[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 03

Tittle  : Flower Boy : Bookstore – Chapter 03
Author      : Z. Zee
Genre Friendship, Mysteri, dan Romance
Rating : PG-17
Type : Chapter
Casts  : ~ Kwangmin

  ~ Minwoo

  ~ Jungkook (BTS)

  ~ Ahn Jae Hyun

  ~ Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)

  ~ Park Tae Rin

  ~ Etc

Disclaimer       : Cerita ini murni hasil pemikiran author. Kalau ada kesamaan tokoh dan cerita itu hanya kebetulan semata. Cast di dalamnya juga milik author seorang *plakk!

 

Annyeong, Z.Zee is back! Adakah yang menanti-nanti ff ini? Maaf kalau buat kalian nunggu lama. Langsung aja deh

Check it out!

 

CHAPTER 3 : I HATE YOU, HYUNG

 

Tae Rin berjalan sendirian di lorong sekolah. Sendirian? Namjoo tertidur di dalam kelas, sementara Minwoo sedang mengobrol dengan teman-temannya. Kwangmin dan Jungkook juga tidak satu kelas dengannya. Jadi dia dengan santainya kabur. Sekarang dia sedang menuju tempat favoritnya, perpustakaan. Tempat paling sepi di sekolahan. Tempat yang sangat tepat untuk menyendiri.

Suasana sekolah sedang ramai karena saat itu jam istirahat. Banyak murid yang berkeliaran, mengobrol dengan temannya, atau berkejaran seperti anak kecil. Saat hendak membelok, seseorang menabraknya dari belakang dan membuatnya terjungkal ke depan. Tae Rin merasakan perih di lutunya. Hingga sebuah tangan terulur ke arahnya.

Tae Rin mendongakkan kepalanya ke atas. Dilihatnya seorang namja manis bermata sipit tengah mengulurkan tangan padanya. Tapi Tae Rin lebih memilih untuk berdiri sendiri.

Mianhae, aku sedang berlari karena dikejar temanku sampai tidak sadar ada orang di depanku. Aku benar-benar tidak sengaja.”

Gwaenchanha,” jawab Tae Rin dengan cuek.

Tiba-tiba seseorang datang dan menarik kerah baju namja itu dari belakang. “Yaa, Jeongmin-ah!! Urusanku belum selesai denganmu… Eoh, nuguya?” ucapnya setelah melihat Tae Rin yang berdiri di depan orang yang tadi dipanggil Jeongmin itu.

“Gara-gara kau, aku jadi menabrak yeoja ini.”

“Jadi, sekarang semuanya salahku? Aku hanya ingin menagih hutang baik-baik, tapi kau malah kabur.”

“Akan kubayar nanti. Sudah kubilang kan kalau uangku tertinggal lagi. Aku akan mengantarnya langsung ke rumahmu. Kau puas?”

Akhirnya orang itu melepaskan Jeongmin. Tae Rin hanya diam saja melihat pemandangan aneh di depannya.

By the way… siapa namamu? Aku tidak pernah melihatmu,” tanya orang yang tadi menarik kerah Jeongmin.

Park Tae Rin imnida. Aku dari kelas 2-3.”

“Berarti kau hoobae-ku. Aku dari kelas 3-1. Shim Hyunseong imnida. Dan si pendek ini bernama…”

Jeongmin imnida,” sahutnya tiba-tiba. “Geurigo… hyung, aku tidak sependek itu!! Aku hanya 5 cm lebih pendek darimu.”

“Tetap saja pendek.” Hyunseong menjulurkan lidahnya lalu bergegas lari sebelum tangan Jeongmin mendarat di kepalanya.

Tae Rin juga kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti beberapa saat. Meskipun Jeongmin memanggilnya beberapa kali, Tae Rin tetap tidak bergeming. ‘Sunbae yang aneh’ pikirnya.

Akhirnya Tae Rin sampai di tempat favoritnya. Dia datang ke sana bukan untuk membaca. Dia hanya berdiri di depan jendela, matanya menatap kosong ke depan. Matanya mengekor burung-burung yang sedang asyiknya terbang berputar-putar. Terbang ke sana-ke mari semaunya sendiri, seperti tanpa beban.

“Kapan aku bisa menjadi seperti burung itu?” Tae Rin bertanya pada dirinya sendiri dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.

 

DOOR!!

 

Suara tembakan menghancurkan lamunannya. Bukan hanya mengagetkan dirinya. Suaranya terdengar sampai ke lantai satu tingkat di atas dan di bawahnya. Seketika keributan terjadi di sekolah.

Tae Rin tahu benar suara itu berasal dari ruangan yang sama dengannya. Seluruh tubuhnya dalam posisi siaga. Matanya mengelilingi seluruh sudut ruangan. Sekilas matanya menangkap bayangan orang yang sedang berlari. Meskipun hanya bayangan sekilas, Tae Rin tahu benar apa yang dibawa orang itu, sebuah pistol. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya, jantungnya berdegup keras.

Tiba-tiba sebuah tangan menariknya, membawanya keluar dari perpustakaan dengan berlari. Kakinya kesulitan mengimbangi langkah kaki orang itu.

Tae Rin merasa risih saat melewati segerombolan siswi yang menatapnya dengan tajam. Bagaimana tidak? Berlari bergandengan tangan di koridor sekolah dengan salah satu murid terpopuler. Tentu saja fans-fansnya tidak bisa menerimanya begitu saja. Yaah, karena mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Orang itu membawanya sampai di halaman belakang sekolah. Keduanya tampak sangat terengah-engah.

“Kau masih beruntung karena aku melihatmu mengobrol dengan Jeongmin dan Hyunseong sunbae tadi. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padamu.” Matanya menatap Tae Rin dengan tajam. Tanpa sadar Tae Rin memundurkan sedikit tubunya untuk menghindari tatapan menusuk itu. “Kenapa kau suka sekali kabur, hah? Tidak ada tempat yang aman untukmu saat ini, bahkan di sekolah. Jangan pergi seenaknya sendiri! Apa pula yang dikerjakan Minwoo dan Namjoo sampai bisa membiarkanmu kabur.”

“Aku hanya ingin pergi sebentar saja. Aku tidak berpikir hal itu akan terjadi. Kupikir sekolah adalah tempat yang aman. Geundae….”

Mwo?” Terdengar dari suaranya kalau orang itu sangat marah.

“Sampai kapan kau mau memegang tanganku?” tanya Tae Rin dengan suara lirih. Entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat. Mukanya sedikit memerah.

Kwangmin buru-buru melepaskan tangannya. Dia tidak sadar melakukan itu. Kwangmin menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Keduanya berdiri dengan kikuk. Masing-masing sibuk menetralkan detak jantungnya.

“Mungkin sekolah ini sudah dimasuki penyusup. Tembakan tadi itu hanya sebuah peringatan. Berhati-hatilah.” Kwangmin terlihat sangat gugup waktu mengatakannya. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengannya.

Tae Rin menganggukan kepalanya dua kali tanda setuju. “Eh, ngomong-ngomong kau mengenal sunbae itu?” ucap Tae Rin memecah keheningan.

“Ne, mereka satu club denganku. Waeyo?”

Ani. Hanya bertanya saja. Mereka berdua sangat aneh.”

“Kalau tidak aneh bukan Jeongmin dan Hyunseong namanya.”

_____________

Braakk!!! Minwoo menggebrak meja dengan sangat keras. Membangunkan seseorang yang sedang tidur di atasnya dengan sangat pulas.

“YAA!! Apa yang kau lakukan?”

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, Kim Namjoo. Apa yang kau lakukan sampai tidak sadar kalau Tae Rin kabur dari kita? Baru saja Kwangmin memberitahuku kalau Tae Rin baik-baik saja. Aku yakin kau tidak mendengar suara tembakan tadi.” Minwoo mengucapkannya setengah berbisik. Takut kalau ada yang mendengar percakapan mereka.

What?? Tembakan?”

“Untungnya Kwangmin datang tepat waktu kalau tidak, entah bagaimana keadaan Tae Rin sekarang.”

Namjoo bangkit dari kursinya dan langsung membentak Minwoo. Mengabaikan tatapan aneh teman-teman sekelasnya. “Lalu kau sendiri apa yang kau lakukan, hah? Aku tidak sengaja tertidur. Apa itu salahku kalau aku mengantuk?”

“Aku tadi sedang mengobrol dengan temanku. Seharusnya kau bisa menjaganya lebih baik karena kau duduk di sebelahnya.” Minwoo tidak peduli lagi jika orang lain mendengar percakapan mereka berdua.

“Sudah kubilang kan kalau aku tertidur. Mana kutahu kalau Tae Rin kabur. Jangan-jangan matamu itu terlalu sipit sampai tidak bisa melihat dengan jelas. Dia pergi saja kau tidak tahu.”

“Jadi sekarang kau malah menyalahkan mataku? Mataku itu masih normal. Aku memang tidak melihatnya saat pergi tadi.”

Minwoo dan Namjoo masih sibuk bertengkar. Ungkapan memaki dan saling menyalahkan meluncur dengan lancar dari mulut mereka. Tidak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya Jungkook datang ke kelas mereka. Berusaha melerai pertengkaran tidak penting itu.

Hyung!Nuna! Di mana Tae Rin-nuna? Apa kalian terlalu serius bertengkar sampai tidak tahu kalau dia kabur?”

“Semuanya salah orang ini!” Namjoo mengacungkan telunjukanya ke Minwoo.

Naega? Jelas-jelas kau yang…”

STOP!!!!!!!!!!!” teriakan Jungkook tidak hanya membuat Namjoo dan Minwoo terdiam, tapi juga murid lain yang berada di kelas. Semua mata tertuju pada ‘tontonan gratis’ ini.

“Kalian seperti anak kecil yang bertengkar karena memperebutkan permen! Sekarang aku mau mencari Kwangmin-hyung dan Tae Rin-nuna. Terserah kalian mau ikut atau tidak. Silakan saja kalau mau melanjutkan pertengkarannya.” Jungkook segera berlari menuju halaman belakang sekolah.

“Yaa, Jeon Jungkook!! Tunggu aku…” teriak Minwoo.

Namjoo lebih memilih kembali melanjutkan tidurnya. Namun cukup lama matanya terpejam, Namjoo masih belum tidur juga. Kekesalannya pada Minwoo terlalu besar sampai rasa kantuknya menguap. Saat menutup mata, justru wajah Minwoo yang terbayang-bayang.

“MENYEBALKAN!!!” Namjoo berteriak sangat keras dan lagi-lagi seluruh kelas menatap padanya. Ada di antara mereka yang berbisik-bisik membicarakan Namjoo dan Minwoo. Namjoo yang sadar ditatap seperti itu lebih memilih untuk tidak peduli.

_________________

Sekolah dipulangkan lebih awal. Akibat insiden tadi, sekarang sekolahan dikelilingi oleh polisi dan wartawan yang berusaha untuk masuk. Polisi memasang garis pembatas di pintu masuk perpustakaan. Tae Rin dan Kwangmin sedang diinterogasi oleh pihak kepolisian dan guru. Minwoo, Jungkook, dan Namjoo menunggu di luar ruang guru dengan was-was.

“Mereka lama sekali. Apa yang sedang mereka bicarakan? Aku tidak bisa mendengarnya.” Namjoo menempelkan telinganya di pintu.

Neon babo-ya. Tentu saja kau tidak bisa mendengarnya.” Celetukan asal Minwoo mendapat balasan jitakan keras di kepalanya. Minwoo meringis sambil mengelus-elus kepalanya.

“Kalau keberadaan kita sampai dicium oleh pihak kepolisian bisa gawat. Aku harap Kwangmin-hyung dan Tae Rin-nuna tidak mengatakan hal yang aneh-aneh.” Jungkook tampak berdiri dengan menyenderkan punggungnya di tembok. Tangannya dilipat dan kedua matanya menatap lurus ke depan. Kebiasaan yang selalu dilakukannya saat berpikir serius.

“Waeyo? Bukankah kita justru membantu mereka?” tanya Namjoo.

“Polisi tidak semudah itu mempercayai kita. Minwoo-hyung tahu kan kalau Big Dwarf sudah berhasil menyusup ke kepolisian tanpa disadari? Big Dwarf baru saja melakukan serangan terselubung pada kita… dan kenapa juga harus Kwangmin-hyung yang berada di dalam? Dia benar-benar tidak bisa diandalkan dalam urusan seperti ini.”

“Kau benar Jungkook-ah. Kwangmin terlalu ceroboh.”

Sementara itu di dalam ruang guru…

Tae Rin hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan apapun yang dilontarkan padanya. Tubuhnya bergetar dengan wajah yang pucat. Sandiwara yang hebat, bukan?

Polisi dengan wajah sangar dan tubuh tegap itu sudah menyerah bertanya pada Tae Rin. Matanya beralih ke Kwangmin. “Jadi saudara Jo Kwangmin, apa yang anda lakukan di dalam perpustakaan tadi?”

“Membaca buku tentu saja. Apa lagi?”

“Tapi beberapa saksi mata mengatakan kalau kau masuk tepat setelah terdengar suara tembakan. Kau terlihat tergesa-gesa memasuki perpustakaan dan beberapa saat kemudian keluar bersama dengan Park Tae Rin. Bisa kau jelaskan pada kami?”

“Errr maksudku itu… Tadinya aku ingin mencari buku untuk membantu mengerjakan pr, makanya aku masuk dengan tergesa-gesa karena takut jam istirahat habis padahal pr itu harus dikumpulkan setelah jam istirahat. Entah kenapa akhir-akhir ini otakku berpikir agak lamban jadi setelah masuk ke perpustakaan aku baru sadar kalau yang kudengar tadi adalah suara tembakan. Ketika di dalam aku melihat Tae Rin meringkuk ketakutan jadi otomatis kubawa dia pergi dari tempat itu. Hehe.” Kwangmin menjawab dengan lagak seorang anak SMA yang kelewat polos. Ah, tidak. Lebih tepatnya mirip seperti anak SD yang kebingungan.

“Hanya begitu saja? Berarti pelakunya masih di dalam saat kau keluar?”

“Kurasa begitu.”

“Lalu kenapa tidak ada yang melihat orang lain keluar setelah kau?”

“Setelah terdengar tembakan, semua orang menjadi panik. Mereka sudah tidak memperdulikan keadaan sekitar selain menyelamatkan diri. Mungkin pelakunya memanfaatkan momen itu untuk keluar dari perpustakaan setelah sebelumnya merusak CCTV di sekitar tempat kejadian. Tidak akan ada yang menyadarinya. Mereka sudah merencanakan semuanya dengan baik agar tidak ketahuan.”

Tae Rin buru-buru menyikut lengan Kwangmin. Anak itu sudah ‘kelewatan’ kali ini.

Polisi itu menatapnya lekat penuh selidik. “Prediksimu bagus. Bagaimana kau bisa berpikir sampai ke situ?”

“Eh??” Kwangmin terlihat bingung harus mengarang apa lagi. Polisi ini berhasil menjebaknya. “B-bukankah… itu sangat mudah ditebak? Semua orang juga pasti akan terpikir hal yang sama denganku, haha.” Tawanya terdengar garing #kriuk

“Yaa! Apa pak polisi sedang mencurigaiku sekarang?” sambung Kwangmin. “Apa wajahku yang tampan dan innocentini terlihat seperti penjahat?”

‘DASAR NARSIS!’ teriak Tae Rin di dalam batinnya.

Polisi terlihat frustasi menangani tingkah dua murid SMA di depannya ini. “Kalian boleh pergi sekarang. Sepertinya percuma saja terus menanyai kalian.”

Kwangmin membantu Tae Rin berjalan yang masih berpura-pura shock.

Baru saja keluar, mereka sudah diserbu dengan teror pertanyaan dari ketiga temannya yang setia menunggu di luar.

“Aku tidak mau membahasnya sekarang. Aku ingin cepat-cepat pulang dan makan,” kata Tae Rin sambil berlalu mengabaikan ‘para pengawalnya’ itu.

________________

 

Kwangmin POV

Hyung, ppalliwa!! Jalanmu sangat lambat. Aku sudah lapar nih.”

Nde, nae dongsaeng. Kau ini benar-benar cerewet.”

“Nanti kira-kira eomma memasak apa, ya?”

“Tentunya sesuatu yang enak. Dan membuatku ingin buru-buru pulang. Hihi.” Youngmin-hyung tiba-tiba berlari kencang dan meninggalkanku di belakang. Mwoya??

“YAA!! Youngmin-hyungnappeun!! Aku membencimu, hyung.”

“Aku juga membencimu,” sahutnya tanpa memperlambat laju larinya. Kukejar kembaranku itu sekuat tenaga. Secepat apapun dia berlari, hyung tidak akan pernah lebih cepat dariku.

Sialnya hyung berhasil lebih dulu sampai. Jarak kami yang sudah terlalu jauh tidak berhasil kususul. Ketika Youngmin-hyung membuka gerbang, dia hanya terdiam tak bergerak.

Museun iriya, hyung?”

“Lihatlah!” Youngmin mengarahkan telunjuknya ke halaman. Mataku mengikuti ke arah yang ditunjuknya dari balik tubuhnya.

Halaman rumah terlihat berantakan. Bunga-bunga yang dirawat dengan baik oleh eomma tergelatak dengan lemas di atas tanah. Akarnya mencuat dari tempat seharusnya. Pot bunganya sudah hancur tak berbentuk. Kaca depan rumah juga pecah menyisakan separuhnya saja yang masih tertinggal di jendela. Pintu rumah terbuka lebar bukan karena sengaja dibuka, tapi dalam keadaan rusak dan tinggal menunggu waktu saja untuk sepenuhnya lepas dari engsel. Ada apa ini?

“Aku masuk duluan. Kau tinggal di sini.”

Geundaehyung…”

“Ssstt…diamlah. Jangan membantah! Bukankah eomma dan appa selalu memberitahumu untuk menuruti perintahku? Bersembunyilah di balik pohon di situ. Hyung tidak akan lama. Kau percaya padaku, kan?”

Kuanggukkan kepalaku. Walaupun sangat berat melakukannya. Aku takut terjadi hal yang buruk pada eomma dan appa. Aku juga tidak mau ditinggal oleh Youngmin-hyung. Tapi apa boleh buat? Eit, apa yang baru saja kupikirkan? Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, Jo Kwangmin. Itu hanya hayalanku saja.

Youngmin-hyung melesat masuk setelah aku bersembunyi di balik pohon.

1 menit… 2 menit… 3 menit….5 menit… 10 menit…. 15 menit…

Sebenarnya apa yang dilakukan hyung di dalam? Kenapa lama sekali?

DOORR!!!

Akuyakin suara yang barusan kudengar itu berasal dari dalam rumahku.

Aku panik tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang sebenarnya terjadi? Kakiku sangat ingin kugerakkan untuk berlari dan masuk ke rumah sekarang juga. Tapi otakku memerintahkan sebaliknya sesuai yang dikatakan Youngmin-hyung. Hey, sejak kapan aku mau menurutinya?

Beberapa saat kemudian kulihat beberapa orang berpakaian serba hitam keluar dari rumahku dan masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari rumahku. Aku tidak bisa melihat wajah mereka karena mereka bergerak dengan sangat cepat. Sesaat kemudian, suara deru mesin terdengar semakin menjauh.

Kekhawatiranku sudah sampai di puncak. Tanpa memperdulikan perintah hyung kulangkahkan kaki masuk. Hal pertama yang kulihat adalah bercak darah di lantai teras. Mataku mengikuti kemana darah itu bersumber. Kulihat seseorang tergeletak dengan posisi tengkurap di atas lantai dengan darah yang masih mengucur deras yang kuperkirakan berasal dari dadanya itu. Appa!!!

Aku berlari masuk ke dalam rumah. Mengelilingi semua sudut rumah yang sudah hancur berantakan. Mengabaikan bau anyir darah yang lebih mendominasi. Di mana eomma dan hyung????

Sesosok tubuh terlihat duduk dengan menyenderkan kepalanya yang penuh darah di atas meja makan. Kepalanya menindihi makanan yang sudah tak terlihat wujudnya lagi karena seluruhnya berubah menjadi merah. Apron yang tadinya berwarna pink sudah berganti warna menjadi merah juga. Eomma!!!!!!

Youngmin-hyung, neo eodiga? Dengan air mata yang mengalir deras entah sejak kapan kuberlari menaiki lantai dua. Satu-satunya tempat yang belum kudatangi : kamarku dan hyung.

Kubuka pintu dengan kasar. Napasku serasa terhenti ketika melihat pemandangan di kamarku. Lidahku terasa ngilu dan tercekat. Mataku hanya sanggup menatap nanar tubuh yang sudah tergolek tak bernyawa di atas lantai dengan memeluk boneka pikachu kesayanganku. Pikachuku yang tadinya berwarna kuning sudah tak terlihat lagi warna aslinya. Tubuhku merosot perlahan ke lantai. Air mataku meledak sejadi-jadinya. Aku terisak dalam diam.

Tidak pernah terbesit di benakku sebelumnya. Di umurku yang baru menginjak 11 tahun aku harus kehilangan semuanya, kehilangan orang-orang yang paling kusayangi, keluarga.

“Youngmin-hyungireona… ppalli!! Ireona,hyung! Hhyung… Youngmin-hyung… Youngmin-hyung!!!!!! Gajima!!”

.

.

.

“YAA! Jo Kwangmin ireona!! Apa kau mau terlambat masuk sekolah, eoh?”

Kurasakan seseorang menggoyang-goyangku tubuhku. Kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Aku memang berada di kamar tapi bukan kamarku. Lalu kulirik seorang gadis dengan seragam sekolah lengkap berdiri di sampingku.

“Sampai kapan kau mau di situ terus? Sudah setengah jam aku membangunkanmu, tapi kau malah mengigau tidak jelas. Kau terus menyebut nama Youngmin. Siapa dia?”

“Kau tidak perlu tahu,” jawabku cuek. Lagi-lagi aku memimpikan hal yang sama. “Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Ini rumahku. Suka-suka aku dong mau masuk ke mana saja. Errr ngomong-ngomong…”

Mwo?!”

“Apa kau mimpi buruk? Kau menangis saat tidur.”

Aku menangis? Kuraba pipiku yang memang terasa basah itu.

Gwaenchanha?” tanyanya dengan nada khawatir.

Ne, nan gwaenchanha.” Sejak kapan pula orang ini jadi perhatian padaku. “Lupakan yang kau lihat sekarang. Anggap saja tidak pernah terjadi.” Aku buru-buru bangkit dari kasur dan mengambil handuk yang tergantung di kamar. Segera kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Aku yakin saat ini Tae Rin sedang menatapku penuh tanda tanya.

_______________

Author POV

Waktu berjalan sangat lambat bagi Kwangmin. Dia hanya melamun sepanjang pelajaran. Saat istirahat pun dia hanya duduk manis di atas kursinya tanpa melakukan apapun. Matanya menatap kosong ke papan tulis.

“Kau tahu? Sekarang kau dan Tae Rin jadi TTS,” tanya Minwoo yang tiba-tiba sudah duduk di samping Kwangmin. Tae Rin, Namjoo, dan Jungkook mengikutinya dari belakang.

TTS? Apa itu?”

Trending Topic School! Sekarang semua murid membicarakan kalian gara-gara ‘insiden di koridor’ kemarin. Tae Rin juga mendapat teror dari fans-fansmu. Apa kau hanya akan diam saja?”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Terserah apa katamu. Kau selalu seperti ini setelah memimpikan itu. Mendadak berubah menjadi menyebalkan.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Sudah 6 tahun aku mengenalmu, bagaimana aku tidak hapal kebiasaanmu? Tae Rin juga bilang kau menangis saat tidur… Bukankah sudah waktunya untuk melupakannya?”

“Tidak semudah yang kau bayangkan. Kau pasti tidak tahu karena kau mengalaminya saat masih bayi.”

“Yeah. Mungkin aku sedikit lebih beruntung darimu.” Minwoo menghela napas panjang. Bingung sendiri dengan apa yang baru saja dikatakannya. Tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua disebut ‘sedikit beruntung’?

Tae Rin bingung mendengarkan percakapan dua orang dihadapannya yang saat ini sibuk dengan pikirannya masing-masing. Apa dia satu-satunya orang yang tidak tahu?

Seakan bisa membaca pikiran Tae Rin, Jungkook membisikkan sesuatu ke telinganya. “Kami semua punya masa lalu yang buruk. Jadi jangan kaget kalau nanti Nuna tahu semuanya.”

“Sebenarnya aku juga sama seperti kalian,” ucap Tae Rin tiba-tiba. Diputarnya kursi di depan Kwangmin dan kemudian duduk di atasnya. Sekarang Tae Rin duduk berhadapan dengan Kwangmin dan Minwoo.

“Kurasa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mempunyai masa lalu yang kelam. Kalian bisa bercerita padaku sepulang sekolah nanti. Siapa tahu dengan bercerita perasaan kalian akan lebih tenang.”

“Tidak perlu. Terima kasih,” ucap Kwangmin dengan datar.

“Biasanya kau selalu membentakku. Kenapa hari ini tidak? Aneh sekali.”

“Terima kasih sudah mengingatkan. Sekarang aku benar-benar ingin membentakmu dan menyuruhmu keluar dari kelasku.”

“Kau ini… benar-benar menyebalkan!”

Mood-nya selalu berubah setelah mendapat mimpi buruk. Besok juga sudah normal lagi.” Sambung Minwoo.

“Mmm… sebetulnya aku punya tips untuk kalian semua supaya tidak mimpi buruk.”

“Apa?” tanya Kwangmin.

“Jika kalian memikirkanku sebelum tidur, pasti tidak akan mendapat mimpi buruk. Kujamin pasti berhasil!” kata Tae Rin sambil tersenyum dengan lebarnya.

“Yaaahhh….” Terdengar nada kecewa dari keempat temannya.

Sementara Tae Rin terkekeh geli karena berhasil mengerjai mereka semua.

-TBC-

 

Maaf buat fansnya Youngmin karena Youngmin kubuat nasibnya kayak gitu T_T Sebenarnya kasian juga sih. Tapi mau gimana lagi? Cuma itu yang kepikiran. Anyway, thanks for reading *bo

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 03

  1. kwangmin kasian, ngeliat kematian org tuanya dan kakaknya. youngmin kasian, mati saat anak2…😥
    .
    .
    jgn lama2 bikin lanjutannya ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: