[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 02

Tittle  : End of Story – Chapter 02
Author      : Z. Zee
Genre Friendship, Mysteri, dan Romance
Rating : PG-17
Type : Chapter
Casts  : ~ Kwangmin

  ~ Minwoo

  ~ Jungkook (BTS)

  ~ Ahn Jae Hyun

  ~ Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)

  ~ Park Tae Rin

  ~ Etc

 

Author Note      : Abaikan umur asli cast-nya!

 

Annyeong readers! Masih adakah yang setia nunggu ff ini? Gak ada, okelah. T_T

Langsung aja nih. Cekidot!

CHAPTER 2 : My Real Life is Begin Now!

SweetPaper Bookstore terlihat ramai seperti biasanya. Segerombolan anak SMP masuk ke dalamnya dengan sangat bersemangat.

Annyeong haseyo Jungkook oppa!” ucap mereka bersamaan sebelum memasuki toko buku.

Annyeong haseyo. Selamat datang di Toko Buku SweetPaper. Kalian datang lagi ke sini rupanya.”

“Apa oppa mengingat kami?” tanya salah satu di antara mereka.

“Tentu saja. Aku tidak mungkin melupakan pengunjung-pengunjung cantik seperti kalian.” Jungkook mengedipkan sebelah matanya dan sukses menciptakan keributan.

Uh, mereka gampang sekali digoda, pikir Jungkook.

“Kwangmin oppa, aku sedang bingung mencari buku. Apa kau bisa membantuku?” tanya seorang gadis dengan genitnya.

“Buku apa yang kau cari?”

“Buku untuk membuka pintu hatimu,” jawabnya dengan penuh percaya diri.

“Aaa.. tapi buku seperti itu tidak ada di tempat ini.”

“Yaahh… lalu di mana aku bisa menemukannya?”

“Bukan karena buku itu tidak ada, tapi kau tidak membutuhkannya. Karena tanpa buku itu pun hatiku akan selalu terbuka untukmu,” kata Kwangmin dengan tersenyum.

Gadis itu hanya melongo dan kemudian tersenyum-senyum sendiri. “Oppa, kau benar-benar lucu.”

‘Hueek!! Apa yang kukatakan barusan? Kenapa aku bisa mengatakan hal seperti itu? Mendengarnya pun aku ingin muntah,’ batin Kwangmin.

 

Minwoo terlihat sedang merapikan buku-buku yang berantakan. Menatanya ulang agar kembali terlihat rapi. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

“Ini untukmu,” kata seorang gadis berambut pendek yang sekarang berdiri di dekat Minwoo sambil menyodorkan sekotak makanan. “Untuk makan siangmu nanti.”

Gomawo,” kata Minwoo sambil mengambilnya.

Gadis itu langsung pergi begitu saja.

‘Gadis yang aneh,’ pikirnya.

 

Minwoo langsung melirik ke sampingnya. “Haah, apa aku harus memakan semua ini? Apa orang itu tidak memerhatikan apa yang ada di sebelahku.”

Terlihat banyak kotak makanan tersusun rapi di sebelahnya sehingga tingginya hampir setinggi pinggang Minwoo.

“Rasanya aku baru berdiri di sini selama lima belas menit. Kalau satu jam mungkin tingginya akan sama denganku.” Minwoo menghela napas panjang.

 

Jae Hyun hanya menatap datar setiap pembeli yang ingin membayar. Menatapnya sesaat lalu kembali membuang muka. Menyunggingkan senyum tipis sebelum pembeli itu pergi.

“Waahh, dia benar-benar cool.”

“Aku benar-benar suka tingkahnya yang terlihat dingin.”

“Sikapnya sungguh keren, terlihat dingin dan tampan bersamaan.”

“Kalau dia tersenyum lebar mungkin aku akan pingsan sekarang juga.”

Jae Hyun hanya cuek mendengarnya. Sudah terlalu sering dia mendengarnya hingga tak peduli lagi.

 

Bagaimana dengan Kim Jong Woon? Dia hanya tidur-tiduran di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Dia menampakkan wujudnya(??) hanya saat tiga temannya sedang bersekolah. Selain itu, dia akan menghabiskan waktunya di dalam kamar. Karena menyamar sebagai pemilik toko buku, dia merasa tidak harus menjaga tokonya. Hey, dia bosnya bukan?

 

Terlihat seorang gadis menarik temannya dengan paksa di depan Toko Buku SweetPaper. Keduanya sama-sama keras kepala, jadi tidak ada yang mau mengalah.

“Kenapa kau tidak bilang kalau mau ke sini? Aku sudah malas pergi ke tempat ini. Ini hari minggu kenapa masih ke tempat ini juga, eoh?”

“Lalu kenapa kalau hari minggu? Apa ada larangan untuk pergi ke toko buku saat hari minggu?”

“Hari ini libur, jadi pergi ke toko bukunya juga libur.”

“Cih! Alasan yang tidak masuk akal. Kajja! Semua orang mulai memerhatikan kita.”

Dia baru sadar kalau saat ini mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian. Dengan sangat terpaksa dia menuruti kemauan temannya itu.

 

Annyeong, Jungkook-ah.”

Annyeong, Nuna… Apa kau tidak terlalu sering datang ke sini?”

“Ah, jeongmal? Tapi kurasa tidak… FIGHTING!” ucapnya sambil mengepalkan tangan kirinya. Tangan kanan digunakan untuk menarik temannya yang berjalan dengan malas-malasan.

Setelah kedua gadis itu masuk, Jungkook merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Dengan cepat ia mengetik pesan kepada keempat temannya.

‘Dia sudah datang.’

Setelah membaca pesan itu, Jong Woon langsung meloncat dari kasurnya dan berlari menuju toko.

 

Tae Rin POV

Aku hanya bisa mengikuti kemana pun Namjoo pergi. Meskipun dia pergi ke sana-ke mari, tapi matanya hanya tertuju pada namja yang ada di kasir itu dan entah siapa namanya. Aku tidak tahu.

Kulihat seorang namja berjalan ke arahku dengan tergesa-gesa. “Sudah kuduga kau akan datang.”

Aku menengok ke sekelilingku. Tidak ada orang di sampingku, dan yang jelas bukan Namjoo karena dia sedang sibuk melihat ke arah lain. “Naega?

“Tentu saja. Kau pikir aku bicara dengan siapa lagi? Eee… kau Park Tae Rin, kan?”

“Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku panik. Aku khawatir kalau orang yang ada di depanku adalah musuh.

Tiba-tiba Namjoo dengan sigap berdiri di depanku. Dia terlihat seperti orang yang siap menyerang kapanpun. Tangannya merogoh sesuatu dari sakunya dan siap mengeluarkannya.

“Aku bukan orang jahat. Jadi, simpan pistolmu itu. Kau tidak akan menembakku di tempat umum, bukan? Haahh… kau benar-benar mirip eommamu.”

Namjoo menyimpan kembali pistolnya. “Kau tahu tentangku?”

“Aku sudah membaca profilmu sebelumnya. Aku tidak heran kenapa kau bisa dipilih jadi agen khusus,” kata orang itu dengan berbisik. “Dan orang yang dibelakangmu itu… aku ingin bertanya sesuatu padanya.” Dia mendekatkan wajahnya padaku. “Appamu bernama Park Jung Soo, kan?”

Rasanya aku baru saja tersambar petir. Bagaimana orang ini bisa tahu?

“Aku tahu kalian pasti kaget, tapi aku tidak bisa memperkenalkan diriku di sini. Terlalu banyak orang. Ttarawa.” Orang itu berjalan duluan dengan mendahului kami.

Aku memberikan kode pada Namjoo untuk mengikutinya.

Neo michyeoseo? Bagaimana kalau dia bagian dari…”

“Sssttt… ikuti saja.” Aku berjalan duluan mengikutinya. Namjoo akhirnya ikut dengan terpaksa.

“Kalau hal buruk terjadi padamu aku tidak mau tanggung jawab.”

Arasseo…”

Dia membawa kami melewati pintu bertuliskan “Selain Pegawai Dilarang Masuk”. Sebelum dia menaiki tangga untuk menuju lantai dua toko ini, aku mencoba menghentikannya.

Nuguya? Aku tidak mau naik kalau kau belum menjawab pertanyaanku,” kataku dengan suara tegas.

“Aish… kau ini benar-benar tidak sabaran.” Dia mengambil sesuatu dari saku jaketnya dan menunjukkannya padaku. Sebuah kartu pengenal. Eitt,, itu adalah kartu tanda pengenal anggota GLORIA.

Jeoneun Kim Jong Woon imnida. Aku adalah leader dari Tim Avatar agen rahasia GLORIA. Kami termasuk tim yang lolos seleksi terakhir, tapi baru tiga minggu yang lalu resmi bertugas. Salam kenal, agassi.”

Terdengar suara pintu terbuka. Tampak dua orang masuk ke sini. Lalu mereka berdua kompak membungkuk 90 derajat.

“Aku Jo Kwangmin dari Tim Avatar agen rahasia GLORIA.”

“Dan aku No Minwoo.” Sahut yang lainnya.

Hal ini membuatku pusing. Rasanya kepalaku mau pecah. Appa~ apa lagi yang kau rencanakan? Kenapa aku tidak diberitahu dulu, huh?

“Aaaa!!!!! Ada apa ini sebenarnya? Apa aku satu-satunya orang di sini yang tidak tahu? Yaa, Kim Namjoo! Jangan-jangan kau sudah tahu sesuatu lalu menyembunyikannya dariku, kan? Cepat jawab!”

Namjoo menjadi panik melihatku yang sedang emosi. “Mianhamnida, Agassi. Tapi aku benar-benar tidak tahu. Sajangnim belum menginformasikannya padaku,” katanya sambil membungkuk.

Aish… aku benar-benar benci saat melihatnya bersikap formal padaku.

“Lebih baik kita naik ke atas dulu. Aku akan menjelaskan semuanya nanti.”

“Terserah!” bentakku pada Kim Jong Woon. Aku sengaja berjalan duluan dengan menabrak sedikit tubuhnya. Aku benar-benar kesal sekarang. Kuabaikan Namjoo yang berkali-kali memanggil namaku.

Ketika sampai di atas, langsung saja aku duduk di atas sofa. Tiga orang itu mulai menjelaskan sesuatu padaku dan Kim Namjoo. Aku berpura-pura bersikap cuek, meski sebenarnya aku mendengarkan semua yang mereka katakan.

“Bagaimana dengan dua orang lainnya? Apa mereka bukan bagian dari kalian?”

“Mereka anggota tim juga.”

“Eoh,” jawabku cuek.

“YAA!! Bisakah kau sedikit menghargai kami? Apa penjelasan kami barusan tidak ada yang kau dengarkan, hah? Aku tidak peduli kau adalah anak dari Presiden Park atau apalah, tapi aku tidak suka orang yang tidak memperhatikan saat sedang membicarakan hal yang penting.”

Tunggu… apa yang dia katakan barusan. Berani sekali dia berbicara seperti itu padaku. “Mworago? Kau nekat sekali. Aku juga tidak peduli kau pernah menolongku atau apalah, yang jelas aku tidak suka orang yang membentakku.Kau mengerti?”

“Kwangmin pernah menolongmu? Tapi kenapa aku tidak tahu. Padahal aku selalu mengikutimu. Apa kau pernah kabur dariku?” tanya Namjoo menyela pertengkaran kami.

Oops… aku keceplosan. Namjoo pasti akan marah besar dan melaporkannya pada Appa. Eotteokhae?

“Eee… soal itu. Bisa aku jelaskan lain kali. Tapi aku mohon satu hal padamu, jangan beritahukan pada Appa, nde?” ucapku dengan wajah memelas.

Geurae. Tapi hanya kali ini saja.”

Jeongmal gomawo, Namjoo-ya. Kau memang sahabatku yang paling baik.”

Kualihkan pandanganku ke arah Kwangmin. Dia sedang memandangku dengan jijik.

“Agassi…” panggil Jong Woon

“Jangan panggil aku seperti itu. Aku benci mendengarnya.”

Geurae… Park Tae Rin, mulai sekarang kami akan menjagamu. Kau tidak bisa keluar sendirian tanpa pengawasan.”

“Aah, terserahlah.” ucapku sambil berdiri. “Aku sudah terbiasa dikawal pergi kemana pun.” Aku berniat untuk keluar dari tempat ini sesegera mungkin. Tanpa perlu disuruh Namjoo sudah mengikutiku dari belakang.

 

Kwangmin POV

“YAA!! Apa-apaan dia itu. Bertingkah seenaknya sendiri. Dia pikir dia siapa, hah? Harusnya kalian berdua (read: Jungkook, Jae Hyun) ada di sini tadi dan melihat tingkahnya yang benar-benar menyebalkan itu.”

“Dia adalah putri dari pemimpin kita,” jawab Jae Hyun dengan nada dingin.

“Aku sudah tahu itu!”

“Kalau sudah tahu kenapa harus bertanya lagi?”

Aish… orang ini memang selalu membuatku bertambah kesal.

“Sejak kecil dia selalu pergi dengan pengawalan yang ketat. Orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi takut dan menjauhinya. Makanya dia bersikap seperti itu. Kita tidak boleh bersikap sebagai pengawalnya. Biarkan dia berpikir kita adalah temannya,” jelas Jong Woon padaku. “… dan kau, Kwangmin, jangan membentaknya lagi. Atau akan kulaporkan semua tingkahmu itu pada presiden.”

Ne, leader!!” jawabku dengan menekankan kata ‘leader’.

“Persiapkan barang-barang kalian. Bawa yang penting saja. Kita akan tinggal di rumahnya mulai malam ini.”

Daebak! Petaka apa lagi ini? Sekarang kami harus tinggal satu rumah dengannya pula. Oh, tentu saja supaya kami bisa selalu mengawasinya. Tapi tidak bisakah aku tinggal di sini saja? Kuurungkan niatku untuk bertanya hal seperti itu. Sudah jelas Jong Woon hyung akan menjawab ‘ANDWAE!’ dengan galaknya.

 

Author POV

“Kenapa kalian semua ada di sini, hah? Siapa yang mengizinkan kalian untuk masuk? Ini rumahku dan aku yang berhak menentukan. Sekarang kalian semua pergi dari sini! Right now!”

Segala macam omelan dan teriakan Tae Rin bagaikan angin lalu. Tidak ada yang mendengarkan dan justru semuanya sibuk menata barang di kamar kosong yang tersisa. Bahkan Namjoo ikut-ikutan memindahkan barangnya menuju kamar Tae Rin.

“Sekarang kita akan tinggal satu kamar, Tae Rin-ah. Biarkan dua kamar lainnya dipakai untuk mereka.”

Dengan kesal, Tae Rin mendorong Namjoo keluar dari kamar. Lalu sengaja benar menutup pintu keras-keras dan menguncinya. “Kau tidur di luar! Aku tidak mau satu kamar denganmu.”

Namjoo hanya bisa menghela napas frustasi. Saat penyakit keras kepala Tae Rin kumat, tidak ada yang bisa meluluhkannya. Kalau dia melawan, Tae Rin akan semakin marah padanya.

____________

Tae Rin sengaja bangun pagi-pagi sekali. Meskipun waktu masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi, dia sudah siap untuk berangkat sekolah. ‘Kali ini aku harus bisa kabur dari mereka!’ pikirnya.

Dengan mengendap-endap dia berjalan melewati sofa yang digunakan Namjoo untuk tidur di atasnya. Membuka pintu dan menutupnya dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Saat Tae Rin akan membalikkan tubuhnya…

“Kau berangkat pagi sekali.”

Refleks Tae Rin langsung menoleh ke belakang. Terlihat Jae Hyun berdiri di dekat pagar dengan tangan yang dimasukkan dalam saku jaketnya. Seketika Tae Rin menjadi panik. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. ‘Tamatlah riwayatku’

“Apa kau selalu berangkat sepagi ini? Bukankah kelas baru akan mulai pukul delapan?”

“Aaa aku ada jadwal piket hari ini. Jadi aku harus berangkat lebih pagi dari biasanya.” Tapi bohong… ucapku dalam hati.

“Lalu berangkat sendirian? Bagaimana dengan Namjoo?”

“Dia bisa menyusul. Ngomong-ngomong, kau bangun pagi sekali.”

“Hanya berjaga-jaga kalau ada seseorang yang berencana kabur. Ternyata perkiraanku tidak pernah meleset. Aku akan mengantarkanmu ke sekolah.”

Ne?”

“Aku akan mengantarmu ke sekolah. Kalau perlu sampai masuk ke kelasmu, menunggu Kwangmin, Minwoo, Jungkook, dan Namjoo sampai datang baru aku akan pulang.”

Tae Rin terkejut dengan penyataan Jae Hyun. Dia pikir orang itu akan menyeretnya dengan paksa masuk kembali ke dalam rumah.

Tiba-tiba Jae Hyun menarik tangannya dan membawanya keluar dari halaman rumah. Karena bingung harus bersikap apa, Tae Rin hanya menurut tanpa perlawanan. Ini pertama kalinya ia digandeng oleh seorang namja. Rasanya aneh sekali.

Sepanjang perjalanan, hanya terdengar keheningan. Jae Hyun sudah melepas genggamannya sejak tadi. Tae Rin terlihat sangat canggung berjalan di samping Jae Hyun.

Di kelas juga begitu, tidak ada yang memulai percakapan. Tae Rin hanya menundukkan wajahnya tanpa melakukan apa pun. Jae Hyun sedang memainkan ponselnya dan duduk di bangku yang biasanya digunakan Namjoo. Sebenarnya dia sedang mengabari yang lain kalau Tae Rin sedang bersamanya.

 

Tae Rin POV

Aku tidak tahan lagi. Aku tidak suka suasana seperti ini. Apa sebaiknya aku memulai percakapan duluan?Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Kalau dia orang yang tidak suka bicara bagaimana? Ah, sudahlah. Kutanyakan saja. “Eerrr… bagaimana kau bisa menjadi agen rahasia?”

“Aku ingin balas dendam pada orang yang telah menghancurkan hidupku,” jawabnya dengan suara yang terdengar menakutkan.

“Maksudmu?” Mungkin suaraku terdengar bergetar. Aku takut kalau pertanyaanku ini tidak seharusnya kuucapkan.

“Hanya karena ingin masuk menjadi anggota Big Dwarf, seseorang telah mencoba membunuhku. Sialnya, dia meninggalkanku saat aku sedang sekarat. Lebih baik kalau aku mati saat itu juga.”

Aku terkejut mendengar penjelasannya. Mulutku serasa tercekat. Tidak ada kata yang bisa meluncur dari mulutku.

Jae Hyun menatapku dengan tajam. “Kau tidak perlu kaget seperti itu. Hampir seluruh anggota GLORIA merupakan korban selamat dari Big Dwarf… atau memang sengaja disisakan. Mereka sangat suka melihat orang lain hidup tersiksa.”

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Sedetik berikutnya, ada empat orang masuk ke kelas dengan napas terengah-engah.

BABO!! Kau mau membuat kami semua mati jantungan, hah!! Bagaimana kau bisa kabur seenaknya sendiri? Kau pura-pura lupa atau memang tidak tahu kalau nyawamu dalam bahaya?”

“Hentikan, Kwangmin! Apa kau tidak melihatku ada di sini? Aku sudah menghentikannya untuk kabur. Kau tidak perlu memarahinya seperti itu.”

“Tetap saja dia telah membuat semua orang khawatir.”

“Kau jangan berlebihan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku bisa menjaganya sendirian. Kurasa yang perlu dikhawatirkan adalah saat kau yang sendirian menjaganya.”

Kwangmin siap melayangkan tinjunya ke arah Jae Hyun. Minwoo dan Jungkook dengan sigap menahannya.

“Lepaskan aku! Apa kalian sekarang sedang membela orang menyebalkan itu, eoh?”

“Cih! Tidak berguna,” kata Jae Hyun sambil berlalu. meski dia sudah tidak terlihat, Kwangmin masih berusaha melepaskan diri dan seperti ingin mengejarnya. Minwoo dan Jungkook terlihat kewalahan menanganinya.

Kepalaku mendadak pusing melihat pertengkaran mereka. Aku bangkit dari kursiku dan dengan cepat menarik kerah seragam Kwangmin. Kubanting dia ke lantai dengan sekuat tenaga. Tidak ada rasa iba sedikitpun meski Kwangmin mengaduh kesakitan.

“Kalau kau masih berisik, lebih baik kembali ke kelasmu sekarang juga. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Aku benci orang yang suka membuat keributan, kau mengerti?”

“Kalau ini bukan karena pekerjaan, aku juga tidak mau melihat wajahmu.” Setelah berhasil bangun, dia langsung melesat pergi.

“Tae Rin-nuna, aku harus pergi juga. Aku takut Kwangmin-hyung akan mengejar Jae Hyun-hyung dan berkelahi dengannya.” Jungkook juga buru-buru keluar dari kelasku.

Aku kembali ke tempat dudukku. Kupegangi kepalaku yang terasa sangat berat.

Gwaenchanha?” tanya Namjoo dengan penuh kekhawatiran.

Kuanggukkan kepalaku dengan terpaksa. Aku tidak baik sama sekali!

“Tolong maafkan kelakukan mereka. Kwangmin dan Jae Hyun memang tidak pernah akur. Pertengkaran seperti ini sudah biasa terjadi.” Minwoo coba menjelaskan padaku dan aku tidak peduli. Masa bodoh kalau mereka tidak pernah akur.

Kuacak rambutku saking kesalnya. Mungkin setelah ini hidupku yang membosankan dan tidak menyenangkan akan semakin menyebalkan. Kehidupanku yang sebenarnya baru saja dimulai.

 

-TBC-

 

                Huff! Akhirnya selesai juga. Semakin aneh kah ceritanya? Atau sebaliknya (maybe)?

Mungkin chapter 3 agak lamaan karena author mau cari inspirasi dulu. Don’t forget to RCL! Gomawo…

This entry was posted by boyfriendindo.

4 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: