[FANFICT/FREELANCE] Obsession – Chapter 01

Tittle  : Obsession – Chapter 01
Author      : widifitriana
Genre : Action and Romance
Rating : PG-13
Type : Chapter
Casts  : ~ Donghyun  ~ Shin Jia
Support Casts 

: ~ Hyunseong

  ~ Jeongmin

  ~ Youngmin

  ~ Kwangmin

  ~ Minwoo

Author Note    : Aku tahu aku masih berhutang dua cerita untuk kuselesaikan. Hanya saja aku tidak tahan untuk menuliskan fanfic ini. :p Jadi, kumohon tetap tunggu dan baca semua lanjutan fanfictionku ya.. hehe terima kasih🙂

CHAPTER 1

 

Hari yang terlalu cerah untuk menjemput seseorang dari penjara. Setelah sembilan puluh hari berada di penjara, pagi ini akhirnya Hyunseong bisa menghirup udara bebas. Sebenarnya bukan hal baru. Bagi Hyunseong, itu sudah yang ketiga kalinya. Hanya saja kali ini terasa jauh lebih menyebalkan karena dia dijebak.

Kuseret kakiku meninggalkan kamar, kemudian membangunkan anggota lain yang tinggal bersamaku.

“Bangun! Jangan sampai kakiku yang membangunkan kalian semua!” seruku di tengah ruangan.

Kamar kami berenam saling berdekatan dengan posisi melingkar. Dari luar begini, mereka bisa mendengar teriakanku dengan cukup jelas.

Aku tinggal bersama lima orang teman. Hyunseong, Jeongmin, Youngmin, Kwangmin, dan Minwoo. Kami berasal dari panti asuhan yang sama. Bersama mereka, aku menciptakan keluargaku sendiri.

Minwoo diadopsi saat usianya tujuh tahun. Setelah kami berlima harus meninggalkan panti asuhan karena sudah bisa mengurus diri sendiri, secara kebetulan kami bertemu Minwoo lagi. Dia pergi dari rumah karena merasa tidak tahan dengan kehidupannya di sana. Sejak saat itulah, kami semua memutuskan untuk tinggal bersama.

Sekarang usiaku dua puluh lima tahun. Bisa dikatakan kami memiliki kehidupan yang sangat layak. Tinggal di rumah besar tanpa kekurangan apa pun. Bahagia? Ya. Kami menyadari satu hal. Bagi kami, bahagia adalah kami berenam itu sendiri.

“Ini terlalu pagi Hyung,” protes Minwoo. Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya dia berpindah dari kamarnya ke sofa yang ada di luar. Tempat kami biasanya berkumpul untuk membahas berbagai hal.

Kwangmin dan Jeongmin menyusul Minwoo dengan ekspresi yang sama. Mereka bertiga menguap bersamaan.

“Youngmin belum pulang?”

“Yaaa… seperti biasanya. Dia pasti tertidur di hotel,” jawab Kwangmin.

“Dengan perempuan semalam berbaring di sebelahnya,” sambung Jeongmin.

“Perempuan semalam?”

“Seorang model yang berhasil dirayu Youngmin, Hyung,” jelas Minwoo.

Semalam aku memang tidak ikut ke club malam bersama mereka.

Begitulah Youngmin. Perempuan yang berhasil dirayunya pasti berakhir di atas tempat tidur. Perempuan mana yang tidak akan tergoda dengan wajah tampan, sikap manis, dan kata-kata rayuan yang keluar dari bibirnya. Dari semua perempuan—yang aku tidak ingat berapa jumlahnya—itu, tidak satupun yang menjalin hubungan jelas dengannya.

“Hubungi dia, Kwangmin. Kalau aku tidak melihatnya di depan penjara, tamat riwayatnya.”

Kwangmin bergegas ke kamarnya untuk menghubungi Youngmin, sementara yang lainnya bersiap-siap.

 

“Hyung!” Youngmin melambaikan tangan. Dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya. Tapi sisa kantuk masih bisa kulihat di wajahnya. “Sarapan?” katanya lagi sambil menguluran sebuah kotak.

Minwoo menerima bungkusan itu. “Macaroon!” serunya kegirangan.

“Apa yang kukatakan tentang menjaga rahasia Kwang?” Youngmin melotot pada adiknya, tetapi Kwangmin berpura-pura menikmati macaroon-nya.

Orang yang kami tunggu akhirnya keluar. Hyunseong mengangkat kedua tangannya ke atas, meregangkan tubuhnya. Kami berlima tersenyum padanya, sambil memegang menu sarapan yang dibeli Youngmin. Hyunseong yang berjalan menghampiri kami.

“Tidak ada pesta?”

“Malam ini Hyung,” jawab Kwangmin.

“Bagus. Aku sangat membutuhkan pesta.”

“Jeongmin, kau yang menyetir.” Aku melempar kunci mobil pada Jeongmin.

Kwangmin dan Minwoo pindah ke mobil Youngmin.

Mobil kami melaju menuju kawasan Myeongdong. Kami memiliki janji bertemu seseorang di salah satu hotel bintang lima yang ada di sana. Sebelum ke hotel itu, Hyunseong meminta Jeongmin berhenti di depan butik karena dia butuh mengganti pakaiannya.

“Aku pergi ke toko buku,” pamitku.

“Donghyun Hyung, aku ikut denganmu!” kata Kwangmin.

Aku suka membaca. Begitu pula dengan Kwangmin. Dulu, saat masih di panti asuhan, aku sering menghabiskan waktu di perpustakaan bersamanya. Dia seperti adik kandungku sendiri. Berbeda dengan saudara kembarnya, Youngmin, dia lebih seperti teman yang susah diatur.

Kwangmin menuju ke bagian komik, sedangkan aku menyusuri rak novel-novel misteri dan detektif. Saat sedang fokus memilih buku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara berdebum dari sisi kiriku. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis berseragam menjatuhkan buku-buku yang dibawanya. Kebetulan toko buku ini sepi, dan hanya ada aku di sekitar gadis itu.

Sayangnya, aku sama sekali tidak berniat membantunya.

Aku mengambil satu novel yang kurasa menarik, untuk membaca tulisan singkat di bagian belakangnya. Baru membaca empat kalimat, seseorang menarik lenganku. Tanpa berkata apa-apa, dia menampar pipiku cukup keras. Seorang perempuan yang tidak kukenal baru saja menamparku. Haruskah aku balas menamparnya?

“Apa kau tidak salah menampar orang?”

“Tidak! Rasanya bahkan aku ingin menamparmu sekali lagi!”

Perempuan di depanku mengangkat tangan kanannya, namun kali ini aku berhasil mencegahnya mendarat di pipiku.

“Aku tidak tahu apa yang salah dengan otakmu sampai kau menampar orang sembarangan!”

“Kau pantas ditampar! Apa kau tidak melihat gadis itu butuh bantuan? Kenapa kau mengabaikannya?”

“Hanya itu alasanmu?”

Aku tidak percaya pada apa yang baru saja kudengar. Perempuan itu menamparku hanya karena aku tidak mengacuhkan gadis yang menjatuhkan buku-buknya tadi? Ngomong-ngomong, ternyata gadis yang menyebabkan pipiku ditampar sudah pergi. Jadi kenapa keributan ini harus diteruskan?

“Tidak butuh banyak alasan untuk menampar pria bodoh sepertimu!” katanya, lalu berjalan pergi meninggalkanku.

Apa dia berharap aku mengejarnya? Karena sebenarnya aku memang ingin menghentikannya dan memintanya meminta maaf padaku.

“Donghyun Hyung, ada apa?” tanya Kwangmin yang sudah berdiri di sampingku.

“Aku bertemu orang gila.”

“Orang gila?”

“Sudah mendapat apa yang kau inginkan? Ayo pergi!”

Terima kasih kepada perempuan itu, yang telah membuat keinginanku membeli buku hilang. Akan kuingat wajahnya. Jika bertemu lagi….. tidak, kuharap kami tidak bertemu lagi.

***

 

Aku duduk di meja terpisah dari lima orang temanku yang lain. Mereka berada cukup jauh tapi tetap bisa mengawasi posisiku. Kami berada di sini untuk membahas masalah pekerjaan.

Apa aku belum menceritakan pekerjaan yang kami lakukan?

Melihat penampilan luar kami, orang-orang pasti berpikir kami berasal dari keluarga kaya. Bekerja di perusahaan besar, lengkap dengan pelayan-pelayan pribadi dengan jumlah tak terhitung. Kuperjelas, kami tidak sebaik itu.

Pekerjaan yang kami lakukan hingga bisa menikmati kemewahan seperti ini adalah menjadi pembunuh bayaran.

Semua itu berawal dari pertemuan kami dengan seorang pria yang sangat hebat. Salah satu pembunuh bayaran yang terkenal. Pria yang mengajari kami caranya menggunakan pisau dan pistol. Serta bagaimana caranya membunuh tanpa meninggalkan rasa bersalah. Dia tewas tiga tahun yang lalu saat melakukan tugasnya. Maka sekarang kami bekerja sendiri.

Banyak pembunuh-pembunuh bayaran, atau kau bisa menyebut penjahat-penjahat lain yang tidak menyukai kehadiran kami. Itulah sebabnya ada yang menjebak Hyunseong hingga dia terpaksa menghabiskan sembilan puluh hari di dalam penjara.

Kau akan mengetahuinya nanti. Bagaimana kami bekerja, dan bagaimana kehidupan kami di luar pekerjaan itu.

Seorang pria berjas hitam menarik kursi di depanku. Tanpa basa-basi, dia menyerahkan foto seorang perempuan padaku.

“Cari tahu tentang dia. Tugas selanjutnya menyusul.”

“Bayaranku?”

“Sesuai kesepakatan kita.”

“Baiklah.”

Pria itu beranjak dari kursinya, kemudian pergi. Kumasukkan ke saku celana foto yang diberikan pria itu tanpa melihatnya lebih dulu. Kemudian aku menghampiri meja teman-temanku berada.

“Perempuan,” jelasku singkat.

“Simpanannya?” tanya Hyunseong.

Aku mengangkat bahu.

“Menghabisinya langsung?” Jeongmin yang bertanya.

Aku menggelengkan kepala. “Cari tahu dulu tentangnya, setelah itu tunggu perintah selanjutnya.”

“Lama sekali kita tidak bermain drama. Aku sudah tidak sabar,” komentar Youngmin.

“Kapan kita mulai Donghyun Hyung?”

“Segera Kwangmin.”

“Yang perlu kau pikirkan sekarang adalah pesta malam nanti,” ucap Minwoo.

Sebagai orang yang paling tua diantara mereka, aku tahu seharusnya aku tidak melibatkan Youngmin, Kwangmin, apalagi Minwoo ke dalam pekerjaan berbahaya ini. Hanya saja, aku tidak bisa mencegah mereka. Ketertarikan mereka pada pisau, pistol, racun, dan segala jenis peralatan membunuh yang pernah mereka lihat dari pria yang mengajari kami, lebih besar daripada ketertarikan Youngmin pada perempuan.

“Hyung, sepertinya aku harus pergi lagi,” kata Youngmin setelah melihat ponselnya.

“Model itu tidak mau melepaskanmu?” tanyaku datar. Hal-hal seperti itu sudah sangat sering terjadi.

“Yaaa… dia memintaku menemaninya datang ke sebuah acara.”

“Di mana lebih banyak wanita cantik berkeliaran di sana. Kau mudah sekali ditebak,” kata Jeongmin.

Youngmin menyeringai. “Sampai jumpa nanti malam!” pamitnya.

“Oke, kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah. Aku masih butuh tidur,” ucapku.

***

 

Saat kukatakan pulang ke rumah, yang kumaksud adalah sebuah apartemen yang sengaja kami beli tiga tahun yang lalu. Rumah utama kami berada jauh dari keramaian kota Seoul. Bisa dikatakan rumah utama itu juga menjadi tempat persembunyian kami. Kami hanya menempati apartemen ini di saat-saat tertentu.

Sesampainya di kamar, kukeluarkan foto yang diberikan pria tadi, lalu mengamatinya.

“Oh!”

Wajah perempuan di foto itu tidak asing bagiku. Tentu saja aku masih mengenalinya. Dia perempuan yang menamparku di toko buku. Meski di dalam foto perempuan itu tidak memakai kacamata dan rambutnya lebih pendek, aku yakin itu perempuan yang sama.

“Kenapa ada yang ingin membunuhnya? Apa pria tadi salah satu korban tamparan perempuan ini?”

Menurutku perempuan itu memang tidak waras, tetapi kurasa dia bukan orang yang  bisa membuat orang lain ingin membunuhnya. Rasa penasaranku muncul begitu saja, dan bertambah besar setiap kali kupandangi fotonya.

“Bukan urusanku. Lebih baik aku tidur.” Kuletakkan foto itu di atas meja.

 

Aku membuka mata dan disambut oleh kegelapan di kamarku. Aku berjalan terhuyung untuk menyalakan lampu, lalu berbaring lagi di atas tempat tidur. Aku kelaparan. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Ya, aku termasuk orang yang bisa tidur seharian penuh.

Kuambil ponselku yang tergeletak di atas meja. Pesan dari Minwoo nampak di layar.

 

Donghyun Hyung, kami meninggalkanmu! ^^ Kau tidur seperti seorang putri, aku tidak tega membangunkanmu. Susul kami segera setelah kau membaca pesan ini. Ppyong~

 

Aku tidak membalasnya. Hal pertama yang harus kulakukan adalah mengisi perutku.

Usai merapikan diri, aku membawa mobilku ke salah satu mal. Aku memilih mal karena semua yang kubutuhkan ada di sana. Aku malas berpindah-pindah lokasi. Kulangkahkan kakiku memasuki tempat makan Korea yang tidak ramai. Ketika sedang kelaparan, aku tidak pilih-pilih soal makanan.

Begitu aku duduk, perempuan yang duduk di meja di depanku, melempar senyum padaku. Aku tersenyum singkat membalasnya. Tak lama kemudian, seorang pria yang nampaknya baru saja kembali dari toilet, menempati kursi di depan perempuan itu. Dia langsung mengalihkan pandangannya dariku.

Pelayan datang, lalu mencatat pesananku. Saat dia berbalik, tidak sengaja dia bertabrakan dengan seorang gadis kecil, hingga bungkusan permen yang dibawanya terjatuh. Beberapa permen berserakan di atas lantai. Entah mengapa aku berpikir bahwa aku akan mendapat tamparan jika kali ini aku bersikap tidak acuh lagi. Aku pun berjongkok untuk membantu gadis kecil itu mengepak kembali permennya.

“Biar aku yang membantunya,” kataku mempersilakan pelayan itu pergi.

Apa yang merasukiku sebenarnya?

“Orangtuamu di sini?”

Gadis kecil itu mengangguk, lalu menunjuk pada sepasang suami-istri yang duduk di meja paling belakang. Mereka nampak sibuk. Pantas saja mereka tidak menyadari anaknya terjatuh.

“Hati-hati dan jangan berlari. Mengerti?”

“Terima kasih.”

Makananku datang tidak sampai sepuluh menit kemudian.

Ponselku bergetar. Hyunseong menanyakan di mana aku sekarang. Kalau aku tidak membalasnya, maka satu per satu dari mereka akan terus mengirim pesan padaku. Maka kuputuskan untuk menelepon Kwangmin.

“Aku sedang makan. Berhentilah menerorku.”

“Kupikir kau masih di tempat tidur Hyung. Baiklah, kami menunggumu. Ah ya, ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu!”

“Siapa?”

“Kau akan tahu nanti. Sampai jumpa Hyung!” Kwangmin memutus teleponnya.

“Ya! Kau ini— aaaah… dasar.”

Rasanya aku tidak membuat janji dengan seseorang. Lalu siapa yang mencariku? Mengapa Kwangmin harus merahasiakannya? Aku menghela napas. Besar kemungkinan dia hanya sedang mempermainkanku.

Aku baru sadar bahwa perempuan di depanku terus mencoba mencuri-curi pandang ke arahku. Padahal pria di depannya sedang mengajaknya bicara. Kali ini aku tidak membalas. Kualihkan pandanganku ke luar, melihat orang lalu-lalang.

Kemudian aku menangkap sosok perempuan itu. Penampilannya hari ini nampak sama persis dengan perempuan di dalam foto yang kuterima. Cepat-cepat aku membayar makananku, lalu berlari keluar mengejarnya. Takdir seolah memang ingin mempertemukan kami berdua.

Dia berjalan tak jauh di depanku. Bagaimana aku harus mengatakannya? Dia jauh berbeda dari perempuan yang kutemui di toko buku. Rok mini, blouse hitam yang transparan di bagian belakangnya, makeup, dan rambut hitam terurai. Dia nampak… seksi.

Bagaimana rasanya memeluk tubuh itu?

Taruhan, jika Youngmin yang ada di posisiku sekarang, dia pasti sudah merayunya habis-habisan.

Aku mempercepat langkah, hingga sekarang aku sejajar dengannya.

“Kau terlihat normal dengan penampilan seperti ini.”

Merasa diajak bicara, dia menoleh padaku. Dengan kontak lens berwarna abu-abu, dia terlihat semakin sempurna. Apalagi aku berada cukup dekat untuk menikmati wajah cantiknya. Aku pun tersenyum ramah menyapa perempuan itu.

“Lucu sekali kita bisa bertemu lagi.”

“Terima kasih. Aku tidak tahu kau berharap bertemu denganku.”

“Dalam mimpimu!” Perempuan itu melanjutkan langkahnya.

“Kupikir seseorang berhutang maaf padaku.”

“Berhentilah menggangguku!”

“Aku tidak mengganggumu. Aku hanya mengajak bicara orang yang sudah menamparku.”

Dia tidak merespon. Padahal aku mendapati ekspresinya terlihat lucu setiap kali mencoba bersikap ketus padaku. Mendadak dia berbalik dan menatapku lekat-lekat. Kedua tangannya melingkari leherku. Tiga detik kemudian, dia mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Kuulangi sekali lagi, dia mendaratkan BIBIRNYA di atas BIBIRKU!

Dia tidak hanya menempelkan bibirnya, tetapi benar-benar menciumku seakan-akan tidak mau melepaskannya. Dalam sekejap ciumannya berubah semakin intens. Sama sekali tidak memedulikan keadaan di sekeliling kami. Beberapa orang berhenti dan memandang tidak suka ke arah kami. Ada juga yang memuji kami pasangan yang sangat manis. Kau berharap aku menutup mata dan menikmati ciuman itu? Maka itulah yang kulakukan sekarang. Tidak baik menyia-nyiakan kesempatan.

Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya memeluk tubuh ini. Tetapi aku malah mendapat kesempatan merasakan bibirnya.

Kurasakan ciumannya melambat. Kalau dia berpikir untuk mengakhirinya, maka sekarang giliranku untuk memulainya lagi. Aku merapatkan tubuhnya padaku. Kulihat dia membelalakkan mata. Aku melepaskan bibirnya untuk menyeringai sebelum melumatnya lagi. Untuk hal ini, aku mengijinkannya tidak memberikan alasan yang jelas kenapa dia melakukannya.

Sulit sekali menahan tanganku untuk tidak menyentuh setiap bagian tubuhnya. Seandainya dia tidak menciumku di tempat umum, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Awalnya dia diam, tetapi lama-kelamaan dia membalas ciumanku. Aku menggigit pelan bagian bawah bibirnya. Sungguh, aku tidak rela melepaskannya.

Aku mengakhiri ciumanku saat merasa kami berdua perlu mengambil napas.

Dia memberikan tatapan padaku yang seolah mengatakan kenapa-kau-menciumku-seperti-itu-bodoh.

“Kau— apa yang—“

“Aku hanya menikmati apa yang kau tawarkan.”

Perempuan itu menoleh ke belakang, lalu menghela napas lega. Aku tidak tahu apa yang dia perhatikan, karena terus terang aku tidak peduli.

“Biar kujelaskan, aku bukan sengaja ingin menciumu. Aku melakukannya karena—“

“Simpan penjelasanmu!” Kurasakan ponselku bergetar. Nama Jeongmin berkedip-kedip di layar.

“Sayang sekali aku harus pergi. Terima kasih untuk hidangan penutup yang kau berikan tadi. Sampai jumpa!”

Sebelum pergi, aku memberi kecupan singkat pada bibirnya.

“Ya!!”

Ternyata bertemu lagi dengannya bukan hal yang buruk. Pertama, dia menamparku. Pertemuan kedua dia menciumku. Aku menebak apa yang terjadi seandainya ada pertemuan ketiga.

Tetapi, bagaimanapun, aku tidak boleh mengingat ciuman itu. Karena dia adalah target kami saat ini.

***

 

Suasana club tempat kami mengadakan pesta telah ramai. Tidak semua yang berada di sini adalah orang yang kami kenal. Hanya sedikit yang benar-benar mengetahui siapa kami sebenarnya. Yang lainnya hanya pengunjung tetap club yang ikut meramaikan pesta kami.

Aku mencari keberadaan kelima orang temanku. Tetapi, bukannya mereka yang kutemukan, melainkan justru bencana.

“Donghyun Oppa!” Seorang perempuan berlari ke arahku, kemudian memelukku erat.

“Lepaskan aku!”

“Kau tidak tahu seberapa besar aku merindukanmu!”

“Ya, aku tidak tahu, karena itu lepaskan aku!” Aku berhasil melepaskan diri darinya.

Aku melihat Hyunseong melambaikan tangan dari jauh. Aku pun bergegas menghampirinya. Perempuan yang memelukku mengikutiku di belakang.

“Waaaaah… Hyung, kulihat kalian berdua sedang reuni?”

“Tutup mulutmu Minwoo, atau aku yang menutupnya!”

Minwoo dan Kwangmin mengikik. Benar-benar mengganggu. Jadi dia yang dimaksud Kwangmin di telepon sebelumnya? Tahu begini, aku memilih bertahan lebih lama di mal. Siapa tahu aku mendapat kesempatan untuk memperoleh lebih dari sekadar ciuman.

“Oppa! Aku tidak suka kau mengabaikanku!”

“Aku tidak suka kau berada di dekatku!” balasku.

“Oppa!”

Namanya Rihwa, adik pemilik club ini. Berisik dan sangat mengganggu. Oke, dia cantik, seksi, dan kaya. Tetapi di mataku dia tidak ada bedanya dengan gadis remaja yang suka menjerit berlebihan ketika bertemu idola mereka. Sama sekali tidak membuatku tertarik.

“Menjauhlah Rihwa. Kau merusak pestaku,” keluh Hyunseong.

Rihwa menyerah dan dengan kesal meninggalkanku.

“Kau bisa memulai pestanya Hyung,” kata Jeongmin.

Hyunseong meminta musik berhenti. Dari lantai dua tempat kami berada, dia memulai sambutannya.

“Aku senang bisa kembali ke sini dan bergabung bersama kalian. Bersulang!” Hyunseong mengangkat gelasnya. “Pesta ini untuk kalian semua!” tambahnya.

Semua bersorak, lalu musik kembali diputar.

Youngmin menuju ke lantai dansa bersama seorang perempuan baru. Tiga orang perempuan yang sejak tadi berdiri di dekat kami, berjalan mendekat.

“Aku akan tersanjung kalau kau mau berdansa denganku,” kata perempuan berambut pendek.

Jeongmin menyambut uluran tangannya, dan Minwoo menyambut tangan perempuan yang lain. Satu permpuan yang tersisa mengajak Kwangmin, tetapi dia menolaknya.

Aneh, pikiranku seolah tidak berada bersamaku di tempat ini. Aku tidak bisa mencegah diri untuk kembali mengingat kejadian di mal tadi. Kira-kira, kapan aku bertemu dengannya lagi?

“Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan Hyung?” tanya Kwangmin.

“Kenapa kau bertanya?”

“Karena kau baru saja tersenyum,” imbuh Hyunseong.

“Ada yang salah dengan hal itu?”

“Baiklah, baiklah, anggap aku tidak pernah bertanya Hyung.”

Benarkah aku baru saja tersenyum sendiri? Bodoh.

Ketenangan kami terusik oleh kedatangan sekelompok orang. Lelaki yang berjalan paling depan adalah orang yang menyebabkan Hyunseong dipenjara. Dengan santainya dia berjalan sambil tersenyum ke arah kami. Aku tidak berminat meladeninya. Semakin diladeni, dia akan semakin senang. Biar kutebak, Hansoo pasti datang hanya untuk mencari ribut.

“Kenapa penyebab kesialan itu datang kemari?”

“Mungkin dia merindukanmu Hyunseong Hyung.”

Aku ingin tidak memperhatikannya. Tetapi, sekali lagi kebetulan mempermainkanku. Perempuan yang baru saja kupikirkan ada diantara perempuan-perempuan yang datang bersama kelompok Hansoo. Dia menggandeng lengan salah seorang lelaki.

Mereka terlihat mesra. Oke, itu bukan berarti aku peduli. Tetapi memang itulah pemandangan yang kulihat sekarang. Saat akhirnya pandangan kami bertemu, dia menatapku angkuh. Dengan cepat dia melirik ke arah lain, sementara mataku masih tidak mau berpaling darinya.

Siapa sebenarnya perempuan itu?

This entry was posted by boyfriendindo.

9 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Obsession – Chapter 01

  1. astaga astaga astagaaaaa…

    donghyun aaakkk speechless hei aothor kau masuh hutang chance sama escape from my brother.
    lanjutkan thor i’ll always support your fanfic mangaatttsss

    • hahaha yeah i know, tetep dilanjutin dong tenang aja.. cuma ya gitu deh..hihi sabar yah.. klo mau nanya2, kasih ide, atau sekadar ngobrol cantik boleh mention ke twitterku ini kok *malah promosi* kekeke trims. ^^

  2. Thor..
    Yg chance ama itutuh.. Prince keren banget..

    Dilanjutin yaa🙂
    cemungudd author…😉

    yg obsession jga yaa.. Lanjutt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: