[FANFICT/FREELANCE] I Don’t Care Again ….! – Chapter 04

Title 
: I Don’t Care, Again…! – Chapter 04
Author : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ No Minwoo

  ~ Jung Yeong In

 

Before…

Eonnie, aku harus menjawab teleponku dulu,” Hyorin hanya mengangguk. Kemudian ia beralih untuk masuk ke kamar seseorang yang tadi diperhatikan oleh Yeong In.

“Minwoo ?” gumamnya saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.

“Minwoo,”

Nde…,”

“Maaf tidak mengabarimu,”

Gwencahana, tidak masalah. Yeong In-a,”

“Uhm…,”

Lebih baik kita hentikan hubungan kita,”

-ooo-

Lebih baik kita hentikan hubungan kita,” Yeong In sedikit tertawa. Ia tahu Minwoo bercanda.

Yeong In memasang wajah kesal,” Ya ! bercandamu tidak lucu. Jika kau ingin mengajari beracting, bukan seperti ini caranya, hahaha,” ia tergelak bebas. Padahal hal ini tak lucu sama sekali. “Minwoo, kau dimana ?”

Minwoo jadi bingung harus seperti apa mengatakannya. Kali ini, perasaan tak tega itu tiba-tiba timbul di hatinya. “Yeong In-a, dengarkan aku,”

“Aku selalu mendengarkanmu dengan baik,”

Minwoo menarik napas lamban, kemudian menghembuskannya lembut. Ia memegangi ponselnya dengan kuat, “Harus kulakukan,” ucapnya dalam hati.

“Minwoo-a, kau masih di sana ?” teriak Yeong In. “Nde…,”

“Yeong In-a, aku mengatakan ini dengan sangat serius,”

Mwonde ?”

Aku ingin mengakhiri hubungan kita,”

“Kau serius ?”

Aku serius. Pergilah dengannya. Mulai sekarang, kita hanya teman. Teman,”

Yeong In terdiam. Bisu. Seketika tubuhnya menjadi kaku tatkala mendengar penuturan Minwoo yang entah dari mana bisa didapatkan oleh lelaki itu. Kedua bola matanya membola dengan tatapan kosong. Awalnya ia mengira Minwoo menelfon hanya sekedar untuk mengetahui keberadaannya, karena seperti itulah biasanya sikap Minwoo. Namun, saat ini. Sekarang. Ia tak bisa membedakan bercanda atau seriuskah Minwoo.

Yeong In-a,” panggil Minwoo. Minwoo masih setia untuk mendengar Yeong In, tapi ia sama sekali tak mendengar apa-apa. Hanya angin yang berhembus.

Bulir demi bulir mengalir. Air mata gadis yangg terdiam kaku itu membasahi wajah putihnya. Perlahan demi perlahan, cairan bening tak berdosa itu menyeruak dari muaranya. Yeong In tak bisa berbuat apa-apa. Tatapannya kosong. Ia tak mampu melihat kilau cahaya di rumah sakit itu. Bahkan hembusan angin malam yang bermain di sekitarnya, tak hebat memasuki tulang- tulang kecilnya. “Minwoo-a,” panggilnya lirih. Lirihnya suara itupun tak enggan membuat air matanya mengalir lebih deras.

Di seberang sana, Minwoo terdiam. Ia tahu. Tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya. Ah bukan ! Sekarang mereka bukan sepasang kekasih. Mereka hanyalah sepasang mantan yang putus secara sepihak.

Mianhae, Yeong In-a,”

PRAAK !!! Ponsel bertabur warna biru muda itu terjatuh. Terlepas dari tangan Yeong In. Ia lelah, lelah dengan kesakitannya. Perlahan tapi pasti tubuh itu melemas. Membuatnya terduduk bersimpuh tanpa peduli dengan panggilan Minwoo yang terdengar berulang-ulang. Tangisnya pecah memenuhi gendang telinganya sendiri. Sekarang apa yang pantas ia harapkan ? Minwoo sudah tak mau lagi mempertahankan hubungannya. Ia tahu, Minwoo bukanlah lelaki yang bisa ia lupakan terlalu lama karena lelaki yang ada di kamar rawat tersebut. Semuanya terasa menjadi beban berat untuknya.

“Aku mencintaimu, Minwoo,”

-ooo-

Minwoo berjalan cepat menuju sebuah tempat di dekat sekolahnya. Hari ini ia sudah memiliki janji menemui seseorang hingga ia melupakan sekolahnya sendiri. Ia memang menggunakan seragam sekolahnya, tapi di dalam tasnya bukanlah buku-buku yang setiap hari menjadi kebutuhannya, melainkan pakaian kerja yang akan dipakainya beberapa jam lagi.

“Apa kau serius ingin melakukan ini ?” tanya seseorang yang baru saja bertemu Minwoo di tempat perjanjian mereka. Orang itu kelihatan heran menanggapi sikap Minwoo yang mendadak ini.

Minwoo berdecak agak keras, “Siapa yang bisa menahanku melakukan hal serius ini ?” tanyanya enteng tanpa beban.

Orang itu tersenyum. Ia mengerti maksud Minwoo. “Jika aku tahu, apa kau masih mau menuruti egomu itu ?” tanyanya sembari merangkul pundak Minwoo. Minwoo menatapnya tajam. “Siapa ?”

“Hae Na,”

“Berhentilah menyebut nama itu,” Minwoo memalingkan wajahnya. Menyorot objek yang ada di sekitarnya.

“Ya aku tahu, kau sudah menggantinya dengan Yeong In, ‘kan?” seringai orang itu kegirangan.

Minwoo berjalan meninggalkan orang itu tanpa peduli teriakan yang ia dengar menyeru namanya. “Ya ! Ada apa denganmu ?” orang itu berjalan menyamakan langkahnya dengan Minwoo. Dilihatnya sahabatnya itu sedang menerawang sesuatu.

“Kau tidak melakukan apa-apa dengannya ‘kan ?” tanyanya lagi, membuat telinga Minwoo panas mendengar pertanyaannya yang tidak berhenti. “Kenapa hari ini kau banyak bertanya?” sanggah Minwoo sambil melepas dasi seragamnya.

“Ya ! Aku ini sahabatmu, bagaimana bisa kau bisa menjadi pelit seperti ini,”

“Kau ingin tahu apa yang aku lakukan padanya ?” Minwoo berhenti berjalan. Spontan membuat lelaki di sampingnya ikut terhenti. “Apa ?” tantang lelaki itu.

“Aku memutuskannya,” Minwoo kembali melanjutkan langkahnya. Mengabaikan ekspresi terkejut dari sahabatnya.

“YA ! YA ! Minwoo ! Kau bilang kau mencintainya,”

“Aku tidak pernah mencintainya,”

“Tapi kau ingin belajar mencintainya,”

“Darimana kau mengambil kesimpulan itu ?”

“Kau yang mengatakannya,”

“Tidak pernah,”

“Aku yang mendengarnya,”

“YA ! AKU TIDAK MENYUKAINYA, TIDAK MENCINTAINYA !!! SUDAH CUKUPKAH ?!”

Dengan teriakan itulah, perdebatan itu terhenti. Emosi Minwoo sudah tak bisa dikontrol lagi. Ia sudah garang mendengar tentang cinta, cinta dan cinta yang nyatanya tak ia rasakan di hatinya. Ia hanya kasihan. Kasihan pada Yeong In. Itu menurutnya. Menurut keegoisannya yang tak pernah sadar pada perasaannya.

Lelaki itu tersenyum. Ia mencoba sabar, “Kelak kau akan tahu, bagaimana sebenarnya hatimu,” lelaki itupun pergi meninggalkan Minwoo yang terdiam mendengar kalimat sahabatnya. Ada rasa menyesal sudah meneriaki sahabatnya sendiri.

“Arrgghhhh !!!” erang Minwoo sambil menjambak rambut kelamnya.

-ooo-

Yeong In menatap sedih sebuah foto yang menjadi wallpaper ponselnya. Foto yang ia jaga baik-baik sejak lama. Berharap suatu hari nanti sosok yang tergambar di dalam foto itu, bisa menjadi pangerannya yang selalu peduli dan sayang padanya. Tapi sekarang, waktu itu tak akan bisa ia raih dan rasakan masa-masanya. Yang ada di hadapannya kini hanyalah YOUNGMIN. Lelaki yang selalu menginginkannya kembali.

“Minwoo-a,” gumamnya lirih.

Tak terasa cairan bening miliknya menetes lagi. Membasahi layar ponselnya yang masih menyala. Pikirannya selalu tertuju pada Minwoo dan Minwoo. Sekarang tak ada yang bisa mengerumuni otaknya selain Minwoo dan Youngmin. Ia benar-benar seperti gadis yang hidup dengan beban berat. Tak diberikan waktu luang untuk bernafas menghirup udara kebahagiaan. Bahkan, matahari yang biasanya menyinari tubuhnya, kini tergantikan dengan hujan deras yang menertawakannya.

Yeong In bangkit dari duduknya. Ditepisnya ribuan air mata yang tak berhenti sejak semalam. Ia berjalan menuju jendela kelas yang tak jauh dari jangkauannya. Dilihatnya memori masa lalu tergambar di luar sana. Sebuah lapangan basket yang pernah memberinya kenangan bersama Minwoo.

Ia tersenyum. Melukis senyum hambar di antara hujan yang turun.

“Yeongie-a, kudengar Minwoo tidak masuk sekolah. Kenapa dia ?”

Yeong In tak membalikkan tubuhnya. Ia tak mau Min Ah melihat keadaannya saat ini. Ia hanya akan merasakan pertanyaan besar mengenai ketidakhadiran Minwoo hari ini.

“Aku tidak tahu. Nanti aku akan mencarinya,” jawab Yeong In berbohong. Bagaimana bisa ia mencari Minwoo yang jelas-jelas bukan kekasihnya lagi.

Min Ah memperhatikan punggung Yeong In yang sesenggukan, “Kau sedang baik-baik saja ?” tanyanya agak curiga.

Nde…,”

Min Ah mengangguk pelan, “Keurae, aku akan menemui Kwangmin dulu,” ia pun berjalan meninggalkan Yeong In yang masih berkutat dengan aktivitasnya sendiri. “Kenapa dia ? Apa… Minwoo?” Min Ah tak sengaja melihat Minwoo berjalan ke arah ruang teater. Dengan cepat, ia mengikuti Minwoo.

“YA Minwoo !!!”

Seketika itu juga Minwoo berhenti. Ia menoleh, dan mendapati Min Ah sudah berdiri di hadapannya sambil membawa buku tulis. “Mwo ?” tanya Minwoo agak cuek.

“Bukannya kau tidak masuk sekolah ?”

“Apa urusanmu ?”

“Aku hanya bertanya. A~ apa kau melakukan ucapanmu kemarin ?”

“Bukankah itu yang kau mau ? Aku sudah melepaskannya. Aku tak akan menjadikannya korban seperti saudaramu itu,”

Min Ah tercengang mendengar penuturan Minwoo. Ia menatap Minwoo tak percaya, “Jadi kau benar-benar mengakhiri semuanya ?”

“Kau gila Minwoo. Dia mencintaimu !!!” teriak Min Ah spontan.

“Aku tidak mencintainya,” Minwoo berlalu meninggalkan Min Ah yang meminta penjelasan pasti. Tapi, yang Min Ah terima hanyalah dobrakan keras dari pintu yang ditutup oleh Minwoo barusan.

“KAU SALAH MENGARTIKAN SEMUANYA MINWOO !” teriaknya lagi lebih keras. Namun tak ada sahutan apa-apa. Hanya suara musik hip hop yang terdengar dari dalam.

“Kau lihat apa yang akan aku lakukan padamu, No Minwoo,” dengan keyakinan yang pasti, Min Ah meninggalkan tempat itu. Tak peduli seperti apa yang akan dilakukannya nanti, yang jelas ia hanya ingin Minwoo kembali menjadi manusia normal. Normal tanpa Hae Na.

-ooo-

Yeong In berjalan sendiri menuju halte bis yang terlihat sepi. Malam hari dengan rinai hujan yang mengguyur kota membuatnya merasa ngeri untuk menunggu bis di halte. Jika ia memutuskan untuk berjalan, akan menghabiskan waktu yang lama karena jaraknya sangat jauh. Akhirnya apa boleh buat, ia tetap akan menunggu bis juga.

“Eo, Kwangmin,” kejutnya, saat melihat Kwangmin sudah duduk di halte seorang diri. Kwangmin hanya tersenyum menanggapi panggilan Yeong In.

“Kau memakai payung di kelas ?” tanya Kwangmin. Yeong In duduk di samping Kwangmin dan menutup payungnya. “Aku lupa membawa payung, jadi kupakai saja. Maaf,”

“Tak apa. Ah iya, tadi Ji Hoon sunbae mencarimu,”

“Ada apa ?”

“Tidak tahu. Sepertinya ia cemas denganmu,”

“Cemas ?”

Yeong In mengambil ponselnya yang ia masukkan ke dalam saku almamaternya. Ia memainkan banyak tombol dengan ekspresi penasaran. “Kau menghubunginya ?” tanya Kwangmin.

“Ya. Kwangmin, apa kau melihat Minwoo ?”

“Minwoo ? Ah, aku melihatnya tadi di sekolah. Ia terlihat tergesa-gesa, tapi aku tak sempat menemuinya karena aku harus ujian susulan tadi. Waeyo ?”

Yeong In sedikit berpikir, “Aniya. Tidak apa-apa,” ia tersenyum.

Kwangmin melihat pada Yeong In. Ia merasa sesuatu yang aneh terjadi pada Minwoo belakangan ini, “Minwoo seperti meninggalkan pelajaran belakangan ini. Apa dia banyak berubah sekarang ?”

“Berubah ?”

Nde. Dia seperti bukan Minwoo yang ku kenal,”

Pernyataan Kwangmin membuatnya kembali berpikir. Benarkah Kwangmin merasakan itu ? Kenapa ia tidak ? Apa karena ia sudah kembali memperhatikan Youngmin hingga melupakan perubahan Minwoo ?

Tiba-tiba Kwangmin kembali membuka suara. Dengan agak tegas hingga membuat Yeong In terkejut.

“Ah iya. Kemarin aku sempat melihat selembar undangan pertunangan di lokernya ketika ekskul usai. Tapi aku tidak tahu siapa,”

“Undangan ?” Kwangmin mengangguk.

Pertunangan ??? Apa karena… ia memutuskanku ???

 

TBC

Gomawo udah baca😀 Kritik dan saran ya ceman-ceman cemuuaaaa😛

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Don’t Care Again ….! – Chapter 04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: