[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 07

collage_20150224205750652

Title
: Chance – Chapter 07
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : PG – 13
Type : Chapter
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Sena

Support Casts
: ~ Ji Hoon (Kakak Sena)

  ~ Rin (Lawan Main YoungKwang di Drama)

Author’s note  : so yeaaah enggak mau banyak omong deh hehe,, semoga chapter ini bisa dinikmati xD.. yang punya instagram mungkin bisa nengok2 ke @boyfriendfictions ,aku mayan lebih sering update fanfic di sana..yg minat join jg boleh langsung mention aku aja ke twitter @widi0426 hehe thanks🙂

Chapter 7

 

*Sena POV*

 

Aku tertidur di lantai. Akibatnya, seluruh tubuhku terasa sakit. Dikelilingi berbagai macam barang yang beberapa bentuknya tak lagi sempurna, aku teringat apa yang telah kulakukan semalam. Kusibak selimut yang menutupi tubuhku.

Pasti Jihoon yang menyelimutiku.

Mataku mendadak berkunang-kunang dan sakit kepala menyerangku. Efek yang kudapat setiap kali kurang istirahat. Aku hampir tidak tidur. Aku sendiri tidak yakin bagaimana akhirnya aku bisa memejamkan mata. Walaupun hanya satu jam.

Keadaanku pagi ini sama buruknya dengan keadaan kamarku. Sepulangnya dari acara makan bersama semalam, aku tidak bisa mengontrol emosi dan sedih yang berkecamuk di hatiku. Tidak tahan menampung semua perasaan itu, aku melampiaskannya pada barang-barang di kamarku. Ya, sama persis seperti malam pertama saat aku pulang dari rumah sakit. Marah, kecewa, merasa bodoh, merasa dibuang. Aku kembali merasakan semua itu.

Apa yang kusangkal selama ini nyatanya sia-sia. Bukan ketenangan yang kudapatkan dengan menyangkal perasaanku pada Kwangmin. Justru sebaliknya.

Aku tidak suka Rin merebut Kwangmin dariku. Aku tidak suka Kwangmin lebih memperhatikan Rin. Aku tidak suka, aku tidak bisa mengatakan apa-apa pada Kwangmin. Dan yang paling kubenci adalah diriku yang memiliki perasaan itu.

Kemarin, ketika aku tersesat, Kwangmin tampaknya tidak mau repot-repot mencariku. Bahkan sedikit mengkhawatirkanku pun tidak. Sejujurnya, aku kecewa karena Youngmin yang pertama menemukanku. Namun seolah itu belum cukup, kekecewaanku bertambah, ketika—entah sengaja atau tidak—Kwangmin hanya memusatkan seluruh perhatiannya pada Rin. Bersikap manis pada Rin tepat di depanku. Tidak sekalipun dia mengajakku bicara. Menanyakan keadaanku pun tidak.

Kemudian, yang kulihat selanjutnya meruntuhkan pertahananku. Aku melihat Kwangmin mencoba menenangkan Rin di dalam pelukannya. Tidak ada kamera yang merekam, jadi itu tidak mungkin bagian dari akting. Detik itu, aku merasa waktuku berhenti.

Aku tidak bisa mengusir bayangan kejadian itu dari kepalaku. Setiap kali memejamkan mata, mereka muncul di pikiranku. Rasanya ingin kukeluarkan otakku kemudian mencucinya. Atau mengeluarkan hatiku untuk menghapus nama Kwangmin dari sana. Satu pertanyaan yang mengusikku di sisa malam kemarin. Benarkah Kwangmin telah melupakan aku? Sepenuhnya?

Kemarin, Jihoon hanya sekali berteriak padaku, memintaku tidur dan berhenti menciptakan keributan. Karena aku—tentu saja—menolak, dia membiarkan aku melampiaskan semua kekecewaanku. Tapi aku yakin, dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengajakku bicara.

Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Saat itulah aku sadar lemari pakaianku dalam kondisi terbuka, dan tidak ada satu pakaian pun di dalamnya. Aku tahu pasti orang yang melakukannya.

“Aaaarrrgghh… Jihoon oppa!!” Aku menggeram frustasi.

Aku segera berlari keluar menemui Jihoon di kamarnya.

“Apa yang kau lakukan dengan pakaianku Oppa?”

“Mengemasnya.” Jihoon menunjuk koper merah muda di dekat koper miliknya. Koper milikku. “Kita pulang malam ini.”

“Pu-pulang? Tidak. Aku tidak akan pergi ke mana-mana Oppa.” Aku mengambil koperku untuk mengembalikannya ke dalam kamar. Saat aku akan menariknya, Jihoon menyingkirkan tanganku dan membanting koperku ke samping.

“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan? Malam ini kita pulang. Aku sudah membeli tiket pesawat. Kemasi barang-barang lain milikmu yang ingin kau bawa.”

Dia tidak membentakku, tapi, dari tatapan matanya aku tahu Jihoon tidak sedang becanda. Aku melihat dua tiket pesawat tergeletak di atas tempat tidurnya. Dia marah. Dia begini karena aku sudah melanggar janjiku padanya. Dengan cepat perasaan takut merasukiku. Meninggalkan Korea tidak ada dalam daftarku saat ini.

“Aku tidak mau pulang Oppa, aku tidak mau!!” teriakku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dalam hitungan detik air mataku tumpah lagi.

Apa dia lupa mengapa aku memaksanya mengizinkanku tinggal di Korea? Dia seharusnya tahu pasti mengenai hal itu. Tangisanku tidak bisa berhenti. Berbagai pikiran buruk melintas di pikiranku. Aku tidak boleh pergi. Tidak, sampai urusanku dengan Kwangmin selesai.

“Kalau begitu berhenti menyakiti dirimu sendiri karena Kwangmin, Sena! Bukankah sudah kukatakan dari awal, jika aku tahu semua ini hanya menyakitimu sekali lagi, aku tidak akan berpikir dua kali untuk membawamu pulang!”

Ya. Dan waktu itu aku berjanji tidak akan membuat diriku sendiri terpuruk gara-gara Kwangmin. Apakah aku sebodoh itu hingga ingin mengulangi rasa sakit yang sama? Aku bukan tidak mencegahnya. Hanya saja, aku mulai lelah terus-menerus melawan. Tanpa kusadari, bagian diriku yang mungkin masih mencintai Kwangmin berhasil menang. Sebelum bagian diriku yang lain tersadar untuk melakukan perlawanan, perasaan itu telah menguasaiku sepenuhnya.

“Kau mengulangi hal yang sia-sia Sena. Lupakan Kwangmin. Lupakan masa lalumu.”

Aku berlutut di depan Jihoon. “Oppa, maaf, maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya. Hm? Biarkan aku tetap di Korea. Kumohon Oppa, kumohon, kataku sambil terisak.

“Sena, jangan seperti ini lagi.” Jihoon mencoba membuatku berdiri, tetapi aku bertahan pada posisiku.

“Katakan kita tidak akan pergi ke mana-mana Oppa. Katakan Oppa. Hm? Katakaaaan!!!” Aku berteriak sekeras aku bisa, dan tangisanku berubah semakin kencang.

Pria yang berdiri di depanku, satu-satunya orang yang mengerti keadaanku saat ini, bergeming. Tidak terlihat memiliki niat untuk menenangkan aku. Apa sejak dulu Jihoon seperti ini? Atau aku yang sudah merubahnya?

“Lebih baik kau membenciku daripada aku harus melihatmu seperti ini lagi Sena. Aku kakakmu. Apakah kau pikir aku tidak terluka? Jika kau tidak bisa melakukan semua itu demi aku, lakukanla demi dirimu sendiri.”

Artinya, aku gagal meyakinkan Jihoon agar membiarkanku tetap tinggal di Korea. Jihoon melangkah keluar, meninggalkanku menyelesaikan tangisanku.

***

 

“Sena, kau mau aku mendobrak pintu ini? Buka pintunya Sena!”

De javu.

Aku bergeming. Sejak tadi kupandangi nomor ponsel Kwangmin tapi tidak berani menghubunginya. Mungkin Jihoon benar. Aku adalah gadis bodoh. Meskipun aku selalu menangis karena Kwangmin, aku tetap tidak bisa menyingkirkannya dari hidupku.

“Makanlah sesuatu Sena! Kapan kau sadar? Kwangmin tidak pernah memedulikanmu! Tidak dulu dan tidak sekarang! Berhentilah sekarang juga!”

Makan? Aku bahkan tidak merasa lapar. Aku mematikan ponsel, agar keinginanku untuk menelepon Kwangmin berkurang. Kusandarkan punggungku ke pinggir ranjang, lalu memejamkan mata.

“Kau tidak perlu  repot-repot mengurusiku Oppa! Tinggalkan aku sendiri!”

Suara gedoran di pintu kamarku berhenti. Saat ini aku tidak membutuhkan kakak yang hanya akan memarahiku.

 

Malam kembali datang. Suara gedoran di pintu kamarku yang lebih keras dari sebelumnya berhasil membangunkanku. Jihoon lagi-lagi mencoba memaksaku keluar. Meski sejak tadi dia berkata akan mendobrak pintu kamarku, dia tidak melakukannya dan hanya terus-menerus menggedor dengan keras.

“Baiklah, kita tetap di Korea. Aku tidak akan memaksamu pergi kalau kau memang tidak mau. Ayolah Sena, kau membuatku gila! Kau belum memakan apa pun! Aku tidak mau melihatmu sakit!”

Kompromi. Sepertinya aku mulai terbiasa dengan kata itu. Aku percaya pada ucapan Jihoon, maka aku pun membuka pintu. Dia langsung mengecek kondisiku. Mulai dari suhu tubuhku sampai memastkan bahwa tidak ada luka di anggota tubuhku. Dia mengomel ketika mendapatiku demam. Pantas saja aku merasa pusing ketika aku bangun. Aku yang terlalu lemas tidak mampu menopang berat badanku. Tubuhku ambruk ke depan. Jihoon berhasil menangkapku, kemudian dia pun memapahku kembali ke tempat tidur.

“Oppa… Kwangin…”

“Lihat yang sudah kau lakukan! Tidurlah, aku akan memanggil dokter.”

Aku menggeleng lemah. “Aku ingin bertemu Kwangmin, Oppa.”

“Sena… jangan memaksa.”

Tenggorokanku terlalu kering untuk melawan ucapannya, jadi aku tidak membantah.  Bahkan di saat seperti ini, aku tetap memikirkan Kwangmin. Sungguh, aku ingin dia ada di sini sekarang.

***

 

Jihoon membangunkanku untuk makan dan meminum obat. Sayangnya perutku menolak makanan yang masuk dan hanya mampu menghabiskan teh yang dia berikan.. Aku kembali tertidur karena pengaruh obat yang kuminum.

Aku bangun keesokan harinya.

Aku masih agak demam, dan tubuhku masih lemas. Jam menunjukkan pukul 09.38. Ternyata aku tidur lama sekali. Dan sekarang aku benar-benar kelaparan. Hal pertama yang kulakukan adalah mengecek ponsel. Ada dua belas pesan dari Youngmin. Kurang-lebih isi pesannya sama. Dia bertanya mengapa aku tidak muncul di lokasi syuting. Ingin rasanya aku membalas pesan itu dengan sebuah pertanyaan. Apakah Kwangmin juga mencari keberadaanku? Untuk mengetahui jawabannya, kurasa aku perlu mengeceknya sendiri. Aku pun menelepon Youngmin.

“Oppa, apa kalian hari ini sibuk?” Kuusahakan agar suaraku tidak terdengar serak dan lemah.

Aku meyebut kalian karena yang ingin kuketahui adalah Kwangmin. Ya, aku tahu aku seharusnya merasa bersalah pada Youngmin. Dan aku memang merasa bersalah. Aku hanya tidak yakin Kwangmin mau mengangkat telepon dariku, karena itu aku memilih Youngmin.

“Akhirnya aku mendengar suaramu. Kau baik-baik saja kan?”

“Yaaa… begitulah.”

“Syukurlah. Hari ini? Kami tidak ada jadwal lain selain syuting sore nanti. Ada apa?”

“Hm? Ah, tidak ada apa-apa. Oh, maaf Oppa, aku harus pergi. Kuhubungi lagi kau nanti.”

Entah sejak kapan berbohong menjadi salah satu kebiasaanku.

Aku berpikir untuk menemui Kwangmin. Tetapi, bagaimana caranya meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan Jihoon? Mendengar aku menyebut nama Kwangmin saja dia sudah tidak suka. Apalagi memintanya mengizinkanku pergi sendirian ke rumah Kwangmin.

“Oppa!” Pertama, aku perlu mengecek mood Jihoon hari ini.

Seorang wanita paruh baya yang tidak kukenal masuk ke kamarku. Tanpa kuminta, dia menjelaskan bahwa dia adalah pengurus rumah yang Jihoon sewa untuk menjagaku hari ini. Atau lebih tepatnya mengawasiku dan mencegahku meninggalkan rumah. Aku hamper menyerah ketika akhirnya aku sadar bahwa ini berarti Jihoon sekarang tidak ada di rumah.

“Ke mana Jihoon Oppa pergi? Apa dia mengatakan jam berapa dia pulang?”

“Dia hanya mengatakan akan pulang sebelum makan malam.”

Bagus. Aku memiliki waktu yang cukup untuk menemui Kwangmin dan pulang sebelum Jihoon. Aku akan memikirkan resiko yang kudapat jika pengurus rumah tangga sewaan itu melaporkan tindakanku pada Jihoon nanti. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku beranjak dari tempat tidur.

Pengurus rumah yang disewa Jihoon tidak melepaskan pandagannya dariku. Meski sibuk membersihkan rumah, dia tetap memastikan aku duduk menghabiskan makananku. Mungkin dia curiga karena aku berpenampilan rapi. Cepat-cepat kuhabiskan bubur yang dia hidangkan, lalu meminum obatku. Tentu saja aku sudah memikirkan cara agar wanita itu menyingkir dariku.

“Bibi, tolong cuci selimutku. Aku tidak tahan dengan baunya yang mengerikan. Ah, dan tolong besihkan kamar mandiku. Terima kasih.”

Sebelumnya aku sudah sengaja menggunakan selimutku untuk mengepel lantai dan juga membuat kamar mandiku berantakan serta kotor. Setelah memastikan dia masuk ke dalam kamarku, aku bergegas meninggalkan rumah. Dompet dan ponselku sudah kubawa sebelumnya.

Taksi yang kutelepon sudah menunggu di tempat yang kuminta.

“Maaf aku tidak menuruti perintahmu Oppa,” ujarku.

 

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri menekan tombol bel di pintu apartemen Kwangmin. Rasanya aku tidak sanggup lagi berdiri. Kepalaku terasa semakin pusing. Agar aku tidak jatuh pingsan, aku duduk menyandarkan punggungku pada dinding di sisi kanan pintu.

Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu terbuka. Aku mendongak dan menemukan Kwangmin berdiri menatapku.

“Se… na? Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku mencoba berdiri, tetapi gagal menyeimbangkan tubuhku. Kwangmin tepat waktu menangkap tubuhku.

“Oh, kau sakit? Badanmu—”

“Boleh aku masuk?”

Kwangmin meletakkan telapak tangannya di dahiku dan dia langsung berdecak tidak suka. Meski begitu dia tidak mengatakan apa-apa. Dia memapahku, kemudian mendudukkanku di sofa. Dia berlari menuju dapur, lalu memberikan segelas air putih padaku. Aku menghabiskannya dalam sekali tegukan.

“Kau… sendirian?”

“Ya. Youngmin hyung sedang keluar. Sebentar lagi juga dia pulang.”

“Aku tidak mecarinya. Aku mencarimu.”

Seolah baru saja menyampaikan berita yang mengejutkan, aku menangkap ketegangan di wajah Kwangmin. Ada jeda panjang sebelum aku bicara lagi.

“Apa kau ingat pertanyaan yang kuberikan padamu, saat kita bersembunyi di tempat karaoke?”

“Kau tidak sehat Sena. Pulang, dan beristirahatlah. Kita bicara lagi lain kali.” Ada nada khawatir dalam suara Kwangmin. Sayangnya itu tidak cukup memmbuatku puas.

“Aku tidak suka kau berpura-pura mengkhawatirkanku, Kwangmin!”

Apakah aku ini sesuatu yang berbahaya hingga Kwangmin selalu mencoba melarikan diri dariku? Tidakkah dia merasa lelah? Aku… lelah. Terus berjalan, tetapi tidak pernah sampai. Seandainya dia mau berhenti sejenak, mungkin kami memiliki waktu untuk berdiri berdampingan di jalan yang sama.

“Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang.”

Hening lagi.

Katakan apa pun Kwangmin, aku akan mendengarkannya.

“Aku akan melanjutkan hidupku dengan baik dan membuktikan pada orang yang melupakanku bahwa aku bahagia. Agar nantinya orang itu tidak khawatir dan menyesali keputusannya.”

Pandangan kami bertemu.

“Itukah yang sedang kau lakukan sekarang?” Aku tidak berniat mengatakannya. Sekarang aku menyesal. Aku tidak mau mendengar jawaban ‘iya’ dari mulut Kwangmin.

Aku tidak bisa menebak apakah jawaban Kwangmin itu dia tujukan padaku, atau untuk dirinya sendiri. Jika dia secara tidak langsung memintaku melanjutkan hidup dengan baik dan bahagia, aku tidak berjanji bisa memenuhi permintaannya. Bagaimana dia bisa berharap aku bisa melakukannya? Sendirian? Aku sudah pernah mencoba, dan aku gagal. Aku tidak ingin mencoba melakukan sesuatu yang telah aku ketahui hasilnya. Tidakkah Kwangmin sedikit saja mengerti posisiku? Tanpa bisa kucegah, air mataku menetes.

“Kwangmin, sebenarnya aku—“

“Siapa yang datang, Kwang?”

Mendengar suara Youngmin, aku berbalik dan segera menghapus air mataku. Awalnya aku berniat mengatakan semuanya pada Kwangmin. Bahwa aku tahu siapa dia meskipun ingatanku belum kembali. Bahwa aku muncul lagi di hidupnya karena aku hamper gila oleh rasa penasaranku sendiri.

“Oh, Sena. Kenapa tidak memberitahuku kau akan datang? Kau sudah lama di sini?”

“Tidak, aku baru saja sampai.” Aku memaksakan diri tersenyum.

“Ada apa?”

“Halo, Rin.”

Aku langsung menoleh ke arah Kwangmin yang sedang menerima telepon. Dari Rin. Kwangmin hanya mengatakan ‘apa kau baik-baik saja’ dan ‘aku segera ke sana’. Itu hanya berarti satu hal. Terjadi sesuatu pada Rin. Dan Kwangmin memilih menemui Rin dibandingkan menyelesaikan pembicaraan kami. Apa dia berusaha melukaiku lebih dalam? Sampai kapan dia merasa cukup?

“Hyung, Rin ada di rumah sakit sekarang. Aku harus pergi menemuinya. Tolong antar Sena pulang. Dia sedang sakit.”

“O… ke.”

“Jangan pergi,” kataku pelan. Aku menunduk sambil memegang pergelangan tangan Kwangmin.

Kwangmin menarik tangannya dariku. Tanpa menoleh, tanpa berkata sepatah kata pun, dia pergi. Dia meninggalkanku di belakang. Dia memilih Rin. Dia berusaha mengatakan padaku bahwa dia memilih Rin, dan bukan masa lalunya. Aku.

Perlahan, aku terisak. Lupa, ada Youngmin bersamaku. Aku tahu dia memperhatikanku, dan aku tidak peduli.

“Kau mau pulang sekarang?” Youngmin berjalan mendekat.

“Maaf Oppa, aku akan naik taksi. Terima kasih.” Aku berjalan cepat melewatinya sebelum dia sampai ke tempatku berdiri.

Aku terus menunduk agar dia tidak melihatku menangis. Seharusnya aku memang tidak menemui Kwangmin. Seharusnya aku melakukan seperti apa yang Kwangmin katakan. Seharusnya aku mendengarkan Jihoon.

Tetapi, aku sudah berjalan terlalu jauh dan aku tidak bisa kembali ke tempatku semula.

***

 

*Rin POV*

 

Kakiku terkilir. Untung kondisinya tidak parah sehingga aku masih bisa melanjutkan syuting meski harus meminum obat pereda rasa sakit sementara waktu. Kedua lututku terluka, dan punggungku rasanya sulit digerakkan. Kata dokter tidak ada yang perlu kukhawatirkan. Ya, kondisiku tidak separah itu. Tetapi tetap saja aku tidak nyaman dengan keadaanku sekarang.

Aku sedang bersepeda menuju sebuah tempat makan, dan seorang pengendara motor menabrakku. Karena tidak ingin memancing keramaian, aku tidak mempermasalahkannya. Kuminta wanita yang tidak sengaja menabrakku itu memanggil taksi, kemudian aku pergi ke rumah sakit seorang diri. Entah mengapa nama Kwangmin yang pertama melintas di kepalaku. Jadi, aku menghubunginya dan memintanya datang.

Sebenarnya aku malu bertemu dengannya setelah apa yang kulakukan semalam. Menangis dan menyalahkan Kwangmin atas rasa kecewa yang kurasakan. Karena kami masih terlibat dalam satu judul drama, kuputuskan untuk bersikap biasa saja dan melupakan kejadian itu.

Kedatangan Kwangmin membuyarkan lamunanku. Dia berlari tergesa sehingga membuat bagian depan rambutnya berantaskan. Dia memburuku dengan berbagai pertanyaan, dan aku menyukainya. Aku juga menyukai ekspresi khawatir di wajahnya. Apa pun itu artinya, aku tetap menyukainya.

“Kau sudah selesai? Kenapa kau selalu mengomel pada orang yang sedang sakit? Kebiasaanmu aneh sekali.”

Kwangmin melipat tangannya di depan dada. “Kau sendiri, mengapa kau menghubungi orang yang suka mengomel ini? Aaaah… aku tahu, pasti—“

“Yah! Berhenti menggodaku!” Sejak semalam dia terus menggodaku akibat kejadian semalam. Bahkan lewat pesan singkat. Aku yakin pasti baru saja dia ingin mengatakan bahwa aku merindukannya. Meski kenyataannya memang begitu, tetap saja itu menyebalkan.

Aku memukuli lengannya dan dia berteriak kesakitan yang dibuat-buat. Jelas-jelas dia terlihat puas menggodaku.

“Apa yang kau lakukan sebelum datang kemari? Jangan katakan kau sedang melakukan hal yang penting, karena aku akan merasa bersalah.”

Kwangmin berubah muram. Oke, kurasa aku salah memilih pertanyaan. Apa mungkin… sebelumnya dia sedang bersama Sena?

“Aaaaah… apa aku menelepon saat kau sedang melakukan… yaaaah kau taulah… laki-laki single dan kebutuhannya untuk—“

“Yah, jangan mengajakku bicara,” canda Kwangmin, membalasku.

Aku tidak ingin tahu apa pun itu yang membuat Kwangmin muram. Hari ini, khusus hari ini, aku ingin bersikap egois. Mengabaikan semuanya—termasuk Sena—dan menganggap Kwangmin adalah milikku. Kami meninggalkan rumah sakit setelah memperoleh izin dari dokter.

“Hmmm… tiba-tiba aku ingin makan ice cream. Ayo pergi membelinya,” kataku di tengah-tengah perjalanan kami menuju apartemenku.

“Tapi kakimu—“

“Baiklah, turunkan aku di sini. Aku bisa membelinya sendiri.” Aku sengaja mengatakannya, karena aku yakin Kwangmin tidak mungkin tega meninggalkanku sendirian.

“Oke, oke. Kau menang.”

Aku tersenyum lebar. Benar kan. Menyenangkan sekali mengetahui dia memikirkan keadaanku. Kurasa tidak masalah menganggap ini adalah kencan.

Kami tidak memilih duduk di dalam kafe ice cream. Kami memilih membungkusnya dan sepakat pergi ke salah satu taman kota untuk menikmatinya. Kwangmin menyimpan karpet kecil—yang cukup untuk diduduki oleh dua orang—di mobilnya. Dia menmbentangkannya di atas rumput sebagai alas kami duduk. Kami memilih tempat yang tidak ramai tetapi kami justru mendapat pemandangan para pasangan yang sibuk berfoto. Iri sekali melihatnya.

“Sekotak vanilla almon ice cream untuk fans nomor satu.”

“Terima kasih. Aku pasti fans paling beruntung sedunia.”

“Lebih baik kau tidak menyisakannya sedikit pun.”

Aku menganggukan kepala.

Mendadak aku teringat pertemuan pertamaku dengan Kwangmin, yang sekaligus hari di mana aku jatuh cinta padanya. Ya, kuakui aku sudah lama menyukainya.

Hari itu adalah syuting iklan pertamaku untuk sebuah brand sepatu. Kira-kira dua tahun yang lalu.

Hari itu tangan dan kakiku terus saja gemetar. Untuk menenangkan diri aku pergi ke rooftop gedung. Sampai di atas, aku hanya berdiri sambil memejamkan mata. Menghirup udara segar dan merasakan angin menyentuh wajahku. Terdapat sebuah bangku panjang tak jauh dari tempatku berdiri. Karena sibuk oleh apa yang aku lakukan itu, aku sama sekali tidak menyadari keberadaan seseorang di sana.

Dia tertidur, tapi tampak tidak nyaman dengan posisinya. Aku menghampirinya untuk memastikan apakah dia benar-benar tidur. Aku membungkukkan badan dan mengibas-ibaskan tanganku di depan wajahnya. Entah sedang bermimpi atau apa, dia tiba-tiba menarikku. Dan agar tidak jatuh menubruknya, aku melempar tubuhku ke samping. Tangannya masih memegangi tanganku. Kemudian, seolah tahu aku duduk di sebelahnya, dia menyandarkan kepalanya di pundakku.

Selama beberapa saat, kami diam dalam posisi itu. Aku menyentuh dadaku. Terkejut oleh jantungku yang berdebar lebih cepat. Tidak biasanya aku berdebar-debar karena orang asing. Getaran di saku celana yang berasal dari ponselku mengembalikan kesadaranku. Manajerku menelepon, memberitahukan syuting segera dimulai. Sebelum pergi, aku membaringkannya. Kulepas jaket yang kupakai dan menggunakannya sebagai bantal agar lelaki itu merasa lebih nyaman.

Seminggu kemudian aku baru mengetahui bahwa lelaki yang kutemui itu adalah Jo Kwangmin. Sejak saat itu aku resmi menjadi fansnya. Fans yang diam-diam menyukainya.

Aku tersenyum sendiri ketika mengingat momen itu.

“Apa yang lucu sampai kau tersenyum seperti itu?”

“Tidak ada. Aku hanya merasa senang.”

“Kau sakit, tapi merasa senang? Jujur saja, kau senang karena aku mengkhawatirkanmu kan?”

“Seorang Kwangmin mengkhawatirkanku?”

“Tentu saja. Karena itu setidaknya kau bisa mentraktir makan temanmu yang baik ini.”

Ya, kami hanya teman.

“Oke. Aku berhutang padamu.”

Seorang anak kecil jatuh dari sepedanya tepat di depan kami. Kwangmin berlari menghampirinya, kemudian membantunya berdiri. Dia menepuk-nepuk lutut gadis kecil itu yang kotor oleh tanah. Gadis kecil itu menangis. Kwangmin berlari cepat kembali ke tempat kami duduk, lalu mengambil satu ice cream. Dia berlari lagi menuju gadis kecil itu. Agar gadis kecil itu berhenti menangis, Kwangmin memberikan ice cream itu padanya. Gadis itu berhenti menangis, kemudian dengan berani menaikki sepedanya lagi.

“Hei, Jo Kwangmin, apakah kau ini petugas penyelamat bagi orang-orang yang jatuh dari sepeda?”

“Mana mungkin ada pekerjaan seperti itu.”

“Kau membuat gadis kecil itu menyukaimu.”

Kwangmin tertawa. “Tidak semua perempuan sepertimu Rin. Kupikir hanya kau yang jatuh cinta padaku.”

“Yah! Aku… kapan aku mengatakan aku jatuh cinta padamu? Jangan-jangan kau yang berharap aku jatuh cinta padamu.”

“Aku takut kau pingsan jika aku menjawab iya.”

Seandainya waktu bisa berhenti saat ini. Seperti ini saja sudah cukup. Dia tidak perlu menjadi milikku, asalkan dia berada di sampingku, aku tidak meminta lebih.

***

 

 

*Youngmin POV*

 

Lengang.

Kosong.

Aku biasa berada di dalam apartemen seorang diri, namun baru kali ini sepi terasa begitu nyata. Menyerangku dari segala arah, menenggelamkanku hingga aku kesulitan bernapas. Aku ingin meminta tolong, tetapi aku tidak tahu nama siapa yang harus kupanggil.

Sena menyukai Kwangmin.

Aku tidak suka mengakuinya, tetapi itulah faktanya. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari caranya memandang Kwangmin. Sudah lama aku menyadarinya. Sejak aku di dirawat di rumah sakit waktu itu. Hanya saja, aku masih ingin berharap, bahwa perasaannya pada Kwangmin akan segera berubah jika aku mau sedikit berusaha.

Tetapi, semakin aku berusaha, aku justru semakin terluka. Jawaban yang kuperoleh selalu saja mengkhianatiku.

Hari itu, ketika tidak sengaja kami bertiga dipertemukan di persewaan komik, aku menguji mereka berdua. Aku sengaja membuat alasan palsu untuk meninggalkan mereka berdua. Sikap Sena dan Kwangmin yang awalnya canggung berubah begitu aku tidak ada diantara mereka. Sikap mereka menggambarkan kedekatan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah mereka telah mengenal seumur hidup. Seolah mereka memiliki dunia sendiri yang tidak bisa dimasuki oleh siapa pun.

Aku tidak tahan menyaksikannya, maka aku memutuskan untuk pergi.

Seharusnya aku sudah merasa cukup dengan apa yang kulihat itu. Tetapi, sikap keras kepalaku menang. Aku menjadi orang paling bodoh di dunia. Sekali lagi, aku menguji kesempatanku.

Aku sengaja mengikuti Sena ketika dia berpamitan ke toilet di acara makan malam kemarin. Sebelum kembali ke tengah orang-orang, aku mengajaknya bicara.

“Sena, apa kau tidak merasa kehilangan sesuatu?”

“Rasanya tidak ada. Kenapa Oppa?”

Aku mengeluarkan sebuah gelang dari saku kemejaku, lalu memberikannya pada Sena. “Aku menemukannya terjatuh di lokasi syuting.

Dia diam sejenak dan tampak berpikir.

“Aaaaah… astaga, aku benar-benar tidak tahu gelang ini terlepas dari tanganku. Untung saja kau yang menemukannya. Terima kasih.”

Aku berbohong. Aku tidak menemukannya di lokasi syuting, melainkan di kamar Kwangmin. Tepat di hari aku mengajaknya pergi berdua tetapi dia tidak bisa datang. Tidak mungkin gelang itu ada di kamar Kwangmin dengan sendirinya kecuali pemiliknya juga berada di sana. Itu berarti, Sena tidak menemuiku karena dia sedang bersama Kwangmin.

Kenapa?

Aku merasa semua ini tidak adil. Tidak bisakah Sena memilih orang lain? Kenapa Kwangmin? Kupikir aku tidak akan sekecewa ini jika bukan adikku yang dia suka. Atau aku memang harus bersaing dengan adikku sendiri?

Aku meremas rambutku frustasi.

Perasaan seperti ini terasa tidak asing bagiku. Kepalaku mulai pusing memikirkannya. Karena tidak suka terganggu oleh perasaan itu, aku melupakan rasa laparku, kemudian melangkah ke kamar untuk memejamkan mata sejenak.

 

Sena tidak datang ke lokasi syuting. Aku tidak berusaha menghubunginya karena kupikir dia tidak ingin diganggu. Apa gara-gara pertemuannya dengan Kwangmin tadi? Tetapi Kwangmin bersikap biasa saja. Tertawa bersama Rin seolah tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya apa yang terjadi? Sampai kapan aku menjadi orang yang tidak tahu apa-apa?

“Youngmin, di mana Kwangmin?”

Jihoon muncul di lokasi syuting tanpa Sena bersamanya. Ekspresinya tampak seperti seseorang yang tidak tahan ingin memukul orang yang telah membuatnya marah. Tanpa perlu kuberitahu, dia melihat sendiri Kwangmin yang baru saja kembali dari toilet.

“Ikut denganku sekarang.”

“Ada apa Hyung?”

“Kumohon temui Sena dan tenangkan dia Kwangmin. Sikapnya membuatku gila! Dia pasti mau mendengarkanmu.”

“Aku tidak bisa Hyung. Kau tahu kenapa aku tidak bisa.”

“JO KWANGMIN!!” seru Jihoon tidak sabar, mengakibatkan semua orang menoleh ke arahnya.

Apa yang membuat Jihoon semarah itu pada Kwangmin? Aku merasa ada sesuatu yang seharusnya aku ketahui, tetapi Kwangmin tidak menceritakannya padaku. Jika benar begitu, mungkin aku membutuhkan waktu yang laa untuk memaafkannya.

Mereka berdua berdebat hingga akhirnya Jihoon menyerah memaksa Kwangmin. Dia mengatakan satu hal sebelum meninggalkan lokasi syuting.

“Temui dia sekarang, atau kau tidak akan pernah bisa menemuinya lagi.”

Sebagai saudara kembar Kwangmin, kali ini aku sungguh tidak bisa mengerti sikapnya. Aku juga tidak bisa menebak perasaannya sekarang. Aku tidak bertanya apa-apa padanya. Jika memang ada yang ingin dia katakan, aku akan menunggu sampai dia siap mengatakannya padaku.

Selama sisa waktu syuting, aku tahu Kwangmin tidak tenang. Dia berusaha menutupinya dengan bercanda bersama Rin. Tapi aku tahu hal yang hanya dia lakukan ketika dia tidak bisa tenang karena dia sangat mengkhawatirkan sesuatu. Kwangmin terus meremas tangannya dan tidak bisa berhenti mengetuk-ngetukkan kakinya.

Dalam perjalan pulang, dia tidak lagi berpura-pura tenang. Bahkan mungkin dia lupa kalau aku duduk di sebelahnya.

“Pergilah ke rumah Sena dan temui dia, Kwang.” Aku memecah keheningan.

“Huh? Kenapa… tiba-tiba kau membicarakan Sena, Hyung?”

“Mungkin orang lain tidak tahu, tapi tidak denganku. Jika melihatnya bisa menenangkanmu, maka pergilah sekarang juga.”

“Kita tidak perlu membahas ini Hyung. Aku tidak akan ke sana. Lagi pula aku baik-baik saja. Sungguh.”

“Hentikan mobilnya, biarkan aku yang menyetir.”

“Tapi Hyung—“

Aku menatapnya tajam. Kwangmin pun meminggirkan mobil.

“Berikan alamat rumah Sena. Kuantar kau ke sana.”

“Hyung! Sudah kukatakan aku tidak mau ke sana. Tidak ada yang harus kulakukan di sana. Apa kau tidak mengerti?”

“Bagaimana aku bisa mengerti??”

Kesabaranku berada di titik paling akhir. Aku keluar dari mobil, kemudian menarik paksa Kwangmin keluar. Dia memaksaku melakukan ini. Tanpa aba-aba, aku melayangkan tinju ke pipinya. Mungkin aku hanya menggunakan kejadian hari ini sebagai alasan agar bisa memukulnya. Mungkin sudah lama aku ingin melakukannya, dan detik ini aku tak mampu menahannya lagi. Ya, mungkin begitu.

Kwangmin tersungkur. Aku menarik kerah kemejanya, kemudian sekali lagi meninju wajahnya.

“Haruskah kau bersikap seperti ini?!” teriakku.

Darah keluar dari sudut bibir Kwangmin. Dia tidak membalas pukulanku. Justru aku merasa dia sedang menungguku memukulnya lagi hingga dia pingsan. Tapi aku tidak mau menuruti keinginannya itu. Karena aku tahu dia ingin melarikan diri dari perasaan yang menyiksanya saat ini.

“Aku tidak mau melihatmu menjadi seorang pengecut Kwang.”

Aku berniat melayangkan tinju terakhir, tetapi kemudian sakit kepala yang hebat menyerangku. Potongan-potongan kejadian melintas bergantian di dalam kepalaku. Aku terduduk karena tubuhku terasa sempoyongan.

“Hyung, kau tidak apa-apa? Kau merasa sakit?”

Aku tidak menjawab Kwangmin. Aku terkejut oleh gambar-gambar yang muncul di dalam kepalaku. Dalam potongan-potongan gambar itu, aku melihat diriku dan Kwangmin yang sedang bertengkar.

Aku pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya.

This entry was posted by kepangmusic.

11 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Chance – Chapter 07

  1. aaaaashhhh akhirnya keluar juga nih ff…aku suuuukkkkaaa bgt…keep writing ya thor… jgn lelah2 menulis karena ada aku yg akan selalu nungguin ff kamu… fighting thor…di tunggu juga ya lanjutan escape from my brotherny… jo hyunmiiiiinnn…aku kangen kamu….

    • i.. iya.. maaf ya belom bisa update Ch-8 huhu😦.. soalnya bener2 lagi sibuk sama kuliah, dan lagi ngurusin IG juga hehe.. jadi mungkin kalau mau baca2 ff ku sila mampir ke IG ya.. insyaAllah segera ditulis ch-8 nya xP
      Terima kasih :))

      • hehehehe….jadi ga enak,maaf ya dah ganggu…abis penasaran bgt n dah kangen bgt ma si kembar unyu2 itu…. tenang aja aku akan terus nunggu kok… fighting thor semoga kuliahnya lancar n dpt hasil yg terbaik..aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: