[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 05

Tittle  : Flower Boy : Bookstore – Chapter 05
Author      : Z. Zee
Genre Friendship, Mysteri, dan Romance
Rating : PG-17
Type : Chapter
Casts  : ~ Kwangmin

 ~ Minwoo

 ~ Jungkook (BTS)

  ~ Ahn Jae Hyun

  ~ Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)

  ~ Park Tae Rin

  ~ Kim Namjoo (APink)

  ~ Etc

 

Disclaimer           : Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila terdapat kesamaan cerita dan tokoh itu hanya kebetulan semata. Cast di dalamnya juga milik author seorang,, hhe

CHAPTER 5 : IT’S NOT MY FAULT

 

#Flashback START!

Seorang anak kecil terlihat menangis di kamarnya. Mata kecilnya terlihat merah dan bengkak. Berkali-kali ingusnya mengalir dan dengan cepat dilap dengan tangannya. Sang ibu sudah berusaha menenangkannya. Membujuk dengan berbagai macam rayuan hingga iming-iming mainan baru juga tidak berhasil membuat anak perempuan kesayangannya itu berhenti menangis.

Appa pembohong! Kemarin Appa bilang kalau hari ini mau mengajak Tae Rin dan eomma jalan-jalan. Tapi sekarang Appa malah sibuk bekerja. Aku benci Appa!”

“Jangan berkata seperti itu. Bukankah Appa tadi pagi sudah bilang kalau hari ini ada meeting mendadak yang tidak bisa dibatalkan? Eomma yakin Tae Rin sudah besar sekarang. Jadi Tae Rin pasti mengerti kenapa Appa lebih memilih pekerjaannya untuk saat ini.”

“Karena Appa tidak sayang lagi dengan Tae Rin.”

“Siapa bilang? Appasangaaatt sayang dengan Tae Rin. Sampai-sampai posisi eomma direbut oleh Tae Rin.”

“Posisi apa?”

“Dulu Appa bilang kalau eomma adalah wanita yang paling dicintainya. Namun sekarang eomma menjadi nomor dua. Nomor satu adalah anaknya ini,” kata eomma sambil mencubit kedua pipi Tae Rin.

Appa bilang seperti itu?”

Eomma mengangguk dengan senyum tulus. “Bagaimana kalau perginya dengan eomma saja. Lain kali kita bisa pergi bersama ok?”

Ne, eomma!” Tae Rin mengelap air mata di pipinya dengan asal. “Eomma aku ingin dandan yang cantik. Biar tidak kalah dengan artis-artis yang ada tv. Eomma mau membantu Tae Rin, kan?”

“Tentu saja. Tapi setelah mengelap ingusmu itu, ya.”

“Hehehe…” Tae Rin terkekeh kecil sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

_SKIP_

 

Eomma aku mau naik wahana itu.” Tae Rin kecil menunjuk roller coaster yang sedang melaju dengan cepat.

“Boleh tapi Tae Rin naik sendiri saja ya?”

“Kenapa? Eomma takut ya?”

Nyonya Park tersenyum simpul. Dia memang takut naik wahana itu. Sejak dulu dia tidak pernah mau menaikinya.

“Aku tidak mau naik sendirian. Eomma harus ikut.”

“Eh, tapi… eomma mau ke toilet dulu.

“Yaahh… tapi setelah ini janji ya?”

“J-janji,” jawabnya dengan terbata-bata. Sebenarnya Nyonya Park hanya mencari-cari alasan. Tapi karena itu kemauan anak kesayangannya apa boleh buat. Nyonya Park perlu sedikit waktu untuk menyiapkan diri.

 

Tae Rin menunggu di lorong toilet dengan bosan. Sudah hampir 10 menit tapi eomma-nya belum keluar juga. Di tatapnya bayangan dirinya di atas cermin. Sesekali dia membenarkan posisi bando dengan pita besar di rambutnya.

Tiba-tiba tiga orang laki-laki berperawakan besar masuk ke dalamnya. Sebelum Tae Rin ingin mengingatkan bahwa mereka telah salah masuk toilet perempuan, mulutnya telah dibekap oleh salah seorang di antara mereka. Sedangkan satu orang lainnya mengunci pintu toilet.

“Diamlah anak kecil, kalau kau ingin selamat,” bisiknya di telinga TaeRin

Meronta seperti apapun Tae Rin tetap tidak bisa membebaskan diri. Kekuatan anak kecil sepertinya tidak akan mampu mengalahkan orang dewasa. Yang bisa dilakukannya saat ini hanya menangis.

 

Pintu salah satu ruang toilet terbuka. Nyonya Park begitu terkejut melihat keadaan anaknya yang terlihat tidak berdaya di tangan orang-orang bertubuh kekar.

“Siapa kalian? Lepaskan Tae Rin sekarang juga!” bentaknya. Wajahnya merah padam menahan emosi.

“Anda tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kami tidak ingin berlama-lama. Ini simpel saja kalau anda mau bekerja sama dengan kami.”

“Aku tidak peduli dengan hal itu. Aku hanya ingin kalian membebaskan Tae Rin. Aku tidak peduli jika kalian menyakitiku tapi jangan lukai anakku.”

 

Tae Rin menangis semakin kencang.

 

“Baiklah kalau begitu. Kami akan menuruti kemauanmu.”

Dua orang dari mereka mengeluarkan pistol dari balik jaket mereka. Bersiap untuk menarik pelatuknya.

DOORR! DOR!

EOMMA!!!”

Tae Rin menggoyangkan-goyangkan tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa itu. Darah tidak berhenti mengalir dari luka bekas tembusan dua peluru. Lantai toilet dipenuhi oleh darah. Tangan kecil Tae Rin juga ikut terlumuri dengan darah. Tidak pernah terbayang sebelumnya di pikiran polos seorang anak berumur 7 tahun kalau ia akan melihat sendiri ibunya meregang nyawa.

Ketiga orang itu hanya tertawa puas melihat mereka berhasil menjalankan tugas dengan baik.

“Mau apa kau anak kecil?” tanya salah seorang pembunuh itu ketika melihat Tae Rin mengambil salah satu pistol yang sengaja mereka jatuhkan tadi.

Tae Rin mengarahkan pistol itu ke orang-orang yang baru saja membunuh ibunya dengan tangan gemetar. Dia memang tidak mengerti bagaimana menggunakan benda itu. Dia hanya menyimpulkan sendiri berdasarkan film action yang sering ditontonnya. Tepat setelah Tae Rin menarik pelatuknya, mereka dengan cepat menghindar dan segera keluar dari tempat itu. Peluru itu berhenti setelah menabrak cermin. Serpihan kaca pun menyebar ke mana-mana.

Tae Rin menurunkan pistolnya dengan lemas. Wajahnya tertunduk menatap ke lantai. Satu hal yang bisa dirasakannya saat ini adalah sakit di dadanya. Sangat sakit hingga air mata tak mampu berhenti mengalir dari kedua bola matanya.

Dia tidak menyadari kalau seseorang ingin masuk ke dalam toilet. Gadis yang baru masuk itu terlihat begitu terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Refleks dia berteriak, dan kemudian berlari keluar. “Tolong!! Siapapun tolong ke sini. Ada mayat di dalam toilet. Seorang anak kecil telah membunuh ibunya.”

________________________

“Sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak membunuh ibuku! Aku tidak membunuhnya!”

“Dasar pembunuh! Dasar pembunuh!” ejek beberapa anak. Mereka bukan hanya mengejek, tapi juga melemparinya dengan sampah dan dedaunan.

“Kalian tidak tahu apa-apa jadi sebaiknya diam saja!”

“Yang kami tahu kau membunuh ibumu dengan pistol,” ejek seorang anak perempuan bertubuh gemuk. “Dasar pembunuh! Aku tidak mau berteman denganmu lagi. Ayo teman-teman kita pergi saja.”

Tae Rin terduduk lemas di atas rumput. Dia sangat ingin meneriakkan ke semua orang bahwa pistol itu milik orang-orang jahat. Saat itu dia memegangnya untuk membalas kejahatan mereka. Memang benar kalau dia ingin membunuh, tapi bukan ibunya melainkan orang-orang jahat itu.

#FlashbackEND

 

Tae Rin POV

                Sekeras apa pun aku berusaha menutup telingaku dengan bantal, suara berisik di depan kamarku tetap bisa kudengar. Aish… bukankah aku sudah mengatakan pada mereka kalau aku tidak mau pergi? Kenapa mereka begitu keras kepala sih? Aku tahu hari ini adalah perayaan 9 tahun berdirinya GLORIA sekaligus peringatan 10 tahun  kematian eomma. Aku sudah tahu dan tidak perlu diingatkan lagi!!

 

Nuna, kau benar-benar tidak mau keluar? Presiden Park… ah ani, maksudku ayahmu sudah menunggu di luar.”

“Tae Rin-ah, keluarlah, kau membuatku khawatir,” ucap Namjoo.

“Park Tae Rin, apa kau mau mengurung diri di kamar terus? Kau bahkan belum sarapan dan makan siang. Kau bisa sakit nanti,” ucap Jong Woon.

“Yaaa!! Tae Rin babo! Keluar atau aku akan merusak pintumu sekarang juga.” Aku tahu suara siapa ini. Siapa lagi kalau bukan Kwangmin yang menyebalkan itu. Dari nada bicaranya pun sudah ketahuan. Detik berikutnya kudengar rintahan kesakitan dari Kwangmin.

“Auuww!! Yaa… Jeon Jungkook! Mwohaneun geoya? Aku ini lebih tua darimu, tapi berani-beraninya kau memukul kepalaku.”

Hyung, apa kau tidak pernah bicara pada perempuan? Kau tidak bisa berteriak dengan kasar seperti itu.”

 

“Kenapa tidak kita dobrak pintunya saja, hah? Itu akan lebih cepat. Tidak peduli dia marah atau tidak yang penting dia keluar, kan?”

Lagi-lagi kudengar suara rintihan dari Kwangmin. “Jongwoon-hyung?! Kenapa kau memukulku juga?”

“Presiden Park menyuruh kita mengajaknya dengan halus, BABO! Apa kau tidak mendengarkan tadi?”

 

“DIAM KALIAN SEMUA!!” Aku sudah tidak tahan lagi dengan suara berisik mereka sejak pagi. Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. “Aku tidak mau mengikuti acara peringatan kematian eomma, ataupun perayaan berdirinya Gloria. Kalian dengar itu? Kuharap aku tidak mendengar suara apa pun lagi dari kalian.”

 

“Biarkan saja dia. Kita lihat sampai kapan dia akan bertahan dengan sikap keras kepalanya itu.”

Inikan… suara Appa! Bahkan aku bisa merasakan kemarahan dari suara Appa. Jweseonghamnida,Appa. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa. Hanya saja… haruskah kita memeringati kematian eomma setiap tahun. Aku tahu dan aku tidak akan pernah lupa!

 

Kutarik selimutku dengan kasar dan kugunakan untuk menutupi seluruh tubuh. Kupaksa mataku untuk terpejam, walau aku tidak yakin apakah aku bisa tidur atau tidak.

 

Author POV

Ceklek! Terdengar suara pintu dibuka. Tae Rin menyembulkan sedikit kepalanya untuk melihat keadaan sekitar. Lampu sudah mati seluruhnya. Samar-samar dia bisa melihat Jongwoon yang tidur di atas sofa, Jae Hyun yang tidur dengan posisi duduk. Sementara Kwangmin, Minwoo, dan Jungkook tidur dengan kepala di atas meja. Tidak jauh dari mereka, ada Namjoo yang tidur dengan sleeping bed di atas lantai. Setelah yakin bahwa semuanya benar-benar sudah tidur, Tae Rin melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Berjalan mengendap-endap menuju dapur. Berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.

Tae Rin meraih pintu kulkas dan membukanya perlahan. Dia berusaha mencari apa pun yang bisa dimakan. Ya, dia tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan lapar. Seharian tidak makan membuat perutnya terasa perih. Sayangnya, tidak ada apa pun yang bisa langsung dimakannya. Hanya ada daging mentah dan sayuran. Kesialan bagi Tae Rin yang sama sekali tidak tahu caranya memasak.

Tidak menyerah sampai di situ, dia mencari ke seluruh sudut dapur dan tidak menemukan apapun. Bahkan mi instan pun sudah habis.

 

“Mungkin aku harus bertahan sampai besok pagi. Yups! Kau pasti bisa, Park Tae Rin.”

“Bertahan untuk apa?”

Tae Rin langsung membalikkan badannya, dan… “Kkkyaaa!!” Dia membungkam mulutnya sendiri. Teriakannya barusan bisa membangunkan semua orang di rumah.

“Ahn Jae Hyun? Kau membuatku kaget. Aku pikir siapa.”

“Hantu?”

“Ne. Eh maksudku mungkin adaaa mmm… adaaa…”

“Ada siapa?”

“Lupakan sajalah. Tadi aku melihatmu tidur, tapi sekarang kau sudah ada di sini.”

“Sebenarnya aku punya masalah dengan tidur. Akhir-akhir ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Suara sekecil apapun bisa membangunkanku. Er.. apa kau lapar? Bukankah kau tidak makan sejak pagi?”

“Aku tidak lapar.”

Jeongmalyo? Padahal tadinya aku mau membuatkanmu makanan.”

Selanjutnya terdengar suara perut keroncongan.

Sial! Ini benar-benar memalukan, batin Tae Rin.

“Masih mau berbohong?”

“Baiklah, aku ke sini memang mencari makanan karena aku lapar. Kau puas? Eh tapi, memangnya kau bisa memasak?”

“Diam dan perhatikan saja. Kau akan tahu nanti.”

 

Tiba-tiba lampu menyala dan memperlihatkan Kwangmin yang berdiri di pintu dapur. “Apa yang kalian lakukan di sini? Hanya berdua dengan keadaan gelap? Sangat mencurigakan.”

“Sebaiknya kau buang jauh-jauh pikiran kotormu itu, karena ini tidak sama dengan apa yang kau pikirkan,” ucap Tae Rin sambil melotot ke arah Kwangmin.

“Baiklah, anggap saja aku salah. Karena Tae Rin sudah keluar, aku sudah bisa tidur di kasur, kan? Ah, rasanya kepala dan badanku benar-benar sakit tidur dengan posisi seperti itu.” Setelah mengatakan itu, Kwangmin langsung pergi meninggalkan Tae Rin dan Jae Hyun. Hatinya terasa panas. Kwangmin sendiri tidak mengerti kenapa dia seperti itu.

 

Kwangmin POV

Kututupi seluruh tubuhku dengan selimut. Suara itu masih bisa kudengar.

Aku menelungkupkan badan dan mengambil bantal untuk menutupi telingaku. Suara itu masih bisa kudengar.Yaa.. apa mereka tidak takut membangunkan yang lainnya?

Akhirnya aku hanya berguling-guling di atas kasur. Sudah berkali-kali kucoba untuk tidur, namun gagal. Suara tawa Tae Rin dan Jae Hyun benar-benar menggangguku. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sampai tertawa seperti itu?

Buru-buru kutepis rasa penasaran itu. Mungkin mereka memang sangat akrab, aku saja yang tidak tahu. Lalu kenapa? Apa hubungannya denganku? Tiba-tiba perasaanku jadi aneh.

 

Author POV

Tae Rin terkagum-kagum dengan cara memasak Jae Hyun. Terlihat seperti seorang chef profesional. Dia benar-benar tidak tahu kalau Jae Hyun pintar memasak. Karena terlalu serius mengamati jae Hyun, Tae Rin sampai tidak sadar kalau dia sudah selesai memasak.

“Aku sudah selesai.”

“Eoh? Benarkah?”

“Kau harus menghabiskannya.”

“Tentu saja. Haah aku benar-benar lapar sampai rasanya mau pingsan.”

“Siapa suruh mengurung diri di kamar. Ini kan akibatnya.”

“Kalau kalian tidak terlalu memaksa, aku juga tidak akan melakukan itu.”

“Tapi itu perintah Presiden park.”

“Ne, arasseo.”

“Kenapa kau bersikeras tidak mau menghadiri peringatan kematian ibumu sampai seperti itu? Apa kau tidak menyayanginya?”

“Bukan begitu. Aku hanya tidak mengerti kenapa harus diadakan acara seperti itu. Aku selalu mengingatnya di dalam hatiku. Aku sangat menyayanginya, tapi aku juga ingin lepas dari bayang-bayang ingatan kematian eomma. Itulah kenapa aku tidak pernah menghadiri peringatan itu.” Air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. Buru-buru Tae Rin membersihkannya sebelum Jae Hyun melihatnya terjatuh. “Huaah… masakanmu benar-benar pedas. Kau memasukkan berapa cabai ke dalamnya?”

“Aku bahkan tidak menggunakan cabai sama sekali. Kalau ingin menangis, keluarkan saja.”

“Aku tidak menangis, kau tidak usah sok tahu.”

“Eh, tunggu. Ada sesuatu di wajahmu.”

Jinjja? Eodi?

“Sini biar kubersihkan.” Bukannya membersihkan, Jae Hyun malah mengolesi tepung ke wajah Tae Rin. Sebenarnya tidak apa pun di wajah Tae Rin, Jae Hyun hanya ingin mengerjainya saja.

“Yaa..!!!”

Jae Hyun memasang tampang ‘pura-pura’ tidak tahu. Dengan cepat, Tae Rin berlari ke arah dapur dan mengambil tepung. Dilemparkannya tepung itu ke wajah Jae Hyun. Jae Hyun pun tidak mau kalah dengan melemparkan balik tepung. Dan akhirnya terjadi perang tepung. Keduanya tertawa lepas tanpa sadar bahwa suara mereka mengganggu seseorang yang sedang berusaha untuk tidur.

________________

 

Pagi yang cerah di hari minggu. Setelah sehari tidak buka, Toko Buku SweetPaper kembali dibuka hari ini. Belum dibuka sebenarnya karena ini masih terlalu pagi. Tapi sudah terlihat kesibukan di dalamnya. Kwangmin dan Minwoo yang sedang mengepel lantai, Jungkook sedang mengelap rak dan barang-barang yang berdebu, Jongwoon dan Jaehyun yang sedang merapikan buku, sementara Tae Rin hanya mondar-mandir.

 

“Minwoo-ya, apa kau melihat Namjoo? Aku belum melihatnya setelah kita sampai di sini.”

“Dia bilang ada urusan mendadak.”

“Dia pergi begitu saja?”

Minwoo mengangguk dengan cepat. “Dia terlihat sangat buru-buru.”

 

“Kwangmin-oppa!!!! Neo jigeum eodiseo?” Terlihat seseorang yeoja masuk tanpa ragu ke dalam toko yang belum dibuka.

Kwangmin buru-buru bersembunyi di balik rak. “Cepat alihkan perhatiannya. Bilang saja kalau aku sedang keluar,” ucapnya sambil berbisik.

 

“Minwoo-ya,  apa kau melihat Kwangmin oppa?”

Minwoo buru-buru mencegat Bomi yang berjalan ke arah tempat persembunyian Kwangmin. “Dia baru saja keluar.”

Jinjjayo? Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya. Kenapa kemarin kau dan Kwangmin tidak masuk? Ah aku juga tidak melihat Jungkook kemarin. Toko juga tidak buka. Sebenarnya ke mana kalian?”

“Kemarin kami ada urusan yang penting.”

“Eoh…” Bomi yang hendak berjalan langsung dihentikan oleh Minwoo.

“Jangan ke situ!”

Wae? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”

“Tentu saja tidak, haha. Lantainya licin karena sedang dipel. Kau bisa terpeleset nanti, apalagi kau memakai high heels.”

 

Bomi mengedarkan pandangan ke seluruh sudut toko. Dia baru menyadari kalau Tae Rin berdiri tidak jauh darinya. “Yaa… neo! Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Aku yang mengajaknya ke sini,” ucap Jae Hyun yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang Bomi.

“Bagaimana oppa bisa mengenalnya?”

“Dia sudah sering datang ke sini. Tae Rin dan Namjoo adalah teman satu kelas Minwoo dan mereka terlihat sangat dekat. Jadi, kuajak saja dia ke sini.”

“Yaa!! Kenapa kalian bisa dekat dengan yeoja sepertinya? Sedangkan kalian malah seperti menghindariku. Aku pergi saja! Sepertinya kalian tidak menyukai kehadiranku di sini.”

“Baguslah kalau kau sadar.”

Dengan langkah kesal, Bomi keluar dari SweetPaper.

 

“Bomi memanggil Kwangmin dan Jae Hyun dengan embel-embel ‘oppa’. Kenapa dia tidak memanggilku oppa juga?”

Tidak ada yang mendengarkan gerutuan Minwoo. Kwangmin sudah keluar dari persembunyian dan melanjutkan kembali pekerjaannya, begitupun dengan Jae Hyun.

 

Baru saja suasana hening tercipta, datang keributan lainnya.

 

Seorang wanita memasuki toko buku SweetPaper. Suara gesekan high heels yang dipakainya dengan lantai terdengar sangat jelas, membuat semua ‘penghuni’ toko menoleh ke arahnya. Dia membuka kacamata hitamnya perlahan. Berhenti sebentar di dekat pintu toko sambil melihat ke sekelilingnya. Rambut pendek sebahunya yang berwarna kecoklatan, pakaian dengan bulu di sekitar lehernya, rok ketat selutut dipadukan dengan stocking hitam, high heels hitamnya yang mengkilat menampakkan bahwa diaadalah seorang fashionista. Ditambah semua benda yang melekat di tubuhnya itu merupakan barang bermerek dengan harga fantastis.

 

Di belakangnya berdiri seorang yeoja dengan rambut dikuncir asal. Pakaian kusut dengan celana jeans panjang, ditambah sepatu yang terlihat kotor. Mereka berdua terlihat sangat kontras. Tidak akan ada yang menyangka kalau mereka adalah ibu dan anak.

 

“Siapa dia?” tanya Jungkook.

“Dia adalah ibunya Namjoo,” jawab Tae Rin.

MWO??!” teriak Kwangmin, Minwoo, dan Jungkook bersamaan.”

 

Eomma! Jangan mengabaikanku terus. Kenapa pertanyaanku tidak dijawab dari tadi?”

“Diamlah, Namjoo-ya. Eomma datang ke sini untuk memberitahu seseuatu yang penting.”

“Iya, aku tahu. Tapi apa?”

Eomma akan beritahu kalau semuanya sudah berkumpul.”

 

Jong Woon dengan langkah tegas menghampiri wanita itu. “Apakah anda Kim Seung Yeon dari Agen Khusus?”

“Iya benar. Itu aku.”

“Kenapa anda datang ke sini?”

“Ada informasi penting yang harus kuberitahukan pada kalian. Informasi ini dari mata-mata kita yang berada di Big Dwarf. Sebaiknya kita bicara di dalam.”

_SKIP_

 

Big Dwarf merencanakan untuk menculik Park Tae Rin. Aku tidak tahu kapan, yang jelas mereka akan melakukannya secepat mungkin. Perketat penjagaan dan jangan biarkan orang lain mendekatinya. Bahkan jika itu teman sekolahnya.”

“Hanya itu?” tanya Tae Rin dengan nada dingin. “Bukankah ini hal yang biasa? Sejak dulu mereka selalu berusaha menculikku. Itu bukan hal baru lagi. Tidak perlu berlebihan.”

“Jangan pernah meremehkan mereka. Kali ini mereka mengirimkan tim terbaik mereka untuk menculikmu.”

“Apa aku harus khawatir? Appa juga sudah memerintahkan salah satu tim terbaik di Gloria untuk menjagaku ditambah satu dari agen khusus, kurasa semuanya akan baik-baik saja.”

“Tapi ini berbeda Park Tae Rin…”

“Apanya yang berbeda? Sejak dulu mereka memang sudah mengincarku. Ah, ani. Mereka mengincar perusahaan Appa tapi aku sebagai kambing hitamnya.” Tae Rin beranjak dari sofa. “Aku mau pulang. Ini sudah larut malam dan besok aku masih harus bersekolah.”

“Park Tae Rin! Bagaimana pun juga kau harus tetap waspada. Aku sudah muak melihatmu yang tidak pernah serius menanggapi Big Dwarf. Tak tahukah kau betapa khawatirnya Sajangnim gara-gara ulahmu? Dia bahkan harus meminum obat penenang setiap hari.”

Nado ara…” Tae Rin dengan santainya pergi ketika Kim Seung Yeon sudah kehabisan kesabarannya dan siap-siap mengeluarkan umpatan padanya.

 

Minwoo, Jungkook, dan Namjoo terlihat panik ketika Tae Rin berjalan keluar.

“Tae Rin-ah… tunggu!” teriak Namjoo sambil berlari.

“Jangan pergi seenaknya. Kau tidak bisa keluar sendirian,” kejar Minwoo.

“Tae Rin-nuna!!” Selanjutnya terdengar suara cempreng khas Jungkook.

Sedangkan Kwangmin, Jong Woon, dan Jae Hyun masih duduk manis di atas sofa.

 

“Aku mohon pada kalian. Kerjakan misi ini dengan serius, jangan main-main lagi. Kita tidak pernah mengerti jalan pikiran mereka. Mereka sering merubah rencana secara mendadak. Kalian mengerti, kan?”

“Kami mengerti. Terima kasih atas bantuannya.” Ucap Jong Woon sambil membungkuk.

“Aku pergi dulu. Masih banyak hal yang harus kukerjakan. Dan juga cepat susul Tae Rin. Tiga anak kecil itu tampak tidak meyakinkan (read: Namjoo, Minwoo, Jungkook)

Kwangmin, Jae Hyun, dan Jong Woon memberi hormat sebelum Kim Seung Yeon melenggang pergi.

 

_ToBeContinued_

.

.

.

Preview for the next chapter

 

“Sangat jelek! Hahaha…”

. . .

                “Nuna, kapan kita bisa seperti itu?”

                . . .

                “Semuanya keluar dari sini. SEKARANG!”

                . . .

                “Cepat ikuti aku. Kita harus segera mengamankan Tae Rin.”

                . . .

                “Leader, mereka datang!”

                . . .

“Aku tidak bisa menahan napas lebih lama lagi.Dadaku terasa sesak.”

______________________

 

Seungyeon KARA jadi cameo di sini sebagai eomma-nya Namjoo. Cuma marganya kuganti dari ‘Han’ jadi ‘Kim’ *mianhae eonnie^^

RCL juseyo, ppyong~

This entry was posted by boyfriendindo.

9 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 05

  1. nah loh,kwangmin cemburu…q suka bgt nih cerita
    \lanjut/eon!nih,q boleh kan pgglx eonie?authorx kls 11/12 kan
    ppyong~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: