[FANFICT/FREELANCE] My Tears – Chapter 01

Title
: My Tears – Chapter 1
Author : KyuPpa (Latifa Nurkhalisa)
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ No Minwoo

  ~ Lee Ji Eun

Support Casts
: ~ Baek Suzy

  ~ Kwon Yuri

  ~ Tiffany Hwang

Disclaimer           : Semua cast itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Sementara FF ini terinspirasi dengan sebuah komik yang berjudul (aku lupa lagi soalnya minjem ke temen -,-‘)

A/N                        : FF ini pernah aku posting di my blog : fanfictionkyu.blogspot.com, di facebook pribadiku, dan di blog fanfic yang lain. Sudut pandang ini memakai sudut pandang orang pertama (Lee Ji Eun), terkecuali yang dicantumkan P.O.V.

 

 

~Chapter 1~

Kunyalakan TV sendirian di kamar yang mulai gelap karena senja telah tiba. Lampunya tak kunyalakan. Begitu dikelilingi oleh warna cerah dan suara TV di kamar yang gelap, aku lega seolah-olah diriku yang dibenci lenyap. Kedua orangtuaku sibuk bekerja dan selalu pulang larut malam. Seketika, aku teringat pada tulisan di internet kemarin.

Apa seseorang akan menuliskan ide bagus untukku? Cara agar aku dapat berteman dengan teman-temanku secara normal. Cara agar aku tidak menjadi manusia yang dibenci..

Kunyalakan PC dan melihat bulletin board. Disana hanya terdapat tulisan dari “Zee” dan “Nou” yang kemarin menulis.

“Zee”

                IU, kau kenapa? L Kurasa apa yang IU alami adalah penindasan.. Dulu, aku sempat ditindas, namun aku memutuskan untuk pindah sekolah dan saat ini ada seorang siswa yang menjadi penggantiku (ditindas) di sekolah baruku. Akhirnya, aku bisa berteman dengan teman-teman grupku. Kali ini aku ada di pihak orang menindas, karena aku tidak ingin ditindas seperti dahulu.. Aku juga tidak bisa meninggalkan grupku.. 🙂

“Nou”

                Annyeong haseyo..

Kurasa apa yang Zee ungkapkan memang benar. Kau sepertinya sedang ditindas.. Tapi, aku tidak setuju dengan apa yang Zee lakukan. Bukankah kau tahu bagaimana rasanya ditindas??

“Zee”

                Karena aku takut dijadikan sasaran lagi, karena tak bisa menindas. Aku ini sangat licik dan kotor. Manusia kotor itu yah seperti diriku ini.. Kalian sama sekali tidak kotor…

“Nou”

                IU-ssi, kau sama sekali tidak menulis ya?? Apa kau baik-baik saja?? Kau tidak membaca? Kau sama sekali tidak kotor..

“Zee”

                IU-ssi? Kau tak apa-apa?? Aku mencemaskanmu…

“IU”

                Kalian tidak tahu apa-apa… Kumohon jangan menulis berlebihan!!!

 

Begitu tombol kutekan, PC-nya pun mati. Aku.. Berteman dengan semua orang di grupku. Aku menelungkupkan wajahku di meja. Aku teringat dengan kejadian tadi pagi, dimana Zee dan Nou yang menganggap itu adalah penindasan. Apa menurut kalian ini adalah penindasan??

*Flashback

“Kyaaaaa!!!!” tubuhku didorong dan  terjatuh ke lantai toilet.

“Wah, dasar kotor!!!” suara tawa para gadis bergema di toilet wanita.

“Malah toiletnya yang lebih kotor karena disentuh Ji Eun!!” mereka mengatakannya tanpa memperdulikanku.

“Toiletnya kotor gara-gara bakteri Ji Eun!! Bagaimana ini, Ji Eun?!!” kepalaku pusing karena dijatuhkan sekuat tenaga. Tetapi, aku tetap tersenyum dan berkata,

“E…. He he… Mian.. Mianhae… Nanti aku bersihkan..” aku pun mencoba berdiri.

“Beri antiseptic yang benar!” para gadis itu berkata seperti itu, lalu keluar dari toilet sambil tertawa.

Mereka semua teman sekelasku, sekaligus teman-teman grup yang akrab denganku. Diantara kami, akulah yang berperan untuk ditertawakan seperti ini. Aku memeras rokku yang basah kuyup di lantai toilet. Begitu melihat rokku berkerut, air mataku serasa akan mengalir. Namun, aku menepuk pipiku dan menahan diri. Aku sama sekali tak sedih. Ini bukan penindasan. Kemarin aku menulis di bulletin board di Internet untuk pertama kalinya. Aku ingin tahu lebih banyak cara untuk akrab dengan teman-teman grupku.

Namun, semua jawaban atas tulisanku berbunyi “itu penindasan”. Itu… pasti salah!! Karena akulah yang salah. Karena akulah yang kotor… Karena aku punya sisi yang sangat memuakkan. Makanya, Guru tak berkata apa-apa walaupun melihatku dipukuli dan ditendangi. Kedua orangtuaku pun malah marah begitu melihatku pulang dalam keadaan basah dan kotor, dan berkata, “Merepotkan orangtua saja. Dasar bodoh!”

Tak kusangka, ketika menahan tangisanku dan keluar dari toilet, ada seorang pria yang sedang memperhatikanku. Sepertinya ia sudah memperhatikanku sedaritadi. Aku pun berjalan pelan seakan acuh akan kehadirannya. Aku hanya menatapnya sekilas dan pergi. Saat aku telah meninggalkan pintu toilet, ia berkata,

“Apa kau hanya diam? Apa kau tidak bergerak cepat saat diperlakukan seperti itu??” tanyanya. Sepertinya ia berbicara padaku. Karena tak ada oranglain selain kami di depan toilet.

“Apa maksudmu?” tanyaku masih tak membalikkan badan.

“Kau tahu itu penindasan?”

“Sudah kubilang! Aku tidak mau mengulanginya lagi! Ini bukan penindasan!! Ini… Ini adalah kesalahanku!! Karena aku yang kotor! Karena aku mempunyai sisi yang sangat memuakkan! Kau tahu itu?!!” aku pun berbalik badan dan menatapnya.

“Apa kau terlihat memuakkan?? Lalu, untuk apa mereka melakukan semua ini? Apa itu yang namanya teman?”

“Ah.. Kau siapa??! Aku tidak mengenalmu! Kau tidak berhak mengata-ngatai temanku!” karena muak, aku pun pergi meninggalkannya.  Siapa dia? Dia bukan siapa-siapa… Sebaiknya dia menilai dirinya sendiri sebelum orang lain. Aku pun pergi ke kelasku dengan jalan sempoyongan karena pusing.

*Flashback end

Sungguh, terkadang air mataku mengalir di pelupuk mata yang tidak indah ini.. Aku melihat, orang lain yang memiliki Ibu dan Ayah yang selalu bersamanya jika terjadi hal apapun. Sementara kedua orangtuaku bekerja sejak aku mulai mengingat sesuatu. Pekerjaan Ayah tak berlangsung lama dan gaji yang didapatkannya dengan susah payah dipakainya berjudi. Ibuku pun lembur tiap hari sehingga selalu kelelahan dan marah-marah. Beruntungnya kalian yang memiliki hidup yang sempurna. Aku akan senang jika memiliki orangtua yang peduli terhadap anaknya.. Hanya dengan itu aku bisa bahagia walau aku diperlakukan tidak baik di sekolah…

‘Padahal hidupku bisa lebih mudah andai kau tak ada.’

‘Harusnya kau tidak dilahirkan.’

Mereka selalu mengulang kata-kata itu sejak kecil. Keberadaanku tak diharapkan. Aku selalu merasa kesepian dan sedih. Tempat yang akhirnya menerima diriku yang seperti ini adalah.. grup ini.. Wajar jika diriku yang seperti ini dipukuli, ditendangi, dan ditertawakan. Ini bukan masalah… Sebaiknya, kuhapus semua memori ini dan mulai tertidur.. Besok ada ulangan harian Bahasa Jepang, aku tak mempedulikannya. Aku sudah lelah dan ingin cepat berlalu ke hari esok. Semoga saja di keesokan harinya aku mendapatkan pelangi yang tiba-tiba saja datang secara mendadak dan selalu menemaniku, menerima semua kekuranganku…

……………………….

Kudengar nyanyian burung di luar sana. Untuk apa mereka bernyanyi?? Berusaha menenangkanku? Tidak mungkin.. Pancaran matahari yang muncul ke sela-sela pelupuk mataku memaksa diriku untuk membuka mata ini. Aku pun mulai beranjak dari tempat tidur kecil ini. Setiap hari, dikala mataku terbuka, tak ada orang yang membangunkan tidurku. Tak ada suara piring di meja makan. Terkadang, aku sedih. Mengapa aku dilahirkan di dunia ini?

Aku membereskan tempat tidur, lalu membuka tirai kamar. Suasana pagi hari ini sangatlah sejuk. Setidaknya taman itu bisa membuatku tenang. Ketika melirik ke arah lain, kulihat foto keluarga kami. Raut wajah kami sangatlah ceria, menunjukkan keluarga yang bahagia. Hanya itu kenangan yang tersisa.

Aku pun menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Setelah selesai, aku pergi keluar dari kamar. Aku berharap bahwa Ayah dan Ibu sudah berada di rumah.. Untung saja harapanku ini dikabulkan walau hanya ada Ibu yang sedang tertidur di depan televisi. Aku tahu, Ayah, sebentar lagi ia akan pulang saat aku pergi ke sekolah. Dan keributan pasti akan dimulai. Dimana Ayah yang memarahi Ibu karena tidak bersikap seperti Ibu lainnya. Namun, pada akhirnya pertengkaran mereka berakhir juga dengan sendirinya.

Tanpa pikir panjang, aku berpamitan pada Ibu walau ia hanya mengangguk kecil. Entah ia mengerti atau tidak, karena ia sedang tertidur lelap. Daripada aku membangunkannya dan membuatnya terganggu, lebih baik aku pergi ke sekolah.

……………………….

“Ji Eun, selamat pagi!!” para siswi anggota grupku menggengam bahuku sekuat tenaga dan membawaku ke gedung sekolah seolah-olah menyeretku. Aku terjatuh karena tersandung anak tangga sehingga lututku berdarah. Para siswi anggota grupku tertawa sambil berkata, “Ih, kotor! Dia berdarah!” aku tersenyum tipis.

“Maaf, nanti kuberi antiseptic.” Aku berdiri sambil tertawa walaupun merasa sangat kesakitan.. begitulah biasanya aku.

“Baiklah.. Kuharap secepatnya.. Ayo!” Yuri dan yang lainnya pergi meninggalkanku untuk pergi ke kelas.

“Ah…” darah mulai berjatuhan sedikit demi sedikit. Aku pun segera membuka kotak obat yang sudah kupersiapkan seperti biasanya. Setelah selesai, aku perusaha untuk berdiri karena ini bukanlah luka yang amat sangat serius. Namun, aku dikejutkan oleh seseorang yang sedang memperhatikanku di depan. Ah, bukan. Bukan memperhatikan. Tapi, mengasihaniku..

“Kau lagi?” ujarku. Aku tak mengenalinya. Ia adalah pria yang kemarin berada di depan toilet.

“Apa? Penindasan lagi?”

“Bukan! Sudah kubilang beribu kali!”

“Sudah beribu-kah? Menurutku baru dua kali..”

“Dua kali atau satu kali, aku sudah lelah mengucapkannya…” aku pun pergi naik tangga menuju kelas. Kurasa ia juga pergi. Karena aku tak mengenalinya. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Padahal kami satu sekolah..

…………………..

Waktunya istirahat. Aku beserta teman grupku yang lain segera menghampiri cafeteria sekolah untuk mendapatkan makan siang. Seperti biasanya, aku mengikuti kemana mereka pergi. Aku heran melihat Suzy. Kali ini dia terlihat lebih feminine dari sebelumnya. Hmm, apa karena seseorang?

“Suzy-ya! Youngmin! Itu Youngmin!!” bisik Tiffany saat melihat Youngmin dan beberapa temannya pergi untuk makan siang juga. Hmm, Youngmin? Yang mana? Ada banyak pria disana.. Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya..

“Dimana? Ah! Senangnya…” ujar Suzy dengan suara kecil karena takut terdengar olehnya.

“Youngmin? Siapa?” tanyaku. Semua teman grupku melihat padaku.

“Kau tak tahu? Dia murid baru.. Dan Suzy ini menyukainya..” jawab Yuri. Suzy hanya tersenyum malu.

Aku yakin, Youngmin juga pasti akan menyukainya. Dia cantik, kaya, dan sempurna.. Tentunya memiliki keluarga yang sempurna juga. Tidak sepertiku.. Sebenarnya banyak pria yang menyukainya, namun Suzy hanya membuka hatinya untuk Youngmin. Dan semua keinginannya harus terpenuhi.

“Youngmin kesini!” bisik Tiffany yang melihat Youngmin dan teman-temannya melewati meja kami.  Suzy segera diam dan berusaha tidak terlihat aneh.

“Annyeong, Youngmin?” sapa Suzy.

“Hmm, Suzy Bae?”

“Berhentilah memanggilku seperti itu..”

“Baiklah.. Oh ya, aku duluan, ya. Temanku sudah menungguku..”

“Ya…” Aku tak sempat melihat siapa pria itu karena Youngmin berada di belakang kursi yang kududuki. Saat aku menoleh ke belakang, dia sudah pergi.

“Ekhmmmm….” Terdengar dari seluruh teman grup. Suzy hanya tersenyum malu.

………………

……………..

 

Pagi hari yang cerah. Di dalam bus menuju piknik, suara Guru terbang diatas kepala para siswa yang riuh rendah. Hari ini kami akan naik gunung dan memasak di udara terbuka di tepi sungai.

“Ayo duduk bersama orang yang telah ditentukan!” teriak Guru di dalam bis. Guru berkata begitu namun semua siswa duduk bersama grup yang akrab dengan mereka semaunya.

“Aku tidak mau mati karena duduk di samping Ji Eun!!”

“Aku bisa tertular bakteri!!” para siswi yang segrup denganku berbuat gaduh secara berlebihan.

“Kenapa? Apa Ji Eun pakai baju bau lagi?” Yuri berkata dengan nada mengejek. Semuanya tertawa.

“Bukan bau tapi kotor!”

“Itu sih sama saja..” suara tawa mereka makin keras. Aku pun duduk sendirian di tengah keramaian sambil tersenyum tipis.

………………

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami memasak kari di udara terbuka. Bahannya kami bawa masing-masing sesuai dengan jumlah yang kami sepakati bersama. Aku menaruh kentang yang kubawa diatas bangku santai yang dihamparkan di tepi sungai.

“Apa ini, Ji Eun?!” Tiffany bicara dengan suara keras.

“Ini… ya, kentang..”

“Kok kamu Cuma bawa dua buah?!”

“Eh? Itu jumlah yang disepakati bersama. Semua bilang ‘kentangnya bawa dua buah’. Kita kan sudah sepakat?”

“Kita kan berenam. Kamu kira dua buah kentang cukup untuk memasak kari untuk 6 orang? Konyol!!”

“Keluarganya kan miskin, jadi bukannya mereka menghemat bahan untuk memasak kari??” suara tawa  terkekeh-kekeh dan keras menyelimutiku.

“Maaf..” ujarku menunduk.

“Kalau punya waktu untuk minta maaf, lakukanlah sesuatu! Kalau kau tidak membawa kentang, kita tidak bisa masak kari!!”

“Lakukan sesuatu!!”

“Tundukkan kepala pada kelompok lain agar mereka mau membagi kentangnya. Cepat!!” suara Yuri terdengar seperti sangat marah. Aku pun lari terburu-buru dan berkeliling ke kelompok lain.

“Permisi.. Bolehkah saya meminta sedikit kentang? Kumohon…” kucoba menundukkan kepala pada mereka. Namun, usahaku sia-sia.

“Permisi.. Apakah ada kentang yang tidak terpakai?”

“Apa saya bisa meminta sedikit kentang?” beribu kata kuucapkan pada semua murid yang berada disana. Dan harapan tinggal satu kelompok lagi. Semoga saja..

“Permisi.. Saya Lee Ji Eun… Apa kalian memiliki kentang yang lebih? Apa saya bisa memilikinya? Kumohon.. Saya tidak memiliki banyak kentang.. Saya lupa membawanya..” ucapku panjang lebar. Namun apa yang mereka jawab. “tidak.” Ah, jawaban yang menyakitkanku. Terlebih itu adalah kelompok pria yang sering melihatku ketika aku di perlakukan seperti biasanya oleh teman grupku.

“Kau? Pasti penindasan lagi.. Ah, bukan.. Dia sudah mengatakannya beribu kali..” gumam pria itu. Ingin rasanya kucabik-cabik wajah dan mulutnya. Tapi, ini semua demi sebuah kentang. Setelah menundukkan kepala, mereka tetap tidak bisa memberikan kentangnya padaku.

Tentu saja tak ada kelompok yang membawa kentang lebih sehingga aku kembali dengan tangan hampa. Saat melihatku begitu, gadis-gadis di grupku memarahiku dan mendorongku sambil berkata, ”Kok setelah menundukkan kepala malah pulang dengan tangan hampa?!” sampai aku terjatuh ke dalam sungai.

“Hei! Kami mau cuci wortel di sungai itu! Jangan kotori air sungainya, bakteri Ji Eun!!” semua menatapku yang tak kunjung bisa berdiri di tengah arus sungai sambil tertawa.

*TBC (To Be Continued)

Chingu, aku tunggu comentnya ya!! Makasih yang udah mau baca! Don’t be a silent reader!😀

This entry was posted by boyfriendindo.

5 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] My Tears – Chapter 01

  1. ji eun punya masalah apa sie..? kok kayanya sengsara amat ya hidupnya…
    karena part 2nya dah ada jd next chap aja ya thor…

  2. omg!! ini tu nyebelin banget -_-
    yg bilang “penindasan lagi” itu si youngmin ya?
    ahh IU gk ada niat buat nolak apa? sebenernya dia sadar kan kalo mereka itu bukan bener2 temen :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: