[FANFICT/FREELANCE] End of Story – Chapter 03

Tittle  : End of Story – Chapter 03
Author : Song Rae Hwa [@deviwo01]
Genre : Family, Friendship, Romance dan Sad Romance
Rating : T
Type : Chapter
Main Casts  ~ Song KyungJae (OC)

  ~ Jo Kwangmin

  ~ No Minwoo

Support Casts  ~ Jo Youngmin

  ~ Song Chan Ho

 

Hai readers author balik lagi sambil bawa FF gaje author, yang mungkin masih layak untuk dibaca. Ahahaa … FF ini murni hasil karangan author, saat membuat FF ini author terinspirasi oleh Novel yang author baca. Tapi alur dan ceritanya 180 derajat berbeda ko asli, walaupun ada sedikit kesamaan mungkin.… dan maaf jika FF yang author buat tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahkan mungkin alur juga berantakan, butuh kritik dan saran untuk memperbaiki karya author.

Truwingggg~ Selamat membaca ^^

Warning          : Sebelumnya author ingin minta maaf kalau kelanjutan cerita ini semakin ngawur dan entahlah berantakan. ^^

 

+++Chapter 2+++

“Aku tau kau sangat mencintai Kwangmin, tapi aku harap kau tidak benar-benar menyukainya.” Pernyataan itu membuat sekujur tubuh Jae bergetar, pikiran Jae melayang begitu jauh membayangkan kalau Ny. Jo akan memisahkannya dengan Kwangmin.

+++Chapter 3+++

“Kau tidak usah membayangkan itu semua, karena aku tidak akan memisahkan kalian, walau sebenarnya aku tidak suka putraku berhubungan denganmu.” Jlebb, hati Jae terasa sakit bagai dihujam ribuan belati yang jatuh dari langit mendengar ucapan menyakitkan itu, Jae mulai menitikan air matanya yang tanpa diminta jatuh dengan sendirinya.

“Kau taukan Song KyungJae-ssi?” ucap wanita paruh baya itu kepada Jae tanpa memperdulikan perasaan Jae saat itu.

++Jae Pov++

Kenapa kalimat-kalimat menyakitkan itu selalu menghampiri ingatanku? Aku sungguh tidak berdaya setiap mengingat kejadian dua minggu yang lalu itu, aku hanya bisa menangis dalam malamku saat aku sendiri, saat aku tidak bersamanya.

“Hey kau kenapa?” tanya oppaku Chanho dengan penuh perhatian. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin baginya ia selalu masuk ke kamarku untuk memastikan keadaanku sebelum ia tidur. Seperti saat ini ia melihatku yang sedang menangis dibalik selimut tebalku, ia duduk di ranjangku, ia mengusap rambutku. Aku pun merubah posisiku yang semula berbaring, aku memeluknya erat, sangat erat aku meluapkan semua kesedihanku dalam pelukan hangatnya.

“Sudah jangan menangis lagi… sebenarnya kau kenapa?” tanyanya lagi dengan lembut sambil membalas pelukanku. Aku menggelengkan kepalaku dalam pelukannya.

“Bagaimana aku bisa menenangkanmu jika kau tidak menceritakan masalahnya padaku?”

Oppa…apa yang terjadi dengan appa??” tanyaku kepada kakaku, yang memang masalah appa juga yang membuatku bersedih saat ini. Ya appa diberitakan terkena kasus korupsi, dan perusahan yang appa dirikan sedang mengalami penurunan, banyak para penanam saham mengambil kembali saham mereka saat mendengar berita itu. aku berharap semua berita yang mereka bicarakan tentang appaku itu salah.

“Kau tidak perlu sesedih ini. Tuhan masih melindungi kita dari orang-orang yang ingin menghancurkan kita saat ini.” Jawaban kakaku terdengar begitu sangat bijak, aku melonggarkan pelukkanku dan aku menatap wajahnya yang begitu tenang menghadapi semua masalah yang ada saat ini. Ia tersenyum menandakan semuanya akan baik-baik saja, walaupun pada kenyataannya semuanya akan berubah.

Appa akan baik-baik saja, percayalah. Kita hanya sedang diuji oleh Tuhan, karena Tuhan tau kita akan mampu melewati semua ujian yang telah ia berikan.” Semua kata-katanya sangat bijak, sungguh aku sangat mengagumi kakaku, kalau dipikir pantas saja banyak anak-anak perempuan dari rekan bisnis appa atau teman parlemen appa yang ingin menjadikannya seorang suami. Aku kembali memeluknya erat sangat erat, karena hanya dia yang mampu meredam semua kesedihanku saat ini, karena semenjak satu minggu yang lalu, tepatnya semenjak appa mulai diberitakan korupsi di TV local, umma dan appa pergi untuk menghindari para awak media yang siap meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang mematikan.

Aku hanya berharap kepada Tuhan agar ia melindungi umma dan appaku, dan semoga semua cobaan yang ia berikan kepadaku semata-mata untuk mengasah iman dan kesabaranku. Dan masalahku sendiri biarkan aku simpan dan selesaikan sendiri, karena aku tidak ingin melibatkan kakaku, karena aku tau dibalik senyum manisnya saat ini tersimpan puluhan ribu benih air mata yang akan ia luncurkan suatu saat nanti, aku tau beban pikiran yang oppa terima jauh lebih berat daripada bebanku.

Oppa.. apa kau akan pergi lagi sekarang?” tanyaku padanya yang sekarang sedang menarik selimut untuk menutupi tubuh kurusku. Ia tersenyum lagi padaku, ia mengangguk dan kemudian mencium keningku.

“Kau tidurlah yang nyenyak, jangan pernah pikirkan semua masalah yang menimpa keluarga kita. Karena itu hanya untuk menjadi beban pikiranku, bukan untukmu.” Kata-katanya selalu membuatku berpikir lebih dewasa, aku bangga mempunyai kakak sepertinya diusianya yang masih muda tapi mampu menghadapi semua masalah yang menimpa dirinya dan keluarganya sendiri.

“Aku akan pulang besok, karena aku harus menemui para wartawan dan para penanam saham agar mereka tidak mengambil kembali saham mereaka. Beri aku semangat.” Aku tersenyum melihatnya mengepalkan tangannya dan kemudian mengangkat tagannya. Akupun mengikutinya.

Fighting oppa.. hati-hati.” Ucapku sebelum ia menutup pintu kamarku. Aku memejaman mataku berharap semua yang menimpaku dan keluargaku hanyalah sebuah mimpi buruk dan aku sangat berharap ketika aku terbangun nanti kebahagian datang menghampiriku dan keluargaku.

++Jae Pov End++

^^^^^

Hey chagi, apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Kwangmin pada kekasihnya yang sedari tadi hanya menatap nanar piring nasi di hadapannya. Jae tidak menanggapi pertayaan yang diluncurkan Kwagmin, melihat Jae tidak merespon pertanyaannya Kwangmin pun memegang tangan Jae yang tergeletak di atas meja. Jae langsung terkesiap kaget karena sebuah sentuhan lembut menyentuh punggung tangannya.

“Apa yang kau pikirkan hah?” Tanya Kwangmin lagi, namun Jae hanya tersenyum membalasnya.

“Berita itukah?”

‘Berita itukah?’ tidak, bukan, bukan hanya berita itu yang membuatku begini. Tapi..tapi ucapan ummamu juga yang membuatku begini. Aku berfikir kalau aku akan berpisah denganmu disaat aku membutuhkanmu disampingku oppa…’ Jae mengumpt dalam batinnya. Kemudian Jae mengangguk meng-iyakan pertanyaan, atau mungkin pernyataan yang Kwangmin ucapkan.

“Kau tidak usah sesedih ini, kau harus kuat supaya kau bisa menghadapi semuaya. Makanlah, lihat badanmu semakin kurus Jae.” Kata Kwangmin lagi masih dengan menggenggam tangan Jae, supaya Jae merasa tenang dan aman.

Oppa.. kau bilang kau ingin mengatkan sesuatu. Apa?” ucap Jae tiba-tiba, dengan segera Kwangmin melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Jae. Kwangmin menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal, Kwangmin terlihat sedang berfikir keras untuk mengucapkan sesuatu yang harus ia ucapkan kepada Jae.

“Mmm.. jika aku pergi apa kau akan baik-baik saja disini?” ucap Kwangmin tiba-tiba, seketika Jae membulatkan mata sipitnya.

‘Apakah ini..ini akhir dari kisahku? Apakah semua yang aku pikirkan aka benar-benar terjadi sekarang. Tidak..tidak…tidak Tuhan aku belum siap untuk berpisah dengannya sekarang, saat ini, esok ataupun…aku benar-benar ingin bersamanya selamanya..’ Jae membatin dalam kekagetannya.

“Jae-ya~” rengek Kwagmin menunggu jawaban.

“A..a..ak..a..aku.. baik-baik saja.” Jawab Jae terbata-bata, karena pikirannya masih melayang memikirkan sesuatu yang mungkin akan terjadi saat ini juga. Kwangmin kembali menggenggam tangan putih mulus Jae dengan erat.

“Besok aku harus pergi, aku mendapat tugas untuk mengurus klien di luar negeri. Apa kau tidak keberatan?” mendengar penuturan Kwangmin Jae menghembuskan nafas leganya, ia tersenyum manis sangat manis.

“Tentu saja tidak, asalkan kau tidak melirik gadis lain.” Jawab Jae dengan nada menggoda.

“Tenang saja chagi, aku tidak aka melirik gadis lain. Karena kaulah korbanku.” Ucap Kwangmin dengan sedikit tersenyum menyeringai.

“Korban? Kau kira kita sedang berada di sebuah drama? Kau memanfaatkaku hanya untuk menghacurkan keluargaku. Ahahaa.” Kwangmin ikut tertawa mendengar penjelasan Jae. Kini Jae melupakan sejenak setumpuk masalah yang menaungi kehidupannya, hanya dengan berada disamping pemuda yang sangat ia cintai.

^^^^^

“Kau yakin akan pergi dan melakukannya?” terdengar suara kesal seorang pemuda dari balik tembok ruang kerja.

“Aku yakin, untuk apa aku merencankannya selama ini, jika pada akhirnya aku menghentikannya disini.” Jawab pemuda yang tengah menghadap jendela di ruangan kerja itu.

“APA KAU TIDAK BERFIKIR TENTANG PERASAANNYA HAH? BODOH !!” Bentak pemuda yang tengah berdiri membelakangi pemuda yang sedang memandang kota dari balik jendela.

“Ya apa kau juga tidak merasakan betapa tulusnya mereka menerimamu?” ucap seorang pemuda dengan suara bashnya yang tengah duduk di sofa ruang kerja megah itu. Pemuda yang menghadap jendala tadi membalikan tubuhnya dan mendekati pemuda yang berdiri membelakanginya tadi dan mencengkram kedua bahu pemuda itu dengan tersenyum kecut.

“Untuk apa aku memikirkan itu semua? Apakah orang tua bodoh itu juga memikirkan perasaanku, kau dan umma saat ia melakukan aksinya?” suara pemuda itu terdengar lirih dengan memberi penegasan pada kata ‘orang tua bodoh itu’ pada kalimat yang ia lontarkan.

“Satu langkah lagi, aku akan tersenyum bebas seperti KAU !!” Ucap pemuda itu lagi sambil mengarahkan jari telunjuknya pada pemuda yang duduk di sofa.

“Lihat, ia sudah menelfonku. Jadi tunggu apa lagi.” Kata pemuda itu dengan santai sambil menunjukan layar ponselnya kepada dua pemuda yang menjadi rekan debatnya.

^^^^^

“Maaf siang-siang begini aku memintamu untuk datang kesini.” Terdengar suara parau wanita paruh baya itu dan kemudian tersenyum pada gadis yang baru saja datang menghampirinya. Gadis itu membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya wanita paruh baya itu, yang langsung diberi gelengan oleh gadis berambut pendek dengan mengenakan baju berbahan sipon cream dengan memakai setelan rok hitam setengah lututnya.

“Kau tau berita yang sedang menjadi topic utama di kota ini bukan? Ya orang itu adalah kedua orang tuaku, yang mereka katakan itu benar walau tidak semuanya.” Ucap gadis itu dengan dibarengi butiran-butiran bening yang keluar dari kelopak matanya.

“Mereka orang tuaku memang mengalami depresi yang berkepanjangan. Kau tau mungkin mereka frustasi. Dan begitupun aku..” lanjutnya yang kemudian terisak semakin keras, wanita paruh baya itu merengkuhnya dalam pelukan. Wanita paruh baya itu ikut mengeluarkan butiran bening dari matanya.

“Dan bahkan satu bulan yang lalu putramu meninggalkanku. Mungkin dia malu menjadi seorang kekasih dari anak koruptor sepertiku. Atau mungkin kau yang memintanya..” ucapnya lagi disela isakan pedihnya. Wanita paruh baya itu menggeleng dan semakin mempererat pelukannya. Setelah beberapa menit mereka berada dalam situasi mengharukan kini mereka duduk disebuah rumput hijau dan empuk yang tumbuh dengan subur disebuah bukit yang dipenuhi dengan bunga endelweis, mereka sama-sama memandang lurus ke depan dengan air mata masih sesekali menetes.

“Aku belum menceritakan masalalu kelam putraku padamu bukan?” gadis itu-Jae menggeleng.

“Aku akan ceritakan semua apa yang sebenarnya terjadi padamu.”

+++TBC+++

Cerita di chapter 3 ini pendek ya? Iya emang, author sengaja supaya kalian para Readers penasaran sama cerita gaje yang author buat. “aihahaha plak” ^^

Nah jadi apa cerita selanjutnya? Sebenarnya ada apakah dengan masalalu Kwangmin??

Terimakasih yang sudah mau baca FF gaje saya ini, mohon kritik dan sarannya #BOW

This entry was posted by boyfriendindo.

4 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] End of Story – Chapter 03

  1. aduh tor,,q mkirx kok mrk di pemakaman ya?aduh,salah mgkn ya.aduh,masak kwangmin oppa ninggal sih#aduh kayakx enggak deh.aduh,3 namja siapa sih,minwoo oppax bwt apa,aduh.#garukkepala,,,kebnyakan aduh mending lanjut>,<< i like it!

    • sebelumnya terimakasih sudah mau baca FF saya ^^
      mereka bukan di pemakaman ko, mereka di taman. Kwangmin meninggal?? ehehee kwangmin masih hidup, 3 namja itu? wah kurang tau ya.. ehehee
      lebih jelasnya tunggu saja kelanjutan ceritanya OK !!😀😀

  2. pemuda yg menghadap jendela itu Kwangmin.?

    pemuda yg membelakangi pemuda yg menghadap jendela itu youngmin.?

    trus pemuda yg duduk di sofa itu minwoo?

    bener ato salah, ato malah kebalik2?

    • sebelumnya terimakasih sudah nyempetin baca FF saya ^^

      ahahaa bisa jadi, atau mungkin emang benar ? lihat saja nanti kelanjutannya.😀😀 siapa sebenarnya mereka.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: