[FANFICT/FREELANCE] Obsession – Chapter 02

Tittle  : Obsession – Chapter 02
Author      : widifitriana
Genre : Action dan Romance
Rating : PG-13
Type : Chapter
Casts  : ~ Donghyun

  ~ Shin Jia

Support Casts  : ~ Hyunseong

  ~ Jeongmin

~ Youngmin

  ~ Kwangmin

  ~ Minwoo

CHAPTER 2

 

“Sahabatku Hyunseong, maafkan aku terlambat menyambutmu,” ucap Hansoo dengan nada manis yang dibuat-buat. Menjijikkan.

Dia diam saja sudah menjengkelkan. Gayanya sok berkuasa atas segala hal, ditambah dandanannya yang selalu mengenakan pakaian berwarna merah. Dia tipe orang yang memuakkan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Hansoo merentangkan kedua tangannya, seolah berharap Hyunseong menyambut dan memeluknya. Tidak ada satupun dari kami yang beranjak dari tempat kami berada untuk sekadar bertukar sapa dengannya. Tidak merasa bahwa dirinya diabaikan, Hansoo duduk di sebelah Hyunseong seenaknya.

“Bagaimana penjara?”

“Menyenangkan, karena tidak ada kau di sana.”

Hansoo tertawa menyebalkan. Aku tidak tahan melihatnya.

Kulihat perempuan yang menciumku berjalan ke arah toilet. Daripada berlama-lama menyaksikan Hansoo dan mulut menyebalkannya, aku beranjak dari sofa, lalu mengikuti perempuan itu. Hyunseong melempar pandangan padaku yang berkata ‘Yang benar saja kau meninggalkanku bersama orang gila ini?’. Maafkan aku Hyunseong, dia urusanmu. Ada urusan lain yang lebih menarik bagiku saat ini.

Sebisa mungkin aku harus mengeluarkan wanita itu dari tempat ini, sebelum dia bertemu dengan Hyunseong, Youngmin, Kwangmin, Jeongmin, dan Minwoo. Jika wanita itu mengingat wajah mereka, sulit bagi kami untuk melakukan penyamaran, ketika kami memulai penyelidikan nantinya.

Aku berdiri di depan pintu masuk toilet wanita. Asal tahu saja, ini pertama kali aku melakukannya. Setiap kali ada yang keluar, mereka bukannya terkejut melihatku, melainkan malah bertingkah genit. Mengedipkan mata atau tersenyum, mencoba menarik perhatianku.

Setelah lebih dari tujuh menit, wanita yang kutunggu akhirnya keluar. Tentu saja dia tidak melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita sebelumnya. Wanita itu bahkan hanya memandangku beberapa detik, kemudian dia meneruskan langkahnya.

“Oke, kau yang memilihnya nona,” ujarku.

Padahal aku berniat menggunakan cara baik-baik. Karena sikapnya yang tidak ramah itu, aku terpaksa memaksanya. Aku menggenggam tangannya kuat-kuat. Menariknya keluar meninggalkan club.

“Apa-apaan kau? Lepaskan! Kau pikir kau bisa berbuat seenaknya seperti ini?”

“Menurutlah kalau kau tidak mau terluka.”

“To—“

“Cobalah untuk berteriak, dan aku akan membungkam mulutmu menggunakan bibirku.”

“Kau pikir aku anak kecil yang takut pada ancamanmu? Lagi pula, ancaman macam apa itu.”

“Boleh kuartikan ucapanmu itu berarti kau tidak keberatan kita berciuman lagi?”

“Yah, berhenti mengatakan hal yang tidak masuk akal.”

Sibuk mendebatku, dia tidak sadar bahwa kami telah berada di luar. Aku memaksanya masuk ke dalam mobilku yang sudah siap di depan gedung, lalu bergegas melaju sebelum dia lari.

“Aku bisa melaporkan tindakanmu sebagai penculikan, kau tahu? Turunkan aku sekarang juga!”

“Ternyata kau wanita yang berisik. Kebanyakan wanita merasa beruntung, bisa duduk di dalam mobilku.”

“Itu karena mereka semua tidak mempunyai pikiran. Terjebak bersamamu adalah hal terburuk sepanjang hidupku.”

“Caramu memuji unik sekali.”

Bunyi ponsel wanita itu menyela kami. Aku segera meraihnya sebelum dia sempat mengangkatnya, kemudian melempar ponsel itu keluar jendela.

“Kau!! Kenapa kau membuang ponselku? Aku harus menjawab telepon itu Bodoh! Kau ini—“

“Sepertinya kau sengaja banyak bicara agar bisa berciuman denganku lagi.”

Ucapanku membuatnya berhenti berteriak. Dia mendesah keras dan melampiaskan kekesalannya dengan memukul kaca jendela mobilku. Dia pun akhirnya duduk diam di kursinya.

Begitu mobil berhenti di tempat yang kutuju, wanita di sampingku menatapku tajam.

“Hotel?!” tanyanya sambil menyilangkan tangan di depan dada.

“Kau lapar?”

“Apa hubungannya aku lapar atau tidak dengan semua ini? Jelaskan saja padaku kenapa kita berhenti di hotel?”

“Kita bisa makan di tempat lain. Di mana tempat makan favoritmu?”

“Bukan itu masalahnya! Aaah… benar-benar menguji kesabaranku! Dengar Mr. Blue, aku tidak berniat menghabiskan waktu denganmu sedetik pun.”

Sudah sebulan ini aku mengganti warna rambutku dengan warna biru. Dia adalah orang pertama yang memanggilku ‘blue’. Aku tidak tersinggung. Semua yang dia ucapkan terdengar menyenangkan di telingaku.

“Wah, cepat sekali kau menyiapkan nama panggilan untukku. Kurasa aku tidak keberatan. Terdengar seksi jika kau yang mengucapkannya.”

“Teruslah mengoceh dan aku akan merobek mulutmu sebelum kau selesai bicara! Dengar, kalau kau pikir aku tidak bisa melawan, kau salah besar.”

Kami berdebat di depan hotel layaknya sepasang suami-istri, di mana sang istri baru saja memergoki suaminya menginap di hotel bersama wanita lain. Susah sekali membungkam mulutnya.

“Apa kau tidak mengerti apa yang kukatakan sejak tadi? Tidak bisakah kau diam sebentar? Kenapa kau terus saja membuat keributan?”

“Kenapa? Karena aku tidak menyukaimu!”

“Hanya itu? Kau akan, tenang saja. Masalah selesai. Ayo kita makan.”

Mulutnya menganga karena pernyataanku. Dia mendengus kesal, tetapi menurut saat aku menariknya masuk ke restoran yang berada di dalam hotel. Kutarik kursi, lalu mendudukannya.

“Siapa namamu? Atau kau lebih suka kupanggil wanita cantik yang sudah menciumku?”

Wanita di depanku tertawa. Jenis tertawa yang kau lakukan ketika ibumu memintamu datang ke sebuah kencan buta, dan kau tidak tahu respon apa yang harus kau berikan, jadi kau hanya tertawa. Dia tidak lagi memandangku dengan kesal. Mungkin akhirnya dia sadar bahwa tidak ada gunanya melawan selain merelakan dirinya terjebak bersamaku.

“Aku wanita ke berapa yang kau ajak kemari dan kau rayu?”

“Ingin aku menjawab kau adalah wanita pertama? Biasanya wanita suka mendengar hal-hal seperti itu.”

Dia tertawa lagi. Pelayan datang memberikan buku menu. Kami pun sibuk memilih mkanan yang akan menjadi menu makan malam kami. Aku tidak memesan makanan berat karena sejujurnya perutku masih terasa penuh. Aku hanya mencari alasan agar bisa menahan wanita itu bersamaku. Pelayan pergi usai mencatat pesanan kami.

“Jia. Kau bisa memanggilku Jia.”

Aku merasa lucu sekaligus gemas ketika akhirnya dia mengatakan siapa namanya. Sedetik dia kesal, detik berikutnya ramah, detik berikutnya bisa berubah lagi. Ini pertama kalinya aku merasa ingin tahu mengenai orang yang harus kubunuh. Baik aku ataupun yang lainnya tidak pernah peduli pada latar belakang target kami. Tidak ada gunanya mengetahui kehidupan orang yang pada akhirnya akan kami bunuh. Namun Jia seolah-olah sengaja membuatku bertanya-tanya.

“Donghyun.” Aku tersenyum setelah mengatakannya. Teringat oleh kejadian kami berciuman di mall. “Baru kali ini seorang wanita mengajakku berkenalan dengan cara menciumku terlebih dahulu.”

“Yah… berhenti membahas hal itu. Sudah kukatakan aku terpaksa melakukannya. Aku perlu menyembunyikan diri, dan kebetulan kaulah yang berada di depanku saat itu.”

“Apa kau selalu merayu pria dengan cara seperti ini?” Giliranku bertanya, karena alasannya terdengar seperti alasan yang sering ada di dalam drama.

“Kalaupun iya, tidak akan kugunakan untuk merayu pria sepertimu.”

“Kau baru saja melakukannya Nona.”

Dia menyeringai. Perhatiannya teralih pada makanan di atas nampan yang dipegang oleh pelayan. Senyumnya merekah ketika akhirnya hidangan yang dia pesan mendarat di atas meja. Jia menikmati apa yang terhidang di depannya

Makanan itu menyita seluruh perhatiannya. Sementara Jia sibuk makan, aku sibuk memandanginya. Untuk seorang wanita berpenampilan seksi yang bahkan sebelumnya bertingkah angkuh, dia tidak menjaga image-nya dengan menikmati steak di piringnya secara anggun. Potongan demi potongan daging steak masuk ke mulutnya dengan lahap. Melihatnya saja sudah membuatku kenyang. Tetapi di mataku, apa yang dilakukannya justru tampak menggemaskan. Bibir itu, kapan aku bisa merasakannya lagi?

Sebenarnya aku ingin segera mulai mencari tahu siapa dia, tetapi kurasa itu terlalu mencurigakan. Apalagi Jia suka sekali mendebat apa pun yang terucap dari bibirku.

Menangkapku sedang memandanginya, Jia tersenyum dan balas menatapku. Kami saling menatap cukup lama seolah sudah bertahun-tahun kami tidak melakukannya.

“Apa aku lebih cantik dari Jun ji hyun?”

“Habiskan makananmu. Masih banyak yang harus kita lakukan.”

“Kita?”

“Ya. Kita akan membeli pakaian.”

“Kenapa? Tidak ada yang salah dengan pakaianku sekarang.”

“Karena aku tidak mau orang berpikir aku membawa wanita jalang ke hotel untuk kutiduri.” Alasan sebenarnya adalah aku tidak ingin dia menjadi objek pemandangan para pria. Setiap pria yang memandanginya seolah ingin melahapnya saat itu juga. Tentu saja aku tidak masuk ke dalam hitungan.

“Memangnya bukan itu tujuanmu mengajakku kemari?”

“Pertanyaan yang bagus. Haruskah aku melakukanya?”

“Coba saja, dan keluargamu akan menghadiri pemakamanmu besok pagi.”

Pernyataannya yang berani itu terasa lucu bagiku. Kebanyakan wanita yang kutemui, justru berusaha mati-matian merayu agar bisa berada di atas tempat tidur bersamaku. Tetapi aku bukan Youngmin yang dengan senang hati menerima semua kesempatan yang datang padanya. Hanya kesempatan yang menarik yang kuterima.

“Kita lihat saja, apakah ancamanmu itu berhasil membuatku menahan diri.”

Jia memutar bola matanya tidak peduli. Usai menghabiskan makanannya, aku membawa Jia ke sebuah butik yang terletak di seberang hotel. Kupilihkan sebuah blouse lengan panjang dan memadukannya dengan celana jeans, kemudian meminta Jia memakainya. Sementara Jia mengganti pakaiannya, aku menuju ke meja kasir. Jia keluar lima menit kemudian. Tanpa protes.

“Menurutmu, mengapa aku mengikuti semua yang kau minta?” tanya Jia setelah kami keluar dari butik.

“Hmmm… karena aku tampan dan kau menyukaiku?”

Dia menghela napas sebagai jawaban dari apa yang kuucapkan.

“Baiklah, baiklah. Karena aku masih berhutang mengganti ponselmu?”

“Tepat sekali.”

“Kita bisa membicarakannya di dalam.”

“Hei, Tuan, apa kau pikir aku benar-benar mau masuk ke kamar hotel bersamamu?”

“Tentu saja. Kau tidak punya pilihan lain.”

Aku merangkulnya erat agar dia tidak lari. Dia mencoba berteriak, namun segera kutarik dia masuk ke dalam lift sambil membungkam mulutnya dengan tanganku yang lain. Aku tidak melepaskan tanganku dari mulutnya sampai kami masuk ke kamar dan pintu terkunci.

Jia berdecak.  Tanpa berkata apa-apa, dia menuju kursi di dekat jendela, kemudian duduk.

“Apa yang akan kita lakukan di sini?”

“Tidur. Kecuali… kau ingin kita melakukan hal menyenangkan lainnya.” Aku menyeringai. Jia tidak menghiraukanku dan memilih menatap pemandangan di luar jendela.

Aku membuka lemari es yang tersedia, lalu mengeluarkan sebotol wine, serta dua buah gelas. Melihat apa yang kubawa, Jia memberi pandangan menuduh lagi padaku. Sepertinya di dalam pikiran Jia, aku adalah penjahat yang setiap saat bisa melakukan hal-hal berbahaya padanya, jika kewaspadaannya turun.

“Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang ada di pikiranmu,” ucapku sambil menuangkan wine ke dalam gelasnya.

“Aku hanya penasaran, mengapa tiba-tiba kau mengajakku kemari dan bukannya memilih berpesta di club tadi?”

“Karena di sana terlalu banyak orang.”

“Oh, lalu kenapa kau tidak pergi saja ke pemakaman kalau kau memang tidak ingin bertemu banyak orang?”

“Masuk akal.” Aku menghabiskan wine di gelasku dalam sekali teguk.

“Sampai kapan kau berniat mengurungku di sini?”

Aku mengangkat bahu. “Aku tidak ada rencana pulang.”

“Ingat, sedikit saja kau menyentuhku, kuhajar kau!”

Aku tertawa. “Aku berjanji tidak akan menyentuhmu sedikit pun. Kau boleh memotong tanganku kalau aku melakukannya. Puas?”

“Bagus. Semoga kau masih menyayangi kedua tanganmu itu.”

Kami menikmati gelas demi gelas wine dalam diam. Satu botol wine berhasil kosong, dan Jia memintaku menggambil sebotol lagi dari dalam kulkas. Aku menuruti kemauannya. Selain wine, ada banyak cemilan di dalam, jadi aku memilih beberapa untuk kumakan. Biarlah Jia yang menghabiskan wine-nya.

“Kenapa lama sekali?”

Aku terkejut mendengar suaranya tepat di samping telingaku.

“Minggir.” Jia mendorongku dari depan kulkas.

Dia mabuk. Lalu, kenapa dia meminta sebotol wine lagi? Aku segera mencegahnya membuka kulkas dengan berdiri di depannya. Jia mencoba mendorongku menjauh, tetapi aku memegangi kedua tangannya.

“Yah! Kau melukai wajahku!” Kuku Jia tidak sengaja meninggalkan sedikit goresan di pipiku dalam usahanya melepaskan diri.

Dia mengerjap lemah. Pandangannya tampak tidak fokus. Kurasakan tangannya berhenti memberontak, maka aku pun melepaskannya. Dia diam saja di depanku.

“Sebaiknya sekarang kau—“

Jia mencoba melangkah mundur, tetapi yang terjadi tubuhnya ambruk ke depan. Dia tersandung kakinya sendiri. Bukannya melepaskan diri dariku, Jia malah menyandarkan dagunya di pundakku. Aku tidak tahu dia tertidur atau apa.

Semenit berlalu. Tiga menit. Jia tidak ada tanda-tanda menjauhkan tubuhnya. Atau mungkin dia mulai merasa nyaman.

“Lihat, kau sendiri yang memulai kontak fisik denganku. Hei Jia, bangun!”

Jia mengangkat kepalanya, lalu memicingkan mata menatapku. “Memangnya kenapa kalau aku menyentuhmu? Kubilang kau tidak boleh menyentuhku, bukan aku tidak boleh menyentuhmu.”

“Wow, kau butuh menjernihkan pikiranmu.”

Anehnya, Jia mendekatkan wajahnya ke wajahku seolah membuktikan tidak ada yang salah dengan pikirannya. Aku bisa merasakan hangat napasnya di wajahku. Menimbulkan sebuah desakan dalam diriku untuk segera menyentuhnya. Tanganku yang bebas naik dan berhenti di pinggangnya.

Entah dia sudah benar-benar mabuk atau tidak, karena yang dia lakukan berikutnya adalah melumat bibirku. Tangannya melingkar di leherku hingga tubuh kami saling menempel. Bibirnya terasa lembut dan basah. Aku tidak membalas ciumannya. Kubiarkan dia mengambil alih permainan ini.

Jia tiba-tiba berhenti. “Kenapa… kau… kau… tidak suka menciumku?” Dia mengakhiri ciumannya, tetapi tidak menjauhkan wajahnya dari wajahku.

“Jangan memaksaku melakukan apa pun Jia, atau kau akan menyesal. Tidurlah saja, oke?”

Kupikir peringatanku itu cukup, karena sejak awal pun justru dia yang terus mengingatkanku agar tidak menyentuhnya. Tetapi, tidak menghiraukan ucapanku, dia menekan tubuhnya sehingga tidak ada ruang yang tersisa diantara kami.

“Kau… manis… sekali.” Suara paraunya menggelitik telingaku.

Aku berusaha mengontrol hormonku ketika Jia mulai menyapukan lagi bibirnya secara lebih erotis dibandingkan sebelumnya. Pertahanan yang kubangun perlahan runtuh. Aku tidak bisa menyia-nyiakan bibir itu. Jia tersenyum, ketika menyadari aku membalas ciumannya. Lidahku mendesak masuk ke mulutnya, dan Jia mempersilakanku melakukannya.

Aku menggiring Jia ke tempat tidur. Menguncinya dalam ledakan gairah yang dia mulai sendiri. Ciumannya memburu. Dia benar-benar membuatku frustasi. Dan aku mulai merasa terganggu dengan pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Keinginan untuk melihat lebih muncul begitu saja.

“Aku menginginkanmu,” ucap Jia.

Sebagai jawabannya, aku menciumnya lebih intens. Jia mulai membuka satu per satu kancing blouse-nya dengan tidak sabar, tetapi aku menghentikannya di kancing ketiga.

Jia mengerang ketika lidahku bermain-main di bagian lehernya. Mendengar erangannya itu, aku tiba-tiba tersadar. Sadar bahwa aku sudah berjanji tidak akan menyentuhnya. Aku tahu, aku pasti gila jika menyudahi apa yang kami lakukan sekarang. Sayangnya aku menuruti sisa kewarasanku itu. Aku menempelkan dahiku ke dahinya.

“Tidurlah Jia.”

Jia tampak kecewa karena aku mengakhiri permainan yang bahkan baru saja dimulai. Kami berbaring saling berhadapan.

“Selamat malam,” ucapku.

Jia mendorong tubuhnya mendekat, mengecupku singkat, lalu memejamkan mata sambil memelukku. Dia sungguh wanita yang sulit diberitahu.

***

 

*Jia POV*

 

Aku terbangun sendirian tanpa Donghyun di sebelahku. Aku merasa lega sekaligus kecewa. Lega karena tidak harus terjebak dalam situasi yang canggung, dan kecewa karena Donghyun meninggalkanku begitu saja.

Kancing blouseku semuanya terpasang, padahal aku ingat semalam aku membuka tiga kancing teratas. Tanpa kuminta, memori otakku memutar kembali kejadian semalam. Aku memang mabuk, tetapi aku bisa mengingat jelas apa yang kulakukan bersama Donghyun.

Aku menyentuh bibirku. Masih bisa kubayangkan rasa bibir Donghyun di sana. Padahal itu jelas bukan pertama kali aku merasakannya. Hanya saja semalam terasa berbeda. Tidak hanya bibirku, tubuhku pun juga mengingat setiap sentuhannya dengan baik.

Mendadak aku merasa panas sepanas-panasnya. Padahal AC di dalam kamar menyala. Kurasa aku butuh berendam untuk mendinginkan kepalaku. Aku merelakan diri meninggalkan tempat tidur. Saat merapikan diri di depan cermin, aku melihat sebuah kotak tergeletak di samping tasku. Lebih tepatnya sebuah kotak ponsel. Kubaca pesan yang menempel di atas kotak itu.

 

Kau tidak perlu berterima kasih. Kuharap kita segera bertemu lagi. Sebaiknya mulai sekarang kau menjauhi alkohol !!

 

“Kau malah membuatku semakin tidak mau melakukannya.” Aku menahan geli. Rasanya seperti anak sekolah yang dinasehati oleh gurunya agar berhenti menyontek.

Kunyalakan ponsel pemberian Donghyun, dan fotoku yang sedang tidur muncul sebagai wallpaper. Manis sekali. Jangan-jangan dia banyak memotretku diam-diam semalam. Aku mengecek kontak telepon, separuh berharap Donghyun meninggalkan nomor ponselnya. Ternyata tidak.

Ponsel pemberian Donghyun merupakan ponsel keluaran terbaru yang lebih bagus dari milikku sebelumnya. Dia memilih warna biru, sama seperti ponselku yang dia buang. Kumasukkan ponsel itu beserta kotaknya ke dalam tas. Dan setelah yakin penampilanku tidak berantakan, aku keluar dari kamar hotel. Nayeon, sahabatku, pasti sudah menyiapkan sederet pertanyaan karena aku tidak pulang—tanpa mengabarinya—semalam.

 

“Nayeon-ah, buatkan sarapan untukku.” Aku berbaring di samping Nayeon yang masih tidur sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.

Nayeon tidak bergerak sedikit pun. Kemudian aku teringat bahwa sekarang hari libur. Pantas saja Nayeon masih ada di rumah, di atas tempat tidur pula. Jelas bukan khas Nayeon.

“Jung Nayeon, aku kelaparan.”

Akhirnya gangguan dariku berhasil membangunkannya. Nayeon yang menolak meladeniku, mendorongku menjauh, lalu merapatkan lagi selimutnya.

“Aku sedang malas. Kau masak saja sendiri.”

Malas? Setahuku, hanya satu hal yang membuat Nayeon mendadak bermalas-malasan di tempat tidur. Masalah percintaannya yang tidak berjalan lancar. Terakhir kali aku tahu dia dekat dengan salah satu teman kantornya. Seorang lelaki yang menurutku tidak pantas untuk Nayeon. Baik sikap maupun penampilannya sama-sama buruk.

“Pria itu mencampakkanmu? Benar kan? Sudah kubilang dia tidak serius denganmu!”

“Yah! Diamlah Jia, aku tidak mau mendengarmu mengoceh!” Nayeon menegakkan tubuh. Matanya sedikit bengkak dan lingkaran hitam di matanya bertambah buruk. Dia mengerikan.

“Dari mana saja kau?” Masih saja Nayeon sempat membentakku.

“Kasihan sekali Nayeon-ku. Kau pasti menangis sendirian semalam. Maaf.” Aku memeluknya.

Nayeon mendorong dahiku menggunakan ujung jarinya. Dia mengikat asal rambut ikalnya, lalu berjalan keluar. Aku mengikutinya. Tanpa mencuci muka terlebih dahulu, dia langsung menyibukkan diri di dapur untuk membuat dua gelas kopi.

“Apa yang dia lakukan padamu?”

“Kenapa kau tidak mengangkat telepon?”

Aku menghindari tatapan Nayeon dan mengalihkan pandanganku ke kopi di depanku. “Ponselku hilang.”

“Bagaimana bisa? Tidak ada hal buruk yang kau lakukan kan? Ah ya, kau sudah menelepon Eunyoung?”

Gelombang kesadaran menamparku. Ada orang-orang yang harus kuhubungi, karena pasti bukan hanya Nayeon yang berusaha menghubungiku semalam. Salah satunya adalah Eunyoung. Mengingat hal itu, aku berlari ke dalam kamar untuk mengambil ponselku.

“Tolong ambilkan buku telepon itu.”

“Kau bilang ponselmu hilang?”

“Ssssssst!”

Setelah dering keempat, Eunyoung mengangkat teleponnya.

“Kau pikir sekarang jam berapa? Beraninya mengganggu tidurku!” seru Eunyoung di seberang telepon. Cara menyapa yang romantis sekali.

“Yah, Park Eunyoung, kau pikir dengan siapa kau bicara sekarang?!” seruku lebih keras.

“Ji.. a.. Eon.. nie?”

“Di mana kau? Bukankah seharusnya kau sudah ada di Korea?”

“Eonnie, berikan aku sepuluh menit. Kuhubungi lagi kau nanti,” kata Eunyoung yang disusul oleh uapan panjang. Kemudian telepon terputus.

“Dasar… dari mana dia mendapat sifat seenaknya itu?”

“Kau,” jawab Nayeon santai.

Eunyoung adalah adik angkatku. Keluarganya meninggal ketika rumah mereka terbakar sepuluh tahun yang lalu. Orangtuaku kemudian memintanya tinggal bersama kami karena tidak ada keluarganya yang lain yang bersedia mengasuh Eunyoung.

Sejak empat tahun yang lalu aku memintanya tinggal di Australia dan bersekolah di sana. Ada hal-hal yang perlu kulakukan, dan aku tidak ingin Eunyoung mengetahuinya. Sebulan yang lalu, tiba-tiba dia memohon agar aku memulangkannya dan membiarkannya kuliah di Korea. Dengan berbagai alasan, tangisan yang dibuat-buat, serta ancaman, aku pun menyetujuinya.

Seharusnya pagi ini dia sudah berada di Korea.

“Ngomong-ngomong, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang pria itu lakukan sampai matamu bengkak begitu?”

“Aaaaah… Jia, aku sungguh tidak mau membahasnya sekarang.”

Tepat saat aku akan memaksa Nayeon bercerita, ponselku berdering.

“Pembicaraan kita belum selesai.”

Nayeon melarikan diri dariku menuju kamar mandi.

“Oh, Eunyoung-ah.”

“Eonnie, ternyata aku salah memilih tanggal. Aku baru berangkat malam ini. Kau yakin tidak mau kubelikan sesuatu?” Dia menguap panjang lagi. Anak itu benar-benar menyukai tidur.

“Tidak. Kau sampai di rumah saja sudah bagus. Jangan memenuhi rumah dengan barang-barang yang tidak penting.”

“Eooonniiiieeee… kau membuatku terharu. Aaaaah… aku ingin segera memelukmu.”

“Sudah, matikan teleponnya. Aku tidak ada waktu mendengar dramamu.”

“Sampai jumpa di rumah, Eonnie. Jangan terlalu merindukanku.”

Tentu saja aku sangat merindukannya. Aku adalah anak tunggal, dan kami sudah dekat bahkan sebelum dia menjadi anggota keluargaku. Eunyoung selalu menjadi anak yang menyenangkan bagiku. Dulu, setiap kali pulang sekolah, Eunyoung pasti sudah menungguku di rumah. Dia menceritakan segala hal padaku. Termasuk saat pertama kali dia jatuh cinta. Aku tidak pernah bisa marah padanya meskipun dia cukup sering menguji kesabaranku setelah dia beranjak dewasa. Di dalam hidupku, Eounyoung adalah pengingat, bahwa aku tidak sendirian di dunia ini.

“Nayeon-ah, cepatlah!”

Sebenarnya aku masih ingin bermalas-malasan di rumah bersama Nayeon. Tetapi aku masih memiliki janji lain. Tiba-tiba aku berharap ada yang menculikku. Donghyun misalnya.

***

 

*Donghyun POV*

 

Semua sudah berkumpul ketika aku keluar kamar. Aku membasahi kerongkonganku dengan segelas air putih, lalu duduk di antara Youngmin dan Kwangmin yang sama-sama sibuk dengan ponsel masing-masing. Di depan televisi, Minwoo dan Jeongmin sedang bertanding dalam sebuah game balap. Sementara Hyunseong tampak serius di depan laptopnya.

Akibat tidak bisa tidur, aku terus menguap. Aku meninggalkan hotel pukul tiga dini hari. Jia tertidur pulas dalam pelukanku. Sedangkan aku tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. Semua adalah salahnya. Sensasi yang Jia berikan padaku…

“Yah!!” Kwangmin dan Youngmin berteriak bersamaan, sehingga membatalkan lamunanku tentang Jia.

“Hei, hei.” Aku memukul kepala mereka berdua bergantian. “Jangan berteriak di waktu bersamaan!”

Kwangmin dan Youngmin mengusap-usap kepala mereka sambil mengeluh kesakitan, kemudian kembali fokus pada ponsel mereka.

“Aku sudah mendapatkan beberapa informasi tentang wanita itu, Hyung,” kata Hyunseong. Dia memberikan laptopnya padaku.

Kubaca dengan seksama setiap detail informasi yang disusun rapi oleh Hyunseong. Tidak ada hal yang janggal berdasarkan informasi itu. Hyunseong sepertinya juga belum menemukan hubungan Jia dan kelompok Hansoo. Mereka belum mengetahui tentang hal itu. Aku memilih menutup mulut.

“Shin Jia, 25 tahun. Seorang guru TK, guru les, dan anggota di salah satu kursus memasak. Tinggal bersama seorang wanita bernama Jung Nayeon sejak empat tahun yang lalu,” jelas Hyunseong pada yang lain.

“Sepertinya dia bukan orang yang berbahaya,” celetuk Youngmin.

“Menurut orang lain kita juga seperti itu Hyung.” Kwangmin mengingatkan.

“Ah, kau benar.”

“Kehidupannya dulu? Dan bagaimana dengan kedua orangtuanya?” tanya Jeongmin yang disusul oleh teriakan kemenangan karena berhasil mengalahkan Minwoo dalam game.

“Tidak ada yang aneh. Kedua orangtuanya sudah meninggal, dan mereka hanya seorang pemilik kedai makan.”

“Kita akan segera mengetahui kebenarannya. Baiklah, waktunya pembagian peran.”

Semuanya menghentikan kesibukkan mereka dan beralih mendengarkanku. Mereka mungkin suka bermain-main dan tidak serius. Tetapi, menyangkut pekerjaan kami, mereka bisa lebih serius daripada seorang dokter di dalam ruang operasi.

“Youngmin, Jung Nayeon milikmu.”

“Aku menerimanya dengan senang hati Hyung.”

“Kalian berdua.” Aku menunjuk Kwangmin dan Minwoo. “Bersiap-siaplah masuk Universitas.”

“Apa? Kenapa? Aku tidak mau melakukannya!”

“Kau kan tahu kami tidak suka belajar Hyung. Aku juga tidak mau melakukannya!” Minwoo mendukung Kwangmin.

“Atau kalian lebih suka kembali memakai seragam sekolah?”

Mereka berdua menggeleng cepat. Youngmin tertawa puas melihatnya.

“Ah ya, kau juga Youngmin.”

Tawanya seketika berhenti. Matanya membulat lebar melayangkan tatapan tidak percaya padaku. “Aku? Hyung, kau pasti sedang bercanda.”

“Sama sekali tidak.”

Aku gagal memaksa mereka kuliah tahun lalu. Ya, aku memberikan pendidikan untuk mereka. Meski dulu hampir setiap bulan aku datang ke sekolah karena berbagai keributan yang mereka buat di sekolah. Aku ingin mereka memiliki kehidupan yang normal. Karena sebenarnya, tanpa sepengetahuan mereka, aku sudah berpikir untuk mengakhiri pekerjaan kami sebagai pembunuh bayaran.

“Karena aku berencana menjadikan wanita ini sebagai guru les kalian. Tentu saja kalian harus memiliki latar belakang pendidikan yang jelas agar dia tidak curiga.”

“Tapi tidak perlu sampai kami benar-benar harus masuk Universitas, Hyung! Kau pasti sengaja memanfaatkan hal itu untuk memaksa kami.”

“Pintar sekali.”

“Lakukan saja apa yang Donghyun hyung perintahkan.”

“Dengarkan apa kata Hyunseong.”

Mereka bertiga menekuk wajah. Mereka tahu kali ini tidak bisa lolos lagi.

“Hyunseong, kurasa kau pantas bekerja di TK. Dan Jeongmin, kita akan menyewa sebuah keluarga agar kau bisa berpura-pura menjadi kakak dari salah satu murid di sana.”

“Dan… kau akan masuk ke kursus memasak Hyung?” tanya Jeongmin ragu.

“Aku lebih suka berurusan dengan wanita dibandingkan anak-anak.”

Usai membagi peran yang harus kami mainkan, kami pergi ke mall. Selain mencari makan malam, kami juga perlu merubah penampilan kami yang sesuai dengan peran kami masing-masing. Youngmin paling senang melakukan semua ini. Berakting. Menurutnya, sangat menyenangkan berperan menjadi orang lain dan masuk di kehidupan seseorang. Mungkin aku harus mengirimnya sekolah akting.

Tujuan pertama kami adalah salon. Pegawai salon memberi saran padaku untuk mewarnai rambutku dengan warna coklat, tetapi aku menolaknya. Aku hanya sedikit merapikan bagian belakang rambutku. Youngmin, Kwangmin dan Minwoo protes karena aku memaksa mereka merubah warna rambut mereka menjadi hitam. Aku hanya berusaha membuat mereka bertiga terlihat sebagai anak yang ‘normal’ dan ‘baik’. Dan karena harus berperan sebagai guru, Hyunseong pun merubah rambut blonde miliknya menjadi hitam. Sedangkan Jeongmin hanya merubah model rambutnya dan membiarkannya tetap berwarna silver gelap.

“Wooow… aku tidak menyangka warna rambut bisa merubah penampilan kalian sebesar ini. Bukankah mereka cute?”

“Ya, mereka seperti anak anjing yang baru lahir. Sangat menggemaskan.” Jeongmin mengusap kepala Minwoo.

“Kalian bertiga, tidak bisakah kalian tersenyum? Berhentilah mengeluh. Kekanakkan sekali.”

“Aku bukan anak-anak Hyung!” protes Minwoo yang membuat Hyunseong dan Jeongmin terbahak.

“Oke, aku mengerti. Youngmin, di mana butik dari desainer yang pernah kau kencani beberapa bulan yang lalu itu?”

Hal yang menguntungkan dari kebiasaan Youngmin berganti-ganti wanita adalah, dia jadi memiliki koneksi dalam berbagai hal yang juga bisa kami manfaatkan.

“Donghyun Hyung, aku Kwangmin.”

“Aaaaah… maaf. Kalian berdua sangat mirip.” Aku salah mengenali Kwangmin sebagai Youngmin akibat efek model dan warna rambut yang sama. Hyunseong dan Jeongmin semakin terbahak menyaksikan dua anak kembar itu yang melangkah kesal meninggalkan salon.

Kami selanjutnya menuju ke butik yang Youngmin maksud. Belum sampai di sana, Kwangmin dan Minwoo berbelok ke tempat yang menjual aneka macam ice cream. Aku menolak mampir ketika melihat antreannya yang panjang. Tetapi mereka berlima sepakat ikut mengantre. Aku terpaksa menurut dan masuk ke dalam barisan.

Antrean dibagi dalam dua barisan. Aku dan Jeongmin berada di barisan sebelah kiri. Saat ini aku bagaikan seorang babysitter yang mengasuh lima orang anak.

Kami mendapat giliran memesan setelah menunggu lebih dari lima belas menit. Youngmin lebih dulu sampai ke depan. Pegawai wanita yang berdiri di balik meja tidak berkedip memandangnya.

“Cepatlah, kau bukan sedang memilih wanita untuk kau nikahi,” keluh Minwoo.

“Hei orang yang tidak kukenal, bersabarlah mengantre.”

Dibandingkan dengan Kwangmin, Youngmin lebih sering bertengkar dengan Minwoo. Bahkan sampai saling pukul pun pernah. Entahlah, selalu saja ada hal yang mereka ributkan.

Wanita di depanku sudah mendapat pesanannya. Saat akan berjalan keluar dari antrean, dia tersandung sehingga ice cream yang dibawanya menumpahi pakaianku. Ternyata Youngmin tidak sengaja menginjak tali sepatunya yang terlepas. Wanita itu melayangkan pandangan penuh kemarahan pada Youngmin.

“Minta maaf padanya.” Youngmin menunjukku menggunakan dagunya. Oke, Youngmin baru saja memicu keributan lain.

“Tunggu dulu, aku—“

“Yah, bukankah seharusnya kau yang meminta maaf padaku lebih dulu? Kau yang membuatku terjatuh.”

“Ahjumma, kau sendiri yang berbuat kesalahan, jangan melemparnya pada orang lain.”

“Sudahlah Youngmin. Kita sedang berada di tempat umum,” kata Hyunseong.

“Lupakan. Aku tidak mau membuang waktu berdebat dengan bocah sepertimu! Dan Tuan, aku minta maaf.” Wanita itu pergi setelah meminta maaf padaku. Padahal aku berniat mengganti ice cream-nya.

“Aku harus mendisiplinkan sikap burukmu itu. Bersikap baiklah pada orang yang lebih tua.”

“Maaf Hyung.” Aku tahu Youngmin tidak sungguh-sungguh dengan permintaan maafnya.

Kami kembali mengurusi pesanan kami karena pembeli lain mulai tidak sabar menunggu. Ternyata, bagaimanapun Youngmin, Minwoo, dan Kwangmin tetaplah anak-anak. Tugasku tampaknya masih banyak.

***

 

*Jia POV*

 

“Ikutlah denganku ke Paris.”

“Agar tunanganmu mengetahui hubungan kita? Tidak. Terima kasih.”

“Karena akhir-akhir ini kita jarang bersama. Ayolah Jia.” Junseo memelukku dari belakang.

Kuletakkan piring terakhir di atas meja makan, kemudian berbalik memandangnya. “Lain kali, oke?” Aku melepaskan diri dari pelukannya.

Junseo menyerah. Dia akhirnya duduk dan membiarkanku menyelesaikan pekerjaanku. Kutuangkan air putih ke dalam gelasnya, kemudian ikut duduk.

“Bahkan tunanganku tidak bisa memasak sepertimu. Karena itulah aku lebih menyukaimu.”

“Aku tahu. Semoga rasanya tidak aneh karena aku baru mempelajarinya seminggu yang lalu.”

Aku memasak baked pasta dengan saus Bolognese dan keju. Junseo kurang menyukai masakan Korea. Katanya, tidak cocok untuk lidahnya. Sejak lahir dia memang tinggal di New York. Dia baru tinggal di Seoul selama dua tahun, karena harus mengurus bisnis hotel yang baru dia mulai.

“Kapan kau berangkat?”

“Besok. Dan saat ini aku harus segera pulang karena orangtuaku ada di rumah. Sangat menyebalkan.”

“Berapa lama kau di Paris?”

“Mungkin sepuluh hari. Ada beberapa teman bisnis ayahku yang tinggal di sana. Belum lagi ibu dan tunanganku itu, mereka pasti memaksaku mengelilingi seluruh Paris untuk berbelanja. Ah ya, apa ada sesuatu yang kau inginkan?”

“Aku tidak meminta apa-apa. Tapi aku tidak menolak kalau kau membelikanku sesuatu.”

“Ya, aku tahu.” Junseo menangkup pipiku dengan kedua tangannya, lalu mencium bibirku. “Kuharap tunanganku bias menyenangkan sepertimu.”

Ponsel Junseo berdering. Dia mengeja tanpa suara, memberitahuku bahwa ibunya yang menelepon. Aku tersenyum saja melihat ekspresi malas di wajahnya namun tetap berusaha terdengar senang ketika menyapa ibunya.

Sebentar lagi pasti dia meminta maaf karena harus pulang. Ini bukan pertama kalinya. Aku mengambil kotak makan dari rak, kemudian memasukkan sisa baked pasta yang belum tersentuh. Junseo memang sering memintaku memasak lebih, agar dia bisa menikmatinya lagi di rumah. Seandainya kebetulan tunangan atau seseorang di rumahnya ada yang bertanya, dia hanya menjawab bahwa dia membelinya dari sebuah kedai makan. Entah apa yang terjadi jika mereka mengetahui kebenarannya.

“Jia, maaf aku—“ ucapannya terhenti ketika melihatku merapikan meja.

“Aku sudah membungkuskannya untukmu. Cepat pulang, kau kan tahu ibumu tidak suka menunggu.”

Junseo mendekat, lalu memelukku. “Aku benar-benar tidak suka harus meninggalkanmu. Terima kasih.”

“Hubungi aku setelah kau sampai di Paris.”

Dia meninggalkan kecupan di keningku sebelum pergi.

Kulanjutkan pekerjaanku sebelumnya. Aku tidak menyisakan masakanku untuk Nayeon karena tadi dia mengatakan akan membeli makan malam di luar. Aku tidak menawarkan diri menemaninya. Aku tahu dia lebih suka pergi seorang diri ketika perasaannya sedang kacau.

Aku merebahkan diri ke sofa usai mencuci piring dan gelas yang kotor. Berniat menghubungi Eunyoung, aku segera membatalkannya teringat sekarang ini mungkin dia sedang berada di dalam pesawat. Maka kupilih nomor Nayeon.

“Di mana kau?”

“Dalam perjalanan pulang. Kau sendiri?”

“Hmmm… sebentar lagi aku juga pulang. Kesalmu sudah hilang? Aku bosan melihat wajah murungmu itu.”

“Malah semakin bertambah! Aaaaah… aku kesal, kesal, kesal sekali!! Harusnya tadi aku melayangkan tinju ke wajahnya!”

“Siapa yang kau bicarakan?”

“Akan kuceritakan di rumah. Awas kalau kau tidak pulang!”

Klik. Nayeon mengakhiri obrolan kami.

“Ada apa lagi dengannya?”

Aku beranjak ke kamar mandi untuk mengosongkan kandung kemihku. Saat aku kembali, ada sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Tidak ada nama si pengirim pesan. Tetapi dari isi pesannya, aku bisa menebak siapa orang itu.

Merindukanku?

This entry was posted by boyfriendindo.

9 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Obsession – Chapter 02

  1. Author-nim oke penantian yang panjang dari obsession part 1 ke 2. Cuma WOW yang bisa aku bilang, gak bisa ngebayangin dongppa kalu bener kaya gitu. Atau muka sepolos minwoo youngkwang ngebunuh org. Muka2 hyunseong jadi guru TK maygaatt segera update di obsession berikut dan berikutnyaaaaa…
    Tolong youngmin jangan dibuat se playboy itu, membayangkanya saja hatiku sakit hahahaha

  2. Kerennn,aku suka sm image’a youngmin ><,kesan bad boy'a dapet bgt,walaupun terlalu bad boy,tp aku suka hahaha
    Lanjut dong thor,aku udah nungguin sebulan tp part 3 nya belom muncul2 jg -_-

  3. Walaupun nunggunya lama tp terbayar dengan jalan ceritanya yg keren….. donghyun kau tetep leader yg baik saat menjadi idol ataupun pembunuh…😁😁😁..young aku cemburu….

  4. Dae~bak
    baru nemu ff yang sekece ini><
    suka banget sama karakter Donghyun disini, bad boy dan good boy dalam satu waktu
    good job author, keep writing! Ditunggu part selanjutnya<3

  5. suka banget sama karakter bang leader disini >< wuhh~kereeen. jadi penasaran, next chap jangan lama2 ya thor.. gak sabar bang seong bakal jadi guru TK ntar =D wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: