[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 04

Title 
Chance – Chapter 04
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : PG – 13
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Sena

Main Casts 
: ~ Ji Hoon (Kakak Sena)

  ~ Rin (Lawan Main YoungKwang di Drama)

 

Author Note     : Maaf kalau mungkin ceritanya kurang memuaskan. Semoga masih ada yang baca dan nunggu kelanjutannya XD… Terima kasih🙂

CHAPTER 4

 

“Menurutmu, bagaimana rasanya dilupakan?”

Maksudmu seperti saat ini kau melupakanku?

“Aku tidak tahu.”

“Apa kau memiliki seseorang yang ingin kau lupakan?”

Sena menatapku dengan pandangan menuntut.

Kurasakan ponsel di saku celanaku bergetar. Nomor yang tidak kukenal muncul di layar.

“Halo,” sapaku.

“Kwangmin, Youngmin oppa…”

Rin yang meneleponku. Dia hanya mengatakan satu kalimat itu. Tetapi aku langsung berpikir bahwa sudah terjadi sesuatu pada Youngmin. Aku bergegas meninggalkan tempat karaoke. Lupa, masih ada Sena bersamaku. Di belakang, dia berusaha berlari mengejarku.

“Kwangmin, ada apa?”

Aku menghentikan taksi. “Cepat masuk!”

Di dalam taksi, aku baru ingat bahwa Rin belum mengatakan di mana Youngmin sekarang. Tepat saat aku akan menghubungi nomor Rin, dia meneleponku lebih dulu.

“Di mana Youngmin hyung?”

Rin mengatakan nama rumah sakit yang sama tempat kami membawa Sena beberapa hari yang lalu. Aku langsung memutus telepon sekali lagi sebelum dia menjelaskan apa pun. Aku mengatakan tujuan kami pada sopir taksi, lalu memintanya lebih cepat.

 

Kata Rin, Youngmin baru saja tidur. Tangan dan kakinya diperban. Luka Youngmin tidak parah. Dan yang terpenting anggota tubuhnya tidak ada yang patah. Aku terdiam menatap luka-lukanya. Tidak berani menyentuhnya sedikitpun. Takut Youngmin kesakitan jika aku menyentuh luka-luka itu.

“Sena, bisakah kau menjaga Youngmin hyung sebentar?”

“Tentu.”

Aku mengajak Rin bicara berdua. Kami pergi ke kantin rumah sakit di lantai paling bawah. Bukannya aku lapar. Hanya tidak ingin Sena mendengar pembicaraan kami. Tidak tahu mengapa aku merasa begitu. Lebih baik aku berhati-hati pada segala hal yang aku katakan di depannya.

“Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Saat jeda makan siang, dia mencarimu. Kukatakan padanya kau bersama Sena. Tidak lama kemudian sopir Sena datang tanpa kalian berdua. Aku tidak tahu pasti apa yang Youngmin oppa lakukan setelah itu. Tiba-tiba kami mendengar suara tabrakan. Dia tertabrak mobil kru yang baru saja masuk saat itu. Tubuhnya terjatuh menabrak lampu, dan bagian tiang lampu itu menjatuhi kakinya.”

“Tertabrak? Bagaimana mungkin?”

“Kru yang menyetir mobil itu mengatakan bahwa Youngmin oppa mendadak muncul dari belakang mobil yang terparkir di sana.”

Aku masih belum mengerti.

“Terima kasih Rin. Akan kuatanyakan padanya nanti.”

“Ngomong-ngomong, apa yang kalian berdua lakukan? Kau dan Sena? Kenapa sopir Sena kembali lebih dulu?”

“Aku minta maaf soal itu. Kami dikejar oleh beberapa fans dan terpaksa bersembunyi sampai kondisi di luar aman.”

“Oh ya? Bukannya kau sengaja menghabiskan waktu berdua bersamanya?”

Mau tidak mau aku terhibur melihat sikap Rin. Dia selalu terlihat lucu setiap kali bertanya mengenai aku dan Sena.

“Apa kau sedang cemburu?” Aku tidak tahan untuk menggodanya.

“Apa? Tentu saja tidak! Fans Kwangmin, fans. Fans selalu ingin tahu.”

Lebih dari satu jam kami berada di kantin. Tidak lupa aku membeli makan siang untuk Sena. Dia pasti kelaparan. Karena tidak ada hal yang harus dikerjakan, Rin pun ikut tinggal di rumah sakit.

Youngmin sudah bangun ketika aku dan Rin kembali ke kamar tempat dia dirawat. Dia bahkan sudah bisa menegakkan tubuhnya dan bercanda dengan Sena yang duduk di samping ranjangnya. Ini pertama kalinya aku melihat Youngmin benar-benar tertawa lagi sejak kecelakaan itu.

Baguslah kalian berdua bisa tertawa seperti itu.

“Kwangmin? Kenapa kau berhenti?”

Aku tidak sadar bahwa aku terhenti di depan pintu sampai Rin menepuk pundakku. Melihat apa yang ada di depanku sekarang, aku seperti tidak pernah kehilangan mereka berdua. Seperti kembali ke waktu pertama kali kami bertiga bertemu. Ini sudah benar. Yang perlu kulakukan hanyalah mengabaikan perasaanku sendiri, dan melupakan apa yang telah terjadi.

“Kau membuatku khawatir, Hyung.”

“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing. Untungnya Sena menceritakan hal-hal lucu padaku.”

“Ah ya, Sena, makanlah. Aku tidak tahu harus membeli apa, kuharap kau menyukainya.”

“Terima kasih. Jangan khawatir, aku menyukai semua makanan.”

Tidak ada hal yang kami berempat bicarakan bersama. Sena sibuk menghabiskan makanannya, sambil sesekali menimpali ucapan Youngmin. Sedangkan aku dan Rin membicarakan bebeapa hal yang berkaitan dengan syuting.

Kami bertiga pulang karena sudah larut malam. Aku tidak menginap di rumah sakit. Youngmin memaksaku pulang.

“Pastikan kau beristirahat dengan baik Hyung,” pesanku sebelum pergi.

***

 

~FLASBACK~

*Sena POV*

 

Aku terbangun di tempat yang terasa asing. Aku tidak mengenali wajah seorang pria yang sekarang menatapku. Melihatku membuka mata, dia tersenyum.

“Sena, ini oppa. Kau sudah sadar!”

Pria yang mengaku sebagai kakakku itu berlari keluar. Kepalaku terasa pusing sekali. Aku mencoba bangun, tapi tubuhku seolah tidak menuruti perintahku. Beberapa orang masuk bersama pria yang kulihat sebelumnya. Masing-masing dari mereka bergiliran memanggil nama Sena.

Siapa Sena? Aku? Kenapa aku tidak mengingatnya?

“Siapa kalian?” tanyaku.

Orang-orang yang mengelilingiku membisu. Mereka menyebutkan siapa diri mereka masing-masing, tetapi tetap tidak ada satupun yang kukenali. Lalu dokter datang. Dan dia mengajakku melalui berbagai pemeriksaan.

 

Tidak tahu mengapa, aku tidak bisa menangis. Aku lebih ingin marah ketika dokter mengatakan bahwa aku mengalami amnesia. Jihoon, pria yang mengaku sebagai kakakku, sejak tadi berusaha mengajakku bicara. Namun aku hanya diam, tidak meresponnya. Aku menolak bertemu orang lain selain Jihoon. Bertemu dengan banyak orang membuatku bertambah kesal, karena aku tidak dapat mengenali mereka.

“Sena, kumohon katakan sesuatu,” pinta Jihoon.

“…”

“Kau boleh menangis, kau boleh marah. Kau boleh memukuliku untuk melampiaskan kemarahanmu. Jangan diam seperti ini Sena.”

Aku memiringkan tubuhku. Membelakangi Jihoon. Kucoba memejamkan mata. Berharap, saat terbangun nanti, semua ini akan ikut berakhir.

***

 

“Aku merubah suasana kamarmu,” jelas Jihoon saat membawaku masuk ke dalam kamar.

Seminggu setelah sadar, aku keluar dari rumah sakit. Awalnya aku memaksa pulang lebih cepat. Aku tidak mengatakannya pada Jihoon, tetapi aku ingin segera melihat rumahku. Siapa tahu dengan berada di dalam rumahku sendiri, aku bisa mengingat sesuatu.

Tetapi, tidak ada hal yang kuingat bahkan dari barang-barang yang ada di dalam kamarku. Apalagi Jihoon sudah merubah suasananya.

“Istirahatlah. Katakan padaku jika kau membutuhkan sesuatu. Segera bicaralah pada ibu. Dia sangat mengkhawatirkanmu.”

Jihoon keluar dari kamarku. Aku berdiri di tengah-tengah ruangan. Merasa asing hingga tidak berani menyentuh apa pun. Kuyakinkan pada diriku sendiri bahwa ini bukan kamar orang lain.

Kubawa kakiku menuju meja di sisi kanan ranjang, di mana banyak bingkai foto di atasnya. Semuanya berisi fotoku bersama Jihoon. Dari foto itu terlihat jelas aku memang sangat akrab dengannya.

Apa aku tidak mempunyai teman?

Melihat fotoku yang sedang tersenyum, aku justru merasa sedih. Aku semakin marah karena tidak bisa mengingat diriku sendiri. Kuambil salah satufoto, lalu membantingnya. Aku mengulanginya pada semua foto yang ada di atas meja.

“Sena, apa yang kau lakukan?” Jihoon berlari masuk mendekatiku. “Hentikan. Kau bisa terluka. Hentikan Sena!”

“Kenapa aku? Kenapa?” seruku.

“Sena—“

“Kau tahu rasanya tidak bisamengingat apa pun Oppa? Bukankah itu menyedihkan? Kenapa Tuhan memilihku?”

“Ada apa Jihoon?” tanya ibu yang baru saja masuk. Ibu tidak bisa menyembunyikan tangisannya.

“Biar aku saja yang mengajak Sena bicara.”

Jihoon mengunci pintu, lalu mencoba mendekatiku. Aku ingin melampiaskan lagi amarahku, tetapi tiba-tiba aku merasa tidak memiliki tenaga. Perlahan aku mulai menangis lebih kencang.

“Bukan kau yang salah Sena. Kalau kau tidak suka berada di tempat ini, besok kita akan pergi. Hm? Kumohon jangan seperti ini.”

Jihoon memelukku.

“Apa salahku Oppa?”

Aku menangis di dalam pelukannya sampai aku merasa lelah. Setelah cukup tenang, Jihoon membantuku berbaring di tempat tidur. Hanya butuh waktu sebentar hingga aku jatuh tertidur.

Aku bermimpi buruk. Mimpi yang sama. Di mana aku berada di dalam mobil sendirian, berusaha untuk keluar, tetapi pintu mobil tidak mau terbuka. Sampai akhirnya mobil itu jatuh ke jurang, dan masuk ke dalam air. Meski tidak bisa bernapas, aku berusaha menyebut nama seseorang. Aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Semakin lama aku semakin kesulitan bernapas. Aku pun terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh dahiku.

Mimpi itu terus berulang. Setiap kali terbangun aku merasa seperti ada seseorang yang benar-benar mencekik leherku ketika aku tidur. Membuatku tidak ingin memejamkan mata lagi.

Aku beranjak dari tempat tidur. Kubuka lemari buku di samping sofa yang terletak di bawah jendela. Ada banyak buku dan komik di dalamnya. Aku tidak ingat kalau aku suka membaca. Kuambil salah satu buku, lalu membacanya.

Aku sudah merasa bosan ketika sampai di halaman tujuh belas. Akhirnya aku hanya membolak-balik halamannya. Kemudian, aku melompat ke halaman terakhir. Ada sebuah kertas kecil yang menempel di sampul buku bagian belakang.

Jangan berpikir untuk mengajakku piknik di depan menara Eiffel, Sena.

– Kwangmin –

Karena tidak mengerti dengan maksud tulisan itu, aku mencoba membuka satu buku lagi. Ternyata ada kertas kecil juga yang menempel di bagian belakangnya.

Kenapa kau membeli buku ini? Aku tidak mau mengangkat telepon darimu tengah malam, gara-gara kau ketakutan.

– Kwangmin –

Buku yang sedang kupegang memang bergenre misteri. Apa aku sepenakut itu? Karena penasaran dengan tulisan-tulisan itu, kukeluarkan semua buku di dalam rak, lalu kubuka satu per satu bagian belakangnya. Ternyata tidak semua buku memiliki catatan di bagian belakang. Aku sedikit kecewa.

Membaca komentar-komentar itu membuatku tersenyum sendiri dan perasaanku pun ikut membaik. Semuanya ditulis oleh orang yang sama. Hal itu menimbulkan rasa penasaran pada sosok orang yang menulisnya.

“Siapa Kwangmin?” gumamku.

Aku pun teringat pada mimpi-mimpi burukku. Apa mungkin Kwangmin adalah nama yang selalu kusebut di dalam mimpi?

Jihoon pasti bisa menjawab rasa penasaranku. Tapi aku harus menunggu sampai besok pagi untuk bisa menanyakannya.

***

 

Pukul tujuh pagi, Jihoon memaksaku bangun untuk menemaninya berbelanja. Hari ini adalah sarapan pertamaku bersama seluruh anggota keluarga. Kata Jihoon, aku paling suka mengikutinya ke supermarket. Dia juga berharap aku tidak merasa asing pada sekelilingku.

Usai membeli bahan-bahan yang dibutuhkan, kami berdua langsung pulang. Di rumah, ibu sudah menunggu di dapur. Aku tersenyum menyapanya. Sebenarnya aku berniat menanyakan hal yang menggangguku semalam, tetapi belum ada kesempatan.

Barulah saat Jihoon selesai dengan kegiatan memotongnya, aku menariknya ke dalam kamar.

“Oppa, ada yang ingin kuketahui.”

“Apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?”

Kukeluarkan salah satu buku dengan komentar dari Kwangmin di dalamnya. Langsung kubuka pada halaman terakhir, lalu menunjukkannya pada Jihoon.

“Siapa orang ini?” tanyaku sambil menunjuk nama Kwangmin.

Kedua mata Jihoon melebar. Dia meraih buku itu dari tanganku dengan cepat.

“Bukan siapa-siapa.” Jihoon mengembalikan buku itu ke dalam rak. “Ayo keluar, masakan ibu sebentar lagi matang.”

Padahal sudah jelas semua buku di dalam rak adalah milikku. Tetapi reaksi Jihoon padaku menunjukkan, seolah-olah aku sudah menyentuh barang miliknya yang tidak seharusnya kuketahui. Karena reaksinya itulah rasa penasaranku justru bertambah besar. Aku memburu Jihoon dan memaksanya menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Jihoon tidak mau kalah. Dia berkukuh tidak memberikan jawaban apa pun padaku.

“Sudah kukatakan dia bukan siapa-siapa Sena! Tidak ada yang perlu kau ketahui tentang seseorang bernama Kwangmin itu!”

Bohong. Jihoon berbohong padaku.

“Tinggalkan aku sendiri. Katakan pada ibu, aku tidak enak badan.”

“Sena…”

“Kau bisa meninggalkan kamarku Oppa.”

“Akan kuantar makananmu nanti.”

Aku mengunci pintu kamarku setelah Jihoon pergi. Aku merasa lebih marah dari sebelumnya. Tiba-tiba aku mencurigai semua orang di sekelilingku. Jangan-jangan masing-masing dari mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Jangan-jangan mereka sedang bermain-main denganku, karena aku tidak bisa mengingat apa pun. Mereka sedang mengasihaniku. Bahkan keluargaku juga menganggapku menyedihkan.

Pipiku mulai basah. Aku terduduk di atas lantai dengan berbagai amarah yang menumpuk.

“Kau menyedihkan Sena,” ujarku.

Hari berubah gelap, tapi aku belum beranjak dari posisiku sebelumnya. Kamarku tak kalah gelap dari kondisi di luar. Pikiranku kacau sekali.

Terdengar suara ketukan di pintu kamarku. Suara Jihoon menyusul kemudian.

“Buka pintunya Sena. Kau belum makan sejak pagi. Aku minta maaf, Sena.”

Dari ucapannya, aku menebak Jihoon masih belum berniat menjawab pertanyaanku tadi. Itu berarti aku hanya akan mendengar kebohongan lebih banyak. Emosiku meluap-luap lagi.

Aku berdiri, membuka rak, kemudian mengeluarkan semua isinya dengan kasar. Mendengar suara berdebum yang cukup keras, Jihoon berteriak dengan suara putus asa, memintaku membuka pintu. Aku yang berpura-pura tidak mendengarnya, beralih ke barang-barang di atas meja. Satu per satu hiasan yang tersisa di atas meja, kujatuhkan begitu saja.

“Sena, apa yang kau lakukan? Jangan melakukan hal-hal buruk Sena! Buka pintunya!”

Mereka membodohiku.

“Sena, kalau kau tidak membuka pintu, aku akan mendobraknya!”

Apa gunanya aku ada diantara keluarga yang tidak jujur padaku?

Jihoon benar-benar berusaha membuka paksa pintu kamarku. Aku juga mendengar suara ibu yang menangis sambil terus-menerus memanggil namaku.

Jangan-jangan, bahkan Sena bukan namaku yang sebenarnya.

“Aaaaaaaarrrrgggghhhh!!!” Aku berteriak sekeras yang kubisa.

Aku terduduk diantara barang-barang yang berserakan di atas lantai.

Pintu kamarku berhasil terbuka. Jihoon berlari cepat menghampiriku. Dia mengecek kondisiku, tapi aku menyingkirkan tangannya.

“Apa aku begitu menyedihkan Oppa?”

Jihoon menahan tangisnya di depanku.

 

Kamarku telah kembali rapi saat aku membuka mata. Sudah dua hari aku tidak mau bicara pada siapa pun. Setiap kali amarah itu muncul, aku melakukan hal yang sama. Membanting barang-barang yang ada di kamar. Mereka merapikan kamarku saat aku tidur. Namun aku terus mengulangi hal sama, sampai rasanya tidak ada barang yang bisa kubanting lagi.

Seperti hari ini setelah aku bangun, dan melihat Jihoon mengantar sarapan untukku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa marah. Dia tidak pernah membiarkan ibu mendekatiku. Mungkin dia takut aku menyakiti perasaan ibu dengan apa yang kukatakan dan kulakukan.

“Hentikan Sena! Tangan dan kakimu terluka.” Jihoon memegang erat pergelangan tangan kananku.

Aku menatapnya penuh amarah sekaligus kesedihan. Aku sungguh ingin berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Rasa sakit yang datang dari luka yang dibicarakan Jihoon menyadarkanku.

“Keluar.” Aku mengempaskan tangannya. Kubawa kakiku mendekati lemari pakaianku. Kemudian aku mengacak-acak isinya.

“Kita perlu mengobati lukamu.” Jihoon menarik pergelangan tanganku lagi dan memaksaku keluar.

“Lepaskan aku! Lepaskan Oppa!”

“Aku tidak mau kau menyakiti dirimu sendiri Sena!”

“Kau tidak perlu mengasihaniku! Lepaskan!”

Jihoon memegang erat kedua tanganku. Akhirnya aku pun menangis.

“Kenapa Oppa, kenapa?”

Jihoon hanya diam di sampingku. Menemaniku hingga tangisanku berakhir.

Cukup lama bagiku untuk kembali tenang. Melihatku lebih tenang, Jihoon melepaskan cengkeramannya di tanganku, kemudian mulai bicara.

“Jo Kwangmin. Orang itu… adalah seseorang yang sangat dekat denganmu.”

Mendengar nama Kwangmin disebut, aku memberikan perhatianku sepenuhnya pada apa yang dikatakan Jihoon.

“Setiap kali meneleponku ataupun bertemu denganku, kau selalu menceritakannya. Dia bagian dari hidupmu.”

“Maksudmu, aku sangat menyukainya?”

“Terkadang aku bahkan merasa kau lebih menyukainya daripada kakakmu sendiri.”

“Lalu, di mana dia sekarang?”

Jihoon berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, dia pergi demi kebaikan kalian berdua.”

Omong kosong.

“Dia membuangku karena aku terlihat menyedihkan?”

“Tidak Sena. Aku tidak bisa menjelaskan detailnya padamu. Aku sudah menjawab pertanyaanmu, jadi kumohon berhenti berbuat seperti ini.”

“Aku ingin menemuinya Oppa. Jo Kwangmin.”

“Tidak. Sena kumohon mengertilah. Situasinya tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu apa? Jelaskan padaku Oppa!”

Aku sungguh tidak bisa menerima penjelasan Jihoon. Aku harus mengetahui alasan orang itu tidak menemuiku. Dan juga alasan mengapa awalnya Jihoon berbohong padaku tentang siapa Kwangmin sebenarnya.

Jihoon pun menjelaskan beberapa hal padaku. Hal-hal yang mudah kumengerti. Dia tidak menjelaskannya secara detail. Maka aku mengambil kesimpulanku sendiri. Kwangmin pasti memang menganggapku menyedihkan hingga dia tidak mau berhubungan lagi denganku.

Aku memohon pada Jihoon agar mempertemukanku dengannya. Aku terus memaksa, sementara Jihoon terus menolak. Sampai akhirnya dia bersedia mengabulkan keinginanku dengan satu syarat. Aku tidak boleh menolak menemui salah satu temannya yang bekerja sebagai psikolog, dan aku harus menjalani pengobatanku dengan baik. Tentu saja aku juga harus berhenti mengacaukan kamarku.

Aku menyetujui persyaratan Jihoon itu.

***

 

Pertama kalinya berada di tengah-tengah banyak orang setelah kecelakaan yang kualami, membuatku pusing. Satu jam yang lalu aku dan Jihoon baru saja menemui teman itu. Aku tahu Jihoon tidak bermaksud mengatakan bahwa aku mengalami gangguan mental. Aku tahu bagaimana putus asanya Jihoon melihat emosiku yang tidak stabil.

Sebelum duduk di kafe ice cream ini, kami mampir lagi di rumah karena Jihoon harus mengambil sesuatu. Sebuah skenario yang kutulis sendiri. Aku terkejut ketika membacanya. Tidak percaya bahwa jilidan tebal yang kupegang sekarang adalah hasil tulisanku.

Aku tidak bicara banyak di depan teman Jihoon tadi. Bukan karena tidak ingin, melainkan tidak bisa. Entahlah, rasanya sulit menceritakan perasaanku sekarang. Maka teman Jihoon menjelaskan beberapa cara yang bisa kugunakan sebagai terapi. Salah satunya dengan menulis. Kata Jihoon, aku memang suka menulis sejak dulu. Teman Jihoon pun memberi saran agar aku menggunakan media tulisan untuk mengungkapkan segala hal yang kupikirkan dan kurasakan.

“Kau terkejut? Sekarang kau mengerti mengapa aku mengatakan bahwa kau lebih menyukainya daripada aku?”

Memang benar. Dari skenario cerita yang kubuat itu, tergambar jelas perasaan Sena dulu yang tidak kurasakan sekarang. Kwangmin jelas bagian yang penting dari hidup Sena.

“Oppa… pertemukan aku dengannya.”

 

~END OF FLASHBACK~

***

 

Dering ke sepuluh dari alarm ponselku baru berhasil memaksaku beranjak dari tempat tidur. Tidak ada ibu atau Jihoon yang membangunkanku, alhasil aku lebih sering terlambat bangun. Sulit sekali perjuanganku mendapat izin tinggal sendirian di Seoul, sementara ibu tinggal di New York bersama Jihoon. Dengan rayuan-rayuan maut, aku berhasil mendapat kepercayaan mereka.

Hari ini aku ingin di rumah saja.

Begitulah kalimat pertama yang selalu terpikirkan olehku setiap kali bangun tidur. Tetapi, begitu aku teringat nama Kwangmin, aku langsung melupakan niat itu.

Awalnya kupikir aku akan sangat marah ketika melihat Kwangmin. Nyatanya, perasaan marahku tidak muncul. Aku seperti sedang melihat diriku sendiri. Diriku di dalam tubuh Kwangmin. Aku malah ingin berlari ke dalam pelukannya.

Aku selalu ingin bertemu Kwangmin. Setiap saat muncul keinginan dalam diriku, untuk menanyakan alasannya berpura-pura tidak mengenaliku. Jika ingin mendapatkan jawabannya aku sendiri harus bertahan berpura-pura belum mengetahui siapa dia.

Usai bersiap-siap, aku meminta sopir mengantarku ke rumah sakit. Jihoon tidak pernah bercerita tentang Youngmin. Dia hanya memberitahuku bahwa Kwangmin memiliki saudara kembar bernama Youngmin. Karena tidak ada perasaan khusus yang kurasakan ketika Jihoon menyebut namanya, maka aku tidak memikirkannya.

Kali pertama aku bertemu Youngmin, dia tidak menunjukkan tanda-tanda mengenalku. Kemungkinannya, aku akrab dengan Kwangmin, tetapi tidak dengannya. Aku memutuskan untuk mencaritahu tentang Kwangmin darinya. Karena itulah aku berusaha mengakrabkan diri dengan Youngmin.

“Selamat pagi,” sapaku pada Youngmin yang sedang menikmati sarapannya.

“Sena?” Youngmin nampak terkejut dengan kedatanganku.

“Iya, ini aku. Kau tidak salah lihat.”

“Aku tidak menyangka kau akan datang. Sepagi ini.”

“Apa aku orang pertama yang menjengukmu hari ini?”

Untung saja pertanyaan itu yang keluar dari mulutku. Karena sebenarnya yang ingin kutanyakan adalah ‘apakah Kwangmin akan menemanimu hari ini?’.

“Ya, Kwangmin syuting sampai malam. Mungkin dia datang malam nanti.”

Jadi begitu.

Kuletakkan buah-buahan dan cemilan yang kubawa di atas meja, lalu duduk di kursi di samping ranjang.

“Kau sendiri, tidak ke lokasi syuting hari ini?”

“Kurasa tidak. Ada sebuah tempat yang perlu kudatangi.”

“Aaaah… kupikir kau akan menemaniku seharian,” kata Youngmin dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

“Yaaa… aku tidak tega mengecewakanmu Oppa. Aku akan datang lagi setelah urusanku selesai.”

Sejak mengobrol dengan Youngmin kemarin, kami menjadi lebih akrab satu sama lain. Topik obrolan biasa yang dibicarakan dua orang yang baru saja saling mengenal. Lagipula aku tidak bisa bertanya apa-apa di saat aku sendiri tidak tahu apa yang sebaiknya kutanyakan. Terlebih kehadiran Kwangmin membuatku tidak bisa bertanya lebih jauh pada Youngmin.

“Hmm… Oppa, semoga kau tidak menganggapku berusaha merayumu. Apa kau yakin, sebelum ini tidak pernah bertemu denganku?”

Youngmin mengangguk. “Ya, ini pertama kalinya kita bertemu. Bukankah jika kita pernah bertemu sebelumnya kau pasti mengenaliku?”

Ah ya, aku tidak mengatakan bahwa aku mengalami amnesia.

Aku keluar dari rumah sakit tepat pukul sebelas. Tempat tujuanku selanjutnya adalah persewaan komik yang kulewati kemarin. Di mana salah satu pegawainya sempat menyapaku. Terus terang saja aku ingin berlari mengejarnya saat itu juga. Seandainya Kwangmin tidak ada di sebelahku.

Kakiku terasa berat saat aku berjalan memasuki persewaan komik itu. Seorang wanita paruh baya yang berdiri di balik meja, nampak terkejut selama beberapa detik. Tetapi kemudian dia tersenyum menyapaku. Aku tidak salah lihat, wanita itu memang terkejut tadi.

Semua kursi yang ada di dalam persewaan itu masih kosong. Dengan langkah pelan, aku mengelilingi setiap rak. Menyentuh pinggiran komik-komik yang tidak berdebu, tanda sering dibersihkan. Apa aku dulu suka membaca komik? Aku sama sekali tidak familier dengan judul-judul komik itu.

Pada rak ketiga, aku melihat pegawai yang kucari itu. Dia tidak menyadari kehadiranku karena sibuk mengembalikan komik-komik ke dalam raknya. Aku menepuk pundaknya. Lelaki itu terkejut hingga menjatuhkan komik yang dibawanya.

“Bisakah kita mengobrol sebentar?”

Lelaki di depanku terlihat ragu dan bingung.

“Aku masih banyak pekerjaan Nuna.”

“Kumohon.”

Dia menengok ke arah wanita paruh baya tadi berada. Wanita itu sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Mengetahui hal itu, lelaki di depanku mengajakku duduk di salah satu kursi yang tidak terlihat dari depan. Sekarang aku tahu, wanita paruh baya tadi pasti bosnya. Dia sengaja memilih tempat duduk yang tidak terlihat oleh wanita itu.

“Nuna, aku tidak bisa mengobrol lama. Jika bos tahu aku bicara denganmu, dia pasti memarahiku.”

“Maaf. Aku hanya ingin tahu, benarkah kau tidak mengenalku? Kau menyapaku waktu itu, tapi mengapa kau langsung menyangkalnya?”

“Apa yang terjadi padamu Nuna? Kau tidak mengingatku?”

“Aku tidak bisa mengingatmu,” kataku sedih.

“Baiklah, aku tahu kau memiliki alasan. Ya, aku memang mengenalmu Nuna. Tapi… pria yang bersamamu waktu itu meminta kami berpura-pura tidak mengenal kalian.”

“Kami? Kalian? Apa maksudnya?”

Belum sempat menjelaskan kelanjutan ucapannya, dia mendengar bosnya memanggil.

“Maafkan aku Nuna. Senang bisa bertemu denganmu lagi.”

Lelaki itu pergi begitu saja. Sial.

Aku keluar dari persewaan komik dengan perasaan kecewa. Jadi, sebenarnya hanya Kwangminlah yang bisa memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggangguku.

Kwangmin, apa yang sedang berusaha kau sembunyikan?

Dari persewaan komik, aku menuju ke lokasi syuting. Aku memperhatikan Kwangmin yang sedang menjalani syuting, dari dalam mobil. Kekesalanku menghilang seketika. Lucu sekali melihatnya ketakutan karena berada diantara banyak balon. Kwangmin tidak suka melihat banyak balon. Dia takut balon-balon itu meletus sewaktu-waktu.

Tunggu. Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Ingatan itu terlintas begitu saja di kepalaku. Aku membuka pintu mobil dengan tergesa, berniat berlari ke arah Kwangmin. Tetapi aku berakhir berdiri terdiam tanpa melakukan apa pun. Memang apa yang bisa kulakukan? Aku menghela napas panjang.

Apa yang terjadi padaku Kwangmin?

 

Syuting berakhir pukul enam sore. Sejak tadi siang aku menghindari Kwangmin. Menyapanya saja tidak. Aku berakting sibuk dengan para kru. Kurasa aku bisa menggantikan Rin di drama ini.

Ah, ngomong-ngomong soal Rin, aku tidak tahu mengapa saat ini aku merasa cemburu padanya.

Rin sedang mengobrol berdua saja dengan Kwangmin di depan mobilnya. Mereka saling tertawa. Sejak kapan mereka berdua seakrab itu? Menyebalkan menyaksikannya. Rin memberikan sebuah bungkusan pada Kwangmin, kemudian masuk ke mobilnya.

Jadi Rin tidak berniat menjenguk Youngmin. Senyumku mengembang dengan sendirinya. Aku menghampiri Kwangmin setelah mobil Rin benar-benar pergi.

“Kwangmin, boleh aku ikut bersamamu ke rumah sakit?”

“Kau… mau menjenguk Youngmin hyung?”

“Tentu saja. Aneh sekali pertanyaanmu.”

“Maksudku… ah sudahlah. Ayo masuk.”

Kami mampir ke mini market lebih dulu sebelum ke rumah sakit. Aku sempat melihat penjual ddukbokkie tak jauh dari mini market. Jadi, aku meminta Kwangmin menungguku, sementara aku berlari sendirian ke penjual ddukbokkie itu.

Tiba-tiba turun hujan. Padahal di lokasi syuting tadi langit masih cerah. Karena minimnya penutup di tempatku membeli ddukbokkie, aku terpaksa merelakan hujan membasahi bagian belakang bajuku. Tersisa empat orang lagi, setelah itu giliranku. Aku tidak mau gagal membeli ddukbokkie hanya gara-gara hujan. Maka aku pun menunggu.

Dalam lima menit, hujan bertambah deras. Bahkan disertai angin. Aku baru saja mendapat ddukbokkie yang kupesan. Dan sekarang aku bingung, bagaimana caraku kembali ke mini market dalam situasi begini?

“Tidak ada cara lain.”

Aku menerobos hujan tanpa memikirkan risiko kedinginan. Meskipun jaraknya tidak jauh, tetapi dalam keadaan hujan yang deras begini, tubuhku tetap saja basah kuyup. Kwangmin berdiri di depan mini market sambil membawa satu plastik besar. Dia memandangiku tidak percaya.

“Sena, kenapa kau…”

“Ayo cepat, aku kedinginan!” Aku menarik Kwangmin masuk ke mobil.

“Kau kehujanan demi ddukbokkie? Yang benar saja Sena.”

“Jangan mengomel Kwangmin. Terdengar menyebalkan.”

Kwangmin mengambil jaketnya, lalu memakaikannya padaku. Secara tidak sengaja wajah kami berada dalam jarak yang dekat. Kami berdua pun sama-sama berdeham, lalu menjauhkan diri.

“Setidaknya itu bisa menghangatkanmu sementara. Kurasa lebih baik kita ke apartemenku agar kau bisa mengeringkan tubuhmu.”

“Apa?”

***

 

*Kwangmin POV*

 

“Kau perlu mandi dan mengganti pakaianmu segera.”

“Ah… tidak masalah. Aku bisa menahannya.”

“Apartemenku dekat dari sini.”

Aku pasti sudah gila, menawarkan Sena untuk masuk ke apartemen. Serius, aku tidak tega membiarkan Sena kedinginan seperti itu.

Dia nampak berpikir. Kemudian aku melihatnya bersin tiga kali berturut-turut. Aku tersenyum, sementara Sena memalingkan wajahnya dariku karena malu.

“Aku menganggap kau setuju.”

Tidak lebih dari sepuluh menit, kami sampai di apartemenku. Aku bergegas mengambil pakaianku yang paling kecil agar bisa dia kenakan. Sedikit canggung, aku mempersilakannyamenggunakan kamar mandi di kamar tidur tamu. Aku pun juga masuk ke kamar untuk membersihkan diri.

Sudah lebih dari dua puluh menit. Sena belum juga keluar dari kamar tamu. Aku menghubungi restoran cepat saji, teringat kami berdua belum makan malam. Sambil menunggu makanan datang, aku duduk menonton televisi. Aku sudah mengirim pesan pada Youngmin, memberitahukan kemungkinan aku terlambat datang.

Mendengar suara pintu terbuka, aku menoleh ke sumber suara. Sena yang mengenakan kaus dan celana panjangku tersenyum canggung. Sebenarnya itu kaus dan celana yang paling sering dipakai Sena dulu.

“Terlihat bagus untukmu.”

“Kuharap itu bukan sindiran.”

Tidak lama, makan malam yang kami tunggu datang. Kami pindah ke meja makan untuk menikmati jjajangmyun yang kupesan. Seperti yang biasa kulakukan, aku membantu Sena menyiapkan jjajangmyunnya. Jika tidak, bisa-bisa jjajangmyun itu bisa berpindah ke atas lantai.

“Sepertinya aku bukan perempuan pertama yang masuk ke apartemenmu?”

“Apa?” Kuambil segelas air putih, lalu kuletakkan di samping piringnya. “Tentu saja tidak. Ibuku cukup sering berkunjung.”

“Manis sekali,” kata Sena datar.

Aku mengangkat bahu sambil tersenyum singkat. Dia tidak membahasnya lagi. Kami menikmati makan malam dengan tenang. Setelah makanan di piring kami habis, barulah aku berpikir untuk mengajaknya bicara. Pikiranku melayang ke pembicaraan terkahir kami di tempat karaoke.

“Tentang pertanyaanmu di tempat karaoke tadi…”

“Aku sudah melupakannya.”

Mendengar jawaban Sena itu, aku tahu dia sungguh tidak ingin aku membahasnya lagi.

“Biar kubantu kau mencuci.” Sena mengambil mangkuk di depanku.

“Lebih baik kau duduk di sana, sementara aku menyelesaikan semua ini.”

“Aku tidak keberatan. Serahkan saja padaku.”

Aku memegangi mangkuk yang juga dipegang Sena. Kami saling memaksa untuk mencuci mangkuk itu.

“Duduklah dan menonton televisi saja, Sena.”

“Sudah kukatakan aku akan mencucinya, Kwangmin.”

Kami terus saja saling menarik, hingga akhirnya mangkuk itu terlepas dan terjatuh diantara kami berdua. Anehnya, pecahannya hanya terlempar dan melukai kakiku. Bukan luka besar.

“Kalau kau membiarkanku, kejadiannya tidak akan seperti ini. Di mana kotak obatmu?”

“Aku tidak—“

“Kwangmin! Jawab saja.”

Aku pun menunjukkan di mana letak kotak obat, kemudian Sena mengambilnya. Dia memintaku duduk agar dia bisa mengobati lukaku.

“Aku bisa melakukannya sendiri Sena. Lukaku tidak separah itu.”

“Kau pria yang banyak bicara setelah kakakku. Kau mau ini cepat selesai kan?”

Aku menyerah. Sena mulai mengobati kakiku tanpa banyak bicara.

“Selesai. Dulu kau pasti bukan anak yang penurut.”

“Dulu kau pasti anak yang pemaksa.”

“Terima kasih.” Sena menyindirku karena aku belum mengucapkan terima kasih padanya.

“Iya, terima kasih Sena.”

Akhirnya, baik aku maupun Sena melupakan niat mencuci mangkuk.

Aku ingat masih memiliki teh jahe di kulkas. Ibu yang membawakannya tiga hari yang lalu. Aku tidak menceritakan bahwa aku bertemu Sena lagi pada keluargaku. Hanya akan membuat mereka mengkhawatirkanku.

“Minumlah.”

“Kau punya banyak koleksi dvd,” kata Sena menunjuk kotak berlabel film yang belum kukembalikan ke dalam rak penyimpanan.

“Tidak juga. Cuma film-film lama.” Aku berencana mengembalikan kotak itu, tetapi Sena lebih dulu bicara.

“Ayo kita menontonnya. Tidak ada tayangan tv yang bagus.”

Sena tidak boleh melihat isi kotak itu. Karena ada simbol ‘S’ di setiap dvd yang ada di sana. Dia bersiap mengambil kotak itu, tetapi aku buru-buru menghadangnya.

“Biar aku yang memilihkannya untukmu. Ada… beberapa dvd yang sudah rusak. Kau duduk saja.”

“Sikapmu aneh sekali. Oke.”

Kusebutkan beberapa judul film. Tanpa lama berpikir, Sena memilih Tangled untuk dia tonton. Film yang juga paling sering dia tonton bersamaku dulu.

Aku bisa saja mengatakan padanya bahwa dvd film itu rusak. Sehingga aku tidak perlu terjebak di dalam salah satu kenanganku bersama Sena. Tetapi entah kenapa aku tidak melakukannya.

Begitu film dimulai, kami sama-sama diam.

Sekitar dua puluh lima menit kemudian, aku yang terlalu lelah dan mengantuk, mengabaikan film itu dan lebih memilih memejamkan mata. Sampai akhirnya aku benar-benar tertidur. Aku ini termasuk orang yang bisa tidur dalam posisi apa pun.

Aku bermimpi, mengulangi hal-hal yang sering kulakukan bersama Sena. Mimpi yang tidak terasa seperti mimpi.

Kami berada di tengah keramaian. Aku yakin menggandeng tangan Sena. Tetapi tiba-tiba dia menghilang dari sampingku. Aku tidak menemukannya di mana pun. Kemudian kulihat dia berdiri tak jauh dariku. Aku berjalan mendekatinya, namun sebuah mobil menabrak tubuh Sena.

Aku terbangun dengan perasaan terkejut. Semua terasa begitu nyata. Aku sadar bahwa itu semua hanya mimpi ketika mendapati Sena yang tertidur di sampingku. Kepalanya tersandar di bahuku. Layar televisi berubah hitam. Tanda film yang kami lihat telah selesai.

Belum ada tanda-tanda hujan segera berhenti. Lagipula aku tidak tega membangunkan Sena. Maka, aku pun menggendongnya ke kamar tamu. Setelah menyelimuti badannya sampai sebatas leher, aku kembali ke kamarku sendiri. Seandainya tidak ada yang berubah diantara kami, aku pasti sudah membaringkannya di atas tempat tidurku.

Kukirim pesan singkat pada Youngmin, memberinya kabar bahwa aku tidak jadi menemaninya malam ini.

***

 

*Sena POV*

 

Masih seperti pagiku yang biasanya, aku terbangun oleh alarm di ponselku. Lewat tujuh belas menit dari pukul delapan. Hidungku terasa mampet. Pasti gara-gara kehujanan semalam.

Kehujanan?

Aku memperhatikan sekelilingku dengan saksama. Suasana kamar yang asing. Sudah jelas aku tidak berada di dalam kamarku sendiri.

“Astaga! Jangan katakan aku masih berada di apartemen Kwangmin.”

Memalukan! Bagaimana mungkin aku berakhir bermalam di apartemen Kwangmin? Aku mengecek pakaianku. Hei, itu hal pertama yang dilakukan seorang perempuan saat terbangun di ranjang orang lain, dan tidak dapat mengingat apa yang terjadi. Aku lega karena masih memakai pakaian yang komplet. Meskipun bukan pakaianku.

Merasa tidak perlu berada lebih lama lagi di apartemen Kwangmin, aku bergegas merapikan diri agar dapat segera pergi.

“Jangan pernah mengulangi hal ini Sena!” kataku mengingatkan diriku sendiri.

Sepertinya Kwangmin belum bangun. Aku tidak melihatnya di mana pun. Itu berarti Kwangmin masih berada di dalam kamarnya. Sebagian dari diriku memaksaku segera melangkah keluar dari apartemennya. Sedangkan sebagian diriku yang lain, menghasutku untuk masuk ke kamar Kwangmin.

Bukan. Bukan untuk meminta Kwangmin membukakan pintu apartemennya untukku. Aku tahu password apartemennya. Kwangmin menuliskannya di selembar kertas, yang dia tempelkan di pintu kamar mandi agar aku mudah mengetahuinya. Katanya, dia takut kalau kejadiannya seperti ini, aku bangun lebih dulu darinya. Dengan begitu aku tidak perlu sungkan dan repot-repot membangunkannya dulu.

“Itu bukan ide bagus Sena,” ujaru pelan.

Sayangnya setan berhasil menghasutku. Kakiku melangkah menuju kamar Kwangmin. Bolehkah aku merasa beruntung karena ternyata pintu kamar Kwangmin tidak terkunci? Dengan jantung berdebar—layaknya seorang pencuri yang takut ketahuan—aku berjalan sangat pelan mendekatinya.

Memperhatikan Kwangmin dari jarak sedekat ini, aku mendadak tersipu. Wajahku sekarang pasti semerah tomat. Kwangmin terlihat manis sekali. Aku menelan ludah. Terkutuklah apa yang baru saja kupikirkan. Aku ingin menyentuhnya.

Jauhkan tanganmu Sena, jauhkan!

Sekali lagi setan berhasil menang. Jari-jariku sekarang berada di atas bibirnya yang merah. Entah muncul keberanian dari mana, perlahan aku membungkukkan badan. Aku bisa merasakan embusan napasnya di wajahku. Dan, sebelum menyadari apa yang kulakukan, bibirku sudah berada di atas bibirnya.

Keinginan itu muncul begitu saja tanpa bisa kukendalikan. Perempuan macam apa aku ini? Cepat-cepat aku menegakkan badan. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, tidak memercayai apa yang baru saja dilakukan bibirku.

Sebelum Kwangmin terbangun dan melihatku di dalam kamarnya, aku berjalan cepat meninggalkan apartemennya.

This entry was posted by boyfriendindo.

8 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 04

  1. wegh.. daebbak!! (y) .. smuany aq suka thor, mulai dri bhsanya maupun jln crtnye, tpi knpe lma bngt dlnjtin, ane jdi penasaran tngkt janus degh😀 … fighting!! ntuk lnjutan crtanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: