[FANFICT/FREELANCE] 100 Paper Butterflies

Tittle  : 100 Paper Butterflies
Author      : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Friendship dan Angst
Rating : T
Type : Oneshoot
Casts  : ~ Youngmin

  ~ Kai (EXO-K)

  ~ Kyung Hee

Cerita ataupun alurnya ataupun segala hal yang menyangkut disini hanyalah karangan fiktif belaka. Tak ada unsur pengalaman pribadi ataupun orang lain. By myself. FF ini pernah author publish dengan cast yang berbeda di akun facebook author J

-OOO-

 

Dalam hidup ini…

Aku mengenalmu…

Mengenal wajah lembut dan cerah untukku…

Kau bahkan malaikat mimpiku…

Tapi, aku menyukaimu…

 

Busan, August, 2007

 

Seorang pemuda tampan berwajah putih susu yang sedang menggendong tas ranselnya itu  terlihat asyik mengayuh sepeda klasik warisan ayahnya. Sepeda lama yang sudah menjadi sahabatnya selama menduduki bangku SMA. Sebut saja ia adalah Jo Young Min atau biasa dipanggil Youngmin.  Seorang lelaki yang baru saja menamatkan pendidikan menengah atasnya. Walau belum tahu ingin melanjutkan kemana, tapi Youngmin sudah menghabiskan waktunya untuk bekerja. Sebelum hari tes masuk perguruan tinggi dimulai, ia masih bisa berpikir untuk masa depannya sekaligus mengumpulkan uang kalau saja ia bertekad untuk melanjutkan pendidikannya hingga sarjana.

Youngmin adalah anak tunggal keluarga sederhana yang dikepalai oleh lelaki paruh baya bernama Jo Baek Min. Beliau sudah lama tidak bekerja karena harus mengurusi kesehatannya yang sudah lama mengidap penyakit ginjal. Sebenarnya Youngmin sedang tidak baik-baik saja, namun melihat wajah lelah ibunya, Youngmin hanya mampu menutupi ketidaksanggupannya.

Sore ini, setelah pulang dari tempat kerja, Youngmin akan memenuhi janji dengan sahabatnya. Seorang gadis buta yang hanya bisa melihat dunia melalui hati kecilnya. Sudah dari dua hari lalu mereka sepakat untuk bertemu di taman kota. Tempat dimana mereka bertemu sebelum akhirnya menjadi sepasang sahabat baik. Sejak awal mengenalnya, Youngmin telah berniat untuk tidak akan meninggalkan gadis itu. Ia selalu mengucapkan jikalau ia akan slalu ada di sisinya.

Sekarang Youngmin menambah laju sepedanya. Kakinya kian kuat mengayuh pedal sepeda usang itu.

“Aku akan membuatkannya sesuatu,” ucap Youngmin dengan hiasan senyum dibibirnya. Meski bukan kekasihnya, tapi ia sangat mencintanya. Karena tidak ingin hubungannya hancur, ia hanya mampu menyembunyikan hatinya dari gadis itu. Song Kyung Hee.

Youngmin-a, aku ingin melihatmu,”

Namun, hati Youngmin serasa tenggelam seakan hancur terbentur ombak pantai. Mungkin ia bisa tersenyum sekarang, tapi sebenarnya ia hanya mempermainkan perasaannya sendiri. Ia tidak bisa membuat Kyunghee melihatnya secara langsung. Mengabulkan permintaan orang yang dicintainya untuk memiliki mata sempurna yang dapat menggambarkan wajahnya.

-OOO-

Senja kala itu aku melihatmu tersenyum…

Seberkas cahaya yang hampir meredup mengindahkan pancaran matamu…

Andai… Aku mampu meraih lengkungan itu…

Kau akan bersamaku selamanya…

 

Hembusan angin sore menerpa rambut lurus nan kelam milik Kyunghee. Gadis itu sedang duduk sendiri sambil membawa sebuah bag kecil yang entah apa isinya. Kyunghee mengenakan dress se-lutut berwarna hitam. Rambutnya yang halus itu, berhiaskan bando berbentuk pita kecil di sebelah kanannya. Ia sedang menanti seseorang. Sosok yang sudah menemaninya sangat lama. Menerima kekurangannya sebagai gadis buta.

Kyunghee menarik napas dengan lamban, “Udaranya pas sekali,” ucapnya sembari menyisir rambut miliknya menggunakan sela-sela jarinya.

Kyunghee mengulas senyum saat ia mendengar dengan samar suara sepeda orang yang ditunggunya. “Dia datang,” gumamnya, lalu bangkit berdiri untuk menyambut sosok itu.

Chiiit~

Sepeda klasik yang terlihat usang di hadapan Kyunghee berhenti dengan elitnya. Si pengemudi tersenyum ketika melihat Kyunghee sudah menyambutnya dengan sebuah ukiran manis di bibirnya. “Apa aku terlambat sangat lama ?” tanya Youngmin. Benar. Kyunghee sedang menunggu Youngmin sedari tadi.

Kyunghee menggeleng pelan, “Aku tidak hanya menunggumu. Jadi, tidak terasa begitu lama,” Kyunghee merapikan dressnya.

“Lalu menunggu siapa lagi ?” tanya Youngmin sesaat setelah turun dari sepedanya. “Apa kita tidak berdua di sini ?” lanjutnya.

“Sedari tadi aku menunggu kupu-kupu di sini. Tapi, aku tidak merasakan mereka terbang kemari. Apa Youngmin lihat ?” Youngmin langsung menelusuri suasana di sekitarnya. Tak ada yang ia lihat kecuali bunga-bunga taman dan orang yang lalu lalang.

Youngmin memapah Kyunghee untuk kembali duduk di kursinya. “Mungkin kupu-kupunya sedang tidur, jadi belum datang,” ucap Youngmin sedikit bergurau.

Kyunghee menghadap ke arah Youngmin. Aura wajahnya terlihat sedih, “Andai saja aku bisa melihat, aku ingin mengunjungi sarang mereka,” lantas gadis itu tersenyum semampunya. Rasanya ada guratan sesal yang nampak dari wajahnya, namun Youngmin tak menggubrisnya.

“Aku mengambil sesuatu dulu ya,” Kyunghee mengangguk.

Youngmin berjalan ke arah sepedanya. Ia mengambil tasnya yang ia letakkan di kursi belakang. Kemudian, kembali duduk bersama Kyunghee.

“Apa kau ingin menyentuhnya ?” tanya Youngmin. Pertanyaannya membuat Kyunghee bingung. Bahkan gadis itu tak tahu apa yang sedang dimaksudkan oleh Youngmin.

“Maksudmu ?”

Youngmin membuka resleting tasnya, lalu mengambil sebuah buku tulis dan spidol hitam. Setelah dapat, ia membuka bagian tengah buku itu dan menariknya. Kyunghee mendengar suara robekan yang dibuat Youngmin. Karena tak tahu apa, ia hanya bertanya pada Youngmin. “Youngmin-a, kau sedang apa ?” tanyanya. Kedua bola mata Kyunghee melihat ke bawah. Tapi, tetap saja yang dilihatnya hanya gelap. Tak ada warna.

Untuk sejenak, Youngmin menghentikan aktivitasnya lantas menatap mata Kyunghee.

“Aku ingin membuat kupu-kupu kertas. Jika kau tak bisa mengunjungi rumah kupu-kupu yang ingin sekali kau lihat, kau bisa memegangnya. Tapi… Tak apakan hanya kupu-kupu kertas saja?” Youngmin bertanya ragu. Ia berharap Kyunghee mau mengiyakan kemauannya untuk membuat kupu-kupu kertas itu. Tapi, ia malah takut gadis itu tak menyukainya.

Kyunghee sedikit terhenyak mendengar tanya Youngmin. Namun, seakan mendapat pencerahan di otaknya, ia langsung mengangguk dengan semangat tanpa berpikir dulu.

“Aku juga ingin membuatnya,”

“Biar aku saja. Anggap saja sebagai permintaan maafku karena sudah membuatmu lama menunggu. Lebih baik kau makan ini saja, ya,” Youngmin memberikan dua bungkus roti isi coklat dan sekotak susu siap minum rasa stroberi. Kyunghee menerima pemberian Youngmin ragu-ragu. Ia tak enak jika mendapatkan ini semua setiap kali mereka bertemu. Tapi, tetap saja ia menerima. Lagipula, selama ini ia selalu menuruti apapun yang diminta Youngmin padanya. Ia jelas tak ingin mengecewakan Youngmin yang sudah menjadi sahabatnya.

“Youngmin-a, kau sudah makan ? Aku rasa, aku sudah kenyang dengan satu roti saja,” Kyunghee memberikan satu bungkus rotinya pada Youngmin. Namun, Youngmin menolaknya halus, “Makanlah yang banyak. Aku sudah kenyang,”

“Baiklah,”

-OOO-

Senyummu menjadi semangatku…

Saat kelam menghampiri kesibukanku…

Hanya ada ulasan senyummu yang hadir dalam do’aku…

Sebelum ku terlelap…

 

Youngmin’s POV

Kupu-kupu kertas yang tak akan hidup… Ijinkan aku membuat tubuhmu beserta sayapmu yang akan selalu kaku.

Kyunghee… Detik ini juga, seberapa lamanya aku membuat kupu-kupu kertas ini, aku harap kau bisa bersabar. Membuatnya bukanlah hal mudah, karena aku melakukannya dengan hatiku dan bukan hanya dengan kedua tangan rapuhku saja.

Niatku untuk membuat ini sudah lama ada padaku. Berharap mampu menyelesaikannya dengan hasil berjumlah seratus kupu-kupu kertas dengan warna berbeda. Mengapa aku membuatnya dengan jumlah seratus ? Andai kau bisa melihat, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Hal yang membuatku yakin jika sisa waktuku denganmu bersisa seratus hari lagi. Namun, aku selalu berharap pada Tuhan agar ia mau menambah angka nol sebanyak tiga butir pada angka seratus itu. Karena, aku ingin hidup lebih lama. Mengambil potret foto berdua denganmu yang sudah dapat melihat. Aku ingin, tapi sayangnya tak mungkin. Maaf, Kyunghee aku menyembunyikannya darimu.

Meski tak seindah pelangi seusai hujan sore, tapi lihatlah indahnya ketulusan hatiku untukmu. Seindah apapun pelangi yang ingin kau lihat, aku harap suatu hari nanti, saat kau sudah bisa melihat, kau juga mengindahkan karyaku ini. Karena seratus kupu-kupu kertas buatanku inilah yang akan menggantikanku saat aku telah kembali pada Tuhan dan bertemu Ibu kandungku.

Maka… Kelak jika aku telah pergi, kau tidak melupakanku. Tidak sedih karena aku meninggalkanmu. Berbahagialah, Kyunghee. Seperti bahagianya aku saat ini.

Youngmin’s POV end

-OOO-

Bermimpilah sejauh mana kau bermimpi…

Raihlah sampai mana kau akan tiba dan berhenti…

Aku selalu mengikutimu…

Mendukung nadi dan darahmu…

 

“Kyunghee-ya,” panggil Youngmin ketika karyanya telah selesai dibuatnya. Ia sedang membereskan alat dan bahan yang tadi ia gunakan.

Ia hanya mampu menyelesaikan 10 kupu-kupu kertas tanpa warna. Ia lupa membawa cat warna karena sejak awal pergi ia sudah terburu-buru. Dan, akhirnya memakai bahan yang ada saja.

“Kyunghee-ya,” panggilnya lagi. Namun, tak ada sautan dari si empunya nama itu. Saat Youngmin melihat gadis di sampingnya, ia terdiam. Ternyata Kyunghee sudah tertidur bersandar di kursi keras itu.

Youngmin menatap dengan tenang dan luwes. Ia bisa melihat wajah indah itu secara dekat saat ini. Wajah pemilik hati yang putih bersih itu tertidur sangat tenang sekali.

“Tidurlah yang nyenyak, Kyunghee. Saranghae,” Youngmin memberikan senyumannya. Disentuhnya kelopak mata Kyunghee sebelah kiri. Kala itu juga, ia kembali mengingat peristiwa buruk yang dialami Kyunghee. Di waktu satu tahun yang lalu. Meski hanya sekelibat saja, ia masih tak percaya dengan itu semua.

Youngmin beralih untuk meletakkan tasnya di sepeda. Diambilnya sweater miliknya yang sedari tadi tak ia pakai dan hanya ia gantungkan di rem sepedanya. Ia kembali duduk di kursi taman. Lalu, sedikit menggerakkan badan Kyunghee. Ia sandarkan kepala gadis itu pada pundaknya, kemudian menyelimuti tubuh Kyunghee dengan sweaternya.

“Seandainya kau bisa melihat, kau akan tahu bahwa banyak bintang yang selalu melihatmu di sana,” ucap Youngmin lirih sembari menatap ke atas langit kelam, melihat taburan bintang yang terhampar luas di angkasa. “Kyunghee…,”

Seakan ada yang mengganggunya, mata Youngmin beralih melihat bag kecil yang masih ada di genggaman tangan Kyunghee. Lantas ia mengambil bag itu dan memberanikan diri untuk membukanya.

Notebook… Pensil… Kotak obat… Bingkai…Eoh ! Ada tulisan di dalamnya,” ia menyebutkan satu per satu yang ia lihat di dalam bag Kyunghee. Saat menemukan hal yang menarik perhatiannya, ia raih bingkai itu dan membaca tulisan yang ada di dalamnya.

햇살닮은너의미소

Senyummu seperti matahari…

영원히머물러줘

Tinggallah di sisiku selamanya…

Youngmin berpikir sejenak. Ia seperti pernah mendengar kata-kata ini. Tapi, ia lupa. Lupa kapan ia pernah mendengarnya dan siapa yang mengucapkannya. Selintas suasana kala itu, ia makin kuat untuk mengingatnya. Hingga ketika yang ia coba untuk diingat perlahan muncul, seketika itu pula lenyap dengan peristiwa buruk satu tahun lalu.

AISH ! Kenapa hanya ada kejadian itu di otakku ?” Youngmin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Ia kembali melihat Kyunghee. Gadis itu masih tertidur pulas.

“Apa kau… Ah ! Tidak mungkin,” gerutunya sendiri. Ia hentikan semua kecurigaannyakarena ia tak mau memikirkan hal apapun tentang Kyunghee saat malam seperti ini.

Nampaknya Youngmin tak tahu jika ada sebuah kalimat yang tertulis pada salah satu sudut bingkai itu.

-OOO-

Kicau burung gereja terdengar bergemuruh pagi ini. Semburat warna orange mentari perlahan-lahan menjadi cerah bersinar mengawali pagi. Youngmin sedang menapik semua pikirannya yang sedang kalut. Sesekali ia meraih burung gereja yang hinggap di ranting pohon mapple di sampingnya. Sebenarnya ia sedang marah, marah sekali. Tapi sayangnya ego marah itu tak bisa ia tumpahkan sekarang. Ada saja yang ia bimbangkan untuk menghadapinya.

Segunung rasa sayangku padamu…

Harusku tumbuhkan selalu…

Seperti petani menuai padi setiap hari…

Maka aku menuai cinta untukmu…

Selamanya…

 

“Apa kabarmu, Youngmin ?”

Youngmin terkejut kala mendengar suara yang khas terdengar di telinganya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati sosok berpostur tinggi dengan kaki jenjangnya tengah berdiri tegap sambil menatapnya. Sudah lama sekali ia tak melihat sosok itu. Kini, tiba-tiba saja lelaki itu datang tanpa ia tahu.

Youngmin sedikit tak suka. Tapi kelihatannya bukan hanya tak suka, tapi benci.

“Ada urusan apa kau kemari ?” tanyanya sambil membelakangi lelaki itu. Rasanya Youngmin ingin meninggalkannya di sini. Sudah lama sekali ia tak melihatnya. Satu tahun lamanya.

Lelaki itu berjalan mendekati Youngmin. Ia menyamakan posisinya dengan Youngmin dan bersikap seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa. “Sudah lama tidak bertemu,  Jo Youngmin. Aku kemari hanya ingin berkunjung,” ucapnya, membuat Youngmin bertambah tidak suka.

Youngmin berdecak kecil. Ia melirik ke arah lelaki di sampingnya. Lalu membuang muka dengan cepat. “Setelah melihatku saat ini, beraninya kau kembali,” ucap Youngmin ketus. Hatinya sedang menahan amarah yang sudah berapi-api sekarang.

“Kau masih mengingat kejadian itu ?” tanya lelaki itu tanpa dosa. Youngmin masih bisa untuk menahannya, tapi jika satu kata menyakitkan itu keluar lagi, ia tak akan bisa menahannya lagi.

“Mana bisa melupakan itu semua,”

“Ingatanmu berfungsi dengan baik,” lelaki itu membuat muak suasana Youngmin. Namun, ia masih berusaha untuk diam.

“Aku kembali bukan untuk memintanya darimu,” lanjut lelaki itu.

Ya ! Kau pikir aku percaya ?” Youngmin terdiam sejenak. “Lalu untuk apa kau kembali ? Bukan memintanya dariku, tapi kau akan langsung mengambilnya ?” tanya Youngmin hingga sukses menohok hati lelaki itu. Youngmin sebenarnya sudah tak ingin membahas ini lagi, tapi untuknya mungkin ini hal yang bisa ia manfaatkan demi Kyunghee.

Sang lawan hanya tersenyum kecut.

“Kai-ya..,” seru Youngmin lirih. Lelaki bernama Kai itu menoleh pada Youngmin yang menatap bukit di hadapan keduanya.

“Hentikan semuanya,” lontaran kalimat Youngmin melunak, membuat Kai terhenyak. Keningnya sedikit mengerut, matanya menelusuri bola mata Youngmin meski dari arah samping.

Kai berbalik menghadap Youngmin, seakan meminta penjelasan. Ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. “Maksudmu ?”

Youngmin ikut menoleh dan memandang Kai penuh harap. “Hentikan semua yang ingin kau lakukan padaku. Kau kembali di saat yang tepat, Kai,” Youngmin menatap tajam ke arah Kai. Sedangkan Kai hanya menyelidik sebisanya.

“Aku tidak mengerti maksudmu, Youngmin-a,”

“Aku relakan dia untukmu, Kai,” Kai mendadak kelu dan terkejut. Ucapan Youngmin membuatnya mematung seketika. Ia tak mengerti bagaimana jalan pikiran Youngmin saat ini. Sudah lama ia meninggalkan Youngmin di sini, dan saat kembali ia harus dihadapkan dengan situasi membingungkan ini.

Youngmin tahu, yang ia ucapkan ada benarnya dan ada buruknya. Tapi, ia sudah bingung harus berbuat apa lagi. Ia pasrah dan menyerah. Rasanya inilah titik akhir dari semua yang sudahia lakukan.

“Kau ingin berlagak kuat ?! Kau menyukainya tapi kau memberinya pada orang yang sudah menyakitinya ? Kau bodoh ? Apa kau berlagak bodoh denganku ?” respon Kai terdengar menjatuhkan untuk Youngmin.

“Jika aku tidak melakukannya, aku akan menyesal,”

Emosi Kai mendadak naik, “Ya ! Kau menyerahkannya pada orang yang salah ! Kau lupa ? Saat itu, kau bahkan memukulku telak hingga aku hampir mati hanya untuk membelanya ? Kau sendiri yang mengatakan padaku agar aku menjauhinya ! hah ! Sekarang, kau ingin membuatnya seperti dulu ?”

“Apa kau tak bisa berubah sedikitpun ? Apa kau akan terus seperti… AAH !!!” teriak Youngmin kesal. Seketika kepalanya tertunduk. Penyakit itu kini sedang menyerangnya, namun Youngmin menahannya.

“Andai kau tau, Kai… Penyakit ini akan membunuhku,” ucap Youngmin dalam hati. Ia langsung berlari cepat menjauhi Kai, berniat kembali ke rumahnya.

“Hanya kau yang bisa membuatnya baik, Youngmin-a !!!” teriak Kai tak kalah kerasnya. Namun, teriakannya diabaikan begitu saja oleh Youngmin.

“Kai-ya..,”

“Kyunghee !” ucap Kai agak keras saat melihat siapa yang memanggilnya barusan.

-OOO-

Aku tak mau seperti ini…

Aku tak mau hilang…

Tak mau sendiri dan lenyap dihembuskan angin kesepian…

Berhenti dan membiarkan semuanya pergi…

 

Kai dan Kyunghee sedang berada di taman bermain anak-anak yang terletak di dekat bukit, tempat Kai dan Youngmin berdebat tadi. Mereka sedang mendudukkan tubuhnya pada ayunan yang ada di sana. Sambil mengayun-ayunkan alat itu, mereka memulai percakapan baru setelah satu tahun tak bertemu.

“Kapan kau sampai ?” tanya Kyunghee pada Kai. Kai yang hanya menundukkan pandangannya, masih merasa bersalah, akhirnya memandang Kyunghee. Jujur saja, ia sangat merindukan gadis itu.

“Aku sampai tadi malam. Bagaimana kabarmu ?”

“Kabarku baik-baik saja,”jawab Kyunghee seraya tersenyum pada lelaki di sampingnya.

Kai ikut tersenyum, namun senyum yang ia paksakan. Karena sebenarnya, rasa bersalah itu tak mampu membuat senyuman indah untuk Kyunghee.

“Apa yang terjadi ?” tanya Kyunghee. Mungkin ia heran, apa yang membuat Kai kembali pulang setelah pergi jauh meninggalkannya dan Youngmin.

Kai tak tahu harus menjawab apa. Yang ia tujukan pulang hanyalah untuk menyelesaikan masalahnya dengan Youngmin. Selama ia berada di Jepang, ia selalu dibebani oleh masalahnya dan kejadian lampau itu. Hal itupun sama dirasakan oleh Youngmin, walau sebenarnya yang salah adalah Kai.

“Aku tak boleh tahu, ya ? Baiklah, aku tak akan memaksa,” ucap Kyunghee merasa tak enak, seakan-akan ia bersikap berani pada Kai.

“Aku pulang ingin menjemput Ibuku,” jawabnya asal. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, pasti Kyunghee akan merasa sakit kembali.

Kyunghee hanya mengangguk menanggapinya. Ia menghentikan aksi berayunnya, kemudian ia merogoh tas sandangnya yang berukuran kecil. Dari tas itu, Kai melihat sebuah gantungan kunci yang tak asing baginya. Dan ia tahu apa maksud dari liontin yang tergantung pada gantungan kunci itu.

Setelah sukses mendapatkan apa yang ingin diambilnya tadi, Kyunghee langsung menyerahkannya pada Kai. Kai terhenyak. Ia menatap Kyunghee.

“Kenapa kau memberiku ini ?” tanya Kai merasa bingung. Dilihatnya benda yang baru saja diambilnya dari tangan Kyunghee. Sebuah benda berbentuk persegi berwarna pelangi dan di sudut kanannya tertulis nama lengkap Youngmin. Jo Youngmin. Ia sempat terkejut saat membaca tulisan yang ada di dalam bingkai itu.

Kyunghee bangkit berdiri dan mencoba memposisikan dirinya menghadap pada Kai yang terlihat bingung melihat gadis itu.

“Aku akan pergi ke Amerika untuk melakukan operasi mata. Kemarin siang, aku mendapat kabar tentang pendonornya. Kai-ya, tolong berikan itu pada Youngmin ya,” ujarnya memohon. Kai merasa sesuatu tumbuh di hatinya saat mendengar Kyunghee akan melakukan operasi mata. Perasaan senang itu kini bersarang di hatinya.

“Kenapa tidak memberinya langsung, Kyunghee-ya ? Apa kalian bertengkar ?” Kyunghee terkejut. “Tidak. Kami sama sekali tidak bertengkar. Aku hanya tak mau mengganggunya, setelah aku mendengar kalian berdua..,” Kyunghee menggantungkan ucapannya. Kai tau maksud dan arah kalimat itu. Jadi, ia tak meminta untuk dilanjutkan.

“Baiklah, akan aku berikan. Apa ada yang ingin kau titipkan lagi ?” tanya Kai meyakinkan.

Kyunghee terlihat bingung saat itu. Ada satu pesan yang ingin ia titipkan juga, tapi ia takut itu akan membuat Youngmin marah padanya.

Kai menepuk pelan pundak Kyunghee, membuat gadis itu tersadar dari pikirannya. “Aku akan menuliskan pesan itu di sebuah kertas,” Kyunghee merogoh tas kecilnya lagi. Ia mengambil sebuah notebook bercorak dan pensil warna yang ia gunakan biasanya. Dari sana, ia mulai menuliskan kalimat yang ingin ia ucapkan pada Youngmin.

Setelah selesai, ia melipat kertas itu dan memberikannya pada Kai. Kai menerimanya dengan senang. Semua yang ia pikirkan tentang keburukan karena masalah itu, pudar perlahan.

“Kyunghee-ya, aku minta maaf padamu,” sesal Kai bersuarakan kesenduan yang lirih.

Kyunghee meraih kedua tangan Kai dan mengucapkan hal yang sudah lama ingin ia sampaikan pada lelaki itu, “Aku sudah melupakannya, Kai. Tolong jangan meminta maaf lagi padaku,” Kyunghee tersenyum, lalu melepaskan pegangan tangannya dari tangan Kai.

“Terimakasih, Kyunghee. Semoga operasimu berjalan lancar. Semangat,” lonta Kai menyemangati gadis di depannya.

“Baiklah, aku pergi. Sampai jumpa lagi,” Kyunghee berjalan santai dengan menggunakan tongkatnya. Sebenarnya ia belum lega jika belum bertemu dengan Youngmin. Semalam, saat di taman ia ingin mengatakan tentang kepergiannya pada Youngmin. Tapi, ia malah tertidur hingga pagi menjemputnya sekarang. Andainya saja ia tak ketiduran, mungkin saat ini Youngmin sudah menemaninya ke bandara.

Kai melihat tubuh Kyunghee semakin jauh semakin mengecil. Ia merasa iba pada gadis itu. Waktu mudanya saat-saat sekolah kemarin tak dapat ia rasakan dengan bahagia. Ia sadar, ia telah membuat Kyunghee menderita saat itu. Menambah derita Kyunghee menjadi besar. Sekarang ia sadar bahwa ia menyukainya. Namun sayang, ia harus menutup rapat hatinya pada Kyunghee.

Kai memperhatikan kertas dan bingkai yang ia pegang. Ada rasa penasaran mengerumuni batinnya tat kala melihat kertas berwarna pink itu. Dengan niat ingin melihatnya untuk sekali ini saja, akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka dan membaca kertas itu.

100 paper butterflies

Saranghae ?” Kai terhenyak. Ia tak percaya dengan tulisan yang menampakkan kalimat itu.

“Kyunghee mencintai Youngmin ?” matanya membola ketika melihat gambar love di sana. Bahkan gambar itu terlihat rapi dan sempurna, “Aku benar-benar bersalah padanya,” ucapnya lirih.

-OOO-

Kapanpun aku kembali…

Yang ada hanya rindu…

Menyesakkan bagiku saat melihat semua yang ada di sini…

Haruskah aku mengkhirinya ?

 

Youngmin berbaring lemah di ranjang kamarnya. Ia tak sendiri. Ia sedang ditemani oleh ibu tirinya. Sang ayah sedang beristirahat di ruang keluarga. Dipikiran Youngmin saat ini masih sama. Hanya ada Kyunghee dan penyakitnya. Bahkan untuk memikirkan masa depannya ia sudah tak bisa. Ia merasa sia-sia untuk mempertahankan semuanya.

“Youngmin-a..,” sang Ibu memanggilnya dengan suara lembut. Tergambar jelas bagaimana raut wajah wanita paruh baya itu. Youngmin menoleh pada sang Ibu. Ibu tiri yang sangat ia sayangi.

“Kau mau ke rumah sakit ? Biar Ibu antarkan,” ucap sang Ibu sambil memijit kaki Youngmin keduanya. Youngmin mencoba untuk duduk dan bersandar. “Tak usah, Bu. Aku baik-baik saja,” ucapnya. Bibirnya terlihat pucat pasi. Namun ia mencoba tersenyum untuk Ibunya.

“Ibu akan membuatkanmu makanan, istirahatlah,” sang Ibu lantas meninggalkan Youngmin, ia berjalan lamban menuju pintu. Tiba-tiba saja ia berhenti dan memandang Youngmin lagi. “Minumlah obatmu, Youngmin,”

Youngmin terkejut. Tubuhnya tak lagi bersandar sempurna. Penuturan Ibunya membuat ia sedikit was-was. “Walaupun sebentar lagi, setidaknya Ibu masih bisa melihatmu, Nak,” ucap sang Ibu dengan nada suaranya yang terdengar bergetar.

Youngmin mendadak gusar, “I… Ibu tahu ?” tanyanya penasaran.

“Jangan memikirkan apapun. Ibu akan kembali,” sang Ibu langsung berbalik dan beranjak keluar dari kamar Youngmin.

Youngmin menghela napas beratnya. Ia melihat ke luar jendela yang ada di sebelahnya. “Sebelum genap seratus hari nanti, kuharap Tuhan menggantinya dengan musim dingin,” ucapnya lirih saat melihat cuaca di luar rumah yang sedang gerimis walau cuaca begitu cerah.

-OOO-

Melupakanmu bukanlah yang aku inginkan…

Sejauh manapun langkah kaki ini…

Hanya kemarilah aku kembali dan pulang…

Apa kau menungguku ?

Sama seperti saat-saat aku selalu menunggumu…

 

“Kyunghee sudah pergi,”

“MWO ?”

“Seminggu yang lalu ia  ingin menemuimu, tapi ia berpikir kau sedang tidak mau diganggu,”

“Diganggu ?”

“Ya, saat aku baru tiba dan menemuimu di bawah bukit. Dia mendengar semua pembicaraan kita, Youngmin-a”

Youngmin terdiam sesaat setelah Kai mengatakan kebenaran atas kepergian Kyunghee.Ia menyesal. Ia merutuki penyesalan yang kini hinggap di hatinya. Merasa kecewa juga sedang dirasakannya. Setelah sekian lama menunggu untuk bisa mengantarkannya pergi operasi mata, inilah hasil penantiannya. Hasil yang bernilai nol dan sama artinya itu semua sia-sia.

Setelah pertemuannya dengan Kai, selama kurang lebih seminggu, Youngmin tak pernah keluar rumah. Ia berdiam diri di kamarnya atau kadang menemani Ibu dan Ayahnya di ruang keluarga. Ia sadar, saat-saat ia terpuruk itulah adalah waktu akhir untuknya. Saat itu adalah hari ke-86 hingga kini adalah tepat hari ke-94nya di dunia. Ia bahkan tak ingat untuk membuatkan Kyunghee 100 kupu-kupu kertas. Ia takut, ia tak bisa melihat Kyunghee untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi.

“Youngmin-a,” panggil Kai ketika melihat perubahan wajah Youngmin yang mendadak panik saat ini.

“Kai, aku harus pulang. Aku lupa membuat sesuatu,” ucap Youngmin gusar. Ia langsung mengambil sepedanya dan mendorong sepeda itu.

“Kau ingin membuat apa ???” teriak Kai sekencang-kencangnya.

Youngmin mulai menaiki sepedanya. Ia membalas teriakan Kai, “Untuk Kyunghee !” teriakan Youngmin semakin kecil terdengar karena ia mulai jauh dari Kai.

“Kyunghee ? Kenapa dia akhir-akhir ini sangat aneh ?” Kai berkutat dengan pikirannya. Ia kembali melihat Youngmin yang sudah terlihat sangat mengecil di matanya.

-OOO-

Malam ini Youngmin bertekad untuk bisa menyelesaikan kupu-kupu kertasnya. Jam menunjukkan pukul 23.19 KST. Youngmin masih bisa berjaga dengan mata yang berpandarkan cahaya cerahnya. Hingga waktu menunjukkan pukul 23.50 KST, Youngmin masih semangat membuat karya sederhana itu. Kini jumlahnya sekitar 86 kupu-kupu kertas dengan warna yang berbeda-beda meski ada yang terlihat sama.

Tiba-tiba saja kaca jendela kamarnya ada yang mengetuknya. Sejenak, ia terdiam dan menghentikan aktivitasnya. Di dengarkannya lagi suara ketukan itu hingga sebuah nama terdengar di telinganya.

“Youngmin-a, kau mendengarku ?” tanya orang itu dengan suara lirihnya.

Youngmin menghela napas leganya. Ia sempat bergidik ngeri ketika mendengar ketukan itu. “Lelaki yang menjengkelkan,” Youngmin langsung beranjak ke arah jendela kamarnya. Saat telah sampai, ia langsung membuka jendelanya, menampakkan seorang Kai yang sedang merasa kedinginan karena hawa malam yang menyengat sangat dingin.

“Kenapa kau malam-malam kemari, hah ?” sergah Youngmin mencibir Kai yang makin tak tahan dengan hembusan angin di sekitarnya.

Ya ! Kau tak menyuruhku masuk ? Aku bisa mati kedinginan di sini,” ucap Kai dengan suara getarnya. Youngmin mengangguk menandakan Kai untuk masuk ke dalam.

“Jika bukan karena Kyunghee, aku tak akan ke sini,” ujar Kai membuat Youngmin terkejut. Ia menampakkan bag kecil berisikan pemberian Kyunghee yang dititipkan padanya seminggu yang lalu.

“Letakkanlah di ranjangku,” ucap Youngmin menanggapi datangnya bag kecil mungil yang dibawa Kai.

Youngmin berjalan ke arah meja belajarnya diikuti dengan Kai. Ia kembali membuat kupu-kupu kertas yang bersisa 14 buah lagi. Kai yang tak tahu menahu, hanya melihat aktivitas Youngmin.

“Banyak sekali. Kau ingin membuat berapa, hah ?”

Youngmin tersenyum dan menjawab pertanyaan itu, “Seratus kupu-kupu kertas,”

Mulut Kai menganga, “Hah ? Seratus ? Untuk apa kau membuatnya ? Kau mau menampilkan pertunjukkan ? Perlu aku bantu ?” tanya Kai bertubi-tubi, membuat Youngmin malas mendengarnya. “Terserah apa katamu. Lakukanlah yang kau bisa,” Youngmin mendelik pada Kai, kemudian melanjutkan kegiatannya.

Youngmin’s POV

Kai

Maafkan aku pernah membuatmu terluka waktu itu. Aku tak tahu seberapa banyaknya kesalahanku padamu. Menjadi sahabatmu adalah anugerah terindah yang kuterima dari Tuhan. Walaupun kau pernah membuat hatiku pedih pula, tapi setiap aku berpaling menjauhimu, aku selalu kembali ke tempat semula. Di dalam ruang yang hanya ada aku dan dirimu.

Kai-ya…

Jangan pernah membenciku saat aku merasa benci padamu. Aku bukan membenci, tapi aku sedang kesal. Tak pernah bisa aku membiarkan diriku sendiri muak padamu. Tapi, entah kenapa, saat mengingat kejadian itu aku lupa. Lupa bahwa aku tak mau benci denganmu.

Terimakasih, Kai. Jagalah dirimu baik-baik. Waktuku tinggal beberapa hari lagi. Kumohon jadilah teman hidup Kyunghee untuk seterusnya, bahkan selamanya.

Youngmin’s POV end

Kai dan Youngmin menghabiskan tengah malamnya dengan membuat kupu-kupu kertas. Sebenarnya Kai tak tahu sebab apa Youngmin melakukannya. Tapi yang jelas, ia bisa menangkap suatu hal dari sikap Youngmin ini. Ia tahu, Youngmin tak akan pernah bisa memaafkan kejadian waktu itu. Tapi, Youngmin bersedia menerimanya kembali asalkan semua masalah lalu ia perbaiki.

“Kai-ya,”

Nde..,”

Mereka berdua kini sedang berbaring di lantai kamar Youngmin yang beralaskan karpet berbentuk persegi. Setelah selesai mengerjakan karya Youngmin itu, keduanya hanya saling berdiam diri hingga akhirnya Youngmin membuka suara.

Keduanya menatap langit-langit kamar Youngmin.

“Youngmin-a..,”

“Uhm..,”

“Untuk apa kau membuat seratus kupu-kupu kertas itu ?” Youngmin terkejut seketika. Namun, ia mencoba bersikap biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.

Youngmin menelaah jauh ke belakang, saat ia pertama bertemu Kyunghee di taman kota.

Flashback on

Seorang gadis belia dengan rambut panjangnya yang lurus halus itu terlihat menundukkan kepalanya. Ia sedang duduk di atas rerumputan hijau yang di sekelilingnya tumbuh bunga mawar putih. Disampingnya terbaring sebuah tongkat yang tidak terlalu panjang berwarna cokelat.

“Permisi, apa aku boleh bertanya ?” seorang lelaki yang kelihatannya seumuran dengan gadis itu sedikit membungkukkan badannya. Ia mengenakan seragam SMA berwarna putih putih dengan blazzer hitam yang melengkapi bajunya. Merasa tak dihiraukan, lelaki itupun menepuk pundak si gadis dengan pelan.

Akhirnya gadis itu mendongak dan memandangnya tanpa ekspresi apapun. Namun, terlihat bekas air mata di wajahnya.

Lelaki itu diam ketika air mata kembali mengalir di pipi gadis itu. Ia menjadi panik dan merasa tak enak karena sudah mengganggunya.

“Siapa ?” tanya gadis belia itu. Lelaki muda berwajah polos itu malah terkejut memandangi gadis itu. Ada yang aneh yang ia lihat.

Gadis itu menggerakkan kepalanya ke arah kanan dan kiri. Ia seakan mencari sesuatu. Kelihatan seperti tak melihat lelaki itu di sana.

Saat melihat keanehan itu, si lelaki mengibaskan tangan kanannya ke depan wajah si gadis. Apa yang ia dapat ? Pertanyaannya terjawab ketika gadis itu menanyakannya lagi, “Siapa ?”

Lelaki itupun mendudukkan tubuhnya, menyamakannya dengan si gadis. “Aku di sini,” ucapnya sambil memegang lengan gadis itu.

Gadis itu sedikit terkejut, kepalanya terarah lurus di depan lelaki itu. “Ka…Kau siapa ?” tanyanya sedikit takut.

“Kenalkan, aku Jo Youngmin. Kau bisa memanggilku, Young,” jelas lelaki bernama Youngmin itu pada gadis di sampingnya. Ia melepaskan pegangannya dan menatap gadis itu sambil tersenyum.

Gadis itu terlihat kikuk. “Salam kenal. Aku Song Kyung Hee. Panggil saja Kyunghee,” gadis itupun tersenyum. Membuat parasnya nampak cantik di mata Youngmin. Saat itu juga, Youngmin merasa memiliki teman baru.

“Kau kenapa menangis ?”

“Aku tersesat, Young. Awalnya aku mengira aku bisa pulang ke rumah. Memang, aku belum menghafal jalan ke sini, makanya aku jadi seperti ini,” Kyunghee menjelaskan dengan menampakkan wajah sedihnya.

Youngmin terkekeh, “Jadi kau sedang belajar menghafal jalan ke sini ? Untuk apa ?”

Gadis itu membenarkan posisi duduknya lalu mulai menceritakan kejadian awal kenapa ia bisa sampai seperti itu.

“Ehh, ketika aku kembali lagi tadi sore, aku jadi lupa arahnya pulangnya ke kanan atau ke kiri. Padahal kemarin Ayah sudah membantuku mengingat,”tutur Kyunghee mengakhiri cerita panjangnya.

Youngmin yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama, barulah ia mengerti ternyata gadis bernama Kyunghee ini adalah seorang gadis buta yang baru kemarin mendapatkan tongkatnya dari sang Ayah karena sudah diperbolehkan pergi sendiri.

“Ya sudah. Aku akan mengantarkanmu pulang. Beritahu aku, dimana alamat rumahmu,”

“Tapii…,” Kyunghee ragu.

“Tenanglah, aku ini orang baik. Aku tak akan mengurangi organ tubuhmu sedikitpun, hehe,”

DDUAK !!! Kyunghee memukul lengan Youngmin dengan tongkatnya.

“Ternyata kau kuat juga, ya,”

“Hehehe,” Kyunghee tertawa dengan nyamannya. Youngmin hanya memperhatikan gadis itu tertawa kecil. Melihatnya tertawa seperti itu, Youngmin menjadi perhatian padanya. Iapun mengucapkan janji dalam hatinya.

Young, kau adalah teman pertamaku. Aku senang bisa mengenalmu,”

“Terimakasih. Naiklah ke punggungku, aku akan membawa tongkatnya,”

“Aku tak akan melupakan kebaikanmu, Young,”

“Iya… Iya,”

Itulah mereka. Awal perjumpaan manis untuk Youngmin. Tak ada gadis selain Kyunghee yang mampu merubah perasaannya.

Flashback end

Ya ! Kau memikirkan apa ? Kau tak menjawabku,” gerutu Kai pada Youngmin yang sedari tadi hanya diam sambil memikirkan sesuatu yang tak Kai ketahui.

Youngmin menoleh pada Kai, “Aku membuatnya sebagai hadiahku untuk Kyunghee,”

Kai menyelidik, ia belum mengerti dengan alasan itu, “Memangnya dia sedang berulang tahun hari ini?”

“Tidak. Aku hanya ingin membuatnya. Kai-ya, saat ia kembali, tolong kau berikan itu semua padanya,” pinta Youngmin sambil menunjuk kotak yang telah ia isi kupu-kupu kertas bersama Kai tadi.

Kai makin bertambah bingung. “Kenapa bukan kau saja ?”

“Kau akan tahu nanti,” Youngmin tersenyum. “Saatnya tiduuuuur,” ucap Youngmin agak keras sambil berdiri untuk mengambil bantal di ranjangnya. Kai hanya memperhatikan Youngmin dengan tatapan meminta penjelasan, tapi setelah melihat lelaki itu, ia jadi mengurungkan niatnya.

Saat Youngmin hendak mengambil bantal dan selimut, bag kecil yang dibawa Kai tadi berhasil mengurungkan niatnya. Tanpa berpikir panjang, Youngmin langsung mengambil bag itu dalam posisi telah duduk di atas ranjangnya.

Youngmin membuka bag itu. Dikeluarkannya satu per satu yang ada di dalamnya. Sesaat terdengar suara Kai bernyanyi, tapi tak ia hiraukan.

Betapa terkejutnya Youngmin ketika melihat bingkai foto berisi tulisan yang ia baca di taman waktu itu. Saat ia duduk berdua bersama Kyunghee di taman kota. Ia telusuri setiap sudut bingkai berwarna pelangi yang dipegangnya. Saat sebuah nama terukir di sudut sebelah kanan, ia berhenti menelusuri. Tulisan itu berada dalam posisi horizontal

Kyunghee dan Youngmin

Detik itu pula ingatan Youngmin tentang tulisan yang ada di dalam bingkai itu kembali masuk ke memorinya. Tulisan itu mengingatkannya pada suara lembut Kyunghee. Kala itu, Kyunghee bernyanyi di depan teman-teman kelasnya. Karena mendapat tugas dari sang guru, Kyunghee akhirnya menyanyikan lagu itu.

Walau hanya dua baris lirik yang tertera di dalam bingkai itu, tapi Youngmin merasa senang. Sangat senang. Ternyata, perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.

Pandangan Youngmin beralih pada secarik kertas berlipat yang berbaring di sampingnya. Ia melirik Kai yang masih asyik bernyanyi saat ini.

Saranghae,” ucapnya dalam hati saat membaca tulisan tangan Kyunghee. Rasa bahagianya bertambah banyak saat melihat gambar berbentuk hati dengan warna merah di sana. Youngmin tersenyum. Ia tersenyum bahagia saat ini. Namun, tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa menggerogoti tubuhnya. Semua tulangnya terasa sakit. Ia mencoba bertahan untuk menahan rasa sakit yang kian mengganas itu. Ia berusaha menggerakkan badannya mendekati lemari kecil tempat ia meletakkan obat-obatnya. Karena terlalu lemah dan semakin tak berdaya, ia tak dapat berbuat banyak. Akhir dari segalanya hanya tubuh Youngmin yang telah terkulai di lantai kamarnya.

-OOO-

Seratus kupu-kupu kertasku…

Temanilah dia hingga Tuhan menjemputnya pula…

Warnailah hidupnya serta kedua bola matanya yang indah…

Jangan kalian tinggalkan dia seperti aku meninggalkannya…

Jadikanlah tubuh kalian sebagai penghibur duka di hatinya…

Tuhan…

Terimakasih atas nyawa yang pernah kau berikan untukku…

Meski aku harus rela melepaskan semuanya…

Tapi aku bersyukur karena Kau telah mengabulkan permintaanku…

Terimakasih atas waktu seratus hari itu meski masih bersisa lima hari untukku…

Aku sudah tak sanggup menjalaninya untuk lima hari ke depan…

Terimalah aku kembali pada-Mu, Tuhan…

Dan…

Terimakasih atas musim dingin yang kini kau berikan…

Kyunghee… nado saranghae…

-OOO-

Busan, August 2013

 

Kyunghee tengah berusaha menahan air matanya agar tak keluar dari muaranya. Cukup kuat ia menahan perih yang mendobrak hatinya. Ia sedang terduduk di samping makam Youngmin sambil memperhatikan nama yang tertera di nisan makam Youngmin tersebut. Youngmin meninggal pada tahun 2007 akhir bulan Agustus. Ketika itu, Kyunghee baru akan melakukan operasi di Seoul Hospital.

Tak terasa sudah enam tahun ia tak bersama Youngmin. Ia masih tak percaya dengan semua yang ada di hadapannya saat ini. Ia merasa kesal karena tak ada seorang pun yang memberitahunya. Padahal, ia selalu berharap jika ia bisa melihat, ia ingin melihat wajah Youngmin dalam waktu yang lama. Sama seperti apa yang diharapkan Youngmin padanya. Namun, kenyataannya harapan itu tak bisa terwujud. Tuhan lebih memilih Kyunghee untuk melihat wajah Youngmin melalui figura photo.

Ia menyesal karena tidak cepat kembali. Waktu itu, setelah operasinya berhasil, ia harus melanjutkan sekolahnya di bangku universitas di Seoul. Itulah yang membuatnya tak sempat pulang untuk memberi kabar baik tersebut dan melihat Youngmin untuk yang terakhir kalinya. Sekarang, tak ada yang patut ia sesali lagi karena semua sudah terjadi. Jauh ketika ia masih di Seoul.

“Young, aku merindukanmu. Terimakasih untuk kupu-kupu kertas yang sudah kau buat. Aku akan selalu menyimpannya,”

“Beristirahatlah dengan tenang, Young. Aku selalu mencintaimu,”

Hanya itulah yang dapat terlontar darinya saat ini. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi karena Youngmin sudah tak akan kembali. Meski begitu, ia tak akan melupakan Youngmin. Tak akan pernah.

“Kyunghee-ya, Ayah sudah menelefon kita,” ucap Kai yang baru saja tiba di sana. Sebenarnya, ia menunggu Kyunghee di mobil karena ingin memberikan gadis itu waktu terakhir bersama Youngmin, walau hanya bertemu dalam keadaan dunia yang berbeda.

“Youngmin-a, besok aku dan Kai akan menikah. Maaf jika aku jarang menengokmu lagi,”

Kyunghee bangkit berdiri. Untuk terakhir kalinya ia menatap foto Youngmin yang tergambar jelas di hadapannya. Ia memberikan senyumnya sebelum benar-benar pergi dari peristirahatan terakhir Youngmin.

햇살닮은너의미소

Senyummu seperti matahari…

영원히머물러줘

Tinggallah di sisiku selamanya…

 

——————————————END——————————————

This entry was posted by boyfriendindo.

5 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] 100 Paper Butterflies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: