selesai memasak.

Di meja makan hanya tersisa dua orang namja yang tertawa tanpa henti melihat kelakuan Lisa.

“Hahaa…jawaban yang sudah dapat kuduga.” Ucap YoungMin geli.

“YoungMin, apakah kau benar-benar tidak tertarik dengan adikku?” Tanya JeongMin sedikit serius.

“Sst.. lebih baik segera habiskan supmu Hyung, sebelum Lisa kembali mengamuk padamu.” Jawab YoungMin sambil bercanda.

Ne..ne..aku tak akan mencampuri urusan kalian berdua.” Ucap JeongMin pasrah sambil menyendokkan sup hangat ke dalam mulutnya.

Author PoV end

 

YoungMin PoV

“Aku pulang…” Ucapku ketika pertama kali memasuki rumahku, tak ada siapapun kecuali KwangMin yang sedang asyik menonton film.

Hyung.. ada apa denganmu?” Panggil KwangMin dari belakangku.

“Eh?” Jawabku bingung.

“Iya, tak biasanya kau pulang sekolah dengan wajah secerah ini, apakah ada hal baik yang terjadi?” Selidik KwangMin penasaran

A..aniya. YA!! Mengapa kau mengintrogasiku?”

“Ehmm jadi kau tak mau mengaku Hyung, baiklah aku akan menebaknya sendiri. Ngomong-ngomong mengapa syal Lisa bisa ada di lehermu sekarang? “ Tanya KwangMin yang semakin gencar menawanku dengan pertanyaannya.

“Ah..itu karena ada sesuatu hal yang terjadi di sekolah tadi.” Jawabku hati-hati karena aku tak ingin KwangMin membuat dugaan yang aneh-aneh.

“Ehmm….sesuatu hal?? Apakah kau kini telah berbaikan dengannya?”

Aniya!! Aku tak ada niat untuk berbaik-baik padanya. Sudahlah jangan tanyai aku lagi.” Ucapku sambil pergi meninggalkannya seorang diri di ruang tamu.

Namun tanpa disangka KwangMin mengikuti kakaknya dan KwangMin memergoki YoungMin yang tersenyum seorang diri sembari melihat syal Lisa yang tergantung di almarinya.

“Sekarang semuanya telah jelas Hyung.” ucap KwangMin yang mengagetkan YoungMin dari belakang.

“A..apa yang kau lakukan di kamarku?” tanya YoungMin panik.

Mwo? Kamarmu? Lebih tepat jika ini adalah kamar kita!, ah sudahlah Hyung aku sudah mendapatkan jawaban yang kuinginkan. Jadi kuanggap kau telah berbaikan dengannya sehingga rencana minggu depan akan berjalan lancar”

“Rencana minggu depan?”

“Minggu depan Appa akan mengadakan reuni bersama teman semasa SMA-nya dan mereka diperbolehkan membawa keluarga masing-masing, kau tau kan jika orang tua Lisa juga berasal dari sekolah yang sama dengan Appa?”

“Lalu??”

Appa memutuskan jika kita harus ikut dengannya, ini akan jadi liburan yang menyenangkan Hyung, kita akan bermalam di sana selama 2 hari sekaligus kita dapat menikmati hangatnya angin pantai saat pagi hari dan menjelang senja.”

“Du..dua hari bermalam??” Tanyaku seolah-olah tak percaya dengan ucapan KwangMin.

Wae?? Ini akan menyenangkan Hyung ^^, maka dari itu aku memintamu untuk segera berbaikan dengan Lisa dan mungkin saja hubunganmu dengannya akan menjadi lebih baik hehee”

“Yah kita lihat saja nanti, aku tak bisa menjaminnya.” Jawabku malas dan segera bergegas mengambil handukku menuju kamar mandi.

 

 

Hari ini adalah hari dimana ujian sejarah akan dilangsungkan, tentu saja aku tak dapat menyembunyikan kegugupanku saat ini karena soal yang diberikan untukku pasti jauh lebih sulit dibandingkan yang lainnya.

Tak hanya aku, Lisa yang duduk di seberang sana juga tak dapat menyembunyikan ekspresi cemasnya karena sedari tadi ia hanya meremas kuat-kuat pergelangan tangannya dengan rahangnya yang mengatup kuat-kuat.

Jika dibandingkan dengan Lisa saat ini justru akulah yang harus sedikit lebih cemas karena dalam pelajaran sejarah tak dapat kupungkiri Lisa sedikit lebih unggul daripada aku namun untuk kali ini aku tak akan membiarkan ia mengalahkan nilaiku lagi.

Perlahan kubuka amplop soal yang baru saja dibagikan, detak jantungku berdetak lebih cepat karena kecemasan yang sedari tadi menderaku.

Dugaannku tepat sasaran, ada beberapa soal yang aku sama sekali tak mengetahui jawabannya dan menurutku ini….

Aish..bagaimana guru itu dapat mengeluarkan soal yang sama sekali belum ia ajarkan?” Runtukku dalam hati.

Akhirnya kuputuskan untuk mengerjakan soal yang memang benar-benar bisa ku kerjakan.

 

Setelah jam ujian berakhir, keadaan kelas kami menjadi lebih ramai daripada sebelumnya karena semua siswa masih terlalu sibuk mencocokkan jawaban mereka dengan teman-teman mereka atau mereka mencarinya kembali dalam diktat sejarah. Moodku sedang tidak terlalu baik kali ini karena soal yang diberikan guru tersebut benar-benar gila. Nyaris saja membunuh otakku karena memang materi tersebut belum diajarkan.

“Apakah guru sejarah itu benar-benar membuat moodmu buruk?” Terdengar suara yang sangat kukenal dari belakang.

“Entahlah, tapi aku tak terlalu senang dengan ujian kali ini.” Jawabku malas.

“Tenang saja, kau pasti dapat melewatinya dengan baik. Jangan berlagak jika kau tak bisa mengerjakan ujian kali ini.” Tukas Lisa sambil memukul pundakku dan ia segera pergi meninggalkan kelas.

“Ada apa dengannya hari ini?” Batinku. Tidak seperti biasanya ia bersikap seperti itu atau hanya perasaanku saja.

Aish..merepotkan saja.” Ucapku pelan sembari mengacak rambutku.

Ketika aku berjalan menuju kantin, kulihat sosok yang sudah setahun ini tak pernah kulihat.

Hyung…” sapaku dari kejauhan.

“YoungMin ah, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?” Jawab namja yang setahun lebih tua dariku.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu Hyung? Wah..kau makin tampan saja setelah pulang dari Belanda. “

“Haha…apakah sekarang kau sedang menghinaku? Bahkan aku tampak lebih kurus daripada tahun lalu. Walaupun menyenangkan namun program pembelajaran mereka disana sangat berat .”

“Sejak kapan kau kembali ke sini?” Tanyaku yang penasaran dengan ceritanya.

“Ini hari pertamaku masuk ke sekolah setelah program pertukaran pelajar di Belanda selesai. YoungMin ah tahun ini kau harus mendapatkan kesempatan untuk belajar di sana.” Respon JoonSu Hyung.

“Entahlah, semoga saja aku akan mendapatkannya. Kau tau sendiri Hyung, pesaingku kini bukanlah seseorang yang mudah dikalahkan.”

“Benarkah? Apakah kau masih saja bersaing dengan Lisa?”

Aku hanya dapat tersenyum mendengar pertanyaan Seniorku kali ini.

“Wah..lihatlah ekspresimu kini. Mengapa mukamu bersemu merah ketika aku bertanya seperti itu, atau jangan-jangan sekarang kau berpacaran dengannya?”

“Ti tidak seperti itu Hyung…tidak ada yang spesial di antara kami kecuali pertengkaran di setiap saat kita bertemu.”

“Haha..jangan berkata seperti itu. Ah,..aku harus ke ruang guru sekarang, jadi kita lanjutkan obrolan kita nanti. OK?”

Ne Hyung…” Jawabku yang mengakhiri pembicaraanku dengan JoonSu Hyung.

YoungMin PoV end

Author PoV

Lisa berjalan dari arah kantin dengan membawa jus jeruk di tangannya sebelum ia berpapasan dengan JoonSu yang baru saja keluar dari ruang guru.

Seolah tak ingin mempercayai penglihatannya, Lisa berusaha untuk mendekati sosok tersebut.

“JoonSu sunbae..” ucap Lisa lirih. Pandangannya memancarkan sejuta makna yang tak dapat ia ucapkan, namun sepasang mata yang kini melihatnya menatap Lisa dengan penuh kasih sayang.

“Lama tak bertemu Lisa. Bagaimana kabarmu?” Ucap namja yang kini menampilkan ekspresi seriusnya di depan Lisa. Suaranya yang selembut beludru mengalihkan titik fokus Lisa sehingga kini Lisa hanya dapat diam membisu.

Tanpa sengaja Lisa menjatuhkan jus jeruknya sayangnya JoonSu bergerak lebih cepat untuk menangkapnya sebelum jus tersebut jatuh.

Mengetahui JoonSu menangkap jus jeruk miliknya, Lisa justru semakin bergerak menjauhinya.

“Lisa..apakah kau masih membenciku?” Ucap JoonSu yang kini memegang pergelangan tangan Lisa dengan kuat.

“Tolong lepaskan aku Sunbae..” Balas Lisa dingin.

“Aku tak akan melepaskanmu sebelum aku mendengarkan jawaban dari pertanyaanku, apakah kau masih membenciku?”

Ne..aku membencimu Sunbae. Jadi sekarang lepaskan tanganku karena kau telah mendengar jawaban yang seharusnya kau dengar.” Jawab Lisa sedih. Matanya kini mulai memerah, namun dengan segala kekuatannya ia menahan agar air matanya tak keluar. Desakan di dalam dadanya kini muncul kembali walaupun satu tahun telah berlalu.

“Apakah kau tau? Saat di Belanda tak ada sehari pun aku tidak memikirkanmu, jadi kumohon jangan perlakukan aku seperti orang asing.” Balas JoonSu dengan nada putus asa yang sangat terlihat dari suaranya.

“Semuanya telah terjadi Sunbae. Segalanya sudah terlambat jadi jangan berharap lebih kepadaku.”

JoonSu segera menarik Lisa pergi ke tempat yang lebih sepi sebelum Lisa melepas paksa genggaman tangan JoonSu yang melingkar kuat di pergelangannya.

“Apa lagi yang kau inginkan dari ku Sunbae? Tolong jangan masuk kembali dalam kehidupanku, kau sudah cukup mengacaukannya.”

Mendengar penuturan Lisa, JoonSu dengan pelan melepaskan genggamannya pada tangan Lisa.

Ne, aku yang bersalah namun tak dapatkah kau berhenti membenciku?” Ucap JoonSu lemah. Kini matanya menatap Lisa lekat-lekat, seakan terdapat berbagai alasan dalam tatapan penuh luka itu.

Sunbae..”

“Maafkan aku Lisa, seharusnya aku tak membuat keputusan yang salah saat itu, seharusnya aku tak berusaha masuk dalam kehidupanmu tapi bukankah kau lebih mengerti diriku? Bukankah kau tahu betapa berharganya posisimu di hatiku? Mengapa kau berusaha menampik hal itu?”

“Ya sunbae..aku tahu. Bahkan aku terlalu mengerti jika aku terlalu berharga bagimu, aku tahu bagaimana kau menyayangiku namun satu yang kutahu kini bahwa… Kau tak cukup baik menjaga sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu Sunbae. Kusesalkan hal itu namun sekali lagi kukatakan, Semuanya sudah terlambat Sunbae.

Author POV end

 

TO BE CONTINUED…….

Don’t forget to leave your comment chingu… ^^

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Math vs Physics – Chapter 02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: