[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 04

Picture1

Title
: I Love You – Chapter 4
Author : ariesthha_1602
Genre : Friendship & Romance
Rating : PG
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin  ~ Jo Kwangmin

  ~ Yua

Support Casts
: Semua member Boyfriend

Maaf ya, kalau chapter 4nya terlalu lama. Aku terlalu sibuk dengan ujian masuk kuliah. Jadi ya, maaf semuanya. Awalnya aku sempat berpikir, tak ingin melanjutkan cerita ini. Tapi saat kubuka chapter 123 dan begitu banyak yang menunggu cerita selanjutnya. Jadi aku berpikir tak ingin mengecewakan kalian semua dan bertekad ingin menyelesaikannya sampai akhir. Silahkan tinggalkan comment, atau memberikan masukan untuk alur cerita di chapter selanjutnya juga boleh. Aku akan sangat menghargainya, oh dan mungkin ini akan jadi cerita yang sangat panjang sebagai permintaan maafku. Jadi sekali lagi aku minta maaf dan jangan bosan menunggu ya.. Pyong..(^___^)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebelumnya di Chapter 3

“Yua…!!!”.

Yua yang merasa dipanggil, menolehkan kepalanya ke belakang dengan enggan. Yua menghela nafas ringan sebelum menutup matanya erat setelah melihat sosok yang memanggilnya. “Pagi….”, sapa Yua pelan sambil menundukkan kepalanya tanpa tenaga. “YA! Kenapa wajahmu seperti itu?. Tak suka melihatku??”, tanya Kwangmin dengan nada menggoda saat merangkul pundak Yua.

“Hanya sedang tak enak badan”.

Kwangmin spontan meletakkan sebelah tangannya ke dahi Yua. “Tak panas kok”, gumamnya dengan terus membandingkan dahi Yua dengan suhu tubuhnya sendiri. Yua mulai merasa risih saat Kwangmin mulai bertindak seakan-akan peduli tentangnya. “Haishhh,, siapa bilang aku demam”, sahut Yua geram sambil menghempaskan tangan Kwangmin turun dari dahinya. Yua tak suka Kwangmin bersikap seperti ini, karena Yua takut dia semakin tak bisa melepaskan Kwangmin dari hatinya.

“Yua…”.

Yua kembali melihat Kwangmin dengan sedikit keanehan, karena tiba-tiba saja terjadi perubahan dari suaranya. “Apa kemarin….. kau melihat semuanya….??”.

Entah kenapa tiba-tiba saja awan hitam pekat mulai masuk ke dalam hati dan pikiran Yua. Walaupun Yua berusaha menepisnya, tapi awan-awan itu seperti kembali memutarkan film pendek di kepalanya. Apa Yua harus bilang iya? Jadi dia bisa mendapatkan kepastian dengan perasaan Kwangmin terhadapnya, tapi masalahya, Apa setelah itu semuanya akan sama seperti biasanya??. Atau…. Dia harus berbohong dan menganggapnya tak pernah ada??. dengan konsekuensi akan terus merasakan sakit… Apakah Yua masih memiliki harapan dihatinya??. Karena Yua berdoa semoga secercah harapan akan muncul segera.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Pulanglah…”.

Yua spontan menatap punggung Youngmin dengan lekat. “Kalau aku pulang, kau tak akan bisa latihan”. Rasa sakit dikeningnya yang sempat terkena bola sudah tak dia hiraukan. “Sebenarnya apa sih yan…”.

“Kalau kau melakukannya hanya karena kasihan. Aku tak membutuhkannya…!!!”, Youngmin sedikit menaikkan nada bicaranya tanpa sekalipun melihat Yua yang bingung dengan maksud ucapannya. “Apa itu yang selama ini kau pikirkan tentangku??”, Yua menggenggam erat pegangan di raketnya hingga kuku-kuku jarinya memutih. Dia hanya tak habis pikir, setelah 2 bulan lebih banyak menghabiskan waktu dengannya ditempat ini. Sekarang.. Youngmin bilang dia  bersikap seperti itu hanya karena kasihan, dan itu gara-gara untuk hari ini Yua tak latihan dengan serius. “Apa itu yang kau pikirkan tentangku??. YA! Jo Youngmin,, jawab aku,,..!!!”, teriakku dengan keras sambil melempar bola tenis ke punggungnya.

“Ck..ck…ck… sebenarnya kalian ini sedang latihan tenis atau drama sih??”.

Yua dan Youngmin langsung mengalihkan pandangan kearah suara dari pintu masuk lapangan. Dan disanalah seseorang yang berperawakan tinggi dan tak terlalu tua melihat mereka berdua dengan sedikit pandangan mengejek. “Jo Youngmin,, ke ruanganku sekarang..!!”, ucapnya ketus dan kembali meninggalkan mereka berdua.

Yua melirik sekilas ke arah Youngmin dan sosok itu dengan bingung beberapa kali. “Dia siapa sih??. Aku belum pernah melihatnya”, Yua terus memandang ke arah pintu masuk dengan lekat. Padahal sosok yang dia pandangi sudah sedari tadi menghilang. “Pulanglah…”.

“Hah…??”. Ucapan Youngmin yang pelan tapi terdengar begitu jelas ditelinga Yua, membuatnya sedikit tercengang. Bagaimana bisa Youngmin berpikir kalau dirinya akan pergi begitu saja..!!. Kalau ini memang urusan klub, tentu dirinya juga harus ikut kan. Setidaknya itu yang ada dipikiran Yua. “Ini tentang anggota lain yang keluar kan??”.

“Kalau ini tentang itu. Aku akan ikut denganmu…”, sahut Yua saat mendekat kesisinya dan menggenggam erat tangan Youngmin yang sedang sibuk memungut bola dari lapangan.

Youngmin melihat Yua sekilas sebelum melepas genggaman tangan Yua dari pergelangannya. “Disana kau hanya akan jadi beban, apalagi dengan sikapmu yang seperti ini. Lebih baik kau pulang. Ini bukan pembicaraan yang serius…”, ucap Youngmin sambil memunggungi Yua dan berlalu meninggalkannya sendirian ditengah lapangan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Walaupun Yua sudah berusaha melupakan ucapan Youngmin beberapa saat yang lalu, tapi entah kenapa otak dan hatinya tak bisa diajak kompromi. “Haishhhh,,, menyebalkan…”, geram Yua sambil mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal, sesaat setelah keluar gerbang sekolah. “Kenapa sih dia selalu saja berpura-pura kuat. Memangnya aku tak pantas untuk jadi temannya….”.

Tiba-tiba HP yang ada disaku jaketnya bergetar hebat. “Halo…!!”, sahutnya ketus tanpa repot-repot memeriksa ID pemanggilnya terlebih dahulu.

“Hei,, apa begitu caramu menyapa sahabatmu sendiri??”.

“Kwangmin…??!!”, tanya Yua sambil mengedipkan kelopak matanya tak percaya. “YA!,, apa kau tak mengecek dulu ID dilayar teleponmu sebelum kau angkat..??”. Karena masih sedikit tak percaya, Yua mencoba memeriksa sendiri ID yang muncul dilayar HPnya. Disitu tertera “My Lovely Bestie”.. Kwangmin..??!!. Tumben dia menelponku..!!. Apa dia tak kencan dengan pacarnya??. Atau….

“Yua,, Yua,,, YA! Shin Yua… Kau masih disana..??”. Suara keras Kwangmin dari HPnya membawa Yua keluar dari begitu banyak pertanyaan yang ada diotaknya. “Maaf Kwangmin-ah,, tadi aku sedang membaca pesan masuk. Kau tadi ngomong apa??”.

Walaupun Kwangmin tak ada dihadapannya, tapi Yua sudah bisa membayangkan wajah jengkelnya. Pasti sekarang Kwangmin lagi memanyunkan mulutnya dengan imut dan bergumam hal-hal tak jelas. “Sudahlah,, kau dimana??. Aihh maksudku,, kau ke rumahku. Sekarang…!!. Aku tak menerima penolakan”, cerocos Kwangmin dan mematikan teleponnya tanpa memberikan Yua kesempatan untuk berbicara.

“Haish,,, anak ini…!!!”, desis Yua dan menatap layar HPnya dengan kesal.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Masuk-masuk…”, panggil Kwangmin yang masih terduduk santai diatas kasurnya sesaat setelah Yua mengetuk pintu kamar. “Hei,, apa kau bawa pesananku..??”.

Yua menghela nafas panjang sambil mengangkat tinggi-tinggi plastik yang sedari tadi dibawanya. Kwangmin melompat dari kasur. “Yos..!!. Kau memang yang terbaik”, dan menutup pintu dibelakang Yua. Saat Kwangmin menutup pintu, tanpa terasa jarak didekat mereka menutup hingga Yua bisa mencium bau parfum dari badan Kwangmin. Aisshh,,kondisi seperti inilah yang paling dibenci Yua, karena bisa membuat wajahnya merah padam dan hatinya berdetak tak karuan. Yua mendorong badan Kwangmin menjauh. “Aishhh, kau itu bisa tidak sih jangan terlalu dekat. Minggir..!!”.

“YA..!!”, Kwangmin sedikit terhenyak kaget saat Yua secara tiba-tiba mendorongnya. “Karena Jihoo hari ini ada urusan, jadi kau harus menemaniku. Kau tak ada latihan kan??”.

“Tak ada. Aku sudah disuruh pulang oleh Youngmin”.

Kwangmin berdeham dengan pelan, sembari membuka isi kantong plastik yang ada dilantai kamarnya.  Yua melihatnya dengan seksama saat berdiri disamping jendela. Entah kenapa, saat ini.. Meskipun Kwangmin berada didekatnya, tapi Yua merasa ada jarak yang sangat besar diantara mereka. Dan dia pun tak tau sejak kapan perasaan itu mulai menghantui.

“Apa ini waktu yang tepat untuk membicarakannya??”, batin Yua saat melihat sosok pria idamannya sedang menikmati cemilan seperti anak kecil yang baru diberikan hadiah.

Yua  menghembuskan nafas dengan berat beberapa kali dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri, kalau bukan sekarang, mungkin rasa sakitnya akan lebih parah. “Kwangmin..”, gumamnya pelan. “Hari itu…. ke.. kenapa kau menciumku??”, Yua menundukkan wajahnya dengan lemas, sembari berdoa bahwa jawaban yang diberikan oleh Kwangmin tak terlalu menyakitkan. Karena Yua sadar, tau dan masih ingat jelas akan janji yang mereka buat dimasa lalu.

Tiba-tiba saja Kwangmin menengadahkan wajah Yua, dan memberikan tatapan yang bisa terbilang intens ke arahnya. Sebenarnya Yua sedikit bingung. Sejak kapan Kwangmin berdiri didepannya, seingatnya,  Kwangmin tadi masih sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi sekarang,,.. Kwangmin malah berdiri dihadapannya dan… pandangan itu… Kalau boleh jujur,, Yua merasa sedikit bingung dengan pikirannya Kwangmin. Kalau memang ciuman itu berarti sesuatu, kenapa Kwangmin harus membuatnya bingung dan merasakan sakit sendirian. Ini tak adil..!!.

“Apa kau selalu memikirkannya…??”, gumam Kwangmin dan mendekatkan wajah mereka. Untuk sesaat Yua seperti terbawa suasana, karena tanpa sadar, matanya sudah menutup dengan rapat. Seperti menantikan sesuatu yang sudah dinanti-nantikannya. Yua hanya tak ingin menjadi seseorang yang munafik. Cewek mana yang tak menantikan hal ini terjadi, apalagi itu dengan pria idamannya. Tapi,,, belum sempat pikirannya selesai bersahut-sahutan untuk memberikan jawaban atas tindakannya. Satu kalimat dari mulut Kwangmin membuatnya terhentak..

“Kalau kau begitu memikirkannya. Ayo kita lakukan lagi..”.

“Apa..??!!”, batin Yua berteriak keras yang sontak membuatnya membuka matanya dengan lebar. Ini bukan seperti yang Yua inginkan dan bukan arti sesungguhnya dari sebuah ciuman. Yua mendorong badan Kwangmin menjauh sebelum bibir mereka bertemu. “Ma.. maaf Kwangmin.. Hanya saja, aku tak mengerti dirimu dengan baik”, sahut Yua sebelum berlalu meninggalkan Kwangmin yang kebingungan ditempatnya.

Saat ini hatinya benar-benar rusak. “Apa itu yang selama ini Kwangmin pikirkan..??.Apa aku hanya mainan yang bisa dipakai dan dibuang begitu saja kalau sudah bosan..??. Apa aku benar-benar tak ada artinya..??. Apa…”.

“Awwww….”, sahut seseorang yang tak sengaja tertabrak oleh Yua sesaat setelah dia membuka pintu gerbang rumah Kwangmin. “Maaf…. permisi…”, Yua menundukkan kepalanya semakin dalam sebagai permintaan maaf, sebelum mulai berjalan lagi meninggalkan semuanya dibelakang. Yua hanya tak ingin seseorang melihatnya seperti ini.

Tiba-tiba seseorang menahan pergelangan tangannya dengan erat. “Yua..?!!”. Suara itu,,.. sama seperti suara seseorang yang sudah mematahkan hatinya menjadi ribuan puzzle. Cairan bening yang sudah berusaha ditahannya beberapa saat yang lalu tumpah begitu saja, sesaat setelah suara itu memanggilnya dengan lembut. Yua hanya merindukan suasana sebelum ini, suasana dimana dia bisa menikmati pertemanannya dengan Kwangmin tanpa ada rasa cinta didalamnya.

“Kau menangis lagi..??”. Yua bisa mendengar suara desahan nafas dibelakangnya. “Ayo kutemani kau pulang, itupun kalau kau mau…”.

Yua butuh beberapa saat untuk berfikir, dia hanya tak ingin seseorang tau kalau dia selemah ini. Tapi rasanya aneh kalau dia berjalan pulang sendirian, apalagi saat dia menangis seperti ini. Belum sempat Yua memberikan jawaban, Youngmin sudah menepuk-nepuk puncak kepalanya dengan lembut. “Yasudah kalau tak mau. Hati-hati dijalan..”.

Yua menghapuskan sedikit air matanya, dan membuang sikap egoisnya. “Kau mau kemana??. Rumahku diarah yang berlawanan..”, sahutnya saat menahan dua jemari tangan Youngmin. Yua sedang tak ingin sendirian, dia butuh teman dan itu Youngmin.

Walaupun Youngmin tak berbicara sedikitpun dengan Yua selama diperjalanan. Tapi, entah kenapa genggaman lembut dan kuat dijemari tangannya  dapat menenangkan hatinya lebih dari yang Yua harapkan. “Terima kasih…”, desis Yua yang sesekali mencuri pandang pada sosok yang sedang berjalan disampingnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Masuklah… hari sudah mulai gelap”. Youngmin melepaskan genggamannya tepat setelah mereka sampai didepan rumah dan itu spontan membuat Yua menghela nafas dengan berat. Rasanya seperti sesuatu yang berharga diambil dari sisinya.

Youngmin melihat Yua dengan pandangan bingung, saat Yua kembali menahan langkahnya untuk pulang. Yua yang dilihat seperti itu hanya bisa tertunduk malu dengan sesekali mengelus belakang kepalanya. “It… itu.. Bisa temani aku dirumah, setidaknya sampai mamaku pulang??”.

“Oke,, kau tunggu disini ya. Aku akan bawakan teh dan makanan ringan. Anggap saja rumah sendiri”.

Youngmin melirik ruang keluarga yang ada dirumah Yua dengan seksama. Walaupun Yua adalah sahabat Kwangmin sejak SD, tapi jujur, ini baru pertama kalinya dia masuk ke dalamnya. Biasanya dia hanya akan menunggu diluar kalau dirinya dan Kwangmin menjemput Yua. Dia pikir, rumah Yua akan terlihat berantakan karena Yua adalah cewek yang sedikit tomboy, tapi ternyata tebakannya salah. Yua bukan cewek seperti yang dia duga selama ini.

“Ini…”, sahut Yua saat menaruh nampan dimeja dan duduk disampingnya.

Untuk sesaat suasana terasa sangat hening, karena tak ada yang memulai pembicaraan. Sebelum akhirnya Youngmin berdeham dengan sedikit keras. “Apa rumahmu selalu sepi seperti ini??”, tanyanya saat mengambil chiki dari nampan yang dibawa oleh Yua.

“Hmmm…”, Yua mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemas. “Yah,, biasanya sih tak pernah sesepi ini kalau mama lagi keluar kota, karena Kwangmin sering kesini. Tapi… akhir-akhir ini dia sudah mulai jarang. Kau tau lah kenapa….”, jawabnya dan merebut chiki dari tangan Youngmin.

Entah sudah berapa kali Yua menghela nafas berat untuk hari ini. Saat kejadian dikamar Kwangmin mulai berputar dikepalanya. “Kau tau,, meskipun dia berada didekatku. Aku tetap tak bisa mengerti perasaannya sama sekali”. Dulu,, setiap Kwangmin ada disampingnya saja sudah cukup untuk Yua. Tapi sekarang.. semuanya berubah.

“Waktu aku dan pacarku ikut ujian masuk SMA dan hanya aku yang gagal, semuanya juga berubah sangat cepat. Walaupun kupikir hubungan jarak jauh dapat dilakukan, tapi hati seseorang adalah hal yang paling sulit dimengerti…”.

“Hah..??. Kau pernah punya pacar…?!!”, spontan Yua menunjukkan ekspresi tak percaya.

“YA! maksudmu apa??”, sahut Youngmin dengan sedikit menunjukkan tangannya yang sudah terkepal ke depan Yua. “Aku tu hanya ingin bilang. Bahwa tak peduli jarak dengan pasangan kita, hati tetap hal yang paling penting. Kau itu, makanya didengerin maksudnya dong..!!”.

Banyak hal yang sekarang ini dipikirkan Yua. Dan ini bukan tentang masalahnya dengan Kwangmin, melainkan cowok yang sekarang ada disampingnya. Selama ini Yua pikir, Youngmin bagaikan monster yang tak akan pernah memiliki sedikit sifat baik dihatinya. Tapi semuanya tak seperti yang dipikirkannya, Youngmin memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan tampilan luarnya yang terlihat garang, dingin, dan keras kepala. Orang lain hanya perlu dekat untuk mengetahui seluruh hatinya, dan Yua berharap salah satu orang yang beruntung untuk dekat dengan Youngmin adalah dirinya. Entah kenapa, rasanya….. Youngmin sudah seperti magnet yang membuat Yua tertarik untuk mengenalnya lebih dalam.

“Mungkin tak seharusnya aku bicara hal-hal seperti ini denganmu”, desis Youngmin setelah tersadar bahwa dia sudah membicarakan hal-hal pribadinya ke orang lain.  Padahal Kwangmin pun tak pernah tau tentang hal itu. “Ah,, aku baru ingat…”, Youngmin sedikit tersentak akan sesuatu. “Penasehat bilang kalau anggota klub yang lain tak kembali sebelum pertandingan antar SMA, klub kita akan dibubarkan. Padahal pertandingannya tinggal 3 minggu lagi”.

Yua menarik-narik lengan Youngmin dengan gemas. “Kenapa kau tak bilang daritadi sih??”.

“Tadi waktunya tak tepat. Haishhh,,, jauhkan tanganmu dariku. YA..!!”.

“Kita harus bagaimana…??.Apa yang kita harus lakukan..??”, Yua mengacak-ngacak rambutnya dan mengulang ucapannya beberapa kali. Dia hanya terlalu bingung, takut dan kecewa kalau harus kehilangan klub kesayangannya. Tiba-tiba Youngmin menghentikan tangan Yua sebelum rambutnya benar-benar kusut. “Tenang.. aku akan melakukan yang terbaik untukmu”.

“Hah…??”, spontan Yua mendelikkan bola matanya tak percaya dengan apa yang sudah didengarnya. “Untuk…ku…?!!”, ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri dan menatap lurus kearah bola mata cowok yang sekarang ada dihadapannya.

Saat itulah Yua baru tersadar, bahwa untuk pertama kalinya ada cowok selain Kwangmin yang masuk ke dalam rumahnya dan untuk pertama kalinya juga, ada cowok selain Kwangmin ingin melakukan yang terbaik hanya untuk dirinya. Apa maksu…

“Yua,, soal yang tad…. Hyung….??”.

Kwangmin mendelikkan matanya tak percaya saat berdiri didepan pintu ruang keluarga dan melihat ada orang lain didekat Yua. “Sedang apa dia disini..?!!”, pikir Kwangmin sambil terus memandangi dua orang yang sekarang sedang melihatnya. Sebelumnya Kwangmin ingin meminta maaf atas hal yang sudah dilakukannya beberapa saat lalu ke Yua. Tapi hal yang dia dapat malah seperti ini, melihat kakak kembarnya berduaan dengan sahabatnya dirumah yang tak ada siapa-siapa. Entah kenapa emosi Kwangmin seperti memuncak, saat Youngmin hanya membalas tatapan penuh tanyanya dengan ekspresi dingin seperti tak ada apa-apa.

“Kwangmin,, ada ap….”.

Youngmin merapikan blazer, sebelum meletakkan ransel dipunggungnya. “Aku pulang dulu. Bye..”.

“Hei,, tunggu…!!”, Kwangmin menahan lengan Youngmin dengan tangan kirinya, sebelum dia sempat melewatinya. “Apa yang sudah kalian lakukan…??”. Kwangmin melirik tajam ke arah Youngmin seperti mencari jawaban didalam matanya.

Yua yang seperti berada ditengah medan pertempuran tak tau harus berbuat dan berkata apa. Dia hanya bingung, sebenarnya apa permasalahannya??. Toh dia tak melakukan apa-apa dengan Youngmin. Jadi apa yang diributkan Kwangmin..??, begitu pikir Yua.

Youngmin menarik salah satu sudut bibirnya dan melirik Kwangmin sekilas sebelum pandangannya kembali menatap lurus ke depan. “Terserah denganku. Memangnya apa urusanmu??”. Ucapan Youngmin membuat tangan Kwangmin yang ada disisi lain otomatis terkepal. Seperti ingin memukul seseorang.

“Dia bukan milikmu kan??”, lanjut Youngmin saat menghentakkan lengannya agar lepas dari genggaman Kwangmin dan berlalu keluar rumah. Meninggalkan Kwangmin dan Yua yang kebingungan dengan ucapannya.

Hanya saja ada dua keadaan yang berbeda saat itu…

Saat Kwangmin mendengarkan kalimat terakhir dari Youngmin, tangannya memang masih terkepal erat tapi dengan emosi yang berbeda. Awalnya dia marah karena melihat ada cowok lain yang masuk ke dalam rumah Yua selain dirinya, dan cowok itu adalah Youngmin. Tapi, saat Youngmin mengucapkan kalimat,  atau yang lebih tepat seperti pertanyaan untuknya. Kwangmin langsung tersadar, dan benci. Benci bahwa semuanya itu benar.. Ya,, benar kalau Yua bukan pacar atau apapun itu. Melainkan hanya sebatas sahabat…

Sedangkan Yua. Saat melihat Youngmin keluar pintu rumah, hatinya mulai berdegum dengan kencang. Bukan perasaan deg-degkan, bahagia dan bersemangat seperti yang biasa dia rasakan setiap Kwangmin ada didekatnya. Tapi lebih kepada perasaan tak nyaman dan takut. Ya.. Yua hanya terlalu takut hatinya akan kembali tersakiti dan terluka kalau ditinggal berdua dengan Kwangmin. Dan tak tau sejak kapan itu terjadi, Yua hanya tak sadar kalau dirinya selalu butuh dan mencari sosok Youngmin untuk menenangkan hatinya kembali seperti semula.

This entry was posted by boyfriendindo.

14 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 04

  1. seru ceritanya.. ini msh ada lanjutannya atau sudah siap min??? klo mash lanjut, aku sih min maunya tiba2 kwangmin itu kayak kena karma gitu ( terlalu kejam ya??? )

  2. Yua ma uoungmin aja min….hbsny kwang nyebelin sih bis cium bibir ga berasa ada apa2… buat yua kan sakitnya tuh disini💔….biar nyesel dia(jahat bgt aku nistain kwang pdhal kwangmin kan bias aku…)tp itu pelajaran buat kwang…pokokny keep writing ya thor…ditunggu kelanjutnnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: