[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 06

Title
: Chance – Chapter 06
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : PG – 13
Type : Chapter
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Sena

Support Casts
: ~ Ji Hoon (Kakak Sena)

  ~ Rin (Lawan Main YoungKwang di Drama)

Author Note    : Beberapa lagu yg aku dengerin pas nulis chapter ini -> Kim Jong Kook – Disappearing, You should be happy, dan Story that is not the end. Semoga jg bs bantu kalian dapetin feel.. muehehehe ^^ Selamat membaca xD. Kalau mau ‘meneror’ aku, silakan follow @widi0426 ..kekeke xp Trims.

 

CHAPTER 6

~FLASHBACK~

*Sena POV*

 

Gara-gara telepon mendadak dari Jihoon yang seenaknya memintaku menjemputnya di bandara, aku terpaksa meminta Youngmin menunggu. Aku tidak tega membatalkannya, jadi kukatakan pada Youngmin bahwa aku akan datang terlambat. Jihoon tidak memberi kabar kepulangannya padaku sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu mengapa dia datang. Tapi aku mempunyai firasat buruk mengenai hal itu.

“Oppa!” seruku, melihat Jihoon mencari-cari keberadaanku.

Wajahnya berseri menemukanku melambai sambil memegang ponsel dengan tulisan nama Jihoon berkedip-kedip di layar. Dia berjalan cepat, kemudian memelukku.

“Kurasa aku benar-benar merindukanmu,” katanya. Dia mempererat pelukannya.

“Lain kali beritahu aku jadwal kedatanganmu sebulan sebelumnya, Oppa. Apa kau pikir aku tidak mempunyai hal-hal yang harus kukerjakan?” Aku melepaskan diri, lalu memberinya tatapan protes.

“Ada apa ini? Aku mencium sesuatu yang tidak beres. Semuanya berjalan lancar? Ceritakan semuanya padaku saat kita sampai di rumah nanti.”

Ceritakan semuanya? Mendengar itu pikiranku melayang ke pagi di mana aku mencium Kwangmin. Membayangkan pagi itu menimbulkan sensasi panas di seluruh wajahku. Aku memalingkan wajah dari Jihoon, takut dia memergoki pipiku merona. Jihoon bisa memarahiku selama seminggu penuh jika dia sampai mengetahui apa yang kulakukan.

“Tidak terjadi apa-apa Oppa. Aku bekerja dengan sangat baik.” Aku tersenyum dan berkata dengan tenang agar Jihoon berhenti menginterogasi.

Cepat-cepat kuseret dia ke mobil. Sudah lewat satu jam dari waktu seharusnya aku menemui Youngmin.

“Kau tergesa-gesa sekali.”

“Aku ada janji Oppa.”

“Siapa?” Jihoon menatapku tajam. Aku bisa menebak apa yang dia pikirkan.

Ponselku yang kurasakan bergetar, menyelamatkanku dari pertanyaan Jihoon. Inisial K muncul di layar. Ya, K untuk Kwangmin. Aku mengangkatnya, tapi tidak mengatakan ‘halo’, karena Jihoon terus melirik ke arahku. Lagipula, di seberang telepon, Kwangmin terus bicara tanpa jeda. Kemudian telepon tiba-tiba terputus.

Hanya satu hal yang berhasil aku tangkap. Kwangmin sakit.

Telepon yang terputus membuatku berpikir kondisinya benar-benar buruk. Yang kupikirkan detik ini adalah, aku harus segera ke apartemennya dan melihat dengan kedua mataku sendiri bagaimana kondisi Kwangmin.

“Oppa, kau pulanglah, aku naik taksi dari sini.” Aku meminta sopir berhenti, kemudian keluar.

“Hei, Sena! Kau mau ke mana?”

Aku tidak menghiraukan panggilan Jihoon. Isi otakku sekarang hanya Kwangmin. Segera saja aku pindah ke dalam taksi dan menuju ke apartemennya.

***

 

Aku menemukan Kwangmin menggigil di balik selimutnya. Berusaha tenang adalah hal yang sulit kulakukan setiap kali aku panik. Aku tidak tega membangunkannya untuk mengajaknya ke rumah sakit. Maka kukompres dahinya menggunakan air dingin, kemudian aku pergi keluar membeli obat. Takut panasnya tidak cepat turun kalau hanya kukompres saja.

Saat aku kembali ke kamarnya lagi, dia masih tidur, tapi kurasakan panas tubuhnya sedikit berkurang. Aku merasa sedikit lega. Kutarik kursi di depan meja ke samping ranjang Kwangmin, agar aku bisa mengawasi keadaanya.

“Ayolah Kwangmin, kau membuatku tidak tenang,” kataku sambil menggenggam tangannya.

Satu jam kemudian, aku terbangun. Aku tidak sadar telah tertidur. Panas tubuhnya sudah berkurang lagi. Aku tersadar, Kwangmin butuh mengisi perutnya saat dia bangun nanti. Karena itulah aku memutuskan memasak bubur.

Untungnya ini bukan pertama kalinya aku memasak bubur. Aku pernah belajar dari Jihoon. Hasilnya tidak terlalu buruk. Sungguh, aku tidak berbohong.

“Youngmin Hyung!“

Oh, Kwangmin terbangun.

Tubuhku langsung tegang mendengar langkah kakinya mendekat. Aku berusaha menenangkan diri karena mendadak aku merasa grogi. Gelas yang kupegang terlepas dari genggamanku akibat tanganku yang gemetar dan menimbulkan bunyi ‘ting’ pelan. Cepat-cepat aku membenarkan posisi gelas itu.

Ayolah tangan, jangan mempermalukanku di depan Kwangmin.

“Hyung! Di mana kau? Kenapa tidak—“ ucapannya terhenti karena bukan Youngmin yang dia temukan melainkan aku. “S-sedang apa kau di sini?”

Aku berdiri di balik meja makan, sibuk menata mangkuk, piring, dan gelas di atas meja. Meski tahu Kwangmin berdiri di seberangku, aku masih belum berani memandangnya.

“Baru saja aku mau mambangunkanmu. Makanlah, setelah itu minum obatmu.”

Aku menarik kursi, kemudian mendahuluinya duduk. Semangkuk bubur dan sepiring yangnyeom tongdak terhidang di atas meja.

“Aku memasak buburnya. Semoga saja tidak membuatmu sakit perut. Dan kebetulan aku belum makan malam, jadi aku memesan yangnyeom tongdak ini.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana bisa kau ada di dalam apartemenku?”

“Oke. Pertama, aku masih mengingat password apartemenmu yang belum kau ganti. Kedua, kau yang meneleponku Kwangmin. Ingat?”

“A-ku meneleponmu?”

“Ya. Sepertinya kau berniat menelepon Youngmin oppa, tetapi kau salah meneleponku. Aku tidak mengarang cerita. Cek saja di panggilan terakhirmu.”

Kwangmin terlihat berusaha mengingat-ingat apa yang dia lakukan. Kemudian muncul ekspresi di wajahnya yang seolah berkata ‘yang benar saja Kwangmin, bagaimana bisa kau menelepon Sena’.

“Tapi, kenapa kau tidak menelepon Youngmin hyung dan malah kemari sendiri?”

“Itu… karena… karena… kau!”

“Aku?”

“Nada bicaramu terdengar lemas, belum lagi tiba-tiba teleponmu terputus. Bagaimana aku tidak panik? Kupikir terjadi sesuatu padamu.”

Aku hampir gila membayangkan hal buruk terjadi padamu, bodoh. Imbuhku dalam hati.

“Maaf.” Kwangmin akhirnya menempatkan diri di meja makan.

Hening.

Kami menikmati makan malam kami masing-masing dalam diam. Canggung sekali. Aku tidak memandang hal lain selain makanan di depanku. Baguslah, Kwangmin tidak langsung mengusirku sejak pertama kali melihatku tadi.

“Ah, bukankah kau ada janji dengan Youngmin hyung?”

Sendok yang siap masuk ke mulutku kuletakkan lagi gara-gara pertanyaan Kwangmin. Astaga, otakku pasti bermasalah.

“Kau benar! Aku melupakannya!” Aku berlari ke sofa ruang tamu apartemen Kwangmin. Mongobrak-abrik isi tas, mencari-cari keberadaan ponselku.

Bodoh sekali. Aku kemungkinan besar tidak sengaja meninggalkan atau menjatuhkan ponselku di dalam mobil karena terlalu tergesa-gesa.

“Ponselku tidak ada di tas. Aku lupa di mana meletakkannya. Bagaimana ini?”

“Youngmin hyung mungkin masih menunggumu. Lebih baik kau segera ke sana.”

Tapi aku tidak mau meninggalkanmu.

“Kurasa tidak.”

“Kalau begitu lebih baik sekarang kau pulang.”

“Dan… kau?”

“Aku bisa mengurus diriku sendiri. Lagipula aku tidak mau, jika Youngmin hyung mendadak pulang dan dia melihatmu ada di sini,” jawab Kwangmin ketus.

Kwangmin mulai lagi. Berusaha menjaga jarak denganku. Dan aku sungguh tidak menyukai sikapnya itu.

“Kuantar kau pulang.”

“Kwangmin, haruskah kau terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukamu padaku?”

Kami berdiri berhadapan. Hanya saling memandang tanpa berkata apa-apa. Aku sedang menahan diri untuk tidak mengatakan semua hal yang sekarang melintas di pikiranku.

“Aku tahu jalan pulang. Jangan lupa minum obatmu. Beristirahatlah.” Aku mengambil tasku, kemudian berjalan pergi.

Kwangmin terus memaksa mengantarku pulang. Aku tidak berhasil melawan karena dia menggenggam erat pergelangan tanganku. Sehingga aku berakhir menurutinya.

Kami tidak mengobrol selagi di dalam mobil. Beberapa kali aku menoleh ke arahnya, tapi dia tidak menghiraukanku. Tetap menatap lurus ke depan, seolah dia hanya sendirian di dalam mobil. Tulang rahangnya mengeras. Tapi bukan sikapnya itu yang kupikirkan. Kwangmin terlihat pucat. Aku takut dia pingsan sewaktu-waktu, karena itu aku tidak bisa berhenti mengawasinya.

 

~End of Flashback~

 

“Jihoon Hyung.”

Aku mendengar Kwangmin mengatakannya. Kami bertiga berdiri berdekatan. Kenapa juga Jihoon keluar di saat yang tidak tepat? Sebelum mereka mengatakan sesuatu, aku lebih dulu bicara. Kukenalkan mereka berdua. Jihoon mengulurkan tangan, dan Kwangmin menjabat tangannya dengan canggung.

“Jadi dia alasanmu meninggalkanku di bandara tadi? Apa… dia pacarmu?”

“Apa???”

Pertanyaan macam apa itu? Oke, Jihoon mulai menginterogasiku secara tidak langsung. Sial. Kenapa aku tidak memperhitungkan hal ini saat Kwangmin memaksa mengantarku pulang?

“Maaf, aku tidak sengaja meneleponnya tadi.”

“Oh ya?”

“Itu benar Oppa. Hmmm… Kwangmin, lebih baik kau pulang. Kau butuh istirahat.” Lebih baik aku mengusirnya agar kami berdua terbebas dari tuduhan Jihoon.

“Ehm… sampai jumpa.” Baru tiga langkah, Kwangmin berbalik. “Terima kasih.”

Dia tersenyum ketika mengatakan terima kasih padaku. Jadi aku balas tersenyum padanya. Tidak sadar bahwa sejak tadi lelaki bernama Jihoon tidak melepaskan kedua matanya dariku. Pandangan menuduhnya itu sangat menganggu.

“Tidak seperti yang ada di pikiranmu.” Aku menegaskan. Aku yakin yang ada di pikiran Jihoon adalah hal-hal negatif. Hal-hal yang dia larang untuk kulakukan. Terlebih, dia tidak suka jika aku terlalu dekat lagi dengan Kwangmin.

“Oke, aku menunggu penjelasanmu. Apa pun itu! Kau tahu aku adalah pendengar yang baik.”

“Jangan memaksa Oppa. Asal kau tahu, aku tidak berniat menjelaskan apa pun padamu.”

Dan sisa malam itu diisi oleh suara berisik Jihoon yang terus memaksaku menjelaskan apa saja yang telah terjadi selama aku tinggal sendiri di Seoul.

***

 

*Kwangmin POV*

 

Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh ketika aku bangun. Apartemen dalam keadaan sepi. Tidak biasanya Youngmin pergi tanpa memberitahuku. Semalam, sepulangnya dari rumah Sena, aku menunggu Youngmin sebelum kembali tidur. Kami tidak mengobrol banyak, karena dia menyuruhku beristirahat setelah mengetahui aku sakit. Aku awalnya ingin tahu apa saja yang dia lakukan sedangkan Sena ada bersamaku.

Aku mengecek ponsel. Ada satu pesan dari Youngmin yang memberitahukan bahwa dia ada di tempat persewaan komik.

Mengapa Youngmin pergi ke sana sendirian?

Syuting hari ini baru dimulai sore nanti. Aku pun bersiap-siap untuk menyusul Youngmin.

Di persewaan komik, aku menemukan Youngmin duduk di kursi paling belakang. Komik-komik berserakan di atas mejanya.

“Hyung, kenapa tidak membangunkanku?”

“Yah, apa yang kau lakukan? Seharusnya tidak perlu menyusulku kemari. Kupikir kau masih membutuhkan istirahat. Kau yakin sudah merasa baikan?”

Aku mengangguk. “Ada apa kau ke sini? Apa… kau teringat sesuatu?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Terus terang aku belum siap menghadapi Youngmin yang ingatannya pulih. Jadi kuharap, sebentar lagi… ya, sebentar lagi saja, biarkan dia tetap seperti ini.

“Hanya ingin membaca komik, Kwang.”

Kuambil salah satu komik di atas meja, lalu ikut membaca. Lama sekali rasanya tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini bersama Youngmin.

“Kwangmin, hmmm… menurutmu, Sena bagaimana?”

Pertanyaan Youngmin menghantamku. Dulu, di tempat ini, Youngmin pernah menanyakan hal yang sama. Sebuah pertanyaan yang mengawali memburuknya hubungan kami. Dia tidak tahu hubunganku dengan Sena. Bahwa Sena menyatakan cinta padaku dan aku menerimanya. Aku bukan berusaha menyembunyikannya, hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Youngmin.

Hari itu aku tahu Youngmin menyukai Sena lebih dari seorang teman.

Sudah terlambat bagi Sena untuk bisa beralih memilih Youngmin dibanding aku. Karena itulah saat ini, sebelum semua terlambat lagi, aku berusaha memberikan pada Youngmin apa yang tidak bisa dia miliki sebelumnya. Sena.

“Bagaimana seperti apa yang kau maksud Hyung? Tunggu, apa kau menyukainya?” Aku memaksakan diri tersenyum ketika mengucapkan pertanyaan terakhir.

“Entahlah. Kalau kujawab iya… apa kau tidak apa-apa?”

“A-ku? Ada apa denganku… tentu… saja tidak masalah.”

“Antara Sena dan Rin, siapa yang lebih kau pilih?”

Ada apa dengan Youngmin hari ini?

Aku akan menjawab, tetapi suara sapaan seorang perempuan membungkam mulutku. Sena mendadak muncul. Tanpa aba-aba, dia duduk di sebelahku. Dia tersenyum padaku dan Youngmin bergantian. Aku membeku di tempat.

“Aku tidak mengganggu kalian kan?”

“Tentu saja tidak. Apa kau memiliki semacam radar untuk mendeteksi keberadaan kami?”

“Oh, mungkin saja aku memang memilikinya Oppa.”

“Kau tahu tempat ini juga?”

“Ah, saat membeli makan siang bersama Kwangmin waktu itu aku tidak sengaja melihat tempat ini. Kebetulan aku juga suka membaca komik. Kalian sendiri?”

“Bisa dikatakan, ini tempat persewaan komik favorit kami berdua sejak dulu.”

Aku membiarkan mereka berdua mengobrol.

Youngmin kemudian berpamitan keluar untuk mengangkat telepon. Sehingga aku terjebak dalam situasi diam yang aneh. Sena tidak mengajakku bicara, jadi aku juga melakukan hal yang sama.

“Katakan sesuatu.”

“Sesuatu.”

“Kau… mengesalkan. Bagaimana keadaanmu?” Telapak tangan Sena mendarat di keningku. Reflek, aku menjauhkan kepalaku.

“Apa yang kau lakukan?” Aku separuh berteriak.

“Ssssst! Apakah aku harus menggunakan kakiku untuk mengecek suhu tubuhmu?”

Sadar bahwa kami berdua saling menatap lebih lama dari seharusnya, aku memalingkan wajah. Youngmin datang di waktu yang tepat. Sayangnya dia datang untuk berpamitan dan meninggalkanku lebih lama berdua bersama Sena.

“Maaf, aku harus menemui seseorang sebentar di restoran di daerah ini. Kalian tolong tetaplah di sini. Aku tidak lama. Jangan ke mana-mana!” Youngmin menghilang begitu saja tanpa mendengarkan jawaban kami.

Tidak tahu apa alasannya memintaku dan Sena tetap tinggal. Lagipula siapa seseorang yang Youngmin maksud padahal dia belum mengingat siapa teman-temannya? Aku menoleh ke kanan, dan menemukan Sena sedang menatapku dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sejak kapan dia melakukannya?

“Apa yang baru saja kau pikirkan?”

“Tidak ada.” Aku bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju rak di dekat pintu masuk.

Sena mengikutiku. Tidak bisakah dia mengerti bahwa aku sedang mencoba mengurangi interaksi dengannya? Dia malah ikut sibuk memilih komik. Wanita pemilik persewaan mengulum senyum ke arahku dari balik mejanya.

“Selain Youngmin, siapa yang sering kau ajak ke tempat ini?”

“Menurutmu?” Aku berhenti di rak kedua, mengambil satu komik detektif, kemudian membaca isinya sekilas.

“Rin?”

Aku tersenyum singkat karena merasa lucu dengan jawaban Sena. Cobalah untuk berbohong sedikit Sena.

“Aaaah… Rin.” Aku sengaja menggantung ucapanku.

“Jadi benar kau pernah mengajaknya? Hanya berdua? Berapa kali? Apa yang kalian lakukan?”

“Kapan aku membenarkan ucapanmu itu? Diamlah Sena, kau menggangguku memilih komik.”

Sena meraih komik di tanganku, lalu mengembalikannya lagi ke rak. Aku memberikan tatapan tanya padanya.

“Aku lapar, ayo kita makan.”

Tunggu, apa Sena baru saja bersikap seperti dirinya dulu? Banyak bicara, menggangguku, serta bersikap manja di depanku. Aku menepis pemikiran itu. Aku tidak boleh luluh.

“Kau tidak ingat Youngmin hyung melarang kita pergi dari sini?”

“Aku akan menghubunginya.”

“Aku tetap tidak mau.”

“Kau pasti sangat membenciku. Iya kan?”

“Kau benar.”

“Kenapa?” Suara Sena berubah serius ketika mengatakannya.

Aku tidak menjawab. Merasa cukup dengan lima komik yang akan kubawa pulang, aku membawanya ke wanita pemilik persewaan agar dia mencatatnya.

“Sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum seperti tadi,” kata wanita itu pelan di tengah-tengah kegiatan mencatatnya.

“Aku?”

“Dia kan, alasannya?” Wanita itu menunjuk Sena yang sedang berjalan mendekat, dengan dagunya.

“Ahjumma…”

“Kalian membicarakan aku?”

“Kim Sena! Tunggulah di tempat dudukmu! Ke mana sebenarnya Youngmin hyung?”

“Oh, dia baru saja mengirim pesan padaku. Katanya, dia harus terjebak lebih lama bersama orang yang ditemuinya itu. Dia akan menemui kita lagi di lokasi syuting.”

“Dan kenapa dia bukan memberitahuku tapi malah memberitahumu? Dasar aneh.”

“Karena dia lebih menyukaiku daripada kau.”

Meladeni Sena tidak akan pernah ada habisnya. Kumasukkan komik-komik yang kupinjam ke dalam tas, kemudian berpamitan pada wanita pemilik persewaan. Dia masih saja memberiku senyuman penuh arti.

“Kau bersama sopirmu kan?”

“Kau benar-benar menolak menemaniku makan siang?” Dia menarik bagian bawah kausku.

Aku berhenti, mengambil kaca mata dari sisi kanan kantong tasku, kemudian memakainya. Sena bisa lebih mengganggu dari seorang anak kecil yang menginginkan mainan, ketika dia kelaparan. Sebentar lagi dia akan mulai merengek, dan jika aku tidak segera menolaknya, aku akan berakhir mengalah pada Sena.

“Tidak. Ah ya, aku belum menghafal dengan baik dialog setelah adegan aku dan Rin berciuman. Makanlah sendiri.”

“Apa? Hari ini kalian akan berciuman?”

“Tertulis begitu di skenario. Kau lupa? Kau kan, yang menulisnya. Aku pergi.”

“Benarkah? Tapi… Yah! Jo Kwangmin tunggu!”

Aku membuka kaca mobilku, kemudian melambaikan tangan. Dari kaca spion aku bisa melihat Sena terganggu dengan apa yang baru saja kukatakan. Tepat sekali, aku sengaja mengatakan soal adegan ciuman itu. Pastikan nanti kau melihatku melakukannya Sena.

***

 

*Sena POV*

 

“Tidak bisakah kita mengganti adegan ini?”

Pertanyaan bodoh itu tiba-tiba meluncur dari mulutku. Sutradara membalas pertanyaanku dengan sebuah tatapan aneh. Tentu saja. Aku pasti gila sudah menanyakan hal itu.

“Lupakan apa yang baru saja kukatakan. Silakan lanjutkan.”

Memalukan sekali. Seandainya aku tidak pernah menulis adegan ciuman antara Kwangmin dan Rin. Oke, aku akui, setiap kali menulis aku selalu membayangkan bahwa  akulah tokoh utama perempuan. Jadi, rasanya sedikit tidak rela membiarkan Kwangmin dan Rin berciuman. Hal itu lebih menyebalkan dari mendengarkan omelan Jihoon.

‘Akui saja kalau kau sedang cemburu.’

‘Hal itu tidak mungkin terjadi.’

‘Tapi terlihat jelas bahwa kau cemburu pada Rin. Karena kau merasa Kwangmin adalah milikmu sendiri.’

‘Aku tidak seperti itu!’

‘Semakin kau menyangkal, malah semakin terlihat jelas.’

“Hentikan!” seruku meminta dua sisi diriku yang sedang bertengkar berhenti membuatku bingung.

Akibatnya, para staff yang berdiri maupun mondar-mandir di sekitarku memandangiku dengan kening mengerut. Aku tersenyum malu, menutupi wajahku, kemudian menempatkan diri lagi di belakang sutradara. Mataku menatap lurus ke arah Kwangmin dan Rin. Akan kubuktikan bahwa aku tidak cemburu sedikit pun.

Adegan dimulai dengan Rin yang duduk sendirian menunggu bus. Meski begitu, berkali-kali bus datang, dia hanya mengabaikannya. Tentu saja, karena bukan bus yang dia tunggu melainkan Kwangmin. Mereka baru saja bertengkar dan Rin menunggu Kwangmin mengejarnya. Hujan buatan mulai turun. Rin yang tidak sabar menunggu bersiap menerjang hujan untuk pulang. Tepat saat itu, Kwangmin datang, lalu menarik Rink ke dalam pelukannya.

Melihat mereka berpelukan saja, perasaanku sudah kacau. Aku… tidak bisa melihat adegan selanjutnya. Namun, belum sempat aku berpaling, adegan itu terjadi. Bibir Kwangmin bertemu dengan bibir Rin. Aku seharusnya sadar, bahwa itu semua hanya bagian dari akting. Tetapi aku tidak bisa. Semua terasa nyata bagiku.

Kuakui, aku cemburu.

Aku berbalik, perlahan berjalan menjauh meninggalkan lokasi syuting. Separuh melamun, aku berjalan dan terus berjalan. Saat sadar, aku sudah berdiri di dekat halte.

Perasaan apa ini? Tampaknya perasaanku mengingat Kwangmin jauh lebih baik dibandingkan yang dilakukan otakku. Sebenarnya sebesar apa perasaan yang kumiliki untuk Kwangmin sebelumnya? Memikirkannya hanya membuatku ingin mencari tahu mengenai perasaan itu. Membuatku ingin mencoba merasakannya sekali lagi.

“Tidak… tidak. Ini salah Sena.” Aku berusaha mengingatkan diriku sendiri.

Bus berhenti di depanku. Tanpa berpikir, aku masuk ke bus itu. Lebih baik aku pulang daripada kembali ke lokasi syuting.

Duduk sendirian di dalam bus ternyata justru memancing pikiranku untuk membayangkan hal yang tidak-tidak. Bagaimana jika bagi Rin dan Kwangmin ciuman itu bukan sekadar akting? Bagaimana jika Kwangmin dan Rin menjadi lebih dekat? Bagaimana denganku?

Apa yang kupikirkan? Memangnya ada apa denganku?

“Berhentilah mengacaukan pikiranku!” Lagi-lagi tanpa sadar aku berteriak. Lupa bahwa ada orang lain di dalam bus. Aku menundukkan kepala, menghindari tatapan aneh dari orang-orang.

Tidak sadar sudah berapa lama aku melamun, aku menoleh ke arah jendela untuk mengecek apakah sudah saatnya aku turun dari bus. Aku menyipitkan mata, berusaha mengenali daerah yang kulewati. Tetapi aku tidak berhasil mengenali apa pun. Tidak ada gedung-gedung yang biasanya kulihat ketika Jihoon mengajariku naik bus dulu. Aku bertanya pada gadis berseragam di depanku, ke mana bus ini menuju.

“Myeongil-dong.”

Aku tidak tahu itu di mana, tapi itu bukan Cheongdam-dong, tempat aku tinggal. Oke, sekarang jelas aku salah menaiki bus. Kurogoh tas mencari keberadaan ponselku. Dan aku dibuat panik karena tidak berhasil menemukannya di mana pun.

“Ah ya… bodoh sekali Sena.”

Aku teringat meletakkan ponselku di atas dashboard usai menerima telepon dari Jihoon tadi, dan belum memasukkannya lagi ke dalam tas. Keberuntungan benar-benar berada jauh dariku hari ini. Sekarang aku tidak tahu harus berhenti di mana. Aku tidak mengingat alamat rumahku, dan aku tidak memiliki catatannya. Jadi tidak ada gunanya meminta taksi mengantarku. Kebodohanku yang lain adalah aku tidak mengingat nomor telepon siapa pun.

Jihoon pasti memarahiku habis-habisan kalau dia tahu aku tidak bisa menjaga diri.

Bus berhenti. Aku ikut turun bersama dua orang lain, meski tidak tahu berada di mana. Aku berdiri diam memandang sekeliling. Mencari tempat untuk menunggu seseorang menemukanku. YA, aku menunggu ditemukan. Dan kantor polisi sudah pasti bukan tempat yang akan menjadi tujuanku.

 

*Kwangmin POV*

 

Jeda tiga puluh menit yang kumiliki, kugunakan untuk membaca komik yang tadi kupinjam. Jujur saja, sudah lama sekali aku tidak tenggelam di dalam tumpukan komik. Apalagi setelah peristiwa kecelakaan itu, aku tidak suka menyentuh komik. Karena jujur saja, setiap kali membaca komik, aku akan membayangkan Sena yang duduk di sebelahku serta suaranya yang mengganggu. Maka aku akan mulai merindukannya. Demi menjaga kewarasanku, aku berhenti melakukannya.

Anehnya, kali ini perasaan-perasaan semacam itu tidak muncul. Apa karena aku tahu Sena ada di sekitarku, aku juga tidak yakin.

“Ke mana dia?” Aku yakin melihatnya sebelum syuting dimulai.

Bukannya sosok Sena yang kutemukan, melainkan sosok Jihoon yang berjalan ke arah sutradara. Mereka terlihat akrab. Jadi, jika Jihoon tahu aku dan Youngmin memainkan drama dari skenario yang Sena tulis, mengapa dia membiarkannya? Aku membutuhkan jawaban.

Kuletakkan komikku, kemudian menghampiri Jihoon.

Melihatku berjalan mendekat, Jihoon mengakhiri obrolannya dengan sutradara. Aku tersenyum menyapanya. Secara mengejutkan, dia balas tersenyum padaku.

“Kopi?”

“Kurasa aku membutuhkan kafein.”

 

Kami duduk berhadapan di salah satu kafe paling dekat dari lokasi syuting. Jeda waktuku tinggal dua puluh menit, jadi kami tidak bisa pergi terlalu jauh.

“Kulihat kau baik-baik saja.” Jihoon mengangkat cangkirnya, kemudian meminum seteguk isinya.

Berbeda jauh denganku yang sulit bersikap tenang, jari-jariku terasa membeku. Bahkan rasanya tidak sanggup untuk sekadar mengangkat gelas plastik berisi latte milikku.

“Begitulah. Aku mencoba baik-baik saja.”

“Maaf aku tidak menepati janji.”

Tanpa bisa menahan berbagai pertanyaan yang kusimpan sejak tadi, aku menumpahkannya satu per satu di depan Jihoon.

“Mengapa kau membiarkan Sena bertemu kami, Hyung? Apa yang terjadi? Sena…”

“Dia masih belum mengingat apa pun. Tapi… aku memberitahunya tentang kau dan Youngmin.”

Jadi, sebenarnya Sena mengenalku? Dan selama ini dia hanya berpura-pura seperti yang kulakukan padanya? Ternyata dia tidak hanya pandai menulis skenario drama, bahkan juga skenario hubungan kami.

“Aku tidak mengatakan hal lain selain bahwa kau adalah orang yang sangat penting baginya.” Jihoon menambahkan.

Sekarang aku mengerti, arti pertanyaan Sena ketika kami bersembunyi di tempat karaoke waktu itu. Dia merasa aku sengaja melupakannya. Dia pasti merasa aku telah menyingkirkannya.

“Kau tidak tahu betapa menyedihkannya Sena, ketika dia berusaha mengingat siapa kau. Aku tidak bisa mencegahnya Kwangmin. Seandainya kau ada bersamanya saat itu.”

Mendengar bagaimana Jihoon bercerita, aku tahu dia pun terluka melihat adik perempuannya mengalami masa-masa yang sulit gara-gara aku. Perlahan rasa nyeri menyerang dadaku. Aku tidak tahu dia merasakan sakit lebih dari yang kurasakan.

“Aku sudah berusaha menghilangkanmu dari kehidupannya. Tetapi, dengan sendirinya dia berhasil menemukanmu Kwangmin. Aku tidak tahu ada catatan kecil yang kau tulis di beberapa buku miliknya… dan dia membacanya. Untuk pertama kalinya setelah keluar dari rumah sakit, Sena tersenyum. Asal kau tahu, aku pun juga sudah mencoba menyingkirkan buku-buku itu. Apa yang bisa kulakukan jika hal itu justru membuatnya sedih lagi? Katakan padaku apa yang sebaiknya kulakukan melihat adikku yang seperti itu?”

Saat semua itu terjadi, Jihoon pasti sangat ingin melayangkan tinjunya padaku.

“Dia merengek, agar aku mempertemukannya denganmu. Dokter mengatakan, menulis adalah salah satu media penyembuhan. Maka kuminta dia menyelesaikan skenario yang pernah dia tulis. Aku sendiri tidak menyangka seniorku mau menerima skenario buatan Sena itu. Meski tetap ingin mencegahnya menemuimu, pada akhirnya aku mengalah oleh usahanya.”

Kau seharusnya bahagia Sena. Mengapa kau mencariku? Aku harus bagaimana menghadapimu?

“Baiklah, kalau begitu sekarang giliranku Hyung. Menghilangkan diriku dari kehidupnya.”

***

 

Satu jam kemudian, Jihoon yang masih belum bertemu dengan Sena mulai tidak sabar menunggu. Dia datang untuk mengajak Sena makan malam, tetapi dia tidak mengetahui keberadaan adiknya itu. Berkali-kali menghubungi ponsel Sena, tetapi tidak satupun yang terjawab. Kemudian Jihoon tahu bahwa ponsel Sena tertinggal di mobil.

Salah satu staff mengatakan bahwa dia melihat Sena meninggalkan lokasi syuting tiga jam yang lalu. Jihoon pun mencoba menghubungi rumah, tetapi lagi-lagi tidak ada yang menjawab teleponnya. Kekhawatiran langsung menyerangnya.

“Dia tidak menghafal daerah ini Kwangmin. Apa mungkin dia tersesat? Anak bodoh itu juga tidak menghafal nomor telepon siapa pun.”

“Apa sebaiknyakita tunggu sebentar lagi? Siapa tahu dia hanya pergi ke sekitar daerah ini Hyung.”

Jihoon setuju.

Tetapi, setelah syuting selesai dan Sena masih belum muncul, Jihoon memutuskan memberitahu semua orang dan meminta bantuan mencari Sena. Para staff menelusuri tempat-tempat di sekitar lokasi syuting sementara yang lain kuminta menunggu agar mereka tahu seandainya Sena kembali ke lokasi syuting. Jihoon, Youngmin, dan aku berpencar ke daerah yang mungkin dilalui Sena.

 

Hari beranjak larut sementara belum ada satupun yang berhasil mengetahui keberadaan Sena. Kucoba mengingat semua hal kecil yang kuketahui tentang Sena. Tersadar oleh ingatanku, aku menghentikan mobil mendadak di pinggir jalan.

“Jangan katakana kau… aaaaah dasar.”

Sena pernah tersesat sekali saat kami berlibur ke Jepang dulu. Sama seperti sekarang, tanpa membawa ponsel dan tidak tahu arah jalan pulang. Setelah pencarian yang sangat panjang, aku menemukannya sedang menikmati ice cream di dalam salah satu mall. Aku memarahinya karena seharusnya dia menunggu di kantor polisi, dengan begitu akan lebih mudah mencarinya. Alasannya menunggu di dalam mall adalah, agar dia tidak merasa bosan sementara dia menungguku menemukannya. Masih tidak bisa menerima alasannya saat itu aku bertanya lagi, bagaimana seandainya aku tidak berhasil mengetahui keberadaannya? Dengan santainya dia menjawab bahwa dia percaya aku pasti selalu bisa menemukannya.

Aku tidak bisa melanjutkan omelanku mendengar jawabannya itu.

Hanya ada  dua mall yang kemungkinan dia masuki. Aku memulai pencarian di mall pertama. Setiap tempat makan, setiap toko, dan setiap sudut mall kutelusuri. Tetapi sosok Sena tidak kutemukan. Segera, aku berpindah ke mall kedua.

“Di mana kau Sena…”

Aku berada di lantai tujuh—lantai terakhir mall ini. Tidak ada banyak toko di lantai ini. Hanya dua toko pakaian, tempat bermain, dan yang lainnya diisi oleh tempat makan. Jika aku adalah Sena, dan dia memang ada di lantai ini, maka aku memilih menghabiskan waktuku di tempat makan. Dia tidak bisa menahan lapar.

Dari semua tempat makan yang ada, ada sebuah tempat yang memiliki desain paling menarik. Tempat makan yang menjual berbagai menu olahan pasta. Sena juga suka mencoba menu-menu yang jarang dia nikmati. Maka, aku melangkah yakin menuju tempat makan itu.

Aku mengatakan pada salah satu wanita yang berdiri di pintu masuk bahwa aku sedang mencari seseorang. Dia menawarkan diri membantuku, tetapi aku memilih mencari Sena diam-diam. Tepat seperti dugaanku, Sena seorang diri duduk di kursi di bawah sebuah pohon sakura buatan. Tampak sibuk memilih, mana dari tiga piring di depannya yang harus dia nikmati lebih dulu.

“Bodoh,” gumamku.

Aku berjalan keluar, kemudian menghubungi ponsel Youngmin.

“Ya Kwang? Kau sudah menemukannya?”

Kukatakan pada Youngmin bahwa aku dalam perjalanan menuju mall pertama yang telah kudatangi tadi. Sementara dia kuminta datang ke mall ini.

Youngmin yang menemukan Sena, bukan kau.

Selesai dengan tugasku, aku kembali ke lokasi syuting. Orang-orang masih menunggu di sana.

“Belum ada yang menemukannya?” Aku berpura-pura bertanya pada Jihoon. Dia menggeleng lemah. Untuk memastikan Youngmin sudah bertemu dengan Sena, aku meneleponnya lagi.

“Bagaimana Hyung?”

“Ya, dia bersamaku sekarang. Kami menuju lokasi syuting.”

“Oh, syukurlah.”

Kuberitahu Jihoon mengenai kabar itu.

Tidak lama kemudian Youngmin dan Sena datang. Tangan Sena berada di genggamannya, seolah dia takut Sena menghilang lagi jika dia melepaskannya. Orang-orang menghela napas lega. Jihoon mendekap Sena, namun detik berikutnya memarahinya karena kecerobohan yang sudah Sena lakukan.

“Untuk menebus kesalahan Sena yang sudah menyusahkan kita semua, bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan malam?”

Tawaran Jihoon disambut antusias oleh para staff. Beberapa pemain drama tidak bisa ikut karena masih memiliki urusan lain. Sayangnya aku bukan termasuk ke dalamnya.

Sampai di tempat makan, aku menarik Rin duduk di sebelahku. Kami semua duduk berhadapan dalam sebuah meja panjang. Youngmin dan Sena menempatkan diri duduk berhadapan denganku dan Rin. Selalu saja seperti ini.

Menarik Rin duduk di sebelahku adalah caraku memberitahu Sena, bahwa aku dan Rin lebih dekat dari terakhir kali dia melihatnya. Aku memotongkan daging untuknya, membantunya mengambil makanan yang tidak terjangkau oleh tangannya, saling melempar candaan yang hanya kami berdua yang tahu, hingga membantu Rin mengikat rambut.

“Cobalah ini.” Aku menyuapkan sesendok japchae yang kupesan kepada Rin. Dengan natural dia membuka mulut.

Detik berikutnya Rin mengeluh meminta minum karena makananku terlalu pedas baginya. Aku tertawa sambil menyerahkan segelas air putih padanya.

“Yah! Kau sengaja kan?”

“Tidak. Aku tidak setega itu, Rin.” Aku melanjutkan tawaku. Sebenarnya aku tahu bahwa Rin tidak bisa memakan makanan pedas. Aku mengetahuinya dari internet.

“Kalau ada wartawan di sini, kalian besok pasti akan masuk berita karena dikira sebagai sepasang kekasih,” ucap Youngmin.

“Aku tidak keberatan,” jawabku santai.

“Waaaaaah… apa sekarang kau sedang menyatakan cintamu pada Rin?”

“Jangan dengarkan dia Oppa, Kwangmin sedang tidak waras.”

Aku membungkam Rin dengan sepotong dimsum. Dia memukul tanganku tanda protes, yang kubalas dengan senyuman.

“Aku permisi ke toilet,” pamit Sena yang sedari tadi diam.

“Ah, aku juga.”

Sepeninggal Sena dan Youngmin, aku memfokuskan diri pada makananku dan berhenti mengganggu Rin.

“Karena Sena?”

“Apa?”

“Semua yang kau lakukan padaku sejak awal kita masuk ke tempat ini. Sena kan, alasannya?”

Astaga, ini kedua kalinya aku mendengar pertanyaan yang sama. Aku mengangkat bahu. “Tidak.”

“Akui saja Kwangmin.”

Hening, tidak ada balasan apa-apa dariku. Ternyata Rin sedang serius mengenai apa yang dia ungkapkan itu, karena sekarang dia berjalan meninggalkan meja dengan ekspresi kesal. Aku mengejarnya keluar.

Rin berdiri memunggungiku.

“Hentikan Kwangmin! Berhenti membuatku ada diantara kalian berdua.” Rin berbalik. Tatapannya padaku bukan jenis tatapan marah, melainkan kecewa.

“Rin, aku tidak—“

“Kau pikir aku tidak mempunyai perasaan? Sampai berapa lama lagi aku harus menerima semua ini? Kenapa? Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau memilihku?” Suara Rin bergetar. Dia menutup kedua matanya.

Air mata Rin jatuh. Dia tidak menghapusnya. Rin membiarkannya jatuh dan membasahi pipinya. Apa yang telah kulakukan padanya? Sejak kapan aku berubah menjadi seseorang yang jahat? Rin benar, aku tidak seharusnya menyeretnya ke dalam hubunganku dan Sena.

Aku berjalan mendekat. Kulingkarkan kedua lenganku untuk mendekapnya.

“Maaf,” bisikku.

This entry was posted by boyfriendindo.

11 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 06

  1. Jangan lama-lama ya author-nim di tulisnya.
    Kasian aku sama Rin. Andaikan yg di peluk bukan Rin tapi aku *pletak*
    Aku mendukung pasangan Rin dan Youngmin hidup Youngmin!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: