[FANFICT/FREELANCE] Last Words

Picture1

Title 
: Last Words
Author Aryn Chan (@1998aryn)
Genre : Drama, Sad Romance, dan Romance
Rating : G
Type : One Shoot
Main Casts 
: ~ Jo Kwangmin

  ~ Kim Na Ra

Hallo, pembaca ^^

Huaaa… sudah lama gak post FF lagi. Tugas numpuk sana-sini. Mmm.. sekarang aku bawa FF terbaru nih. Sebenarnya gak baru-baru amat sih, sebelumnya FF ini pernah aku post diblog aku. Hmm.. langsung aja deh keceritanya. Oh ya, ini pertama kalinya aku buat cerita sedih. Semoga dapat feelnya ya -_- Happy reading🙂

***

LAST WORDS

Jo Kwangmin sedang mengamati photo-photo yang baru saja ia ambil dari kamera CLRnya ketika gadis itu datang.  Kwangmin melihat Na Ra sedang tersenyum kearahnya, “Ada apa?” tanya Kwangmin datar.

“Sedang sibuk ya?” Tanya balik Na Ra.

“Tidak. Ada apa?” tanya Kwangmin lagi.

Na Ra berdehem dan bertanya ragu, “Mau menemaniku?”

Kwangmin sedikit tertegun dan akhirnya bertanya, “Kemana?”

“Terserah kau,” sahut Na Ra.

Kwangmin tidak langsung menjawab, dia terlihat sedang berfikir.Lalu, ia kembali melihat photo-photo didalam kameranya, “Tidak, aku tidak mau.”

Na Ra mengerutkan bibirnya, “Kau jahat sekali. Ayolah, kali ini saja.”

Kwangmin menatap Na Ra dengan dingin. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia menjawab acuh tak acuh, “Baiklah,”

Terlihat senyuman senang terpajang pada wajah gadis itu. Na Ra terlihat bersemangat. Senyumannya mengembang dan begitu cerah sehingga Kwangmin sendiri tidak bisa menahan senyumannya dan akhirnya ia ikut tersenyum.

***

Kwangmin dan Na Ra keluar dari sebuah bioskop di Lotte World. Tempat ini sangat ramai sekali. Mungkin karena sekarang sudah memasuki liburan musim panas. Lotte World memang selalu ramai setiap saat. Tempat ini memiliki ruangan Indoor dan Outdoor. Lotte World terletak di Korea Selatan, tepatnya di Seoulsi Songpagu Jamsildong 40-1 sebelah selatan Sungai Han. Berbeda dengan taman bermain di tempat lain yang biasanya berada di pinggir kota, Lotte World ini justru berada di tengah Kota Seoul.

Na Ra merasa sangat senang sekali hari ini karena Kwangmin bersedia menemaninya mengelilingi tempat ini—walau dengan sedikit paksaan. Mereka sudah bermain banyak hari ini, mulai dari menonton film bersama, melihat pertunjukkan sinar laser dan memasuki zona adventure. Menurutnya, ini sudah cukup membuat perasaannya senang.

Mereka istirahat disebuah bangku kayu panjang. Dan sesaat mereka hanya terdiam sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang.

Na Ra menghembuskan nafasnya panjang, “Lelah sekali,” kata Na Ra mendesah sambil menyandarkan tubuhnya pada bangku dengan lemas.

Kwangmin menoleh kearahnya dan berkata, “Lebih baik kau istirahat dulu.”

Dengan satu sentakan Na Ra langsung terbangun dan matanya berbinar-binar menatap Kwangmin, “Kita masih akan bermain lagi, bukan? Bagaimana jika kita main Gyro Swing?”

Kwangmin melebarkan matanya, “Oh? Ternyata nyalimu besar ya.” Gumam Kwangmin tidak percaya sambil memandang Na Ra.

Na Ra mendesah, “Bilang saja kau takut.” Kata Na Ra mengejek.

“Hey, memang siapa yang menolak? Aku tidak mengatakan ‘aku tidak mau,’” kata Kwangmin sambil menatap Na Ra kesal. Kwangmin menarik nafas diam-diam dan akhirnya ia menyadari ia begitu lelah sehingga ia tidak mampu untuk membalas ucapan Na Ra, “Terserah kau saja.”

Na Ra tertawa, “Ah, ternyata ucapanku benar. Kau memang pengecut.”

Kwangmin menatap Na Ra yang masih melihatnya dengan tatapan mengejek. Lalu, ia tersenyum masam dan menjawab dengan santai. “Baiklah, kalau kau memang manantang. Ayo kita kesana.”

Kwangmin bangkit dari tempat duduknya. “Ayo cepat bangun,” ucap Kwangmin.

Sepertinya Na Ra sudah memakan ucapannya sendiri. Kali ini ia yang merasa takut. Kenapa? Padahal ia pikir permainan itu tidak terlalu buruk. Bahkan tadi dia tidak merasa takut sama sekali. Kenapa sekarang jadi berubah? Na Ra mendongak keatas dengan pelan. Ia menatap Kwangmin sambil tersenyum ragu. “Tapi, kakiku masih pegal sekali. Kita istirahat sebentar lagi ya.”

Na Ra mendengar Kwangmin mendesah dan berkata, “Kau memang licik.” Katanya. Lalu, ia melihat Kwangmin duduk kembali. Na Ra merasa seluruh tubuhnya yang tadi menegang seketika kembali tenang. Ia mengelus dadanya dengan lega.

Kwangmin menoleh kearahnya lalu, tertawa kecil melihat ekspresi Na Ra yang sudah ketakutan.

Na Ra tahuKwangmin sedang menertawakannya. Ia melihat Kwangmin dengan kesal, “Kau memang senang menertawakan orang.” Kata Na Ra. Lalu, ia menyandarkan badannya kebelakang dan berkata sambil mendesah, “Ah, panas sekali. Aku ingin minum sesuatu.”

“Didepan sana ada yang menjual minuman.” Kata Kwangmin dengan acuh.

Na Ra menatap Kwangmin dengan kesal. “Hey, kau mana boleh seperti itu? Kakiku masih sakit dan kau menyuruhku untuk membelinya sendiri?”

Kali ini Kwangmin menatapnya, “Lalu, apa yang kau inginkan?” tanya Kwangmin.

“Belikan untukku satu ya,” Ucap Na Ra memohon sambil menatap Kwangmin dengan tatapan dibuat-buat.

Kwangmin tidak tahan melihat ekspresi anak kecil seperti ini. Ia mendesah dan akhirnya menyerah.

Kim Na Ra tersenyum begitu melihat Kwangmin berdiri untuk mencarikan ice cream untuknya. Lelaki itu sedikit menyebalkan dan begitu dingin. Tapi, ia menyukai lelaki seperti itu. Ia merasa lelaki seperti Kwangmin itu sangat langka. Walaupun, Kwangmin bersikap begitu dingin padanya, tapi ia tahu, sebenarnya Kwangmin lelaki yang perhatian dan penuh kasih sayang.

Na Ra tersenyum sambil memandangi sekelilingnya. Masih banyak orang yang berlalu lalang, padahal hari sudah hampir gelap. Tak lama kemudian, Kwangmin datang dengan membawa dua gelas minuman ditangannya. Kwangmin menyodorkan 1 gelas kearahnya dan Na Ra menerimanya dengan senang, lalu lelaki itu duduk kembali disampingnya.

“Oh? Kau baik sekali. Terima kasih, Kwangmin-ah.” Ucap Na Ra berseri-seri.

Kwangmin tidak menjawab, tapi dia berkata, “Setelah ini kita pulang.”

***

“Terima kasih sudah menemaniku,” ucap Na Ra sambil tersenyum senang.

Kwangmin mengangguk datar, lalu melihat Na Ra, “Cepatlah masuk diluar dingin.” Katanya dan berbalik meninggalkan Na Ra.

Sebelum Kwangmin benar-benar jauh dan dengan dorongan kuat yang entah datang darimana, Na Ra memanggilnya. Kwangmin berbalik dan melihat Na Ra yang terlihat kebingungan.

“Terima kasih banyak untuk hari ini,” kata gadis itu akhirnya.

Kwangmin mengangguk dan tersenyum sekilas—hanya sekilas—lalu, kembali berbalik meninggalkan Na Ra.

Kwangmin berjalan menuju halte bis. Hari sudah malam sekali, ia harap masih ada bis terakhir malam ini. Kwangmin berbelok pada belokan ujung jalan dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang—tidak, sebenarnya bukan ia yang menabrak, tapi lelaki itu yang menabraknya. Kwangmin berbalik untuk melihat dengan jelas orang yang baru saja menabraknya. Ternyata seorang lelaki dengan menggunakan pakaian serba hitam serta menggunakan topi dan kacamata hitam.

Kwangmin tidak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu, tapi Kwangmin tidak ingin memperpanjang masalah. Lelaki itu belum saja meminta maaf jadi, ia yang meminta maaf terlebih dahulu. Ia melihat lelaki itu berjalan berlawanan arah dengannya begitu cepat. Kwangmin merasa sedikit aneh, tapi ia tidak peduli. Akhirnya, ia berbalik dan berjalan kembali.

***

“Ah, lelah sekali.”

Kwangmin melemparkan jaketnya keatas meja kerjanya dan menghempaskan tubuhnya keatas ranjang. Ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Ia masih merasa kesal dengan pria tadi. Jelas-jelas dia yang menabraknya terlebih dahulu, tapi kenapa ia harus meminta maaf padanya? Orang aneh…

Tapi jika dipikir-pikir, sikap orang itu memang sedikit aneh. Terlihat misterius dan mencurigakan. Tengah malam berjalan sendiri, ditempat sepi dan dia juga tidak terlihat merasa bersalah saat menabraknya tadi. Malah terlihat sedikit mengancam. Apakah dia seorang pencuri? Ah, seharusnya ia menangkapnya tadi.

Kwangmin menggelengkan kepalanya. Kenapa tiba-tiba memikirkan pria tidak dikenal? Dia masih normal, bukan? Lebih baik memikirkan hal yang lain.

”Kau lelaki yang menyebalkan Kwangmin-ah.”

“Kwangmin-ah, apa kau yang melakukan semua ini? Terima kasih…”

“Kau malaikat yang menyebalkan, tapi aku menyukainya.”

“Kwangmin-ah, ada lalat dihidungmu. Haha, kau sangat mudah tertipu.”

Hey, kenapa suara gadis itu tiba-tiba terdengar ditelinganya? Ia sedang tidak memikirkan Na Ra, bukan?

Kwangmin terbangun dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia teringat ucapan kakaknya waktu itu.

“Jika kau tiba-tiba memikirkan seorang gadis, padahal kau sama sekali tidak berniat memikirkannya. Itu artinya kau menyukainya.”

Apa? Benarkah itu? Dia Jo Kwangmin menyukai Na Ra? Yang benar saja. Kwangmin tertawa kecil. “Hey, ada apa denganmu Kwangmin? Kenapa kau bisa menyukai seseorang?” Kwangmin mengacak-acak rambutnya frustasi.

Ia memang terkenal dikalangan para gadis, tapi ia sama sekali belum pernah merasakan menyukai seseorang. Ya, itu benar. Maka dari itu, ibunya setiap hari uring-uringan karena ia belum pernah membawa seorang gadis kehadapannya. Ini benar-benar gila.

Tapi, apa salahnya Na Ra? Gadis itu menarik. Walaupun dia selalu bersikap gegabah, tapi dia selalu bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Dia juga memiliki daya tarik yang tidak dimiliki wanita lain. Senyumannya. Na Ra mempunyai senyuman yang tajam. Hatinya selalu berdebar dengan cepat saat gadis itu melemparkan senyuman manis kearahnya. Awalnya ia tidak mengerti kenapa? Sekarang ia tahu. Karena ia menyukainya.

Terlihat sebuah lengkungan kecil dari sudut bibir Kwangmin. Lengkungan itu perlahan membuat senyuman kecil. “Aku menyukai seorang gadis?” Kwangmin tertawa kecil, “Lucu sekali.”

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel berdering. Ia segera meraih ponselnya tapi, saat ia hendak menekan tombol jawab, seseorang itu sudah memutuskan hubungan terlebih dahulu. Kwangmin mengerutkan dahinya dan melihat nama yang baru saja membuat panggilan itu.

Kim Na Ra.

Ada apa dia memanggilnya? Kwangmin tersenyum dan mencoba menelepon kembali. Setelah beberapa saat, Na Ra belum juga mengangkat teleponnya. Kwangmin mencobanya lagi dan masih belum ada jawaban. Setelah ia mencoba memanggil ulang untuk yang ke 10 kalinya, ponsel Na Ra tidak aktif.

Kwangmin menatap layar ponselnya tajam dan menggerutu kesal, “Ada apa dengannya? Kenapa tidak menjawab teleponnya?”

Kwangmin menghempaskan badannya keatas kasur. Mencoba memejamkan matanya. Apakah sedang terjadi sesuatu dengan gadis itu? Kenapa tiba-tiba menelepon dan mematikannya? Padahal dia yang lebih dulu meneleponnya.

Kwangmin memejamkan matanya berusaha untuk tenang. Tidak akan terjadi apa-apa pada Na Ra. Gadis itu sedang baik-baik saja. Pasti sekarang dia sudah tertidur sambil memeluk boneka hello kittynya. Ya, itu benar. Na Ra akan baik-baik saja.

Tapi, tetap saja perasaannya tidak nyaman. Kwangmin membuka matanya dan bangkit dari kasurnya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada gadis itu. Kwangmin dengan cepat berlari keluar rumah. Dengan sekuat tenaganya, ia berusaha secepat mungkin berlari untuk gadis itu.

Na Ra, apa yang terjadi? Kenapa membuat orang khawatir?

***

Beberapa saat kemudian, Kwangmin sudah berdiri didepan pintu gerbang rumah Na Ra. Ada sesuatu yang mencurigakan disini. Ia melihat pintu gerbang Na Ra setengah terbuka. Ada 2 kemungkinan. Kemungkinan jika Na Ra lupa untuk mengunci pintu atau kemungkinan memang ada sesuatu yang aneh.

Tanpa pikir panjang, Kwangmin menerobos masuk kedalam. Ia mengetuk pintu rumah Na Ra dengan keras. Tapi, tidak ada jawaban. Kwangmin menjadi gelisah, ia berjalan kearah jendela mencoba melihat apa yang terjadi, tapi ia tidak bisa melihat apa-apa. Malah terlihat gelap didalam.

“Na Ra, buka pintunya! Apa yang terjadi padamu?” Teriak Kwangmin masih sambil menggedor pintu.

Masih tidak ada jawaban. Kwangmin mengumpat kesal sambil melihat sekeliling. Dan tanpa sengaja matanya menangkap sosok lelaki berjubah hitam berjalan cepat menuju pintu gerbang. Kwangmin melebarkan matanya terkejut. Ia memperhatikan lelaki itu berjalan menjauhi rumah Na Ra. Apa yang sudah dia lakukan?

Dengan sekuat tenaga, ia mencoba mendorong pintu rumah Na Ra. “Na Ra, kau baik-baik saja didalam? Na Ra jawab aku!” teriak Kwangmin sambil mencoba mendobrak pintu.

Dan akhirnya, pintu berhasil dibuka. Kwangmin mencoba mengatur nafasnya sejenak, mencoba untuk tenang. “Tidak akan terjadi apa-apa pada Na Ra. Gadis itu akan baik-baik saja.” Ucapnya pada diri sendiri.

Kwangmin berjalan cepat mencari Na Ra. Ia membuka setiap pintu di sudut ruangan. Tapi, Na Ra tidak ada. Dimana dia? Kenapa membuat orang menjadi khawatir?

“Kim Na Ra, kau dimana? Keluarlah!” teriak Kwangmin sambil membuka pintu-pintu ruangan. Tidak ada. “Hey Kim Na Ra, ini sama sekali tidak lucu. Cepatlah keluar!”

Kwangmin membuka pintu ruangan didekat dapur. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Na Ra sudah tergeletak disana. “Kim Na Ra,” lirih Kwangmin.

Ia berjalan pelan mendekati Na Ra. Seakan tidak percaya sesuatu terjadi padanya. Ia menatap wajah gadis itu. Dia benar-benar Na Ra. Kwangmin berjongkok, ia meraih kepala gadis itu dan merangkulnya.

“Kim Na Ra, apa yang terjadi?” tanya Kwangmin. Tanpa sadarnya setetes air mata bergulir dipipinya. “Hey Kim Na Ra, kau tahu bukan jika aku tidak suka bercanda? Ini sama sekali tidak lucu. Cepatlah bangun!”

“Kim Na Ra, kenapa kau tidak menjawabku? Apa kau bisu?”

“Kim Na Ra, hentikan semuan ini. Ada apa denganmu?” lirih Kwangmin pelan sambil memeluk Na Ra dengan erat seakan tidak mau gadis ini benar-benar pergi darinya.

“Kwangmin-ah…”

Ada sesuatu yang menyentakkannya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Na Ra. Na Ra membuka matanya. Ia tidak salah lihat. Na Ra terbangun dan saat ini dia sedang menatapnya. Oh, saat ini ia rasa ia memang benar-benar sudah gila.

“Kau tidak apa-apa, Na Ra? Kau baik-baik saja? Ada apa denganmu?” Tanya Kwangmin cepat. Terdengar jelas sekali perasaan sedih dan khawatir dari dalam suaranya.

“Aku tidak sedang baik-baik saja.” Jawab Na Ra pelan.

Kwangmin menatap Na Ra, “Apa perlu ke Rumah Sakit? Aku akan mengantarmu.” Kata Kwangmin dan baru saja akan menggendong Na Ra saat gadis itu tiba-tiba menghentikannya. “Ada apa?” Tanya Kwangmin.

“Tidak Kwangmin, aku tidak memiliki banyak waktu. Aku akan menghabiskan waktuku dalam perjalanan.” Ucap Na Ra lemah. “Aku ingin menghabiskan waktuku dengan melihat wajahmu seperti ini.”

Tanpa Kwangmin sadari, ia menjatuhkan beberapa tetes air mata lagi. Saat ini, ia lelaki yang cengeng, bukan?

“Kenapa menangis?” tanya Na Ra sambil tersenyum samar.

Itu senyuman yang membuat hatinya teriris sakit. Senyuman itu tidak secerah biasanya.

“Kwangmin, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Na Ra pelan. “Aku tidak bisa mengatakan banyak-banyak.” Na Ra terdiam sejenak dan melanjutkan, “Aku hanya ingin mengatakan, aku minta maaf padamu.”

“Kenapa minta maaf? Apa salahmu padaku?” tanya Kwangmin terisak.

“Maaf karena aku tidak mengatakan tentang hal ini padamu sebelumnya.” Kata Na Ra dan melanjutkan dengan suara serak dan pelan, “Bahwa aku akan pergi.”

“Bukankah semua orang juga akan meninggal? Kenapa kau mengatakan hal konyol seperti itu?” Tanya Kwangmin merasa kesal.

Na Ra tersenyum. Kwangmin bisa melihat air mata Na Ra yang keluar dari kelopak matanya. “Aku mempunyai masalah sehingga aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Aku memiliki keluarga yang berantakan.” Na Ra berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Dan maafkan aku telah melibatkanmu.”

Kwangmin semakin tidak mengerti apa yang diucapkan gadis ini. “Apa maksudmu?”

“Setelah aku pergi, kau mungkin akan mengalami masa-masa sulit karenaku. Tapi kau tidak perlu khawatir. Kau hanya perlu menghadapi dengan tenang.” Kata Na Ra. Ia mengeluarkan setetes demi setetes air mata. “Maafkan aku, aku telah membuat hidupmu menjadi sulit.”

“Tidak. Kau tidak boleh berbicara seperti itu.” Sela Kwangmin cepat. Ia menggenggam tangan Na Ra erat.

“Dan Kwangmin-ah, terimakasih sudah menaniku. Aku senang sekali hari ini. Dan itu semua berkat kau. Terima kasih…” kata Na Ra. Lagi-lagi masih bisa tersenyum bodoh. “Dan bolehkah aku meminta satu hal lagi padamu?”

Kwangmin mengangguk cepat. “Ya, katakanlah!”

“Jangan lupakan aku ya. Dan kau juga harus bahagia.” Kata Na Ra sambil tersenyum.

Kwangmin tidak tahu harus menanggapi apa. Ia hanya bisa menggenggam tangan Na Ra dengan erat, mencoba memberikan kekuatan yang ia punya saat ini. Kwangmin melihat Na Ra tersenyum dan perlahan gadis itu memejamkan matanya dengan tenang.

“Kim Na Ra, bertahanlah! Kim Na Ra…Kim Na Ra!!!!!!”

Dan akhirnya, Na Ra memejamkan mata sepenuhnya. Selamanya. Dan tak akan pernah terbuka lagi. Na Ra meninggalkannya. Bukan 1 hari, 2 hari, 1 bulan, 1 tahun, dia pergi. Tapi, selamanya.

“Kim Na Ra~” Teriak Kwangmin.

Kwangmin menatap wajah Na Ra penuh kesedihan dan air mata. Ia baru saja menyadari jika ia menyukai gadis itu dan membutuhkannya untuk tetap berada disampingnya. Tapi, gadis itu sudah pergi meninggalkannya. Pergi dengan kenangan. Ini sangat menyakitkan. Terlalu menyakitkan.

“Kau bahkan belum memberi kesempatan padaku untuk berbicara…” Kwangmin terdiam sejenak dan berkata pelan, “jika aku mencintaimu.”

Kwangmin memeluk tubuh Na Ra lembut sambil memejamkan matanya.

“Kwangmin-ah, terimakasih sudah menemaniku. Aku sangat senang sekali hari ini. Dan itu semua berkat kau. Terima kasih…”

 

END~

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Last Words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: