[FANFICT/FREELANCE] Rain, Memory, Longing

Tittle  : Rain, Memory, Longing
Author      Song Rae Hwa (@deviwo01)
Genre : Frienship, Romance, Family, Sad, Angst
Rating : PG-17
Type : One Shoot
Main Casts  : ~ No Minwoo

  ~ Shin Yura

Support Casts  : Shin SooHyun (U-Kiss)

Summary :

Rain

Memory

Longing

‘Satu kesatuan untuk mencoba setia pada cinta’

Author cuap-cuap😄

Sebelumnya saya minta maaf karena sudah lama sekali saya tidak mengirimkan karya saya yang selalu absrur. Dikarenakan ada masalah pada NB saya yang mengalami kerusakan, dan kalian tau semua data saya hilang alias keformat (curhat *abaikan*). Dan ini karya yang baru saya buat untuk memulihkan kembali imajinasi saya yang sempat menghilang dalam membuat karya yang antah brata berantakan. Maaf kalau masih banyak Typo, janga lupa tinggalkan kritik dan saran. #pyongg~ ^^

 

+Happy Reading+

“Hei Shin Yura kau ini kenapa?” tanya seorang pemuda yang duduk di sebelah gadis yang bernama Shin Yura, gadis itu hanya menatapnya dengan wajah datarnya tanpa memperdulikan pemuda yang menanyakan keadaannya tadi menjadi bingung dan aneh. “Apa yang terjadi padamu?” tanya pemuda itu lagi, gadis itu memasang wajah yang masam dengan menggembungkan pipi tirusnya, “Aku hanya kelelahan. Aku butuh istirahat sepertinya?,” ujarnya kemudian menidurkan kepalanya diatas tumpukan lengannya yang ia tata senyaman mungkin di atas meja.  Pemuda itu hanya terkekeh geli sambil mengusap kepala Yura, “Kau ini, latihan saja belum dimulai. Bagaimana kau bisa selelah itu Yura?” Yura hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban.

Hyung..hyung…” teriak pemuda yang baru datang ke dalam ruangan Dance club, pemuda yang duduk di sebelah Yura menengokkan kepalannya kebelakang dan mendapati sosok pemuda yang tidak asing lagi bagi manik coklatnya, “Kau… kenapa?” tanya pemuda yang dipanggil hyung tadi, pemuda yang ditanyai hanya menggeleng pelan dan kemudian berujar “Tidak kenapa-kenapa hyung, hanya saja Donghyun-nim memanggilmu ke ruangannya.”

“Benarkah? Ada apa beliau memanggilku?” Pemuda itu hanya mengedikkan bahunya, “Baiklah aku akan ke ruangan Donghyun-nim dulu, kau jaga anak itu..” kata pemuda itu sambil menunjuk kearah Yura yang tengah tertidur lelap. “Bukankah itu Yura? Kenapa dia? Apa dia sakit hyung?” tanyanya beruntut, “Dia hanya kelelahan Young, kau bisa menjaganya sebentarkan? Dan jangan ganggu dia..” pinta pemuda itu sambil melangkahkan kakinya menjauhi pemuda yang bernama Youngmin yang masih mematung di tempatnya, “Baiklah Jeongmin hyung..” pekiknya saat pemuda yang bernama Jeongmin sudah menghilang di balik pintu ruangan.

`

`

`

`

`

“Eumm…” Yura menggeliat, ia menggerakkan kedua tangannya ke atas dan ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, ia sedikit bingung dengan ruangan yang saat ini ia tempati ‘dimana aku?’ tanyanya dalam hati “Oppa?” teriaknya lantang, lantas membuat pemuda yang ia panggil oppa langsung menghampirinya yang masih terbaring di atas kasur.

“Kau sudah sadar rupanya..” kata pemuda yang di panggil oppa, dan sebut saja dia Shin SooHyun kakak kandung Yura. Kemudian memberikan segelas air putih untuk adiknya. Setelah meneguk setengah gelas air yang diberikan Yura menatap Soohyun dengan tatapan bingung. “Tadi siang saat kau latihan dance kau pingsan. Jeongmin dan Youngmin yang mengantarmu pulang.” Mendengar penuturan kakaknya gadis yang bersurai coklat caramel itu memiringkan kepalanya menatap lekat wajah kakaknya, “Kau tidak ingat? Sudahlah kau istirahat saja..” ucap Soohyun kemudian dan menarik kembali selimut tebal Yura hingga menutupi dada Yura. “Apa aku sakit?” tanya Yura kemudian, Soohyun terlihat menghembuskan kerbondioksidanya berat. “Kau hanya kurang istirahat dan kurang gizi. Berapa hari kau tidak memejamkan matamu? Dan berapa hari kau tidak makan?” sial Yura kini merutuki kebodohannya yang bertanya kepada kakaknya yang cerewet halasil kini dia yang dicercah pertayaan beruntun, Yura hanya menggeleng. Melihat tingkah adiknya Soohyun memilih membiarkannya istirahat ia tau adiknya tidak suka dipaksa untuk bercerita tentang ini dan itu.

`

`

`

`

`

Rain

Gadis yang bernama Shin Yura itu kini tengah memandang rintikan hujan yang membasahi pekarangan rumahnya, walaupun pandangannya sedikit buram karena embun yang disebabkan oleh hujan yang menempel di kaca jendelanya tidak menyurutkan perhatian Yura kepada jalanan di kota Seoul. Gadis itu hanya duduk di kursi dan menyanggah kepalanya dengan kedua lengannya yang ia lipat di atas meja, memandang rinai hujan yang semakin sore semakin deras, “Adakah pelangi setelah hujan ini?” umpatnya sambil mengulas sedikit senyum. “Tiga kali aku melewati musim ini hanya seorang diri.” Gumamnya lagi, “Apa aku salah? Atau mungkin kau yang egois? Meninggalkanku saat hujan menerpa kota seoul..” kini ucapannya dibarengi dengan butiran bening yang terjun bebas dari kelopak mataya, Yura terisak sambil terus menatap hujan yang tidak mau berhenti berderu dengan gremiciknya.

`

`

`

`

`

Memory

“AKU MENCINTAIMU SHIN HYURAA…..” teriak pemuda di tengah-tengah taman kota, dan itu membuat Yura menundukan kepalanya karena merasa malu atas kelakuan pemuda yang tangannya terus menggenggam erat tangan milik Yura. “Kau gila oppa…” pekik Yura dengan wajah merah merona. Pemuda itu hanya terkekeh, dan malah mendekap Yura dalam pelukannya, langit sedikit mendung mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Namun mereka berdua tidak memperdulikannya, karena mereka adalah seorang remaja yang baru berusia menginjak 16 tahun. Yang benar saja mereka memang baru masuk ke sekolah menengah atas beberapa minggu lalu, tapi mereka memang sudah menjadi speasang kekasih sejak tiga tahun yang lalu saat usia mereka menginjak tiga belas tahun. Siapa yang tau jika kenyataanya memang seperti itu.

“Aku sangat….sangat mencintaimu Yura..” ucap pemuda itu kemudian dan meregangkan pelukannya mendekap bahu Yura, Yura menatapnya dengan penuh kebahagian terlihat dari maniknya yang berkilau cahaya. Hari semakin sore dan hujan sudah mulai membasahi seluruh kota seoul, namun kedua remaja itu masih berdiri di taman kota, menyerukan rasa cinta mereka, membuat kehangatan di tengah hujan yang membasahi mereka. “Aku.. aku juga sangat mencintaimu Minwoo…” ucap Yura kemudian dan mengecup sekilas pipi Minwoo, pemuda itu terkekeh dan kemudian mencondongkan wajahnya ke wajah Yura mengecup sekilas bibir mungil nan merona milik Yura, Yura hanya diam membatu seluruh badannya terasa kaku dan memanas serasa jantungnya berhenti memompa aliran darahnya.

“Aku tau, itu kecupan pertamamu. Karena itu juga pertama bagiku-sayang..” ujar Minwoo kemudian menyadarkan Yura dari imajinya yang membuatnya terbang melayang ke angkasa luar. Yura tersenyum menanggapi omongan Minwoo memang itu benar pikirnya. “Dan aku juga yang akan merasakan ciuman pertamamu nanti sayang..” imbuh Minwoo dan kembali memeluk Yura, “Tapi itu nanti setelah aku pulang dari China..” lanjutnya sambil memper erat pelukannya, Yura hanya mengangguk pelan dalam dekapan Minwoo, sejujurnya ia merasa sangat sedih dan kecewa kepada kekasihnya-Minwoo namun jauh-jauh hari Minwoo sudah mengatakan kepada Yura kalau dia akan pindah ke China untuk beberapa tahun, itu tidak diperkirakan.

Minwoo melepaskan pelukannya dan kemudian; mengecup kepala Yura, mengecup kedua mata Yura, sedikit menggigit hidung mancung Yura, dan yang terakhir mengecup bibir Yura cukup lama..

1 detik..

2 detik…

5 detik…

Sampai 10 detik…

Minwoo melepaskan kecupannya dan lagi ia memeluk Yura untuk terakhir kalinya, “Percayalah aku akan kembali padamu dan memberikan ciuman pertamaku padamu sebagai tanda rinduku padamu sayang..” Yura yang sudah tidak kuat menahan air matanya, membiarka air mata itu terjun dengan babas dan menyatu dengan air hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya. “Aku akan selalu merindukanmu Min..” ucapnya lirih, hanya lambaian tangan yang menjawab ucapannya.

`

`

`

`

`

Longing

Hujan membuatku tidak bisa menahan semua kerinduanku padamu, hujan mengembalikan semua kenangan antara kita, hujan membuatku terus memikirkanmu. Tiga tahun berlalu snagat cepat, tapi mengapa? Aku tidak bisa melupakanmu disaat hujan kembali mengguyur ingatanku akan dirimu, secangkir Americano mungkin bisa menghangatkan tubuhku tapi tidak dengan hati dan kenanganku. Apakah aku yang terlalu berharap kepadamu, atau kau yang telah memberikan pengharapan kepadaku? Persetan dengan itu semua aku hanya bisa menatap rintikan hujan yang mulai mereda. Aku menyesap Americano-ku yang baru saya pelayan antarkan kpadaku, aku menyesapnya dengan hati-hati supaya suhu panasnya tidak menohok hatiku yang sudah tertohok dengan kerinduan yang tengah menjalari seluruh perasaan, pikiran dan hatiku. Hujan sudah mulai mereda, aku kembali memakai mantelku aku mulai meninggalkan tempat dudukku, aku membayar di kasir setelahnya aku keluar dari dalam Caffe.

Udara yang dingin membuatku merapatkan mantelku, berjalan menyusuri trotoar yang mulai ramai karena orang-orang yang tadi berteduh untuk menghindari hujan, kini mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka setelah hujan mereda. Aku terus berjalan tanpa memperdulikan sekitarku, aku memang mendengar seseorang memanggil namaku tapi aku tidak memperdulikannya, masa bodoh dengan panggilan orang itu yang aku yakini dia adalah Youngmin yang akan mengenalkan pacar barunya kepadaku, aku sangat yakin itu, sampai akhirnya tanganku ditarik oleh seseorang, dan sekonyong-konyong membuatku berteriak antara takut dan sakit akibat tarikannya yang kasar, “AUU… lepaskan…” teriaku sambil menjaga keseimbanganku yang hampir hilang karena ditarik pakasa, aku menoleh kearahnya dan aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang, mataku mulai memanas, sebuah air dari langit jatuh tepat diatas kepalaku, tidak satu atu dua, tapi banyak dan berkali-kali awan mulai menurunkan kembali air itu dan membuat kota seoul kembali basah karenanya.

“Hujan…” pekiknya, seraya menyeretku ke depan toko bunga dan berteduh dibawah kanopi toko itu, ia memotong jarak antara kami-aku dan dia. Aku masih tidak bergeming, walau tangannya menggenggam erat tanganku dan menyatukan jari-jarinya dengan jemariku. Kehangatan yang ia salurkan kepadaku membuatku tidak beku kedinginan. “Kau terlihat semakin cantik sayang..” ujarnya kemudian. Apa yang dia ucapkan barusan, dia masih memanggilku sayang? Apakah aku bermimpi? Aku menghentak-hentakan sepatu pantopelku diatas semenan yang menjadi latar menyadarkanku bahwa aku memang sedang tidak bermimpi. Ia memegang kedua bahuku dan memintaku untuk menghadapnya, menatap wajah teduhnya dan aku sangat merindukan tatapan itu, air mataku dengan seenaknya keluar begitu saja, aku benar-benar sangat merindukannya; aku ingin sekali memeluknya, aku.. aku ingin sekali mengecup bibirnya. “Jangan menagis…” ucapnya sambil menggerakkan kedua tangannya untuk mengelap air mataku yang tidak mau berhenti, “Aku juga sangat merindukanmu sayang..” imbuhnya dan langsung mendekapku dan mempererat pelukannya.

“Kerinduanku kepadamu membuatku frustasi Min…” ucapku lirih dan masih memeluknya erat. “Aku tau, aku tau itu sayang..” ucapnya kemudian sambil mengusap punggungku. “Karena aku juga merasaka hal yang sama seperti yang kau rasakan Yura…” suaranya membuat jantungku berdegup tak normal, suara yang sangat aku rindukan selama ini, suara yang mampu menenangkanku. Irisnya menatapku dalam, aku-pun begitu ia mendekatkan wajahnya pada wajahku dan ia mulai mengecup lembut bibirku..

1 detik…

3 detik, kecupan itu kini beralih menjadi ciuman. Ciuman pertamaku yang aku janjikan hanya untuknya, tapi tunggu apakah ini juga masih menjadi ciuman pertamanya?

3 menit berlalau, kami melepaskan ciuman kerinduan kami seperti yang telah ia katakan ciuman ini hanya untuk memecahkan kerinduan diantara kita.

“Kau masih kaku dengan ciuman tadi? Kau benar-benar memberikan ciuman pertamamu itu hanya untukku?” celotehnya sambil terkekeh dan memeluk kepalaku, aku hanya diam karena dia memang tau jawabannya.

“Aku juga sama, tadi itu ciuman pertamaku. Dan hanya aku berikan kepadamu untuk melepas kerinduanku…” katanya kemudian mengecup ubun-ubunku dan mengelus rambut coklat panjangku. Aku mendongakkan kepalaku dan kemudian tersenyum jahil “Tapi sepertinya kau melakukannya dengan sangat profesional. Apa kau sering melakukannya dengan gadis-gadis disana dan berbohong padaku?” kekehku, kemudian aku kembali memeluknya dari samping. Malam ini memang sangat gelap karena mendung masjh menyelimuti kota seoul, taman kota, pun begitu sepi tidak seramai ketika terang bulan. “Kau menggodaku? Akan aku kerjai kau..” ucapnya sambil menyentil hidungku dan kemudian menelungkupkan kedua tangannya disisi wajahku. Ia mengecupku sekali, dua kali, tiga kali dan aku hanya mengerjap-ngerjapkan kepalaku, “Min…mpp…sud..mpp..ah…” ucapku terbata dan kemudian dia menciumku kembali membuyarkan kerinduan yang melewati tiga kali musim hujan, dan memberi kehangatan dalam dinginnya malam. Aku memeluknya erat, sangat erat…

“AKU MENCINTAIMU SHIN YURA….” teriaknya, aku terkekeh melihat tingkah konyolnya yang masih sama seperti dulu.

“Pemuda gila, aku juga mencintaimu sangat…sangat mencintaimu.”

`

`

`

`

Rain

Memory

Longing

‘Satu kesatuan utuk mencoba setia pada cinta’

FIN

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Rain, Memory, Longing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: