[FANFICT/FREELANCE] My Beloved

Title 
: My Beloved
Author : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Friendship & Romance
Rating : T
Type : Oneshoot
Main Casts 
: ~ BoyFriend’s Member

  ~ Gye Nina

 

-ooOoo-

Seoul, 2011

 

Nina’s POV

 

Uwaaa, senangnya ! Ehm… Senangnya hari ini aku akan pergi bersama Kwangmin, Jo Kwangmin. Kalian tahu ‘kan ? Tentu saja. Siapa yang tidak tahu dengan rapper boy grup BoyFriend. Boy grup yang terkenal itu, hihihi. Ah, mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana bisa aku kenal dia. Aku akan menjawabnya seperti ini.

 

“Ini karena takdir,”

 

Hahaha, aku terlalu percaya diri. Memangnya Tuhan bersedia mempertemukanku dengan dia ? Tapi jika tidak mau, kenapa saat ini aku malah akan pergi dengan lelaki itu ? Eum, entahlah, hehehe.

 

“Ya ! Berapa pakaian lagi yang akan kau buang, hah ?”

 

“Ya ! Kenapa membuka pintu tidak mengetuk dulu. Tidak sopan,”

 

“Cepatlah ! Kau ini lama sekali,”

 

Nah, kalian lihat. Meski dia tidak pernah bersikap lembut padaku, tapi aku menyukainya. Aneh ya, hahaha. Aku menyukai saat-saat bertengkar dengannya. Inilah yang membuatku lebih semangat.

 

Nina’s POV end

 

-ooOoo-

 

Namsan Tower terlihat ramai didatangi pengunjung. Tak hanya yang muda maupun anak-anak, tapi orang dewasa dan para orangtua pun ada, semuanya lengkap. Kenapa demikian ? Karena malam ini akan ada pertunjukan kembang api dari berbagai negara di dunia. Korea Selatan menjadi negara kedua sebagai tempat bersinggahnya acara itu. Dan, tepatnya terletak di Seoul.

 

BoyFriend sedang libur dari jadwal manggungnya, namun besok mereka akan kembali lagi pada peradaban dunia musik. Untuk sekali ini saja, mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk menonton pertunjukkan ini. Kan jarang sekali.

 

Kwangmin saat ini berpisah dari rombongan teman-temannya. Mungkin karena dia bersama seorang gadis yang selama ini sudah menjadi sahabat baiknya. Sengaja mengajak gadis itu menghabiskan waktu dengannya, karena mungkin esok dan seterusnya ia akan lebih sibuk dengan BoyFriend.

 

“Ramai sekali…,” gumaman pelan Nina membuat Kwangmin melihat ke arah gadis itu.

 

“Mana mungkin tidak ramai. Inikan acara besar,” ucap Kwangmin lalu melihat ke arah sekitarnya. Mencari sosok lima lelaki yang entah berada dimana.

 

“Kwang..,” panggil Nina. Kwangmin tak langsung menjawab karena di sana berisik sekali.

 

Kwangmin mendekati Nina, lalu membisikkan sesuatu, “Kita duduk di sana saja,” Kwangmin menunjuk sebuah tempat yang ia rasa lumayan jauh dari kata berisik.

 

“Kenapa harus di sana ?” pertanyaan polos Nina membuat Kwangmin kesal. Ia lalu menjitak kepala Nina. Alhasil, Nina hanya mengelus kepalanya yang sakit.

 

“Di sini berisik,”

 

Kwangmin langsung saja menarik tangan Nina menuju tempat yang ia maksud. Banyak orang yang melihat ke arahnya dan Nina. Ini karena mereka mengenal Kwangmin. Member dari BoyFriend.

 

Mereka akhirnya sampai juga. Saat ini yang terlihat pepohonan dan gemerlap lampu. Mereka sedang tegak bersandar pada pembatas yang terbuat dari kayu kuat. Sambil menatap ke arah keramaian yang masih nampak oleh keduanya.

 

“Aish… Di sini gelap, cuma ada satu lampu,” gerutu Nina. Ia memperhatikan sebuah lampu taman yang berdiri dibelakangnya. Lampu itu dikerumuni serangga-serangga kecil.

 

“Sebentar lagi juga tidak gelap. Kembang apinya akan dimulai,” celoteh Kwangmin. Ia beralih melihat apa yang dilihat oleh Nina barusan. Yaitu, seorang lelaki dengan rambut pirang yang agak gelap sedang tersenyum pada gadis itu. Dia Minwoo.

 

Nina pun membalasnya. Ia tersenyum sangat manis. Setelah itu ia juga membalas lambaian tangan Minwoo. Dari air mukanya, kelihatan sekali ia sangat senang. Kwangmin menghela nafas sebal.

 

“Minwoo itu sangat manis ya…,” Kwangmin terhenyak. Pujian Nina pada Minwoo membuat ia merasakan suatu perasaan yang ia bilang ‘sakit’, ya sakit. Ia menatap aura wajah Nina yang terlihat senang. Bahkan sekarang gadis itu tersenyum malu.

 

“Ya ! Kwangmin !” teriak Minwoo dari jauh diikuti member lain yang melambaikan tangan mereka. Kwangmin tersenyum. Lalu ia membalas lambaian itu.

 

Nina ikut tersenyum, lagi.

 

“Dia memang manis. Dia juga imut dan pintar,” Nina menatap Kwangmin yang sedang menatap langit malam yang kelam. “Kau menyukainya ?” Kwangmin mengalihkan tatapannya. Ia mengarah pada Nina yang sedang memperhatikannya. Ia pun melanjutkan, “Memang, wajar saja jika banyak yang suka dengannya,”

 

“Dia juga sangat baik dan ramah,” tambah Nina.

 

Kwangmin senyum. Namun, kemudian ia kembali menatap ke atas. Membuat Nina mengalihkan penglihatannya pada lima orang lelaki yang berada tak jauh dari tempatnya dan Kwangmin.

 

“Saat pertama melihatnya di sekolah, aku ingiiiin sekali menjadi teman baiknya. Dan akhirnya itu terwujud, hehe. Kini, aku menyukainya sebagai teman saja. Pertama memang ingin sekali menjadikan ia sebagai…,” kalimat Nina menggantung. Sebuah pemandangan memberhentikan ucapannya.

 

Kwangmin menoleh. Seketika ia dibuat terkejut karena melihat Nina sudah meneteskan air matanya. Kwangmin mencari sebab alasan apa membuat Nina menangis. Melalui arah mata Nina, ia menelusurinya.

 

Kwangmin terkejut setelah apa yang ia lihat kini. ‘Inikah alasan Nina menangis ?’ batinnya.

 

‘Jadi, Nina benar-benar…,’

 

Kwangmin kembali menatap Nina. Sekarang, tangis gadis itu makin menjadi-jadi. Nina menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia malu. Malu pada Kwangmin tentang perasaannya.

 

Kwangmin memegang kedua bahu Nina. Karena perlakuan itu, Nina menurunkan kedua tangannya. Ia tertunduk dengan mata memerah dipenuhi air matanya.

 

“Kau menyukainya ? Atau mencintainya ?” Kwangmin bertanya. Dalam hatinya, ia menginginkan jawaban yang benar-benar serius dari Nina. Wajahnya menampakkan bahwa ia sedih. Cara bicaranya yang terdengar sendu. Mungkin saat inilah ia harus berhenti atau bahkan merelakan. Ya, berhenti berharap pada Gye Nina.

 

Nina diam. Ia masih terus menangis. Kwangmin melepaskan genggamannya. Ia kembali mengarah pada Minwoo. Lelaki itu sekaligus temannya itu telah membuat hati Nina terluka. Ia perhatikan dengan seksama. Minwoo sedang berpegangan tangan dengan seorang gadis. Mereka sedang berjalan-jalan di antara pengunjung di sekitar Namsan Tower.

 

(Nina’s voice – Sekali lagi. Ini yang terakhir. Aku melihat ini…)

 

“Kau mencintai Minwoo, Nina ?” Kwangmin bertanya lagi. Ia pastikan ini adalah yang terakhir dan ia harap Nina menjawabnya.

 

Nina mengusap air matanya. Dilihatnya wajah Kwangmin. Wajah itu sedang menahan amarah. Kelihatan sekali. Mungkin Kwangmin marah ? Ah bukan, mungkin saja lelaki itu cemburu.

 

Tak lama setelah itu, Nina pun mengangguk.

 

“Jadi, kau benar-benar menyukainya ?” Kwangmin bingung. Nina hanya mengangguk. Itu membuatnya sedikit bingung dan penasaran.

 

“Hahahahaha,” tiba-tiba Nina tertawa sambil memegangi perutnya.

 

Kening Kwangmin mengernyit. ‘Apa ini ?’ gumamnya. Ia masih memperhatikan Nina. Gadis itu tertawa senang sekali. Entah apa yang membuat ia tertawa. Kwangmin makin bertambah bingung dengan apa yang ia alami sekarang.

 

“Kau mulai gila karena Minwoo ?” Kwangmin semakin merasa aneh. Sedangkan gadis itu kini sedang mencoba meredakan tawanya.

 

“Hah ! Lelah,” ucap Nina pelan. Ia langsung mengambil posisi duduk di tanah sambil memegangi pembatas kayu di depannya.

 

Kwangmin terheran-heran. Ia bahkan masih berdiri sambil menatap Nina. Ia seperti orang bodoh sekarang.

 

“Kwang, apa aku berhasil ?” tanya Nina sambil menunjuk ke arah Minwoo. Kwangmin melihat.

 

“Berhasil ?” Kwangmin kikuk. Rasa bingungnya semakin menumpuk dipikirannya. Jawaban yang ditunggu tak kunjung keluar. Malahan, Nina diam. Seperti tak mendengar.

 

Kwangmin frustasi, “Ya ! Sebenarnya kau ini berbicara tentang apa ?” teriaknya sebal.

 

Nina tersenyum. Kemudian mendongak melihat Kwangmin. “Kau menyukaiku, ya ?”

 

Kwangmin terkesiap. Kedua bola matanya membola. Karena gugup, ia langsung menoleh ke arah lain. ‘Dia tahu ? Ah, Kwangmin. Kenapa kau seperti ini ?’

 

“Hei, jawab aku !” teriak Nina. Ia segera berdiri dan menyamakan sikapnya seperti Kwangmin. Mereka sama-sama membuang muka.

 

“Aku mencintaimu, Nina !” teriak seseorang.

 

Nina dan Kwangmin terkejut. Seketika, mereka langsung beradu pandang.

 

Nina dan Kwangmin langsung mencari sosok yang telah berteriak barusan. Mereka sama-sama mencari dimana sosok itu berada. Keduanya memutar arah kepala mereka ke penjuru area. Namun, sayang, mereka tak menemukannya.

 

DIARRRRRRRRRRR ! DUARRRRRRRRRRR ! DIRR DUARRR ! SYUUUUT DIAAAR !

 

Nina dan Kwangmin mendongak ke atas langit. Di udara telah berserakan puluhan bahkan ratusan kembang api dengan berbagai bentuk dan warna. Mereka melihat kagum ke arah kembang api itu hingga lupa mencari suara teriakan tadi.

 

“Waw, indahnya…,” gumam Nina. Kwangmin tersenyum. Matanya terpejam untuk beberapa saat, lalu ia menatap Nina.

 

Tiba-tiba terdengar suara lagi dari arah belakang Nina dan Kwangmin. Membuat mereka menunda aktivitas mereka.

 

“YA ! GYE NINA !” teriak Minwoo. Nina menoleh diikuti Kwangmin.

 

“Kenapa tidak menjawab teriakan tadi ?” tanya Donghyun. Sang leader BoyFriend itu berjalan mendekati Nina dan Kwangmin, disusul member lain.

 

“Kau tidak mencintai Kwangmin, ya ?” Jeongmin menambahkan. Pertanyaan itu membuat Nina kaget. Ia melihat Kwangmin.

 

“Ya ! Apa yang hyeong katakan ?” Kwangmin pura-pura mengelak. Ia terlihat kikuk saat mengelaknya.

 

“Lalu, siapa yang berteriak tadi ?” tanya Nina. Ia melihat Minwoo.

 

Hyunseong terkekeh, “Minwoo !” jawabnya. Refleks jawaban itu membuat Nina lebih terkejut. Ditambah Minwoo yang menanggapinya dengan tersenyum.

 

Nina memang pernah menyukai Minwoo, bahkan mencintai lelaki itu. Tapi, saat ia tahu bagaimana tipe gadis yang diinginkan Minwoo, ia menutup hati untuk lelaki itu. Ia merasa tidak masuk dalam kriteria Minwoo. Namun, ia tetap menomorsatukan Minwoo sebagai idolanya. Walaupun begitu, ia masih tak mengerti dengan semuanya. Tadi ia melihat Minwoo bersama gadis lain. Dan baru saja ia mendengar pertanyaan Jeongmin tentang Kwangmin.

 

‘Mana yang benar ?’ umpatnya dalam hati.

 

“Kenapa kau diam, Nina-a ?” kali ini Youngmin yang bertanya. Youngmin mulai mendekati saudara kembarnya yang tengah tertunduk , tak tahu harus melakukan apa.

 

“Sebenarnya tadi itu…,” ucapan Nina terhenti saat melihat dan mendengar Jeongmin, Minwoo, Hyunseong dan Donghyun tertawa. Tak lupa pula, Youngmin yang merangkul Kwangmin. Ia bahkan tertawa lebih keras sambil mengacak rambut adiknya itu.

 

Nina dan Kwangmin bingung.

 

“Begini… Kami sengaja melakukannya karena tidak mau melihat Kwangmin yang terus murung tadi siang. Kau dan Minwoo sedang asyik mengobrol, sedangkan Kwangmin melihat kalian dengan tatapan sinisnya, hahaha,” ujar Donghyun menjelaskan. Nina bisu. Ia malah melihat Kwangmin yang juga melihatnya.

 

Donghyun merangkul Minwoo langsung. Sedangkan yang dirangkulnya, tersenyum dengan kedua tangan yang terangkat membentuk huruf ‘V’. Minwoo dan Donghyun menatap Kwangmin dengan tatapan menang. Membuat Kwangmin tersipu malu.

 

Nina menatap Donghyun, “Jadi maksud Oppa, Kwangmin cem…buru ?” tanya Nina ragu. Kwangmin berniat mencoba meluruskan, namun Youngmin segera membekap mulutnya.

 

Jeongmin, Hyunseong, Minwoo dan Youngmin mengangguk. “Kau cepat sekali menangkap ucapanku, yeodongsaeng,” jawab Donghyun, disusul gelak tawanya.

 

“Kwangmin mencintaimu, Nina,” sergah Minwoo. “Terimalah dia. Kau juga mencintainya, ‘kan ? Atau kau masih menyukaiku ? hehehe,”

 

PLETAK ! PLETAK ! PLETAK ! PLETAK ! PLETAK !

 

“Aww…Ya ! Hyeong !” teriak Minwoo karena mendapat jitakan keras dari para hyeong-nya kecuali Kwangmin. Ia pun hanya mengelus kepalanya yang terasa sakit.

 

“Kau mau mati, Minwoo,” ledek Hyunseong.

 

“Hahahaha,” tawa semuanya, kecuali Nina.

 

“Tapi… Aku tidak mencintai Kwangmin,” lontaran kalimat Nina membuat semuanya terdiam, termasuk Kwangmin. Mereka semua menatap Nina dengan tatapan tak percaya. Kwangmin mendadak lesu. Ia kembali tertunduk meratapi keadaan barusan. Hatinya sakit. Sakit sekali. Hati itu terasa perih dan terluka. Bukan itu yang ia inginkan.

 

‘Nina benar-benar mencintai Minwoo. Masih’ hati Kwangmin berkata.

 

“Maafkan aku. Aku bukan bermaksud untuk membuat Kwangmin terluka, tapi memang itulah yang aku rasakan saat ini. Aku menyukai Kwangmin sebagai sahabatku. Sahabat yang sangat aku sayang, sampai kapanpun,”

 

“Kau serius Nina ?” tanya Youngmin. Ia melepas rangkulannya dari pundak Kwangmin. Ia berjalan mendekati Nina. Semua mata menatap Youngmin.

 

“Aku serius, Oppa,” jawab Nina dengan tegas. Saat ini, semua mata tertuju pada Kwangmin. Yang ditatap hanya tersenyum pilu. Senyum yang dipaksakan.

 

“Aku menghargai perasaanmu, Nina. Sebaiknya memang tidak seperti ini,” air mata Kwangmin keluar tanpa disuruh. Ia tidak menyekanya. Ia menikmati air mata itu.

 

Youngmin menjauhi Nina dan kembali pada Kwangmin. Ia memeluk Kwangmin. “Kalian memang ditakdirkan menjadi sahabat paling bahagia. Bersabarlah, Kwang,” Youngmin mengelus punggung Kwangmin berulang kali. Kwangmin memang merasa sakit, tapi semuanya akan lebih sakit jika persahabatannya harus berakhir karena masalah ini.

 

“Kau akan menemukan yang lebih baik Kwang,” tutur Donghyun bersikap dewasa. Para member mendekati Kwangmin. Semua member menatap iba padanya. Bukanlah ini yang mereka inginkan. Melainkan, membuat Nina dan sang rapper hyperaktif itu bersatu. Namun, rencana ini malah membuat Kwangmin menjadi sedih.

 

Minwoo memandang Nina. Gadis itu sedang menundukkan wajahnya. Lelaki itupun menghampiri Nina.

 

Minwoo memegang bahu Nina, “Jika kau jujur, akan lebih baik daripada harus berbohong. Kwangmin akan baik-baik saja,” Nina mendongak. Dilihatnya sosok yang sedang tersenyum di hadapannya. Ia pun mengangguk.

 

“Eum, tapi… Kau sudah tidak mencintaiku, ‘kan ?” tanya Minwoo jahil. Nina langsung meninju perut Minwoo.

 

“Aishh,” Minwoo memegangi perutnya sambil melihat Nina. Semua member yang mendengar rintihan Minwoo, langsung beralih menatap dua orang itu.

 

“Aku akan terus mencintaimu sebagai seorang fans setia BoyFriend. Kau adalah idolaku, No Minwoo, hehe,” Nina tertawa kecil. Disusul semuanya, termasuk Minwoo.

 

-ooOoo-

 

Seoul, 2014

 

Nina’s POV

 

Haah, sudah berapa tahun ya aku tidak bertemu dengan BoyFriend ? Jika dihitung, sepertinya sudah dua tahun. Apa kabar mereka semua ? Apa mereka masih ingat denganku ? Seorang fans setia mereka sekaligus teman satu sekolah 3Min dan sahabat Kwangmin. Rasanya aku istimewa sekali daripada yang lainnya. Dua tahun lalu bisa menghabiskan waktu bersama mereka, walaupun harus membuat luka di hati Kwangmin. Apa dia sudah sembuh dari lukanya ? AH! Jika dilihat dari wajahnya, aku rasa dia sudah sembuh. Memang aku hanya bisa melihatnya melalui layar televisi, tapi tidak mengurangi kepandaianku dalam membaca aura wajah seseorang, ya ? Hahaha.

 

Sekarang, aku merindukan mereka. Aku ingin berkumpul dengan mereka lagi. Menurut kalian, apa mereka melupakanku ? Ah ! Kenapa bertanya seperti itu ? Mana mungkin mereka lupa. Semoga saja, hihi.

 

Nina’s POV end

 

-ooOoo-

 

Nina baru saja tiba di Seoul. Saat ini ia baru keluar dari bandara. Ia sedang menarik kopernya yang lumayan berat itu. Penampilannya berbeda. Jika dua tahun lalu, rambutnya hanya sebahu, kini rambutnya itu sudah panjang. Bisa dikira-kira sepinggang. Gaya pakaiannya juga berbeda. Sekarang ia lebih suka memakai celana jeans panjang dipadukan dengan kaos plus blazzer, ketimbang dulu yang suka sekali memakai rok dan sweater.

 

Ia menaiki taksi yang baru saja diberhentikannya. Ia meminta untuk diantarkan ke Namsan Tower. Entah ada angin apa, ia tidak langsung pulang dan malah menuju tempat penuh kenangan itu.

 

:::

 

DUK ! Nina menutup pintu mobil yang bernama taksi itu. Kemudian meninggalkannya dan berjalan menuju tempat dimana ia hadir berdua dengan Kwangmin pada tahun 2011 lalu.

 

“Tempat ini, tidak berubah,” ucapnya lirih. Ia menyapu pemandangan di sekitar. Memang tidak terlalu ramai, tapi cukup nyaman.

 

“Andai saja, waktu itu aku menerimanya. Pasti saat ini aku sudah bersamanya di sini, huuuh,” ucapnya disusul hela nafas kesalnya.

 

Nina berjalan mendekati pembatas kayu. Kemudian, ia melepaskan genggaman tangannya dari koper miliknya. Ia beralih memegang pembatas itu dan menatap ke atas langit biru.

 

“Sebentar lagi musim salju. Pasti akan ada banyak peristiwa yang menyenangkan. Bagaimana dengan mereka ? Apa mereka akan menghabiskan musim dingin dari panggung ke panggung untuk bernyanyi ?” tanyanya pada hamparan langit. Ia sempat tersenyum sebelum rinai hujan akhirnya mengguyur Seoul tiba-tiba.

 

Nina segera menarik kopernya dan berlari sekencang-kencangnya menuju tempat yang dirasa dapat meneduhkannya.

 

“Ah~ Kenapa harus hujan di saat seperti ini ? Lagipula matahari masih sangat terik,” umpatnya sendiri sambil terus merapikan baju dan rambutnya.

 

Nina melihat ke arah lain memastikan bahwa ia tidak sendirian. Kepalanya memutar ke kanan ke kiri. Siang hari seperti ini, tempat ini lumayan sepi. Tidak seperti suasana malam hari. Seperti menangkap sesuatu, Nina menemukan beberapa orang yang berada tidak jauh darinya. Nina pun tersenyum. ‘Paling tidak, jika ada yang jahat padaku. Aku bisa teriak pada mereka’ batinnya.

 

Ternyata benar, ia tidak sendiri. Ada tiga orang asing di sana. Mereka sedang tertidur di kursi kayu yang lumayan besar. Nina tidak bisa melihat wajah mereka, karena mereka menutupi wajah mereka dengan tas mereka.

 

Nina hanya menaikkan bahunya tanda tak mau tahu. Ia kembali menatap tempat kenangan itu.

 

“Ya ! Nona. Berikan uangmu,”

 

Nina terkejut. Seseorang dari ketiga orang yang dilihatnya mengejutkannya. Tiba-tiba bulu kuduk Nina bergidik. Hatinya berdesir takut. Ia tak berani menoleh. Ia berpura-pura untuk tidak mendengar.

 

“YA ! Berikan tasmu !” teriak yang satunya lagi. Nina semakin ngeri. Matanya terpejam untuk sesaat. ‘Tuhan, tolong !!!’ teriaknya dalam hati.

 

“Kau tidak dengar ?”

 

Tapi, tunggu ! Suaranya… Ia kenal. Ia mengenal suara itu.

 

Nina secepat mungkin menoleh. Matanya membola seketika, saat melihat apa yang dilihatnya. Ia tak percaya.

 

“Bagaimana akting kami ?” tanya salah satu dari ketiganya. Ketiga orang itu langsung berdiri dan memakai tasnya masing-masing.

 

Bibir Nina mengukir senyum senang.

 

“Kau tidak merindukan kami ?”

 

“Kenapa kau diam, Nina ?”

 

“Aku tahu, mungkin karena kita sangat tampan, hahaha,”

 

Nina langsung berlari mendekati ketiga orang itu. Tak terasa air matanya menyeruak keluar. Itu adalah air mata bahagia Nina. Akhirnya, ia bisa bertemu dan melihat Minwoo, Kwangmin dan Youngmin lagi, walaupun tidak bertemu dengan Jeongmin, Hyunseong dan Donghyun.

 

“YA ! AKU MERINDUKAN KALIAAANN !!” teriak Nina senang. Sedangkan ketiga lelaki yang dipanggil 3Min itu langsung menutup kedua telinga mereka karena tidak tahan dengan teriakan Nina.

 

“Ikutlah dengan kami. Kuliahlah di sini bersama kami,” ucap Youngmin. Ia tersenyum senang sambil merapikan blazzer birunya.

 

“Baiklah !” Nina mengusap air matanya dan langsung mendorong Minwoo, Kwangmin dan Youngmin pergi dari tempat itu. Mereka berjalan keluar area Namsan Tower dengan berhujan-hujanan. Tak peduli akan sakit, yang penting mereka senang bersama.

 

Nina’s voice

 

::: Ini bukanlah akhir cerita mereka, tapi ini adalah awal yang baru. Hari yang baru lagi. Tak peduli berapa kali tidak bertemu, tapi yang terpenting adalah ‘biarpun berapa kali rindu terbendung dan jarak memisahkan, namun persahabatan itu tak pernah berujung walau dengan jarak yang jauh tak terjangkau’

 

Inilah aku, Gye Nina. Bersama BoyFriend… Aku akan bahagia dengan mereka dan teman-teman BestFriend-ku. Mengukir masa muda bersama dan menyambut setiap pergantian musim bersama mereka. Jika tidak, tentu saja aku akan memukul mereka satu per satu. Hai, para BestFriend ikutlah denganku, hehehe. Saranghaeyo, BoyFriend.

Ehm… Untuk idolaku tercinta, Minwoo… Teruslah berkarya dan berbahagialah. Aku selalu mendukungmu dan mencintaimu. Biarpun kau yang paling muda, tapi bagiku kau sangat menyenangkan. Aku suka. Ya ! Kwangmin dan Youngmin, si kembar yang aku sayangi, teruslah bersama hingga ajal datang pada kalian, joah. Joahaeyo. Dan… Untuk para Oppa, dewasalah dan jaga adik kalian dengan keras. Jangan lupa untuk terus mengingatkan diri kalian makan, ah iya katakan pula pada adik-adik tampan kalian itu.

 

Fighting BOYFRIEND. Aku Gye Nina, seorang BestFriend selamanya…🙂 :::

 

“Kwang, kau masih mencintaiku ?” (Nina)

 

“Ya ! Dia sudah memiliki kekasih, namanya Jung Hyera,” (Youngmin)

 

“Benarkah ? Ya sudah, aku dengan Minwoo saja, hehe,” (Nina)

 

“MWO ???” (Kwangmin & Minwoo)

 

“Hahahahahaha,”

 

-ooOoo- FIN -ooOoo-

 

Oke, nii alur kecepetan dan gaje abisss… Ini bukan ending yang kompleks, karena sebenarnya cerita awalnya bukan seperti iini. Fanfiction ini sebenarnya pake chapter dan berkolaborasi sama Teen Top, tapi ada angin apa malah kayak gini. Judul aslinya adalah I’m Fangirl : Minwoo, Joahaeyo…! Tapi, masih disayangkan buat dipublish Ffnya. Mianhaeyo🙂

 

Gomaawo yang udah RCL😀

This entry was posted by boyfriendindo.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] My Beloved

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: