[FANFICT/FREELANCE] My Tears – Chapter 02

Title
: My Tears – Chapter 2
Author : KyuPpa (Latifa Nurkhalisa)
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ No Minwoo

  ~ Lee Ji Eun

Support Casts
: ~ Baek Suzy

  ~ Kwon Yuri

  ~ Tiffany Hwang

Disclaimer : Semua cast itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Sementara FF ini terinspirasi dengan sebuah komik yang berjudul (aku lupa lagi soalnya minjem ke temen -,-‘)

A/N : FF ini pernah aku posting di my blog : fanfictionkyu.blogspot.com, di facebook pribadiku, dan di blog fanfic yang lain. Sudut pandang ini memakai sudut pandang orang pertama (Lee Ji Eun), terkecuali yang dicantumkan P.O.V.

 

 

~Chapter 2~

”Kok setelah menundukkan kepala malah pulang dengan tangan hampa?!” sampai aku terjatuh ke dalam sungai.

“Hei! Kami mau cuci wortel di sungai itu! Jangan kotori air sungainya, bakteri Ji Eun!!” semua menatapku yang tak kunjung bisa berdiri di tengah arus sungai sambil tertawa.

Akhirnya, aku dapat berdiri di tepi sungai dalam keadaan basah kuyup.

“Wah, basah kuyup. Sepertinya dingin…” Tahu-tahu ada seseorang yang bicara lembut padaku. Hatiku yang membeku melebihi tubuh ini menjadi hangat. Dalam sekejap saja dia berkata, “Biar kuhangatkan dirimu!” Setelah memandang wajahnya, aku pun mengelak untuk mengikutinya. Dia adalah pria yang selalu mengasihaniku itu! Membuatku malu saja! Mengapa dia tiba-tiba bersikap baik seperti ini?

“Youngmin?” ujar Suzy.  Apa? Diakah Youngmin itu? Karena melamun, tak kusangka ia memegangku dan tiba-tiba saja aku berada di tenda miliknya. Pria itu memegang pemantik api, berpura-pura menyalakannya dan mendekatiku.

“Tidak… Hentikan!!” teriakku. Aku takut Suzy marah. Tapi tidak mungkin dia marah padaku. Apalagi cemburu padaku, karena aku ini hanyalah wanita biasa.. Youngmin menahanku yang hendak kabur dan berkata,

“Kau kenapa? Kau akan masuk angin!”

“Kumohon.. Hentikan!!”

“Kau berlebihan. Kau tidak akan mati karena pemantik api,”

“Mati pun tidak masalah..”

“Kau bakal mati karena bakterimu sendiri??”

“Ah, kau siapa??” aku pun pergi dari sana.

“Dia bakteri Ji Eun!”

“Cepatlah mati!”

“Kami yang akan mengadakan upacara pemakamanmu, jadi cepatlah mati! Itu demi dunia dan umat manusia!!” suara itu yang terdengar saat aku berjalan pergi menghampiri teman grupku. Mereka malah tertawa melihatku dalam keadaan basah kuyup seperti ini.

………………

Ini permainan.. Sesama teman.

‘Cepatlah mati!!’

‘Itu demi dunia dan umat manusia!; aku pulang ke rumah dan duduk di depan PC-ku dengan baju lembab. Mereka temanku.. Tapi aku sengsara. Hubungan pertemanan ini membuatku sengsara.. Siapa saja, jawablah aku. Aku melihat bulletin board yang kutulis sendiri. Dan perasaanku jadi berat.

“Zee”

                Maaf, aku melukaimu.. Aku ini tak berperasaan ya??

“Nou”

                Ayo kita pikirkan pelan-pelan… Kami ini pendukungmu..

“Pendukung..” mereka bukan grup atau temanku, tapi “pendukung”. Aku mulai mengetik dan menulis semua kejadian hari ini. Baik soal di dalam bus, soal didorong ke sungai, ataupun soal ketika ada yang berkata “Cepatlah mati”. Aku menuliskan semua itu dan menunggu jawaban.. Belum tentu mereka membacanya sekarang. Tapi aku tetap menunggu. Aku ingin membaca kata-kata mereka. Dan jawaban baru pun segera ditulis.

“Zee”

IU  pasti sedih. Mungkin kau belum ingin membaca kata “penindasan”. Tapi aku membaca tulisanmu dan airmataku tak bisa berhenti mengalir…

“Nou”

Di dunia ini tak ada orang yang berhak dilukai. Itu menyedihkan… Bersabarlah.. Suatu saat, kau pasti akan mendapatkan semua yang kau inginkan..  

Tenaga dan tubuhku lenyap. “Teman-temanku” selalu tertawa saat melihat diriku bersedih dan sengsara. Tapi mereka ini menangis untuk kesedihan dan kesengsaraanku. Tak terasa, aku pun terlelap dalam tidurku.

………………….

Esoknya aku berjalan sampai ke depan sekolah dan kakiku tak dapat bergerak karena kram. Aku amat.. sangat takut masuk sekolah.

“Lee Ji Eun?” seorang pria menyapaku di depan gerbang sekolah. Ya, dialah Youngmin.

“Youngmin?” jawabku tidak percaya. Untuk apa seorang pria sepertinya menyapaku?

“Kau tak apa??” aku pun menggelengkan kepala dan menghindar darinya.

“Aku duluan..” setelah itu, aku tak tahu apa yang dilakukan Youngmin.

“Lee Ji Eun!!!” sapa teman-teman grupku di depan kelas. Aku pun tersenyum dan menghampiri mereka semua.

“Berikan aku uang kompensasi!” tiba-tiba wajah mereka menjadi serius.

“Aku tidak punya uang..”

“Kau kan cukup mengambilnya dari dompet orangtuamu. Walaupun miskin, mereka pasti punya uang walau sedikit.” Mereka masuk ke kelas sambil tertawa.

“Besok kamu harus membawanya, atau nasibmu akan lebih sengsara!”

“Karena jika kau mati pun takkan ada yang sedih!!” suara tawa memenuhi gedung sekolah seolah-olah hendak melumatku. Mana bisa kuambil uang mereka? Itu namanya mencuri. Tapi jika uangnya tak kubawa, mereka bilang nasibku bakal lebih sengsara.. Memang akan seperti apa nasibku?? Kalau nasibku akan lebih sengsara, aku akan diapakan? Padahal aku sudah banyak menderita… Aku benci neraka ini. Tiba-tiba ada seseorang yang menubrukku dari belakang. Sepertinya ia sedang terburu-buru.

“Ah, mianhae, Ji Eun…” ujar Suzy. Dia memang baik, tapi dia juga seperti teman grupku yang lain.. Aku hanya mengangguk dan menunduk. Suzy pun berlalu masuk ke kelas.

……………………

Sepulang sekolah, aku segera pulang ke rumah tanpa pergi kemanapun. Hari ini Ayah dan Ibu ada di rumah. Jadi, aku harus segera pulang.

“Aku pulang..” ujarku saat masuk ke dalam rumah. Walaupun Ayah dan Ibu ada di rumah, tapi mereka tidak menyahutnya sama sekali.

“Eomma?” kusapa Ibu yang sedang memasak di dapur. Baru kali ini aku melihatnya memasak di dapur. Ayah juga sedang menonton televisi di ruang keluarga. Setelah memastikan bahwa mereka ada di rumah, aku segera masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaianku.

“Siapa ini?!!” tak lama, terdengar suara keributan dari ruang tengah. Ada apa? Pasti Ayah dan Ibu sedang ribut.. Aku tak mau dengar suara mereka. Aku sudah lelah mendengarkan mereka. Pasti semuanya karena aku.. Anak yang tidak berguna bagi mereka semua.. Sebaiknya aku tidak membebani mereka.. Aku harus tinggal di tempat kost. Hari ini juga.. Aku pun segera mengemasi barang-barangku ke dalam tas yang cukup besar. Setelah itu berpamitan pada orangtuaku. Wajah mereka terlihat bingung ketika melihatku membawa tas yang cukup besar.

“Kau mau kemana?” Tanya Ayah.

“Appa, Eomma, aku minta izin… Sebaiknya aku tinggal sendirian di rumah kost daripada membebani kalian berdua.. Apa diizinkan?”

“Ah, baiklah. Pintar juga kau ini..”

“Jaga dirimu baik-baik.. Ini uang untukmu..” ujar Ibu memberikan sedikit uang.

“Tidak.. Ini untuk Eomma dan Appa saja.. Aku memiliki tabungan sedikit. Semoga bisa mencukupi kehidupanku.. Appa, Eomma, aku pergi..” aku pun berpamitann pada mereka berdua dan pergi. Rasanya airmataku ingin keluar. Aku tak bisa menahannya lagi. Tapi, aku harus membuat mereka senang tanpa kehadiranku.

Akhirnya, aku mulai mencari tempat kost yang dekat dengan sekolah. Walau tidak dekat dengan sekolah, yang penting harganya murah. Dan kudengar, ada salah satu tempat kost di dekat sini. Semoga saja harganya terjangkau olehku..

“Annyeong haseyo.. Apakah saya bisa bertemu dengan pemilik kost ini?” ujarku pada seorang Ahjussi di depan gerbang rumah bertingkat itu. Tapi, modelnya tidak sebagus rumahku yang dulu.

“Ne.. Saya sendiri.. Apa kau ingin mencari kamar kost?”

“Ne..”

“Ah, untung saja.. Ada satu kamar yang kosong.. Ini kuncinya, di nomor 12..”

“Mianhaeyo, ehmmm, apa.. Ehmm, berapa harga satu bulannya??”

“Ah, karena kamar ini satu-satunya kamar yang kosong saat ini, lalu ruangannya juga tidak terlalu besar, maka Rp300.000 saja sudah cukup..”

“Apa? Apa bisa dikurangi??”

“Hai! Ini sudah harga paling murah.. Harusnya Rp370.000, tapi ini harga khusus.. Atau kau ingin aku menetapkan harga awal??”

“Ah, animnida.. Baiklah.. Apa bisa dicicil? Aku akan memberikannya Rp100.000 dahulu..”

“Ah, tidak apa-apa.. Kau pelajar kan? Aku akan menunggu uangnya setelah kau genap satu bulan disini..”

“Ah, jinjjanayo??? Ghamsahamnida, Ahjussi..”

………………..

Setelah mendapatkan kamar, aku pun segera mencari dan mencari. Saat hendak naik tangga, tas koper yang kubawa pun jatuh di lantai karena berat. Dengan terpaksa, kucoba angkat tas itu sedikit-demi sedikit.

“Biar kubantu..” tiba-tiba saja datang seorang pria dari belakangku. Ia mencoba untuk membawakan tasku. Sepertinya ia seorang pelajar murid SMA, karena saat itu ia sedang memakai seragam sekolah.

“Ah, tak usah.. Gamsahamnida..” kucoba menariknya lagi dan akhirnya aku yang membawa tasku sendiri. Ia mengikutiku dari belakang. Sepertinya ia juga tinggal disini.

“Kau orang baru disini?” tanya pria itu. Aku pun mengangguk.

“Kau di kamar mana?”

“12…”

“Jinjja? Aku di nomor 11.. Di depan nomor 12.. Baguslah, kita bisa jadi tetangga..” aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil.

“Ah, sudah sampai..” aku pun berpamitan dengan tersenyum padanya lalu mencoba membuka pintu. Kulihat dia memperhatikanku sampai masuk ke dalam kamar. Aku hanya bisa tersenyum kecil.

……………

Pagi harinya, aku sudah siap untuk pergi ke sekolah, setelah itu mencari pekerjaan part-time. Saat kubuka pintu, pria si nomor 11 itu juga keluar. Dan akhirnya kami pergi ke depan gerbang rumah bersama.

“Kurasa kita sudah sampai,” ujarnya setelah sampai di depan gerbang rumah.

“Ekhmmm?? Kalian pacaran ya??” tiba-tiba si pemilik rumah datang.

“Ah, Ahjussi… Tidak.. Kami berteman..”

“Teman?” tanyaku. Minwoo pun mengangguk. Mengapa semua orang berbicara teman? Apa itu teman?

“Aku duluan..” aku pun segera pergi dari rumah itu dengan terburu-buru.

“Hai, kau membuatnya sakit.. Dia menyukaimu. Mengapa kau menganggapnya hanya sebagai teman?” sambung Ahjussi.

“Bukankah kita teman? Menyukaiku? Ah, tidak mungkin… Ahjussi, aku pergi dulu ya…”

………………….

Begitu aku ke sekolah, para siswi anggota grupku menunggu di gerbang sekolah.

“Lama sekali,” mereka mengepungku sambil tersenyum dan membawaku ke halaman belakang.

“Mana uangnya?” begitu kugelengkan kepala, kerahku digenggam.

“Jadi kau tak mencurinya?!!! Dasar pengecut!!” mereka memukul wajahku tanpa ragu.

“Mati saja kau! Itu demi dunia!!” aku menggeleng dalam hati terhadap mereka yang membentak sambil tersenyum dalam kondisi dipukuli. Aku takkan mati.. Tidak akan! Aku takkan kalah oleh hal semacam ini! Sekujur tubuhku dipukuli sampai memerah dan membengkak.

“Kau senang karena kami mau berteman denganmu, bukan?”

“Berterimakasihlah pada kami yang mau jadi temanmu!!” mereka berkata begitu lalu pergi. Aku berdiri perlahan-lahan. Tubuhku penuh memar. Kakiku terasa sakit tiap berjalan. Jika ada yang lebih buruk daripada ini, mungkin aku bernar-benar akan terbunuh.

“Aaaaah…” kupegang luka yang ada di bibir dan hidung. Rasanya sakit sekali. Setelah dipukuli dengan kekuatan mereka semua secara bergantian, aku tidak bisa mengelak.

“Kau kenapa?” Tanya Youngmin. Tiba-tiba saja dia muncul di halaman belakang sekolah. Kuberikan tatapan sinis padanya.

“Kau? Kenapa kau baru saja datang sekarang huh?!! Jika kau datang sejak tadi kau bisa menolongku!!”

“Kau kenapa?”

“Kenapa?! Kenapa semua orang selalu datang terlambat untuk menolongku?!!!”

“Hidungmu…”

“Aku tahu!! Aku sudah terbiasa dengan semua ini!! Kau tidak perlu memberitahuku! Terimakasih!!” aku pun segera mencoba beranjak pergi dari halaman belakang sekolah.

“Tunggu! Setidaknya aku menolongmu! Jika tidak, siapa yang akan menolongmu?!” hentakkan kakiku pun terdiam sejenak.

“Aku tahu! Tidak akan ada orang yang akan menolongku… Maka dari itu, aku berterimakasih padamu karena telah mengasihaniku..”

“Biarlah apa yang akan kau nilai dari diriku. Tapi, kurasa aku tidak seperti itu…” tiba-tiba Youngmin merangkulku dari belakang. Seketika tubuhku mulai lemas dan pandanganku mulai kabur. Akhirnya, dunia ini terasa gelap.

…………………..

Suzy P.O.V

Setelah semua teman grupku memukuli Ji Eun, rasanya aku tak ingin melihatnya. Tapi, semua ini kupaksakan. Tak lama, kulihat Youngmin yang mengunjungi Ji Eun di halaman belakang sekolah. Seketika saja hatiku mulai merasakan cemburu yang sangat dahsyat. Aku tidak pernah melihat sosok Youngmin yang sangat peduli pada seorang wanita. Apa ia menyukai Ji Eun? Apa hal yang istimewa dari Ji Eun? Apa karena ia selalu ditindas? Apa aku harus ditindas dahulu agar Youngmin menyukaiku?

“Aaaa!!” teriakku. Semua teman grupku mendengarnya.

“Ada apa, Suzy??” tanya Yuri. Mereka pun melihat ke arah tatapanku.

“Youngmin?”

“Siapa itu?”

“Dia pasti sengaja..” tiba-tiba saja Tiffany angkat bicara.

“Maksudmu?”

“Wanita itu Ji Eun, bukan? Dia pasti sengaja melakukannya agar Youngmin menyukainya.. Lihat saja, dia pura-pura tidak sadarkan diri kan? Sepertinya dia tadi baik-baik saja..”

“Kau benar! Ia pikir Youngmin memiliki type wanita sepertinya? Hanya menambah bakteri saja!”

“Suzy, kau tidak harus diam saja. Kau tidak boleh kalah dengannya. Lihat saja nanti..” ujar Yuri. Kali ini, aku mulai terpengaruh grupku. Kali ini juga aku membenci Ji Eun. Dulu, sebenarnya aku tidak suka mereka semua menindas Ji Eun. Tapi kali ini, aku harus bersikap tegas!

Suzy P.O.V end

…………………

#TBC (To Be Continued)

Chingu, aku tunggu comentnya ya!! Makasih yang udah mau baca! Don’t be a silent reader!😀

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] My Tears – Chapter 02

  1. wahhh aku yg emosi kek nya :3
    aku pengen IU itu lebih tegas, sedikit kasih perlawanan kek.
    itu tetangga nya IU si minwoo ya? apa mereka bakal akrab??
    dan youngmin, dia suka IU? sejak awal? tapi kalo perasaan nya cuma kasian lu gugur jadi adek kesayangan beb *getok youngmin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: