[FANFICT/FREELANCE] Stuck With You – Chapter 01

Title
: Stuck With You – Chapter 1
Author : Monika Refsi
Genre : Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Kim Jae Yeon

~ Kim Jeong Min

Support Casts
: Semua member Boyfriend

Chapter 1

Gedubrraakk!!!

Buku buku tampak berserakan dilantai. Yang ditabrak langsung merapikan buku-bukunya. Wajah panik terpampang jelas diparasnya. Karena ini hari pertama disekolah barunya dan dia akan mengacaukannya kalau sampai terlambat masuk kelas hanya karena gara-gara ini.

“Ah, gwaenchanhayo?” terdengar suara bertanya seorang pria. Begitu lembut didengar meski ada nada khawatir dibaliknya.

“Ne, gwaenchanhaseyo,” jawabnya tanpa peduli melihat ke arah lawan bicaranya lalu bergegas pergi setelah membungkukkan badannya. Dengan segera dia menata ulang seragamnya. Mengutak-atik dasi pita berwarna merah yang ada dikerahnya, meluruskan lengan bajunya yang sedikit terangkat, dan sedikit mengibas-ngibaskan rok abu-abu polos selututnya.

Udah rapi. Aku siap sekarang

Dengan perlahan dia mengetuk pintu kelas setelah dilihatnya diatas pintu itu ada tulisan Art & Music. Seketika yang ada didalam kelas menoleh ke arahnya. Sang guru yang melihatnya langsung tersenyum dan mempersilahkan gadis itu masuk seakan sudah menantinya.

“Silahkan masuk. Selamat datang dikelas Art & Music,” sambung guru itu.

Mendengarnya, dia membalas senyum sang guru dan berdiri didepan kelas.

“Baiklah anak-anak. Saya akan memperkenalkan teman baru kalian. Dia adalah Kim Jae Yeon. Pindahan dari sekolah di Busan-”

Dan Bu Guru pun memperkenalkan tentang murid baru itu dan Jae Yeon kemudian memperkenalkan dirinya dengan singkat.

“Bagusnya kamu duduk-”

Jae Yeon langsung menentukan dimana dia akan duduk.

“Disana aja, Bu”

Jae Yeon segera menuju meja yang dekat dengan jendela. Dia suka duduk disana. Bisa melihat-lihat keluar.

“Mmm.. Saya rasa itu tidak masalah,” respon Bu Guru meski wajahnya tampak menimbang-nimbang tempat duduk Jae Yeon.

“Kita lanjutkan pelajaran kita tadi.”

 

Psssttt… ssttt…

Seseorang sedang berbisik ke arahnya. Jae Yeon menoleh ke arah sumber suara itu.

Yaa… sebelah sini!”

Ketemu! Dua orang gadis yang duduk sebangku menatapnya tajam.

Naega?” tanya Jae Yeon ragu.

Ne! siapa lagi orang yang sembarangan duduk dibangku uri Young Min selain kau,” ujar salah seorang gadis.

“Young Min? Ini bangku dia?” tanya Jae Yeon polos.

Ne! Jadi lebih baik kau angkat kaki dari sana!”

Lagi-lagi mereka membentaknya dengan pelan agar tidak terdengar oleh guru.

Naega wae? Lagipula dia tidak ada disini kan?” Jae Yeon bersikeras tetap mempertahankan tempatnya.

Neo…

Tok tok tok

Percakapan mereka terhenti dan sekarang pandangan mereka tertuju ke arah seorang namja jangkung yang sedang berdiri didepan pintu kelas mereka.

Jweisonghamnida, Seonsangnim. Saya terlambat,” ujarnya.

Suaranya lembut dan tenang. Mengingatkan Jae Yeon dengan sosok pria yang tadi pagi menabraknya.

“Darimana saja kamu? Tak biasanya kamu terlambat masuk kelas, Jo Young Min,” ujar Seonsangnim. Lalu tanpa memerlukan alasan yang dipanggil Young Min itu terlambat, Seonsangnim langsung mengijinkannya duduk.

“Ya sudahlah. Kamu bisa duduk sekarang. Karena saya yakin kamu terlambat pasti ada penyebabnya. Dan penyebab itu pastinya sangat penting bagimu. Benar kan Young Min?”

Kalimat Seonsangnim tampak seperti menyinggung. Meski sepertinya Seonsangnim tak berniat untuk melakukannya. Sedangkan yang disinggung tampak sangat menyesali perbuatannya tanpa tahu harus berkata apa.

Ne…

Young Min lalu berjalan menuju tempat duduknya. Menyadari itu Jae Yeon tidak dapat berkutik karena sepertinya sang pemilik bangku akan segera mengusirnya.

Young Min memandanginya. Dengan penuh tanda tanya. Begitu juga Jae Yeon yang tidak mengerti dengan reaksinya. Jae Yeon memutuskan untuk mengalah saja.

“Baiklah, kau menang. Ini tempatmu kan?”

Jae Yeon mengemasi barang-barangnya dengan suara seminim mungkin agar Seonsangnim tak melihat ada peristiwa pengusiran dibelakangnya.

“Ahh jamkkanman… aku tidak bermaksud untuk mengusirmu. Aku hanya bingung. Aku kira aku pernah melihatmu,” paras Young Min tampak mengingat-ngingat. Kemudian dia melanjutkan,

“Suaramu tidak asing,” ujar Young Min masih dengan tampang berpikirnya.

Tiba-tiba Jae Yeon terkekeh pelan. Young Min semakin tidak mengerti dengan gadis yang ada didepannya. Apakah ada sesuatu yang lucu darinya?

Wae…?” tanya Young Min ragu-ragu.

Ani. Aku hanya merasa aneh. Aku rasa ini pertama kalinya kita bertemu. Bagaimana bisa kau mengenalku? Melalui suara, lagi.”

Merasa pembicaraan ini akan berlangsung lama, Young Min memilih untuk duduk dibelakang bangku Jae Yeon.

Aniya. Aku yakin kita pernah bertemu sebelumnya. Kau… gadis yang aku tabrak tadi pagi. Benar kan itu kau? Gadis yang mengemasi bukunya dengan tertunduk?” Young Min tampak yakin sekarang.

“Kalau begitu…. Itu kau? Orang yang menjatuhkan buku-buku ku?” Jae Yeon pun sepertinya telah mengingatnya.

“Ahh.. Mianhae. Aku juga terburu-buru tadi,” Young Min kembali menebarkan senyumnya.

Gwaenchanha,” Jae Yeon tampak tak mau mempermasalahkannya. Dia kembali mengemasi barang-barangnya.

Yaa… kau mau kemana?”

“Aku akan pindah dari tempat dudukmu. Meskipun aku sangat menyukai duduk disini,” Jae Yeon memasang wajah tak rela, berharap Young Min akan memberikannya tempat duduknya. Terlalu berlebihan memang. Tapi itulah Jae Yeon. Sifat impulsif atau kekanak-kanakan terkadang sering muncul padanya.

“Kalau begitu kau tidak perlu pindah. Kau boleh duduk dibangkuku. Anggap saja sebagai ucapan selamat datang dan minta maaf karena menabrakmu. Bagaimana?”

Ne! tentu saja itu keputusan yang bagus. Lagipula bangku ini kan milik sekolah. Seharusnya tidak masalah kalau aku duduk disitu, ’batin Jae Yeon. Tapi dia tidak mungkin berkata seperti itu di depan Young Min yang malah akan meninggalkan kesan buruk.

“Jinjja? Gomawo,” Jae Yeon kembali duduk dengan senyum puas. Young Min ternyata tidak terlalu buruk, pikirnya.

Mereka kembali melanjutkan pelajarannya. Suasana hening kembali mengisi kelas.

Tak terasa bel istirahat pun berbunyi. Para siswa sesegera mungkin keluar dari ruangan. Ruangan yang tampaknya cukup menyiksa mereka.

Begitu juga dengan Jae Yeon yang tampak terburu-buru meninggalkan mejanya. Tapi begitu keluar dari kelas, seorang guru memanggilnya.

“Waeyo,Seonsangnim?”

“Kau bisa membantuku untuk mengembalikan ember ini ke toilet? Saya terlalu susah untuk mencari siswa yang lain karena saya sangat terburu-buru.”

“Ne, Seonsangnim,” Jae Yeon tanpa ragu & terbebani lalu mengambil ember yang ada ditangan guru itu. Beliau tampak seperti guru olahraga karena seragamnya yang berbeda serta peluit yang dikalungkan dilehernya.

“Oh keurae? Gomawo,”

“Ah animnida,” Jae Yeon tak mau mengulur-ulur waktunya untuk membawa ember itu, dia langsung bergegas demi mengejar waktu istirahat yang semakin berkurang. Karena jarak toiletnya cukup jauh.

“Itu tempatnya,” Jae Yeon melihat toiletnya didepannya beberapa langkah lagi. Maka dia mempercepat langkahnya. Karena takut ember berisi air bekas pel-an itu tumpah, dia hanya memperhatikan ke arah ember itu tanpa melihat kalau didepannya ada orang. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, air sebelanga itu pun tumpah…

Naasnya, air itu bukan tumpah saja, melainkan mengenai orang lain.

Yaa! Apa yang kau lakukan pada baju basketku?!”

 

 

Air itu ternyata mengenai baju seseorang. Jae Yeon langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah sumber suara. Ternyata itu Young Min.. sepertinya.

“Ah mianhae. Aku tadi tak sengaja,” Jae Yeon langsung panik & merasa bersalah karena kecerobohannya. Kalau saja dia tidak terburu-buru, masalah tidak akan semakin mendatanginya. Tapi dia merasa Young Min takkan semarah itu padanya. Lagipula dia tak sengaja kan? Anggapnya.

Mianhae Young Min-ah. Aku akan membantumu mencucinya,” tapi ada yang salah. Karena Young Min sepertinya tidak sedikitpun menunjukkan ekspresi memaafkan. Dia malah terlihat semakin marah.

“Mwo?! Mworago? Coba kau panggil aku sekali lagi,”

Jae Yeon sedikit heran dengan reaksi Young Min. Kenapa dia begitu marah dan sangat ingin Jae Yeon mengulang memanggil namanya lagi?

“Waeyo… Young Min-ah?”

Praaaaanngggg!!!!!

Dalam sedetik Young Min menendang ember yang masih menyisakan sedikit air dengan kerasnya. Membuat ember itu melayang berberapa meter dari tempatnya tadi. Sisa-sia air pada ember meninggalkan jejak dilantai sehingga becek. Jae Yeon bahkan terkejut & terdiam melihatnya. Begitu juga seluruh mata yang terarah pada mereka. Ini tidak mungkin Young Min yang baru saja dikenalnya tadi kan?

“Aku tidak tahu kau siapa. Dan aku rasa tidak penting untuk mengenalmu. Tapi jika sekali lagi kau memanggilku dengan nama itu…. Aku jamin aku akan membuatmu menderita lebih dari di neraka!” dia pun pergi.

Setan apa yang merasuki Young Min? Tapi, jika dia Young Min, mengapa dia bilang kalau dia tidak kenal dengan Jae Yeon yang jelas-jelas baru saja mengobrol dengannya beberapa menit yang lalu.

Untung setelahnya teman-teman yang lain membantunya membereskan lantai yang becek & mulai menjelaskan siapa namja angkuh itu.

“Dia adalah Jo Kwang Min.”

“Sepertinya aku pernah mendengar nama yang mirip dengan nama itu,”ujar Jae Yeon

“Keurom! Jo Young Min kalau kau lebih dulu mengenal kakaknya,”

“Young Min? Young Min adalah kakaknya?”

Eo. Mereka itu kembar. Apa kau tidak bisa melihat wajah mereka yang sama tapi sifatnya jauh berbeda? Kalau kau baru disini, mungkin itu wajar. Tapi kuperingatkan padamu. Jangan sekali-sekali memanggil Kwang Min dengan sebutan Young Min. Apalagi sampai kau salah mengenali mereka. Kwang Min tak akan suka.”

Wae?!” Jae Yeon semakin penasaran.

“Kwang Min itu paling benci kalau orang salah memanggilnya. Memanggilnya dengan nama Young Min seakan-akan hanya Young Min lah yang patut dikenal sedangkan dia hanyalah bayangan Young Min. Begitu orang-orang tahu dia bukan Young Min, orang-orang akan menjauhinya & menatapnya dengan aneh. Kwang Min sendiri pastinya sangat tersiksa dengan itu. Karena dia hanya bayangan Young Min.”

Tiba-tiba saja Jae Yeon merasa merinding membayangkannya. Dia tak bisa membayangkan harus menjalani hidup seperti itu. Rasa iba muncul dihatinya beserta malu karena memanggil Kwang Min dengan nama Young Min.

“Dia sering marah kalau orang memanggilnya Young Min. Dia bilang, apa mereka buta? Kenapa begitu sulit untuk membedakan dia dengan kembarannya. Wajah mereka memang sama, tapi tak bisa kah mereka melihat kalau dia sudah memperjelas perbedaan diantara mereka? Kalau Young Min lembut, maka dia harus keras. Kalau Young Min anak yang ramah & disenangi orang-orang, maka Kwang Min hanya perlu bersikap dingin. Kalau Young Min baik, maka tak ada alasan baginya untuk melakukan hal yang sama. Karena mereka memang berbeda, anggapnya. Itu sebabnya dia menjalani hidupnya untuk jauh-jauh dari hal-hal yang identik dengan Young Min. Sehingga, seperti itulah dia.. bukankah itu aneh?”

Jae Yeon menangguk. “Keundae, kalau dia tidak mau disamakan dengan kembarannnya, kenapa dia harus berada satu sekolah dengannya? Bukankah itu menyiksanya?”

Meolla.. katanya mereka hanya tinggal berdua. Ayah mereka berada diluar negeri bersama ibu tiri mereka,”

“Jadi, Eomma mereka….”

Eo,Eomma mereka sudah meninggal sejak Jo Twins masih SD. Katanya semenjak itu Kwang Min berubah menjadi seperti ini. Ayahnya tak mungkin lagi sempat untuk mengurusi mereka. Makanya dia tidak mau sulit-sulit memisahkan Young Min dan Kwang Min.”

“Waahh… kau tahu banyak ya?”

“Ah… keureomyeon. Na Jeong Min imnida, kau pasti Jae Yeon kan, murid pindahan dari Busan itu? Aksen Busanmu tidak terlihat.”

“Oh… keurae, aku hanya sebentar di Busan dan bukan orang asli sana. Jeong Min, ya? Apakah… kita satu kelas?”

Jeong Min mengangguk, “Aku tepat berada disampingmu.”

Annyeong Jeong Min-ah,” Jae Yeon tersenyum kepada Jeong Min begitu juga Jeong Min yang membalas senyuman Jae Yeon.

“Ah..aku baru teringat. Aku harus mencari Young.. ani, Kwang Min. Aku rasa aku harus bertanggung jawab karena membuatnya basah kuyup. Kalau begitu, aku pergi dulu ya!”

Jae Yeon melambaikan tangannya ke Jeong Min dan mulai bergegas mencari Kwang Min. Sepanjang perjalanannya mencari Kwang Min, dia agak sedikit sebal dengan Young Min. Kenapa dia tidak bilang kalau dia punya kembaran? Huuh.. untung Jeong Min bersedia memberitahunya tentang si kembar. Kalau tidak Jae Yeon mungkin udah siap-siap mengamuk balik kepada Young Min tanpa tau permasalahan yang terjadi.

Jae Yeon menuju ke arah Kwang Min berlalu. Mungkin dia belum jauh darisana. Dan tepat saja, Kwang Min masih belum jauh. Ternyata dia menuju ke lokernya. Jae Yeon langsung menghampirinya. Kwang Min tampak jelas kedinginan.

“Kwang Min-ah. Mianhae, aku tidak sengaja menumpahkan air itu ke bajumu. Aku sangat terburu-buru sehingga tidak memperhatikan yang ada didepanku,” kali ini Jae Yeon sengaja menyebutkan nama Kwang Min diawal dan merapalnya agar lidahnya tidak salah menyebut.

Tapi Kwang Min-seperti yang dibilang Jeong Min baru saja-tampak tidak peduli & masih sibuk membongkar-bongkar lokernya. Jae Yeon segera mengambil tindakan.

Yaa… berikan baju itu padaku. Aku akan mencucinya,”

Kwang Min malah menutup lokernya & pergi meninggalkan Jae Yeon.

“Kwang Min-ah!!” langkah Kwang Min terhenti meski tak berbalik.

Eoddi ka? Bajumu tampak sangat basah. Sebaiknya kau segera menggantinya,”

“Bagaimana aku akan mengganti bajuku kalau kau dari tadi terus menggangguku untuk berganti baju?? Neo pabo ya? Pikkheyo,” usir Kwang Min. Jae Yeon hanya bisa terbengong. Yang dikatakan Kwang Min memang benar. Jae Yeon hanya akan mengganggunya. Maka Jae Yeon memutuskan untuk berbalik pulang.

“Ya ya ya.. sekarang kau yang mau kemana? Kau ingin melarikan diri?”

Ne?”

“Ikut aku,”

Eoddi?” Kwang Min bukannya menjawab dia malah berjalan lurus kedepan. Tidak mendapat respon dari Kwang Min, Jae Yeon mencoba menuruti perintah Kwang Min untuk mengikutinya. Setidaknya dia berniat untuk bertanggung jawab. Tapi dia tiba-tiba terkejut ke arah mana mereka menuju.

Yaa.. ini kan ruang ganti cowok. Untuk apa aku kesini?”

Neo jinjja pabogateun yeoja. Kau masih belum mengerti ya? Sudahlah, tunggu saja diluar. Jangan kemana-mana,” Kwang Min lalu masuk ke ruang ganti.

Setelah beberapa menit menunggu, Kwang Min akhirnya keluar juga dari ruang ganti itu dengan menggunakan seragam sekolah.

Mwohaneun geoya? Kenapa lama sekali?”Jae Yeon mengeluh sambil memijat-mijat kakinya yang pegal berdiri dari tadi menunggu Kwang Min. Ditambah daritadi banyak namja-namja berseliweran keluar masuk melihatnya dengan aneh. Untuk apa seorang cewek berada didepan ruang ganti cowok? Huuh.. benar-benar memalukan.

Kwang Min mendengus, “Ternyata kau sabar juga ya menunggu,” kalimat Kwang Min lebih terdengar seperti kalimat sindiran daripada pujian. Jae Yeon membalasnya dengan memelototinya.

Iggo,” lalu tiba-tiba Kwang Min menyerahkan pakaiannya yang basah. Jae Yeon menatapnya mencari penjelasan.

“Kau bilang kau akan mencucinya. Ini. Besok kau harus mengembalikkannya. Arrasseo?”

Ternyata penjelasan Jeong Min sepeser pun tak ada yang salah. Kwang Min benar-benar menyebalkan . Jae Yeon jadi tak berminat untuk iba terhadapnya. Sedetik setelah menyerahkan bajunya, dia berlalu.

Jae Yeon mengutuk dirinya karena bersikap terlalu bodoh didepan Kwang Min. Dia menyesal karena telah membuat Kwang Min marah, dan berurusan dengannya. Namja arogan!

Aish…. Pabo pabo!! Kim Jae Yeon kau adalah gadis yang bodoh!”

“Siapa gadis yang bodoh?”

Yaa.. nu-” belum selesai Jae Yeon menyelesaikan kalimatnya dia dikaget kan dengan sesosok misterius.

Ani. Kau mengejutkanku Kwang… ani, Young Min-ah. Wae neo yeoggisseo?”

“Aku mencari-carimu,” jawab Young Min sambil memasang wajah serius.

Mworago?” raut wajah Jae Yeon berubah seketika menjadi merona. Dan itu mengundang tawa Young Min.

“Apa yang membuatmu sampai merona seperti itu? Hahaha…”

“Ah,aniya,” Young Min masih tidak bisa menghentikan tawanya. Jae Yeon berusaha mengalihkan pembicaraan.

Yaa keumanhae! Kalau tidak aku akan bertambah marah kepadamu!” Jae Yeon berusaha memasang ekspresi marah.

Arrasseo arrasseo. Keundae, apa yang membuatmu merasa marah padaku? Apa aku melakukan hal yang kau benci?”

“Bisa dibilang seperti itu.”

Ne?!”

“Ne!! Kenapa kau tak bilang padaku kalau kau punya saudara kembar?”

Young Min seperti terkejut saat mendengarnya dan ada raut wajah kecewa diparasnya. Tapi dengan segera dia menyingkirkannya dengan kembali tersenyum.

“Apa aku harus memberitahumu?”

“Tidak juga. Kalau kau ingin aku dibentak kembaranmu karena memanggilnya Young Min.”

Ekspresi Young Min berubah lagi. Berubah menjadi paras bersalah disertai khawatir lalu menata kembali senyumnya.

“Ah.. Kwang Min memang ‘agak’ seperti itu. Apa dia mengganggumu?”

“Tidak, hanya saja dia sangat berbeda denganmu. Kenapa dia harus sebegitu marahnya ketika aku menyebutkan namamu? Apa kalian bertengkar?” tanya Jae Yeon penasaran.

“Bertengkar? Tentu saja tidak, hanya saja..”

“Hanya saja apa?” tanya Jae Yeon semakin penasaran karena Young Min menggantung kalimatnya.

Yaa Young Min-ah, kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu? Jangan jangan kalian memang sedang bertengkar, keureoji?”

“Ah,aniya! Kami tidak bertengkar,sungguh. Hanya saja…. Kwang Min memang seperti itu, dia, sedikit sensitif. Ya, dia sedikit sensitif terhadap perempuan ,” jelas Young Min untuk meyakinkan Jae Yeon.

“Sensitif? Terhadap yeoja? Waeyo?”

“Ah sudahlah. Itu tidak begitu penting, lagi pula dia memang sedikit emosional. Jadi apabila ada perempuan yang mengganggunya, dia akan begitu.”

Kali ini sepertinya Jae Yeon percaya dengan perkataaan Young Min. Entah perkataan siapa yang benar tentang Kwang Min. Perkataan Young Min barusan dan perkataan orang orang tentang Kwang Min. Tapi Jae Yeon merasa Kwang Min takkan seburuk itu.

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

This entry was posted by boyfriendindo.

5 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Stuck With You – Chapter 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: