[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 05

Title 
Chance – Chapter 05
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : PG – 13
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Sena

Main Casts 
: ~ Ji Hoon (Kakak Sena)

  ~ Rin (Lawan Main YoungKwang di Drama)

Author Note    : Ya, ya, lagi2 aku minta maaf karena butuh waktu lama untuk update. Dan juga maaf kalau bagian ini benar2 buruk & membosankan. Semoga cukup memuaskan. Terima kasih. J Happy #3yearswithBoyfriend!!

 

CHAPTER 5

 

Sena sudah tidak berada di kamarnya ketika aku bangun. Aku ingin mengirim pesan untuk menanyakan keadaannya, tetapi dia meninggalkan ponselnya di apartemenku. Aku menemukannya tergeletak di dekat bantal.

“Bagaimana aku mengembalikannya?”

Tidak ada jadwal syuting apa pun hari ini. Aku berencana menemani Youngmin seharian. Semoga saja Sena tiba-tiba muncul di rumah sakit. Aku masih belum mengetahui tempat tinggalnya.

Kuambil sisa teh jahe di dalam kulkas, lalu menenggak habis semuanya. Aku merasa tidak enak badan pagi ini. Sudah beberapa kali aku bersin. Padahal bukan aku yang kehujanan semalam.

Mataku tertuju pada ponsel Sena yang ada di depanku. Tiba-tiba muncul niat untuk melihat-lihat isinya. Kalau itu ponsel Sena yang lama, aku tidak perlu penasaran, karena aku tahu pasti apa isinya. Tanganku sudah terulur, tetapi ponsel itu berdering, dan mengangetkanku. Sehingga ponsel Sena terlepas dari tanganku.

“Astaga, bagaimana kalau tadi aku tidak sengaja melemparmu jauh-jauh? Mengagetkan saja.” Aku mengomeli ponsel Sena yang belum berhenti berdering.

Tidak ada nama dari si penelepon. Takut itu telepon penting, aku pun mengangkatnya.

“Halo, Kwangmin? Ponselku ada bersamamu kan?”

Ternyata Sena yang menelepon ponselnya sendiri. Mengapa dia yakin sekali ponselnya ada padaku? Sengaja aku mengerjainya dengan menjawab bahwa aku adalah seorang pelajar, dan aku tidak mau mengembalikan ponselnya.

“Aku mengenali suaramu Kwangmin. Lagi pula mana mungkin ponselku mendadak berpindah tempat dengan sendirinya. Selera humormu buruk sekali.”

Aku tertawa. “Kau ini ceroboh dalam segala hal ya? Di mana kau? Aku ke rumah sakit… hmmm… satu jam lagi. Kau bisa menemuiku di sana.”

“Me… nemuimu?” Suara Sena mendadak terdengar seperti orang yang gugup.

“Apa sebaiknya aku menjual ponselmu ini?”

“Bukan begitu! Baiklah, kita bertemu di rumah sakit. Jaga baik-baik ponselku! Sampai jumpa.”

Obrolan singkat kami berakhir. Sekarang aku tahu ponsel Sena tidak terkunci. Rasa ingin tahuku pun bertambah. Maafkan aku karena tidak bisa melawannya lagi.

Sebenarnya aku bisa saja mengecek pesan dan hal-hal lain yang lebih pribadi, tetapi aku cukup tahu diri untuk tidak melakukannya. Aku hanya melihat-lihat isi galeri foto miliknya.  Satu per satu aku membuka folder yang ada di dalam.

Sena lebih banyak memotret seekor anjing daripada dirinya sendiri. Tetapi ada satu fotonya yang kusukai. Rambutnya ikal terurai di foto itu, dan dia memakai topi. Dia berjongkok di sebelah seekor anjing besar berbulu coklat. Aku tidak tahu apa jenisnya, karena aku tidak pernah tertarik memelihara anjing. Dia menoleh ke arah anjing itu, sementara si anjing menatap kamera sambil menjulurkan lidahnya.

Dari foto itu aku menyimpulkan, bahwa Sena bahagia di dalam dunia barunya.

Aku menutup folder bernama Sena. Masih tersisa tiga folder lain. Dan mataku terpaku pada sebuah folder bernama K.

“K?”

Aku membukanya. Detik pertama aku mengetahui isinya, dadaku terasa sesak. Isi folder itu membuat mataku membulat lebar. Foto-fotoku tersimpan rapi di dalamnya. Tidak ada fotoku yang menghadap kamera. Sena memotret semuanya secara diam-diam.

Ada tiga buah fotoku yang Sena ambil saat kami berdua keluar membeli makan siang. Dia memotretku dari belakang. Itu saat aku berpura-pura menerima telepon dari Rin. Ada juga fotoku yang sedang duduk di kamar Youngmin dirawat, dan saat aku syuting dengan banyak balon. Dan, dua foto terakhir benar-benar membuatku kehabisan kata-kata. Aku nampak memejamkan mata di foto itu. Ya, dia mengambilnya semalam ketika aku tertidur di sofa.

Pasti fotoku di dalam ponselnyalah yang menjadi alasan nada khawatir di balik suara Sena tadi.

Untuk apa dia menyimpan fotoku?

Aku mendesah. Tangan kananku menggenggam kuat ponselnya. Kubiarkan foto-foto itu tetap ada dan berpura-pura tidak pernah melihatnya.

***

 

Youngmin sudah bisa beranjak dari tempat tidurnya. Kata dokter, besok Youngmin boleh meninggalkan rumah sakit. Tidak ada luka yang perlu dikhawatirkan.

“Aku ingin sekali ke persewaan komik,” ujar Youngmin.

“Tidak, sampai aku yakin kau benar-benar sembuh, Hyung.”

“Wooow… kau mulai seperti eomma, Kwang.” Youngmin mengikik.

Bagaimana aku tidak berlebihan mencemaskan keadaannya? Aku pernah hampir kehilangan Youngmin sekali, dan itu tidak boleh terulang lagi.

“Ah, Hyung, ada yang mau kutanyakan. Kenapa kau bisa tertabrak?”

Youngmin menggaruk kepalanya. “Ituuu…”

Mendengar suara pintu terbuka, kami sama-sama menoleh ke arah pintu. Sena muncul sambil melambaikan tangan. Youngmin tidak meneruskan ucapannya. Dia dan Sena bertukar sapa. Senyum lebar muncul di wajah Youngmin, menandakan dia memang sudah menunggu kedatangan Sena. Sementara saat bertatapan denganku, Sena tersenyum canggung.

“Mana ada orang yang terlambat lebih dari sepuluh jam? Aku menunggumu, tapi baik kau ataupun Kwangmin tidak ada satupun yang datang,” protes Youngmin. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

“Tapi aku sudah memberitahumu Hyung. Kau tahu sendiri hujan turun sangat deras semalam.”

“Oh, maaf aku lupa memberitahumu Oppa. Aku kehujanan dan merasa tidak enak badan. Sampai di rumah aku langsung tidur.”

Kami tidak membuat kesepakatan untuk mengarang jawaban seandainya Youngmin bertanya mengapa kami sama-sama tidak datang semalam. Ternyata Sena mampu mengimbangi alasan yang kukarang. Aneh, kenapa aku merasa kami berdua seperti pasangan selingkuh yang takut ketahuan?

“Hyung, aku pergi ke bawah sebentar. Aku belum sempat sarapan.”

“Aku juga! Tidaaaak… apa-apa kan?”

“Terserah kau.”

“Apa-apaan kalian ini, baru saja datang sudah meninggalkanku lagi.”

“Mau kubelikan sesuatu?” tanyaku pada Youngmin.

“Pastikan saja kau ingat untuk kembali, Kwang. Kau juga Sena.”

Aku tidak mungkin mengembalikan ponsel Sena di depan Youngmin setelah kebohongan yang kami karang. Aku yakin seratus persen Sena bisa membaca maksudku itu. Dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikutiku keluar. Selain itu aku memang membutuhkan sarapan.

“Bagaimana jika bukan aku yang menemukan ponselmu? Dasar ceroboh.”

“Iya, aku tahu, terima kasih. Kau… tidak melihat-lihat isi ponselku kan?”

“Apakah kau berharap aku melakukannya?”

“Tidak!”

“Ooooh… jangan katakan kau ini salah satu anggota mata-mata yang sedang menyamar?”

Sena mengabaikan ucapanku. Kedua matanya terfokus pada ponselnya. Mungkin dia perlu meyakinkan dirinya, apakah ada yang berubah atau tidak. Aku sampai di depan lift lebih dulu. Aku berhenti berjalan secara mendadak. Karena tidak melihat ke depan, Sena pun menabrakku.

“Aaaww! Kenapa kau berhenti?”

“Itulah akibatnya kalau kau tidak melihat jalan. Kenapa? Kau mendapat misi rahasia?”

“Hah? Apa aku harus menjawabnya?”

“Begini, aku akan membeli sarapan di luar, kau kembali saja dan tolong temani Youngmin.”

“Kau… mempunyai janji sarapan bersama seseorang?”

“Hmmm…” Sebenarnya aku memang sengaja ingin meninggalkan Sena dan Youngmin berdua saja. “Anggap saja begitu,” jawabku akhirnya.

“Rin?”

“Kenapa kau banyak bertanya? Apa kau ini wartawan? Masuklah.”

“Orang yang sangat ramah,” sindir Sena.

Sena berbalik, lalu berjalan kembali ke arah kamar Youngmin. Baru beberapa langkah, aku memanggilnya.

“Sena! Ada pesanan?”

“Apa saja,” jawab Sena tanpa membalikkan badan.

Sekarang aku bingung harus ke mana dan melakukan apa. Aku menendang-nendang pelan dinding di depanku dengan ujung sepatu. Sempat terpikir untuk mengajak Rin bertemu, tapi kuurungkan niat itu.

Lift terbuka. Dua orang wanita berjas putih dan seorang pria bersama anak lelakinya keluar dari dalam lift. Aku masuk dan melanjutkan obrolan dengan pikiranku mengenai tempat sarapan di dalam lift.

***

 

*Youngmin POV*

 

“Kenapa kau kembali?” tanyaku ketika melihat Sena muncul dari balik pintu.

“Kwangmin memintaku menemanimu. Dia pergi membeli sarapan di luar. Katanya dia memiliki janji.”

“Rin?”

“Wah, kau membuatku merinding Oppa. Aku juga menanyakan hal yang sama, tapi Kwangmin tidak menjawabnya.”

“Mungkin dia hanya tidak mau orang lain mengetahuinya.”

Entah mengapa aku sengaja mengatakan hal itu. Seolah-olah menegaskan bahwa Kwangmin dan Rin memiliki hubungan khusus. Ya, tapi aku memang berharap Sena berpikir begitu.

Aku tidak tahu apakah ini berarti aku menyukai Sena. Hanya saja, setiap kali melihat Sena lebih dekat dengan Kwangmin, aku merasa hal itu tidak boleh terjadi. Aku sendiri belum mengerti. Perasaan itu muncul begitu saja.

Sama seperti hari di mana aku mengalami kecelakaan.

Aku mencari-cari keberadaan Kwangmin saat itu. Berkali-kali kucoba menghubungi ponselnya, tetapi tidak ada jawaban. Aku menanyakannya pada Rin, dan dia memberitahuku bahwa Kwangmin menemani Sena membeli makan siang. Kemudian, sopir Sena datang tanpa mereka berdua.

Pikiranku tiba-tiba kosong. Aku sungguh tidak bisa menerjemahkan perasaanku saat itu. Hanya satu hal yang terpikir olehku. Sena memilih Kwangmin.

Aku berjalan menuju mobil untuk menenangkan diri. Tetapi, karena pikiranku kacau, aku tidak melihat kedatangan mobil salah satu kru. Sebenarnya aku memiliki cukup waktu untuk menyingkir, tetapi mendadak muncul bayangan sebuah kecelakaan di dalam pikiranku. Sebelum aku sadar, aku sudah tertabrak.

Mendapat kesempatan berdua saja dengan Sena saat ini, aku memanfaatkannya untuk tahu lebih banyak tentangnya.

“Sejak kapan kau menulis skenario? Apa ini skenario drama pertamamu?”

Selama tiga detik Sena nampak terkejut. Dia memberikan sepotong apel yang baru saja dia kupas padaku.

“Ya, ini drama pertamaku. Aku senang sekali kalian berdua yang memerankannya.”

“Apa kau tidak ikut ambil alih dalam pemilihan para pemain?”

Sena menggelengkan kepala.

“Oppa, apa kau dan Kwangmin sangat dekat?”

Aku tersedak mendengar Sena menyebut nama Kwangmin. Dia menuangkan air putih, lalu memberikannya padaku.

Kenapa kami harus membahas Kwangmin? Apa hanya Kwangmin yang ada di pikiran Sena?  Tidak bisakah dia tidak mengingatnya saat bersamaku?

“Ya. Mungkin kami lebih dari dekat. Ada apa?”

“Bukan apa-apa. Selama ini, aku belum pernah mempunyai teman yang kembar. Karena itu awalnya aku kesulitan membuat karakter. Sungguh, aku senang bisa mengenal kalian berdua.”

“Apa kalau aku tidak kembar kau tetap akan merasa senang?” Tanpa sadar aku bergumam pelan.

“Apa yang kau katakan Oppa?”

“Oke, terima kasih.”

Aku bicara apa tadi? Bodoh.

Aku tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan Sena.

“Hmm… apa kau dan Kwangmin sering bertengkar?”

“Tidak juga. Lagi pula kami cepat berbaikan.”

Tentu saja aku tidak ingat apa aku pernah bertengkar dengan Kwangmin sebelumnya. Yang kubicarakan pada Sena adalah masa setelah aku amnesia. Aku jadi ingin mengetahui hal itu juga. Tapi mengapa Sena terus menanyakan bagaimana hubunganku dengan Kwangmin? Jangan-jangan sebentar lagi dia akan bertanya apakah Kwangmin memiliki seorang kekasih.

“Apa… kalian pernah menyukai orang yang sama?”

Apa kami pernah?

Pertanyaan itu sempat terlintas di pikiranku, hanya saja aku tidak menanyakannya pada Kwangmin. Apa mungkin sebentar lagi kami akan memulainya? Menyukai orang yang sama? Apakah saat ini Kwangmin menyukai Sena? Aku takut akan memperoleh jawaban iya, jika aku menanyakan hal itu padanya.

“Kurasa tidak. Tipe perempuan yang disukai Kwangmin berbeda denganku. Apa sekarang giliranku bertanya?”

“Ah, oke, rasanya aku sudah terlalu banyak bicara.”

“Maukah kau menemaniku pergi menonton film?”

“Hanya… kita berdua?”

“Hmmm… ya… anggap saja sebagai ucapan terima kasih khusus dariku. Kau keberatan?”

“Apa tidak masalah kau pergi ke tempat umum bersamaku Oppa?”

“Jadi itu yang kau khawatirkan? Aku menyamar dengan baik, kau tidak perlu takut mendapat serangan dari fansku.”

“Oke. Beritahu aku saat kau memiliki waktu luang Oppa.”

Selagi Sena dan Kwangmin tidak memiliki hubungan apa pun dan tidak menyimpan perasaan apa pun satu sama lain, aku ingin memanfaatkan kesempatan itu baik-baik. Lebih baik lagi kalau akhirnya aku bisa mengusir Kwangmin dari pikiran Sena.

***

 

*Kwangmin POV*

 

Setiap kali harus makan seorang diri, aku lebih suka berada di tempat yang tidak ramai. Tidak bertemu siapa pun, dan hanya sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku memilih masuk ke sebuah restoran yang khusus menjual aneka jenis sup. Perutku membutuhkan sesuatu yang hangat.

Tepat di sebelah restoran ini, terdapat kedai ayam goreng. Benar sekali, aku memilih membeli ayam goreng sebagai menu sarapan Sena.

Aku duduk menghadap pintu masuk. Seorang perempuan berkaca-mata hitam yang baru saja masuk mencuri perhatianku. Aku mengenalnya. Kebetulan kadang memang terasa lucu.

Rin berjalan mendekati tempatku duduk. Begitu dia melewati mejaku, dan menyadariku sedang melempar senyum padanya, dia pun berhenti. Melepaskan kaca-matanya, lalu menyerukan namaku. Campuran antara senang dan terkejut. Aku berani bersumpah ini semua hanya kebetulan. Aku bukan berubah pikiran, kemudian sengaja meminta Rin datang.

Tanpa kuminta, Rin menarik salah satu kursi di depanku.

“Sarapan sendirian?” tanya Rin.

“Seperti yang kau lihat. Kau sendiri?”

Rin hanya mengenakan hotpants jeans yang dipadukan dengan atasan bermodel seragam baseball yang kebesaran. Rambutnya pun hanya diikat asal, dan tidak ada riasan di wajahnya. Oke, harus kuakui, meski tanpa riasan Rin tetap terlihat cantik.

“Aku sengaja ingin makan sup. Restoran ini salah satu favoritku.”

“Ajaib sekali,” gumamku pelan.

“Apa yang ajaib?”

“Bukan apa-apa. Kau punya jadwal hari ini?”

“Hanya ada satu jadwal pemotretan sore nanti. Sekarang kau berubah menjadi fans yang mencoba mencari tahu jadwalku?”

Aku tertawa mendengar pertanyaan yang dia lontarkan. Rin ingat aku pernah memberikan pertanyaan itu ketika dia mulai banyak bertanya tentangku.

“Kapan Youngmin oppa keluar dari rumah sakit?”

“Besok. Kata dokter semua lukanya sudah sembuh.”

“Berita bagus. Kau akan ke rumah sakit setelah ini?”

Aku mengangguk. Pelayan datang mengantar pesanan Rin. Semangkuk sup iga dan segelas teh hijau serta segelas air putih. Aku tidak mengerti mengapa perempuan menyukai teh hijau. Ah, kecuali Sena, kurasa.

“Kau mau ikut?”

Mengajak Rin ke rumah sakit sekarang rasanya ide yang bagus. Sena akan berpikir aku benar-benar memiliki janji sarapan bersama Rin. Itu caraku menjaga jarak dengannya. Aku minta maaf karena memanfaatkan Rin secara tidak langsung. Semoga aku tidak mendapat hukuman gara-gara hal itu.

“Sudah pasti Kwangmin. Bersama kalian berdua di rumah sakit rasanya lebih baik daripada menghabiskan waktu bermalas-malasan di rumah.”

Sup di mangkukku habis lebih dulu. Kami membicarakan banyak hal sambil menunggu Rin menghabiskan menu sarapannya. Saat kami bicara tentang natal, dia menceritakan padaku natal paling mengesalkan di usianya yang ke lima belas. Bagaimana dia berakhir terkurung di toilet salah satu mal gara-gara ulah temannya. Aku tertawa, bukan karena ceritanya—walaupun ceritanya juga lucu. Tetapi aku tertawa melihat cara berceritanya yang terasa lucu bagiku.

Menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama Rin selalu menyenangkan.

Rin tidak berkomentar apa-apa ketika aku mengajaknya membeli ayam goreng untuk Sena. Dia malah ikut membelinya karena tergoda. Usai mendapat apa yang kami pesan, kami langsung menuju ke rumah sakit.

 

Sebelum membuka pintu, aku berpikir pemandangan apa yang akan kulihat kali ini. Dua jam lebih meninggalkan Youngmin bersama Sena, pastinya mereka lebih dekat sekarang. Begitu pintu terbuka, rasanya kakiku terasa berat untuk melangkah mendekat.

Sena duduk di pinggir ranjang, kedua tangannya memegang ponsel. Dari belakang, tangan kiri Youngmin melingkari lengan kiri Sena, dan ikut sibuk dengan ponsel di tangannya. Sehingga nampak seolah-olah mereka sedang berpelukan. Aku tahu aku mengharapkan semua itu. Tetapi ternyata aku masih belum siap melihatnya.

“Ooooh… apa kami sudah menganggu kalian?” goda Rin.

Sebisa mungkin aku menjaga perasaanku agar ekspresiku tetap terlihat normal. Kuberikan pada Sena bungkusan ayam goreng yang kubeli. Saat bicara padaku, dia lagi-lagi menatap ke arah lain.

“Hai Rin. Jadi, kau baru mau menjengukku kalau Kwangmin ada di sini? Kejam sekali.”

“Sudah ada Sena yang menemanimu Oppa, kupikir kau pasti tidak mau melihat kedatanganku,” balas Rin sambil membuka bungkusan ayam gorengnya. “Kwangmin, bantu aku menghabiskannya,” tambah Rin.

“Sudah kuperingatkan jangan membelinya. Sena tidak akan keberatan memberikan satu ayam gorengnya padamu.”

“Tapi kau bilang Sena belum sarapan, aku tidak tega meminta padanya. Sena, Youngmin Oppa, ayo makan bersama.”

Kami berempat duduk di sofa yang tersedia. Dua sofa yang cukup besar. Aku duduk di sebelah Rin, sementara Youngmin duduk di sebelah Sena. Sena duduk di depan Rin. Mungkin sama sepertiku, dia tidak merasa nyaman jika kami harus duduk berhadapan.

“Selamat makan,” ucap Rin.

Aku lebih banyak bicara pada Rin, sedangkan Sena sibuk bersama Youngmin. Meski begitu, aku tidak bisa mencegah kedua mataku untuk tidak melirik ke arah mereka berdua.

“Bagaimana kalau kita makan malam bersama lagi? Aku yang mentraktir,” ajak Youngmin antusias.

“Apa aku boleh menentukan tempatnya Oppa?” tanya Sena sambil mengangkat tangan kanannya.

“Tentu, asalkan tempat itu masih berada di Seoul.”

Youngmin dan Sena saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Seseorang tolong buat aku pingsan sekarang juga, agar aku tidak perlu menyaksikan semua itu. Kuharap aku menemukan alasan kuat untuk menolak ajakan Youngmin.

“Sena, pilih tempat yang mahal,” tambah Rin.

“Pasti!” Sena mengacungkan jempolnya.

Aku tidak ikut bergabung dalam obrolan. Ayam goreng di hadapanku lebih menarik.

Dan sisa hari ini benar-benar terasa berat.

***

 

Lima hari ini aku dan Youngmin sangat sibuk. Kami harus mengejar ketertinggalan syuting drama, beberapa iklan dan juga pemotretan. Melelahkan sekali dan tenagaku cukup terkuras. Setibanya di apartemen, aku langsung masuk ke kamar.

“Kwangmin, bangun! Ganti pakaianmu dan makan malamlah dulu sebelum tidur.” Youngmin berteriak dari pintu.

“Iya, Hyung,” jawabku tanpa membuka mata.

“Aku akan pergi bersama Sena. Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu Kwang.”

Pintu tertutup. Aku membuka mata, kemudian menegakkan tubuh. Apa yang akan dilakukan Youngmin dan Sena? Tumben sekali Youngmin tidak mengajakku. Bahkan dia tidak bercerita apa-apa padaku. Apa mereka akan berkencan? Ya, ya, aku tahu aku tidak berhak merasa cemburu.

“Aku tidak mau memikirkannya.”

Memikirkannya hanya menambah pusing kepalaku. Sebenarnya aku merasa kurang sehat sejak di lokasi syuting iklan tadi, tetapi aku tidak menunjukkannya. Kutarik selimut sampai menutupi kepala, kemudian memaksa diri untuk tertidur.

 

Kutengok jam di layar ponsel. Pukul tujuh. Berarti baru satu jam aku tertidur. Pusing di kepalaku bertambah, dan rasanya suhu tubuhku juga naik. Aku meninggalkan kamar untuk mengambil minum.

Karena aku tidak betah duduk lama dalam keadaan pusing, aku kembali berbaring di kamar.

“Apa sebaiknya aku menelepon Youngmin?” ujarku.

Tanpa berpikir lebih lama, aku meneleponnya.

“Hyung, bisakah kau pulang? Kurasa aku perlu ke rumah sakit. Aku demam dan—“

Belum selesai bicara, ponselku mati. Aku tidak sadar baterai ponselku habis. Setidaknya Youngmin sudah tahu aku sakit dan aku membutuhkannya. Aku tidak suka pergi ke rumah sakit bersama manajer, karena dia pasti mengomel. Memarahiku karena tidak bisa menjaga kesehatan.

Sambil menunggu kedatangan Youngmin, aku memejamkan mata lagi.

***

 

*Youngmin POV*

 

Aku menunggu Sena di dalam kafe. Dia baru saja menelepon bahwa dia akan datang terlambat karena harus menjemput temannya di bandara. Dia tidak tahu aku sudah sampai di tempat kami akan bertemu. Padahal aku sengaja berangkat lima belas menit lebih awal.

Tiba-tiba aku teringat Kwangmin. Sebenarnya ada bagian diriku yang merasa bersalah karena meninggalkannya. Saat berpamitan tadi, wajahnya terlihat pucat. Namun bagian diriku yang lebih egois menang.

Akhirnya aku menekan nomor ponsel Kwangmin untuk mengecek kondisinya.

“Ke mana anak itu? Kenapa ponselnya mati?” keluhku karena teleponku tidak berhasil tersambung.

“Mungkin dia sudah tidur,” ujarku kemudian.

Kwangmin menjagaku dengan sangat baik sejak aku amnesia. Lebih dari yang kulakukan sebagai hyungnya. Anggap aku jahat. Tapi Sena, itu hal lain. Hal yang tidak bisa begitu saja kulepaskan. Aku tidak tahu kenapa, kehadiran Sena seolah mengisi bagian diriku yang hilang sejak kecelakaan yang kualami.

Mataku berkali-kali memandang ke arah pintu masuk, berharap segera melihat sosok Sena. Tetapi hal itu tidak terjadi meski satu jam telah berlalu. Tidak ada satupun pesanku yang terbalas. Dia juga tidak mengangkat telepon dariku. Aku berpikir Sena mungkin sedang sibuk bersama teman yang dijemputnya itu, jadi aku tidak memikirkan hal-hal buruk.

Satu jam berubah menjadi dua jam. Aku mulai berpikir Sena tidak akan datang. Perutku telah terisi penuh oleh dua piring pancake dan empat gelas minuman.

“Harusnya dari awal kau menolak ajakanku Sena.”

Aku keluar dari kafe. Di depan kafe aku mencoba menghubunginya untuk terakhir kalinya, tetapi tetap tidak ada jawaban.

“Youngmin Oppa?” seorang perempuan menyapaku.

Aku belum pernah sesenang ini bertemu dengannya.

“Apa yang kau lakukan sendirian Oppa? Kau mau pulang?”

“Kau punya waktu Rin?”

“Aku? Kalau kau tidak bermaksud menculikku ke Hawaii, ya aku punya waktu Oppa.”

Ke mana saja aku selama ini? Mengapa aku baru tahu Rin cukup memesona ketika dia tersenyum? Atau aku hanya terbawa oleh perasaan senangku saja?

“Apa kau keberatan jika aku memintamu menemaniku nonton?”

Tidak ada salahnya mengajak Rin. Aku tidak ingin cepat-cepat pulang.

“Kau dan aku? Berdua saja?”

“Begitulah.”

“Aaaah… teman kencanmu membatalkan janjinya?”

“Mungkin. Jadi?”

“Oke. Tapi aku perlu mengisi perutku Oppa. Kau sudah makan?”

Kurasa masih ada sisa ruang di dalam perutku untuk sepiring kentang goreng dan segelas kopi.

***

 

 

*Kwangmin POV*

 

Saat terbangun lagi, aku merasakan dingin pada dahiku. Ternyata ada yang mengompresnya. Suhu tubuhku sudah turun, tetapi pusing kepalaku belum berkurang. Tidak ada seorang pun di kamarku. Youngmin biasanya akan memaksaku bangun untuk pergi ke rumah sakit. Tumben sekali dia memilih merawatku di rumah.

Sudah lewat pukul sembilan.

Aku meninggalkan tempat tidur untuk mencari Youngmin.

“Hyung! Di mana kau? Kenapa tidak—“ ucapanku terhenti karena bukan Youngmin yang kutemukan. “S-sedang apa kau di sini?”

Sena berdiri di balik meja makan. Nampak sibuk menata mangkuk, piring, dan gelas di atas meja.

“Baru saja aku mau mambangunkanmu. Makanlah, setelah itu minum obatmu.”

Aku mendekat. Semangkuk bubur dan sepiring yangnyeom tongdak terhidang di meja.

“Aku memasak buburnya. Semoga saja tidak membuatmu sakit perut. Dan kebetulan aku belum makan malam, jadi aku memesan yangnyeom tongdak ini.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana bisa kau ada di apartemenku?”

“Oke. Pertama, aku masih mengingat password apartemenmu yang belum kau ganti. Kedua, kau yang meneleponku Kwangmin.”

“A-ku meneleponmu?”

“Ya. Sepertinya kau berniat menelepon Youngmin oppa, tetapi kau salah meneleponku. Cek saja di panggilan terakhirmu.”

Aku mengingat-ingatnya lagi. Ya, aku memang tidak mendengar suara Youngmin sama sekali. Kemudian ponselku mati dan telepon terputus. Jadi aku tidak tahu kalau aku sudah salah menghubungi orang.

“Tapi, kenapa kau tidak menelepon Youngmin hyung dan malah kemari?”

“Itu… karena… karena… kau!”

“Aku?”

“Nada bicaramu terdengar lemas, belum lagi tiba-tiba teleponmu terputus. Bagaimana aku tidak panik? Kupikir terjadi sesuatu padamu.”

“Maaf.”

Kami menikmati makan malam kami masing-masing dalam diam. Sampai aku teringat bahwa seharusnya Sena berada bersama Youngmin sekarang.

“Bukankah kau ada janji dengan Youngmin hyung?”

“Ah benar! Aku melupakannya!” Sena berlari ke sofa ruang tamu apartemenku. Dia nampak merogoh tasnya, mencari-cari keberadaan ponselnya.

Bodoh sekali. Bagaimana bisa dia menghampiriku padahal ada Youngmin yang menunggunya. Kalau begitu, Sena tidak boleh berada di sini. Youngmin pasti bertanya-tanya di mana Sena. Lebih buruknya, aku tidak ingin Youngmin tiba-tiba datang dan memergokinya ada bersamaku.

“Ponselku tidak ada di tas. Aku lupa di mana meletakkannya. Bagaimana ini?”

“Youngmin hyung pasti masih menunggumu. Lebih baik kau segera ke sana.”

Seandainya aku bisa menahanmu di sini lebih lama.

“Kurasa tidak.”

“Kalau begitu lebih baik sekarang kau pulang.”

“Dan… kau?”

“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” jawabku ketus.

Sena diam saja. Aku tidak akan bisa menghadapi Youngmin hyung kalau kau terus begini Sena.

“Kuantar kau pulang.”

“Kwangmin, haruskah kau terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukamu padaku?”

Kami berdiri berhadapan. Hanya saling memandang tanpa berkata apa-apa. Sena seolah masih menyimpan sesuatu untuk dia katakan padaku. Tetapi dia berusaha menahan dirinya. Sama dengannya, aku pun sedang berusaha untuk tidak menariknya ke dalam pelukanku.

“Aku tahu jalan pulang. Jangan lupa minum obatmu. Beristirahatlah.” Sena mengambil tasnya, kemudian berjalan pergi.

Kakiku yang tidak mau menuruti perintahku, melangkah dan mengikutinya keluar.

“Kuantar,” kataku sambil menggandeng tangannya.

“Ya! Sudah kukatakan aku tidak mau!”

Kueratkan genggaman tanganku pada tangannya, hingga Sena berhenti berusaha melepaskan diri.

Kami tidak mengobrol selagi di dalam mobil. Beberapa kali Sena menoleh ke arahku, tapi aku mengabaikannya. Aku tetap menatap lurus ke depan. Aku tahu ada banyak hal yang seharusnya kami bicarakan. Aku hanya menolak mengakuinya.

Dua puluh menit kemudian kami sampai di rumah Sena. Aku turun dari mobil karena teringat aku belum mengucapkan terima kasih padanya.

“Terima kasih sudah datang,” kataku.

“Terima kasih sudah mengantarku. Pastikan besok kondisimu lebih baik.”

Kami berdua saling memandang lagi. Seorang pria berjalan pelan di belakang Sena. Sosok pria yang tidak asing di ingatanku. Pria itu membelalakkan kedua matanya saat pandangan kami akhirnya bertemu. Sama seperti yang sedang kulakukan.

“Jihoon Hyung,” sapaku pelan.

This entry was posted by boyfriendindo.

7 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 05

  1. akhrx,,,keluar juga thor lnjtnx.jadi kwangmin oppa,sbnrx yang kau pilih siapa?aku,sena atau rin?haha#kwangmin:q milih smua bestfriend_champion.><dan youngmin oppa,knp kamu semakin imut?#abaikan.lanjut thor,very like it

  2. oh my…
    dari dulu udah liat judul cerita ini, tapi baru sekarang muncul hasrat buat bacanya, hehe
    dan ternyata saya melewatkan sesuatu berharga disini…
    i like this story, like the plot, like the way you write it out, like every single peace of this story…
    thank you, dear author ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: