[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 04

Tittle  : Flower Boy : Bookstore – Chapter 04
Author      : Z. Zee
Genre Friendship, Mysteri, dan Romance
Rating : PG-17
Type : Chapter
Casts  : ~ Kwangmin

  ~ Minwoo

  ~ Jungkook (BTS)

  ~ Ahn Jae Hyun

  ~ Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)

  ~ Park Tae Rin

  ~ Etc

CHAPTER 4 :THIS IS JUST MISSION (MAYBE?)

            “Oppa, siapa yeojayang berlari bersamamu kemarin di koridor sekolah?”

“Eh, itu… temanku.”

“Hanya teman? Tapi sebelumnya aku tidak pernah melihatmu bersamanya. Bukankah dia si gadis misterius itu? Bagaimana kau bisa mengenalnya?”

“Waktu itu aku hanya kebetulan berada di perpustakaan. Aku juga baru saat itu bertemu dengannya. Karena dia teman sekelas Minwoo, jadi dia temanku juga.”

“Oh, begitu. Syukurlah. Aku merasa lega sekarang. Mianhae Kwangmin oppa, aku datang ke sini bukan untuk membeli buku tapi hanya ingin bertanya hal itu padamu. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok di kelas.”

“Sampai jumpa juga, Bomi-ya!”

 

Kwangmin menghela napas lega setelah melihat Bomi sudah keluar dari SweetPaper. “Yeoja itu benar-benar gila. Masih saja tidak mau menyerah.”

Minwoo menepuk bahu Kwangmin pelan. “Semua siswa laki-laki satu sekolahan, sangat ingin bisa dekat dengan Bomi. Sedangkan kau malah menjauhinya. Aku tidak habis pikir, yeoja terpopuler sepertinya bisa terang-terangan menyukaimu dan tidak pernah menyerah meski kau menolaknya berkali-kali.”

“Masa bodoh. Itu bukan urusanku,” jawab Kwangmin asal sambil berjalan meninggalkan Minwoo.

“Aish… neon babocheoreom, Jo Kwangmin!” teriak Minwoo.

Park Tae Rin tertidur pulas di atas sofa. Dia terlalu lelah hari ini. Bukan tubuhnya, tapi hatinya. Dia capek terus bersabar menghadapi siswa perempuan satu sekolah yang tiba-tiba membencinya. Tidak masalah kalau hanya membenci. Tapi bagaimana kalau sudah sampai ke tahap penyerangan?

Lokernya dicorat-coret dan dimasukkan bangkai tikus di dalamnya. Tae Rin juga sempat terjatuh karena sengaja disandung. Kedua lutunya sekarang ditempel dengan plester. Belum lagi saat pelajaran olahraga, bola voli yang seharusnya terbang di atas net malah melayang ke kepalanya. Meskpun Namjoo sudah memarahi semua murid yang menganggunya, itu tetap tidak membuat perasaannya membaik.

Hanya gara-gara ‘insiden di koridor’ kemarin. Apa itu tidak terlalu berlebihan?

 

Jae Hyun menatap lekat Tae Rin yang tertidur pulas. Pandangannya tidak mau beralih dari wajah Tae Rin yang terlihat sangat tenang. “Kau tetap cantik saat tidur. Andai saja aku masih SMA, aku bisa mengikutimu di sekolah, bisa terus menjagamu, dan tidak akan kubiarkan kau kelelahan sampai seperti ini.”

 

Air mata mengalir perlahan dari ujung mata Tae Rin yang masih terpejam. Bibirnya tampak bergerak seperti mengucapkan sesuatu. Sayangnya Jae Hyun tidak bisa mendengarnya. Tanpa sadar tangannya tergerak mendekati wajah Tae Rin. Diusapnya perlahan air mata yang membasahi wajah Tae Rin. Jantungnya semakin berdetak tak karuan, ketika Jae Hyun baru sadar jarak wajah mereka yang sangat dekat.

 

“Eheemmm…. Maaf mengganggu. Tapi sekarang saatnya hyung kembali bekerja. Kau sudah terlambat 15 menit. Apa kau tahu betapa bosannya aku menunggumu? Tidak tahunya malah sedang…”

“Diamlah, Jo Kwangmin! Tidak perlu kau suruh juga aku akan ke sana.”

“Baguslah. Cepatlah turun. Fansmu sudah tidak sabar menunggumu di depan toko.”

Jae Hyun segera beranjak dan pergi daripada harus berurusan dengan orang ini.

 

Kwangmin mendengus kesal dan buru-buru duduk di sofa. Sekarang dia duduk menghadap Tae Rin yang masih tidur. Tanpa sengaja Kwangmin melihat cairan bening yang meluncur tiba-tiba dari kedua mata Tae Rin. “Cih! Katamu aku menangis saat tidur, ternyata kau sama saja. Tapi…apa itu gara-gara aku?”

 

Untuk mengabaikan sejenak rasa bersalahnya, Kwangmin memutuskan untuk membaca manhwa yang ada di dekatnya.

 

Tubuh Tae Rin mulai bergerak. Matanya perlahan terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah Kwangmin yang sedang duduk sambil membaca. Tae Rin masih bisa melihat mata Kwangmin yang tersembul di atas manhwa yang sedang dipegangnya. Matanya yang besar menatap tajam buku di depannya. ‘Apa matanya selalu terlihat seperti itu saat sedang serius?’ batin Tae Rin.

“Sudah puas mengamatiku?” Kwangmin menutup buku itu dan mengalihkan pandangannya ke Tae Rin. “Kau pikir aku tidak sadar kalau kau sudah bangun sejak tadi? Aku sengaja membiarkanmu melihatku sampai puas. Apa aku setampan itu sampai kau tidak mau berpaling?”

Tae Rin segera bangkit dari sofa. Ditiupnya asal poni yang menggantung di dahinya. “Mworago? Tampan? Aku tidak pernah menganggapmu tampan sekalipun. Dasar narsis!”

 

“Bersihkan dulu matamu baru bicara.”

Tae Rin terlihat bingung dengan apa yang baru saja Kwangmin katakan. Dipegangnya bagian bawah matanya. Ujung jarinya menjadi basah.

“Apa kau mimpi buruk? Kau menangis saat tidur.”

Tae Rin merasa pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Hey, itu kan…“Yaa!! Jangan mencuri kalimatku!”

“Karena itu tidak dipatenkan sebagai kalimatmu, jadi setiap orang bisa menggunakannya dengan bebas bukan?”

“Pokoknya jangan mengembalikan pertanyaanku. Aku juga tidak akan menjawabny….”

Mianhae,” potong Kwangmin tiba-tiba. “Aku sudah merusak kehidupan damaimu di sekolah. Sekarang banyak orang yang membencimu gara-gara aku.”

“Eoh?? Tidak perlu dipikirkan. Waktu itu kau hanya ingin menyelematkanku. Aku tidak akan menyalahkanmu. Yeoksi… kau sedang berpikir kalau aku menangis gara-gara hal itu?”

 

NE! Meskipun aku tahu itu bukan salahku, tetap saja aku merasa bersalah. Bahkan kau menangis saat tidur. Dan itu semua mungkin karena aku.’ Sebenarnya itu adalah kalimat yang ingin diucapkannya. Tapi apa jadinya kalau Kwangmin benar-benar mengatakannya? Pasti Tae Rin akan tertawa puas saat ini juga.

 

A…aniyo. Aku hanya ingin minta maaf karena telah membuatmu terkenal tiba-tiba. Bukankah kau tidak suka dikenal banyak orang?”

“Ooh,” jawab Tae Rin pendek sambil mengangguk paham, pura-pura mengerti.Namun terlihat wajahnya menyiratkan ekspresi tidak percaya.

_______________

 

Hyung, sampai kapan kita terus seperti ini?”

“Entahlah. Tunggu saja perintah dari atasan.”

“Kau selalu berkata seperti itu.”

“Lalu apa lagi yang bisa kukatakan? Kita tidak bisa bertindak sembarangan tanpa perintah. Aku tidak mau kita ketahuan dan gagal dalam misi ini.”

 

Oppa, i’m coming!!” teriak seorang gadis yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Tidak bisakah kau datang dengan biasa saja? Suaramu bisa memecahkan gendang telingaku,” ucap namja yang tampak lebih pendek dari satunya.

“Di mana anggota yang lain, mereka belum datang?” tanya yeoja itu, mengabaikan perkataan namja yang baru saja memarahinya.

“Kau lupa? Mereka kan diminta untuk membantu kelompok lain,” jawab namja yang satunya.

“Oh iya. Aku lupa,” jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “ Akhir-akhir ini tugas bertiga kita hanya mengawasi si putri dengan kelima pengawalnya itu. Aku mulai bosan, oppa. Sudah berapa lama ya tanganku tidak terkena darah? Aku sampai lupa.”

“Aku tidak bisa membayangkan reaksi orang mengetahui yeoja manis sepertimu ternyata maniak darah,” ucap namja yang lebih pendek.

“Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Rasanya ada kesenangan tersendiri saat bisa menghabisi mereka satu-persatu dengan tanganku sendiri.”

_____________________

 

Tae Rin POV

Aku benci tatapan itu. Aku benci saat aku harus mengulangi hal yang sama seperti dulu. Saat orang-orang menatapku penuh kebencian. Tidak bisakah mereka bersikap biasa saja? Itu hanya masalah kecil yang dibesar-besarkan. Mereka terlalu berlebihan.

 

Gwaenchanha?” tanya Namjoo mengagetkanku.

“Jangan menanyakan hal yang sama lagi padaku. Aku muak mendengarnya.”

Mianhae, Tae Rin-ah. Aku hanya khawatir melihatmu melamun terus. Bahkan kau tidak sadar kalau kita sudah melewati kelas sejak tadi.”

“Eh, jinjjayo?” Kulihat keadaan di sekelilingku. Namjoo benar, ini bukan koridor yang biasa kulewati untuk masuk ke kelas. Sudah terlewat sangat jauh. Bagaimana aku bisa tidak sadar? “Kenapa kau baru bilang sekarang?”

“Sebenarnya aku ingin mengatakannya sejak tadi, tapi kau terlihat sedang serius memikirkan sesuatu. Aku jadi ragu ingin…”

“Eh??” Tiba-tiba seseorang menarik tanganku sebelum Namjoo menyelesaikan ucapannya. Menggenggam tanganku sangat erat. Sekeras apa pun aku mencoba untuk melepaskannya, tetap tidak berhasil.

“Yaa, Jo Kwangmin! Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku sekarang juga!”

 

Kwangmin mengabaikanku dan terus menarik tanganku. Apa dia mau membuatku mendapat masalah yang lebih besar lagi? Berani-beraninya dia tidak menuruti perintahku. Awas saja, tunggu pembalasanku.

 

Kwangmin membawaku masuk ke dalam kelasku. Mendudukkanku dengan paksa di atas kursi yang biasa kutempati.

“Jangan melamun terus. Jaga dirimu baik-baik, ya. Aku harus segera masuk ke kelas,” ucapnya sambil mengacak rambutku pelan. Dia langsung pergi setelah mengatakan itu.

Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku. Mukaku terasa panas. ‘Eiitt… Apa yang baru saja kau lakukan, hah? Kau berani memegang rambutku yang berharga ini, eoh??’ teriakku dalam batin.

 

Bagus, Jo Kwangmin! Sekarang aku menjadi bahan tontonan satu kelas. Ah, bukan hanya satu kelas. Tapi murid kelas lain juga berebut datang untuk melihat ‘drama’ secara live.

Kulihat Minwoo yang berdiri di pintu kelas dengan melongo. Kwangmin berjalan dengan santai mendekatinya.

“Kwangmin-ah, mwohaneun geoya?”

“Aku hanya tidak ingin Tae Rin diganggu oleh murid lain. Jadi aku harus lebih dekat dengannya, kan?”

Jawaban Kwangmin terdengar jelas di telingaku. Bagaimana tidak? Dia mengatakannya dengan lantang dan penuh percaya diri. Minwoo menganga semakin lebar. Kwangmin mendorong sedikit Minwoo untuk memberikannya jalan.

 

“Kkyyaaa….!!! Jo Kwangmin, aku membencimu!!” teriakku tiba-tiba. Cepat-cepat kusembunyikan wajahku dengan tas. Aku tidak mau melihat reaksi orang lain terhadapku. Mungkin fans-fansnya akan semakin membenciku.

 

Kwangmin POV

Entah kenapa tanpa sadar aku melakukan hal itu. Mmm…anggap saja untuk menjalankan misi dengan baik (mungkin), menjaga dan melindungi putri Presiden Park. Hanya saja cara ini di luar kendaliku. Apa salahnya? Yeah, semoga saja itu bukan suatu kesalahan.

 

Flashback-START-

Kulihat Tae Rin dan Namjoo sudah berjalan melewati kelasnya. Mau ke mana mereka? Apa mungkin dia mau masuk ke kelasku? Mungkin untuk menemuiku. Eh, tapi sejak tadi aku, Minwoo dan Jungkook berjalan jauh di belakang mereka. Jelas-jelas aku belum berada di kelas. Ini tidak mungkin juga.

Kami berjalan mengikuti mereka. Tae Rin dan Namjoo terus saja berjalan meski ini sudah sangat jauh melewati kelas 2-3.

“Sebenarnya Tae Rin-nuna dan Namjoo-nuna mau pergi ke mana?” tanya Jungkook.

Molla…” jawabku dengan terus memperhatikan Tae Rin. Kulihat dari arah yang berlawanan datang Bomi bersama dengan teman-temannya. Aku bukannya narsis, tapi mereka semua adalah fansku. Fans labil yang bertindak berlebihan, apalagi saat ada perempuan lain yang dekat denganku. Kuyakin mereka ingin menghampiri Tae Rin. Terlihat jelas dari mata Bomi yang terus menatap tajam ke arah Tae Rin. Ini tidak bisa dibiarkan! Mereka pasti akan melakukan hal buruk pada Tae Rin.

Dengan sekuat tenaga aku berlari menghampirinya, kutarik tangan kanan Tae Rin yang menggantung bebas. Tidak peduli meski Tae Rin terus meronta ingin melepaskan diri. Kucengkram semakin erat tangannya supaya tidak terlepas. Aku hanya ingin membuatnya terhindar dari Bomi dan yang lain.

Flashback-END-

 

Baru saja akumenempati kursiku, seseorang memanggil namaku dengan berteriak. Ah, pasti orang itu lagi.

“Kwangmin oppa, aku butuh penjelasanmu sekarang juga.”

Museun iriya? Pagi-pagi sudah berteriak tidak jelas. Sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai. Kau harus segera kembali ke kelas, Bomi-ya.”

Andwae! Jawab pertanyaanku dulu baru aku mau pergi. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Tae Rin?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu.”

“Kalian pacaran?”

“Tidak juga.”

“Lalu apa? Jangan membuatku penasaran setengah mati.”

“Itu bukan urusanmu, Yoon Bomi.”

Oppa, kau menyebalkan!” ucapnya sambil berlalu.

Syukurlah kalau dia sudah pergi. Bisakah dia tidak datang menggangguku sekali saja?

 

Author POV

 

Nuna, Tae Rin-nuna!! Jangan tinggalkan kami. Kenapa jalanmu cepat sekali?”

“Aku tidak peduli.”

“Tae Rin-ah, seharusnya kita berbelok di perempatan tadi. Sebenarnya kau mau ke mana?” tanya Namjoo dengan berteriak supaya Tae Rin bisa mendengarnya.

Tae Rin menghentikan langkahnya. Dia membalik tubuhnya dan menatap empat orang di depannya dengan penuh emosi. “Aku tidak bilang mau pergi ke toko buku itu, kan? Aku mau pulang ke rumah sekarang juga! Dan juga aku tidak akan pernah pergi ke sana lagi sebelum orang yang bernama Jo Kwangmin meminta maaf padaku.” Tae Rin mengarahkan telunjuknya ke Kwangmin.

“Karena aku tidak merasa telah membuat kesalahan, aku tidak mau minta maaf padamu,” jawab Kwangmin santai.

Lalu dengan cepat dibalas jitakan keras dari Minwoo. “Lakukan saja apa susahnya? Kenapa kau suka sekali mencari masalah?”

“Aku tidak mau minta maaf padanya. Titik!” Kwangmin membalikkan badan dan pergi menjauhi mereka.

 

“Tae Rin-nuna, tunggu kami!” teriak Jungkook tiba-tiba.

Karena terlalu sibuk dengan Kwangmin, mereka sampai tidak sadar kalau Tae Rin sudah kembali melanjutkan perjalanan. Mereka harus berlari untuk mengejar Tae Rin yang berada jauh di depan.

_______________

 

Kwangmin masuk ke dalam toko dengan menggerutu. Jae Hyun yang sedang berdiri di bagian kasir menatap heran Kwangmin yang pulang sendirian.

“Di mana yang lainnya?”

Kwangmin menghentikan laju kakinya. “Tae Rin tidak mau ke sini. Dia pulang ke rumahnya. Minwoo, Jungkook, dan Namjoo ada bersamanya. Kau tidak perlu khawatir. Mereka bisa menjaganya dengan baik,” jawabnya tanpa menoleh ke arah Jae Hyun.

“Apa itu gara-gara kau? Aku sudah dengar semuanya dari Jungkook. Kelakuanmu membuat posisi Tae Rin semakin terdesak. Seharusnya kau pikirkan baik-baik sebelum bertindak. Tidak bisakah kau sekali-kali menggunakan otakmu?”

Hyung cemburu?”

Mwo?

Hyung cemburu karena aku dekat-dekat dengan Tae Rin? Aku memang tidak ahli dalam hal ini, tapi aku tidak sebodoh itu. Dari caramu menatap dan memperlakukannya sudah terlihat sangat jelas, tanpa perlu aku tahu isi pikiranmu. Apa aku salah?”

“Jangan bicara seolah-olah kau tahu segalanya.”

“Ah ya, hampir saja lupa. Aku harus meminta Jong Woon-hyung untuk membantu di toko karena Minwoo dan Jungkook tidak bisa bekerja hari ini. Bisa repot nanti kalau hanya dua orang yang menjaga toko.” Kwangmin pergi begitu saja tanpa menggubris Jae Hyun yang sudah siap meledak kapanpun. Dengan cepat membuka pintu dan menutupnya dengan keras lalu segera naik ke lantai dua.

 

Kwangmin dan Jae Hyun seakan melupakan satu hal. Mereka di sana tidak hanya berdua. Ayolah, mereka berada di sebuah toko buku yang tidak pernah sepi pembeli. Sekarang para pembeli sedang sibuk berbisik-bisik mengenai hubungan Kwangmin dan Jae Hyun yang terlihat tidak akur. Di antara pembeli itu ada beberapa teman satu sekolah Kwangmin. Sepertinya rumor baru akan segera menyeruak.

____________________

 

Lima orang terlihat berjalan di sebuah lorong yang gelap dan sempit dengan tergesa-gesa. Sebuah pintu besar yang menghadang mereka terbuka otomatis. Tanpa basa-basi mereka lamgsung masuk ke dalamnya.

Ruangan dengan cahaya yang remang-remang. Siapapun yang masuk ke dalamnya pasti akan merasa sesak dan tidak nyaman. Tempat itu terbilang cukup rapi. Di setiap sisi dindingnya berjejer rak-rak tinggi yang tingginya hampir sama dengan dinding di ruangan itu. Di atas rak itu telah terpajang rapi tengkorak manusia yang jumlahnya tidak terhitung lagi hingga hampir menutupi seluruh dinding. Kalian salah jika berpikir itu tengkorak palsu. Itu asli!

Di salah satu sisi rak, terlihat seorang laki-laki sedang memegang lap dengan tangan kanan dan tangan kiri digunakan untuk memegang tengkorak. Dengan telaten dia membersihkan debu yang menempel di sana sambil sesekali menyeringai tipis. Mengabaikan sejenak anak buahnya yang sudah berada di situ.

Orang itu terlihat masih muda. Umurnya baru sekitar 25 tahun. Dia mengenakan jas hitam dan rambutnya disisir rapi. Wajahnya terlihat bersih dan tenang. Sama sekali tidak menyiratkan bahwa dia bukan orang baik-baik. Tidak akan ada yang mengira kalau orang ini adalah pemimpin organisasi pembunuh bayaran.

 

“Kenapa anda memanggil kami?” tanya namja berambut abu-abu. Dia adalah pemimpin tim itu.

“Aku punya sebuah tugas penting untuk kalian,” ucapnya sembari meletakkan tengkorak di tempatnya semula. Lalu berjalan ke kursi yang berada di tengah ruangan. Kursi itu di kelilingi meja di bagian kiri, depan, dan belakang. Di atasnya terdapat berbagai macam peralatan elektronik

 

“Culik putri Park Jung Soo secepatnya. Aku ingin kalian membawanya hidup-hidup. Kalian boleh saja membawanya dalam keadaan sekarat, tapi jangan sampai dia mati.”

“Kenapa kita tidak membawa kepalanya saja seperti biasanya?” tanya seorang gadis yang berdiri di paling kanan dari kelima orang tersebut. “Itu akan lebih mudah.”

“Kau memang tidak sabaran. Tidak asik kalau berakhir dengan cepat. Kita perlu sedikit bermain-main di sini. Aku ingin melihat orang itu terpuruk secara perlahan. Lalu mati pelan-pelan. Melihat orang itu tersiksa adalah bagian yang paling menyenangkan dalam hidupku,” ucapnya dengan diakhiri tawa yang terdengar mengerikan.

“Bagaimana dengan pengawalnya?” tanya pemimpin tim itu.

“Itu terserah kalian saja. Aku tidak peduli mereka mau hidup atau mati. Yang kubutuhkan hanya orang itu… dan lebih berhati-hatilah kali ini. Aku mencium ada mata-mata di sekitar kita.”

“Ada penyusup di dalam Big Dwarf? Siapa orang itu?” tanya si pemimpin tim lagi.

“Aku masih belum mengetahuinya. Orang-orang dari GLORIA memang tidak bisa diremehkan. Mereka sangat pintar menyembunyikan identitas aslinya.”

“Baiklah kalau begitu. Kami mengerti.”

“Jangan sampai gagal.”

“SIAP KETUA!” ucap kelima orang itu serempak.

Sang ketua menyunggingkan evil smile.

 

Mereka langsung keluar dari ruangan itu. Dua orang dari mereka terlihat berkeringat dingin. Jantung mereka berdua berdegup sangat cepat. Tapi wajah mereka terlihat seperti biasanya. Tenang dan dingin. Hingga tidak ada yang menyadari kalau mereka berdua sedang panik.

 

“Huh, aku selalu berkeringat dingin kalau bertemu dengan ketua. Entah kenapa kalau berada di dekatnya aku merasakan hawa yang tidak nyaman,” ucap salah satu di antara dua orang itu. Mencoba untuk tidak terlihat mencurigakan.

“Memang hanya oppapendek yang seperti itu? Kita semua juga sama.”

“Apa katamu? Aku pendek?”

“Dari anggota tim kaulah yang paling pendek.”

“Tapi kau yang terpendek di sini!” bentaknya.

“Itu tidak masalah karena aku perempuan. Tapi beda denganmu, oppa. Tinggimu bahkan tidak sampai 175 cm.”

“YAA!!”

“Bisakah kalian berhenti bertengkar? Suara kalian yang menggelegar itu benar-benar menggangguku,” ucap laki-laki yang rambutnya dicat oranye.

Leader tim kita pastinya sudah terbiasa bertemu dengan ketua. Dia terlihat paling santai di antara kita,” kata laki-laki berambut pirang.

“Kalian pikir aku tidak grogi, hah? Semakin sering bertemu dengan ketua aku semakin merinding tahu.”

“Hush, kecilkan volume suaramu, leader,” kata laki-laki berambut oranye.

“Arasseo…”

 

_TBC_

  

            Maaf kalau lama. Akhir-akhir ini lagi sibuk dan banyak tugas sekolah. Apalagi bentar lagi mau UKK. Jadi nyelesaiin ini agak dipending dulu. Gimana menurut kalian chapter ini? Semakin gaje kah? Author makin lama makin bingung nih nyusun kalimatnya supaya gak terkesan monoton *numpang curhat.

Pokoknya terima kasih buat yang udah mau baca ff gak jelas ini. Don’t forget to RCL!

This entry was posted by diahwch.

6 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 04

  1. lanjut thor~~kira” kapan ya lnjtnx?><
    hbs ukk thor?sama,ini mau ukk.haha
    authorx kls brapa ya?bias x siapa?#curious
    i like it!

  2. Author yang baikk..
    Aku udah 3 kali ngulang baca ff ni .. abisnya keren bingitzzzzzzz..
    Yang aku tunggu tentunya lanjutannya..
    Kapan thor ? Lanjut ff nya..
    Ni ff t.o.p pke bgt …
    Lanjut ya thor .. klo bisa secepatnya nee..
    Pensaran thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: