[FANFICT/FREELANCE] Gone

Tittle  : Gone
Author      : Rabel
Genre : Sad Romance
Rating : PG-18
Type : One Shoot
Casts  : ~ No Minwoo

  ~ Kim Namjo

 

Annyeonghaseo.. Flora Belvania imnida^^ *apasihauthorgapentingbangetXD Maaf kalau ada kesamaan alur, nama, tokoh, tempat, dll. FF ini pure asli dari ide aku, bukan dari pure it *okeabaikanini. Tadinya mau bikin FF yang beda daripada yg lain, tapi karena author Cuma manusia biasa langsung aja yes *authorbawelbeut😄 Mohon maaf kalau banyak typo dan kalimat yang tidak bagus. Happy reading..

Pagi hari ini aku melangkahkan kakiku menuju sebuah Universitas ternama di Seoul. Senyum mengembang diwajahku, tapi tetap saja aku tetap menjaga imageku agar terlihat mempesona. Annyeong, No Minwoo imnida. Hari ini adalah hari kelulusanku. Dan seperti biasa, semua mata perempuan tertuju padaku. Dengan mantap, aku melangkah menuju panggung untuk memberikan pidato.

“Ya, ini dia Siswa Terbaik tahun ini. No Minwoo” seru kepala sekolah di Universitas ini.

Ne, kamsahamnida. No Minwoo imnida. Jeongmal kamsahamnida untuk semua orang yang mendukungku. Dan untuk para Hoobae, tetap semangat. Kau bersinar bukan karena orang lain, tapi kau bersinar karena kemampuanmu. Sekian dari saya. Kamsahamnida

Semua orang bertepuk tangan untukku, tak jarang aku mendengar kata-kata “Minwoo oppa, saranghae!!” Ya, aku sangat senang karena bisa membanggakan Appa dan Eomma. Aku sudah menyiapkan dengan matang tentang masa depanku, juga calon pendampingku. Dan 2 bulan kemudian, aku diterima sebagai guru musik untuk anak-anak TK. Yaps, itulah impianku. Selalu bersenang-senang. Dan saat aku hendak pulang kerumah..

 

BRUKK..

 

Mi.. Mianhae.. Kau tak apa?” begitu terpesonanya aku saat ku tatap matanya. Rambut pirang pendeknya, ditambah dengan pony. Pipinya yang putih halus, bibirnya yang merah muda. Sangat mempesona. Yeoja itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Benar kau tak apa?”

Yeoja itu hanya mengangguk.

Eonnie..”panggil seorang anak perempuan yang sangat aku kenal.

“Ahh, annyeong oppa. Eonnie, kajja. Aku lapar. Kajja kita pulang. Oppa, aku duluan ya. Ppaii” sambung anak kecil yang bernama Kim Mei atau  biasa dipanggil Kimmy.

“Ah, ne. Ppaii

Yeoja yang bersama Kimmy itu hanya tersenyum sambil berjalan pergi dan lagi DEG membuat hatiku terpana. Aigo, siapa yeoja ini?

 

-Saat di ruang makan-

Aku hanya memainkan makananku sambil senyum-senyum sendiri karena terus memikirkan yeoja itu. Aku baru melihat yeoja itu. Aku terus senyum-senyum sehingga membuat Appa dan Eomma ku bingung.

“Yaa. Minwoo-ah. Wae yo? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?”ledek Eomma yang membuatku terbangun dari lamunanku.

“Aaa.. Anio,eomma

“Yaa, sepertinya sebentar lagi kita akan mendapat menantu” tambah Appaku yang semakin membuatku salah tingkah.

Aigo.. Siapa yeoja beruntung yang bisa memikat hati si Mr. Cool ini?”

“Yaa. Sudahlah. A.. Aku tidur duluan” ucapku seraya meninggalkan Eomma dan Appa yasng sedang senyum-senyum sendiri. Aku langsung masuk kamar dan memikirkannya hingga aku mendapatkan sebuah ide.

 

Keesokan harinya, aku sempat menanyakan tentang yeoja itu pada Kimmy. Dan yeoja itu adalah sepupunya, namanya Kim Namjoo. Hari ini dia dijemput lagi oleh Namjoo. Aku pun menunggu Namjoo datang untuk berbincang-bincang dengannya. Namjoopun datang.

Annyeong. No Minwoo imnida” seraya mengulurkan tanganku. Dia membalasnya, dan hanya tersenyum.

“Kau Kim Namjoo kan?” dia membalasya dengan senyuman.

Eonnie..”teriak Kimmy yang langsung memeluknya. Betapa inginnya diriku menjadi Kimmy yang dapat dengan bebas memeluk Namjoo.

Eonnie, aku ingin memberitahu kau sesuatu” Kimmy langsung membisikan sesuatu pada Namjoo, dan terlihat wajah Namjoo memerah.

“Ahh.. Itu Appa! Eonnie aku duluan ya. Oppa, jaga eonnieku yah. Ppaii

 

Yeoja kecil itu sepertinya mengetahui rencanaku yang ingin mengajak Namjoo. Aku mengajaknya, dan seperti biasa dia tersenyum dengan senang. Aku mengajaknya ke sebuah taman di Kota Seoul setelah kami makan malam.

 

“Ini untukmu” aku memberikannya Ice Cream. Dan seperti biasa, dia hanya tersenyum.

“Namjoo-ssi..” tiba-tiba dia menggeleng. Mungkin dia tidak ingin aku bersikap formal kepadanya.

“Namjoo-ah, kau tak pernah bicara padaku. Waeyo? Kau tak punya masalah dengan nafasmu kan?” Candaku yang sukses membuatnya tesenyum geli.

“Lalu, kenapa?”

Tiba-tiba dia berhenti tersenyum riang dan memaksakan untuk tersenyum. Dia menatapku dengan sedih.

“a u tu na wi ca a” jawabnya yang sontak membuatku kaget. Aku langsung merasa tidak enak padanya. Dan sekarang aku mengerti mengapa di restaurant tadi dia hanya mengikuti kata-kataku.

“Jadi kau tak bicara karena kau berfikir kau akan membuatku malu?”

Dia mengangguk pelan sambil tak lagi menatapku. Ya, ini adalah pertemuan kedua kami dan bisa dibilang kencan pertama kami. Tapi aku mengacaukannya dengan membuatnya sedih.

“Namjoo-ah.. A aku tak bermaksud membuatmu sedih. Aku juga tak akan malu jalan denganmu”

“Kam a amn ida” jawabnya sambil mencoba tersenyum dan jelas jelas air mata menetes ke pipinya itu. Aku merasa sangat bodoh. ‘Pabbo, Minwoo ya’ sesalku. Seakan dia bisa membaca fikiranku, dia langsung menatapku.

“Ja ngan be bi ca ra se pe ti i tu. Ki ta ba ru be te mu, wa ja ji ka kau ta ta u. Ja ngan me nga ta an ka lau kau i tu bo oh” katanya sambil melepas senyum. Setetes air mata jatuh lagi ke pipinya. Aku langsung menghapusnya dengan ibu jariku. Aku mendekkatkan wajahku padanya

“Kau juga jangan berfikiran jika kau akan membuatku malu. Aku sangat beruntung jika aku bisa berjalan dengan yeoja secantikmu”

Kali ini dia tersenyum riang, aku pun langsung mengantarnya pulang.

“Kam a amn ida” ucapnya yang juga disertai bahasa tubuh.

“Sama-sama. Aku pulang yah. Sampaikan salamku pada Kimmy. Ppaii” senyumku.

Aku benar benar senang hari ini walaupun sempat membuat Namjoo menangis. Tapi aku senanng karena sudah cukup dekat dengannya. Sampai rumahpun aku masih senyum-senyum dan sukses membuat Eomma dan Appaku penasaran. Keesokan harinya aku membawa Namjoo ke rumahku, dia nampak malu karena tak bisa berbicara. Namun aku tetap memaksanya.

Annyeong. Eomma, Appa” aku menghampiri mereka yang sedang berada diruang TV.

Aigo, cantiknya. Jadi ini yeoja yang telah memikat hatimu?” tanya eomma yang sukses membuatku dan Namjoo salah tingkah.

“An nye ong a e yo. Im Nam oo imn ida” katanya dilengkapi bahasa tubuhnya dan terlihat sedikit kurang percaya diri. Kedua orang tuaku tak memandang orang dari segi fisik, jadi walau orang itu mempunyai kekurangan kedua orang tuaku tetap menerimanya dengan senang hati.

“Namjoo-ah. Tak perlu sungkan. Kau cantik, anggun, menarik. Mengapa kau terlihat tak percaya diri?” tanya appaku.

“A.. a u ta ut mem uat a li an ma lu ji a e nal de ngan u”

Aigo,Namjoo-ah. Kau tak boleh bicara seperti itu. Oh ya apakah kau bisa memasak? Ini sudah jam makan siang. Kajja kita memasak” ajak eomma yang sukses disambut oleh anggukan dan senyum riang Namjoo.

 

-Di dapur-

“Namjoo-ah..”

Yeoja itu menatap eomma.

“Mau kah kau memanggilku eomma? Aku sangat ingin mempunyyai anak perempuan. Walau aku masih 37tahun dan masih bisa mempunyai seorang anak, tapi aku belum diberi kesempatan itu”

“Bo eh ah a u me mangilmu eo mma?”

“Tentu saja”

“Kam a amn ida, eo mma”

Senyum riang menghiasai kedua wajah yeoja itu. Dan akhirnya makananpun sudah tersedia dimeja makan.

“Sepertinya kita sedang pesta. Nampaknya lezat”

“I ni e mu a ma a annya eo mma”

“Ahh.. Anio.. Ini juga berkatmu, Namjoo”

Kajja kita makan, aku sudah lapar. Hehe” ucapku.

Aku sangat senang menikmati suasana ini. Apakah jika Namjoo resmi menjadi istirku, rasanya juga akan senyaman ini? Aku sungguh ingin cepat-cepat menjadikannya milikku.

Entah mengapa, seminggu setelah itu eomma dinyatakan hamil. Kami semua sangat senang, dan tak terasa bayi perempuan yang dilahirkan eomma sudah berumur 2 tahun. Aku rasa ini saatnya aku menjadikan Namjoo milikku. Akupun mengajak dia ke tempat pertama kali kami berkencan. Tiba-tiba cuaca mulai  gelap.

“Namjoo-ah. Saranghaeo. Jeongmal Saranghaeo. And I think I wanna marry you. Would you be my love? My forever love?” ucapku mantap sambil menggenggam kedua tangan Namjoo. Namjoo memalingkan wajahnya dan kurasa dia akan menangis. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.

“A a u ti da bi sa” ucapnya sambil meneteskan air mata.

Waeyo? Kita sudah saling mencintai”

Namjoo langsung berdiri, “a a u ti da pe nah men cin ta i u” ucapnya tetap tak bisa menahan tangisnya.

keotjimal!! Aku tau kau mecintaiku”

“a a u..” ucapnya terpotong karena bibirku langsung menyentuh halus bibirnya. Dia tidak memberontak. Dia hanya memejamkan matanya sambil menangis. Kami berciuman dibawah hujan deras. Dan aku yakin, Namjoo itu berbohong.

1 detik..

30 detik..

1 menit..

Namjoo langsung melepas ciuman itu dan hendak pergi, tapi aku mencoba menahannya.lagi

“Mi mi an e. A u ta bi a min woo-ah” ucapnya yang tak ingin menatapku sambil memberontak.

Wae? Waeyo!? Aku mencintaimu apa adanya. Jeongmal Saranghaeo, Kim Namjoo

Seakan tak memperdulikannya, namjoo pergi begitu saja. Kini hanya aku yang ditemani air hujan. Sendirian, ditaman itu.

 

Setelah kejadian itu, aku tak pernah bertemu dengannya. Kimmy pun sudah lulus, jadi aku tak bisa menanyakan keberadaan Namjoo. Aku pun pulang ke rumah.

Oppa.. Minwo oppa” riang dongsaengku, Minjoo.

Annyeong princess kecil oppa” ucapku seraya mengusap lembut rambutnya. Minjoo sangat mirip dengan Namjoo. Namanyapun diambil dari namaku dan nama Minjoo.

“Nih..” polosnya sambil memberikan sebuah surat.

“Itu dari Namjoo. Tadi dia kesini dan memberimu itu. Dia juga menyampaikan maafnya”

“Pegang saja dulu, aku baru ingat ada urusan lain. Aku pergi. Ppaii little princess” ucapku tak memperdulikan surat itu. Aku langsung menancap gas motor Ninjaku entah mau kemana aku pergi. Dan tiba-tiba…

 

 

 

 

 

Itulah kenanganku, dan sejak itu aku hanya dapat terbaring diruang ICU dengan banyak kabel ditubuhku hingga sekarang. Kurang lebih sudah 1 bulan aku berada disini. Mengapa aku mengetahuinya? Itu karena, jiwaku keluar dari tubuhku. Ya, aku KOMA. Sejak itu, aku belum membaca surat itu.

“Kau pasti belum membaca surat ini kan. Eomma akan membacakannya untukmu” ucap eomma sambil menangis.

 

Annyeong, No Minwoo.

Aku tahu, kau pasti sangat kecewa denganku. Mianhae. Kau benar, aku sangat mencintaimu. Jeongmal Saranghaeo. Tapi aku punya alasan mengapa aku tak menerimamu. Jika kau ingin tahu, datanglah ke rumah Kimmy tanggal 14 February 2021 pukul 09.00. Jangan lupa bawa coklat untuk Kimmy yah, karena dia pasti akan menagihnya. Ppaii..

                                                                                                            Kim Namjoo

‘14? Sekarang sudah tanggal 20. Mengapa tak aku baca surat itu sejak kejadian waktu itu. Pabbo!’ batinku yang hanya bisa mengeluh. Karena tak tega melihat eomma terus menangis, aku memutuskan untuk pergi ke kediaman Kimmy. Karena wujudku adalah Roh, aku bisa masuk tanpa terlihat.

Appa, aku menemui eonnie dulu yah” kata anak kecil yang sekarang sudah tumbuh menjadi anak umur 7 tahun. Aku mengikutinya ke taman belakang, dan terlihat tumpukan batu nan indah. Dan aku sangat kaget melihat batu nisan itu ‘Kim Namjoo. Died: 14 February 2021 pukul 09:10’

 

Annyeong,eonnie. Mian,aku belum bisa membawa Minwoo oppa. Apakah eonnie tahu, Minwoo oppa sedang sakit dan koma. Aku sangat sedih. Karena besok hari Minggu, aku ingin menjenguknya. Eonnie jaga kesehatan yah. Saranghaeo. Muahh” Kiss bye Kimmy.

 

Aku kembali ke ruang ICU dan menyesali semuanya. Tetapi aku melihat sosok yeoja yang sangat aku cintai. Kim Namjoo. Ya! Itu dia. Aku mengikutinya hingga ke.. Taman ini. Ini taman yang sering kami kunjungi. Dia duduk menangis sambil duduk dikursi itu.

 

“Namjoo” lirihku

“Mi.. Minwoo. Kau bisa melihatku?” terdengar suaranya begitu indah jika dia bisa berbicara dengan sempurna sepeerti ini dia pun langsung berdiri.

“Kim Namjoo. Saranghaeo, jeongmal saranghaeyo” ucapku seraya memeluknya.

Hujan turun begitu derasnya, seakan ingin ikut merayakan pertemuanku dengan namjoo.

Nado,Minwoo-ah. Nado Saranghaeyo” balasnya sambil menangis dalam pelukanku. Aku melepaskan pelukanku dan menghapus air matanya.

“Aku akan selalu bersamamu. Aku menyesal tak segera membaca suratmu. Mianhaeo. Aku memang bodoh” sesalku.

Ani.. Bukan salahmu. Ini salahku, karena saat itu..”

“Mengapa kau meninggalkanku?”

“Aku selain tak bisa berbicara, juga mempunyai kanker otak. Aku juga tahu, umurku takkan lama. Jadi aku takut jika..”

Dan lagi ku menciumnya dengan lembut hingga dia tak dapat melanjutkan kalimatnya. Hujan menjadi saksi, bahwa cinta kami sangat besar. Sangat lama kami berciuman dan aku melepaskannya. Aku mengajaknya untuk kembali ke ruang ICU. Dan sekarang aku bisa pergi dengan tenang.

Keesokan harinya saat semua berkumpul, aku pun pergi meninggalkan dunia nyata. Hingga saat dipemakaman, makam Namjoo dipindahkan didekat makamku. Semua keluarga kami menangis.

“Walau kami menghilang di dunia nyata, tapi kami tak akan pernah menghilang di hati kalian. Saranghaeyo..”

Ucap kami bersamaan dengan angin yang berhembus. Keluarga kamipun tersenyum dan segera pulang. Aku dan Namjoo akhirnya bisa bersatu dan bahagia selamanya. Walau harus menghilang di dunia nyata…

 

 

-THE END-

 

Mianhae yah kalau gaje, freak, ga bagus, jelek, alay, absurd,dll. Author masih belajar:D Ayoo ayoo jangan lupa kritik dan sarannya yaaahhh.. ^^ Maaf banget kalo jeleknya pake banget. Makasih udah mau baca^^

This entry was posted by boyfriendindo.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] Gone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: