[FANFICT/FREELANCE] Escape From My Brothers – Chapter 02

Title 
Escape From My Brothers – Chapter 02
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : T
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Jo Hyunmin

  ~ Kumiko

Support Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

~ Ryuu, Taro, Yoshi ( teman-teman Kumiko )

 

 

CHAPTER 2

 

Seseorang yang ditelepon oleh perempuan di sebelah Hyunmin sepertinya tidak menjawab. Karena sejak meminjam ponselnya, yang dilakukan perempuan itu hanya menggerutu. Entahlah, sebenarnya dia tidak terlalu peduli. Mata dan pikirannya sibuk menilai perempuan itu.

Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran orang Jepang. Rambut coklatnya digulung ke atas dan keningnya tertutup poni. Dari semuanya, Hyunmin paling tertarik pada gaya berpakaiannya.

Semua yang menempel di tubuh perempuan itu berwarna hitam. Jaket kulit yang dipadukan dengan rok sepanjang lutut. Sepatunya pun berwarna hitam. Dia tampak seperti seorang rocker.

“Sial, ke mana mereka semua? Tega sekali meninggalkanku sendirian! Mati kalian kalau bertemu denganku!”

Perempuan itu memukulkan ponsel Hyunmin ke pintu taksi. Ya, ponsel baru hadiah kelulusannya. Ponsel yang baru dia pakai selama satu hari, sekarang mati. Layarnya pun sedikit retak. Ketika mendengar Hyunmin berteriak, perempuan di sampingnya baru sadar apa yang telah dia lakukan. Dia terkejut dan hanya bisa diam selama beberapa detik.

“Maaf,” kata perempuan itu sambil mengembalikan ponsel Hyunmin. Ekspresi sedih dan bersalah terukir di wajahnya.

“Ah, ya. Hanya saja ini ponsel hadiah kelulusanku.”

“Akan kuperbaiki! Tidak, akan kuganti dengan yang baru!”

Hyunmin memandangnya tidak yakin. Sopir taksi menyela, menanyakan ke mana dia harus membawa dua anak yang ribut di dalam taksinya. Perempuan itu mendahului Hyunmin. Alhasil, dia terpaksa mengikuti ke mana perempuan itu membawanya. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu ke mana harus pergi. Karena alamat rumah yang seharusnya dia tuju, tersimpan di dalam ponsel.

Dia menyandarkan punggungnya dengan lemas. Benar-benar pasrah pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Skenario pembuka pelariannya di Jepang terlalu mengejutkan.

“Kau bukan orang Jepang?”

“Ya, aku dari Korea.” Hyunmin mengulurkan tangan. “Jo Hyunmin.”

“Kumiko. Biasanya aku dipanggil K (kei). Tapi kau boleh memanggilku apa saja.” Kumiko menjabat tangan Hyunmin. “Dan tujuanmu ke Jepang?”

Tiba-tiba Hyunmin tidak ingin mengatakan bahwa dia datang untuk mengikuti homestay.

“Hmmm… mencari seseorang.”

“Di mana? Mungkin aku bisa membantumu mencarinya.”

“Aku tidak ingat. Alamatnya ada di dalam ponsel dan aku tidak punya catatan lainnya.”

“Astaga, kau pasti membenciku.”

Tidak juga.

“Bagaimana ini? Kita harus segera memperbaiki ponselmu. Oh, aku mengacaukan hidupmu.”

“Aku tidak menyalahkanmu Kumi. Mungkin aku sedang mendapat hukuman.” Hyunmin mengatakan kalimat terakhirnya lebih pelan.

“Apa?”

“Bukan apa-apa,” sanggah Hyunmin cepat.

“Baiklah, mengingat ini semua salahku, untuk sementara kau bisa tinggal bersama teman-temanku. Tentu saja kalau kau tidak keberatan. Sampai aku memperbaiki ponselmu.”

Semoga saja butuh waktu cukup lama untuk memperbaikinya, pikir Hyunmin.

“Kalau tidak merepotkanmu, aku tidak keberatan.”

Taksi melaju menuju daerah Shibuya. Mereka berhenti di depan sebuah pub kecil yang belum buka. Kumi keluar lebih dulu. Ketika Hyunmin akan menyusulnya, Kumiko justru masuk lagi ke dalam taksi.

“Cepat jalan!” pinta Kumiko pada sopir taksi.

“Ada masalah?”

“Aku tidak bisa menceritakannya sekarang!”

Kumiko menoleh ke belakang dan ke depan bergantian. Dia terlihat gelisah.

Hyunmin ikut menoleh ke belakang, tetapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya diperhatikan Kumiko. Kumiko menyebutkan alamat selanjutnya yang akan dia tuju pada sopir taksi. Hyunmin tidak bisa membantah karena dia tidak tahu apa-apa.

“Untung saja mereka tidak mengikutiku.” Kumiko menyandarkan punggungnya dengan lemas.

Taksi kali ini berhenti di depan sebuah rumah. Entah rumah Kumiko atau bukan, karena dia belum mengatakan apa-apa.

Kumiko mengetuk pintu keras-keras layaknya seorang penagih hutang. Seorang lelaki berambut keriting dengan muka ngantuk muncul dari balik pintu.

“Lama sekali! Apa yang kalian lakukan?” bentak Kumiko.

Si lelaki berambut keriting mengerjap-ngerjapkan mata, lalu senyumnya mengembang.

“Teman-teman, K pulang!” lelaki itu memeluk Kumiko, yang langsung didorong olehnya.

Dua lelaki lain muncul, kemudian menyapa Kumiko bergantian. Tapi sesi saling menyapa itu hanya berlangsung sebentar. Kumiko mengakhiri sikap ramah tamahnya dengan memukul ketiga lelaki di depannya bergantian. Hyunmin terkejut, tidak menyangka Kumiko bisa berbuat kasar. Meskipun dia juga tidak terlihat feminin.

“Kalian tidur di saat aku dikejar-kejar? Baik hati sekali!” Kumiko menendang kaki lelaki berkaca mata.

“Orang-orang itu menemuimu?” tanya lelaki gendut.

“Aku tidak mau membahasnya!”

“Maaf K,” kata lelaki berkacamata.

“Ngomong-ngomong, kau membawa siapa?”

Kumiko hampir melupakan keberadaan Hyunmin.

“Kita bicara di dalam.”

Kumiko pun memperkenalkan Hyunmin pada ketiga temannya. Tak lupa juga dia menceritakan mengapa Hyunmin ada bersamanya. Sekarang Hyunmin tahu nama ketiga teman Kumiko itu. Lelaki berambut keriting bernama Taro, lelaki berbadan gemuk bernama Yoshi, dan lelaki berkacamata bernama Ryuu.

“Karena itu aku selalu mengatakan agar kau merubah kebiasaanmu K.”

“Taro benar. Kau lupa sudah berapa barang di rumah ini yang kau hancurkan?” Yoshi menambahi.

“Aku tidak mau bicara pada kalian.” Kumiko beralih lagi pada Hyunmin yang sejak tadi diam mendengarkan ocehannya bersama ketiga temannya itu.

“Kau tidak keberatan tinggal di sini sementara kan, Hyunmin?”

“Yaaaa… tentu saja. Bagaimana dengan mereka bertiga?”

“Mereka bertiga setuju. Tidak perlu memikirkan mereka.”

“Ya, ya, terserah kau saja K,” ucap Ryuu.

“Oke, kalau begitu, ayo kita bersih-bersih!”

“Apa?” kata Taro, Ryuu, dan Yoshi bersamaan.

Kumiko menunjukkan kamar yang akan ditempati Hyunmin. Kamar yang selama ini digunakan Ryuu sendirian. Kemudian Kumiko meminta semuanya bersiap-siap. Dengan separuh hati Taro, Ryuu, dan Yoshi mengikuti perintahnya. Sementara Hyunmin yang tidak memiliki pilihan lain, menurut saja tanpa protes.

Setelah mereka semua kompak menggunakan celana pendek dan kaus, Kumiko mulai membagi tugas. Karena Hyunmin tamu, Kumiko memberinya tugas untuk membantunya. Atau lebih tepatnya agar Kumiko lebih mudah menyelesaikan tugasnya sendiri.

Ya, Kumiko memang tinggal bersama Taro, Ryuu, dan Yoshi sejak tiga tahun yang lalu. Mereka menyewa rumah itu dari sebuah keluarga yang sangat baik. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan uang sewa, karena keluarga itu memberi uang sewa yang cukup murah.

Jika harus menjelaskan apa hubungan Kumiko dengan Ryuu, Taro, dan Yoshi, dia hanya bisa menjawab mereka bertiga adalah saudaranya. Saudara yang tidak pernah dia miliki.

Karena mengerjakan tugasnyanya bersama Hyunmin, dalam sekejap pekerjaannya hampir selesai. Dia dan Hyunmin sekarang sedang menjemur selimut-selimut yang baru saja dicuci.

“Kumi, boleh aku bertanya?”

“Apa? Di mana orangtuaku? Mengapa aku tinggal bersama mereka bertiga?”

“Wow, kau pasti sering mendapatkan pertanyaan itu.”

“Ya, begitulah. Begini cerita singkatnya, terjadi sesuatu, mereka menolongku dan kami berteman sejak hari itu. Mereka keluargaku. Kami sama-sama menyukai musik, karena itu kami membuat sebuah band.”

“Oke, walaupun jawaban itu kurang memuaskan, aku bisa menerimanya.”

Mereka berdua memeras selimut terakhir, lalu menjemurnya.

“Selesai. Selanjutnya, kita ke supermarket, dan membeli makan malam. Ada masakan Jepang yang mau kau makan Hyunmin?”

“Aku tidak banyak tahu makanan Jepang.”

“Kalau begitu, banyak yang harus kau coba. Ayo segera berangkat!”

Sementara Hyunmin sibuk merasa senang gara-gara pertemuannya dengan Kumiko, jauh di Korea, ada dua orang yang sibuk mencurigai kepergiannya.

***

 

Youngmin tidak bisa menghubungi ponsel Hyunmin. Hal itu sudah cukup menimbulkan kecurigaan. Dia baru saja tahu bahwa Hyunmin berada di Jeju. Dia berusaha menghubunginya untuk menanyakan di mana adiknya itu tinggal. Karena besok Boyfriend memiliki jadwal show di Jeju.

“Aneh sekali, kenapa ponsel Hyunmin mati?”

“Mungkin baterainya habis, Hyung. Coba saja hubungi nanti.”

“Tapi ini aneh. Apa menurutmu anak itu benar-benar berada di Jeju?”

“Apa maksudmu? Dia tidak mungkin berani berbohong.”

“Dia yang kau maksud adalah adik kita yang baru saja lulus.” Youngmin menegaskan. Membuat Kwangmin mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kau tidak bisa menghubungi Dongjoon juga?”

“Ah, benar, aku lupa.”

Telepon tersambung. Terdengar suara perempuan menyapa Youngmin.

“Dongyoon? Kenapa kau yang mengangkat telepon?”

“Youngmin Oppa! Lama sekali aku tidak mendengar suaramu.. ah, tapi aku mendengarkan lagu Boyfriend semalam. Aku sangat merindukanmu Oppa! Apa Kwangmin Oppa bersamamu? Katakan padanya aku merindukannya lebih banyak!”

“Baiklah, baiklah. Di mana Dongjoon?”

“Kenapa kau mencarinya? Tidak penting. Dia sedang keluar dan ponselnya tertinggal di rumah.”

“Keluar bersama Hyunmin?”

“Hyunmin Oppa?”

“Ya, bukankah dia berlibur bersama kalian di Jeju?”

“Aaaah, ya, tentu saja dia pergi bersama Hyunmin Oppa. Mereka tidak bisa diam di dalam rumah.”

Suara Dongyoon terdengar ragu-ragu, tetapi Youngmin tidak bertanya lebih banyak.

“Katakan pada Hyunmin untuk meneleponku nanti. Terima kasih.”

Kwangmin menyerahkan segelas orange juice yang tadi dibelinya dari minimarket, lalu duduk di sebelah Youngmin.

“Kita perlu menyelidikinya. Kuharap hari cepat berlalu agar kita bisa segera sampai di Jeju.”

Kwangmin menatap Youngmin tidak mengerti. Bukannya menjelaskan, Youngmin hanya mengacungkan jempol sambil berkata ‘tenang saja’. Kwangmin tahu sekali sifat Hyung-nya, sekali Youngmin merasa penasaran, dia akan mencari tahu sampai segalanya jelas.

***

 

Malam pertamanya di Jepang hampir terasa sempurna. Hyunmin sedikit pun tidak menyesal karena gagal mengikuti program homestay yang dibayangkannya, meski dia sudah membayar. Bertemu Kumiko jauh lebih baik dari hal itu. Akan menjadi sempurnya seandainya Ryuu tidak tiba-tiba mengajukan diri untuk ikut membeli makan malam.

“Kembalikan K, kau tidak akan menghabiskannya!” Ryuu mengembalikan snack yang diambil Kumiko ke tempatnya.

“Tapi aku membelinya untuk Hyunmin.”

“Taruhan, dia tidak menyukai snack itu. Iya kan?”

“Kalau kau tidak lupa, aku bukan orang Jepang. Aku tidak tahu snack yang sedang kalian ributkan.”

“Karena itulah aku tidak mau mengajakmu Ryuu. Ayo pulang.” Kumiko menyerah, lalu berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya.

Rasanya tidak salah Hyunmin berpikir tingkah Ryuu menyebalkan. Lebih tepatnya Ryuu suka sekali mengatur. Mirip dua orang yang dia kenal—yang saat ini tidak ingin dia ingat. Momen romantis Hyunmin bersama Kumiko pun hilang gara-gara tingkahnya itu.

Taro dan Yoshi sudah duduk tenang di tempat yang mereka buat untuk makan malam. Mereka tidak menikmati makan malam di dalam rumah. Kumiko lebih suka makan di luar. Katanya, makan malamnya akan terasa lebih nikmat.

“Ayo kita bersulang untuk Hyunmin. Semoga hari-harinya di Jepang menyenangkan!” Kumiko mengangkat gelas berisi orange juice miliknya tinggi-tinggi. Yang lainnya menyusul.

Makan malam pertama Hyunmin berlangsung menyenangkan. Sesekali dia mengawasi Kumiko yang terlihat cantik dengan rambut yang dibiarkan tergerai. Kesan rocker yang pernah Hyunmin lihat menghilang, digantikan oleh kesan seorang gadis manis yang lebih suka tinggal di dalam rumah.

“Jadi, besok kita bisa mulai bekerja lagi?” tanya Taro.

“Bbanyak ang mmeuncaiu K,” tambah Yoshi dengan mulut penuh makanan.

“Tentu saja kita harus bekerja besok! Aku perlu mengganti ponsel Hyunmin.” Kumiko menoleh ke arah Hyunmin dengan wajah bersalah.

“Apa aku boleh ikut ke tempat kalian bekerja?”

“Itu bukan tempat untuk anak-anak sepertimu,” jawab Ryuu.

“Apa maksudnya anak-anak sepertiku?”

Ada lagi orang yang memperlakukannya seperti anak kecil. Dianggap anak kecil oleh orang yang baru saja Hyunmin kenal terasa lebih menyebalkan dibandingkan dengan perlakuan kedua kakaknya. Haruskah Hyunmin mengatakan pada seluruh dunia bahwa dia baru saja lulus sekolah? Jika diperhatikan, rasanya keempat orang yang bersamanya tidak lebih tua dari Hyunmin.

“Abaikan saja Ryuu. Dia hanya tidak suka aku mengajak seseorang yang baru kukenal.”

“Yua, therkhadang Yuu memmang mehnyebbakan.”

“Telan makananmu baru bicara.” Taro memukul lengan Yoshi.

Kumiko membuka mulut, tetapi belum sempat mengeluarkan suara dia tersedak. Hyunmin dengan cepat menuangkan air untuknya. Di saat yang bersamaan, Ryuu juga menyodorkan segelas air. Kejadiannya mirip dengan drama yang pernah Hyunmin tonton. Baik Ryuu ataupun Hyunmin menunggu, gelas siapa yang akan dipilih oleh Kumiko.

Tanpa diduga, Kumiko menerima kedua gelas itu. Dia menghabiskan air dari gelas yang diberikan Hyunmin lebih dulu, baru berpindah ke gelas pemberian Ryuu. Dan Hyunmin merasa menang karena hal kecil itu.

“Terima kasih.”

“Lihat hasilnya kalau kau bicara sebelum menelan habis makananmu K,” kata Yoshi. Membuat Taro memukul lengannya sekali lagi.

“Pub kami bekerja bukan pub malam yang seperti itu. Kau akan tahu setelah melihatnya besok,” jelas Kumiko.

“Oke. Aku berjanji tidak mengganggu kalian bekerja.”

“Lebih baik begitu,” kata Ryuu.

Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing usai membereskan tempat makan malam mereka. Hyunmin tidak berminat mengajak Ryuu mengobrol. Dia mengambil ipod, kemudian memasang headset ke telinganya. Itu cara terbaiknya agar cepat tidur.

***

 

Show Boyfriend di Jeju baru saja usai. Youngmin berhasil merayu Dongyoon untuk memberikan alamat tempat dia berada saat ini. Tidak sulit merayunya, Youngmin hanya perlu berkata manis. Setelah mendapat izin, dia dan Kwangmin bergegas menuju alamat yang diberikan Dongyoon.

“Hyunmin tidak akan suka bertemu kita di Jeju.”

“Itu kalau dia memang berada di Jeju. Dia sama sekali tidak menghubungiku, padahal aku sudah meminta Dongyoon menyampaikan pesanku padanya.”

“Memang terasa mencurigakan. Jangan-jangan dia menjual hadiah dari kita untuk bersenang-senang.” Kwangmin mengucapkannya dengan gaya seorang detektif yang sedang membuat hipotesis.

“Masuk akal Kwang,” dukung Youngmin. “Karena itulah Hyunmin tidak berani bicara padaku. Anak itu benar-benar memiliki sikap yang buruk.”

Begitulah ketika saudara kembar itu mulai membicarakan kesimpulan-kesimpulan aneh yang melintas di kepala mereka. Tidak heran jika Hyunmin sering merasa kesal dibuatnya. Bagi Youngmin dan Kwangmin, Hyunmin akan selalu menjadi adik laki-laki yang perlu mereka awasi.

Mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah bercat abu-abu. Nampak Donghyoon berdiri di depan rumah dengan senyum lebar memamerkan giginya.

“Kwangmin Oppa!” Dongyoon berlari, dan langsung menggamitkan tangannya ke lengan Kwangmin.

“Ya! Jauhkan tanganmu!”

“Kau sudah makan malam Oppa? Aku bisa membuatkan sesuatu untukmu.”

“Di mana Hyunmin dan Dongjoon?”

“Ugh… Youngmin Oppa, kau merusak suasana.”

“Suasana apa maksudmu?!” Akhirnya Kwangmin bisa melepaskan diri dari Dongyoon. “Kau pikir kenapa kami datang kemari?” kata Kwagmin kesal.

“Kenapa juga kalian repot-repot mencari mereka? Lagi pula Hyunmin Oppa tidak ada di sini. Dia…” Dongyoon tersadar dia tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Youngmin dan Kwangmin. “Maksudku mereka sedang keluar. Aku tidak tahu kapan mereka kembali. Sebaiknya kalian pulang, besok akan kuminta Hyunmin Oppa menghubungi kalian.”

Kwangmin dan Youngmin mendekati Dongyoon. Tangan terlipat di dada, dan mereka menatap Dongyoon tajam.

“A… ada.. ap-pa?” Dongyoon tergagap.

“Kau,” kata Kwangmin.

“Berbohong,” lanjut Youngmin.

Dua orang lelaki di depannya itu membuat Dongyoon kesulitan menelan ludah. Dia merasa bodoh karena telah salah bicara. Mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasianya, Dongjoon, dan Hyunmin. Dia sudah sepakat, dan bahkan dia sudah menerima imbalan tutup mulut dari Dongjoon.

“Aku tidak berbohong!” Dongyoon balas menatap tajam, agar dia tidak terlihat meragukan.

Tepat saat itu, Dongjoon keluar. Dia tidak menyadari kehadiran Youngmin dan Kwangmin sampai dia berdiri di dekat adiknya. Dongjoon membelalakkan mata seolah baru saja melihat hantu. Tidak ada waktu baginya untuk melarikan diri, dia pun hanya mematung. Kwangmin dan Youngmin beralih berdiri di sisi kanan-kiri Dongjoon.

“Saatnya memberikan penjelasan Dongjoon,” tuntut Youngmin.

“Baiklah, kutinggalkan kalian agar kalian bisa bicara!”

“Heeeiii… kau tidak boleh ke mana-mana!” Kwangmin menarik kaus Dongyoon sehingga dia tidak bisa melangkah pergi.

Dimulailah momen tanya-jawab antara mereka berempat. Dongjoon sungguh tidak bisa mengelak ketika akhirnya pertanyaan ‘di mana Hyunmin berada’ keluar dari mulut Youngmin. Sebenarnya Dongjoon sudah mencoba memberikan jawaban asal. Tetapi Youngmin dan Kwangmin terus menuntut. Apalagi dengan bodohnya Dongyoon menceritakan bahwa Dongjoon mengantar Hyunmin ke bandara.

Sebenarnya Dongyoon baru mengetahuinya kemarin, ketika tidak sengaja dia membaca isi pesan di ponsel Dongjoon. Terpaksa kakaknya itu menceritakan yang sejujurnya padanya.

“Apa yang Hyunmin lakukan di Jepang?” Kwangmin yang bertanya.

“Dia tidak mengatakan bagian itu padaku Hyung. Sungguh!”

“Dongyoon?”

“Dia tidak berbohong Youngmin Oppa. Aku juga tidak tahu alasannya.”

“Baiklah. Untuk saat ini, aku percaya pada kalian berdua. Terima kasih untuk penjelasannya. Kwangmin, saatnya kita pergi.”

“Sampai jumpa. Terima kasih Dongyoon.” Kwangmin sengaja mengusap kepala Dongyoon. Tentu saja Dongyoon langsung terdiam dan tersipu karena ulah Kwangmin itu.

“Apa kita perlu memberitahu eomma, Hyung?”

“Ah ya, jangan beritahu eomma dulu.”

“Lalu, apa yang akan kita lakuakan selanjutnya? Aaaah… kenapa juga Hyunmin bersembunyi di Jepang.”

“Saatnya pergi ke Jepang, Kwang.”

Kwangmin menoleh cepat ke arah Youngmin. Dan Kwangmin tahu Youngmin tidak sedang bercanda.

***

 

Seluruh kursi di tempat Kumiko dan teman-temannya bekerja sudah dipesan untuk malam ini. Begitu pemilik tempat menyebar berita bahwa band Kumiko akan tampil, banyak telepon yang masuk untuk memesan kursi. Hyunmin pikir band mereka tidak seterkenal itu. Dia tidak sabar melihat penampilan Kumiko di atas panggung.

Seperti yang dikatakan Kumiko semalam, mereka tidak benar-benar bekerja di sebuah pub. Tempat itu hanya sebuah kafe yang didesain menyerupai suasana di dalam pub. Tidak ada alkohol di dalam menu, dan lagi, kafe itu tutup pukul sepuluh malam.

Saat ini pukul enam lebih dua puluh menit, Hyunmin duduk di salah satu kursi di dekat panggung kecil tempat Kumiko akan tampil nanti. Orang-orang mulai berdatangan. Tidak sampai satu jam, kafe sudah terisi penuh.

“Ini, untukmu.” Kumiko yang telah siap dengan kostum panggungnya menghampiri meja Hyunmin untuk memberikan sebuah lightstick berbentuk huruf K.

Hyunmin lupa menanyakan apa nama band mereka, jadi dia berpikir lightstick itu berbentuk K untuk mewakili nama Kumiko.

“Agar kau bisa mengikuti yang lainnya,” tambah Kumiko melihat ekspresi bingung muncul di wajah Hyunmin.

Seorang lelaki berseragam pegawai kafe naik ke atas panggung.

“Apa tidak ada orang di tempat ini? Aku tidak mendengar teriakan kalian.”

Seluruh orang di dalam kafe langsung berteriak lebih keras.

“Kita sambut, Kyo!”

Ah, jadi nama band mereka Kyo. Apa maksudnya? Hyunmin akan ingat menanyakannya pada Kumiko usai penampilan mereka nanti.

Seiring dengan kemunculan Kumiko dan teman-temannya di atas panggung, teriakan bertambah keras. Kemudian mereka kompak meneriakkan ‘With You’ berkali-kali. Pasti salah satu lagu yang biasa dibawakan oleh Kyo. Hyunmin tidak ikut dalam euforia penonton. Dia terlalu sibuk mengamati Kumiko. Penampilannya serba hitam, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Hanya saja, di atas panggung Kumiko terlihat lebih memesona.

Dimulai oleh suara gitar yang dimainkan Ryuu, Kumiko mulai bernyanyi.

Tidak ada lagi bayangan SNSD, Sistar, ataupun Miss A. Bagi Hyunmin sekarang, Kumiko adalah yang tercantik. Momen pertemuannya dengan Kumiko pun kembali terputar di kepala. Membayangkannya membuatnya tersenyum sendiri. Matanya bertemu dengan mata Kumiko, dan Kumiko tersenyum padanya.

Hyunmin menyukai satu kalimat dari lirik lagu yang dinyanyikan Kumiko. ‘Aku sudah bersamamu, tapi aku belum merasa cukup’. Rasanya kalimat itu cukup mewakili perasaan Hyunmin. Dia sudah bersama Kumiko, bisa melihatnya dan bicara padanya. Tetapi Hyunmin belum merasa cukup.

Kumiko berhenti bernyanyi. Semua orang bertepuk tangan sambil meneriakkan namanya. Kumiko mengambil gitar, kemudian melanjutkan penampilannya. Kali ini mereka membawakan lagu dengan melodi yang lebih cepat.

 

“Boleh aku minta foto bersama?” tanya Hyunmin setelah melihat tidak ada lagi yang mengantre foto bersama Kumiko.

Hampir semua orang yang datang meminta selca bersama Kumiko dan teman-temannya. Tepat setelah mereka menyanyikan lagu terakhir, penonton meninggalkan kursinya, lalu maju ke depan. Tidak ada waktu bagi Kumiko, Ryuu, Taro, dan Yoshi untuk beristirahat.

“Untuk penonton istimewa kami malam ini, aku memberikan gratis tiga kali selca.”

Keduanya sama-sama tertawa.

“Aku tidak tahu kalian sekeren itu. Selamat, fans kalian kalian bertambah satu.”

Kumiko menggelengkan kepala. “Kau salah Hyunmin. Mereka bertiga tidak keren. Hanya aku satu-satunya yang keren.”

“Oke, Nona yang keren, bisa tanda tangani kausku?”

“Dengan senang hati.”

Taro memanggil Kumiko untuk bergabung bersama mereka agar para fans bisa memotret mereka berempat. Hyunmin terpaksa membiarkan Kumiko pergi. Dia pun menyibukkan diri menghabiskan makanan yang dia pesan.

Ada dua orang pria berwajah hampir mirip duduk tak jauh dari Hyunmin. Pemandangan itu membuatnya tersedak. Dia hampir mengira dua orang itu adalah Youngmin dan Kwangmin.

“Aaaah… mereka menghantui pikiranku.”

Tiba-tiba Hyunmin teringat bahwa dia belum memberitahu Dongjoon tentang keadaannya saat ini. Bahwa ponselnya rusak, sehingga dia tidak bisa dihubungi. Dongjoon pasti kebingungan mengarang alasan jika ibu atau kedua kakaknya menelepon. Hyunmin sebenarnya memiliki catatan nomor-nomor orang terdekatnya. Hanya saja dia memang sengaja melupakannya.

“Akan kuhubungi Dongjoon besok,” ujarnya.

Hyunmin menoleh ke tempat Kumiko berada sebelumnya. Tetapi dia tidak lagi berada di sana bersama ketiga temannya. Hyunmin mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Akhirnya dia melihat keberadaan Kumiko yang sedang berbicara dengan dua orang pria. Kumiko jelas merasa tidak nyaman oleh dua pria itu. Karena khawatir dan takut dua orang itu adalah orang yang sama yang mengejar Kumiko seperti di bandara waktu itu, Hyunmin meninggalkan mejanya dan berjalan cepat ke arah Kumiko berdiri.

Tanpa berpikir dua kali, Hyunmin mencengkeram pergelangan tangan Kumiko, kemudian menariknya pergi.

“Mau ke mana kalian?” seru salah satu pria.

Mendengar keributan, orang-orang pun mulai memperhatikan apa yang terjadi. Hyunmin mendengar Yoshi berteriak memanggil namanya. Tetapi dia mengabaikannya. Yang ada di pikirannya, dia harus membawa Kumiko menjauh dari kedua pria itu.

“Woooaaaa… Hyunmin, awas di depanmu!”

Hyunmin hampir saja menabrak orang yang berjalan di depannya.

“Kau punya ide ke mana kita harus berlari?”

“Tidak!”

“Oke, itu berarti kita tidak boleh berhenti berlari!”

Hari kedua. Kenapa Kumiko selalu membuatnya melarikan diri dari kejaran orang-orang yang tidak dia kenal?

This entry was posted by boyfriendindo.

4 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Escape From My Brothers – Chapter 02

  1. Thor aku jadi penggemar fanfic buatan kamu. suka banget sama jalan cerita dan gaya bahasanya. lanjutkan thor aku mendukungmu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: