[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 05

Picture1

Title
: I Love You – Chapter 5
Author : ariesthha_1602
Genre : Friendship & Romance
Rating : PG
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Yua

Support Casts
: Semua member Boyfriend

Akhirnyaaaaaaa chapter 5 selesai…. *author ikut lonjak-lonjak.. \(^___-)/ Bayangkan ya, disela-sela tugas yang menumpuk dari Prof. dikampus, author sempet-sempetin lo bikin lanjutannya.. demi kalian pembaca setia yang udah pada nungguin. Jadi gimana menurut kalian?? cerita chapter ke-5 nya??. Ayooo isi kolom comment dipaling bawah, sumbangsih ide dan commentnya sangat membantu sebagai asupan vitamin untuk author buat tetep ngelanjutin ceritanya. Haduhhh,, banyak ngomong deh jadinya.. Udah-udah baca aja ya.. Ppyong.. #bighug..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebelumnya di Chapter 4

Youngmin menarik sudut salah bibirnya dan melirik Kwangmin sekilas sebelum pandangannya kembali menatap lurus ke depan. “Terserah denganku. Memangnya apa urusanmu??”. Ucapan Youngmin membuat tangan Kwangmin yang ada disisi lain otomatis terkepal. Seperti ingin memukul seseorang.

“Dia bukan milikmu kan??”, lanjut Youngmin saat menghentakkan lengannya agar lepas dari genggaman Kwangmin dan berlalu keluar rumah. Meninggalkan Kwangmin dan Yua yang kebingungan dengan ucapannya.

Hanya saja ada dua keadaan yang berbeda saat itu…

Saat Kwangmin mendengarkan kalimat terakhir dari Youngmin, tangannya memang masih terkepal erat tapi dengan emosi yang berbeda. Awalnya dia marah karena melihat ada cowok lain yang masuk ke dalam rumah Yua selain dirinya, dan cowok itu adalah Youngmin. Tapi, saat Youngmin mengucapkan kalimat, atau yang lebih tepat seperti pertanyaan untuknya. Kwangmin langsung tersadar, dan benci. Benci bahwa semuanya itu benar.. Ya,, benar kalau Yua bukan pacar atau apapun itu. Melainkan hanya sebatas sahabat…

Sedangkan Yua. Saat melihat Youngmin keluar pintu rumah, hatinya mulai berdegum dengan kencang. Bukan perasaan deg-degkan, bahagia dan bersemangat seperti biasa yang dia rasakan setiap Kwangmin ada didekatnya. Tapi lebih kepada perasaan tak nyaman dan takut. Ya.. Yua hanya terlalu takut hatinya akan kembali tersakiti dan terluka kalau ditinggal berdua dengan Kwangmin. Dan tak tau sejak kapan itu terjadi, Yua hanya tak sadar kalau dirinya selalu butuh dan mencari sosok Youngmin untuk menenangkan hatinya kembali seperti semula.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seseorang menahan blazer Youngmin dari belakang. “Yua…”, gumamnya setelah melihat sosok yang lagi-lagi menghentikan langkahnya. “Ja… jangan pulang dulu. Jangan tinggalkan aku berdua saja dengannya..!!”, Yua memohon dengan sedikit paksaan sambil berusaha menarik-narik Youngmin kembali masuk ke dalam rumah.

“YA!,, kau itu ngapain??. Haish… jangan narik-narik dong”.

Kwangmin yang mendengar suara ribut-ribut dari pintu depan, baru sadar kalau Yua sudah tak ada dihadapannya. “Hey…”, desisnya dengan sedikit geram saat melihat Youngmin dan Yua yang seperti berdebat akan sesuatu. Hatinya hanya tak terima, melihat Yua sangat akrab dengan cowok lain selain dirinya.

“Shin Yua,, mama sudah pulang…!!. Kau pasti kang… Eh,,..?!!”.

Yua spontan melepaskan lengan Youngmin saat melihat mamanya berdiri didepan pagar. “Annyeong Mrs. Shin..”, sapa Youngmin dan Kwangmin berbarengan dengan sedikit menundukkan badan. Mrs. Shin mengibas-ngibaskan tangannya sambil tersenyum lembut. “Aih, jangan terlalu formal. Tadinya aku ingin mampir ke rumah kalian untuk menyerahkan ini sendiri. Tapi berhubung kalian disini…”, Mrs. Shin sibuk bergumam pada dirinya sendiri sambil membongkar-bongkar bingkisan didepan pintu rumah. “Ini ambillah,, untuk kalian satu-satu dan ada juga untuk orang tua kalian”.

“Terima kasih bibi…”, sahut Kwangmin saat menerima bingkisan dipelukannya.

“Maaf YoungKwang,,… tapi untuk malam ini tante rasa hanya ada tante dan Yua”.

“Eh…??”, Yua sedikit terhenyak saat mamanya mulai mendorongnya masuk ke dalam rumah. “Mama… seben… Aishh,, sampai jumpa besok Youngmin Kwangmin”, gerutu Yua dengan kesal karena usahanya untuk pergi dari dorongan mamanya tak menghasilkan usaha.

“Aissshhh,, mama jangan dorong-dorong dong..!!. Ini sudah didalam rumah”.

Kwangmin mengerutkan keningnya sesaat setelah mendengar teriakan Yua dari dalam rumah. “Mereka berdua benar-benar tak berubah. Bukankah begitu…. Loh…??”, dia tertegun saat mengetahui sosok yang tadi berada disampingnya sudah menghilang. “Hyung..!!!”. Kwangmin menghentakkan kakinya dengan kesal setelah melihat Youngmin sudah berada diluar pagar, tanpa repot-repot menunggunya.

~~~~~~~~~~~~

Hari ini Kwangmin berniat untuk tak pernah mengingat ataupun membahas mengenai yang kemarin ke Yua. Sama seperti yang biasa dia lakukan,, menganggap hari-hari seperti biasanya dan tak ada yang berubah. Tapi,,.. semuanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi saat Yua mulai mengacuhkannya atau bisa dikatakan menganggapnya tak pernah ada beberapa saat yang lalu.

“Pagi….”, sapa Minwoo dan Mia berbarengan sesaat setelah berdiri disamping Kwangmin. “Hei… Halooo….. Jo Kwangminnnnn… Are you there??”. Gerakan tangan Minwoo menariknya kembali ke kenyataan, dan sadar pasti sebentar lagi Minwoo akan mencari tau apa yang menganggu pikirannya dipagi hari seperti ini.

“Eh…??!!”. Mia menunjuk ke arah kiri tepat disamping pintu masuk koridor sekolah. “Bukannya itu Yua..??. Minwoo aku tak salah lihat kan??”, Mia menarik lengan Minwoo menjauh dari Kwangmin dengan tetap menunjuk ke arah Yua agar memastikan apa yang dilihat olehnya persis sama dengan yang dilihat Minwoo.

“Heh…!!. Itu memang benar Yua. Tapi kok… kenapa dia terlihat sangat akrab dengan Youngmin..??!!”, Minwoo melirik sekilas ke arah Kwangmin dan kembali melihat sosok yang jauh dari mereka, berusaha mencari jawaban. Mia pun ikut mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar perkataan Minwoo. Karena setaunya, Yua tak pernah menyukai kembaran temannya ini apalagi akrab. Tapi sekarang….

Walaupun terlihat seakan-akan tak melihat pemandangan itu, apalagi peduli. Tapi sejujurnya, Kwangmin mengalami emosi yang benar-benar tak stabil. Belum hilang pikirannya tentang kemarin, pagi ini, dan sekarang… Harus melihat Youngmin mengelus-ngelus puncak kepala Yua dan mencubit hidungnya dengan mesra. Apa-apaan ini..?!!.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kita ada pertandingan antar SMU 3 minggu lagi…”. Youngmin berusaha membuang egonya dengan mengajak kembali semua anggota yang keluar dari klub. Hal ini tak akan mungkin dia lakukan, kalau bukan karena klub. Dia harus bisa dan dia pasti bisa, itulah yang ada dipikirannya.

“Oh,,,…. semoga beruntung deh”.

“Aku tak bisa..!!. Aku sudah punya acara di hari itu”.

“Terus maksudmu apa??”.

Yua menghela nafas dengan berat beberapa kali, sambil bersender pada jendela kantin disampingnya dan melihat kepala Youngmin yang tertunduk lemas. “Kau itu malah bikin situasi semakin runyam. Kau sadar tidak sih??”, desisnya dan meminum juice yang sudah dibelinya beberapa menit lalu. “Haishhh,,,… kau itu tak tau rasanya diposisiku..”.

“Ya emang tak tau sih, tapi tak perlu sampai menarik kerahnya seperti itu kan?. Kau bukannya mengajaknya berbaikan. Tapi malah mengajaknya berkelahi”.

Youngmin menengadahkan kepalanya dan melihat ke arah Yua dengan tatapan sengit. “Memangnya ada orang yang mau menuruti perintahnya seperti itu. Cih,,, menyuruhku berlutut dan meminta maaf padanya didepan banyak orang. Sorry itu buk…”.

“Hussshhtt,,,…”, Yua mendesis dengan kesal sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir Youngmin, memaksanya untuk berhenti bicara. Yua meletakkan jemarinya didagu Youngmin dan menengadahkan wajahnya agar terlihat lebih jelas, sambil memiringkan kepala Youngmin ke kiri dan kanan beberapa kali. ”Asa.. Aku tau..!!”.

Dengan sedikit mengernyitkan kedua alisnya, Youngmin menghempaskan tangan Yua jauh dari wajahnya.. “Apa yang sekarang dia pikirkan…!!”, pikir Youngmin saat melihat tatapan dan seringai kecil disudut bibir Yua yang tak membuatnya sedikit takut.

“Kita pasti berhasil, kalau kau lebih sering tersenyum”.

“Eh..??”, Youngmin menaikkan sebelah alisnya sesaat setelah mendengar ide konyol Yua. Mana ada hal-hal yang seperti itu. “Ayo tersenyum,…”, Yua membenarkan posisi badannya agar dapat memastikan kalau itu senyum yang dia inginkan.

Youngmin masih tak mengerti maksud Yua dan hanya menganggap itu main-main, tapi saat Yua membenarkan posisi duduknya dan mulai menatapnya dengan lekat. Youngmin tau ini bukan main-main. “Heh,,.. apa-apaan itu?!!”, ucap Yua dengan sedikit nada mengejek setelah melihat pemandangan didepannya.

Youngmin menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. “Lagian gimana aku bisa tersenyum kalau dilihat banyak orang…!!”. Yua yang mendengar ucapan Youngmin, baru sadar kalau orang-orang disekitar mereka yang juga berada dikantin melihat mereka dengan amat antusias. Hingga tak sedikit yang mendekat untuk melihat pemandangan yang tak biasa. “Kurasa aku bisa melakukannya dengan benar jika hanya ada kita berdua”, sahut Youngmin dan kembali menikmati makan siang yang sedari tadi belum disentuhnya.

Untuk beberapa saat, Yua merasa waktunya seakan berhenti. Apa ini..?? Apa itu artinya, Youngmin nyaman berada didekatnya..?? atau,.. hanya kata-kata yang biasa dikatakan seorang teman…

“Apa kau selalu seperti ini??”.

“Tidak,.. hanya lingkungan disekitar sini yang tak memiliki tujuan untuk mencapai sesuatu, yang membuatku berubah. Sebenarnya… ada sekolah dengan klub tenis yang bagus, yang ingin kumasuki. Tapi karena aku tak lolos ujian masuk,, jadi.. disinilah aku”.

Yua menatap wajah cowok yang ada dihadapannya dengan lekat. “Apa itu alasan kenapa kau dan pacarmu putus??”. Karena tak ada jawaban atau respon dari Youngmin, Yua kembali berasumsi. “Kurasa jarak diantara kalian terlalu luas, karena pacarmu maju dengan kerja kerasnya sedangkan ka…”.

“YA!”, bentak Youngmin sambil memukul kepala Yua dengan sendok makan. “Walaupun apa yang kau katakan itu memang benar. Tapi siapa yang mengizinkanmu berbicara mengenai masa laluku. Terus apa hubungannya sama situasi sekarang ini..!!”. Youngmin merampas kue dari nampan Yua yang masih utuh. “Menyebalkan..”.

“Iya-iya,,.. maaf…”.

Yua menatap pemandangan dari jendela disampingnya dengan tatapan kosong. “Orang-orang yang terus maju, takkan bisa melihat apapun kecuali yang ada didepan mereka. Tak peduli sekeras apa kau mencoba untuk menyamai mereka, mereka tak akan pernah berbalik melihatmu dan pada akhirnya kau akan tertinggal di belakang”, gumam Yua yang tak sadar kalau kalimat-kalimat didalam pikirannya diucapkannya dengan lantang dan jelas.

Youngmin yang tadi sempat terpancing emosinya, malah menatap Yua dengan lekat. Dia hanya tak habis pikir, seorang Yua yang notabene dikelilingi oleh banyak orang. Bisa mengutarakan kalimat yang seperti itu. “Kau tau,,.. kalau itu aku. Aku pasti akan berbalik dan menunggumu”.

“Hah…?!!”. Yua spontan memalingkan wajahnya dan menatap Youngmin yang sekarang melihatnya dengan dagu yang berpangku pada kedua tangannya. Apa ini..??. Apa aku mengutarakan pikiranku dengan keras??, aishh… memalukan. Yua terus melihat ekspresi Youngmin tanpa mengedipkan sedikitpun matanya. “Kenapa dengannya??. Tadi marah-marah denganku, sekarang malah tersenyum-senyum seperti orang gila… Eh,, senyummm…”.

“YA! kau tersenyum. Jo Youngmin akhirnya kau tersenyum…”.

Youngmin menepuk kepala dengan sebelah tangannya sambil menghela nafas. Dia hanya tak menduga kalau itu respon pertama dari Yua, setelah dia berusaha menunjukkan sikap baik padanya. Apa mungkin Yua tak mendengarnya..??. “Kurasa kita ada harapan. Aku juga,,.. aku juga berjanji akan lebih sering tertawa. Kau menyukainya kan??”. Suara riang Yua menarik Youngmin untuk melihatnya.

Youngmin menghempaskan badannya pada senderan kursi. “Kurasa mulai sekarang aku juga akan berusaha untuk lebih banyak tersenyum didepanmu”, dan memasang senyum terbaik yang dimilikinya. Entah sejak kapan, tapi yang jelas dia ingin melihat senyum Yua lebih sering. Kalau dengan senyumnya bisa membuat Yua senang dan bahagia, dia ingin melakukannya.

“YA! Shin Yua, kau ngapain??”, Youngmin mencoba mendorong tangan Yua menjauh dari wajahnya. Apa ini yang harus didapat..??. Tepukan keras telapak tangan Yua diwajahnya??. Dia rasa tidak, seharusnya bukan ini. Ini hari pertama dia belajar, dan harusnya dia mendapatkan pujian, bukan malah cetakan tangan diwajahnya.

“Maafkan aku Youngmin-ah, sampai jumpa nanti…”.

Youngmin mengernyitkan dahinya dengan bingung, saat Yua mulai berlari menjauh darinya. “Yua,,.. YA! Shin Yua…. Haissshhhh…!!”, dan berusaha kembali cuek setelah banyak mata yang melihat mereka bagaikan adegan sinetron. Awas saja kau Shin Yua..!!.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yua berlari menjauh dari kantin, tanpa memperdulikan teriakan Youngmin dan pandangan orang-orang dibelakangnya. Karena yang lebih penting sekarang ini adalah masalah hatinya. Dia memang menginginkan Youngmin lebih banyak tersenyum, tapi dia tak pernah menyangka kalau akan seindah itu dan lagi… Jantungnya yang menurutnya bodoh, benar-benar tak bisa diajak kompromi.

Yua membasuh wajahnya beberapa kali di wastafel kamar mandi, berusaha membuang jauh semua pikirannya. “Kontrol dirimu Yua,, hanya Kwangmin yang kau suka. Jadi kau tak boleh merasakan hal-hal seperti tadi…”, gumam Yua pada pantulan dirinya pada kaca yang ada didepannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

2 hari sudah berlalu dan semuanya seperti biasa. Yua dan Youngmin sibuk mengajak anggota klub kembali, dan untuk sementara memang dia hampir tak pernah bertemu ataupun meluangkan waktu pergi keluar dengan Kwangmin. Yua terlalu sibuk atau bisa dibilang pelarian agar dia tak terus memikirkan hal-hal yang menyakitkan.

Sampai akhirnya.. siang itu Yua tak sengaja menyenggol seseorang sesaat setelah keluar dari pintu kamar mandi. “Maaf… Eh,,.. Jihoo..?? Kena…”.

Jihoo langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dari Yua dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. “Kenapa dengannya??”, ucap Yua heran setelah melihat Jihoo melewatinya dengan air mata yang mengalir deras. Dia merasa pasti ada yang tak beres, dan dia harus tau. Karena Jihoo pacar Kwangmin dan Kwangmin adalah sahabatnya, otomatis Jihoo juga temannya. Dan seorang teman tak akan mungkin membiarkan temannya menderita sendirian.

“Yua…”.

Yua yang baru akan kembali masuk ke dalam kamar mandi, terhenti setelah mendengar seseorang meneriakinya dengan keras. Kwangmin..??. Ah, kebetulan… dia harus tau kalau Jihoo ada didalam. Belum sempat Yua mengutarakan maksudnya, Kwangmin sudah menariknya menjauh dari tempatnya berdiri. “Ikut aku…”, katanya dengan tegas.

Loh…?!!. Apa-apaan sih ini.. “YA! Kwangmin,, lepaskan.. Aaawww,, sakit tau. Kau menyakiti tanganku Jo Kwangmin”, teriak Yua beberapa kali saat Kwangmin menariknya melewati tangga darurat menuju ke atap sekolah. Jujur,, ini tak seperti biasanya. Kwangmin tak pernah seperti ini padanya dan itu menakutkan saat cengkraman tangannya begitu kuat seperti seseorang yang sedang marah.

Yua berusaha melepaskan pergelangan tangan kirinya dengan bantuan tangannya yang lain sesaat setelah mereka berada diatap. “Kwangmin-ah,, apa yang kau pikirkan sih??. Jihoo sedang ada masalah, tapi kau malah menarikku kesini”.

“Kami putus…”.

“Hah..??”. Yua spontan melupakan rasa sakit ditangannya, dia hanya masih tak percaya dengan apa yang barusan saja didengarnya. Dulu dia bilang akan serius dengan Jihoo, tapi sekarang…. “Kenap…??”.

“Bukankah itu harusnya kata-kataku??”, Kwangmin sedikit menaikkan nada bicaranya dan memutar balikkan badannya ke arah Yua. “Kenapa kau menghindariku??. Kenapa..??”.

Yua hanya bisa menundukkan kepalanya dengan lesu, dia tak tau harus bicara apa dan bagaimana mengutarakan maksud hatinya. Dia hanya tak menyangka kalau Kwangmin sendiri yang akan menanyakan hal ini padanya. “It… itu karena…”.

“Meskipun kita sudah berciuman, kau bertingkah seakan-akan tak ada yang terjadi”, gumam Kwangmin dan mengambil langkah lebih dekat ke arah Yua. Dia ingin, Yua mendengarkan seluruh isi hatinya dalam suasana yang tak tegang seperti barusan. Dia ingin Yua mengetahui semuanya. “Jadi aku cari pacar, yang kukira akan membantuku memulihkan perasaanku seperti biasanya terhadapmu. Tapi akhirnya semua sama saj….”.

Yua menaikkan telapak tangannya tepat didepan wajah Kwangmin, berusaha membuatnya berhenti berbicara. Dia tak menginginkan semua ini datang bagaikan bom tanpa ada pemberitahuan. “Apa maksudnya ini…??”, Yua berdebat dengan pikirannya sendiri sembari bergerak mundur menjauhi Kwangmin..

“Awalnya kukira aku pasti cinta Jihoo, tapi saat kau mulai menjauhiku. Aku sadar, perasaanku terhadapmu tak bisa berubah. Aku mencintaimu Yua”.

Dengan berpegang pada pagar pembatas, Yua berusaha mencerna semua perkataan yang didengar dari mulutnya. Apa ini kenyataan..??. Sungguh-sungguh bukan mimpi…??. Selama ini sudah begitu menyakitkan untuk Yua, dan sekarang dia bilang mereka saling mencintaiii…. “Kenapa hatiku…???”, Yua berbisik pada dirinya sendiri sambil menggenggam hatinya dengan erat berusaha mencerna perasaaan yang dia rasakan. Harusnya dia merasa senang, tapi kenapa dadanya malah terasa sangat sesak dan menyakitkan. Apa ini…??.

Kwangmin mengepalkan jari jemari disisi tubuhnya, sebelum mengucapkan kalimat yang bertentangan dengan keinginannya. “Tapi sekarang kau mencintai Youngmin Hyung kan??”, dan menggigit sedikit bibir bawahnya, berharap dugaannya salah. “Aku benar kan Shin Yua..??”.

Youngmin…??. Apa maksudnya…??. Yua benar-benar tak habis pikir, kenapa Kwangmin membawa-bawa saudara kembarnya masuk ke dalam pembicaraan pribadi mereka…??. Ini tak ada hubungannya kan…??. Atau ada hubungannya, tapi dirinya hanya belum tau. Entahlah,, karena yang jelas pengakuan singkat Kwangmin yang terasa sangat mendadak membuat hati Yua bereaksi tak seperti biasanya.

This entry was posted by boyfriendindo.

8 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 05

  1. Telat kwang…telat… enak bgt lo ngaduk2 perasaan yua……
    Yuaaa ma youngmin aja biar aja kwang patah hati….

    kwangmin : iiiiiiihhhh kamu jahat…katanya aku bias kamu…

    #kwang nangis dipojokan, lap ingus…

  2. kwang lu arrghhh!!!
    kalo yua balik ke kwang kan kasian youngmin. lagian yua udah terlanjur ngetuk2 pintu hati nya youngmin.
    salah kwang dong yahh yg selama ini udah kasih jarak dan bikin yua jauh dari dia!
    kok nyeri sihh, kwang kek gini malah bikin nyesek😦

      • salam kenl juga thor ^^
        dohh jadi dilema dong yah, aku juga gk tau harus nentuin kwang atau young :3
        bagi aku sihh gk ppa kwang nya agak di iles lagi tu hati nya, biar dia ngerasa gmna renyek nya hati yua gegara dia.
        jujur ni yahh walau aku selalu bilang ngebelain youngmin, tetep aja masih ada secuil dukungan bwat kwang ama yua bisa bersatu😀
        tapi thor, aku pengen nya ff ini tetep sesuai ama ide awal nya author mau bawa ceritanya kemana. biar readers nya pada bertanya2 si yua bakal sama siapa..
        aku juga masih penasaran ama next nya..

  3. Daebak…
    Tambah penasaran nih. Mau kelanjutannya >_<
    Semoga Yua sma Youngmin aja deh
    Hatinya terlalu sakit untuk Kwangmin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: