[FANFICT/FREELANCE] Escape From My Brothers – Chapter 03

Title
: Escape From My Brothers – Chapter 02
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : T
Type : Chapter
Main Casts
: ~ Jo Hyunmin

  ~ Kumiko

Support Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Ryuu, Taro, Yoshi ( teman-teman Kumiko )

CHAPTER 3

 

Keinginan Hyunmin terpenuhi.

Bahkan dia tidak hanya berhasil melarikan diri dari kedua kakaknya, sekarang dia juga lari dari orang-orang yang tidak dia kenal. Mengagumkan. Jika bukan Kumiko, dia sudah memilih tidak ikut campur.

Sial. Kakinya tidak sanggup lagi dipaksa berlari, dan dia kesulitan memasukkan oksigen ke paru-parunya. Seluruh badannya basah oleh keringat. Berapa lama dia tidak berolah raga? Mungkin hampir tidak pernah. Dia tidak suka merasa lelah. Ajakan bermain basket dari Dongjoon pun sering ditolaknya.

Hyunmin menoleh ke belakang. Pria-pria bertubuh tinggi-tegap, berpakaian serba hitam itu belum menyerah mengejar Hyunmin dan Kumiko. Hyunmin mulai curiga jangan-jangan orang-orang itu alien. Ya, lelah membuat pikirannya tidak waras.

“Kau… kuat sekali. Apa kau… tidak… lelah?”

“Memangnya… kau pikir… aku robot? Aku terus berlari… karena kau terus menyeretku!”

Sejak tadi sebenarnya Hyunmin sudah berniat untuk bersembunyi dibandingkan berlari. Tetapi jarak kedua lelaki yang mengejarnya terlalu dekat. Dia tidak mau mengambil risiko. Sekarang, kesempatan itu datang. Kedua lelaki itu melambat. Pastinya mereka sama lelahnya dengan Hyunmin dan Kumiko. Banyaknya orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalan yang mereka lewati kali ini, memberi keuntungan tambahan bagi mereka berdua. Maka, ketika melihat sebuah photo box, tanpa berpikir dua kali dia menarik Kumiko masuk ke dalamnya.

Mereka duduk di dua kursi yang tersedia, mengistirahatkan diri sambil berharap pria-pria itu tidak melihat mereka masuk ke dalam. Mereka terengah-engah, tetapi sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Tenggorokannya kering. Hyunmin merasa sanggup menghabiskan sepuluh ember besar air mineral setelah keluar dari photo box itu.

Lima menit penuh telah berlalu dan tidak ada tanda-tanda dari pria-pria yang mengejar mereka. Untuk pertama kalinya sejak mereka berdua ada di dalam, Kumiko bicara.

“Mereka pergi? Sepertinya mereka berhenti mengejar kita.”

Hyunmin membuka sedikit tirai penutup photo box, lalu mengintip keadaan di luar. Dia melirik ke kanan, ke kiri, menatap lurus ke depan selama beberapa saat. Memastikan keadaan di luar benar-benar aman.

“Kita selamat.”

Keduanya mengembuskan napas lega. Kegilaan itu akhirnya berakhir. Selanjutnya, mereka sibuk memulihkan energi. Semua energi yang dia keluarkan membuat perutnya keroncongan.

“Aku lapar,” ujar Hyunmin.

“Kau tidak bertanya siapa orang-orang itu?” tanya Kumiko.

Terus terang saja Hyunmin sama sekali tidak memikirkannya. Karena Kumiko mengungkitnya, keinginan untuk bertanya pun muncul. Tetapi Hyunmin menahannya. Hanya air dingin dan tempat tidur yang menjadi prioritasnya saat ini.

“Lain kali aku akan bertanya. Ayo pulang.”

Mereka berjalan berdampingan menuju pemberhentian bus. Bus datang tepat saat mereka sampai, sehingga mereka tidak perlu menunggu. Mereka duduk di kursi paling depan, di sisi sebelah kiri. Tidak banyak penumpang di dalam bus itu, sehingga keheningan begitu terasa di antara mereka. Kumiko tampak serius memikirkan sesuatu, hingga Hyunmin merasa tidak ingin mengganggunya. Dia terus melihat keluar jendela. Seolah lupa Hyunmin duduk di sebelahnya.

Seorang penumpang turun di pemberhentian bus berikutnya. Hyunmin merasa hanya sendirian di dalam bus, karena penumpang yang lain tampak tertidur, sedangkan perempuan di sebelahnya masih sibuk dengan hal yang dia pikirkan. Hyunmin memutuskan untuk ikut memejamkan mata. Belum sempat tertidur, Kumiko mengajaknya bicara.

“Apa… kau pernah merasa ingin melarikan diri dari kehidupanmu saat ini?”

Dari semua jenis pertanyaan di dunia ini, mengapa pertanyaan itu yang dipilih Kumiko? Bagaimana bisa dia menanyakan hal yang tepat? Saking terkejutnya mendengar pertanyaan Kumiko, Hyunmin tidak berkutik sedikit pun. Berkedip saja rasanya susah.

“Hyunmin? Kau mendengarku?” Kumiko mengibaskan tangannya di depan wajah Hyunmin.

“Ah maaf. Apa yang kau tanyakan tadi?”

“Kau ini… makanan saja yang kau pikirkan. Aku bertanya, apakah kau pernah ingin melarikan diri dari kehidupanmu sekarang?”

Hyunmin berdeham. Dia tidak mungkin berkata jujur pada Kumiko mengenai semuanya, sekarang. Dia masih belum ingin kembali ke Korea dan melihat wajah kedua kakaknya.

“Hmmm… tidak juga. Jangan katakan kau berharap bisa menukar kehidupanmu dengan seorang putri? Hal itu tidak akan terjadi Kumi.”

“Hei… hei, apa aku terlihat pantas menjadi seorang putri? Lucu sekali. Lagi pula aku memilih menjadi gelandangan daripada menjadi seorang putri yang manja.”

“Oke, jadi, berapa kali kau memikirkan hal itu? Melarikan diri.”

“Lupakan saja. Sepertinya aku terlalu lelah hingga berpikir macam-macam. Gara-gara lapar otakku tidak bisa bekerja dengan baik.”

Kumiko masih terlihat terganggu dengan apa pun yang dia pikirkan sebelumnya. Dia kembali melempar pandangan ke luar jendela, seolah-olah ada yang sedang menatapnya di luar sana.

“Pinjamkan ponselmu,” kata Hyunmin.

“Ponselku? Untuk apa?”

“Karena saat ini aku tidak memiliki ponsel.”

“Ya, ya, kau tidak perlu mengingatkannya setiap saat.”

Hyunmin tertawa. Setelah ponsel Kumiko ada di tangannya, dia membuka browser untuk mendownload sebuah lagu. Lagu milik Jung Joon Young, yang selalu berhasil mengembalikan mood-nya setiap kali dia berada dalam situasi yang terasa menyebalkan. Berhasil menyimpan lagu itu di dalam ponsel, dia meminta headset pada Kumiko, kemudian memasangkan salah satunya ke telinga Kumiko dan satunya lagi ke telinganya.

“Kau tahu Jung Joon Young?”

Kumiko menggelengkan kepalanya. “Maaf, aku tidak banyak mendengarkan lagu-lagu Korea.”

“Tidak masalah, akan kuceritakan padamu isi lagunya. Ini lagu yang akhir-akhir ini kudengarkan setiap kali aku merasa kesal. Coba dengarkan.”

Hyunmin menyukai Take Off Mask milik Jung Joon Young karena lagu itu mengingatkannya agar tidak memakai topeng dan bersikap jujur pada apa yang dia rasakan. Setidaknya di depan dirinya sendiri. Selain itu dia juga menyukai suara Joon Young. Jauh lebih menyukainya dibandingkan suara kedua kakaknya ketika bernyanyi. Hyunmin menjelaskan sedikit tentang isi lagu itu pada Kumiko. Keduanya pun terhanyut dalam suara penyanyi rock itu.

Tanpa sadar, tiba waktunya mereka turun dari bus.

“Ayo kita suit! Kalau aku menang, kau harus menggendongku sampai ke rumah,” tantang Kumiko. Tampak percaya diri bisa menang dengan mudah dari Hyunmin.

“Oke. Bersiap-siaplah menggendongku.”

“Percaya diri yang bagus. Jan ken pon!”

Kumiko mengeluarkan gunting, sementara Hyunmin mengeluarkan batu. Hyunmin berseru senang karena berhasil menang, sementara Kumiko hanya terpaku dengan mulut menganga.

“Sial.” Kumiko menyesali idenya sendiri.

Sebenarnya Kumiko melempar ide itu karena dia sungguh merasa lelah, hingga malas untuk sekadar melangkahkan kakinya sampai ke rumah. Tetapi sekarang, dia malah akan merasa sepuluh kali lebih lelah. Membayangkan hal itu membuatnya kesal.

Tiba-tiba Hyunmin jongkok di depannya.

“Naiklah,” ucap Hyunmin singkat.

“Tapi… aku yang kalah.”

“Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran.”

“Kau yakin? Jangan menyesalinya.”

Perlahan Kumiko naik ke punggung Hyunmin. Tidak ada alasan baginya untuk menolak tawaran itu. Dia pun tanpa canggung melingkarkan kedua tangannya dan menyandarkan dagunya di pundak kanan Hyunmin. Tindakan yang berhasil membuat Hyunmin susah menelan ludah. Jika begini keadaannya, Hyunmin bersedia menggendong Kumiko berkeliling Jepang.

“Kau senang sekarang?”

Kumiko hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Kudengar olahraga di malam hari sedang menjadi tren,” canda Hyunmin.

Kumiko tertawa pelan. “Ya, kudengar hal itu membantumu tidur nyenyak.”

Sekarang Hyunmin tahu, mengapa di dalam drama sering sekali muncul adegan di mana si pria menggendong si wanita seperti yang dia lakukan sekarang. Alasannya sederhana, karena terasa menyenangkan. Merasakannya mendekapmu, merasakan embusan napasnya, serta mendengarnya tertawa tepat di damping telingamu.

Jalan menuju rumah mendadak terasa lebih panjang. Hyunmin sengaja berjalan perlahan. Hanya ada mereka berdua di sepanjang jalan yang mereka lewati. Malam ini dingin seperti malam-malam sebelumnya. Tetapi, berkat Kumiko, dia tidak lagi merasa kedinginan.

“Hyunmin…”

“Hm?”

“Maaf. Terima kasih.”

Kening Hyunmin berkerut. Dia tidak tahu ucapan maaf dan terima kasih itu ditujukan untuk apa. Yang jelas, perasaannya menghangat mendegar Kumiko mengatakannya. Dia menoleh ke kanan, dan mendapati Kumiko memejamkan mata. Maka dia mengurungkan niatnya untuk bicara.

Lagu Donghyun—leader Boyfriend—yang berjudul Listen rasanya pas menjadi soundtrack-nya malam ini. Sambil menikmati kesunyian di sekitarnya, Hyunmin mendendangkan lagu itu di dalam kepalanya.

***

 

“Kenapa ponsel Hyunmin tidak bisa dihubungi?” Mrs. Jo menumpahkan kekesalannya pada kedua putranya.

Youngmin dan Kwangmin saling melirik, bingung memilih jawaban apa yang tepat agar ibunya berhenti mengomeli mereka. Akan buruk jadinya, jika ibu mereka tahu bahwa Hyunmin berada di Jepang dan bukannya di Jeju.

“Maaf Eomma aku lupa memberitahumu, ponselnya sedang diperbaiki. Dia tidak sengaja menjatuhkannya ke air,” karang Kwangmin cepat.

“Ya, anak itu kan, kadang-kadang ceroboh. Dia baik-baik saja Eomma. Saat kami datang menemuinya di Jeju, Hyunmin meminta kami memberitahumu. Tapi kami tidak ingat. Maaf.” Youngmin melengkapi jawaban Kwangmin.

“Dia kan bisa meminjam ponsel Dongjoon untuk menelepon ke rumah.”

“Eomma, Hyunmin sungguh sedang bersenang-senang dan menikmati liburannya. Berhentilah khawatir,” ucap Youngmin gemas.

“Kalian tidak berbohong?”

“Tentu saja tidak!” ucap Youngmin dan Kwangmin bersamaan. Kekompakan mereka sungguh bermanfaat pada saat-saat seperti itu.

Ibu mereka akhirnya menyerah.

Tujuan Youngmin dan Kwangmin berada di rumah adalah untuk mencari tahu petunjuk yang bisa membawa mereka ke tempat Hyunmin bersembunyi. Serta apa yang dilakukannya sampai adiknya itu harus pergi ke Jepang. Mereka berdua menggeledah isi kamar Hyunmin. Tidak melewatkan setiap bagiannya. Termasuk kolong tempat tidur.

”Anak itu benar-benar harus membayar untuk semua ini. Membuatku berbohong pada eomma,” seru Youngmin kesal.

“Pelankan suaramu Hyung. Ya, aku merasa bersalah pada eomma.”

Mereka tidak menemukan apa-apa meski sudah lebih dari satu jam membongkar barang-barang Hyunmin. Kemudian Kwangmin teringat, bahwa hari itu Hyunmin buru-buru menutup laptopnya. Seolah tidak mengizinkan siapa pun mengetahui apa yang dia lihat. Kwangmin yakin Hyunmin bukannya takut ketahuan sedang melihat video porno.

“Hyung, kurasa kita perlu mengecek laptopnya.”

Youngmin dengan cekatan menyalakan laptop adiknya. Dia dan Kwangmin bagaikan seorang mata-mata dalam sebuah penyelidikan kasus penting. Ketika melihat wallpaper yang muncul di layar, dia dan Kwangmin tersenyum geli. Hyunmin sering sekali mengatakan bahwa dia tidak menyukai kedua kakaknya. Tetapi dia memasang fotonya bersama mereka untuk wallpaper laptopnya. Lucu sekali.

Youngmin mulai memeriksa riwayat penelusuran internet Hyunmin hari itu satu per satu. Tidak butuh waktu lama, dia menemukan apa yang dia cari.

“Ini dia! Ingatan yang bagus Kwang.”

Berdasarkan riwayat penelusuran yang mereka baca, mereka menemukan satu fakta mengenai sebuah progam homestay. Sayangnya tidak ada petunjuk lain yang menjelaskan tempat tinggal Hyunmin di Jepang.

“Setidaknya kita memiliki alamat dan nomor telepon mereka, Hyung. Kita bisa menanyakan di mana Hyunmin tinggal.”

“Anak itu menyusahkan sekali. Ayo pergi. Aku tidak sabar menyeretnya pulang.”

Kwangmin mencatat alamat sesuai yang tertulis di internet, di dalam ponselnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia dan Youngmin menuju ke alamat yang mereka peroleh.

***

 

Akibat kejadian semalam, esoknya Hyunmin bangun hampir pukul sebelas siang. Tempat tidur Ryuu sudah rapi. Hyunmin keluar dan mendapati rumah dalam keadaan kosong. Sama sekali tidak ada suara dari teman-temannya.

“Selamat pagi,” sapa Kumiko. Dia berdiri di depan pintu kamarnya dengan rambut acak-acakan, sambil memeluk boneka panda miliknya.

“Pagi. Mau ke mana kau?”

Kumiko berjalan keluar rumah. Dia tidak mungkin pergi ke mana-mana dengan penampilan seperti itu kan? Meski begitu, Hyunmin mengikutinya di belakang. Dia pikir Kumiko akan melakukan sesuatu yang penting, tetapi ternyata dia hanya berpindah tempat tidur. Ada sebuah ayunan kayu di halaman rumah yang mampu memuat dua orang dalam posisi berbaring. Lengkap dengan penutup di atasnya. Kumiko meletakkan boneka pandanya lebih dulu, kemudian membaringkan kepalanya di atas boneka itu.

Tidak bisa dibiarkan. Pikir Hyunmin.

Sebuah ide jahil melintas di kepalanya. Dia perlu melakukan sesuatu agar Kumiko berhenti bermalas-malasan. Dia berdiri di depan keran, memasang selang yang tergeletak di sampingnya, dan mendekatkan ujung selang yang lain pada kakinya.

“Oh, Kumi, apakah ini barang milikmu?”

“Barang apa?”

“Kemarilah dan lihat sendiri!”

“Kau kan bisa membawakannya kemari untukku, Hyunmin.” Kumiko bersikeras tidak mau meninggalkan ayunan.

“Kau kan bisa berjalan kemari dan melihatnya sendiri, Kumi.” Hyunmin tidak mau kalah.

“Aaah… baiklah!”

Akhirnya Kumiko berjalan ke tempat Hyunmin.

Hyunmin pun langsung berpura-pura mengambil barang yang dimaksud, padahal yang sebenarnya dia lakukan adalah membuka kran. Begitu Kumiko berdiri di dekatnya, dia mengarahkan ujung selang yang dia pegang tepat ke wajah Kumiko. Air menyembur dan membasahi seluruh wajahnya. Hyunmin tertawa terbahak-bahak.

“Hyunmin!! Kau membuatku basah kuyup!”

“Ups, aku tidak sengaja melakukannya.” Hyunmin membuang selang yang dia pegang begitu saja, lalu mengangkat kedua tangannya.

“Kau sebut ini semua tidak sengaja? Tetap di situ Hyunmin, tunggu sampai aku membalasmu!”

“Oke, aku minta maaf. Tapi itu satu-satunya cara membangunkanmu.”

“Romantis sekali caramu!”

Hyunmin mengira Kumiko akan balas menyemprot air padanya. Ternyata dia hanya mematikan kran.

“Kau tidak membalasku?” Bukan berarti Hyunmin ingin wajahnya juga basah kuyup. Hanya saja sikap Kumiko justru membuatnya takut. Jangan-jangan gadis itu mempunyai ide lain untuk membalasnya.

“Ikuti aku!” Kumiko memegang pergelangan tangan kanan Hyunmin, lalu menariknya menuju jalan. Dia meminta Hyunmin berdiri di tengah-tengah.

“Sekarang juga teriakan ‘aku Hyunmin meminta maaf pada Kumiko dan berjanji untuk memenuhi perintahnya seharian ini’.”

“Apa? Itu tidak sebanding dengan apa yang kulakukan Kumi. Bagaimana jika kau balas menyemprotku saja?”

“Itu tidak seru Hyunmin. Cepat, lakukan!”

Memang tidak ada orang lewat ataupun kebetulan berada di luar rumah. Tetapi bukan berarti tidak ada yang akan mendengar teriakan Hyunmin. Selain menanggung malu, dia masih harus menuruti perintah Kumiko sepanjang hari. Dia punya firasat buruk. Kumiko pasti berniat memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa Hyunmin melakukan segala hal.

“Astaga, aku tidak tahu kalau kau pengecut Hyunmin.”

“Baik, baik, akan kulakukan kalau kau menghapus kalimat menuruti perintah Kumiko.”

“Ini bukan pasar, tawaranmu tidak berlaku.”

Sepertinya Kumiko benar-benar ingin melihat Hyunmin melakukannya. Atau sekarang dia sudah mulai memikirkan hal-hal yang berencana dia perintahkan pada Hyunmin.

“Dengarkan baik-baik. Aku tidak mau mengulanginya.”

Kumiko mengangguk sambil mengangkat jempolnya.

“Aku, Jo Hyunmin—“

“Tunggu!” potong Kumiko.

“Apa lagi?”

Entah apa yang tiba-tiba melintas di pikirannya. Kumiko berlari cepat ke dalam rumah, kemudian dalam sekejap kembali menemui Hyunmin. Dengan bangga dia mengangkat ponsel miliknya.

“Bukti dan kenang-kenangan?” Kumiko menyeringai.

“Apa semalam kau sudah berdoa agar semua ini terjadi?”

“Pernyataan yang tidak masuk akal. Ayo mulai lagi, aku tidak sabar merekamnya!”

Sekali lagi Hyunmin menghela napas panjang, kemudian meneriakkan kalimat yang diminta Kumiko. Sambil merekam, Kumiko cekikikan di balik ponselnya.

Begitu selesai, Hyunmin melihat sekelilingnya. Dia merasa lega, mengetahui tidak ada orang yang mengamati apa yang baru saja dia lakukan.

Tidak ada, selain seorang anak laki-laki—yang entah sejak kapan—sudah berdiri diantara Hyunmin dan Kumiko.

“Oniishan, kenapa kau berteriak?”

“Yuto! Lama sekali tidak bertemu denganmu.” Kumiko memeluk anak lelaki bernama Yuto itu, lalu mengecup bibirnya. “Kau sudah makan?”

“Ko Oneechan, sudah kukatakan jangan sembarangan menciumku,” protes Yuto. Dia mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.

“Ah, maaf. Ini karena kau sangat menggemaskan Yuto.”

“Anak ini benar, bagaimanapun dia laki-laki.”

“Kenapa? Kau iri? Mau aku melakukannya juga padamu?” Kumiko mendekatkan wajahnya ke arah Hyunmin.

Hyunmin meletakkan jari telunjuknya di dahi Kumiko, lalu mendorongnya mundur. Dia berusaha menunjukkan sikap tenang, padahal jantungnya berdebar cepat ketika wajah Kumiko berada dekat dengan wajahnya.

“Tenang saja, aku tidak mungkin benar-benar melakukannya.”

Kumiko beralih lagi pada Yuto yang mungkin sedang bingung menyaksikan ulah dua orang dewasa di hadapannya. Dia bertanya lagi pada Yuto apakah anak itu sudah makan. Yuto menggelengkan kepala.

“Baiklah, ayo kita minta Ryuu membuatkan sarapan.”

“Ryuu? Dia tidak ada di rumah. Begitu juga dengan Taro dan Yoshi. Hal itulah yang sejak tadi mau kutanyakan padamu.”

“Aaaah… mungkin mereka sudah mulai bekerja. Yuto, ayo kita ke tempat Ryuu bekerja!”

Kumiko mengajak Yuto masuk ke rumahnya.

Yuto sudah seperti adik kandungnya sendiri. Umurnya enam tahun. Pertama kali bertemu dengannya setahun yang lalu, Yuto duduk di ayunan milik Kumiko. Saat Kumiko menghampirinya, kalimat pertama Yuto adalah, ‘aku lapar’. Sejak malam itu dia tahu siapa Yuto dan apa yang terjadi dengannya.

Yuto tinggal bersama kakak perempuan, ibu, dan kakeknya. Rumahnya bukan tempat yang nyaman untuk dia tinggali. Kakak dan ibunya selalu bertengkar. Kumiko sering sekali melihat Yuto berdiri di luar tanpa melakukan apa pun. Setelah keributan di dalam rumahnya berhenti, dia baru masuk kembali. Dia anak laki-laki berusia lima tahun yang bisa bersikap lebih dewasa dari orang dewasa di dalam rumahnya.

“Tidak ada yang mengangkat teleponku.”

“Coba cek, mungkin mereka sudah meninggalkan pesan.”

“Ah ya, benar. Ryuu biasanya meninggalkan pesan untukku. Tunggu sebentar.”

Kumiko berlari ke kamar untuk mengeceknya. Tiga lembar kertas menempel di cermin  kamarnya. Masing-masing berisi pesan lengkap dengan alamat tempat Ryuuu, Taro, dan Yoshi bekerja. Dia tidak tahu teman-temannya itu sudah mendapat pekerjaan baru. Sebelumnya dia juga ikut bekerja, karena beberapa masalah dia terpaksa berhenti.

Dia memberitahu Hyunmin bahwa mereka akan pergi ke tempat Ryuu bekerja. Dia memilih tempat kerja Ryuu untuk didatangi pertama kali karena Ryuu bekerja di sebuah kafe. Di mana kafe berarti makanan. Kumiko yakin seratur persen sahabatnya itu tidak keberatan mentraktir dia, Yuto, dan Hyunmin sarapan.

“Yuto, tunggu di sini, kita segera mendapat sarapan. Oke?”

“Oke!” Yuto mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum lebar memamerkan dua gigi depannya yang ompong.

 

Kumiko melambaikan tangan saat Ryuu akhirnya melihat ke arah mereka. Dia menarik Yuto penuh semangat ke meja bartender. Dia bagaikan seorang ibu yang sedang mengajak anaknya menemui ayahnya di kantor. Tidak sesemangat Kumiko dan Yuto, Hyunmin melangkah malas memasuki kafe.

Senyum tak kalah lebar dari Yuto muncul di wajah Ryuu, dan begitu beralih ke Hyunmin senyumannya menghilang. Siapa juga yang butuh disapa olehnya. Hyunmin membatin.

“Hai Yuto!” Ryuu mengacak rambut Yuto. “Sebentar lagi aku istirahat, duduklah dulu, dan pesan makanan.”

“Memang itulah tujuanku kemari.”

Mereka tidak bisa bebas memilih meja karena tidak banyak tempat yang tersisa. Kafe itu benar-benar ramai. Mata pengunjung wanita yang datang tidak lepas dari Ryuu. Hyunmin tidak ingat bahwa Ryuu salah satu anggota band indie yang cukup terkenal. Wanita-wanita itu sungguh tidak memiliki selera yang bagus.

Tepat ketika makanan yang mereka pesan habis, Ryuu menghampiri meja Kumiko berada. Sebenarnya dia tidak perlu repot-repot melakukannya. Pikir Hyunmin.

“Aku juga mau bekerja,” kata Kumiko yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ryuu. “Kenapa? Kau tahu aku membutuhkan uang. Tidak mungkin aku bergantung pada kalian.”

“Kau sendiri yang lebih tahu mengapa aku melarangmu ikut bekerja.”

“Kenapa kau melarangnya?”

“Aku tidak mengajakmu bicara. Jangan ikut berkomentar.”

Kalau tidak ada Yuto, Hyunmin pasti sudah meninju wajah lelaki menyebalkan di hadapannya itu. Yaaa… sebenanrnya tidak juga. Hyunmin tidak mau Kumiko menganggapnya sebagai berandalan. Bukan berarti dia takut pada Ryuu.

“Tidak apa-apa Hyunmin. Tingkahnya memang seperti seorang kakek yang suka melarang cucunya.”

Hyunmin dibuat tertawa oleh pernyataan Kumiko. Lihat, Kumiko membelaku.

“Kalau begitu, ajak aku bekerja bersamamu. Agar kakekmu ini tidak khawatir terjadi hal-hal buruk padamu, karena aku akan menjaga cucunya.”

“Kau? Menjaganya?” Nada sinis terdengar jelas dari ucapan Ryuu.

“Itu… bukan ide yang buruk. Aku tidak perlu persetujuanmu Ryuu. Aku sudah memutuskannya.”

“Kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah.” Ryuu dengan tenang kembali bekerja.

“Dia akan menyetujui permintaanku. Jangan khawatir.”

“Tapi dia terlihat siap memarahi kita. Memang mirip dengan kakek-kakek yang galak.”

“Serahkan semuanya padaku. Yuto, kau mau tambah?”

Yuto mengangguk sambil menunjuk gelas ice cream miliknya yang telah kosong.

Hanya dua kali Hyunmin pernah bekerja paruh waktu selama liburan musim panas. Tetapi hal itu berubah menjadi tidak menyenangkan karena orangtuanya—dan terkadang kedua kakaknya—sering sekali muncul di tempat kerjanya. Youngmin dan Kwangmin bersikap baik dengan berpura-pura tidak mengenalnya. Walaupun tetap saja rasanya menyebalkan karena harus mendengar keributan yang disebabkan oleh kehadiran mereka. Sedangkan ayah dan ibunya bersikap terlalu berlebihan. Terutama ibunya. Dia akan protes jika Hyunmin mengerjakan sesuatu yang menurutnya terlalu berat. Parahnya lagi, ibunya selalu memanggilnya dengan ‘putraku’, sehingga orang-orang tertawa ketika mendengarnya.

Hyunmin akhirnya tidak mau lagi menerima ajakan Dongjoon untuk bekerja paruh waktu. Kali ini, dia ingin menikmati melakukan hal itu lagi bersama Kumiko. Tanpa kehadiran orang-orang yang mengenalnya. Terdengar menyenangkan. Hyunmin tidak sabar melakukannya.

***

 

Semua member Boyfriend sedang berkumpul di kamar yang ditempati Youngmin dan Kwangmin di hotel. Mereka berada di Jepang selama tiga hari untuk showcase. Youngmin sudah menceritakan pada member lain mengenai ulah Hyunmin. Semua pun sepakat untuk membantunya menemukan Hyunmin.

“Hyunmin berbohong karena ingin bersembunyi dari kalian berdua. Kalian terlalu merepotkan,” kata Donghyun.

“Ya, berhentilah mengganggu hidupnya.” Jeongmin menambahi.

“Eiii… Hyung, kami berdua ini kakak yang baik.” Youngmin membela diri.

“Tidak. Kau bukan kakak yang baik,” ujar Kwangmin pelan, yang sayangnya terdengar oleh Youngmin. Youngmin langsung memukul pelan kepala Kwangmin menggunakan bantal.

“Bagaimana jika orangtua kalian tahu sebelum kalian berhasil menemukan Hyunmin?”

“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Hyunseong Hyung.”

“Karena itulah kami berusaha keras mencarinya.”

“Kau tahu sendiri bagaimana ibunya. Dan mereka berdua tidak mungkin mau mengambil risiko atas apa yang dilakukan Hyunmin. Benar begitu kan?”

Youngmin dan Kwangmin mengangguk, membenarkan pendapat Donghyun. Menghadapi kemarahan orangtua mereka, adalah hal terakhir di dalam kamus Youngmin dan Kwangmin. Apalagi karena hal yang dilakukan Hyunmin.

“Pasti tidak mudah menemukannya. Kalau aku menjadi Hyunmin, aku akan memilih bersembunyi di kutub utara, agar kalian berdua kesulitan mencariku,” ucap Minwoo.

“Aku juga tidak mau mencarimu. Lebih baik kubiarkan kau kedinginan di sana,” balas Youngmin.

“Tenang saja, aku pasti mencarimu.”

“Inilah sebabnya aku lebih menyukai Kwangmin daripada kau.”

Bantal yang digunakan untuk melempar Kwangmin, melayang ke wajah Minwoo. Minwoo yang tidak mau mengalah pada Youngmin pun membalasnya. Seketika terjadilah perang bantal diantara mereka berdua.

Ketiga hyung mereka hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan tingkah Youngmin, Kwangmin, dan Minwoo.

Esoknya, sesuai rencana mereka berenam menuju alamat yang berhasil diperoleh Youngmin. Mereka masih memiliki waktu lebih dari cukup untuk mencari Hyunmin sebelum jadwal kepulangan mereka ke Korea. Mereka menuju ke daerah Setagaya.

“Ingat, jika Hyunmin mencoba melarikan diri dari kami, kalian harus menangkapnya.”

Usai mengatakannya, Youngmin dan Kwangmin turun dari mobil.

Berdasarkan informasi yang mereka peroleh, Hyunmin tinggal bersama satu orang temannya yang lain yang juga berasal dari Korea. Dia rencananya tinggal di Jepang selama satu bulan. Seenaknya sendiri. Keluh Youngmin dalam hati. Dia peduli karena apa pun yang Hyunmin lakukan, dia dan Kwangmin akan terkena imbasnya.

Pemilik rumah keluar. Seorang wanita yang kelihatannya seumuran dengan ibu mereka, menatap dua orang laki-laki di depannya dengan aneh. Maklum saja, Youngmin dan Kwangmin memakai masker dan kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya. Tidak lupa mereka juga mengenakan hoodie sebagai pelengkap penyamaran mereka.

“Ada… yang bisa saya bantu?”

“Kami adalah kakak dari Jo Hyunmin, anak laki-laki yang tinggal di sini untuk program homestay.”

“Apakah kami bisa menemuinya? Ponselnya tidak bisa dihubungi, jadi kami sangat mengkhawatirkannya.” Kwangmin mengatakannya dengan nada sedih yang dibuat-buat. Melengkapi akting Kwangmin, Youngmin menepuk-nepuk pundak adiknya itu seolah-olah ikut merasa sedih.

“Dan kami juga merindukannya,” imbuh Youngmin.

Tatapan heran dan aneh masih belum hilang dari wajah wanita itu. Meski begitu dia tetap menjawab pertanyaan Youngmin dan Kwangmin.

“Dia tidak berada di sini.”

“APA?” seru Youngmin dan Kwangmin bersamaan.

Wanita di depan mereka ikut terkejut. Selesai sudah akting sedih yang mereka lakukan. Mereka terlalu kesal untuk bisa melanjutkan akting sedih itu. Youngmin merasa perlu menendang sesuatu sebagai pelampiasan kekesalannya.

“Memang seharusnya ada dua anak yang tinggal di sini, tetapi anak bernama Hyunmin itu tidak pernah datang. Saya tidak tahu di mana dia dan apa yang terjadi padanya. Dari pihak penyelenggara pun tidak memberitahukan apa-apa.”

“Anak itu benar-benar harus mendapat pelajaran!”

“Ya. Aku tidak akan membiarkannya lolos!”

“Ada lagi yang lain?”

“Ah, tidak. Maaf sudah mengganggu. Terima kasih.”

Melihat Youngmin dan Kwangmin masuk ke mobil tanpa penjelasan apa pun, diikuti alis mereka yang berkerut, teman-temannya tahu bahwa Hyunmin tidak ada di rumah itu.

“Jadi, selanjutnya?” tanya Donghyun.

“Sepertinya kami perlu ke Jeju lagi.”

“Ingatkan aku untuk meninjunya ketika kita menemukannya nanti, Kwang.”

This entry was posted by boyfriendindo.

7 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Escape From My Brothers – Chapter 03

  1. Hyun miiinnn jgn bikin hyung-hyung yg keren and caem itu khawatir doooonnngg… di tunggu kelanjutannya thor….bener ngga youngmin bakal ninju hyunmin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: