[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 06

Picture1

Title
: I Love You – Chapter 6
Author : ariesthha_1602
Genre : Friendship & Romance
Rating : PG
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin  ~ Jo Kwangmin

  ~ Yua

Support Casts
: Semua member Boyfriend

Maaf,,, update chapter 6nya kelamaan. Selain sibuk sama tugas, kemarin-kemarin idenya sempat buntu dan gak ketemu-ketemu. Tapi, syukurlah buntunya gk kelamaan. hehehehehe (^___^) Jadi,, gimana menurut kalian??. Bagussss..?? Biasa aja…?? Biasa bangetttt..?? ato bosenin…??. Ditunggu commentnya,, jangan jadi silent reader.. Terima kasih,, ppyong…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebelumnya di Chapter 5

“Awalnya kukira aku pasti cinta Jihoo, tapi saat kau mulai menjauhiku. Aku sadar, perasaanku terhadapmu tak bisa berubah. Aku mencintaimu Yua”.

Dengan berpegang pada pagar pembatas, Yua berusaha mencerna semua perkataan yang didengar dari mulutnya. Apa ini kenyataan..??. Sungguh-sungguh bukan mimpi…??. Selama ini sudah begitu menyakitkan untuk Yua, dan sekarang dia bilang mereka saling mencintaiii…. “Kenapa hatiku…???”, Yua berbisik pada dirinya sendiri sambil menggenggam hatinya dengan erat berusaha mencerna perasaaan yang dia rasakan. Harusnya dia merasa senang, tapi kenapa dadanya malah terasa sangat sesak dan menyakitkan. Apa ini…??.

Kwangmin mengepalkan jari jemari disisi tubuhnya, sebelum mengucapkan kalimat yang bertentangan dengan keinginannya. “Tapi sekarang kau mencintai Youngmin Hyung kan??”, dan menggigit sedikit bibir bawahnya, berharap dugaannya salah. “Aku benar kan Shin Yua..??”.

Youngmin…??. Apa maksudnya…??. Yua benar-benar tak habis pikir, kenapa Kwangmin membawa-bawa saudara kembarnya masuk ke dalam pembicaraan pribadi mereka…??. Ini tak ada hubungannya kan…??. Atau ada hubungannya, tapi dirinya hanya belum tau. Entahlah,, karena yang jelas pengakuan singkat Kwangmin yang terasa sangat mendadak membuat hati Yua bereaksi tak seperti biasanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Tapi aku tak peduli. Aku tak akan menyerahkanmu pada siapapun..!!”, ucap Kwangmin dengan penuh penekanan saat memeluk Yua dari belakang. Walaupun dia sadar ini sangat mendadak dan membuat Yua tak siap, tapi kalau tak sekarang diungkapkan mungkin akan benar-benar terlambat dan dia tak menginginkannya. Yua terlalu spesial untuk orang lain, selain dirinya. “Aku mencintaimu Yua.. benar-benar mencintaimu”, dan mencium puncak kepala Yua dengan masih memeluknya erat.

Henti… tolong hentikan..!!. Yua berusaha menahan sakit dan perih dihatinya, hingga bulir-bulir air mata mulai menggenang disudut matanya. Dia merasa aneh,, meskipun itu adalah kata-kata yang ingin didengarnya dari Kwangmin. Tapi salah satu tempat dihatinya tak merasakan perasaan senang seperti yang selama ini dia bayangkan. “Cukup…!!”.

“Aaaaa… ituu…”, Yua berusaha mencari kata-kata yang tepat, sesaat setelah dia mendorong tubuh Kwangmin menjauh. Dia selalu benci dengan situasi seperti ini, terpojokkan dengan seseorang menuntut jawaban atas tindakannya. “Ak,,…. aku tak sanggup lagi mendengar leluconmu Kwang. Ini benar-benar tak lucu”, gumamnya dengan kepala tertunduk sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi.

“Yua…!! Shin Yua..!!”.

Yua benar-benar tak menghiraukan Kwangmin yang beberapa kali memanggilnya. Pikirannya sudah sangat kacau dan rasanya tak benar kalau dia harus berlama-lama dengannya. Saat ini saja, Yua sampai tak tau lagi apa yang benar-benar hatinya inginkan. Apakah dia harus menuruti pikirannya??. Ataukah,,…. hatinya…..??!!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Pulang ini ke cafe yuk. Pelajaran olahraga benar-benar membuat perutku keroncongan”.

“Wah ide yang bagus”, jawab Chunji sambil mengikat jaket olahraga dipinggangnya. “Youngmin-ah,, kau ikut kan??”, dengan melihat sosok yang sekarang disampingnya, Sedaritadi anak ini pasti tak mendengarkan mereka. Apa sih yang dia lihat..??, padahal tak ada satu orangpun dilapangan tenis, oke… ini sudah cukup menyeramkan…!! dan menepuk pundak Youngmin sekali lagi, berusaha mengalihkan perhatiannya. “Hei….”.

Youngmin terlonjak kaget, dan membuatnya spontan menatap Chunji serta beberapa teman disekitar mereka yang sekarang juga ikut-ikuttan menatapnya. “Itu…. aku tak bisa. Aaaaaa… hari ini… aku, aaaaaa… ada urusan. Ah ya urusan, aku baru saja ingat. Maaf ya,, mungkin dilain waktu. Aku duluan.. Annyeong….”, cerocosnya sambil sedikit menundukkan kepalanya sebelum berlalu meninggalkan mereka yang masih kebingungan. Dengan kening sedikit berkerut, Chunji terus menatap punggung Youngmin menjauh. Jujur, sikap Youngmin akhir-akhir ini terasa sangat aneh, senyum-senyum sendiri tanpa ada sebab, dan kalau ditanya dia tak akan memberikan jawaban yang memuaskan. Dia menghela nafas panjang. “Sudahlah, ayo..!!”, dan mengajak seluruh temannya untuk pergi sambil menggoyangkan pergelangan tangannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dia yakin, dengan penglihatannya. Tapi kenapa Yua datang ke ruang ganti…?!!, padahal hari ini mereka tak ada latihan. Sebenarnya jika disuruh memilih, dia tak ingin menyusul Yua ke tempat itu, tapi entah kenapa kakinya malah terus berjalan dengan mantap ke ruang latihan. Seakan-akan…. Yua memanggilnya.

“Yua….??”.

Yua yang sedang bersimpuh ditengah ruangan spontan membelalakkan matanya. Jangan bilang itu Kwangmin…??, sekarang ini dia benar-benar tak memiliki muka untuk berhadapan dengannya. “Kau….. kenapa disini??. Ada apa??”, Youngmin menutup pintu dibelakangnya sebelum berjalan pelan ke arahnya. “Kita tak ada latihan kan??”.

Youngmin…!!. Itu Youngmin… dan entah kenapa, rasanya… dia tak ingin, kalau Youngmin harus kembali melihatnya menangis seperti orang bodoh. “Aku tak apa-apa. Kau pulang saja duluan”, sahutnya dengan menggigit bibir bawahnya, berusaha menghilangkan suara isak tangis dan meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.

“Bukankah kau bilang akan lebih banyak tertawa?”.

Youngmin hanya bisa menggenggam jemari-jemari Yua dengan lembut. Dia tak pernah berada disituasi seperti ini, berhadapan dengan seseorang yang sedang menangis, ditambah lagi dia tak tau menau apa penyebabnya. Semakin membuatnya kebingungan harus berbuat apa..!!. “Sepertinya aku tak bisa tertawa, kalau bukan denganmu…”, desis Yua pelan sambil berusaha mengeluarkan tawa.

“Kau itu sebenarnya menangis atau tertaw….”.

“Jangan….!!”.

“Hah..??”, Youngmin sedikit mengeryitkan sebelah alisnya bingung, saat Yua menggenggam erat jemari tangannya. Untuk pertama kalinya setelah kejadian beberapa tahun yang lalu… seseorang kembali menggenggam jemarinya begitu erat. Seakan-akan mengatakan, kalau dirinya begitu penting. Sekarang tak salah kan, jika dia beranggapan kalau Yua mulai membutuhkannya…??. Benar-benar tak salah kan??. Karena jujur, dia juga begitu takut untuk terluka… LAGI…!!.

Yua menundukkan kepalanya semakin dalam, tanpa sedikitpun melonggarkan genggamannya. Pikirannya sangat kacau, entah kenapa dia merasa menjadi seorang cewek yang begitu lemah, sampai harus tersakiti dengan hal yang dulu sangat diinginkannya. Itu keinginannya.. tapi kenapa dia tak sedikitpun merasa senang..?? kenapa hatinya seperti ini “Maaf,,.. aku kembali menyusahkanmu. Pikiranku sedang kacau, dan aku… Setidaknya tanganmu yang hangat bisa membantu pikiranku kembali jernih. Sebentar…. saja…”.

Satu tetes airmata yang jatuh dipunggung tangannya, spontan membuat Youngmin terhenti dengan debat yang tak berkesudahan diotaknya. Apa Yua mulai memberinya harapan?, apa Yua menyukainya?, apa tak apa-apa kalau dirinya membalas perhatiannya?, apa nanti hatinya tak akan terluka?, apa ini benar-benar baik untuknya dan Yua?? juga… Kwangmin…?. Dari sekian banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya, bagi Youngmin hanya satu hal yang terasa benar, yaitu Yua membutuhkannya dan kalau dengan kehangatan dari tangannya bisa membuat Yua selalu merasa tenang, dia tak akan pernah melepaskannya.

“Aku ganti baju dulu, setelah ini aku akan mengantarmu ke kelas dan pulang. Kau tunggu disini, oke??”, gumam Youngmin sambil membungkus jaket olahraganya dipundak Yua, berusaha membuatnya hangat.

Yua berdeham pelan, berusaha keras melawan hatinya untuk membuat suara. Karena jujur, terlalu banyak menangis membuatnya malas. Dari balik poninya, dia bisa melihat dengan jelas punggung Youngmin yang bergerak menjauh, dan saat itulah…. perasaan yang aneh mulai kembali. Tapi ini bukan perasaan sesak ataupun menyakitkan seperti sebelumnya, ini terasa seperti… perasaan yang muncul saat dirinya mulai melihat Kwangmin sebagai seorang pria, bukan sahabat masa kecil. Apa ini….??.

Yua melirik sekilas pada jaket yang bertengger manis dipundaknya dengan senyum tipis mulai terbentuk dibibirnya. “Apa kalau berada dalam pelukannya juga akan sehangat ini??. Eh…!!”. Spontan Yua mendelikkan matanya, setelah tersadar dengan apa yang baru saja diucapkannya, yang secara otomatis dia juga membayangkannya. “Aissshhh,, ini pasti gara-gara jaketnya. Pikiranku tak akan pernah kembali jernih kalau seperti ini. Menyebalka….”.

“Ternyata kau disini…!!”.

Yua menghembuskan nafas kesal, karena seseorang menyela pembicaraannya. Kwangmin…??. Kenapa dia tau kalau dirinya ada disini..??. Apa mungkin dari Youngmin..??. “Sudah daritadi aku mencarimu. Ternyata kau malah sembunyi ditempat seperti ini..!. Ini…”, Kwangmin menyodorkan tas ransel ke arah Yua.

Butuh keberanian yang cukup besar bagi Yua, untuk memberanikan dirinya mendekat dan mengambil tas yang sekarang ada ditangan Kwangmin. Dia benar-benar tak ingin bertemu Kwangmin saat ini, dan kenapa rasanya itu sangat sulit untuk diwujudkan. “Kau benar-benar tak perlu mengantarkannya. Karena aku bisa mengambilnya sendiri,..”.

“Yua,, tentang tadi….”.

Yua otomatis memunggungi Kwangmin. Berhadapan dengannya saja sudah terasa berat untuknya, dan sekarang… cowok itu malah membahas lagi hal-hal yang membingungkan. “Pulanglah,,.. aku sedang menunggu seseorang”.

Melihat Yua yang tak ingin menatapnya, jujur membuat hatinya seperti tertusuk ribuan pisau. Apakah seharusnya dia tak pernah mengungkapkannya..?. Apa memiliki perasaan ini adalah dosa…?. Kenapa mencintai seseorang harus menyakitkan seperti ini…??. “Yua,… aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu”, Kwangmin mengepalkan jemari-jemari tangan disamping tubuhnya. Dari sekian banyak emosi yang bercampur aduk dipikirannya saat ini, hanya satu yang terasa jelas, yaitu rasa sakit dihatinya. Karena harus menerima kenyataan bahwa orang dicintainya tak ingin lagi melihatnya. “Kau sangat penting untukku Yua. Maafkan aku, yang terlalu bodoh untuk tak pernah menyadarinya. Kau tau kan, kalau kau sangat penting bagiku…?? dan aku juga penting untukmu kan…??. Iya kan…??”.

Apa kau penting untukku..??. Apa benar-benar penting..??. Pertanyaan itu terus saja berulang dipikiran Yua, sampai-sampai dia merasa pusing dan tak sanggup lagi terlalu lama menopang tubuhnya dengan benar.

“Apa sekarang kau membenciku…??, apa kau ingin aku menghilang darimu..??. Jawab aku Yua,.. tolong,, setidaknya jawablah satu”. Yua bisa mendengar dengan jelas perubahan suara dari sosok yang sekarang berada dibelakangnya. Dia tak menginginkan Kwangmin merasakan perasaan sakit, persis seperti dulu yang dirasakannya. Hanya saja, dirinya belum menata hatinya dengan tenang jadi Yua tak tau harus menjawab apa.

Yua memutarkan badannya dengan perlahan dan memberanikan diri untuk menatapnya. “Youngmin…??”, gumamnya setelah sosok yang berdiri tepat dibelakang Kwangmin, menarik perhatiannya. Sejak kapan Youngmin berdiri disana..??. Apa dia mendengarkan semuanya..??.

Kwangmin spontan mengalihkan pandangannya persis seperti Yua. “Hyung…??”.

“Ayo…!!”. Youngmin menarik Yua menjauh dari situasi yang sedaritadi tak diinginginkannya. “Kau tak bisa menariknya begitu saja dariku Hyung…!!”, ucap Kwangmin dengan penuh penekanan, sambil menahan pergelangan kiri Yua sebelum Youngmin sempat menariknya terlalu jauh.

“Maaf Kwangmin, Yua sudah memiliki janji denganku hari ini. Kalau ada yang ingin kau bicarakan dengannya, kau bisa melakukannya setelah dia tak lagi bersamaku. Ayo…!!”.

Tanpa perlu diminta, Kwangmin sudah melepaskan pergelangan tangannya dengan lemas. Sedangkan Yua hanya bisa menatap dua cowok yang masing-masing berdiri disisi kiri dan kanannya beberapa kali. Dia bingung… kenapa situasinya jadi seperti ini..??. Dia sama sekali tak berniat membuat saudara kembar ini bertengkar, apalagi itu hanya karena dirinya.

“Aku sudah janji”.

“Hah…?!!”, Yua terlonjak kaget setelah Youngmin mengucapkan satu kalimat yang terdengar membingungkan. Janji…??. Memangnya dia menjanjikan apa..??. Sejak Youngmin menyeretnya keluar dari ruang latihan sampai di koridor sekolah, Yua memang tak henti-hentinya menatap wajahnya dari samping, berusaha mencari jawaban.

Youngmin menghentikan langkah kakinya dengan tiba-tiba, dan menatap Yua. “Aku sudah berjanji mengantarkanmu pulang. Jadi aku akan memastikan kalau kau sampai rumah dengan aman. Sssssttttt,,… ini bukan pilihan, jadi aku tak butuh jawaban”, dan menjulurkan jari telunjuknya kedepan bibir Yua, memaksanya untuk tak berbicara, sebelum menggenggam jemarinya dan keluar dari lingkungan sekolah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah kemarin dia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya, kenapa sekarang semuanya semakin runyam. Dia pikir setelah pernyataan cinta itu, Yua akan menerimanya atau kalau tidak, mereka akan kembali seperti biasanya. Tapi sekarang… kenapa seperti ini??. Kenapa Yua harus menjauhinya..?? dan…kenapa Youngmin harus masuk diantara mereka…??. Dia butuh penjelasan…

“Yu….. Hyung…??”, ekspresi kaget jelas terpampang diwajahnya saat melihat Youngmin sudah berdiri diluar kelas. Bel pulang baru saja berbunyi, dan dia sudah berdiri disana. Yua… apa hari ini dia juga akan pergi dengannya??.

Kwangmin kembali terduduk lemas, dengan menidurkan kepalanya diatas meja. Rasanya aneh, melihat orang yang dia suka merasa nyaman didekat orang lain, dan terasa lebih menyakitkan karena orang itu adalah saudaranya. “Bodoh,, kenapa kau harus seperti ini??. Sakit,, jadi tolong berhentilah membuatku terlihat menyedihkan. Aku tak ingin menangis…”, sambil memukul-mukul dadanya beberapa kali, berharap rasa nyeri dihatinya hilang dengan perlahan. Kenapa mencintai seseorang, harus sesakit ini…??.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beberapa kali Yua mencuri-curi pandang ke arah cowok yang berjalan disampingnya. Dia hanya tak habis pikir, kemarin dia sudah menariknya begitu saja dari Kwangmin dan sekarang… mereka sudah berjalan hampir 15 menit, tapi dia belum tau kemana tujuannya.

“Eh….??”, Yua mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali saat mereka berdiri didepan sebuah gerbang. Bukannya ini…?!!. Jangan bilang….

“Ini adalah sekolah yang sebenarnya ingin kumasuki”, ucap Youngmin sambil menghela nafas panjang. Rasanya aneh berdiri didepan pintu yang tak pernah bisa dia raih. Kalau bukan karena permasalahan klub, mungkin dia akan berfikir dua kali untuk datang ketempat ini. “Kupikir alasan kenapa klub tenis mereka terkenal hebat, karena mereka pasti memiliki sesuatu yang tidak kita punya. Jadi,,,… itulah kenapa alasanku menarikmu. Kita harus mencari petunjuk disini”, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari bangunan-bangunan yang berada tepat dihadapannya.

Untuk ketiga kalinya Yua melihat Youngmin menghela nafas panjang sejak mereka berdiri didepan gerbang. Walaupun, dia juga masih belum tau pasti tentang masa lalu Youngmin. Tapi melihat ekspresinya seperti itu, membuatnya hanya tau satu hal, kalau Youngmin butuh kekuatan untuk berdiri dan masuk ke dalam ruang lingkup yang sebenarnya tak dia inginkan.

Yua berusaha mengalirkan energi positif yang dimilikinya, sambil menggenggam jemari Youngmin dengan erat. “Oke,,,.. ayo kita lakukan…!!”.

“Woahhhh,,, apa sekolah memang harus semewah ini..??. Astaga,, lihat.. kau melihatnya kan??”, Yua berlari kecil dikoridor sekolahan, dan berjinjit tepat disamping jendela agar dapat melihat ruang yang ada didalamnya. “Hei,, ruang musiknya saja lebih luas dari kelas kita. Astaga,, piano itu.. membuat tanganku gatal”.

“Youngmin……!!”.

Mereka berdua terlonjak kaget, saat seseorang meneriaki nama Youngmin dari jauh. “Astaga,, ini benar-benar kau..??. YA! kenapa kau tak memberikan kami kabar?”, sahutnya dengan postur badan yang tak terlalu tinggi.

Yua hanya bisa memperhatikan dua orang yang datang menghampiri mereka, dan Youngmin secara bergantian. Apa mereka kenalannya Youngmin..??.

“Kita bahkan tak pernah bertemu lagi setelah kelulusan. Ada apa denganmu??. Kau benar-benar menjengkelkan..!!”, orang lainnya memukul bahu Youngmin pelan. “Heh,, tak pernah memberi kabar. Tapi sekarang,, kau datang dengan seorang perempuan. YA! Jo Youngmin,, apa kau berencana membuat Shina cemburu…??”.

Youngmin mengernyitkan dahinya bingung, sebelum akhirnya dia tersadar kalau sejak tadi Yua berdiri disampingnya. “Eh,,,.. ini tak ada hubungannya dengan itu”, berusaha meyakinkan kedua temannya, bahwa ini tak seperti yang mereka pikirkan. Shina…!!, memang sudah lama dia tak melihatnya, tapi tujuannya kesini bukan untuk itu. “Ayolahhh,, jangan beri aku tatapan seperti itu. Aku kesini, karena ingin melihat klub kalian latihan”. Dia dan Shina sudah lama berakhir, jadi rasanya tak pantas kalau membawa-bawanya masuk ke dalam pembicaraan mereka.

“Okey,,,… aku Jeongmin dan dia Hyunseong”, ucap Jeongmin ke arah Yua sambil menunjuk dirinya sendiri serta cowok disampingnya, sesaat setelah melihat perubahan ekspresi diwajah Youngmin. Mereka sungguh tak bermaksud membuka luka lama, dia pikir Youngmin sudah tak lagi memikirkannya. Tapi ternyata dia salah,,, Shina… cewek itu ternyata masih menjadi bagian didalam hati sahabatnya.

Yua spontan membungkukkan badannya, sambil tersenyum tipis. “Annyeong,,aku Yua salam kenal”.

“Kalian datang dihari yang tepat. Ayoo,,…”, Hyunseong merangkul pundak Youngmin sebelum menyeretnya pergi, dan meninggalkan Yua serta Jeongmin dibelakang.

Jeongmin melirik Yua yang sekarang sedang menatap dua punggung yang sudah berada beberapa meter didepan mereka, sambil memiringkan kepalanya bingung. “Ketua klubku tak akan marah”. Yua spontan mengalihkan pandangan ke arahnya, dia bingung… darimana Jeongmin tau kalau itu yang dari awal dia pikirkan sejak Youngmin menyeretnya kesini. Bukankah,, melihat latihan sekolah lain tergolong sangat rahasia. Tapi,, kenapa Youngmin malah terlihat biasa saja.

“Ketua klubku itu, sahabat kami saat di SMP. Ayo,,.. latihan akan segera dimulai”.

Sebenarnya, bukan hanya itu saja yang dia pikirkan. Shina..!!. Entah kenapa, nama itu… membuatnya merasa sangat penasaran tentang seseorang dalam hidup Youngmin untuk pertama kalinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ini benar-benar mengagumkan”, desis Youngmin pelan atau lebih tepatnya, dia berbisik pada dirinya sendiri. Melihat begitu banyak anggota dalam klub, membuat salah satu sudut dihatinya merasa iri. Kenapa klub ini begitu hidup..??, sedangkan klubnya tak seperti itu..!!. Apa yang salah..??.

“Kita tak akan membangun klub yang hebat, jika tak saling mengerti”.

Youngmin menolehkan kepalanya kesisi kiri, dan melihatnya yang sedang menghembuskan nafas berat dengan pandangan yang masih melihat lurus ke arah lapangan. Sebelum dia sempat mengalihkan pandangannya ke arah lain, Yua sudah menatapnya dengan lembut. “Jika ada yang tak mampu atau merasa lelah, seharusnya kita memberinya dukungan. Bukan memarahinya, kurasa itu jenis kekuatan yang berbeda. Aku benar kan…??”.

Dengan menghela nafas panjang, Youngmin menyadari kalau Yua ada benarnya. Selama ini dia merasa anggotanyalah yang tak menghargai klub dan menganggap mereka hanya main-main. Ternyata bukan,, dialah penyebab anggotanya semakin sedikit disetiap minggunya. Karena mereka tak nyaman, dirinya tak bisa memberikan rasa nyaman bagi mereka didalam klub. Apa ini masih bisa dirubah??. Apa belum terlambat….?!!.

“Youngie….??”.

Mereka menoleh ke arah suara, dan melihatnya berdiri dipintu masuk. Melihat Youngmin yang tiba-tiba saja membatu dan tak bisa berkata-kata, membuat Yua berspekulasi. Jangan-jangan cewek itu… “Shina…”, gumam Youngmin pelan, tetapi bisa didengarnya dengan jelas.

Shina…!!. Apa itu cewek yang sama, seperti kata-kata Jeongmin..??. Apa sebenarnya hubungan mereka…??. “Sudah lama tak bertemu. Apa kabar…??”, Shina memberikan senyum termanis yang dimilikinya ke arah Youngmin, setelah dia berdiri tepat dihadapannya.

Youngmin mengerjapkan matanya beberapa kali, karena masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kenapa kau ada disini..??. Kupikir kau tak lagi mengikuti klub. Sejak…..”, desahnya saat memperhatikan pergelangan kaki Shina dengan seksama.

Yua yang berdiri disamping Youngmin, hanya bisa melihat mereka secara bergantian. Dia bingung, jelas-jelas bingung. Kenapa rasanya dia seperti makhluk yang tak terlihat bagi Youngmin dan Shina, padahal dia jelas-jelas berdiri tepat disamping mereka. dan.., kenapa Youngmin terus saja menatap pergelangan kaki Shina, seperti mengkhawatirkan sesuatu…??.

This entry was posted by kepangmusic.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 06

  1. Hadeeeeeeeeeuuuhhh akhirnya keluar juga nih ff ampe lumutan nungguinnya…
    Nah loh Shina siapanya young min tuh??…. aduuuuuuh jgn bikin yua bingung dong karena kayanya yua dah nyaman ma young min…dan berfikiran mu jadian ma Kwangmin…Annndweeeee(tetep masih ngarepin Kwang)…. hehehehe…keep writing ya thor…jgn lelah2 tuk menulis karena masih ada aku yg selalu nungguin nih ff…fighting thooooorrrr….

    • Penasaran yah,,… hayo psti penasaran… hehehehehe
      Part ini sbnrnya udh lma slsainya, cmn sprtinya dmin BFI kmrn2 lg sibuk jd blm smpt ngepost ni crta. Ayo tebak endingnya,… udh mau slsai lo crtanya ini…gomawo udh tetep jd pembaca setia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: