[FANFICT/FREELANCE] My Tears – Chapter 04

Title
: My Tears – Chapter 4
Author : KyuPpa (Latifa Nurkhalisa)
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ No Minwoo

  ~ Lee Ji Eun

Support Casts
: ~ Baek Suzy

  ~ Kwon Yuri

  ~ Tiffany Hwang

Disclaimer : Semua cast itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Sementara FF ini terinspirasi dengan sebuah komik yang berjudul (aku lupa lagi soalnya minjem ke temen -,-‘)

A/N : FF ini pernah aku posting di my blog : fanfictionkyu.blogspot.com, di facebook pribadiku, dan di blog fanfic yang lain. Sudut pandang ini memakai sudut pandang orang pertama (Lee Ji Eun), terkecuali yang dicantumkan P.O.V.

 

~Chapter 4~

Setelah semua aktivitasku hari ini selesai, aku segera pulang ke rumah. Rumah kost tentunya. Karena lelah, aku segera duduk di kursi depan rumah. Saat itu juga, Minwoo muncul.

“Hai? Kau sudah pulang?” sapanya.

“Ne. Kau juga?”

“Ne… Oh ya, ini..”

“Apa ini?” tanyaku saat melihat roti yang ia berikan.

“Sepertinya kau kelaparan. Makanlah…” dan benar saja, ternyata suara perutku terdengar olehnya. Ah! Membuatku malu saja! Perutku, kumohon.. Berhentilah.. Jangan sampai Minwoo bertahan untuk tertawa seperti itu. Aku hanya bisa tersenyum malu dan memakan roti itu.

“Wah, bajunya sudah kering..” Minwoo melihat baju si pemilik rumah yang sudah kering di jemuran. Seketika, aku teringat dengan baju olahraga yang basah itu! Omo! Aku harus segera mengeringkannya! Hari sudah mulai sore dan otomatis sinar matahari akan berkurang..

“Kau mau kemana?” tanya Minwoo yang melihatku yang terburu-buru.

“Baju olahragaku basah. Tepatnya bukan milikku. Aku harus mengeringkannya..” jawabku sambil memakan roti yang ada di dalam mulut ini.

“Baiklah.. Ekhmm habiskan dulu rotinya..” sindir Minwoo.

“Ah, gomawo..” jawabku dengan tersenyum malu.

……………….

Malam hari, kurebahkan tubuhku di kasur. Aku teringat akan kejadian hari ini. Dimulai dari teman-temanku, dan yang lainnya.

“Apa Zee dan Nou menulis lagi di bulletin board?” aku pun segera mendekati laptop yang kusimpan di meja kecil. Tapi, mereka tak menulis lagi. Rasanya aku ingin menulis sesuatu untuk mereka. Semoga mereka semua bisa merasakan apa yang saat ini kurasakan.

“IU”

Apa kabar Zee dan Nou? Hari ini, aku memiliki banyak peristiwa. Setelah aku pindah ke rumah kost, semuanya berubah. Tapi tetap saja keadaanku di sekolah tidak berubah sama sekali. Apa kalian ingin mendengarkan curahan hatiku?

“Nou”

Aku baik-baik saja.. Tapi, aku tidak baik jika melihat kau dilukai.. Aku ikut merasakannya.. Hmm, syukurlah.. Ayolah bercerita… Semoga saja kami bisa membantumu..

“IU”

Gomawo…🙂 Tadi pagi karena aku tidak membawa uang yang mereka pinta, aku dipukuli oleh mereka semua. Tapi, aku hanya bisa diam. Untung saja ada seorang lelaki yang akhir-akhir ini banyak membantuku. Dan sekarang ia meminjamkan baju olahraga untukku karena baju olahragaku dimasukkan ke dalam ember kotor oleh mereka. Tapi, baju olahraga milik lelaki itu malah dimasukkan ke dalam ember juga. Aku tahu, teman diantara grup kami menyukai lelaki itu. Tapi, apa salah jika ia menolongku? Lagipula ini bukan hubungan apapun.. Saat aku menjauh darinya, ia tetap mencoba menolongku. Lalu, apa yang harus kulakukan?

“Nou”

Kurasa mereka semua teman yang aneh. Semoga kau bisa bersabar.. Hmm, apa kau tidak memanggil Guru?

“IU”

Aku tidak berani.. Aku tidak mau dan takut berubah.. Aku masih dan akan tetap seperti ini.

“Nou”

Jika kau tetap seperti ini, apa yang akan terjadi selanjutnya? Jangan putus asa seperti itu!

“Zee”

Hai. Kalian berbicara tanpa aku. IU, aku sedih membaca tulisanmu diatas.. Tapi, aku juga senang ada yang peduli padamu. Kau juga sudah pindah rumah? Pasti memiliki teman baru? Syukurlah.. IU, benar yang Nou katakan. Kau tidak boleh menyerah! Aku, sebagai orang yang pernah menindas oranglain dan sekaligus pernah ditindas juga, aku merasakan apa yang kau rasakan.

“IU”

Kau baru muncul, Zee? Hehe.. Ya.. Tapi, untuk saat ini belum ada orang yang bisa menggerakkan hatiku untuk berubah.. Kalian juga termasuk orang yang membuatku semangat. Tapi, semangat ini belum sempurna. Aku masih memiliki sesuatu dan akhirnya aku mengurungkan niatku untuk berubah…

Setelah kucurahkan semua kisahku pada mereka berdua, aku segera menghampiri tempat tidurku. Namun, saat aku hendak memejamkan mata, bayangan baju olahraga yang basah itu menghampiriku lagi. Aku teringat dan mencoba melihat baju olahraga yang belum kering. Tentu saja. Karena kukeringkan di jendela kamar (?). Akhirnya, aku membawanya dan mencoba mencari mesin cuci di rumah kost. Syukurlah, Ahjussi memiliki mesin cuci dan aku bisa mengeringkannya disana. Karena takut terlalu lama, aku pun menunggu baju yang dikeringkan itu di mesin cuci.

…………………

Pagi hari yang cerah, matahari sudah menampakkan sinarnya. Tak terasa, mataku juga ikut terbangun. Namun, ternyata aku masih berada di dapur. Aku ingat! Tadi malam aku menunggu baju olahraga ini dan akhirnya ketiduran. Ah, tak apa.. Yang terpenting adalah baju ini kering.

………………..

Sesampainya di sekolah, aku segera mencari keberadaan Youngmin di kelasnya. Namun, apa yang terjadi. Dia tidak ada. Tidak ada dimanapun.. Kemana dia? Setelah aku kelelahan membuat baju ini kering, ia tak ada. Apa ia mempermainkanku?

“Annyeong.. Apa kalian melihat Youngmin?” sapaku pada teman prianya di kelas.

“Youngmin? Sepertinya belum datang. Atau bahkan tidak akan datang? Aku tak tahu..”

“Benarkah? Oh.. Tapi, apa hari ini kalian berolahraga?”

“Olahraga? Kurasa tidak..”

“Benarkah?! Oh ya, tolong berikan baju olahraga ini padanya. Tolong sampaikan terimakasih atas kebohongannya… Gomawoyo… ” setelah mengetahui kebohongan Youngmin, aku segera pergi ke kelas. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia benar-benar mempermainkanku. Aku yang sudah berusaha membuat baju itu kering, dia malah mempermainkanku..

……………………..

Suzy P.O.V

“Ma-maaf..” Ji Eun didorong dan terjatuh di lantai, Dia membentur rak alat makan sehingga menimbulkan suara keras. Ini kelas persiapan PKK. Latihan masak usai dan saatnya beres-beres. Ji Eun menginjak kain pel yang dibawa Yuri sehingga para siswi di kelas menyalahkannya. Saat mereka mengawasi Ji Eun, polanya selalu begitu. Yuri sengaja bertindak seolah Ji Eun gagal dan mereka menyalahkan kegagalannya itu.

“Kain pelku ada berkas kakinya. Akan kubalas dengan hal yang sama!!” Yuri berkata begitu dan menginjak Ji Eun. Ji Eun tak melawan lagi. Karena ia tahu, jika melawan maka ia akan dikasari lebih parah. Makannya dia diam dan menunggu badai berlalu sambil mengerutkan tubuhnya. Aku menatap sosok Ji Eun dan memalingkan tatapan agar yang lain tidak tahu. Tapi suara tawa mereka semua tetap saja masuk ke telingaku, dan membuatku sengsara. Begitu mereka menginjak Ji Eun seperti Yuri, Yuri membawa gunting kain dari kelas PKK.

“Perlihatkan kali jelekmu pada semua orang!” Yuri berkata begitu lalu memotong rok seragam Ji Eun.

“Ja.. Jangan!!” semua tertawa saat mendengar jeritan Ji Eun. Semua memegang gunting itu bergantian dan memasukkannya ke dalam rok Ji Eun.

“Suzy!” Yuri memanggilku. Mungkin wajahku sudah pucat. Semua menatap satu-satunya penonton yang tidak tertawa di tengah-tengah pertunjukkan. Yuri menatapku dengan tatapan seolah-olah mencurigaiku. Aku mengeluarkan tangan pada Yuri.

“Aku juga..” dia memberikan gunting itu padaku. Gunting yang beratnya mengejutkanku itu mengandung kehangatan karena dipegang oleh mereka semua. Aku memasukkan gunting itu ke dalam rok Ji Eun sambil gemetar. Dengan begini, mereka takkan tahu apakah aku memotongnya atau tidak. Aku cukup berpura-pura memotongnya. Aku akan baik-baik saja. Saat berpikir begitu, guntingnya gemetar dan menyentuh kaki Ji Eun.

“Ah!” darah merah mengalir di kaki putih Ji Eun. Aku menjatuhkan gunting itu tanpa berpikir. Semua pun terkejut dan buru-buru kabur dari ruang persiapan.

“Bilang kalau itu kau lakukan sendiri!!”

“Awas kalau kau mengadu!!” aku pun berlari menyusul grupku dari ruang persiapan. Aku tak bisa melupakan darah merah di kaki Ji Eun. Aku tidak sengaja.. tidak sengaja… Tapi akulah yang telah melukai kakinya dengan gunting!!

Aku sangat menderita sehingga hampir tumbang di tengah jalan. Aku memegang siswi anggota grupku yang segera berlari menghampiriku. Lalu dia pun berteriak, “A… Apa-apaan kau?!! Kau memuakkan! Lepaskan!”

“Suzy? Apa yang kau lakukan? Jika kau membencinya, tidak seharusnya kau melakukan itu!” para siswi yang ada bersamanya pun melihatku dan berkata,

“Apa-apaan dia?! Dia seperti mau mati! Amit-amit!!” semuanya berlari. Aku tumbang di koridor yang tak ada orang. Kucoba bernafas namun tak bisa.. Sesak… Sesak!! Aku menggenggam dadaku sambil bernafas berat. Nafasku sesak.. Siapa saja.. Tolong!! Nafasku sesak..

“Hei.. Ada apa?” suara langkah kaki beberapa orang mendekatiku bersama dengan suara itu.

“Ada apa? Kau baik-baik saja?” siswi yang tak pernah kulihat membopongku.

“Tunggu, mungkin sebaiknya kau jangan bergerak! Biar kupanggilkan dokter!”

“Ya, cepatlah!!”

“Nafasmu sesak? Tenang, dokter akan segera tiba.” Siswi itu menggosok punggungku dengan sungguh-sungguh. Berkat itu aku kembali tenang.

“Sudah sembuh? Syukurlah..” para siswi tersenyum ceria. Senyum mereka berkilau.

“Terimakasih..” aku berdiri perlahan-lahan.

“Ah, kurasa dokter sudah mau sampai. Bagaimana kalau kau istirahat sebentar di Ruang UKS?”

“Tidak usah.. Aku sudah tidak apa-apa. Terimakasih banyak.”

“Jangan paksakan dirimu ya!” aku menundukkan kepala dan membelakangi mereka bedua. Airmataku tak berhenti mengalir. Aku pasti… Telah berbuat sesuatu yang salah.

Suzy P.O.V end

…………………..

Setelah kulihat darah di kakiku menetes cukup deras, aku tidak segera pergi ke ruang UKS. Aku takut Guru melihatku dan menanyakan keadaanku. Aku baik-baik saja… Lebih baik seperti ini walaupun terasa perih.. Jadi, kubalut luka itu dengan sapu tanganku. Sementara rokku yang sobek karena digunting, kututupi oleh jaket. Untung saja hari ini aku membawa jaket.

Setelah itu, aku harus pergi bekerja. Biarlah dengan apa yang kurasakan, aku harus bekerja karena ini haru keduaku.

……………….

Akhirnya, waktunya pulang. Aku bisa segera mengobati luka ini. Dengan kakiku yang terlihat pincang, semua mata tertuju padaku. Tak apalah. Yang terpenting aku pulang!!

Saat di depan kamar kost, kulihat Minwoo sedang membersihkan rumahnya. Otomatis dia melihat cara berjalanku yang berbeda. Saat ia ingin bertanya, aku langsung masuk ke kamar kost. Aku tidak ingin berbicara hari ini.

“IU”

Apakah kalian masih disini?

“Zee”

IU, aku ada disini. Aku.. Sama sekali memikirkanmu.. Oh ya, aku ingin bertanya. Jika kalian memiliki teman dan temanmu itu orang yang kau sukai. Tetapi dia malah menyukai teman yang selalu ditindas ini. Apa aku harus ditindas dulu agar ia menyukaiku?

“Nou”

Kurasa itu bukan takdirmu.. Jika kau bersikeras untuk mendapatkannya, kau harus berpikir bahwa di luar sana banyak orang yang lebih dari orang yang kau incar. Jika itu jodohmu, suatu saat kau akan didekatkan oleh Tuhan. Dan jika bukan, kau harus menerimanya.

“IU”

Ya, benar apa kata Nou. Tunggu, kau ini seorang pria atau wanita? Hehe😄

“Nou”

Hei, aku pria..😄

“IU”

Benarkah? Jarang sekali kutemukan seorang pria yang peduli dan mengerti banyak tentang semuanya. Jangan-jangan kau mengalaminya ya??😛

“Nou”

Issshh kau ini.. Sudahlah, lupakan. Zee, apa kau masih disana?

“Zee”

Nou, terimakasih usulannya. Aku rasa kau benar. Jadi selama ini aku salah. Aku bersikeras untuk mendapatkannya dan sekarang aku jadi menindas wanita itu. L

“IU”

Zee, aku jadi teringat dengan seseorang… Apa kau ini… Ah, tidak jadi..😄

“Nou”

Ya, Zee… Sama-sama.. Sekarang, ubahlah hidupmu menjadi lebih baik.. IU, tolong berbicara dengan jelas.. Hehe😄

“Zee”

Terimakasih teman-teman.. J

Tadinya aku ingin sekali mencurahkan hatiku pada mereka semua. Tapi kurasa ini bukan saat yang tepat. Mengingat Zee yang juga sepertinya memiliki masalah, aku tidak boleh memperkeruh keadaan sehingga Nou bingung ingin berpihak pada siapa.. Hehe.. Hmm, tapi aku sempat curiga pada Zee. Apakah ia adalah Baek Su Ji? Ceritanya sama seperti yang kualami, walaupun aku tak tahu Youngmin suka padaku atau tidak. Kurasa tidak, dia hanya mengasihaniku.

………………

Suzy P.O.V

Esoknya, Yuri dan beberapa temanku berkumpul di koridor sambil berbisik-bisik dan tertawa. Aku berdiri di dekat sana sambil bergetar dan tegang. Karena nafasku sedikit sesak, aku menghirup nafas dalam-dalam dan menghelanya. Aku berteriak dalam hati sambil menekan jantungku yang berdebar-debar. Semangat diriku.. Jangan menyerah! Saat itu Ji Eun datang. Dia memakai jaket olahraga sebagai pengganti roknya yang sobek. Begitu dia menyadari kehadiranku dan Yuri serta yang lainnya, dia menatap kakinya sambil ketakutan. Tapi dia tidak kabur.. Karena dia akan ditindas lagi jika melakukan hal itu.

“Selamat pagi, Ji Eun!” Yuri mendekati Ji Eun sambil berlagak ramah. Dia menjatuhkan saputangannya ke kaki Ji Eun. Ji Eun berusaha mengelak namun tidak bisa dan hampir menginjaknya! Aku pun langsung mengambil saputangan itu sebelum terinjak.

“Eh?!” aku memberikan saputangan itu pada Yuri dan kawan-kawan yang terkejut.

“Nih.”

“Apa-apaan kau?!”

“Aku mengambilnya karena terjatuh. Untung tidak terlalu kotor.” Yuri berkata terimakasih sambil berbisik dan menatap marah.

Teman-teman yang mengelilingi Yuri masuk ke dalam kelas tanpa berkaat apa-apa. Yuri pun masuk kelas seolah-olah menyusul mereka. Aku berhasil mencegah pertunjukan penindasan! Aku merasa lega dan pinggangku terasa enteng! Lalu aku menatap dengan Ji Eun.

“Selamat pagi..” aku katakan itu sambil tertawa kecil. Begitu Ji Eun melihat ke bawah sambil ketakutan, dia berjalan melewatiku dan masuk kelas. Aku kecewa.. Kenapa? Karena kukira dia akan tersenyum dan berterimakasih.. Bukankah seharusnya dia tidak pergi dalam kesempatan sebaik itu? Aku tak boleh kalah oleh perasaan ini. Aku menatap kelasku. Aku harus berubah.. Aku harus berubah walaupun perlahan-lahan. Demi teman-teman di internet, dan masa depan.

Suzy P.O.V end

……………..

Syukurlah Suzy menolongku.. Ah, apa itu hanya kebetulan? Tapi, maaf. Aku tak berani untuk berterimakasih atau apapun padamu saat ini..

Tak lama, ada banyak sms dari ponselku. Isinya:

(Subject: tidak ada)

(Konon, LJE dari kelas 1-3 menyukai Guru Han, si guru Matematika! Untuk menarik perhatiannya, dia tidak mau belajar Matematika bahkan menyontek saat tes. Dasar licik!! Dia bakteri kelas kita. Kalau bicara dengan LJE nanti bakterinya menular!! Yang ingin tertular, bertemanlah dengannya!! Tapi kalian takkan bisa kembali ke dunia yang bersih!!)

LJE (Lee Ji Eun). Hanya aku yang punya inisial begitu di kelasku. Itulah sms yang menjelekkan diriku dan dikirim ke seluruh teman sekelasku.

“Apa.. Ini…??” jantungku berdegup sampai aku merasa sakit dan tubuhku bergetar. Aku bahkan tak pernah menyukai Guru Han. Menyontek pun tak pernah. Siapa… Siapa yang mengarang kebohongan ini?! Kucoba membuka sms lainnya dengan tangan gemetar.

(Subject: Tidak ada)

(menyebalkan menyebalkan menyebalkan…)

“Hei, kau sudah membaca emailnya?”

“Wajahnya tampak tenang-tenang saja..”

“Sms ini dikirimkan ke seluruh siswa sekolah ini lho..” saat itu juga aku teringat dengan Youngmin. Mengapa aku mengingatnya? Padahal aku membencinya karena telah membohongiku. Tapi, dia bilang dia mempercayaiku dan sekarang aku membuatnya kecewa.

Kuraih ponselku dan berlari. Aku segera menemui Youngmin dan berbicara padanya. Kuturuni tangga menuju pintu masuk. Begitu berlari melewati koridor, aku melihat Youngmin di halaman tengah.

“Youngmin!” aku segera datang padanya.

#TBC (To Be Continued)

Chingu, aku tunggu comentnya ya!! Makasih yang udah mau baca! Don’t be a silent reader!😀

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] My Tears – Chapter 04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: