[FANFICT/FREELANCE] FRIDAY

Tittle  : Friday
Author : Setyati Ayu Ahmadi (@Hsyu2809_)
Genre : Romance
Rating : PG-13
Type : One Shoot
Main Casts  : ~ No Minwoo

  ~ Baek Su-Jin (Miss A)

Desclaimer :

Happy Reading, after long time no see with this activity. Finally i write again yeay! ^0^ proud with Author. Oke silahkan membaca FF ini.

Note :

  • Dengerin lagunya IU yang FRIDAY soalnya aku terinspirasi dari lagu itu
  • Tinggalkan jejak demi masa depan saya ^-^
  • Maaf kalo jelek, udah lama gak nulis FF

 

***

Kalau kamu sibuk terus, kapan kita bisa bertemu?
Bisakah sisakan satu hari untukku?
Maksudnya.., untuk kita.

Mwo?” suara histeris yang dikeluarkan Su Jin kembali terdengar selama sepuluh detik terakhir memekakkan gendang telinga orang yang mendengarnya di seberang sana, beberapa kali helaan napas kekecewaan pun Su Jin keluarkan hingga akhirnya kata “Baiklah..,” menjadi pilihan terakhirnya untuk memutus sambungan, ia menutup flap ponselnya dengan lemas lalu menghela napas pasrah untuk yang kesekian kalinya. Lagi-lagi tidak jadi.

Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis.., oh sudah empat hari ternyata mereka tidak bertemu. Min Woo terlalu sibuk dengan deadline proyek terbarunya, memiliki pacar seorang arsitek muda yang berbakat ternyata tidak sekeren pikirannya. Semuanya sibuk, bahkan untuk menatapnya banyak-banyak Min Woo tidak punya waktu.
“Orang itu terlalu sibuk bekerja sampai lupa makan, kurang tidur dan sejenak melupakan aku..,” gumam Su Jin sendiri, ia sulit menutup matanya ketika malam datang beberapa hari ini ia bisa mati kalau begini terus karena merindukan pacarnya. “Bagaimana nasibnya kalau dia sakit nanti?” tambah Su Jin saat mengingat keadaan Min Woo yang tidak terlalu baik saat mengatakan kalau mereka tidak jadi makan malam bersama saat di telepon tadi, suaranya terdengar lemah dan serak, jangan-jangan dia terserang flu di musim panas.
“Kenapa dia tidak minta libur saja?” pikir Su Jin sekali lagi, hari ini badannya sudah loyo sekali saat mengingat kalau seharian ini belum makan, bagaimana dengan Min Woo di kantornya? Orang itu bahkan belum memakan cemilan apapun sejak kemarin, ia hanya meminum kopi dan ini bisa menjadi masalah besar.

 

**

 Min Woo tak dapat mengalihkan matanya dari LCD Komputer yang ada di depan wajahnya, lampu dari layar LCD itu terlalu terang hingga membuat matanya pusing sudah beberapa kali ia menghiraukan perutnya yang berbunyi karena belum diisi makanan apapun. Meja kerjanya sudah tidak berbentuk lagi serupa dengan ruangannya yang belum dimasuki siapapun karena ia melarang siapapun masuk ke dalam termasuk cleaning service, ia belum pulang ke rumah tiga hari ini dan tubuhnya sudah benar-benar lengket karena belum mandi selama tiga hari itu, ia hanya menggosok giginya saat tengah malam.

Karena sketsanya belum jadi, dan deadline sebentar lagi.

“Haaaah..,” sorak Min Woo frustasi setelah beberapa hari ini mengurung diri dan memaksakan dirinya untuk menginap di kantor, ia menghela napas berat lalu menghempaskan tubuhnya dengan utuh yang sudah pasrah ke sandaran kursi empuk yang sudah membuat pantatnya kesemutan terlebih dahulu kemudian memijat dahi yang terasa berdenyut serupa dengan matanya yang belum diajak untuk terpejam sejak semalam, bahkan sekarang sudah malam lagi. Karena semua perjuangannya akhirnya terbalaskan, Min Woo bisa mendengar kalimat “deadline is over” terngiang di telinganya setelah hasil yang ia perhitungkan sejak jauh-jauh hari untuk membuat kantor berlantai dua puluh itu keluar dari mesin plotter, semuanya pun selesai.
Deadline is over!!” serunya bahagia sambil meregangkan tubuhnya yang sudah kaku matanya terarah pada fotonya bersama Su Jin yang terpajang di sudut meja kerjanya yang sudah tidak terlihat seperti meja kerja.
Bogoshipta..,” kata Min Woo lembut sambil menunjukkan seulas senyumannya yang hangat di hadapan frame berwarna peach itu. “Kapan kita bisa bertemu? Aku sangat merindukanmu Su Jin-a..,” lanjutnya sambil menatap foto yang menampakkan senyum kebahagiaan mereka ketika berlibur di pulau Nami tahun lalu, sesaat kemudian ia merasakan getar di saku celananya.

Satu SMS dari Su Jin.

Su Jin :
Oppa! Aku sudah ada di depan kantor mu, ayo keluar.. Disini sangat menyeramkan. Kantor mu gelap sekali!!

Min Woo melongo begitu membaca pesan dari gadis itu, ia melirik jam dan mendapati kalau sekarang sudah hampir pukul sebelas malam. Su Jin, kenapa ia kesini?

 

“Su Jin-a!”

Su Jin menolehkan kepalanya begitu mendengar suara Min Woo memanggil namanya, ia mendapati laki-laki itu berlari tergopoh-gopoh menghampirinya dengan wajah berantakan dan lelah.
“Kamu, kenapa kesini? Sekarang sudah malam..” kata Min Woo sambil mengatur napasnya yang sudah tidak terdengar, Su Jin tidak menjawab dan langsung menyemprot beberapa bagian tubuh Min Woo dengan parfum yang selalu siap di dalam tasnya.

Oppa. Kamu bau sekali, sudah berapa hari tidak mandi?” tanya Su Jin seraya memasukkan parfum yang tinggal setengah botol itu kedalam tasnya, “Sekarang baunya sudah lebih baik,” lanjutnya sambil mendengus kearah Min Woo lalu tertawa. Min Woo tak berbicara apapun ia hanya memandangi Su Jin yang tertawa bahagia, rasanya sudah sangat lama Min Woo tak melihat gadisnya tertawa.
“Aku merindukanmu..,” kata Min Woo lalu menarik Su Jin kepelukannya, Su Jin tersenyum dan menenggelamkan kepalanya kedalam pelukan Min Woo.
Nado..,” sahut Su Jin, ia sangat merindukan lelakinya.
“Ayo kita makan, aku sudah buat bekal. Perutmu berbunyi, Oppa..” kata Su Jin lagi sesaat Min Woo melepaskan pelukannya.
“Kemana?”
“Sudah.., ikuti saja aku.” Su Jin langsung menarik tangan Min Woo dengan sangat bersemangat hingga membuat Min Woo yang loyo hampir terseret dari tempatnya berdiri barusan.

 

=0=

 

“Selamat menikmati…….,” seru Su Jin heboh lalu menyumpit sebuah kimbap ukuran besar dan memasukkan kimbap itu ke dalam mulut Min Woo, hingga Min Woo sulit mengunyahnya. Lagi-lagi Su Jin tertawa.
“Ahh.. enak sekali kimbap buatan Su Jin kami!!” puji Min Woo saat sudah bisa menelan semua kimbap yang di berikan oleh Su Jin, sedetik kemudian wajah gadis itu pun memerah.

“HAAAA.. tentu saja!” sorak Su Jin bangga lalu segera memeluk Min Woo hingga laki-laki itu terkejut dan hampir terpental kebelakang.
Oppa, Aku mencintaimu..” bisik Su Jin tepat di telinga Min Woo dan mengeratkan pelukannya.
“Aku juga mencintaimu,” kata Min Woo dan membalas pelukan Su Jin.

Dua puluh menit telah terlewati bersama, kotak bekal yang awalnya berisi potongan kimbap yang besar-besar buatan Su Jin pun telah habis di makan oleh mereka berdua dengan lahap, hingga mereka kehabisan bahan obrolan dan suasana menjadi canggung secara tiba-tiba.
“Emm..” pekik orang itu bersamaan, mereka terdiam dan langsung tertawa bersama-sama ketika menyadari kalau mereka mengambil waktu yang kurang tepat. Rasanya seperti bertahun-tahun mereka tidak tertawa bersama seperti sekarang ini.

“Kamu dulu,” kata Min Woo lalu mengerling sambil menggigit sumpitnya kearah Su Jin yang langsung menggelengkan kepalanya dengan spontan.
Shireun, Oppa saja dulu,” tolak Su Jin tegas, Min Woo ikut menggeleng lalu membiarkan Su Jin mengutarakan pikirannya terlebih dulu. Untuk sekali lagi.., Su Jin menggeleng lagi namun kali ini dengan alis mata yang kusut dan bibir yang mengerucut.
Lagi-lagi ia berkata, “Shireun!” dengan nada suara yang meninggi.
Min Woo mendengus geli.

“Ya sudah lah, Oppa akan berbicara duluan..,” katanya pasrah, sekeras apapun ia memaksa Su Jin untuk berbicara duluan pasti ia akan menjawab Shireun dengan nada suara yang akan meningkat satu oktaf, lagipula ini sudah saatnya.
“Jum’at depan batalkan semua acaramu,” ujar Min Woo dengan percaya diri, membuat Su Jin langsung melongo dengan wajah tidak percaya atas apa yang didengarnya barusan. Bukankah Oppa-nya sedang sibuk dengan proyek deadline? Hingga lupa makan, karena itulah alasan Su Jin mengunjungi Min Woo malam-malam begini.

“Eh..?”
“Kita kencan!” lanjut Min Woo percaya diri sambil menatap jalanan di depannya, mereka duduk di taman kota sebrang kantor Min Woo cahaya bulan menerangi taman yang hampir sepi mengingat sekarang sudah mendekati jam tengah malam.
“Kenapa mendadak?” tanya Su Jin tidak paham lalu menatap Min Woo yang langsung mencubit kedua pipinya gemas.
“Karena Oppa tidak punya waktu luang lagi, aku sangat merindukan kamu, sudah seharusnya kita menghabiskan waktu seharian penuh hanya untuk kita berdua..,” jawab Min Woo yakin tanpa melepas cubitan di pipi Su Jin yang sudah terasa berdenyut pelan senada dengan detak jantungnya, tanpa di sadari Su Jin sudah tersenyum lebar. Kencan, sudah lama ia memikirkan untuk mengajak Min Woo berkencan.

Jinjja?” tanya Su Jin bersemangat, ia sudah tidak punya bahan apapun untuk di katakan, saat Min Woo sudah mengusulkan sesuatu yang ia tunggu-tunggu. Suasana kembali hening mereka sibuk dengan perasaannya masing-masing, Su Jin sudah tidak sabar untuk hari jum’at depan itu.

 

**

Jum’at, tanggal 21, Dongdaemun.

 

Min Woo tidak dapat menghentikan kakinya yang terus menghentak ke jalanan aspal, matanya terus melirik jalanan dan jam tangan secara bergantian, ia membuat janji dengan Su Jin pukul sembilan pagi di depan toko burger di Dongdaemun tapi sekarang sudah pukul setengah sepuluh dan ia belum mendengar suara berisik Su Jin memanggil namanya. Mendadak ia jadi menyesal menuruti Su Jin tidak membawa mobil dengan alasan ingin merasakan hal yang lebih romantis daripada berputar-putar jalan tol dengan mobil, tapi ia dan semua prediksi Su Jin salah. Gadis itu selalu telat, bahkan saat kencan.

Seharusnya Min Woo menjemputnya.
“MIN WOO OPPAAAH!!” sedetik kemudian setelah ia berpikir kenapa Su Jin tidak bisa di hubungi Min Woo mendengar suara Su Jin memanggil namanya, ia pun menoleh dan benar saja Su Jin tengah berlari di antara kerumunan orang-orang di sebrang jalan dengan kaki yang gemetaran.
Oppa, jeongmal, jeongmal mianhae..,” kata Su Jin dengan kepala tertunduk dan suara yang terengah-engah karena napasnya terlihat akan habis, seluruh tubuhnya sudah berkeringat dan gadis itu gemetaran.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Min Woo khawatir, ia menyentuh pundak Su Jin yang gemetar, gadis itu terlihat lemas dan rapuh sehabis berlari di musim panas.
“Tentu saja aku baik-baik saja. Oppa, maaf, tadi taksinya mogok dan baterai ponselnya lupa aku carger semalam jadi ponselnya mati dan aku tidak bisa menghubungimu. Jadi aku berlari dari lampu merah seberang stasiun kereta hingga kesini,” Su Jin mencoba menjelaskan semuanya dengan suara yang terputus, ia takut Min Woo marah dan akan membatalkan kencannya. Alih-alih membatalkan kencan Min Woo malah ternganga, jadi ini alasan Su Jin terlambat?
“Su Jin-a, gwaencahanha?” tanya Min Woo lagi karena kurang yakin dengan keadaan Su Jin, ia takut ada apa-apa dengan gadisnya.

“Jinjjayo, Oppa!!sahut Su Jin bersemangat, ia sudah bisa berdiri tegak meski masih terlihat rapuh, “Jadi.., kemana kita sekarang?” tanya Su Jin dengan nada yang lebih bersemangat, Min Woo memandang sekeliling dan Su Jin bergantian sambil membasahi bibir, kenapa ia mengajak Su Jin ke Dongdaemun padahal mereka bisa pergi ke Everland, Lotte World, dan Bioskop daripada berputar-putar di pasar tradisional.
“Ada referensi yang bagus?” tanya Min Woo kikuk, ia benar-benar tidak punya rencana untuk kencan hari ini. Su Jin tidak menjawab dan hanya menatap Min Woo sambil menggenggam tangan pacarnya, matanya kemudian memandang sekeliling dan tersenyum, kembali menatap Min Woo.

“Kata ibu, kalau membuat rencana semuanya tidak akan berjalan sesuai prediksi, maka dari itu ayo kita jalani saja..” ujar Su Jin ceria dan langsung menarik tangan Min Woo untuk memutari jalanan Dongdaemun yang padat oleh manusia dan menjauhi toko burger yang tak kunjung terbuka. Mereka sibuk berjalan sambil mengobrol di sekeliling Dongdaemun, bahkan sudah memutari sebuah toko ice cream tiga kali dan tidak menyadarinya karena terlalu sibuk memandang satu sama lain. Jari kelingking mereka saling berkaitan, tak jarang mereka bertatapan, Min Woo sudah merangkul dan memeluk Su Jin dengan erat di tengah-tengah kerumunan orang yang satu arah dengannya.
Mereka belum berkencan sedari tadi, hanya berputar-putar Dongdaemun.

*

“Ah.., apho,” pekik Su Jin tiba-tiba dan menghentikan langkahnya di tengah jalan, ia sudah melepaskan genggaman tangannya dari Min Woo dan membiarkan Oppa-nya menjauh.
Apha,” gumam Su Jin pelan lalu berjongkok dan memegangi lututnya yang sudah terasa nyeri karena ia paksa berjalan saat masih gemetaran. Ia hanya tidak mau membuat Min Woo khawatir dan menghancurkan kencannya. Kencan mereka.
Niga wae?” suara itu tiba-tiba terdengar di telinga Su Jin, matanya menangkap sepasang sepatu converse classic coklat milik Min Woo ada di hadapannya, ia mengangkat kepalanya dan mendapati Min Woo ikut berjongkok di depannya.

“Gwaenchanha..” kata Su Jin mencoba membuat laki-laki itu tenang lagi, tapi sepertinya percuma, Min Woo sudah tahu kalau Su Jin berbohong.
“Tidak usah berbohong, Oppa tahu kakimu sakit.” bantah Min Woo sambil menatap Su Jin yang sudah menunduk bersalah dengan pipi menggembung.
Mianhae, Opp—”
“Naiklah..,”
“Eo..?” Su Jin langsung mengangkat kepalanya dengan spontan dan mendapati Min Woo membelakanginya, “Oppa..,” panggil Su Jin pelan, matanya menatap punggung Min Woo yang terselimuti jaket levi’s dengan haru, tidak tahu kalau Oppa yang selama ini di kaguminya begitu romantis. Jujur.. dulu Min Woo terlalu kaku padanya.
“Cepat, kita membuat jalanan menjadi macet.” potong Min Woo tiba-tiba membuat Su Jin tersadar dan langsung memandangi sekelilingnya. Benar.. jalanan menjadi macet dan banyak orang yang memperhatikan mereka dengan tatapan cemburu, terutama para gadis. Su Jin cepat-cepat memeluk pundak itu dari belakang.

“Sekarang kita lanjutkan kencan kita. Masih ada sepuluh jam lagi sebelum makan malam,” beo Min Woo lalu berdiri, laki-laki itu mengangkat Su Jin dan kakinya yang gemetaran dan kembali berjalan keluar dari Dongdaemun. Su Jin tidak bisa mengatakan apapun lagi, Min Woo yang dulu sangat berbeda dengan Min Woo yang sekarang. Min Woo yang dingin dan tak peduli dengannya sudah berubah menjadi Min Woo yang ia tulis di diary-nya.
“Aku berat, ya?” tanya Su Jin berkali-kali pada Min Woo ketika orang itu mencoba membenarnya letak gendongannya pada Su Jin.

“Sangat berat..,” kata Min Woo singkat sambil menahan tawa, membuat kedua alis mata Su Jin bertaut. Ia memukul pelan pundak Min Woo, laki-laki itupun terkekeh.
Nappeun nom,” umpat Su Jin sebal karena ia dibilang berat, Su Jin menenggelamkan kepalanya di pundak Min Woo. Ia dapat mencium harum peppermint yang menenangkan dari jaket levi’s Min Woo.

“Kamu berat, tapi aku menyayangimu Su Jin-a.” kata Min Woo dengan suara ceria pada Su Jin dan kembali membenarkan letak gendongannya, Su Jin langsung mengangkat kepalanya dan mengeratkan pelukannya di leher Min Woo.
“Benarkah?” tanya Su Jin kurang yakin dengan wajah memerah, Min Woo mengangguk.
“Iya, kamu itu berat, suka makan, suka menangis, suka marah-marah, dan suka ngambek. Tapi aku menyayangimu..,” kata Min Woo menjelaskan dan membuat Su Jin kembali mengerutkan alis matanya.

 

“Aku bahagia karena Oppa menyayangiku.., tapi kenapa di awalnya semua keburukanku di sebutkan, sih?” sahut Su Jin dongkol, Min Woo tertawa. Ia memelankan langkahnya dan mendudukkan Su Jin di bangku halte setelah mereka sampai di halte bus kawasan Dongdaemun.
“Kamu tahu?” tanya Min Woo dan duduk di sebelah Su Jin sambil menyentuh ujung rambut hitam yang terasa lembut milik Su Jin.
Mwo?” balas Su Jin singkat dengan nada suara sebal, Min Woo menatapnya teduh.

“Tahu kalau aku sangat menyayangi mu?” balas Min Woo sambil tersenyum teduh di hadapan Su Jin yang langsung terdiam seribu bahasa dengan wajah memerah ketika menatap Min Woo, dadanya langsung berdesir hebat.
“Kamu memang terlalu aktif, tapi kamu perempuan pertama yang membuatku mengkhawatirkanmu, membuatku merindukanmu setiap detik. Kamu adalah perempuan yang tidak akan aku lepas karena kamu adalah hadiah terbesar yang tuhan berikan padaku, Su Jin-a..” lanjut Min Woo sambil mencondongkan wajahnya untuk menatap wajah Su Jin yang memerah, Su Jin semakin terpaku padanya. Wajahnya semakin memerah.
“Oppa.., nado, aku sangat menyayangimu..” jawab Su Jin canggung dan..

Chu~
Su Jin mengecup bibir Min Woo sekilas. Gadis itu lantas langsung menyengir dan tidak menyadari kalau Min Woo sudah mengernyitkan alis matanya, rencananya untuk memulai segala atmosfernya lenyap.
Su Jin memang terlalu aktif.
“Su Jin-a..!” sorak Min Woo sebal, Su Jin menggembungkan pipinya.
“Waeyo, Oppa?” tanya Su Jin manja pada Min Woo, gadi itu langsung memeluk Min Woo erat. Lupa kalau sekarang mereka ada di halte bus.

***

         “Kyaaaaaa! Neomu areumdaeun~ gumawo, Oppa!!!”

Min Woo langsung mengorek telinganya begitu selesai menonton teather bersama Su Jin yang terlihat sibuk melompat kesana-kemari sambil bersorak heboh.
Areumdaeun..,” sorak Su Jin heboh, Min Woo menghela napas lalu menghampiri Su Jin yang sudah berhenti bersorak heboh dan duduk di ruang tunggu seusai menonton teather. “Gumawo, Oppa..” kata Su Jin sekali lagi pada Min Woo, gadis itu langsung merebahkan kepalanya di pundak Min Woo. Laki-laki itu tersenyum dan mengacak puncak kepala Su Jin.

“Aish.., kan, jadi berantakan!” kata Su Jin sebal. Lantas ia langsung merapikan rambutnya yang di acak-acak oleh Min Woo yang malah terbahak. Su Jin ikut tertawa dan suasana kembali hening.
“Su Jin-a..,” panggil Min Woo lembut, Su Jin menoleh dan terkejut ketika mendapati Min Woo hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

“Eh..?”
“Biarkan aku yang melakukan ini..,” katanya tiba-tiba, tangannya sudah memegang pundak Su Jin lembut.
“Eo?” sahut Su Jin bingung, ia agak canggung saat wajah Min Woo mulai mendekat, hidung mereka sudah bersentuhan. “Oppa..,”
Saranghae,” kata Min Woo sedetik menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir Su jin yang terkejut. Matanya terbuka sangat lebar, namun ia tak bisa melakukan apapun, dadanya berdegup sangat kencang, ini memang bukan kali pertama Min woo mencium Su Jin, tapi hari ini rasanya berbeda. Ciuman Min Woo kali ini terasa lembut dan tentram.
Su Jin sibuk memperhatikan wajah Min Woo dari jarak dekat, dadanya semakin berdebar ketika menatap mata Min Woo yang tertutup, pipinya tergelitik oleh bulu mata laki-laki itu. Sekarang ia harus menutup matanya juga.

Dan, menikmati ciumannya.

**

“Terima kasih untuk hari ini..,”
Su Jin menundukkan tubuhnya dan melambai dari balik pagar yang bahkan lebih pendek dari tubuhnya. Min Woo ikut melambai sambil tersenyum, ia senang. Untuk hari ini Su Jin mengikuti perintahnya, biasanya tiba-tiba Su Jin mengecup bibirnya dan membuatnya syok. Tapi hari ini tidak, Su Jin membuatnya sedikit santai dan kadar shockday-nya berkurang sedikit.

“Su Jin-a..,” panggil Min Woo lagi, membuat Su Jin berbalik.
Wae?” tanya Su Jin heran, Min Woo menggeleng.
“Bagaimana kalau kita berkencan setiap minggu?” usul Min Woo, membuat Su Jin melongo tidak percaya dengan usulan Min Woo.
“Eo?”
“Setiap Jum’at, sisakan waktumu untukku, karena aku akan selalu menyediakan waktuku waktu untukmu..” kata Min Woo untuk Su Jin, membuat Su Jin menatap Min Woo sambil tersenyum.
“Bagaimana? Kamu setuju, kan?” tanya Min Woo lagi, membuat Su Jin menganggukkan kepalanya setuju.

“Baiklah! Mulai hari ini aku tetapkan!”
“Apa?”
“Hari Jum’at hanya milik kita!”
“Eo?”
“Haha! Aku hanya bercanda,”
“Kyaa! Oppa.”
Wae?”
Anhi, saranghae..”
Nado..”

 

_ END_

This entry was posted by boyfriendindo.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] FRIDAY

  1. Seru tapi mau ngeralat, member miss a itu namanya bae suji atau sering dipanggil suzy, terus suzy line 94 lebih tua satu taun dari minu. Udah itu aja, makasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: